Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘1’ Category

Bagaimana aku memulainya?

Bahkan aku tidak tahu hendak menulis apa. Aku kehilangan isi kepala dan wacana. Oh begini rupanya “tidak memikirkan apa-apa”. Ketika aku bertanya, “apa yang aku pikirkan?”. Jawabannya ialah tidak ditemukannya jawaban. Semacam tatapan kosong seorang anak bau kencur, yang ditanya kenapa pipis sembarangan. Anak itu tidak tahu pipis itu apa, bagaimana, dan kenapa.

 

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kita manusia, tidak pernah benar-benar mengenal kekosongan, setidaknya dari apa yang aku alami. Aku lalu berpikir (pada fase ini rupaya aku mulai punya ide), kenapa aku bisa begini? Kenapa ada blocking yang sedemikian padat antara keinginan dan kata-kata. Antara harapan dan eksekusi. Bukankah seseorang yang berjalan akan sampai pada suatu titik perhentian? Sedangkan aku sedang mencoba menuliskan sesuatu, lalu menyaksikan “tidak ada apa-apa” disana.

 

Aku mulai mengingat kejadian sehari ini. Sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja untuk diungkapkan, maka aku takkan menceritakannya. Aku beranjak kepada yang lain, semisal :  “tema apa yang membuat tulisanku lebih berarti”. Dan aku mulai meratapi ide-ide yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu kan, seperti baju lebaran yang susah payah dipilih. Kamu bisa merasa lucu ketika bertemu kembaranmu, duplikat penampilanmu. Warna yang sama, pola yang serupa, lalu kamu merasa bersalah, seolah baru saja ketahuan curang saat ujian. Aku bertanya kembali, kenapa aku bisa punya pikiran ‘sok’ begini? Sehebat apapun aku menginginkan originalitas, cepat atau lambat, karya kita, baju yang kita pakai, isi pikiran, akan menemukan duplikasi.

 

Aku berkata kepada seseorang di grup, “Hei, aku ingin baca buku ini. Sepertinya bagus ya?”

Jawabannya sedikit mematahkanku , “Belum tentu deh ya. Aku udah malas baca buku si Anu. Kayaknya tulisan dia gitu-gitu terus. Ngga ada sesuatu yang baru.”. Wow! Kok rasanya berat banget jadi penulis itu ya. Ekspektasi pembaca (setia) makin lama makin meninggi. Pertanyaannya, mampukah aku selaku penulis bau kencur bau kunyit ini menghadapi persoalan semacam itu?

 

 

Persoalan seolah tulisan ini belum juga naik kelas, tidak berkelas, yang lebih parah… penurunan kelas. Wah sungguh bencana!

 

 

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, aku harus mencari kambing hitam. Dan sepertinya, pikiran kotor bercampur keinginan superrr yang membuatku kandas kali ini. Okelah, baiklah.

 

 

 

Salam write’s block!

Karena penulis juga manusia.

algabiru-3.jpg

 

Iklan

Read Full Post »

 

Haruki Murakami, “Ketika Berlari dan Menulis Menjadi Energi Kehidupan”

Judul : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Jumlah halaman : 197 halaman
ISBN : 978-602-291-086-2
Peresensi : Alga Biru

What I Talk About When I Talk About Running menjadi karya Haruki Murakami yang menyuguhkan nilai filosofis sebagai pelari dan penulis profesional sekaligus. Penulis novel Norwegian Wood ini memilih berbagi kisah selama berlari dan menulis yang kerap didokumentasikannya di jurnal harian. Ya, siapa sangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.
“Otot sulit terbentuk dan mudah hilang. Lemak mudah terbentuk dan sulit hilang”. Semboyan itu terpampang lantang di pusat kebugaran di Tokyo (Halaman 59). Sebagai seorang pelari jarak jauh, yang konsisten berlari setiap hari, Murakami tahu betul makna kalimat tersebut. Itu merupakan kenyataan yang menyakitkan namun tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Kenyataan itu pula yang membimbing Murakami untuk memilih yang terbaik bagi diri dan tubuhnya. Penderitaan adalah sebuah pilihan, tulis Murakami dalam prakata buku ini, dimana berlari dan menulis dilakoninya secara sungguh-sungguh di usia 33 tahun.
“Aku aku mulai berlari pada 1982 sehingga kalau dihitung sudah hampir 23 tahun lebih menjalani olahraga ini.” (Halaman 11). Murakami memilih olaharaga lari jarak jauh dengan mengenal sifat-sifat pada dirinya. Pada dasarnya, ia menyadari egonya yang lebih suka kesendirian, tak selalu nyaman dengan kompetisi, dan selalu tidak cocok dengan olahraga berkelompok. “Tentu saja aku punya sifat tidak mau kalah. Namun, entah kenapa sejak dulu aku tidak terlalu memusingkan ketika mengalami kekalahan ataupun kemenangan dari orang lain. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak.” (Halaman 12).
Berlari terutama untuk jarak tempuh setidaknya 10 kilometer membuatmu mampu berkontemplasi dengan diri sendiri. Membantu mengosongkan pikiran, tentu saja tidak dalam artian kosong sama sekali, namun lebih kepada mengingat hal-hal sederhana yang menyenangkan. Melatih fokus dan konsentrasi, konsistensi dengan target yang ingin dicapai. Hal ini, dalam pengalaman Murakami sendiri, tak ubahnya seperti perjalanannya sebagai seorang penulis profesional. Ia menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di pagi hari untuk berkonsentrasi dengan ide yang akan dituangkannya dalam tulisan. Novel berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song) memulai debutnya selaku penulis pemula. Sebelum terjun secara profesional dengan semata-mata menulis sebagai profesinya, Murakami dibantu oleh istri memiliki usaha Klub Jazz di dekat Stasiun Setagaya. Pola pikir Murakami yang tidak muluk-muluk namun maksimal untuk apa yang ditekuni, membuatnya mengambil keputusan penting, yaitu menutup usaha Klub tersebut guna berkonsentrasi sebagai penulis. Tentu ini ditentang juga dipandang miring oleh segelintir orang.

 

HARUKIM
Ketahanan, kekuatan, dan kesabaran yang dirasakan Murakami dalam berlari, mirip dengan apa yang seharusnya ia pertahankan selama menulis. Seorang penulis fiksi —atau yang setidaknya berharap bisa menulis sebuah novel—membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengahs tahun, satu tahun atau dua tahun. (Halaman 88). Kenyataan tidak semudah kelihatanya. Orang lain, terutama yang bukan berprofesi sebagai penulis, sering menyangka menulis itu pekerjaan gampang. “Orang-orang itu mengira jika kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu kamu coba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” ( Halaman 90).

 
Buku ini mewakili bukan saja apa yang dirasakan oleh para pelari, ia juga menyuarakan suara hati para penulis yang bertebaran di muka bumi. Kita tidak menemukan tips berlari atau sejenisnya, sebab buku ini tidak diperuntukan untuk itu. Tidak pula proses kreatif sebagis penulis legendaris, namun sebuah langkah sederhana yang nyata menuju ke arah sana. Di dalamnya pula ada serangkaian misteri yang ingin dibagikan Murakami kepada pembaca. Akankah ia mulus berlari di ajang maraton Boston juga kesempatan lainnya? Seperti apa rintangan dan latihan yang ia lakukan? Apa kaitan dirinya sebagai pelari yang juga penulis? Sebab sangat sedikit penulis yang juga menekuni olahraga lari jarak jauh dengan konsistensi puluhan tahun.

 
Kelemahan dari buku ini terletak pada alurnya yang cenderung melompat-lompat, dari satu adegan kepada adegan berikutnya. Semacam lompatan ingatan, yang bersikeras menyatukan cetusan hari ini dengan peristiwa kemarin dalam satu kesatuan rangkaian cerita. Tentu tidak mudah menyatukan dunia lari dan dunia menulis di satu titik, dimana kedua hal tersebut tampak perbedaannya. Hal ini makin menguatkan Murakami sebagai salah satu seorang yang tidak main-main menggeluti bidangnya. Karya yang membuat penggemarnya naksir, dan siapa pun merasa penasaran. []

what_i_talk_about_when_i_talk_about_running_1-large

Read Full Post »

“The Geography of Bliss, PENCARI BAHAGIA KELILING DUNIA”

Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 569 halaman
ISBN : 978-602-1637-95-1
Peresensi : Alga Biru*

“Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan”, begitu kira-kira buku ini diperkenalkan kepada calon pembacanya. Kita tentu tergelitik, bagaimana bisa seorang penggerutu yang mungkin tukang mengeluhkan banyak hal menemukan sesuatu yang dikejar umat manusia yaitu kebahagiaan?
Kisah perjalanan dengan berbagai formatnya, belakangan ini cukup diminati dan memiliki penggemar sendiri. Sudah beratus bahkan ribuan buku yang ditulis guna menampilkan tempat menarik yang pantas untuk dikunjungi ketika cuti tahunan atau mereka yang senang jalan-jalan. Namun buku ini menambah pesonanya sendiri, bahwa ia lebih dari sekedar jalan-jalan. Lebih dalam lagi, ini sebuah perjalanan yang amat terencana guna mencari tempat paling membahagiakan. Maka pertanyaannya, dimana tempat macam semacam itu? Bagaimana bisa ia membahagiakan orang yang berangkat kesana? Kenapa ia terpilih? Lalu sebelum pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan, kita tentu satu frekuensi terlebih dulu tentang apa yang disebut dengan “kebahagiaan”.

 
“La chasse au bonheur, perburuan kebahagiaan, begitu orang Prancis menyebutnya. Perburuan langka inilah yang dilakoni oleh Eric Weiner untuk kemudian buku ini terlahir dengan titel ‘the Geography of Bliss’. Tentu tidak mudah, mengingat begitu banyak titik atau tempat di muka bumi ini yang memiliki kemungkinan ‘sesuatu yang membahagiakan’ atau ‘membuat orang bahagia’.

 

IMG-20160417-WA0002
Weiner kemudian mengerucutkan kemungkinan tersebut menjadi sepuluh nominasi negara yang menjawab kegelisahannya, dengan berbagai kriteria dan pendalaman. Kesepuluh tersebut dibahas satu persatu di sepuluh bab buku isi buku. Kesepuluh negara itu yakni Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Maldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika.

 
Sebagai orang Indonesia, kita tentu bertanya “Hei, kemana Indonesia? Bukankah Indonesia punya Bali, Raja Ampat, atau pesona vulkanis Bromo, yang sepertinya cocok dijuluki surga pencuci mata guna mengundang aura kebahagiaan. Ada apa dengan Belanda? Sehingga dijadikan sebagai negara kandidat pertama dalam perburuan kebahagiaan di buku ini. Belanda menjadi nominasi paling masuk akal untuk menjawab apa sebenarnya yang membuat orang Bahagia disebabkan negara ini memiliki WDH (World Database of Happiness). Institusi WDH ini semacam gudang dan pusat penelitian paling bertanggung jawab guna menjawab apa dan bagaimana mekanisme kebahagiaan berjalan di muka bumi. Weiner segera meluncur sekaligus melancong tentunya, ke sasarannya yang pertama.

 
“Kebahagiaan adalah angka”, begitu bunyi perjalanan Weiner ke Belanda. Ini pasti mengundang tanya, kenapa begitu ya? Nah. Bagaimana dengan definisi ala Swiss, “bahagia adalah kebosanan”, sedangkan untuk Thailand, “kebahagiaan adalah tidak berpikir”. Bagaimana pula dengan definisi jenaka ala Qatar, “kebahagiaan adalah menang Lotre”.

 
“Observasi yang berwarna-warni. Wawasan mendalam yang diselipi anekdot”, begitu testimoni The Economist untuk buku ini. Kenyataannya buku ini memiliki kemampuan humor disana-sini. Yang tetap terasa walau kita membaca sebuah literasi terjemahan. Tentu saja, definisi apik kebahagiaan, terlebih lagi “tempat yang membahagiakan” masih menjadi misteri dan terlalu sederhana untuk dipancing keluar dalam jurnal ekspedisi sekalipun. Setidaknya melalui buku ini kita belajar untuk memilah nilai kebajikan, hal-hal yang sepantasnya dikejar, dan menyibak nilai kebahagiaan itu sendiri. Selamat membaca!

Read Full Post »

 

SAM_3590.JPG

 

 

Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini.
Sebelum beranjak jauh, teman-teman pasti ingin tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan kang Abik lewat novel Ayat-ayat Cintanya. Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra.
Di setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan. Salah satunya berisi coretan dan gambar-gambar Universitas Al-Azhar, Kairo. Walau bisa disebut pemalas di waktu ‘aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran ilmu alat (nahu dan shorof) dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah akhirnya yang membuatku sampai ke negeri impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif.
Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes kedua langsung di ibukota Jakarta.
Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Alhamdulillah berkat rahmat Allah Ta’ala, dari seribuan calon peserta se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama , dan waktu itu aku tes di kota Jambi. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir telah kami jalani dalam keadaan sehat. Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah.
Persiapanpun dimulai, setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah Minang tercinta. Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut.
Sesampai di Mesir, aku mengalami shock culture dikarenakan banyaknya perbedaan-perbedaan yang aku rasakan di saat awal-awal di Mesir. Salah satunya tentu di saat aku mulai memasuki dunia perkuliahan di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS. Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di Universitas Al-Azhar saat itu.
Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta’ala, akupun bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya.
Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar jami’ wa jami’atan. Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan mengaji (di Mesir istilahnya talaqqi) di masjid Al-Azhar dengan para masyayikh yang mumpuni di bidangnya. Tempat untuk mengaji atau talaqqi tidak hanya di masjid Al-Azhar, ada beberapa medhiyafah yang memberikan tempat untuk menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus memberikan kita “kunci” untuk membuka gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar Asy-Syariif itu sendiri.
Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir dan Indonesia adalah dzauq atau hawa keilmuannya. Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar kepada Doktor-doktor di bidang agama yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau bersungguh-sungguh.

 

SAM_3742.JPG

Berbicara masalah bersungguh-sungguh atau malas lebih enak kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah. Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal nanti sewaktu UAS harus wajib datang kalau tidak ingin rasib alias gagal dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam pengabsenannya, beberapa kali alpha maka bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya.
Inilah uniknya kampus Al-Azhar di mataku. Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta’ala.
Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit, noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak ketolongan. Disaat-saat imtihan atau ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Penolong.
Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di perkuliahan dan talaqqi saja, banyak juga masisr diantaranya yang bekerja dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi. Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di sebuah warung makan, menjadi agen travel, tour guide¸bimbingan belajar dan bahkan bekerja di vila-vila mewah.
Apapun kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat, ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang didapat. Di Mesir kaidah fokus dan balance dalam setiap pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! [Kontributor : Assa Dullah Rouf/Mesir]

 

Read Full Post »

Hari ini memang jadwal Group kami (BACA YUK!) ber-Speak-Up Day! Sebenarnya nggak ada kewajiban sih bagi para reviewer harus nge-English juga. Yang penting komentar dan segala feedback di group di hari tersebut wajib nge-speak alias little little english, mixed every single word what you want. Kala itu bulan Maret, jadwalnya Bahasa Inggris. Bulan April ini insyaallah Arabic. Bulan depannya lagi German. Sayangnya all about Deutch masih buta 😀 #LemparBantal. Alhamdulillah di bulan Maret ada Mba Rusyda Fauzana yang setor resensi dengan Bahasa Inggris. Hemm, akankah di April ini ada yang ‘berani’ nge-resensi pakai Arabic. Hemm, arabic? seriusan? Ok, untuk sementara saya tutup mata 😀

Selamat menikmati !

*****

kopi

Assalamualaikum all, tonight I’ll post a review about a book that I think most of people fond of it.

Title: Filosofi Kopi
Genre: anthology of short story, kind of drama and absurd stories.
Writer: Dee Lestari
Published: 2007
Pages: 135

Review:
Actually it’s too late for me to read this book. Since several weeks ago the members of Baca Yuk! were talking about Dee Lestari’s book, then I grabbed her Filosofi Kopi when had fun in Gramedia. This anthology consists of 18 short stories written by Dee for a decade. Of course the most impressing one is Filosofi Kopi. ☕

I read the lastest printed book Filosofi Kopi, published in 2015. Dee put Filosofi Kopi to the first story.

The narrator, named Jody, told the story from his point of view. It was about obsession of Ben on coffee. He spent his time searching for the best coffee around the world.

The story began when they joined to build a cafe. Ben with his skill blend the coffee ingredients made more people impressed and provoked them to come again and again. He always knew how to make innovation and satisfy his customers.

One day, Ben had an idea to attach a philophy for every coffee he made. His customers became more exciting. Until a successful and popular man came to his cafe and asked him to make the best coffee. Ben did it. And put a new philosophy on his new and best coffee recipe. It was Ben’s perfecto: succes is the manifestation of life perfection.

Ben and Jody’s coffee become more popular. Then, a new visitor came and tasted the perfect coffee, but said that it was just a so so coffee. There was another coffe which tasted best of all. Ben got frustrated then tried to find the coffe.

Ben and Jody finally found the coffee. It was a traditional coffee in remote area. Ben felt he failed in all way. He isolated himself and closed the cafe, eventhough his customers wanted to come.

At the end, jody gave him Tiwus coffee and said that there’s no perfection, life is beautiful as it is. Ben realized that he was wrong. He forgot about how people accept his works as they are. They loved it and also loved Ben as he himself. Then, he pumped up his spirit again and open the cafe with dedication to his customers.

This story has strong moral story that one should not compare himself to antother only to feed his ego and arrogance. Just be who we are and do the best for our life.
That’s all my review for tonight. Hope you like it. ☕

Read Full Post »

*RANTING YANG TERLUPAKAN, URAT YANG TERNADIKAN” (BAGIAN III)

 

“Bukankah tidak lulus?” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita benci, atau orang yang kita musuhi?”.

Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W.Crane, seorang dokter, konsultan dan Psikolog. “Bukan”, kata Crane. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Mengapa? Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan”

Lanjutnya, dengan bersemangat pula, “Mungkin saja, pujian Anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk berbuat baik.”
Sehebat apapun menghindari friksi, gravitasi sosial menarik kita pada seseorang yang kadang tak dikehendaki. Entah kita tak suka jalan pikirannya, gelagat ia menjawab, hardik yang tak terkuasai, atau kilatan matanya memandang. Masih ada, pasti ada. Sesuatu untuk kita kagumi, hargai darinya. Serpih untuk kita syukuri, rencana Allah untuknya, untuk diri kita yang lemah memandang segala.
Segalanya adalah cermin. Jangan kau pecahkan ia jika jelek bayang rupanya. Insyaf pertama, tak ada orang yang sempurna. Insyaf kedua, tak sama ia kemarin dengan hari ini. Insyaf ketiga, ia bukan kamu, kamu bukan dia. Insyaf keempat, harmonis itu ialah mereka yang melengkapi kekurangan, mempraktisi kelebihan. Insyaflah diri yang pandang iri, simpan dengki, hasat dalam hasrat.

*****
Maafkan gurunda @salimafillah, ditambah kurang sana sini tulisan aslinya. Diperas buku tebal itu dalam rujuk sesingkat ini, agar mudah dikunyah ke dalam jiwa-jiwa kehausan.

Thanks jepretan yang mewakili diksi, oleh @ikhsansiddiq

isan

Read Full Post »

 

ISAN23

Majelis Mu’awiyah sedang ramai dihadiri orang yang telah berdamai berkat kelapangan hati Al-Hasan ibn Ali. Ali ibn Abi Thalib sendiri telah wafat, ditikam Khawarij garis keras, Abdurahhman ibn Muljam. Lelaki bernama Dhirar ibn Dhamrah, ditanya oleh sang pemimpin baru itu.


“Wahai Dhirar, kisahkanlah padaku tentang Ali”. Ia hendak menolak permintaan itu, andai ia bisa. Sebab khawatir ada nada marah dan cemburu membersamai Muawiyah yang pada waktu sebelumnya pernah berlainan pandangan politik dengan Ali Radhiallahu anhu.

“Ali tidaklah berbeda dengan salah seorang di antara kami. Dia akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dengan selalu mengulurkan bantuan bila kami menadah tangan. Orang yang kuat tidak berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang lemah tidak putus asa dari keadilannya”

Wajahnya disambar kesungguhan, peluhnya keras menahan ingatan yang terbuncah. Dhirar berkata “Aku mendengar Ali bersedu kepada tuhannya. Rabbi! Rabbi! Ya Rabbi!” “Hai Dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau datang kepadaku ? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah engkau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku! Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tak ada lagi rujuk. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku! Ah sayang…. Sangat sedikit bekal di tangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai”

Dhirar duduk meratap. Majelis itu khusyuk terisak. Tangis Mu’awiyah tak tertahan. “Kesedihanku atas kehilangannya umpama kesedihan seorang ibu yang anaknya disembelih di hadapan matanya sendiri”, ucap Dhirar, dengan pilu meninggalkan majelis yang banjir air mata.

****
Masih, intisari karya ustadz @salimafillah . Masih juga, visual @ikhsansiddiq *** Semoga berkah keduanya. Segalanya ialah cermin.

Read Full Post »

Older Posts »

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même