Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2016

*RANTING YANG TERLUPAKAN, URAT YANG TERNADIKAN” (BAGIAN III)

 

“Bukankah tidak lulus?” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita benci, atau orang yang kita musuhi?”.

Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W.Crane, seorang dokter, konsultan dan Psikolog. “Bukan”, kata Crane. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Mengapa? Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan”

Lanjutnya, dengan bersemangat pula, “Mungkin saja, pujian Anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk berbuat baik.”
Sehebat apapun menghindari friksi, gravitasi sosial menarik kita pada seseorang yang kadang tak dikehendaki. Entah kita tak suka jalan pikirannya, gelagat ia menjawab, hardik yang tak terkuasai, atau kilatan matanya memandang. Masih ada, pasti ada. Sesuatu untuk kita kagumi, hargai darinya. Serpih untuk kita syukuri, rencana Allah untuknya, untuk diri kita yang lemah memandang segala.
Segalanya adalah cermin. Jangan kau pecahkan ia jika jelek bayang rupanya. Insyaf pertama, tak ada orang yang sempurna. Insyaf kedua, tak sama ia kemarin dengan hari ini. Insyaf ketiga, ia bukan kamu, kamu bukan dia. Insyaf keempat, harmonis itu ialah mereka yang melengkapi kekurangan, mempraktisi kelebihan. Insyaflah diri yang pandang iri, simpan dengki, hasat dalam hasrat.

*****
Maafkan gurunda @salimafillah, ditambah kurang sana sini tulisan aslinya. Diperas buku tebal itu dalam rujuk sesingkat ini, agar mudah dikunyah ke dalam jiwa-jiwa kehausan.

Thanks jepretan yang mewakili diksi, oleh @ikhsansiddiq

isan

Iklan

Read Full Post »

 

ISAN23

Majelis Mu’awiyah sedang ramai dihadiri orang yang telah berdamai berkat kelapangan hati Al-Hasan ibn Ali. Ali ibn Abi Thalib sendiri telah wafat, ditikam Khawarij garis keras, Abdurahhman ibn Muljam. Lelaki bernama Dhirar ibn Dhamrah, ditanya oleh sang pemimpin baru itu.


“Wahai Dhirar, kisahkanlah padaku tentang Ali”. Ia hendak menolak permintaan itu, andai ia bisa. Sebab khawatir ada nada marah dan cemburu membersamai Muawiyah yang pada waktu sebelumnya pernah berlainan pandangan politik dengan Ali Radhiallahu anhu.

“Ali tidaklah berbeda dengan salah seorang di antara kami. Dia akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dengan selalu mengulurkan bantuan bila kami menadah tangan. Orang yang kuat tidak berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang lemah tidak putus asa dari keadilannya”

Wajahnya disambar kesungguhan, peluhnya keras menahan ingatan yang terbuncah. Dhirar berkata “Aku mendengar Ali bersedu kepada tuhannya. Rabbi! Rabbi! Ya Rabbi!” “Hai Dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau datang kepadaku ? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah engkau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku! Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tak ada lagi rujuk. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku! Ah sayang…. Sangat sedikit bekal di tangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai”

Dhirar duduk meratap. Majelis itu khusyuk terisak. Tangis Mu’awiyah tak tertahan. “Kesedihanku atas kehilangannya umpama kesedihan seorang ibu yang anaknya disembelih di hadapan matanya sendiri”, ucap Dhirar, dengan pilu meninggalkan majelis yang banjir air mata.

****
Masih, intisari karya ustadz @salimafillah . Masih juga, visual @ikhsansiddiq *** Semoga berkah keduanya. Segalanya ialah cermin.

Read Full Post »


isan
“Injak kepalaku ini hai Bilal. Demi Allah, kumohon injaklah”. Abu Dzar Al-Ghiffari menyiapkan kepalanya di tanah berdebu. Ia masih memohon disitu, sementara Bilal bersiteguh hati, tak mengikuti permintaan itu.

“Kumohon Bilal Saudaraku. Injaklah kepalaku”, masih juga ia meminta.
Kemarin itu rupanya. Abu Dzar berkesal hati mengira Bilal tak mengerjakan amanahnya, dan mengiranya membenar-benarkan diri.

Berkatalah ia “Hai anak budak hitam”, ia menghardik.

Ditegur ia oleh Baginda Rasulullah, “Engkau!”, sabdanya,”Sungguh dalam dirimu terdapat jahiliyah”

Sergap, Abu Dzar tak berdaya. Alangkah ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia.

Muadzin kesayangan Rasul itu campur hati, antara murka dan nelangsa. Berkatalah ia: “Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak”

Adab persahabatan, jalin jelindan dalam dinamika kehidupan. Tak kemudian sepi dari masalah. Cukuplah bagaimana ia menjadi rahmah berkah bagi sekalian alam.

**
Mengukir kembali dari yang ditangkap, “Iman yang Tak Sendiri” oleh @salimafillah

Visual, jepretan @ikhsansiddiq

Read Full Post »

 Judul: Yoyoh Yusroh, Mutiara yang Telah Tiada.
Penerbit: GIP
Halaman: 208
Tahun: 2011
ISBN: ada deh, malas nyalinnya, tidak serajin teman2 😊

Buku ini saya dapat di tempat buku loakan Sidoarjo, 5.000 rupiah aja.
Pagi tadi, ketika tema percakapan seputar “gerhana matahari” masih mengambang di langit-langit rumah, ada beberapa pelanggan setia Anjaly Shop yg datang ke rumah. Mengambil pesanan tas belanja lipat, sprei waterproof, Gamis putih dan Kaoskaki wudhu, dll.
Satu di antaranya tak segera pulang, tetapi mojok di rak buku Taman Baca Anjaly, di deretan buku biografi.
Akhirnya saya dan anak2 pun menemaninya dengan buku pilihan masing2.

Saya membaca ulang buku biografi almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh.
Beberapa point di buku ini, semoga bisa kita teladani:

yoyoh

Beliau memberikan hak anak-anaknya SEMENJAK GADIS.
Diantaranya memilih makanan yang full sehat ,seimbang dan bergizi(memilih ikan daripada daging, memilih jus dan susu daripada kopi, memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan, memilih lotek dari pada baso), dll. Ini dilakukan agar kondisi rahim sehat dan produksi ASI banyak.
Beliau juga menjadi ahli Qur’an dan berusaha sekuat tenaga menjadi sholehah dan berusaha mendapatkan ayah yang sholeh bagi calon anak2nya.

Hampir disetiap harinya, dengan segala kesibukan agendanya sebagai anggota dewan DPR RI dan mengurus belasan anaknya, almarhumah ustadzh yoyoh yusroh merutinkan tilawah minimal 3-5 juz setiap harinya.

Beliau mendapat 34 lamaran ….Ya, 34 LAMARAN, bukan 1,2 atau bahkan 10 (mengambarkan “kecantikan” agama beliau, yang membuat banyak pria terpesona) … tapi 34 LAMARAN yang beliau tolak dengan alasan “masih kuliah” tetapi di lamaran ke-34, lamaran yang sulit untuk di tolak, karena sang pelamar merupakan salah seorang putra ustazd kenalan dekat ayahanda beliau, soleh dan sangat-sangat mapan.

Suatu ketika ada keluarga non muslim yang memutuskan untuk pindah dari lingkungan beliau. Kata mereka, “Kalau begini terus lama-lama gue bisa pindah agama ini.”

Beliau tidak pernah memarahi khadimat dan anak-anaknya, beliau selalu mengutamakan dialog. Bahkan untuk urusan perselisihan yang Islam membolehkannya selama maksimal 3 hari, bisa selesai dalam 5 menit saja.

Beliau menginfakkan harta paling berharga dari pernikahannya, mahar 50 gram emas, untuk membantu orang yang membutuhkan.

Suatu ketika salah satu anak beliau mengatakan kalau sudah besar pengen jadi anggota DPR. Kenapa? Biar bisa sering tilawah kayak ummi

Pernah beliau menjenguk akhwat yang baru melahirkan. Lalu beliau meminta ijin ke kamar mandi sebelum pulang. namun, lama sekali di kamar mandi dan suami sudah hampir bosan menunggu. Ternyata beliau menyucikan tumpukan popok yg belum dicuci.

Pernah beliau wudhu lama sekali di kamar mandi umum, ternyata beliau menyikat kamar mandi yang kala itu kotor sekali

Beliau diberikan anugerah sebagai warga negara kehormatan palestina dan diberikan hak untuk membeli tanah palestina berikut mendirikan rumah dan bangunan disana

Sebelum kepergiannya, inilah sms yang dikirimkan ummi pada seorang akhwat:
“aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan Khadijah ummul mukminin? Atau aisyah yang hafal 3500 hadist atau ummu sulaim yang sabar atau Asma’ yang pandai menyiapkan kendaraan perang suami dan menyiapkan putranya untuk berjihad.. ya Rabb tolong beri kekuatan untuk bisa berbincang dengan mereka kelak di taman firdaus.”

Read Full Post »

travel

Judul Buku:  A Travelogue
Aceh-Germany-Europe
Penulis:  Saiful Akmal, dkk
Penerbit:  Salsabila
Hal:  308
Cetakan Pertama:  Tahun 2014
Resensi oleh:  Atih S.Nurlaili

Buku ini merupakan kisah perjuangan para putra  aceh  menuntut ilmu di Eropa khususnya Jerman.  Buku yang terdiri dari 6 bagian ini berbagi semangat,  suka dan duka hingga kesuksesan diimpikan benar-benar bukan sekedar impian,  melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan, dengan adanya ikhtiar dan doa.

Jalan Panjang Menuju Jerman, berkisah tentang perjuangan untuk bisa mendapatkan beasiswa di jerman,  pertamakali merasa perbedaan budaya, bahasa, lingkungan di tempat yang baru.

Full time student.. belajar dan belajar
Kuliah di eropa, selain menambah ilmu juga pengalaman hidup yang makin memperkaya jiwa.  (Rifki furqon / oldenburg )
Di bagian ini bercerita tentang pengalaman memahami situasi dan kondisi lingkungan  Jerman,  culture shock di sana.

Part time tourist… rehat sejenak
Berisi tentang perjalanan non akademik ke negara-negara  di Eropa,  seperti Belanda, Italia.

Yang terberat bukanlah menentukan suatu pilihan.  Melainkan menjalankan keputusan yg telah berani dikatakan,diprioritaskan maupun diperjuangkan (Rifqi Furqan /Oldenburg )
Mulailah dari mimpi, lanjutkan dengan doa dan ikhtiar tanpa henti

Muhammad Mulyawan /Clausthal “Dia selalu bersama kita ” Merencanakan untuk thesis di perusahaan minyak dibandingkan di kampus, berbeda dengan  mayoritas  mahasiswa lainnya.  Berbagai upaya dilakukannya, mulai mencari informasi perusahaan minyak di internet, mengirimkan surat pengajuan thesis,  tak lupa sering meletakkan surat-surat tersebut di bawah sajadah dan berdoa di setiap duha dan tahajud tiada henti seraya memohon ampunan Allah.  Masih terngiang bagaimana dia ditolak untuk magang perusahaan, namun tak menyurutkan semangat tuk meraih impiannya.  Hingga satu persatu balasan penolakan itu datang, dan harapannya pada perusahaan RWE Dea AG,  namun hingga tiba masa pengumuman penerimaan,  tak kunjung datang info maupun email balasan hingga dia putuskan menghubungi perusahaan tersebut menanyakan keputusannya.  Surat tersebut dibalas, dan intinya dia tidak diterima.
Hancur sudah harapannya, seketika merasa kecewa, apakah Allah lupa akan doa hambaNya… hingga dia sadar bahwa dirinya hanya manusia yang berupaya, Allah lah yang menentukan hasilnya.  Diapun mengikhlaskannya, dan dalam waktu yang sudah sangat sempit, diputuskan tesis di kampus.
Tak lama, seorang dosen mencari dan menawarkan apakah masih menginginkan tesis di perusahaan?
Ada salah satu perusahaan yang membutuhkan satu mahasiswa untuk melakukan penelitian di tempat mereka,  RWE Dea AG. Proyek yang dilakukan Kepala Departemen Reservoir Engineering RWE sangat sesuai dengan topik yang diangkat dalam tesisnya. Tanpa pikir panjang diiyakan olehnya,dan setelah keluar dari laboratorium, langsung ambil air wudhu dan bentangkan sajadah, melakukan sujud syukur. Tiada syukur yang mampu diucapkan selain tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar dan belajar,   dan dia sangat percaya bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Aulia Farsi /Hamburg “Herzlich Wilkommen” Selamat Datang.
Merasakan bahwa pertama kalinya menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Frankfurt.  Menggunakan Deutsch, bahasa jerman pertama kalinya.  Meski baru awal, sangat kentara perbedaan tempat aktivitasnya di pusat perlindungan orang cacat.  Negara melindungi dan merawat mereka, dengan perlakuan yang baik, penuh perhatian dan kasih sayang. Gratis.
Berbeda dengan negeri kita.

Dalam suatu bagian Islam yang Tak biasa,  menuturkan berbagai tantangan bagi muslim menjalankan ibadahnya di negeri minoritas muslim.  Kesulitan mencari tempat kosong untuk sholat, menjadi hal yang lumrah.  Ketika ramadhan merasakan durasi waktu  puasa lebih lama dibandingkan di Indonesia hanya sekitar 8 jam, akan tetapi di Jerman bisa sampai 18 jam.  Sungguh luar biasa.  Bahkan ketika harus sendiri berkutat dengan tugas dosen di malam takbiran.

Haru,  senang, lucu,  sedih tumpah ruah ketika kita membaca buku ini. Sembari membayangkan jika kita berada di posisi tersebut.

Selain kisah-kisah yang dialami oleh para penulisnya,  di antara perpindahan satu bagian ke bagian lainnya terdapat tips-tips  yang sangat bermanfaat bagi siapapun yang hendak melakukan studi di Jerman.  Buku ini benar-benar memberikan inspirasi dan  gambaran  secara detail  menempuh pendidikan di Jerman.

Read Full Post »

novel.jpg

Judul : Kaki Langit Talumae
Penulis : Wishnu Mahendra
Penerbit : Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan : Oktober, 2014
ISBN : 978-602-9251-29-6
Halaman : 290 halaman

Mencintai negara adalah hal besar yang dapat dimulai dari hal kecil seperti mencintai desa sendiri. Tanah kelahiran yang mengalir dalam darah adalah awal sebuah patriotisme dan kecintaan pada tanah air.
Kisah Puang Maduppa seorang tokoh pemuda Bugis patriotik dan pemberani yang selalu dikisahkan Nenek Resse, menjadi inspirasi bagi Asdar, Irdan, Daud, dan Tenri. Kisah itu telah membuat remaja-remaja itu memiliki cita-cita besar memajukan desa kelahiran mereka, Talumae, Sidrap di Sulawesi Selatan. Dalam segala keterbatasan, mereka tetap berjuang untuk maju dengan cara yang mereka pilih sendiri.

Meski begitu ada perasaan sedih dalam hati Asdar ketika Tenri, sahabat yang diam-diam dicintainyanya, seorang gadis yang cantik dan cerdas, mendapat beasiswa kuliah di Makassar. Sebuah perasaan yang tak sekedar timbul akibat terpisahnya dua kawan (16)
Tapi hidup harus terus berlanjut. Masing-masing harus bekerja keras untuk meraih cita-cita. Jika Tenri ingin menjadi guru kelak, maka Asdar anak petani miskin harus berjuang lebih keras untuk mencapai cita-citanya. Dalam pandangan Bugis, sangat memalukan jika seorang yang cukup umur tidak memiliki pekerjaan dan menjadi beban orang lain (masiri narekko tua mappale ) (19)
Bersama Irdan, Asdar membantu Haji Haerudin mengurus kebun dan menjual rambutan. Ia berusaha mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah, juga meringankan biaya berobat ayahnya. Karena itu Asdar mulanya hampir terbujuk oleh Wawan, teman lamanya yang mengajak ia bekerja di Malaysia dengan alasan gaji yang didapat lebih besar.
Tetapi Nenek Resse yang selama ini bisa dikatakan menjadi semacam poros bagi para remaja itu, menasehati, “Apapun jalan yang kalian tempuh, kembalilah ke dusun ini dan berikan sesuatu pada dusun ini sekecil apapun.” (104) Sikap membangun negeri itu akhirnya dipegang oleh anak-anak dusun Talumae itu.
Asdar berusaha memegang nasehat Nenek Resse yang telah dianggapnya sebagai pengganti ibu. Karena itu pula meski Asdar mencintai Tenri, tetapi ia memutuskan untuk tak mengatakannya sampai ia merasa pantas saat kembali ke Talumae dan memberikan yang terbaik bagi desanya.
Asdar belajar memahami nasihat Nenek Resse, bahwa cinta adalah sebuah ketulusan tak berpamrih. “Jika mencintai seorang gadis, tugasmu hanyalah menjaga gadis itu, mengayomi, menyayangi, dan melindunginya. Bukannya rakus dan serakah ingin menguasai dan memilikinya. Jika suatu saat ternyata ia adalah tulang rusuk milik pria lain, maka kembalikanlah dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Tanpa patah, tanpa terluka.” (87)
Ketika akhirnya Asdar memutuskan tak pergi ke Malaysia dan justru ke Kalimantan, ia tetap menyimpan harapannya pada Tenri, meski dengan kesadaran bahwa jodoh adalah soal takdir. Haji Haerudin mengirimnya pada Haji Sulaiman, sahabatnya di Kalimantan, seorang WNI keturunan Tionghoa yang memiliki kebun karet dan toko mebel besar. Asdar memilih bekerja di kebun karet.
Meskipun harus berhadapan dengan mandor yang semena-mena bernama Pak Jarot, tetapi Asdar berusaha menahan diri. Sebuah nasihat Bugis yang didengarnya dari Nenek Resse selalu diingatnya. Bahwa selama di perantauan hendaknya memelihara 7 sikap, yaitu Macca (pintar), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten), Warani (berani), Mapato (rajin), Temappa silengang (adil), dan Deceng Kapang (hormat pada orang lain) (158)
Sikap demikian ternyata bisa menjadikan Asdar seorang pemuda yang cepat mendapat kepercayaan. Ketika akhirnya ia ditugaskan Haji Sulaiman memimpin salah satu cabang tokonya, Asdar juga sekaligus bisa membuka peluang-peluang bagi mimpi-mimpinya yang lain. Termasuk membuka usaha di desanya dengan mempekerjakan pemuda-pemuda putus sekolah.
Nasibnya sebagai anak petani miskin tak membuat Asdar berhenti bermimpi. Keinginannya menjadi pengusaha sukses yang dapat memberikan manfaat bagi desa kelahirannya pun, mulai tercapai.
Kisah cintanya sendiri tak berakhir sesuai rencana, tetapi nasihat Nenek Resse menjadikan semua tokoh dalam novel ini menemukan kehidupan yang terbaik.
Novel ini meski bercerita tentang arti cinta, tetapi memiliki latar belakang lokalitas yang kuat. Penulis menyajikan kisah tentang karakter terbaik orang-orang Bugis yang tulus dan pantang menyerah. Tentu saja ini menjadi pelajaran bahwa negara akan kuat jika setiap desa maju bersama-sama.

Oleh : Yusnidar, Member grup BACA YUK

Read Full Post »

veil

Kebebasan ala Amerika dibandingkan dengan keterkungkungan ala Iran

Judul novel : veil of roses  / kerudung merah
Penulis : Laura Fitzgerald
Penerbit : GPU
Tahun : 2012
Tebal : 370 halaman

Tami Joon adalah gadis Iran yang ‘diungsikan’ keluarganya ke Amerika demi meraih apa yg disebut dg kebebasan. Paragraph awal dibuka dg mengesankan ketika Tami takjub melihat anak usia 9 thn saling meledek ttg pacaran dan ciuman antar lawan jenis. Hal yg tak akan pernah ia temui di negerinya, Iran. Dan awal adegan ini pula yg membuat saya memutuskan membeli buku ini karena penasaran dg isi lanjutannya.

Dalam 3 bulan Tami Joon harus segera menikah dg laki2 iran kaya raya yg sudah berstatus penduduk tetap amerika demi menghindari deportasi. Alur cukup bagus diolah dari konflik ini plus silakan geregetan dg adegan demi adegan karena seolah mencemooh Islam dan mengagungkan peradaban barat dalam hal ini amerika. Meskipun banyak jg kejujuran yg disajikan sebagaimana kalimat berikut ini:

– Di sini (amerika), tampaknya semua dirancang bagi kaum pria utk selalu memikirkan seks.

Tapi jauh lebih banyak suara sumbang thp iran daripada thp amerika sendiri. Mulai dari tertawa yg terlarang bagi gadis di pinggir jalan, budaya hijab dan taaruf serta tak ada cinta ketika seseorang menikah hingga kritikan thp pemerintah iran yg korup tapi sama sekali tdk ada kritik thp pemerintah amerika yg kental dg skandal seks.

Proses Tami Joon beradaptasi sangat natural disajikan dg terjemahan bahasa yg cukup bagus. Sekali baca susah utk meletakkannya sebelum tamat. Intinya, novel ini membawa wawasan baru dan bagus utk dibuat skripsi, thesis dan semacamnya.

Oleh :Ria Fariana (Member grup BACA YUK)

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!