Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘REVIEW’ Category

(Tulisan ini sarat akan spoiler. Jangan lanjut baca kalau belum baca bukunya. Hehe.)

Kala itu saya masih kuliah semester tiga, belum banyak pikiran. Melalui rental buku, pilihan saya jatuh pada novel berjudul The Orange Girl alias Gadis Jeruk, karya Jostein Gaarder.  Jujur, awal-awalnya novel itu membosankan, bingung juga bagusnya dimana. Sebenarnya itu kali kedua saya baca besutan Gaarder, setelah sebelumnya tidak tamat membaca Sophie’s World yang entah apa. Berhubung nggak mau rugi, apa boleh buat, saya paksain baca sampe kelar.

org

Novel berkisah tentang Georg Roed yang mendapati surat wasiat pemberian ayahnya beberapa tahun setelah beliau meninggalkan. Surat itu berisikan pertanyaan menggelisahkan:

 

“Aku mesti mengajukan pertanyaan serius kepadamu, Georg, dan itulah sebabnya aku menulis. Akan tetapi, agar mampu mengajukan pertanyaan ini, pertama-tama aku harus menyampaikan cerita sedih yang telah kujanjikan kepadamu tadi.”

 

Isi surat berlanjut tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis yang membawa jeruk-jeruk ranum di keranjang, yang selanjutnya disebut Si Gadis Jeruk. Kisah masa lalu, pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan, dan misteri siapa si gadis jeruk sebenarnya, terus disembunyikan.

“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.”

Sebelas tahun berlalu, saya udah nggak ingat satu persatu isi buku itu. Mungkin secara alam bawah sadar, saya jadi terobsesi dengan wasiat. Dan inspirasi terpendam lainnya tentang hidup, dan bagaimana penulis seharusnya menyembunyikan teka teki dalam cerita. Gadis Jeruk termasuk novel filsafat harian yang nggak terlalu berat. Mau bagaimana juga, kelebihannya terletak di ngalur ngidul seputar makna hidup. Teka teki siapa sebenarnya si gadis jeruk, jadi umpan yang membuat pembaca bertahan. Sekuat tenaga, penulis bertekad menyembunyikan hingga di lembar terakhir.

Cerita dan teka-teki. Ini belum termasuk bagaimana novel thriller yang lihai membuat modus dan strategi. Bersembunyi dalam detail dan kemahiran penulisnya agar tetap logis.

Akhir cerita, Si Gadis Jeruk itu ternyata sang ibu anak itu sendiri, alias  istri ayahnya. Jadi ini tentang surat wasiat untuk mencintai seseorang, dalam kesempatan yang pendek maupun panjang. Dalam kesempatan hidup sebelum mati.

Teringat “Stay With Me”  yang lagi digarap. Ada yang kangen Bima? Bagaimana dengan teka-teki di setiap part-nya? Masih setia nggak? Jati diri Bima jadi umpan yang saya siapkan sepanjang cerita. Pencarian identitas, romantika, diselingi serba serbi orientasi seksual yang akhir-akhir ini meresahkan. #CerbungBima diurut berdasarkan dimensi waktu, nilai kejutan, dan keadaan sehari-hari para tokohnya. Kalau kecepatan, ceritanya malah kurang seru. Kalau kelamaan, takutnya hambar. Memasuki lembar ke-18, saya pikir belum banyak-banyak amat untuk dinalar. Masih tersisa berpuluh-puluh lembar halaman lagi untuk ditulis. Hehehe.

Jadi penulis perlu sabar, jadi pembaca harus setia. Sampai ketemu!

Iklan

Read Full Post »

(Bakal panjang nih, nyeduh teh dulu sono)

.

.

.

Cyduk!

Rasa dendam menjalar. Bahkan hingga di halaman 123, belum-belum juga ketahuan, apa sih makhluk yang berhasil ditemukan Edmond Kirsch. Apa semacam sel berukuran mega-DNA sebagai asal mula segala sesuatu. Ataukaah kotak pembentur partikel yang mampu menstimulasi Big Bang secara sintetis. Atau ini lelucon The Real Slim Shaddy yang memproduksi ribuan Eminem berkostum putih-putih, yang sama mahirnya berkata kotor.

 

Ini kali pertama saya melarutkan diri untuk Dan Brown. Yes, slice by slide, every single moment. Enam karya Brown lainnya, pernah coba-coba saya baca, tapi kok nggak masuk otak ya. Hehe. Abaikan! Saya tidak harus merasa lebih keren dengan membaca penulis-penulis sohor. Tapi yang ini saya tertarik, sejak awal. Judulnya, topik, latar, sesi pembuatan, membuat penasaran.

 

Origin. Cerita ini dimulai dari pertemuan Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama dunia, mewakili Kristen, Yahudi dan Islam. Mereke bertemu di Perpustakaan Montserrat yang legendaris. Kirsch, hendak mempresentasikan sampel temuannya, yang konon menjawab asal mula kehidupan. Ketiga pemuka agama itu gusar bukan main. Nasib agama dan spiritual seolah diambang kehancuran. Tidak diceritakan, alias secara sengaja dirahasiakan oleh penulis, something macam apa yang akan diumumkan Kirsch kepada dunia.

 

“Orang-orang paling berbahaya di bumi adalah orang-orang saleh, terutama ketika Tuhan mereka diserang” (Origin)

 

Di sisi lain, kelompok rahasia beraliran Kristen tertentu menyusun rencana.  Kelompok elit, sangat konservatif, merekrut para anggotanya dengan membawa janji-janji suci. Sosok elegan, taat, bertangan dingin, diwakili tokoh Luis Avila, yang tergabung ke dalamnya.

 

Teroris Kristen, begitukah? Tentu saja, Brown tidak sevulgar itu. Dia tahu bagaimana ‘aturan main’. Semakin halus sapuan narasi, semakin dia mampu menggiring orang banyak. Itu soal isi cerita, silakan dibaca sendiri kelanjutannya.

 

origin

Ada beberapa catatan dialog, yang menjadi titik kritis untuk saya pikirkan lebih banyak.

 

“Apa dua pertanyaan fundamental yang diajukan umat manusia sepanjang sejarah kita?” Kirsch bertaya kepada sahabat lamanya, Robert Langdon.

“Yah, pertanyaannya adalah : Bagaimana semuanya ini bermula? Dari mana asal kita?”

(Origin, halm 65)

 

Loh pertanyaan macam apa ini? Sekolah-sekolah kekinian tampaknya semakin tidak ingin menjawab dialog semacam ini. Mungkin terlalu sakral, jadi silakan dicari masing-masing. Atau….. Memang semakin tidak dipentingkan lagi? Kita berada di era kemajuan, yang melesat tiada bandingnya. Walhasil, manusia lebih disibukkan seputar itu.

 

nizhom

 

 

Syaikh Taqqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizomul Islam menjawab khusus piranti-piranti manusia, piranti yang paling rumit, yang beliau sebut ‘uqdatul kubro’. Siimpul besar,  yang diisyaratkan sebagai tiga pertanyaan besar: dari mana, mau apa, mau kemana. Jangan salahkan Brown, kalau menyebutnya cuma dua. Brown itu orang kafir, dia tidak mengenal (iman) pada syariat (islam), ya boro-boro sih Buk.

 

Saya cukup terkesan bagaimana usaha Brown mengurai perkembangan spirtual dari masa ke masa. Jangan-jangan salah satu kepustakaan Brown berasal dari tulisan filsuf “yang entah nggak jelas dia ngomong apa”. Hehe. Semua ini  butuh pendekatan narasi yang lebih sederhana untuk ditangkap otak-otak lugu seperti saya. Setidaknya kutipan dialog ini cukup bisa dinalar arahnya:

“Kita adalah makhluk yang  ber-evolusi secara intelektual dan berkeahlian teknologi. Kita tidak mempercayai pandai-besi raksasa yang bekerja di perut gunung berapi atau dewa-dewa yang mengendalikan air pasang atau musim. Kita sama sekali tidak seperti nenek moyang kuno kita.” (Origin, halm 98)

 

Mirip-mirip sebenarnya dengan dagelan filsuf ‘manusia menciptakan agama’. Masih seputar-putar itu, pikir saya.

 

Di Planetarium ala Edmond Kirsch, Brown menggambarkan perkembangan tuhan-tuhan manusia dari masa ke masa secara visual melalui deskripsi verbal. Sebagai orang Islam, kesakralan “Allah, the only one God” tergolong aman dalam kesanggupan narasi manapun, termasuk Brown. Karena Tuhan saya tidak diwenangi untuk dilukiskan oleh pihak manapun. Sejak awal seharusnya kita berpikir, Tuhan memang tidak serendah itu, bukan?

 

Salah satu yang menarik lainnya, perspektif Brown tentang neuron. Disini saya tergugu, Brown sudah sampai ke titik itu. Edmond Kirsch berusaha berimajinasi tentang komputer super canggih yang ditanyai seputar urusan-urusan manusia.

 

Dari mana asal kita?

Kemana kita akan pergi?

 

Jawaban komputer itu ialah : “DATA TIDAK MENCUKUPI UNTUK RESPONS AKURAT” (Origin, halm 102).

 

Apa jadinya kalau Dan Brown ikut halqahnya Syaikh Taqqiyuddin? Haishh, pyurrr ngawur. Mereka kan beda zaman, hehe. Masih dari kitab yang sama, tulis Syaikh Taqy rahimakumullah:

“Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah Swt, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Tetapi bukan berarti dapat dikatakan, ‘Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah Swt, sedang akalnya sendiri tidak  mampu memahami Zat Allah?”.

 

Lanjut Syaikh Taqy mengenai hal ini : “Usaha manusia untuk memahami hakekat Zat Allah Swt merupakan perkara mustahil untuk dicapai. Sebab, Zat Allah berada di luar jangkauan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat  yang berada di luar batas kemampuannya. Seharusnya keterbatasan ini justru menjadi penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan.”

 

Soal kalimat terakhir ini, saya sepakat. Bukankah nikmatnya hidup karena ‘misteri di dalamnya’. Dalam masa kenabian pun, permintaan ‘bertemu hakekat Allah ini’ selalu kita temukan. Boro-boro ditampakkan padanya hakekat, nur Allah itu membuat silau mata manusia. Sesilau-silaunya. Singkat kata, matamu tidak berguna di hadapan Allah. Sinyal otakmu tidak kesampaian untuk menjangkau-Nya.

 

Rentetan pertanyaan lain telah menunggu. Kalaupun Dan Brown membaca karya Syaikh Taqy ini, mungkin dia nggak cukup puas. Memang harus ngaji sih, Om!! Hihihi…. Wuedan, Dan Brown disuruh ngaji. Wiwiiwiw….

 

Dan Brown meracik topik yang sulit dengan cerita-cerita misteri yang manis. Terlepas kemudian, suka-suka dia mau dibawa kemana. Lebih suka-suka lagi pembacanya, mau dipahami bagaimana. Syaikh Taqy mengilhami banyak murid-muridnya dalam mengurai simpul besar. Pertanyaan fundamental yang membayangi semua manusia, tanpa terkecuali. Simpul besar, gerbang mengenal-Nya yang memiliki sifat yang sembilan puluh sembilan.

 

Anyaway…. By the way,,, Pertanyaan lampirannya ialah: Kapan murid Syaikh Taqy buat cerita manis semacam ini??! [] Alga Biru

 

 

 

 

*)Keterangan gambar

Atas : Penerbit Mizan Official

Bawah : Koleksi Pribadi

Read Full Post »

 

 

Judul : Titik Nol

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Februari 2013

Jumlah halaman : 552 halaman

 

 

 

titik-nol

Mungkin udah banyak orang yang baca buku ini. Apalagi kalau beli di waktu sekarang-sekarang ini, di cover depan buku sudah terpampang cap medali “best seller”, anggun sekali. Mungkin bagi mereka yang sudah mengikuti jejak si penulis, bahkan sebelum terbitnya, hampir nggak perlu label-label sejenis itu, pasti langsung beli. Berhubung mottonya ‘One book thousand feelings’, jadi yaudah gapapa, saya senang hati resensi buku berikut ini.

Buku karya Agustinus Wibowo berjudul Titik Nol, atau Ground Zero dalam versi terjemahan Bahasa Inggris. Belum lama ini, tampil meramaikan Beijing International Book Fair, yang disambut antusias penulisnya hingga diterbitkan dalam bahasa Vietnam, untuk memperluaskan pembacanya.

 

 

Titik Nol berisikan kisah perjalanan Agustin sejak dirinya berkhidman dalam dunia “perjalanan” dari satu fase ke fase berikutnya. Dari satu titik ke titik berikutnya, rangkaian proses, kejadian, titik henti, titik balik dan akumulasi dari seluruhnya yang menentukan jati diri seorang manusia. Mungkin hal ini bukanlah berita baru mengingat buku perjalanan bukanlah aliran baru. Tentu bukan pula cerita yang benar-benar baru kalau kita sebelumnya sudah membaca karya Agustin lainnya (Selimut Debu dan Garis Batas). Nostalgia Jalur Sutra, Sekat batas Negara Stan, dan konflik intrik menjadi santapan khas dari tema karya Agustin. Namun buku ini mengangkat derajatnya tatkala Agustin mengisahkan penggalan-penggalan cerita lain dari dirinya, dengan sentuhan yang lebih privacy. Terkhusus bagaian kisah dirinya menemani ibunya semasa sakit hingga ajal menjeput. Konflik keluarga, idealisme, isu agama, melebur menjadi satu cerita yang menyisakan misteri di tiap lembarnya.

 

 

Bagaimana seorang sarjana universitas terkemuka memulai hidupnya sebagai traveller? Itu satu misteri. Bagaimana rencana hidupnya semula, reaksi keluarga, lalu memilih menghabiskan umur belasan tahun keliling dunia? Maka itu jadi misteri lainnya. Bukankah Traveller juga manusia yang memiliki ayah-ibu, tetangga, uang tabungan, karir, yang juga harus dipikirkan? Pada akhirnya kita mengerti, semua itu tak semudah kelihatannya.

 

 

Tak kalah menarik yaitu kisah eksklusif Agustin menemani ibunya selama proses penyembuhan-lalu sakit-dan sakit terus. Berkesinambungan, antara kisah perjalanan Agustin mengitari Asia Tengah, dengan penggalan cerita dari ranjang pesakitan.  Kontras, antara Ibu yang tidak kemana-mana, dengan Agustin yang sudah kemana saja. Namun setiap manusia memang punya kisah perjalanannya sendiri. Dimana Agustin menuliskan : Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu. Setiap orang memiliki kisah perjananan sendiri, tapi hakikat perjalanan itu adalah sama. Banyak sisi tempat kita memandang, bisa beda rasa yang kita petik. Semoga pembaca bisa mengambil nilai positif dari kisah perjalanan yang satu ini. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Read Full Post »

612201601329

Penampakan Cover 1001 dan 1002, yang kali ini dibahas, yang 1002 ya 🙂

 

Judul Buku : Kedai 1002 Mimpi

Penulis : Valiant Budi (@vabyo)

Penerbit : Gagas Media

Jumlah Halaman :  iv + 384 Halaman

Tahun Terbit :  2014

Peresensi : Alga Biru

 

Buku ini sekuel dari buku berjudul Kedai 1001 Mimpi yang berisikan pengalaman penulis selama menjadi TKI di Arab Saudi. Buku sebelumnya yang konon mendapat sambutan beragam dan kontroversial menjadi “bahan baku” utama dari sekuelnya kali ini. Jika buku 1001 tersebut membahas apa yang Vabyo hadapi selama di Arab Saudi, maka di 1002 ini bermuatan efek dari cerita akhir versi Arab Saudi.

 

Buat yang udah baca buku pertamanya, tentu udah tahu sama tahu kisah terakhirnya ketika Vabyo menuju gerbang kebebasan, Bahrain. Berbagai tekanan dan pengalaman ‘tak terlupakan’ selama menjadi TKI membuat Vabyo mengambil keputusan ‘kabur terselubung’ dari Arab, yang tentu pula pemutusan kontrak kerja di Sky Rabbit, berkedok mudik kangen ke Indonesia. (Jadi hati-hati aja kalau ada karyawan ngakunya mudik, jangan-jangan nggak balik lagi, hehe).  Minggat!

 

Berbagai kenangan pahit selama menjadi TKI selalu menghantui walau sudah berhasil selamat pulang ke Indonesia. Disamping rasa trauma, ada juga ‘masalah tambahan’ yang diungkap di buku ini akibat terbitnya buku Kedai 1001 Mimpi. Bisa dibilang, buku itu Arab Undercover, yang mengungkap fakta gelap dari pengalaman penulisnya selama jadi TKI di Arab Saudi. Mulai dari perilaku karyawan kafe yang tidak sesuai prosedur (mendaur susu basi, “mencampur sesuatu” ke kopi+makanan customer yang cerewet, sampai perbuatan tidak senonoh di ruang family section ala Café Arab, dimana ruang café dipisahkan antara ruang khusus cowo dengan ruang keluarga).

 

Konten di buku 1001 yang dinilai sensitif tersebut menuai kecaman bagi sebagian orang (Memang, sepintas sulit memisahkan Islam dengan Arab, Sistem Islam atau Budaya). Alhasil, tudingan “kafir”, sesat, antek, mengganggu kehidupan Vabyo tak hanya dunia maya tapi juga secara nyata, dengan berbagai teror. Salah satu misteri di buku ini ialah, siapa sih penyerang dan peneror Vabyo sebenarnya? Nah! ( Di bagian ini, agak kecewa juga. Hemm, mungkin melindungi privacy kasus kali ya).

Selain kisah lanjutan dari efek buku 1001, konten lainnya yang memenuhi buku ‘curhat’ tebal buku ini ialah pengalaman Vabyo buka warung bersama Kakaknya Vanvan. Jadi, dari sisi judul, cukup pas kalau dinamai Kedai 1002 Mimpi. Selain sekuel Arab undercover, juga berisi dunia kedai ala penulis. Bagaimana mengubah musibah menjadi berkah, cacian menjadi aset, dan zero to hero, setidaknya bagi diri sendiri.

 

Buku kali ini nggak terlalu banyak misteri dan ‘hal-hal baru’. Apalagi jika ada yang ngarep nemu Vabyo TKI jilid 2, hentikan berekspektasi. Selain kasian, ya memang setiap manusia punya mimpi-mimpi baru untuk diraih. Bahasa Vabyo tetap unik konyol, masih khas. Buat yang pengen gaya ngocol dalam tulisannya, mungkin bisa sedikit belajar pake diksi-diksi dia disini. Selamat baca!

 

 

Note:

Saya sendiri bukan follower Vabyo di dumay. Kalaupun follow, baru belakangan ini aja. Abis baca bukunya yang pertama, baru tahu kalau bukunya termasuk kategori kontroversial. Memang, beberapa kisahnya, seolah sentimen Arab begitu kentara. Kebayangnya, mungkin dia sendiri kaget “kok Arab bisa begini”. Kalau tahu gitu, ngapain ninggalin pekerjaan dan karir di Indonesia, demi “sesuatu yang ternyata jauh panggang dari api”. Saya sendiri nggak mau menilai personal. Kalau tulisan seseorang kita rasa ‘bercitra negatif”, lebih baik acuhkan saja. Ngapain ngasi dia panggung. (Sorry, jika tulisan ini malah kayak kontraproduktif, ups).

Karya dilawan dengan karya. Jika ingin kebenaran bersuara lebih nyaring, kita perlu memperkencang suara, bukan membungkam lawan bicara. Tentu tidak seru, jika bersuara sendiri dalam sunyi. (Eh, analoginya aneh ya, hehe).  Jadilah pejuang yang tidak egois! Jadilah penulis yang realistis.

Read Full Post »

JUDUL : Esio Trot (Aruk-aruk)

PENULIS : Roald Dahl

PENERBIT :  Gramedia Pustaka Utama

JUMLAH HALAMAN : 63 Halaman

TAHUN TERBIT: April 2006 (cetakan pertama)

PERESENSI : Alga Biru

 

 

Mr Hoppy tinggal di sebuah apartemen seorang diri dan selalu kesepian, terutama sejak pensiun dari pekerjaannya. Ia menyenangi merawat bunga yang ditanam di balkonnya. Ada yang di pot, tong kayu, dan keranjang. Ia senang melihat pemandangan ke arah luar dari balkon tersebut. Dimana salah satu kegemaran sekaligus rahasianya ialah ia tertarik pada seseorang yang tinggal tepat di bawah apartemen tersebut.

 

Tetangga beda lantai itu ialah seorang wanita paruh baya yang cantik, baik hati, dan lembut, berama Mrs Silver. Lain Mr Hoppy, lain pula Mrs Silver. Ia memiliki hewan peliharaan seekor kura-kura kecil bernama Alfie. Memasuki musim semi, sang kura-kura yang berhibernasi itu merayap menuju balkon merasakan hangatnya cuaca. Dari balkon itu pula Mr Hoppy kerap mendengar celoteh riang Mrs Silver merawat sang kura-kura kecil yang beruntung. “Selamat datang sayangku! Oh betapa aku merindukanmu”.

“Anda saja aku jadi si kura-kura kecil itu, aku rela melakukan apa saja”

Mr Hoppy dan Mrs Silver saling menyapa, balkon ke balkon menikmati kegemaran masing-masing. Suatu kali Mrs Silver tampak mengeluhkan Alfie yang mungil. “Setiap musim semi aku selalu menimbang Alfie, dan oh… kenapa seekor kura-kura itu lambat sekali besarnya. Padahal aku ingin sekali ia cepat besar. Andai aku bisa, aku akan melakukan apa pun”.

Tiba-tiba Mr Hoppy terpikir ide yang brilian. “Hei, sewaktu aku bekerja di Afrika Utara, seorang pria suku pedalaman memberitahuku sebuah mantera supaya kura-kura mereka cepat besar”, katanya sekita. Oya benarkah?

Mr Hoppy buru-buru menuliskan ‘mantra” tersebut, dan berpesan agar secara rutin dibacakan tiga kali sehari (pagi, siang dan malam). Tak lupa, Mr Hoppy menyuruh Mrs Silver melafalkannya. Mantra itu berbunyi :

 

ARUK-ARUK, ARUK-ARUK, RASEBMEM, HALRASEBMEM!

HALOYA, ARUK-ARUK!

HUBMUT, GNABMEK RAKEM!

RASEB, KAKGNEB, GNUBMEG!

NALET! KAGGNET! HAYNUK! KUGET!

TAREBMEM ARUK-ARUK, TAREBMEM!

OYA, OYA! NALET NANAKAM!

 

Mrs Silver terheran-heran dengan mantra itu. Apa ini? Bahasa yang aneh! Lalu Mrs Hoppy membongkar salah satu rahasianya. Tatkala tiap kata mantera itu dibaca dari belakang (dari kanan ke kiri) maka seketika ia menjelma menjadi bahasa manusia! Ya, coba saja!

Benar, namun hanya itukah rahasia Mr Hoppy? Itu belumlah seberapa dibandingkan kenyataan sebenarnya. Benarkah itu mantera magic seperti yang diungkapkannya pada Mrs Silver? Dan tahukah kamu bahwa setelah 7 hari mantera itu dilafalkan, Alfie bertambah bertambah 2 ons, begitu seterusnya. Bagaimana semua itu dapat terjadi? Ah, kekuatan cinta saja yang mampu menjawabnya. Silakan simak sendiri kelanjutan kisahnya ya.

Roald Dahl merupakan penulis cerita anak yang menjadi rujukan bagi sekolah di Inggris. Tema karyanya seputar hikmah dan kritik terhadap budaya dan sosial dalam pendidikan anak-anak di negara Eropa. Adapun ketika tulisan ini dibuat, kura-kura masih dijual secara bebas dan belum ada pelarangan Undang-Undang satwa yang dikeluarkan pemerintah. Setting dan kultur cerita tentu saja mengikuti dimana penulis hidup dan menjalani keseharian. Roald Dahl tutup usia pada umur ke-74  pada tahun 1990.[]

IMG20160605174121.jpg

Read Full Post »

 

Haruki Murakami, “Ketika Berlari dan Menulis Menjadi Energi Kehidupan”

Judul : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Jumlah halaman : 197 halaman
ISBN : 978-602-291-086-2
Peresensi : Alga Biru

What I Talk About When I Talk About Running menjadi karya Haruki Murakami yang menyuguhkan nilai filosofis sebagai pelari dan penulis profesional sekaligus. Penulis novel Norwegian Wood ini memilih berbagi kisah selama berlari dan menulis yang kerap didokumentasikannya di jurnal harian. Ya, siapa sangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.
“Otot sulit terbentuk dan mudah hilang. Lemak mudah terbentuk dan sulit hilang”. Semboyan itu terpampang lantang di pusat kebugaran di Tokyo (Halaman 59). Sebagai seorang pelari jarak jauh, yang konsisten berlari setiap hari, Murakami tahu betul makna kalimat tersebut. Itu merupakan kenyataan yang menyakitkan namun tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Kenyataan itu pula yang membimbing Murakami untuk memilih yang terbaik bagi diri dan tubuhnya. Penderitaan adalah sebuah pilihan, tulis Murakami dalam prakata buku ini, dimana berlari dan menulis dilakoninya secara sungguh-sungguh di usia 33 tahun.
“Aku aku mulai berlari pada 1982 sehingga kalau dihitung sudah hampir 23 tahun lebih menjalani olahraga ini.” (Halaman 11). Murakami memilih olaharaga lari jarak jauh dengan mengenal sifat-sifat pada dirinya. Pada dasarnya, ia menyadari egonya yang lebih suka kesendirian, tak selalu nyaman dengan kompetisi, dan selalu tidak cocok dengan olahraga berkelompok. “Tentu saja aku punya sifat tidak mau kalah. Namun, entah kenapa sejak dulu aku tidak terlalu memusingkan ketika mengalami kekalahan ataupun kemenangan dari orang lain. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak.” (Halaman 12).
Berlari terutama untuk jarak tempuh setidaknya 10 kilometer membuatmu mampu berkontemplasi dengan diri sendiri. Membantu mengosongkan pikiran, tentu saja tidak dalam artian kosong sama sekali, namun lebih kepada mengingat hal-hal sederhana yang menyenangkan. Melatih fokus dan konsentrasi, konsistensi dengan target yang ingin dicapai. Hal ini, dalam pengalaman Murakami sendiri, tak ubahnya seperti perjalanannya sebagai seorang penulis profesional. Ia menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di pagi hari untuk berkonsentrasi dengan ide yang akan dituangkannya dalam tulisan. Novel berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song) memulai debutnya selaku penulis pemula. Sebelum terjun secara profesional dengan semata-mata menulis sebagai profesinya, Murakami dibantu oleh istri memiliki usaha Klub Jazz di dekat Stasiun Setagaya. Pola pikir Murakami yang tidak muluk-muluk namun maksimal untuk apa yang ditekuni, membuatnya mengambil keputusan penting, yaitu menutup usaha Klub tersebut guna berkonsentrasi sebagai penulis. Tentu ini ditentang juga dipandang miring oleh segelintir orang.

 

HARUKIM
Ketahanan, kekuatan, dan kesabaran yang dirasakan Murakami dalam berlari, mirip dengan apa yang seharusnya ia pertahankan selama menulis. Seorang penulis fiksi —atau yang setidaknya berharap bisa menulis sebuah novel—membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengahs tahun, satu tahun atau dua tahun. (Halaman 88). Kenyataan tidak semudah kelihatanya. Orang lain, terutama yang bukan berprofesi sebagai penulis, sering menyangka menulis itu pekerjaan gampang. “Orang-orang itu mengira jika kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu kamu coba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” ( Halaman 90).

 
Buku ini mewakili bukan saja apa yang dirasakan oleh para pelari, ia juga menyuarakan suara hati para penulis yang bertebaran di muka bumi. Kita tidak menemukan tips berlari atau sejenisnya, sebab buku ini tidak diperuntukan untuk itu. Tidak pula proses kreatif sebagis penulis legendaris, namun sebuah langkah sederhana yang nyata menuju ke arah sana. Di dalamnya pula ada serangkaian misteri yang ingin dibagikan Murakami kepada pembaca. Akankah ia mulus berlari di ajang maraton Boston juga kesempatan lainnya? Seperti apa rintangan dan latihan yang ia lakukan? Apa kaitan dirinya sebagai pelari yang juga penulis? Sebab sangat sedikit penulis yang juga menekuni olahraga lari jarak jauh dengan konsistensi puluhan tahun.

 
Kelemahan dari buku ini terletak pada alurnya yang cenderung melompat-lompat, dari satu adegan kepada adegan berikutnya. Semacam lompatan ingatan, yang bersikeras menyatukan cetusan hari ini dengan peristiwa kemarin dalam satu kesatuan rangkaian cerita. Tentu tidak mudah menyatukan dunia lari dan dunia menulis di satu titik, dimana kedua hal tersebut tampak perbedaannya. Hal ini makin menguatkan Murakami sebagai salah satu seorang yang tidak main-main menggeluti bidangnya. Karya yang membuat penggemarnya naksir, dan siapa pun merasa penasaran. []

what_i_talk_about_when_i_talk_about_running_1-large

Read Full Post »

“The Geography of Bliss, PENCARI BAHAGIA KELILING DUNIA”

Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 569 halaman
ISBN : 978-602-1637-95-1
Peresensi : Alga Biru*

“Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan”, begitu kira-kira buku ini diperkenalkan kepada calon pembacanya. Kita tentu tergelitik, bagaimana bisa seorang penggerutu yang mungkin tukang mengeluhkan banyak hal menemukan sesuatu yang dikejar umat manusia yaitu kebahagiaan?
Kisah perjalanan dengan berbagai formatnya, belakangan ini cukup diminati dan memiliki penggemar sendiri. Sudah beratus bahkan ribuan buku yang ditulis guna menampilkan tempat menarik yang pantas untuk dikunjungi ketika cuti tahunan atau mereka yang senang jalan-jalan. Namun buku ini menambah pesonanya sendiri, bahwa ia lebih dari sekedar jalan-jalan. Lebih dalam lagi, ini sebuah perjalanan yang amat terencana guna mencari tempat paling membahagiakan. Maka pertanyaannya, dimana tempat macam semacam itu? Bagaimana bisa ia membahagiakan orang yang berangkat kesana? Kenapa ia terpilih? Lalu sebelum pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan, kita tentu satu frekuensi terlebih dulu tentang apa yang disebut dengan “kebahagiaan”.

 
“La chasse au bonheur, perburuan kebahagiaan, begitu orang Prancis menyebutnya. Perburuan langka inilah yang dilakoni oleh Eric Weiner untuk kemudian buku ini terlahir dengan titel ‘the Geography of Bliss’. Tentu tidak mudah, mengingat begitu banyak titik atau tempat di muka bumi ini yang memiliki kemungkinan ‘sesuatu yang membahagiakan’ atau ‘membuat orang bahagia’.

 

IMG-20160417-WA0002
Weiner kemudian mengerucutkan kemungkinan tersebut menjadi sepuluh nominasi negara yang menjawab kegelisahannya, dengan berbagai kriteria dan pendalaman. Kesepuluh tersebut dibahas satu persatu di sepuluh bab buku isi buku. Kesepuluh negara itu yakni Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Maldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika.

 
Sebagai orang Indonesia, kita tentu bertanya “Hei, kemana Indonesia? Bukankah Indonesia punya Bali, Raja Ampat, atau pesona vulkanis Bromo, yang sepertinya cocok dijuluki surga pencuci mata guna mengundang aura kebahagiaan. Ada apa dengan Belanda? Sehingga dijadikan sebagai negara kandidat pertama dalam perburuan kebahagiaan di buku ini. Belanda menjadi nominasi paling masuk akal untuk menjawab apa sebenarnya yang membuat orang Bahagia disebabkan negara ini memiliki WDH (World Database of Happiness). Institusi WDH ini semacam gudang dan pusat penelitian paling bertanggung jawab guna menjawab apa dan bagaimana mekanisme kebahagiaan berjalan di muka bumi. Weiner segera meluncur sekaligus melancong tentunya, ke sasarannya yang pertama.

 
“Kebahagiaan adalah angka”, begitu bunyi perjalanan Weiner ke Belanda. Ini pasti mengundang tanya, kenapa begitu ya? Nah. Bagaimana dengan definisi ala Swiss, “bahagia adalah kebosanan”, sedangkan untuk Thailand, “kebahagiaan adalah tidak berpikir”. Bagaimana pula dengan definisi jenaka ala Qatar, “kebahagiaan adalah menang Lotre”.

 
“Observasi yang berwarna-warni. Wawasan mendalam yang diselipi anekdot”, begitu testimoni The Economist untuk buku ini. Kenyataannya buku ini memiliki kemampuan humor disana-sini. Yang tetap terasa walau kita membaca sebuah literasi terjemahan. Tentu saja, definisi apik kebahagiaan, terlebih lagi “tempat yang membahagiakan” masih menjadi misteri dan terlalu sederhana untuk dipancing keluar dalam jurnal ekspedisi sekalipun. Setidaknya melalui buku ini kita belajar untuk memilah nilai kebajikan, hal-hal yang sepantasnya dikejar, dan menyibak nilai kebahagiaan itu sendiri. Selamat membaca!

Read Full Post »

Older Posts »

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang