Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2010

*jiwa pemberani dan ksatria

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

Betapa bahagianya
Punya banyak teman
Betapa senangnya

Betapa bahagianya
Dapat saling menyayangi
Mensyukuri karunia-Nya

(SHERINA- “Persahabatan”)
(betapa picik jika saudara kira hidup di dunia ini lama. Betapa salah jika saudara kira hanya saudara yang punya hati dan cerita. betapa Allah kaya dan punya segudang hisab yg tidak dibeberkan sekarang-sekarang ini.” Setiap manusia di dunia/Pasti punya kesalahan/Tapi hanya yang pemberani/Yang mau mengakui”)
… ahaayyyy 😀

Read Full Post »

Episode 1 “Perang Sabil”

Pernah terjadi suatu masa di bumi ini, di mana semangat kokoh membaja, pengorbanan sampai kepada puncaknya, kemuliaan membalut tubuh manusia, dan sorga membentang di muka dunia. Di sana, di Aceh, pada abad ke-19. Ketika itu Aceh bukan cuma menjadi Serambi Makkah, tapi juga Serambi Sorga. Seluruh rakyatnya berlomba-lomba meraih cinta Ainon Mardliah, dan membeli rumah megah di padang rumput halus sorga dengan nyawa dan darah. Saat itu kaphe (kafir) Belanda menyerbu Aceh demi menuntaskan nafsu penjajahannya, dan rakyat Aceh maju melawan dalam Perang Sabil yang agung. Dan inilah dia, sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia yang tegak membela agama dan negerinya. Dia serupa kuntum mawar yang mekar dalam kecamuk medan perang. Yang walaupun kecamuknya membakar retih jiwa manusia, tapi harumnya semerbak di dunia dan akhirat. Nama perempuan itu: Meutia.

1874

Pantai Peureulak mendesir desah. Seakan-akan meracau karena manusia demikian kacau. Penjajah hendak menerkam tanah Aceh di mulut pantainya, dan semua orang harus maju membelanya. Bulan suci kian menjelang dan bayang-bayang perang kian mencekam. Pantai telah ramai dengan pasukan perang yang telah siap dengan senjata, kuda, dan perbekalan, hendak bergerak menuju Banda Aceh, sebab penjajah akan memulai penyerbuannya dari sana.

Tak jauh dari pantai berdirilah sebuah rumah megah. Tiang-tiangnya kokoh dan dindingnya tebal. Rumah itu adalah rumah Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak.

Ada prahara besar di dada Teuku Daud. Ia berdiri di kamarnya. Menatap istrinya yang duduk bersimpuh di atas ranjang, ditentang seorang anak kecil yang sedang lelap tertidur. Cut Jah, nama istri teuku Daud itu, dan ketika itu matanya basah, jantungnya bergelora. Teuku Daud berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Pelan tangannya terangkat, dan jemarinya mengusir air mata lara di pipi istrinya. Lalu senyum teragung ia persembahkan kepada perempuan yang dicintainya itu.

“Jangan antar kepergian orang yang hendak pergi melawan kezaliman dengan air mata,” bujuk Teuku Daud.

“Bagaimanalah mungkin air mataku tak tumpah,” isak Cut Jah. “Kau belum tentu akan kembali padaku, Cutbang (panggilan utk laki-laki yang lebih tua, abang).”

“Beginilah hidup sudah diciptakan Allah. Boleh jadi aku yang berangkat lebih dahulu, atau boleh jadi pula dirimu. Kita tak bisa melawan semuanya itu. Tapi apapun yang terjadi, berjuang adalah kewajiban, dan kita mesti ikhlas menetapinya. Yang meninggalkan, ikhlas. Yang ditinggalkan pun harus ikhlas. Ikhlaslah, sayang!”

Tangis Cut Jah meledak lagi, ia menghambur ke pelukan hangat suaminya, berusaha menguatkan hatinya saat harus menatap takdir yang membentang di muka. Mereka berpelukan erat, seolah tak ingin melepaskannya selama-lamanya. Hanya ada cinta di sana.

“Sabarlah, sabar,” bisik Teuku Daud. “Ini semua adalah ujian untuk mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan sampaikanlah kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.”

Cut Jah melepaskan pelukannya, ia sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Jemari Teuku Daud menghapuskan lagi air mata istrinya.

“Semua orang pasti mati,” ia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menjalani hidup kita, dan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang menjemput. Bersabarlah.”

Tiba-tiba terbit senyum di wajah Cut Jah. “Aku mencintaimu, Cutbang! Sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu pergilah kau berperang! Jangan menoleh lagi ke belakang. Belalah negeri kita seteguh-teguhnya. Aku ikhlas. Aku bangga menjadi istri seorang pejuang.”

“Terima kasih, sayang! Istri salihah adalah penghulu bidadari di padang sorga. Dan aku bahagia sebab telah dianugerahi Allah salah satu diantaranya.” Teuku Daud menoleh kepada puterinya yang sedang lelap tertidur. Ia mengecup kening anak itu dan tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, jaga pula Meutia. Ajari dia Islam, agar dia menjadi perempuan tangguh seperti dirimu.”

“Insya Allah,” sahut Cut Jah.

“Kalau ada umur aku pasti kembali. Tapi bila aku tak kembali, sampaikan kepada Meutia, bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang telah syahid membela agama dan negerinya. Aku ingin dia bangga demi mengetahuinya.”

“Janganlah risau tentang itu, Cutbang! Aku pasti mengatakannya. Akan aku ajari dia kebencian kepada penjajah, dan akan aku jadikan dia perempuan yang mulia.”

“Terima kasih,” Teuku Daud menangkup halus kedua pipi istrinya dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mengecup kening istrinya. Cut Jah mencium tangan Teuku Daud dengan khidmat.

“Jangan pernah mundur, Teuku,” Cut Jah tersenyum.

Teuku Daud mengangguk, “Aku mencintaimu, kita tak akan pernah berpisah. Para pencinta boleh mati, tapi cinta mereka tak akan pernah hilang dari muka bumi. Mereka yang pergi tak benar-benar pergi. Yang mati, tidaklah mati.”

Mereka turun dari ranjang, tegak berhadap-hadapan di tengah-tengah kamar. Teuku Daud membetulkan letak kerudung istrinya. Cut Jah menguatkan ikatan pedang di pinggang suaminya. Pandangan mereka jatuh kepada puteri mereka yang sedang terlelap di ranjang, membalurinya dengan kasih sayang. Mungkin untuk yang terakhir kali.

“Marilah,” ajak Teuku Daud.

Mereka berdua melangkah keluar kamar itu, bergandengan tangan. Melapisi hati dengan kesabaran dan keikhlasan abadi. Itulah senjata terampuh menghadapi segala kenyataan. Di beranda rumah mereka berhenti.

Teuku Daud menatap dalam-dalam bola mata cokelat bening istrinya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” sahut Cut Jah.

Teuku Daud menuruni undakan depan rumah itu, melangkah dengan teguh. Tak pernah menoleh lagi ke belakang. Cut Jah menatap punggung kokoh suaminya yang terus menjauh, ia tersenyum, tak ada lagi air mata. Kokohnya gunung Seulawah tak sanggup menandingi kokohnya hati para pejuang. Ikhlasnya bidadari tak akan kuasa melawan keikhlasan hati istri-istri pejuang.

Cut Jah berjalan kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, ia melihat puterinya telah bangun dan duduk sendirian sambil mempermainkan kain selimutnya. Cut Jah tersenyum dan menghampiri ranjang, ia peluk puterinya itu dan digendongnya. Ia buaikan rindu puterinya dengan mendendangkan syair yang menggetarkan kaum penjajah. “Kau tahu, sayang, ayahmu adalah seorang pejuang!”

“Allah hai dododaidi

Boh gadung bi boh kayee uteun

Rayeuk sinyak hana peu mak bri

Aeb ngeun keuji ureung donyakeun

Allah hai dododaidang

Seulayang blang ka putoh talo

Beurijang rayeuk muda seudang

Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le

Beudoh sare tabela bangsa

Bek tatakot keu darah ile

Adak pih mate po mak ka rela.”

Allah hai dododaidi (semacam ninabobo dalam bahasa Aceh)

Buah gadung buah-buahan dari hutan

Kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

Aib dan keji dikatakan orang-orang.

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

Cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda

Supaya bisa berperang membela negeri.

Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri saja

Mari bangkit bersama membela bangsa

Janganlah takut jika darah mengalir

Walaupun engkau mati, Nak, Ibu sudah relakan.

[Sayf Muhammad Isa]

Read Full Post »

PLURALITAS BUKAN PLURALISME

Di tengah skripsi mulai terlihat tak seksi saya menulis artikel ini. Di tengah kisruh wacana pluralisme telah digulirkan kembali. Saking gemasnya, maka tanpa berpikir panjang saya ’lempar’ saja tumpukan print-out skripsi, dan jadilah saya menyempatkan waktu untuk mendamprat pemahaman yang selama ini dipelintir-pelintir hingga tidak jelas lagi untuk diikuti.

Memang tidak bisa dipungkiri, kita ini, terjebak pada ranah intelektual. Hingga tidak sadar kita saat ini telah dicoba diombang-ambingkan seputar wilayah definisi. Bagi mereka yang ikhlas menggali kebenaran, mereka tentu akan’legowo’ menerima Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sandaran argumentasi. Namun bagi mereka yang bebal, yang merasa mapan berada pada ”zona nyaman”, lebih-lebih yang sarat dengan kepentingan, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah seolah-olah hanya difungsikan sebagai ”tafsir” dan diperalat untuk mendukung definisi abal-abal yang telah diadopsi. Maka, kita termasuk golongan yang mana?

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan saya ini terkesan norak dan tidak begitu rapi. Memang sengaja saya tulis dengan tempo agak cepat agar skripsi saya segera tertangani kembali. Baiklah, saya kira basa-basi ini tidak begitu penting bagi Anda. Maaf, saya semakin ngelantur jadinya.

Wacana pluralisme dalam beberapa waktu lalu memang baru banyak disuarakan oleh ’pion-pion’ lokal, namun kemudian beberapa ’pentolan’ luar pun mulai turun gunung dan angkat bicara. Sebut saja Franz Magnis Suseno, rohaniawan Jesuit kelahiran Eckersdorf-Jerman sekaligus guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya ini berusaha mengaburkan definisi pluralisme agama dengan cara menceraikannya dengan paham relativisme dan mencoba menggiring pemahaman sebagai makna toleransi. Seperti yang ditulisnya dalam salah satu harian ibukota, ”Hanya seorang pluralis sejati yang toleran.” Pernyataan ini seolah-olah menyiratkan bahwa yang tidak pluralis berarti tidak toleran. (Lihat, Dr. Syamduddin Arif, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran, 80).

Buntut-buntutnya, tidak jarang kalangan yang mengatas-namakan dirinya kaum intelektual Muslim yang terkenal kritis terhadap ulama’-ulama’ Islam dengan mudahnya menenggak pemahaman semacam ulama’ pendeta tersebut tanpa terlebih dulu dipamah dan dikunyah!

Bahwa terdapat bermacam-macam agama di muka bumi ini adalah fakta yang tidak terlelakkan. Namun masalahnya, bagaimana seharusnya penyikapan terhadap pluralitas itu dilakukan. Dalam pemahaman Islam, seorang Muslim harus selalu dituntut keseimbangan dan kewajaran dalam beraqidah, beribadah, dan bermu’amalah. Umat Muslim diwajibkan berjihad, tetapi di sisi lain juga diperintahkan untuk menebar kedamaian. Saling menghormati dan toleransi kepada pemeluk agama lain diharuskan, namun dakwah kepada mereka juga diwajibkan. Kepada non-muslim yang ’lurus’ (ahli dzimmah) wajib diberikan perlindungan, tetapi bagi mereka yang berkhianat dan justru memusuhi Islam dan kaum Muslimin maka mereka harus diberikan ’kejutan’. Inilah aturan mainnya, sehingga ’peaceful coexistence’ akan dapat terwujud. Dan jika hal ini dilanggar maka bola salju konflik akan terus bergulir dan menjadi sulit untuk dihindari.

Sedangkan pluralisme, tidak akan terlepas dari paham relativisme. Sekilas memang terkesan ’baik’, apalagi tujuannya dikatakan untuk menemukan ’common platform’ demi terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Tapi lihatlah, mereka bahkan tidak nyadar kalau dirinya nyasar, mereka berpendapat bahwa semua agama adalah sama benarnya, tidak diperkenankan memonopoli kebenaran agama tertentu. Mereka beranggapan semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ’porsi’ dan ’resepnya’ berbeda. Maka mengerucutlah pada paham inklusivisme, yang mengatakan bahwa semuanya menjanjikan keselamatan, karena jalan menuju Tuhan itu bermacam-macam. Itu artinya, agama Anda bukan satu-satunya jalan keselamatan. Alhasil, menganggap penganut agama lain akan masuk ke dalam api neraka seolah-olah telah ’diharamkan’.

Orang-orang model begitu itu, oleh Dr. Syamsuddin Arif dikatakan ”lugu karena memegang pisau bukan pada gagangnya, tetapi badannya”. Bagaimana tidak dikatakan lugu, katakanlah orang Kristen mengaku benar dengan agamanya dan menyalahkan agama yang lainnya, silakan. Biarlah orang Kristen berkeyakinan bahwa mereka akan masuk surganya Kristen sementara umat Muslim akan masuk nerakanya Kristen, no problem. Tapi sebaliknya biarlah kita umat Muslim berkeyakinan akan masuk Surganya Islam, sementara orang-orang Kristen akan masuk Nerakanya Islam. Beres! Lalu mengapa harus dengan melakukan akrobat intelektual? Padahal kalau hanya berhasrat ingin dikatakan ’bijak’, ada ungkapan lain yang masih bisa digali: Okelah semua agama itu baik, tapi tidak semuanya benar.
Pembicaraan selanjutnya yang sering didengung-dengungkan adalah kekhawatiran jika suatu negara diberlakukan Syariat Islam, maka toleransi ditakutkan akan terhapus dari peredaran. Secara tidak langsung, kekhawatiran tersebut sebenarnya diam-diam telah menyiratkan tuduhan bahwa Islam adalah agama bar-bar lagi otoritarian yang tidak mengenal istilah toleran. Tapi tak mengapa, kita harus mengedepankan ’husnudzon’ bahwa orang-orang semacam itu masih belum faham. Karenanya, kita harus main perasaan. Dan tentunya, dakwah jangan sekali-kali diremehkan.

Jadi, ketika negara memberlakukan Syariat Islam, justru non-muslim akan diberikan ’kebebasan’. Artinya, tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Demikian seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam Daulah Islam. Allah SWT berfirman,

”Tidak ada paksaan dalam agama” [QS. Al-Baqarah: 256]

Silakan, silakan mereka setia seiya sekata dengan agamanya, karena Islam pun telah mempersilahkan,

”Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” [QS. Al-Kafiruun: 6]

Bahkan bila perlu, ketika mereka berada dalam Daulah Islam, mereka bisa mengusulkan semacam ”perda” untuk memberlakukan sangsi bagi jemaatnya yang membelot dari ritual ibadahnya, yang di saat hari minggu tidak berangkat ke gereja malah justru ke pantai untuk melakukan ritual gendaan (pacaran).
Dalam hal ini, dalam masalah keyakinan Islam telah memberikan kelonggaran. Allah SWT berfirman,

”Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” [QS. Yunus: 99]

Sekali lagi, Islam memberikan kelonggaran dalam masalah keyakinan. Ketika umat kristen mempunyai keyakinan bahwa babi adalah ”halal”, maka babi boleh mereka makan. Meski kemudian mereka harus mengecek ulang ”kehalalan” babi dalam PL Imamat 11:7. Lalu dalam hal berpakaian, tidak kemudian mereka dipaksa meyakini wajibnya perintah memakai jilbab dan kerudung apalagi cadar, hanya saja mereka diperintahkan untuk saling mengerti dan menghormati ”adab kesopanan” dalam berpakaian.
Lain halnya dalam hal mu’amalah (hukum), mereka dituntut untuk tunduk kepada Syariat Islam. Sangat wajar kenapa demikian, Islam telah mengatur segala urusan sedangkan dalam agama mereka tidak. Aturan dalam Islam itu sangat kompleks [QS.Al-Maidah: 5], dan telah terbukti dalam sejarahnya membuahkan keadilan pada aspek kehidupan. Maka tidak ada yang perlu dirisaukan, karena Rasulullah pun pernah berkata bahwa, sesiapa yang menyakiti Dzimmi, maka sama halnya menyakiti diriku.

Nah, muncul persoalan. Bagaimana dengan Ahmadiyah? Bukankah mereka juga butuh kebebasan berkeyakinan?

Kawan, dengan pertanyaan itu sebenarnya dirimu telah mengingatkanku pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Saya kena tilang di depan kantor polisi Lamongan sepulang dari Surabaya gara-gara kaca spion saya hilang satu. Apes! Tapi bukan itu masalahnya yang ingin saya bicarakan. Saya hanya mengajak Anda berandai-andai, jika ada polisi gadungan berseragam lengkap, dia mengaku-ngaku dari kepolisian, lalu Anda kena tilang di jalan, maka apa yang Anda lakukan?

Lalu jika ada yang mengaku Islam, tetapi Islam gadungan karena tidak meyakini Nabi Muhammad saw. yang terakhir sebagai seorang utusan, maka ini namanya perbedaan ataukah penyesatan? Maka, proporsionallah dalam berbicara konsep toleran, dalam melakukan pembelaan, jangan kemudian justru terperangkap dalam lingkaran setan.

Akhirnya dari saya, salam perdamaian! []

Oleh: Ahsan Hakim

^Admin yang becus^

Hehe

Read Full Post »

[Al Islam 517] Pemerintah sejak tahun 2007 lalu gencar melakukan konversi (peralihan) penggunaan minyak tanah ke gas LPG (baca: elpiji). Alasan utama di balik kebijakan konversi minyak tanah itu konon untuk penghematan subsidi BBM. Pemerintah melalui Pertamina sampai akhir Juni lalu sudah mendistribusikan sekurangnya 44,6 juta tabung gas ukuran 3 kg, dari target sekurangnya 55 juta pada tahun 2011.

Sayang, program konversi ini banyak menemui masalah. Yang paling menonjol adalah terjadinya banyak kasus ledakan. Sejak tabung elpiji 3 kg dibagikan secara gratis oleh Pemerintah tahun 2007, kasus ledakan tabung ‘melon’ (sebutan populer untuk tabung gas 3 kg) ternyata cukup tinggi. Selama tahun 2008 terjadi 61 kasus, tahun 2009 terjadi 51 kasus dan pada tahun ini (hingga bulan Mei saja) sudah terjadi 33 kasus tabung gas elpiji meledak. Total berarti telah terjadi lebih dari 150 kasus ledakan, dengan puluhan korban tewas dan lebih banyak lagi korban luka, termasuk anak-anak.

Terakhir, hanya dalam kurun 8 hari (19-26 Juli) telah terjadi 8 kali kasus ledakan tabung gas elpiji 3 kg di berbagai daerah. Artinya, ledakan gas elpiji terjadi setiap hari. Khusus wilayah Jabodetabek, menurut data Kepolisian Daerah Metro Jaya, selama April-Juli 2010 terjadi lebih dari 15 kali ledakan tabung gas elpiji 3 kg. Korban meninggal mencapai 9 orang dan puluhan orang lainnya luka (Kompas, 27/07/10).

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab ledakan itu adalah kualitas tabung yang buruk, terutama katupnya, sehingga bisa bocor; juga kualitas regulator dan selang yang tidak memenuhi SNI. Penanganan tabung selama distribusi juga sering buruk seperti dengan cara dilempar-lempar.

Begitu seringnya terjadi ledakan gas elpiji tak ayal membuat para pengguna tabung gas ukuran 3 kg selalu merasa terancam. Tabung gas elpiji 3 kg seakan sudah menjelma jadi ancaman “bom” yang kapan saja bisa meladak, dan celakanya ada di dapur dan rumah kita. Tidak salah kiranya jika saat ini masyarakat sedang dihadapkan dengan teror “bom” gas elpiji.

Pemerintah Lamban

Meski sudah banyak korban ledakan, respon Pemerintah terbilang amat lamban. Langkah Pemerintah baru terlihat dengan dibentuknya Tim Nasional setelah rapat koordiansi di Kantor Wapres, 29 Juni lalu. Namun, langkah nyata belum terlihat, kecuali Pemerintah telah menyiapkan regulator dan selang berstandar SNI sebanyak 10 juta paket, dan masyarakat bisa menukarkan yang lama dengan membayar sekitar Rp 35 ribu. Terakhir dikatakan, tabung gas 3 kg akan ditarik.

Sikap lamban seperti itu jelas menyalahi tuntunan Islam. Pasalnya, dalam Islam Pemerintah berkewajiban senantiasa mengurusi rakyatnya. Rasul saw. bersabda:

« فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ »

Seorang pemimpin (penguasa) adalah pengatur dan pemelihara urusan masyarakat dan dia bertanggung jawab atas urusan mereka (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasul saw. juga memperingatkan:

« مَنْ وَلاَّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمُ احْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ »

Siapa saja yang diserahi oleh Allah menangani urusan kaum Muslim, lalu ia mengabaikan kebutuhan, kesusahan dan kemiskinan mereka maka Allah akan mengabaikan kebutuhan, kesusahan dan kemiskinan mereka (pada Hari Kiamat kelak) (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Mengakhiri Teror “Bom” Gas Elpiji

Untuk mengakhiri teror ‘bom’ gas elpiji, ada beberapa langkah yang harus dilakukan segera. Pertama: semua tabung, regulator dan selang harus dipastikan dan dijamin berkualitas baik. Di lapangan, struktur dan aparatur pemerintah lintas departemen, termasuk Pertamina, bisa melakukan pengecekan hingga tingkat RT dan RW serta komunitas. Yang memenuhi standar diberi tanda dan yang tidak memenuhi standar atau rusak diganti. Dananya diambil dari APBN. Tentu hal itu bisa. Jika untuk menalangi Bank Century sebesar 6,7 triliun, dan sebelumnya BLBI hingga ratusan triliun saja Pemerintah bisa dan harus bisa, tentu saja untuk melaksanakan hal ini juga bisa dan harus bisa. Jika perusahaan otomotif saja bisa melakukan puluhan bahkan ratusan ribu mobil untuk dicek dan diperbaiki, masa Pemerintah dengan segala potensi, kemampuan dan strukturnya kalah sama perusahaan otomotif?

Kedua: harus ada pengawasan yang ketat dan berjenjang dari Pemerintah. Pengawasan dilakukan sejak pabrik hingga ke pengecer. Tabung gas harus dipastikan berkualitas baik dan tidak bocor, terutama pada bagian katup, dan ini bisa dilakukan di stasiun pengisian tabung. Pemerintah juga harus memastikan bahwa distributor hingga pengecer tersebut menjaga kualitas. Harus dijamin mereka memperlakukan tabung dengan baik, dan untuk itu perlu dilakukan pelatihan hingga tingkat pengecer. Artinya, harus ada pengawasan berjenjang dari Pemerintah hingga sampai ke konsumen, supaya Pemerintah tahu siapa yang jadi pihak ketiganya itu.

Ketiga: di tingkat konsumen, harus dilakukan penyuluhan massal kepada masyarakat untuk pemakaian gas yang aman. Hal itu dilakukan dari rumah ke rumah dengan memanfaatkan struktur RT atau RW dan komunitas. Penyuluhan tidak cukup hanya menggunakan sarana komunikasi massa, karena kalau hanya lewat televisi, misalnya, itu hanya satu arah; tidak ada dialog dan tidak bisa dipastikan konsumen paham.

Keempat: Pemerintah harus mengusut dan menghukum dengan keras dan tegas siapa saja yang melakukan kecurangan, menyuntik gas, memalsukan selang dan lainnya yang sering disebut sebagai pihak ketiga penyebab ledakan.

Kelima: segera menyantuni seluruh korban atau mereka yang terkena musibah akibat ledakan tabung gas itu.

Minimal, kelima hal inilah yang harus dilakukan Pemerintah untuk mengakhiri teror ledakan tabung gas ini.

Solusi Mendasar

Jauh lebih mendasar dari semua itu, banyaknya kasus ledakan ‘bom’ gas elpiji adalah dampak dari adanya kebijakan konversi (pengalihan) penggunaan minyak tanah ke elpiji. Masyarakat dipaksa untuk menerima kebijakan Pemerintah ini dan tidak diberi pilihan energi lain. Kebijakan Pemerintah itu muncul tentu saja karena politik energi dan pengelolaan kekayaan umum yang salah mengikuti sistem Kapitalisme.

Sistem Kapitalisme apalagi dengan mazhab neoliberal menghendaki agar subsidi dalam segala bentuknya dihapuskan. Artinya, sangat mungkin ke depan, ketika Pemerintah memutuskan menghapus subsidi BBM termasuk gas tiga kiloan maka rakyat dipaksa membeli sesuai harga keekonomian. Harga keekonomian gas elpiji saat ini sekitar Rp 7.680,- belum ditambah margin keuntungan badan usaha. Artinya, harga keekonomian gas 3 kg di tingkat pengecer nanti bisa mencapai 25 ribu pertabung. Pada saat itu nanti, besar kemungkinan akan timbul masalah lagi di tengah masyarakat.

Masalah ini semua berawal dari kesalahan politik energi. Pertama: masyarakat dipaksa mengkonsumsi jenis energi yang mahal, yaitu BBM (termasuk elpiji) daripada LNG yang jauh lebih murah dan ramah lingkungan. LNG ini justru diekspor habis-habisan ke Cina, Singapura atau Korea dengan harga amat murah. Kontrak LNG Tangguh ke Cina yang sedang dihebohkan saat ini harga efektifnya lebih murah daripada LPG 3 kg yang bersubsidi. Jadi, saat subsidi untuk rakyat terus dikurangi, Pemerintah justru mensubsidi Cina! Kontrak ini berjangka waktu 25 tahun sehingga kalau dipenuhi kita ditaksir akan rugi Rp 700 triliun!

Kedua: tidak ada pemihakan pada kebutuhan pasar dalam negeri. UU 22/2001 tentang Migas, meskipun beberapa pasalnya yang sangat liberal telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, tetap saja belum menjadi UU yang mewajibkan pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri. Akibatnya, pabrik Pupuk Iskandar Muda dan Pabrik Pupuk Aceh-Asean, yang keduanya ada di Aceh, misalnya, harus ditutup karena tidak mendapat pasokan gas. Demikian juga PLN yang tidak mendapat jaminan pasokan batubara 200 juta ton/tahun sehingga sekarang ada pemadaman bergilir. Rakyat juga tidak bisa mendapat sumber energi, termasuk minyak dan gas, dengan mudah dan murah.

Ketiga: kita tidak mengembangkan infrastruktur agar masyarakat menikmati energi secara baik dan efisien. Pipa gas alam dari Natuna justru disalurkan ke Singapura. Infrastruktur jaringan pipa agar bisa mensuplai gas untuk masyarakat justru tidak pernah atau sangat minim dibangun.

Walhasil, kita memang memiliki energi, tetapi tidak mengelolanya. Sebesar 85% ladang migas dikuasai asing. Bahkan kontrak-kontraknya tidak masuk akal. Misal: di Blok Cepu, Exxon telah berubah dari sekadar technical assistance menjadi pemilik (owner). Semua akibat tekanan Pemerintah Amerika Serikat, bahkan Menlunya sendiri langsung datang ke Indonesia. Demikian juga lapangan LNG Tangguh. Beyond Petroleum (BP) menjualnya ke Cina dengan rumus: jika harga minyak dunia di atas 25 USD/barel, harganya fixed. Harga gas tangguh rata-rata cuma 3,35 USD per MMBTU, padahal di pasar sekitar 15 USD.

Akibat migas dikuasai swasta apalagi swasta asing maka rakyat yang katanya jadi pemilik kekayaan itu mengalami kesulitan untuk mendapatkannya dan harus membeli dengan harga mahal.

Jadi jelas, kekisruhan insiden ledakan gas yang terus terjadi selama ini meski tampak sebagai persoalan praktis namun memiliki akar penyebab yang sangat mendasar, yaitu diadopsinya sistem Kapitalisme dalam mengelola ekonomi dan kekayaan negeri ini termasuk dalam mengelola migas. Karena itu, solusi mendasar untuk memupus semua problem itu adalah dengan menghilangkan sebab mendasar itu, yaitu dengan meninggalkan sistem Kapitalisme, dan kemudian mengadopsi sistem Islam yang datang dari Allah Yang Mahatahu dan Mahaadil.

Islam memandang seluruh kekayaan alam itu termasuk migas adalah milik seluruh rakyat. Kekayaan itu tidak boleh dikuasai oleh swasta, tetapi harus dikelola oleh Pemerintah mewakili rakyat dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat.

Sebagai pemilik, rakyat berhak untuk bisa memanfaatkan semua kekayaan itu sebaik mungkin dengan mudah dan murah. Rakyat tidak boleh dipaksa menggunakan jenis bahan bakar atau sumber energi tertentu, apalagi dipaksa membelinya dengan harga mahal. Sebaliknya, rakyat harus diberi pilihan berbagai sumber energi dan bahan bakar.

Pengelolaan kekayaan alam dan energi model Islam itu tidak mungkin terealisasi kecuali syariah Islam diterapkan secara total oleh negara. Hanya dengan itu rakyat akan merasakan kehidupan yang sejahtera, aman dan merasakan ketenteraman. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).

Read Full Post »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même