Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Penaku_Bicara’ Category

 

 

Judul : Titik Nol

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Februari 2013

Jumlah halaman : 552 halaman

 

 

 

titik-nol

Mungkin udah banyak orang yang baca buku ini. Apalagi kalau beli di waktu sekarang-sekarang ini, di cover depan buku sudah terpampang cap medali “best seller”, anggun sekali. Mungkin bagi mereka yang sudah mengikuti jejak si penulis, bahkan sebelum terbitnya, hampir nggak perlu label-label sejenis itu, pasti langsung beli. Berhubung mottonya ‘One book thousand feelings’, jadi yaudah gapapa, saya senang hati resensi buku berikut ini.

Buku karya Agustinus Wibowo berjudul Titik Nol, atau Ground Zero dalam versi terjemahan Bahasa Inggris. Belum lama ini, tampil meramaikan Beijing International Book Fair, yang disambut antusias penulisnya hingga diterbitkan dalam bahasa Vietnam, untuk memperluaskan pembacanya.

 

 

Titik Nol berisikan kisah perjalanan Agustin sejak dirinya berkhidman dalam dunia “perjalanan” dari satu fase ke fase berikutnya. Dari satu titik ke titik berikutnya, rangkaian proses, kejadian, titik henti, titik balik dan akumulasi dari seluruhnya yang menentukan jati diri seorang manusia. Mungkin hal ini bukanlah berita baru mengingat buku perjalanan bukanlah aliran baru. Tentu bukan pula cerita yang benar-benar baru kalau kita sebelumnya sudah membaca karya Agustin lainnya (Selimut Debu dan Garis Batas). Nostalgia Jalur Sutra, Sekat batas Negara Stan, dan konflik intrik menjadi santapan khas dari tema karya Agustin. Namun buku ini mengangkat derajatnya tatkala Agustin mengisahkan penggalan-penggalan cerita lain dari dirinya, dengan sentuhan yang lebih privacy. Terkhusus bagaian kisah dirinya menemani ibunya semasa sakit hingga ajal menjeput. Konflik keluarga, idealisme, isu agama, melebur menjadi satu cerita yang menyisakan misteri di tiap lembarnya.

 

 

Bagaimana seorang sarjana universitas terkemuka memulai hidupnya sebagai traveller? Itu satu misteri. Bagaimana rencana hidupnya semula, reaksi keluarga, lalu memilih menghabiskan umur belasan tahun keliling dunia? Maka itu jadi misteri lainnya. Bukankah Traveller juga manusia yang memiliki ayah-ibu, tetangga, uang tabungan, karir, yang juga harus dipikirkan? Pada akhirnya kita mengerti, semua itu tak semudah kelihatannya.

 

 

Tak kalah menarik yaitu kisah eksklusif Agustin menemani ibunya selama proses penyembuhan-lalu sakit-dan sakit terus. Berkesinambungan, antara kisah perjalanan Agustin mengitari Asia Tengah, dengan penggalan cerita dari ranjang pesakitan.  Kontras, antara Ibu yang tidak kemana-mana, dengan Agustin yang sudah kemana saja. Namun setiap manusia memang punya kisah perjalanannya sendiri. Dimana Agustin menuliskan : Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu. Setiap orang memiliki kisah perjananan sendiri, tapi hakikat perjalanan itu adalah sama. Banyak sisi tempat kita memandang, bisa beda rasa yang kita petik. Semoga pembaca bisa mengambil nilai positif dari kisah perjalanan yang satu ini. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Read Full Post »

Di rumah kami tidak ada tivi. Namun rumor seputar guru kami yang nampang di acara inspiratif Kick Andy sudah kedengeran. Sejak dua minggu lalu sudah ada sinyalnya. Terlebih di situs dunia minang, sobat padang, dan segala minangkabau yang kita tahu klan ini selalu saling sokong dalam perantauan, nama Prof Aznan kian terdengar. (Ngomong-ngomong, Prof Aznan emang orang Padang ya ? Hehe, baru tahu sayah).

 

Di Fakultas Kedokteran Gigi, Prof Aznan dan staff kebagian mengajar Farmakologi, mata kuliah yang sangat krusial, warning sana sini supaya giat belajar. Entah hukum alam darimana, jadwal kuliah dan praktikumnya selalu pagi-pagi, jam 7 pulak! Untuk kota Medan yang subuhnya setengah 6, berarti abis subuh mau nggak mau pontang panting harus berangkat.

Kala itu pratikum bikin resep. Sudah dapat tugas dari Pak Prof, fotokopi sekian jenis resep, racik dan cek interaksi obat. Bah, untuk aku yang buku DOI pun masih pinjam, ini namanya pembunuhan. Rupanya betol ! Sampai lab udah kena ceramah dari guru awak ini :”Mau berapa banyak kao kasikan obat ke pasienmu? Sepuluh macam? Jangan kao siksa dia,…”. Pasien hipertensi, komplikasi diabetes, abis cuci darah, sakit gigi pulak. Apa tepatnya ilmu yang diberikan, saya sendiri sudah lupa. (Topik Obat Rasional, selalu berulang disampaikan). Yang tersisa dari guru-guru kita melebihi modul-modul, nilai dan angka yang saat itu kita kejar.Spirit dan nurani, jadi oleh-oleh bagi dokter dan calon dokter yang kelak menjadi tempat peraduan masyarakat.

Sebelum masuk Kick Andy pun, Prof sudah terkenal tanpa harus diperkenalkan. Ada yang bilang galak tapi baik, baik tapi galak, ada yang suka, ada juga yang tidak suka, namanya juga manusia. Testimoni dari mulut ke mulut begitu cepat melebihi daya rambat social media yang katanya tanpa batas. Apapun profesi kita, geluti dengan keringanan, dan kepasrahan, bahwa ALLAH pemberi segala-galanya. Kita hanya dititipkan potensi, menggunakan… dan mempertanggungjawabkannya. Itu!

AZ

Berikut kutipan tulisan yang besar hikmahnya, sila dipetik. Semoga bermanfaat 🙂

 

Aznan Lelo “Dokter Ikhlas tanpa papan nama”: Dokter Mestinya Tak Boleh Pasang Tarif

Penulis: Feriansyah Nasution

Sebuah bangunan tua di kawasan Jln. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan Sumatera Utara, kerap didatangi orang-orang yang mengendarai becak, sepeda motor, hingga mobil. Mereka adalah pasien seorang dokter yang akrab disapa Buya. Nama lengkap sang dokter dengan deretan gelarnya adalah Prof. Dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.

Di kediamannya itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama, kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.
Mengisi amplop sekehendak hati

Biasanya praktik buka pukul 17.00 WIB. Ada pasien yang datang dan mendaftar sejak siang kemudian pergi, banyak pula yang datang langsung mendaftar dan menunggu giliran. Ruang tunggu yang juga bagian dari garasi itu kadang dipenuhi pasien, sesuai giliran mereka masuk ke ruang praktik berukuran minimalis.

Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris putih biru-merah. Pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu. Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja dr. Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.

Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.
Andi (30), seorang kontraktor yang tinggal di Jln. Eka Rasmi, Kelurahan Gedung Johor Medan, yang datang dengan mobil APV putih, mengatakan, alasan utama membawa tiga anaknya ke dr. Aznan bukan hanya karena sang dokter tidak mematok tarif. Tapi ia betul-betul percaya pada kualitas dokter itu. Hari itu ketiga anaknya menderita batuk pilek.

“Tiga anak saya ini dulu punya penyakit kelenjar di leherny Dokter lain yang pernah saya datangi memvonis harus diambil tindakan medis. Tapi alhamdulillah, sama Buya tidak. Waktu itu pengobatannya selama enam bulan, dan radang kelenjar pada tiga anak saya sembuh,” kata Andi.
Ia menuturkan, metode pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus karena punya keahlian meracik obat. “kalau dokter lain resep obatnya mahal. Di sini obat yang diresepkan Biaya relatif terjangkau kita bisa dapat di apotek mana saja. Komposisi obatnya saya rasa sangat tepat, karena beliau sendiri ahli farmakologi,”

Sebagai pasien yang sudah sering berobat kepada dr. Aznan, Andi cukup tahu diri mengisi amplop. “Saya sewajarnyalah, apalagi kalau anak kita sudah sehat, maka kalau ada rezeki kita tambah, kalau tak ada ya ala kadarnya.”

Ia menilai dokter Aznan juga rajin bersedekah. “karena sudah lama kenal, pernah juga membuka amplop dari pasien di depan saya. Saya lihat bahkan ada yang memberi Rp. 5.000. Pernah uang dari amplop pasien dibelikan durian untuk dimakan sama-sama, “ujarnya”

Membandingkan dr. Aznan dengan dokter lain, Andi berkomentar, “Waduh, kalau di luar sana, untuk dokter anak saja, sekali konsultasi bisa Rp. 200.000. Itu lain obat yang terkadang kan ada dokter yang komersil, diresepkan kepada kita brand tertentu yang susah kita cari, mau tidak mau kita beli dari apoteknya.

Pendapat senada diungkapkan Restu Manik, (30) warga Jln. Siriaon, Mandala By Pass, Medan. Restu, karyawan di PT Media Elektronik, mengaku pada 2005 divonis dokter THT (telinga hidung tenggorokan) mengidap polip pada hidungnya dan harus menjalani operasi kecil.

Dari temannya ia tahu praktik dokter Aznan, kemudian dia datangi. “Alhamdulillah, setelah minum obat resep dari Buya, polipku sembuh dalam empat bulan.”

Dari pengalamannya berobat ke dr. Aznan, Restu menceritakan pasien datang dari pelbagai tempat. Dari Aceh, Padang Sidimpuan, Rantau Prapat, dsb.

“ada pasien dimrahi. Dia nanya berapa biaya berobatnya, terus kena sental (dimarahi) sama Buya, “udah gak usa bayar aja, kata Buya, ” cerita Restu.

Menurut pengakuan Restu, sekali berobat ia memasukkan Rp. 25 ribu, kadang Rp. 30 ribu dalam amplop. “beginilah dokter yang kita inginkan, arif, bijaksana dan tidak komersil.”

Belum punya rumah

Apa motivasi sang profeser doktor tidak mematok biaya konsultasi, mengingat dari pengakuannya, dia tidak punya rumah sendiri?
Memang ada satu rumah BTN yang dibelinya secara kredit sejak 1981 di kawasan Johor, tapi tidak sempat ia nikmati. “Oh, aku sampai sekarang tak punya rumah, biar kau tahu. Ini rumah mertuaku, yang ada di kampus USU itu kan rumahnya USU. Adapun rumah BTN yang dulu kucicil dari RISPA, tak sempat kunikmati karena disewakan,” ujar Aznan.

Aznan yang tak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Prinsip hidupnya sederhana, “Aku yang penting tak ada utang, itu saja prinsipku.”

Prinsip itu telah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. Hingga dewasa, prinsip itu terus dia pegang menjadi keyakinan. “Allah sudah mengatakan bahwa dia itu Arrahman Arrahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) dan Allah Khairurrazikin (pemberi rezeki yang paling canggih, palking baik, tak ada duaNya). Dari kecil sudah disampaikan dan hingga sekarang masuk di otakku, masuk di keyakinanku, bahwa langkah, rezeki, pertemuan, maut, hanya Allah yang tahu. Aku tak tahu Allah itu telah mempersiapkan berapa banyak rezeki samaku dan seberapa untuk kau. Dan aku tidak akan mati, kau juga tidak akan mati sebelum rezeki yang diberi Allah itu kita habiskan,” kata ayah tiga anak yang makin yakin dengan jalan pelayanan yang dia tempuh sepulang meraih gelar Ph.D. di Australia pada 1987.

Dituding ekstrimis

Sebelum berangkat ke Australia sekitar 1983, Aznan menghadapi tantangan yang cukup besar. Ia dicekal pemerintah, tidak boleh ke luar negeri karena dituding sebagai ekstrimis.

“Dari tahun 1980 sudah ada panggilan agar aku berangkat ke Australia untuk mengambil Ph.D. Tapi ternyata di negeriku yang amat sangat tercinta ini, aku disebut ekstrimis. Aku kena cekal, dikatakan Islam ekstrimis, sama waktu itu dengan orang-orang yang tidak boleh berpergian ke luar negeri,” kisahnya.

Aznan sempat patah arang untuk belajar ke Australia. Namun, setelah ia meminta nasihat kepada ustaz, optimismenya muncul lagi. “kata ustaz, “tak beriman kau Aznan, andaikata rezeki itu memang disiapkan untuk kau ke sana (Australia). Itu artinya kau akan sampai, walaupun kau kesana naik kereta api,” katanya mengenang.

“Berarti, kalau memang ada rezekiku di Australia, artinya aku akan tetap sampai kesana. Kalau ada sepiring nasiku di sana , aku harus sampai kesana untuk menghabiskan sepiring nasi tadi,”: tegasnya.

Hikmah yang dipetik dari pengalaman itu, lanjut Aznan, dalam kehidupan ini manusia tak usah selalu heboh. Sebab pada dasarnya rezeki masing-masing orang sudah ditentukan Yang Maha Esa. “Tak perlu heboh kali, buka praktik di sana-sini. Sudah, kerja ajalah yang baik. Apa kerja kau, wartawan, berprofesilah kau sebagai wartawan. Aku dokter, berprofesilah aku sebagai dokter. Jangan nanti penampilan ustaz, tapi tujuannya ngambil duit, penampilan wartawan tujuannya ngambil duit, penampilan dokter tujuannya ngambil duit, guru ngambil duit, polisi ngambil duit, hakim ngambil duit, pengacara ngambil duit. Itu salah!”

Dokter bagi aznan, adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa pembayaran. Sama halnya seperti dua profesi lainnya, yakni pengacara dan guru. “Yang datang ke pengacara itu kan orang meminta nasihat, datang ke guru karena orang mau belajar, datang ke dokter karena orang mau minta pengobatan. Jangan dibilang, eh sudah kutolong kau, mana duitnya. Itu tidak boleh. Terkecuali karena ilmu kita dia pintar lalu dia kaya, terus dia memberikan sesuatu tidak kita minta, boleh.

Jadi, tiga profesi ini mestinya tak boleh membuat tarif,” katanya.

Aznan mengaku pasti, prinsip dia diragukan orang. Bagaimana ia membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga ketiga anaknya meraih sarjana?

“kan bingung juga kau, kok bisa hidup dokter, punya isteri, anak sarjana semua, dua orang jadi dokter dan satu sarjana hukum. Berdagang rupanya dokter? Kau tanya semua orang aku tak ada berdagang. Aku dosen, makin tak bisa aku minta duit sama muridku. Lalu dari mana? Oh itu semua buah kasih. Bagaimana bentuknya, ya macam-macam, seperti orang mengucapkan terima kasih,” katanya.

Praktik hingga dinihari

Praktik dokter Aznan aelalu dipadati pasien yang jumlahnya mencapai ratusan. Akibatnya ia sering harus membuka praktik hingga dini hari, terkadang sampai pukul 01.30. Tentu sang profesor dibantu beberapa mahasiswanya yang sedang coass (magang dokter).

Setiap pasien yang akan masuk ruang praktik dipanggil oleh coass, terkadang isteri Aznan, Yanti, juga turut memanggil. Di dalam ruang praktik yang leluasa dilihat, rata-rata pasien diperiksa sekitar 5-15 menit. “minimal sehari 30 pasien. Nggak ada saya pun 30 paling sedikit. Kalau saya ke luar kota, bila ada kejadian yang sulit, anak saya yang dokter bisa menghubungi saya. Pasien juga bisa bertanya langsung melalui telepon,” kata Aznan.

Selain datang dari pelbagai daerah, pasien dr. Aznan juga beraneka jenis kelamin, tingkat usia, suku bangsa, dan agama. Bahkan seorang biarawati Belanda pernah menjadi pasiennya. Soal bayarannya, Aznan mengatakan tidak penting. Dia bilang, “Kalau dia mau datang jauh-jauh jumpai aku, berarti kan dia menghormati aku. Bisa rupanya dibayar penghormatan itu?”

Kembali ke soal bayaran seikhlasnya tadi, dengan ekspresi datar Aznan mengatakan, “Ada Rp. 5.000, lima ratus rupiah pun ada, yang kosong juga ada.”

Apakah tidak merasa sakit hati dengan amplop kosong itu? “Sama siapa aku harus sakit hati? Nggak mungkin. Bisa rupanya kutandai amplop ini dari si anu, ini dari si anu dari begitu banyaknya amplop tadi?” ia tersenyum.

Namun Aznan mewanti-wanti tindakannya tidak perlu dicontoh oleh dokter lain. “Kalau aku boleh kasih nasihat sama kawan-kawan dokter, jangan tiru aku. Kalau pun mau kan sudah kujelaskan tadi, bahwa harus yakin dulu dengan ke-Islaman. Bahwa Islam itu rahmatan lil `aalamin

 

 

Read Full Post »

keren

Adalah Ridha Taufiq, filosof Turki, tokoh Komite Persatuan dan Kemajuan, penentang Sulthan Abdul Hamid II. Syair ini, yang mengerikan juga sentimen menurut saya, ditulis sang penyair pasca meninggalnya sang Sulthan. (catat :SETELAH MATINYA). hemmm

Ketika sejarah menorehkan namamu,
Kebenaran itu memng berpihak padamu dan selalu bersamamu wahai penguasa yang agung
Kamilah orang-orang yang melontaran kedustaan tanpa rasa malu
Terhadap seorang politisi terkemuka masa kini

Kami katakan, sesungguhnhya Sang Sulthan berlaku aniaya dan bahwasanya Sang Sulthan gila
Kami katakan, harus ada revolusi terhadap Sang Sulthan
Semua bisikan setan kami percayai
Dan kami pun bangkit bergerak membangkitkan tragedi

Engkau bukanlah orang gila melainkan kami. Kami tidak menyadari
Kami gantungkan kalung pada anyaman yang lemah
Kami tidak sekedar gila, melainkan tidak beretika
Kami telah meludahi, wahai sulthan yang agung
terhadap kiblat nenek moyang kami

***Seorang bandit masuk ke rumahmu, merayu anakmu, dan berkata :”bunuh saja ibumu, sesungguhnya ia sudah tua renta dan menyusahkan”. Lalu anak itu pun membunuhnya

Innalillahi wainna ilaihi rojiun
Itulah yang terjadi pada masa titik akhir Khilafah Islamyah Ottoman
Ia MATI di tangan ANAKnya sendiri
–3 Maret 1924–

Read Full Post »

1970 : LGBT protes ke APA (American Psychiatric Association)

1973 : dibentuk NARTH (the National Association for Research & Therapy of Homosexuality) oleh Kaufman dkk. Jangan sensi dulu, organisasi ini berbasis ilmu pengetahuan dan cenderung sekuler walau tetap mau mengadakan kerjasama dengan lembaga agama. Mengadakan pendampingan bagi SSA yang ingin hetero. Sekaligus menggali penelitian lebih lanjut.

1974 : APA menghapus homoseksual sebagai mental disorders

1978 : berkibarnya the pride flag/ rainbow flag (sampe ada film “the pride” segala)

2001 : Belanda jd negara pertama yg melegalkan pernikahan sesama jenis (menyusul negara lainnya)

 

**Isinya kabar buruk semua ya? Hehehe. Kabar baiknya, kebenaran dan kefitrahan yang tertulis jelas dalam kitab suci tidak bisa di otak atik sampai kiamat. Tolong yang merasa punya ilmu, jangan diplintar plintir ya. Kasihani orang normal dan yang pengen balik normal (ala tradisional) ini

Read Full Post »

Waduuh,, judulnya superior bingiittt! Padahal nggak gitu-gitu amat keless, hehe. Okelah, kita masuk ke inti aja ya. Semoga bermanfaat!

***

islam slEmpat tahunan bergabung dan berdakwah dengan pena bersama majalah DRISE, membuat kami tim redaksi ditakdirkan untuk mensortir tulisan para pembaca. Bentuknya bisa berupa cerpen atau opini lepas kreasi remaja islam. Di bawah alam sadar, jari jemari seolah sudah memiliki selera untuk memilih yang mana sih jenis tulisan yang layak terbit. Kayak muncul intuisi gitu loh. Apalagi jika ada perkara yang “fatal” di naskahnya. Wah, nggak dibaca sampe abis juga udah langsung terelimasi alias nggak layak terbit.

 

Jadi, supaya tulisan kamu nggak ditolak melulu, berikut bocoran hal-hal yang sering bikin naskah ditolak redaksi :

  1. Naskah di copas ke badan email. Huuu,,,, sepele ya?! Iyess,, tapi ini fatal banget. Percaya nggak percaya, fenomena ini terjadi pada 30% pengirim naskah ke majalah kami. So, supaya nggak bikin ilfil redaksi, mohoooon bingit supaya naskah di attach rapi.
  2. Lengkapi subjek email. Sebenarnya tulisan yang tanpa subjek email nggak langsung ditolak sih, tapi biasanya dipending alias ngantri untuk di-follow up. Isi email redaksi macem-macem ya say. Mulai dari naskah cerpen, opini, belum pertanyaan pembaca. Jadi kalau nggak dikasi “pop up” semisal subjek, resikonya bisa dicuekin.
  3. ‘Naskah Basi”. Naskah basi ini maksudnya bisa karena temanya sudah pernah diangkat, sudah tidak update, atau ketahuan copas dari penulis lain. Wah, yang seperti ini biasanya langsung tewas, alias nggak layak terbit. Majalah Drise sendiri tidak membatasi tema. Harapannya supaya para pembaca bereksplorasi dan bebas berkreasi. Tapi bukan berarti tanpa strategi dong. Kenali majalah sasaran, niscaya dia akan mengenalimu.
  4. Gaya bahasa tidak sesuai. Berhubung majalah DRISE sasarannya adalah pembaca remaja, jadi mohon banget sesuaikan dengan selera ‘lidah’. Tim redaksi sendiri rata-rata sudah nggak remaja lagi. Tapi masih getol kok dalam meremajakan tulisannya. Tujuannya cuma satu , yaitu agar konten tersampaikan dengan baik kepada perasaan dan pemikiran pembaca.
  5. Tidak sesuai EYD. Rubrik share your mind (opini) dan monogatari (cerpen) ialah jenis halaman yang mempertahankan originalitas naskah. Jadi tidak akan banyak editan. Sehingga peran penulis/kontributor dalam menuliskan naskah sesuai EYD sangatlah bernilai untuk diloloskan. Kalau kamu emang jenis alayers, plisss disimpen dulu alaynya ya. Kita ikutin ejaan yang disempurnakan, banggalah berbahasa indonesia dengan benar.
  6. Tidak memenuhi standard naskah. Biasanya, tulisannya kepanjangan atau bahkan terlalu mini. Tiap halaman sudah punya estimasi per karakter yang harus dijaga dan dipenuhi. Kalau terlalu sedikit, jadi kurang matching. Kalau kebanyakan, jadi bingung pas lay out, jangan-jangan majalahnya jadi mirip koran nasional. Tulisan kecil-kecil dan mepet-mepet. Kasian yang bacanya, Dear!
  7. Naskah tanpa nama! Whats?? Iyess…. naskah tanpa nama pengirim ini nggak sekali-dua kali. Entah karena gugup atau terlalu semangat, naskah tanpa nama penulisnya terbukti nyata adanya. Sooo… gimana tulisannya mau diloloskan kalau penulisnya ghaib, huuu sereem!

 

 

Jadi kan say, coba diinget-inget, jangan-jangan naskah yang kamu kirim mengandung unsur di atas. Mungkin satu atau dua poin, malah bisa lebih… hehe. Ngga perlu kapok atau minder. Yakin tiap tulisan itu punya jodohnya. Mungkin belum cocok untuk diterbitkan di suatu media, tapi layak di tempat lain. Don’t give up! Maju teruuusss!

 

PhotoGrid_1449129814867(1)

 

Salam

Alga Biru
Redaktur Majalah DRISE
drise-online.com

 

Read Full Post »

TANPA P

Lagi mikir-mikir, beli  buku ini ngga ya?

Berapa kali kita menyisihkan uang dalam sebulan (setahun)? Sebagai gudangnya pengetahuan, buku berbeda perlakuannya di mata anggaran bulanan. Barang-barang semisal baju, sepatu, tas, seandainya salah beli atau kurang pas, enak ‘digelontorkan’ di pasaran dan enak ‘mau diapa-apain’. Buku hanya dibeli bagi yang minat, dibaca kalau memang diinginkan. Itulah kenapa sebabnya, buku dengan ‘harga nyungsep’ belum tentu laris dibanding buku best-seller dengan harga selangit.

 

Maka saran saya, jangan sampe Anda salah beli buku, kalau ngga pengen jadi hiasan lemari doang. Berikut panduannya berdasarkan pengalaman:

  1. Baca Review atau Resensinya : Ini wajib banget, dan representatif. Review buku bisa kita nikmati di media social perbukuan semacam goodreads atau dibagikan cuma-cuma oleh para blogger. Ngga sedikit para blogger yang mendedikasikan lamannya untuk mereview buku yang dia baca secara berkala.
  2. Komentar pembaca : Reviewer atau para penulis resensi itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran komentator. Jadi setelah baca resensinya, jangan lupa lanjut baca komentar pembaca lainya. Jawaban komentator ini biasanya lugas jelas, baik mereka yang menggemari maupun para pembenci. Kita bisa menelusuri jejak buku yang akan kita beli, baik dari sisi kelebihannya  maupun kekurangannya.
  3. Lihat siapa penulisnya : Ini bukan jaminan, tapi terbukti bisa jadi acuan. Kalau sebelumnuya kita sudah pernah membaca tulisan Si A. Artinya kita sudah mulai mengenal gaya, diksi dan rasa yang dibawanya. Kalau ngerasa suka, ngga perlu ribet baca review, mudah-mudahan bukunya tidak mengecewakan.Kan emang sudah suka!
  4. Lihat penerbitnya. Logikanya begini. Kalau penerbit bonafit dan kita tahu peneribit tersebut mementingkan kualitas, maka beragam jenis buku yang dikeluarkan biasanya sudah dengan seleksi ketat dan standard dunia penerbitan. Minimal, kita ngga harus kerut dahi dengan dilema editing teks, yang salah EYD atau kurang spasi. Bisa kriting lah di mata kalau baca buku abal-abal yang ngga di edit penerbitnya!
  5. Testimoner : Di jaman pencitraan gini, ngga lengkap tanpa kehadiran endorser alias testimoni tokoh. Testimoni ini biasanya ada di back cover bukunya, bahkan bisa berlembar-lembar di bagian dalam (buku motivasi  atau pengembangan diri biasanya doyan banget menuh-menuhin endorse, hehe). Walau terlihat bergengsi, saya posisikan tips ini di nomor buntut. Karena buku itu masalah rasa. Seolah ini perkara lidah. Jadi apa yang tokoh itu suka, belum tentu kita doyan. Mengingat kita pun beda gaya dan latar belakang 🙂

 

 

Silakan bagi para readers untuk berbagi tips lainnya. Sebab tulisan ini tegak berdasarkan pengalaman, bukan riset yang mendalam. Pasti nemu celah dan cacatnya. Akhir kata, marilah kita amalkan  “dont judge a book from its cover”. Situ baca cover, atau baca isinya mak?! hehe

 

 

*Sampai ketemu di postingan berikutnya, jangan lupa baca buku

 

Medan, 12 Januari 2016

Alga Biru

 

 

Read Full Post »

Sudah lebih dari setahun, mengelola Rubrik Kabar Dari Luar. Makan asam garam yang namanya penolakan, pendekatan, sampai kejar deadline, walau tarafnya belum se-horor wartawan professional.

 

Rubrik KabarDariLuar, mengangkat profil kisah muslim asal Indonesia yang merantau ke Luar Negeri. Jadi, tautannya ada dua : muslim dan luar negeri, kombinasi berbagai cerita yang bersinergi dengan keberuntungan di dalamnya. Tidak semua orang pernah ke luar negeri kan? Apalagi tinggal disana. Moga-moga rubrik ini nggak komplak, karena ngga mengangkat sisi inferioritas kita dari negera berkembang. Sekedar ingin menambah daftar inspirasi kita, “ini loh perjalanan hidup”. Berikut salah satu kisah yang bagus dari Saudara kita di Berlin.

IMG_0328

Inilah saat dimana, matahari menelikung punggungmu, dimana kau menghadap padanya, seberapa pun panasnya ia. Musim panas benar-benar mengalami puncaknya. Musim panas kali ini, hangat menyengat siap memanggang tubuh ini 19 jam lamanya, barulah perlahan kegelapan malam menyapa.
Dan disanalah aku, sebagai orang Indonesia memilih jalan hidup. Orang yang berasal dari lintas khatulistiwa dengan musim kemarau-penghujan, menjalani momen ini dengan rasa yang tak biasa. Terasa lengkap, karena Ramadhan kali ini bertemu di musim panas yang luar biasa. Ya, bukan cuma suhu tapi juga lamanya waktu siang. Dulu, awal tiba di Jerman(sekitar tahun 2011), aku berpuasa 18 jam (fajar-maghrib) dengan suhu 29°-35°C. Tahun ini (tahun 2012) adalah puncaknya musim panas di jerman. Jadi masyarakat muslim d Jerman harus berpuasa 19 jam. Godaan dan penggugur pahala puasa bukan melihat dan membayangkan makanan, tapi melihat (mau tak mau, pasti kelihatan) cewek-cewek perpakaian minim & tipis dimana-mana. Alasannya, pada suhu diatas 27° orang-orang sini sudah merasa panas dan gerah. Apalagi ketika akhirnya mencapai suhu di atas 30°, kontan setengah tubuh mereka telanjang terpampang, baik laki-laki maupun perempuan. Ya, yang laki-laki juga sama saja, mereka memakai celana pendek dengan T-shirt seadanya bahkan tak jarang membuka dada di jalan-jalan.
Dulu pas liburan summer semester di Studienkolleg tapat di bulan Ramadhan, aku mendapat jatah libur hampir 2 bulan. Akumemanfaatkan momen ini untuk nyambi bekerja dan mengisi selaku operasional (DJ) radio masjid Al-Falah Berlin. Sebagai sebuah masjid, ia telah berdiri sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Tak jadi tempat ritual ibadah semata, bahkan sejak didirikannya, ia merupakan pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah bagi masyarakat muslim Indonesia Berlin dan sekitarnya. Masjid Al Falah sendiri di bawah naungan IWKZ e.V. (Indonesisches Weisheits- & Kulturzentrum artinya pusat pengetahuan dan kebudayaan Indonesia).
Ada kebanggan tersendiri sebab radio Al-Falah kala perdana mengudara di Jerman dan dapat didengar seluruh penjuru dunia termasuk di indonesia. Tugasku selaku DJ yakni memberi prolog sekaligus memandu untuk diteruskan kepada pemateri atau ustadz yang tengah memberi tausiyahnya di mesjid Al-Falah. Setidaknya dalam sehari minimal 2 kali mengudara (sebelum maghrib dan setelah subuh) dengan durasi 2 – 3 jam sekali.
Ya Allah, jika tidak teringat aku hanya hamba sahaya yang harus berjibaku menggapai ridha-Mu dalam rentang waktu, pastilah aku tinggalkan semua ini. Hidup bergulir mengukir kisah, dan kisah Ramadhanku di musim ini tak berhenti sampai disitu. Matahari mulai tegak menantang kehidupan. Aku lanjut bekerja sebagai cleaning room di hotel bintang 4 terhitung jam 7 pagi hingga jam 16.30 petang. Bahkan lebih larut dari itu, sebab dalam bekerja ada sesuatu yang disebut loyalitas yang pantas. Kerja saat puasa apalagi menahan haus dan lapar selama 18 jam itu rasanya ahhh….. lelahnya. Ah Tuhanku, bolehkah aku berkeluh kesah? Sebab diri ini hanya setumpuk raga yang diselami jiwa, yang di dadanya berharap lillah di kala lelah.

 
Selepas pulang kerja, pastinya capek, dan tambah ngos-ngosan karena harus melihat pemandangan summer yang ‘panas’ di segala tempat seperti stasiun kereta, tram, dan halte yang bertaburan aurat. Begitu sampai rumah (kala itu aku numpang di rumah seorang kawan), aku bergegas mandi agar tidak terlambat ke masjid Al Falah. Sekedar informasi, waktu maghrib di Berlin yakni sekitar 21.30 CET (Central Eropa Time) dan isya jam 22.45 CET. Bayangkan, kalau di Indonesia, jam segitu nyaris menuju tengah malam. Shalat tawarih dan tersisa sekitar 2 jam saja untuk istirahat lalu bergegas bangun sahur 03.00 CET. Ruarrrr biasa! Dengan jadwal sepadat ini, kadang kala aku mencuri-curi waktu selepas nge-DJ kajian subuh untuk istiharat ‘tidur ayam’ sekiranya 1 jam saja.
Periode bulan Ramadhan di masjid Al Falah dipenuhi nuansa ibadah. Suasana jauh lebih hidup dari hari biasa. Pengurus masjid Al Falah mengundang ustadz asli Indonesia untuk mengajar dan mengisi kajian Ramadhan. Tokoh yang diundang selalu berbeda setiap tahunnya. Maka diundanglah ustadz Hartanto Saryono pendiri Rumah Tahfidz (rumah tajwid) Indonesia. Disanalah kami diajarkan memperbaiki bacaan yang turun temurun sejak kecil, ternyata masih jauh dari kesempurnaan. Malu rasanya, rupanya bacaanku selama ini banyak yang masih belepotan. Hehe.
Pada hari minggu biasanya ada TPA untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di sekitar Berlin (kisaran umu 5-12 tahun). Tersebab seorang pendidiknya yang harus mudik ke Indonesia, akhirnya tugas mulia itu jatuh ke pundakmu yang sebenarnya belum ada apa-apanya dalam perkara agama. Senang, riang dan bernuansa spirit, itulah yang kentara kurasakan. Memoriku berlabuh, teringat pesan orang tua dan upaya mereka menanamkan perkara kalamullah ini. Teringat pula pesan baginda Rasulullah, yakni “Orang yg paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an & mengajarkannya. Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
Aku merasakan kehangatan ukhwah islamiah di tempat ini, sesuatu yang dulu tak terbayangkan di benakku. Ramadhan yang begitu berkesan dan semoga hanya kebaikanlah yang datang bersamanya. Momen Idul Fitri saatnya aku kembali pulang ke Dessau (Kota kecil yang terkenal dengan arsitek dan Bauhaus yg didirikan oleh Walter Gropius 1925-1926). Di tempat itulah aku melanjutkan misi di Studienkolleg, melanjutkan studi.
Perjalanan ini ialah sekumpulan ikhtiar dari seseorang yang bercita-cita tinggi sampai ke akherat. Berharap lebih dari masa yang sebentar, berlatih mandiri memantaskan diri. Dengan elok berusaha berdiri di atas kaki sendiri, bukan hendak mangangkat tinggi dagu ini. [Seperti yang dikisahkan Muhammad Ikhsan kepada Redaktur/Alga Biru]
*SELESAI*

 

 

Read Full Post »

Older Posts »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même