Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘RESENSI’ Category

 

 

Judul : Titik Nol

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Februari 2013

Jumlah halaman : 552 halaman

 

 

 

titik-nol

Mungkin udah banyak orang yang baca buku ini. Apalagi kalau beli di waktu sekarang-sekarang ini, di cover depan buku sudah terpampang cap medali “best seller”, anggun sekali. Mungkin bagi mereka yang sudah mengikuti jejak si penulis, bahkan sebelum terbitnya, hampir nggak perlu label-label sejenis itu, pasti langsung beli. Berhubung mottonya ‘One book thousand feelings’, jadi yaudah gapapa, saya senang hati resensi buku berikut ini.

Buku karya Agustinus Wibowo berjudul Titik Nol, atau Ground Zero dalam versi terjemahan Bahasa Inggris. Belum lama ini, tampil meramaikan Beijing International Book Fair, yang disambut antusias penulisnya hingga diterbitkan dalam bahasa Vietnam, untuk memperluaskan pembacanya.

 

 

Titik Nol berisikan kisah perjalanan Agustin sejak dirinya berkhidman dalam dunia “perjalanan” dari satu fase ke fase berikutnya. Dari satu titik ke titik berikutnya, rangkaian proses, kejadian, titik henti, titik balik dan akumulasi dari seluruhnya yang menentukan jati diri seorang manusia. Mungkin hal ini bukanlah berita baru mengingat buku perjalanan bukanlah aliran baru. Tentu bukan pula cerita yang benar-benar baru kalau kita sebelumnya sudah membaca karya Agustin lainnya (Selimut Debu dan Garis Batas). Nostalgia Jalur Sutra, Sekat batas Negara Stan, dan konflik intrik menjadi santapan khas dari tema karya Agustin. Namun buku ini mengangkat derajatnya tatkala Agustin mengisahkan penggalan-penggalan cerita lain dari dirinya, dengan sentuhan yang lebih privacy. Terkhusus bagaian kisah dirinya menemani ibunya semasa sakit hingga ajal menjeput. Konflik keluarga, idealisme, isu agama, melebur menjadi satu cerita yang menyisakan misteri di tiap lembarnya.

 

 

Bagaimana seorang sarjana universitas terkemuka memulai hidupnya sebagai traveller? Itu satu misteri. Bagaimana rencana hidupnya semula, reaksi keluarga, lalu memilih menghabiskan umur belasan tahun keliling dunia? Maka itu jadi misteri lainnya. Bukankah Traveller juga manusia yang memiliki ayah-ibu, tetangga, uang tabungan, karir, yang juga harus dipikirkan? Pada akhirnya kita mengerti, semua itu tak semudah kelihatannya.

 

 

Tak kalah menarik yaitu kisah eksklusif Agustin menemani ibunya selama proses penyembuhan-lalu sakit-dan sakit terus. Berkesinambungan, antara kisah perjalanan Agustin mengitari Asia Tengah, dengan penggalan cerita dari ranjang pesakitan.  Kontras, antara Ibu yang tidak kemana-mana, dengan Agustin yang sudah kemana saja. Namun setiap manusia memang punya kisah perjalanannya sendiri. Dimana Agustin menuliskan : Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu. Setiap orang memiliki kisah perjananan sendiri, tapi hakikat perjalanan itu adalah sama. Banyak sisi tempat kita memandang, bisa beda rasa yang kita petik. Semoga pembaca bisa mengambil nilai positif dari kisah perjalanan yang satu ini. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Iklan

Read Full Post »

612201601329

Penampakan Cover 1001 dan 1002, yang kali ini dibahas, yang 1002 ya 🙂

 

Judul Buku : Kedai 1002 Mimpi

Penulis : Valiant Budi (@vabyo)

Penerbit : Gagas Media

Jumlah Halaman :  iv + 384 Halaman

Tahun Terbit :  2014

Peresensi : Alga Biru

 

Buku ini sekuel dari buku berjudul Kedai 1001 Mimpi yang berisikan pengalaman penulis selama menjadi TKI di Arab Saudi. Buku sebelumnya yang konon mendapat sambutan beragam dan kontroversial menjadi “bahan baku” utama dari sekuelnya kali ini. Jika buku 1001 tersebut membahas apa yang Vabyo hadapi selama di Arab Saudi, maka di 1002 ini bermuatan efek dari cerita akhir versi Arab Saudi.

 

Buat yang udah baca buku pertamanya, tentu udah tahu sama tahu kisah terakhirnya ketika Vabyo menuju gerbang kebebasan, Bahrain. Berbagai tekanan dan pengalaman ‘tak terlupakan’ selama menjadi TKI membuat Vabyo mengambil keputusan ‘kabur terselubung’ dari Arab, yang tentu pula pemutusan kontrak kerja di Sky Rabbit, berkedok mudik kangen ke Indonesia. (Jadi hati-hati aja kalau ada karyawan ngakunya mudik, jangan-jangan nggak balik lagi, hehe).  Minggat!

 

Berbagai kenangan pahit selama menjadi TKI selalu menghantui walau sudah berhasil selamat pulang ke Indonesia. Disamping rasa trauma, ada juga ‘masalah tambahan’ yang diungkap di buku ini akibat terbitnya buku Kedai 1001 Mimpi. Bisa dibilang, buku itu Arab Undercover, yang mengungkap fakta gelap dari pengalaman penulisnya selama jadi TKI di Arab Saudi. Mulai dari perilaku karyawan kafe yang tidak sesuai prosedur (mendaur susu basi, “mencampur sesuatu” ke kopi+makanan customer yang cerewet, sampai perbuatan tidak senonoh di ruang family section ala Café Arab, dimana ruang café dipisahkan antara ruang khusus cowo dengan ruang keluarga).

 

Konten di buku 1001 yang dinilai sensitif tersebut menuai kecaman bagi sebagian orang (Memang, sepintas sulit memisahkan Islam dengan Arab, Sistem Islam atau Budaya). Alhasil, tudingan “kafir”, sesat, antek, mengganggu kehidupan Vabyo tak hanya dunia maya tapi juga secara nyata, dengan berbagai teror. Salah satu misteri di buku ini ialah, siapa sih penyerang dan peneror Vabyo sebenarnya? Nah! ( Di bagian ini, agak kecewa juga. Hemm, mungkin melindungi privacy kasus kali ya).

Selain kisah lanjutan dari efek buku 1001, konten lainnya yang memenuhi buku ‘curhat’ tebal buku ini ialah pengalaman Vabyo buka warung bersama Kakaknya Vanvan. Jadi, dari sisi judul, cukup pas kalau dinamai Kedai 1002 Mimpi. Selain sekuel Arab undercover, juga berisi dunia kedai ala penulis. Bagaimana mengubah musibah menjadi berkah, cacian menjadi aset, dan zero to hero, setidaknya bagi diri sendiri.

 

Buku kali ini nggak terlalu banyak misteri dan ‘hal-hal baru’. Apalagi jika ada yang ngarep nemu Vabyo TKI jilid 2, hentikan berekspektasi. Selain kasian, ya memang setiap manusia punya mimpi-mimpi baru untuk diraih. Bahasa Vabyo tetap unik konyol, masih khas. Buat yang pengen gaya ngocol dalam tulisannya, mungkin bisa sedikit belajar pake diksi-diksi dia disini. Selamat baca!

 

 

Note:

Saya sendiri bukan follower Vabyo di dumay. Kalaupun follow, baru belakangan ini aja. Abis baca bukunya yang pertama, baru tahu kalau bukunya termasuk kategori kontroversial. Memang, beberapa kisahnya, seolah sentimen Arab begitu kentara. Kebayangnya, mungkin dia sendiri kaget “kok Arab bisa begini”. Kalau tahu gitu, ngapain ninggalin pekerjaan dan karir di Indonesia, demi “sesuatu yang ternyata jauh panggang dari api”. Saya sendiri nggak mau menilai personal. Kalau tulisan seseorang kita rasa ‘bercitra negatif”, lebih baik acuhkan saja. Ngapain ngasi dia panggung. (Sorry, jika tulisan ini malah kayak kontraproduktif, ups).

Karya dilawan dengan karya. Jika ingin kebenaran bersuara lebih nyaring, kita perlu memperkencang suara, bukan membungkam lawan bicara. Tentu tidak seru, jika bersuara sendiri dalam sunyi. (Eh, analoginya aneh ya, hehe).  Jadilah pejuang yang tidak egois! Jadilah penulis yang realistis.

Read Full Post »

JUDUL : Esio Trot (Aruk-aruk)

PENULIS : Roald Dahl

PENERBIT :  Gramedia Pustaka Utama

JUMLAH HALAMAN : 63 Halaman

TAHUN TERBIT: April 2006 (cetakan pertama)

PERESENSI : Alga Biru

 

 

Mr Hoppy tinggal di sebuah apartemen seorang diri dan selalu kesepian, terutama sejak pensiun dari pekerjaannya. Ia menyenangi merawat bunga yang ditanam di balkonnya. Ada yang di pot, tong kayu, dan keranjang. Ia senang melihat pemandangan ke arah luar dari balkon tersebut. Dimana salah satu kegemaran sekaligus rahasianya ialah ia tertarik pada seseorang yang tinggal tepat di bawah apartemen tersebut.

 

Tetangga beda lantai itu ialah seorang wanita paruh baya yang cantik, baik hati, dan lembut, berama Mrs Silver. Lain Mr Hoppy, lain pula Mrs Silver. Ia memiliki hewan peliharaan seekor kura-kura kecil bernama Alfie. Memasuki musim semi, sang kura-kura yang berhibernasi itu merayap menuju balkon merasakan hangatnya cuaca. Dari balkon itu pula Mr Hoppy kerap mendengar celoteh riang Mrs Silver merawat sang kura-kura kecil yang beruntung. “Selamat datang sayangku! Oh betapa aku merindukanmu”.

“Anda saja aku jadi si kura-kura kecil itu, aku rela melakukan apa saja”

Mr Hoppy dan Mrs Silver saling menyapa, balkon ke balkon menikmati kegemaran masing-masing. Suatu kali Mrs Silver tampak mengeluhkan Alfie yang mungil. “Setiap musim semi aku selalu menimbang Alfie, dan oh… kenapa seekor kura-kura itu lambat sekali besarnya. Padahal aku ingin sekali ia cepat besar. Andai aku bisa, aku akan melakukan apa pun”.

Tiba-tiba Mr Hoppy terpikir ide yang brilian. “Hei, sewaktu aku bekerja di Afrika Utara, seorang pria suku pedalaman memberitahuku sebuah mantera supaya kura-kura mereka cepat besar”, katanya sekita. Oya benarkah?

Mr Hoppy buru-buru menuliskan ‘mantra” tersebut, dan berpesan agar secara rutin dibacakan tiga kali sehari (pagi, siang dan malam). Tak lupa, Mr Hoppy menyuruh Mrs Silver melafalkannya. Mantra itu berbunyi :

 

ARUK-ARUK, ARUK-ARUK, RASEBMEM, HALRASEBMEM!

HALOYA, ARUK-ARUK!

HUBMUT, GNABMEK RAKEM!

RASEB, KAKGNEB, GNUBMEG!

NALET! KAGGNET! HAYNUK! KUGET!

TAREBMEM ARUK-ARUK, TAREBMEM!

OYA, OYA! NALET NANAKAM!

 

Mrs Silver terheran-heran dengan mantra itu. Apa ini? Bahasa yang aneh! Lalu Mrs Hoppy membongkar salah satu rahasianya. Tatkala tiap kata mantera itu dibaca dari belakang (dari kanan ke kiri) maka seketika ia menjelma menjadi bahasa manusia! Ya, coba saja!

Benar, namun hanya itukah rahasia Mr Hoppy? Itu belumlah seberapa dibandingkan kenyataan sebenarnya. Benarkah itu mantera magic seperti yang diungkapkannya pada Mrs Silver? Dan tahukah kamu bahwa setelah 7 hari mantera itu dilafalkan, Alfie bertambah bertambah 2 ons, begitu seterusnya. Bagaimana semua itu dapat terjadi? Ah, kekuatan cinta saja yang mampu menjawabnya. Silakan simak sendiri kelanjutan kisahnya ya.

Roald Dahl merupakan penulis cerita anak yang menjadi rujukan bagi sekolah di Inggris. Tema karyanya seputar hikmah dan kritik terhadap budaya dan sosial dalam pendidikan anak-anak di negara Eropa. Adapun ketika tulisan ini dibuat, kura-kura masih dijual secara bebas dan belum ada pelarangan Undang-Undang satwa yang dikeluarkan pemerintah. Setting dan kultur cerita tentu saja mengikuti dimana penulis hidup dan menjalani keseharian. Roald Dahl tutup usia pada umur ke-74  pada tahun 1990.[]

IMG20160605174121.jpg

Read Full Post »

 

Haruki Murakami, “Ketika Berlari dan Menulis Menjadi Energi Kehidupan”

Judul : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Jumlah halaman : 197 halaman
ISBN : 978-602-291-086-2
Peresensi : Alga Biru

What I Talk About When I Talk About Running menjadi karya Haruki Murakami yang menyuguhkan nilai filosofis sebagai pelari dan penulis profesional sekaligus. Penulis novel Norwegian Wood ini memilih berbagi kisah selama berlari dan menulis yang kerap didokumentasikannya di jurnal harian. Ya, siapa sangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.
“Otot sulit terbentuk dan mudah hilang. Lemak mudah terbentuk dan sulit hilang”. Semboyan itu terpampang lantang di pusat kebugaran di Tokyo (Halaman 59). Sebagai seorang pelari jarak jauh, yang konsisten berlari setiap hari, Murakami tahu betul makna kalimat tersebut. Itu merupakan kenyataan yang menyakitkan namun tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Kenyataan itu pula yang membimbing Murakami untuk memilih yang terbaik bagi diri dan tubuhnya. Penderitaan adalah sebuah pilihan, tulis Murakami dalam prakata buku ini, dimana berlari dan menulis dilakoninya secara sungguh-sungguh di usia 33 tahun.
“Aku aku mulai berlari pada 1982 sehingga kalau dihitung sudah hampir 23 tahun lebih menjalani olahraga ini.” (Halaman 11). Murakami memilih olaharaga lari jarak jauh dengan mengenal sifat-sifat pada dirinya. Pada dasarnya, ia menyadari egonya yang lebih suka kesendirian, tak selalu nyaman dengan kompetisi, dan selalu tidak cocok dengan olahraga berkelompok. “Tentu saja aku punya sifat tidak mau kalah. Namun, entah kenapa sejak dulu aku tidak terlalu memusingkan ketika mengalami kekalahan ataupun kemenangan dari orang lain. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak.” (Halaman 12).
Berlari terutama untuk jarak tempuh setidaknya 10 kilometer membuatmu mampu berkontemplasi dengan diri sendiri. Membantu mengosongkan pikiran, tentu saja tidak dalam artian kosong sama sekali, namun lebih kepada mengingat hal-hal sederhana yang menyenangkan. Melatih fokus dan konsentrasi, konsistensi dengan target yang ingin dicapai. Hal ini, dalam pengalaman Murakami sendiri, tak ubahnya seperti perjalanannya sebagai seorang penulis profesional. Ia menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di pagi hari untuk berkonsentrasi dengan ide yang akan dituangkannya dalam tulisan. Novel berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song) memulai debutnya selaku penulis pemula. Sebelum terjun secara profesional dengan semata-mata menulis sebagai profesinya, Murakami dibantu oleh istri memiliki usaha Klub Jazz di dekat Stasiun Setagaya. Pola pikir Murakami yang tidak muluk-muluk namun maksimal untuk apa yang ditekuni, membuatnya mengambil keputusan penting, yaitu menutup usaha Klub tersebut guna berkonsentrasi sebagai penulis. Tentu ini ditentang juga dipandang miring oleh segelintir orang.

 

HARUKIM
Ketahanan, kekuatan, dan kesabaran yang dirasakan Murakami dalam berlari, mirip dengan apa yang seharusnya ia pertahankan selama menulis. Seorang penulis fiksi —atau yang setidaknya berharap bisa menulis sebuah novel—membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengahs tahun, satu tahun atau dua tahun. (Halaman 88). Kenyataan tidak semudah kelihatanya. Orang lain, terutama yang bukan berprofesi sebagai penulis, sering menyangka menulis itu pekerjaan gampang. “Orang-orang itu mengira jika kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu kamu coba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” ( Halaman 90).

 
Buku ini mewakili bukan saja apa yang dirasakan oleh para pelari, ia juga menyuarakan suara hati para penulis yang bertebaran di muka bumi. Kita tidak menemukan tips berlari atau sejenisnya, sebab buku ini tidak diperuntukan untuk itu. Tidak pula proses kreatif sebagis penulis legendaris, namun sebuah langkah sederhana yang nyata menuju ke arah sana. Di dalamnya pula ada serangkaian misteri yang ingin dibagikan Murakami kepada pembaca. Akankah ia mulus berlari di ajang maraton Boston juga kesempatan lainnya? Seperti apa rintangan dan latihan yang ia lakukan? Apa kaitan dirinya sebagai pelari yang juga penulis? Sebab sangat sedikit penulis yang juga menekuni olahraga lari jarak jauh dengan konsistensi puluhan tahun.

 
Kelemahan dari buku ini terletak pada alurnya yang cenderung melompat-lompat, dari satu adegan kepada adegan berikutnya. Semacam lompatan ingatan, yang bersikeras menyatukan cetusan hari ini dengan peristiwa kemarin dalam satu kesatuan rangkaian cerita. Tentu tidak mudah menyatukan dunia lari dan dunia menulis di satu titik, dimana kedua hal tersebut tampak perbedaannya. Hal ini makin menguatkan Murakami sebagai salah satu seorang yang tidak main-main menggeluti bidangnya. Karya yang membuat penggemarnya naksir, dan siapa pun merasa penasaran. []

what_i_talk_about_when_i_talk_about_running_1-large

Read Full Post »

“The Geography of Bliss, PENCARI BAHAGIA KELILING DUNIA”

Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 569 halaman
ISBN : 978-602-1637-95-1
Peresensi : Alga Biru*

“Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan”, begitu kira-kira buku ini diperkenalkan kepada calon pembacanya. Kita tentu tergelitik, bagaimana bisa seorang penggerutu yang mungkin tukang mengeluhkan banyak hal menemukan sesuatu yang dikejar umat manusia yaitu kebahagiaan?
Kisah perjalanan dengan berbagai formatnya, belakangan ini cukup diminati dan memiliki penggemar sendiri. Sudah beratus bahkan ribuan buku yang ditulis guna menampilkan tempat menarik yang pantas untuk dikunjungi ketika cuti tahunan atau mereka yang senang jalan-jalan. Namun buku ini menambah pesonanya sendiri, bahwa ia lebih dari sekedar jalan-jalan. Lebih dalam lagi, ini sebuah perjalanan yang amat terencana guna mencari tempat paling membahagiakan. Maka pertanyaannya, dimana tempat macam semacam itu? Bagaimana bisa ia membahagiakan orang yang berangkat kesana? Kenapa ia terpilih? Lalu sebelum pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan, kita tentu satu frekuensi terlebih dulu tentang apa yang disebut dengan “kebahagiaan”.

 
“La chasse au bonheur, perburuan kebahagiaan, begitu orang Prancis menyebutnya. Perburuan langka inilah yang dilakoni oleh Eric Weiner untuk kemudian buku ini terlahir dengan titel ‘the Geography of Bliss’. Tentu tidak mudah, mengingat begitu banyak titik atau tempat di muka bumi ini yang memiliki kemungkinan ‘sesuatu yang membahagiakan’ atau ‘membuat orang bahagia’.

 

IMG-20160417-WA0002
Weiner kemudian mengerucutkan kemungkinan tersebut menjadi sepuluh nominasi negara yang menjawab kegelisahannya, dengan berbagai kriteria dan pendalaman. Kesepuluh tersebut dibahas satu persatu di sepuluh bab buku isi buku. Kesepuluh negara itu yakni Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Maldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika.

 
Sebagai orang Indonesia, kita tentu bertanya “Hei, kemana Indonesia? Bukankah Indonesia punya Bali, Raja Ampat, atau pesona vulkanis Bromo, yang sepertinya cocok dijuluki surga pencuci mata guna mengundang aura kebahagiaan. Ada apa dengan Belanda? Sehingga dijadikan sebagai negara kandidat pertama dalam perburuan kebahagiaan di buku ini. Belanda menjadi nominasi paling masuk akal untuk menjawab apa sebenarnya yang membuat orang Bahagia disebabkan negara ini memiliki WDH (World Database of Happiness). Institusi WDH ini semacam gudang dan pusat penelitian paling bertanggung jawab guna menjawab apa dan bagaimana mekanisme kebahagiaan berjalan di muka bumi. Weiner segera meluncur sekaligus melancong tentunya, ke sasarannya yang pertama.

 
“Kebahagiaan adalah angka”, begitu bunyi perjalanan Weiner ke Belanda. Ini pasti mengundang tanya, kenapa begitu ya? Nah. Bagaimana dengan definisi ala Swiss, “bahagia adalah kebosanan”, sedangkan untuk Thailand, “kebahagiaan adalah tidak berpikir”. Bagaimana pula dengan definisi jenaka ala Qatar, “kebahagiaan adalah menang Lotre”.

 
“Observasi yang berwarna-warni. Wawasan mendalam yang diselipi anekdot”, begitu testimoni The Economist untuk buku ini. Kenyataannya buku ini memiliki kemampuan humor disana-sini. Yang tetap terasa walau kita membaca sebuah literasi terjemahan. Tentu saja, definisi apik kebahagiaan, terlebih lagi “tempat yang membahagiakan” masih menjadi misteri dan terlalu sederhana untuk dipancing keluar dalam jurnal ekspedisi sekalipun. Setidaknya melalui buku ini kita belajar untuk memilah nilai kebajikan, hal-hal yang sepantasnya dikejar, dan menyibak nilai kebahagiaan itu sendiri. Selamat membaca!

Read Full Post »

851422043_25989

Judul Buku: Pohon Semesta
Penulis: Abay Abu Hamzah
Penerbit: Anomali
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: 288 hlm

Dari mana wangi ini berasal? Sebuah judul prolog yang mengawali halaman buku setelah kata pengantar. Buku dg judul Pohon Semesta ini termasuk salah satu buku yang bisa digunakan bagi para pengemban dakwah untuk memperluas tsaqofahnya. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sgt renyah shg mudah dicerna khususnya bagi pemula. Buku yang ditulis oleh kang Abay ini memiliki 6 bab, dimana Bab tersebut terdiri dari Bab Bunga, Akar, Batang, Dahan, Daun, dan Buah. Dalam setiap Babnya ulasan yang ditulis berbeda-beda namun tetap menyambung dg bab-bab berikutnya. Pada bab bunga mengulas tentang keagungan dan kemuliaan islam, dimana saking mulia dan agungnya islam ini, wanginya tercium hingga keseluruh antero bumi. Pada bab kedua (Akar) mengulas tentang akar islam, keimanan kepada Allah dan Rasulnya. Bab selanjutnya bab Dahan, dalam bab ini diulas singkat ttg betapa nikmatnya ilmu dan betapa asyiknya beramal shalih. Selanjutnya, bab daun penulis mulai mengulas ttg menebarkan cahaya islam yg gemilang, dan bersegera menjadikan islam sebgai rahmat bagi seluruh alam. Setelah penulis mengulas ttg cahaya islam yg begitu gemilang, penulis melanjutkan dg ulasan untuk meneguhkan hati dalam perjuangan menegakkan islam ini dalam bab Batang. Dan yang terakhir bab Buah, dalam bab ini dijelaskan bahwa pasti akan datang suatu masa hasil dari suatu perjuangan dalam menegakkan islam ini, dan hasil dari perjuangan itu adalah dirasakanny rahmat ketika islam benar** tegak dg sempurna (Hasil ketika dunia), dan  hasil yg didapat diakhirat adlah surga.
Menurut saya, buku ini sgt cocok untuk direcommended bagi pengemban dakwah sebgai tambahn tsaqofah mereka dalam berinteraksi, dan ulasan** yang dibahas pun sgt ringan dan mudah dicerna.

Sekian dan terimakasih.😊
Resensi oleh : Khotimah Ayu Maduratna

Read Full Post »

851418863_20305

Judul buku: Selimut Debu
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: gramedia
Jumlah halaman: 461 halaman
Terbit tahun: 2010

Afghanistan dari dekat, bacalah buku ini. Siap-siap menahan napas dan terpesona pada saat yg sama. Agustinus membawa kita menyusuri jengkal demi jengkal jalanan Afghanistan yang berdebu. Sebagai traveller yg sepanjang waktunya dihabiskan di jalanan baik dg berjalan kaki atau naik mobil kuno yang sering mogok, debu bukan hanya selimut tapi juga makanan dan napas bagi penulis.

Dibuka dg keprihatinan agustinus akan patung Buddha terbesar di dunia yg dihancurkan Taliban saat berkuasa di desa bernama Bamiyan, ironi mulai ditampilkan. Penduduk desa yg ramah dibenturkan dg Taliban yg garang. Suasana alam yg indah menghijau dibenturkan dg fakta banyaknya ranjau.

Afghanistan adalah satu dari sedikit negara yg selalu ingin membuat agustinus kembali. Ketika penulis keturunan tionghoa yg selalu dianggap bagian dari warga Afghanistan ini (Afghanistan memiliki suku berpenampilan fisik sipit dan pesek, kalau tak salah bernama tajik) mengeskplor sisi keramahan penduduk negeri ini dg segala daya tariknya, saya malah membayangkan sisi yg sama sekali tidak dieskpos penulis. Sisi yang membuat saya penasaran sejak SMA ketika jihad Afghanistan digemakan. Sisi yg mampu membuat negara adidaya bernama uni Soviet harus bubar. Apalagi ketika agustinus berkisah ttg pelecehan seksual yg dialaminya, saya seolah melihat wajah lain dari Afghanistan yang sama.

Buku ini bukan buku yg bisa dibaca cepat. Setiap halaman menyajikan kenikmatan pengalaman yang dibawa agustinus ke dalam diri pembaca. Tak heran bila salah satu motto dia adalah perjalananku adalah perjalananmu tapi perjalananku bukanlah perjalananmu.

Bersiap-siaplah mendapat pengalaman baru yang membuat terhenyak, merenung, iba dan bangga menjadi satu adonan. Itu semua rasa yang ada untuk negeri bernama Afghanistan. Selepas menuntaskannya, sangat pantas bila agustinus menjadikan Afghanistan adalah negeri yang membuat dia selalu ingin kembali. Dan saya sebagai salah satu pembaca buku ini, merasakan getar rindu itu meski tak beresonansi yg sama dg penulis yg awalnya saya kira muslim ini, negeri para mujahidin yg kemudian hari digerogoti oleh para tikus oportunis negeri.

Wallahu alam.
Resensi oleh : Ria Fariana

Read Full Post »

Older Posts »

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même