Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2010

SALAM SATU JARI

Tidak dipungkiri memang, bahwa banyak juga anak-anak punk yang kemudian mengganti ideologinya dengan pemikiran-pemikiran Islam. Saya juga tidak tahu apa penyebabnya. Apakah kebanyakan anak-anak punk memang kaum yang selalu mencari kebenaran? Saya rasa demikian. Sebab, setelah lama berkutat di dalam scene punk, saya tahu bahwa komunitas punk adalah komunitas yang luar biasa. Tongkrongan mereka sering dipenuhi dengan diskusi-diskusi segar menyangkut segala macam persoalan. Bukan hanya itu, mereka juga selalu berusaha untuk mengimplementasikan hasil diskusinya tersebut untuk menjadi aksi langsung, sehingga obrolan mereka tidak hanya sebatas talk only seperti yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang gemar obral janji tapi jarang sekali terbukti. Meskipun ada juga sebagian anak-anak punk yang hanya lebih mementingkan fashion dan malas untuk membaca, tapi di sini saya tidak ingin membahas yang itu. Begitulah. Menurut saya, fenomena tentang banyaknya anak punk yang kemudian berpindah haluan ke Islam, saya tidaklah terkejut.

Itu sebabnya, Wake Up! edisi kedua ini mengambil tema Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out!. Sebenarnya sih edisi kali ini Wake Up! tidak hanya ingin membahas tentang punk yang “hijrah” ke Islam saja, tapi lebih kepada makna “kembali ke Islam”. Semoga saja dengan begini seseorang yang ingin memawancarai saya itu bisa mendapatkan jawaban.

Tulisan di atas sengaja Alga copas dari jurnal elektronik resminya salah seorang kawan yang sudah insyaf. Beliau kerap dipanggil Cirex alias Tukang Tidur.  Si Tukang Tidur ini bukan cuma tidur doang, tapi sudah ngerangkep jadi editornya sebuah Zine bernama “Wake Up!” yang aromanya ngajak orang yang udah insyaf supaya makin insyaf.

Memang, pada akhirnya…. Iman ngga sebatas cas-cis-cus, ingin pula diwujudkan dalam aksi termasuk mengganti symbol-simbol berhala yang dulu digemari kepada mainstrim baru dengan aqidah sebagai landasannya. “SALAM SATU JARI” adalah salah satu bentuk kreasi teman-teman punk yang udah insyaf. Udah jadi rahasia umum kalo salam metal tiga jari sebenarnya adalah lambang sakral untuk kaum pagan, kaum satanic (itu loh… pagan yang lambangnya kambing berhala). Weits,… siapa sangka, dari sekedar lambang ternyata terpengaruh dengan hadlarah musyrik, perilaku syirik alamat neraka cuy! Syerem! Salam metal kepala kerbau juga identik dengan hegemoni Zionis dan segala perilaku jahil turunannya. (Sex bebas, alcoholic, hedonistik, dll). Maka, teman-teman punk yang udah tobat ngga mau nrimo lagi lambang-lambang gituan. “La ilahaillallah, Muhammad rasululullah”, itulah sekarang jalan hidup! Ngga pake kompromi. Ahad ! Cukup Allah saja sebagai illah/rabb/tuhan!

“SATU!”

“AHAD!”

“ALLAH”

“TIADA ILLAH SELAIN ALLAH”

Jadi deh salam satu jari sebagai salam yang definisinya bahwa segala puja-puji, sanjungan, penghambaan, pemberian cukuplah diperuntukkan untuk Allah SWT saja. Ya ALLAH, istiqomahkan kami di jalan-Mu yang lurus. Jalan yang Engkau Ridhoi. Aamiin. ALLAHU AKBAR!

Oleh: Alga

Iklan

Read Full Post »


Bagaimana nasib seorang anak yatim? Kasihan, anak itu tak berayah. Jika ia diganggu orang, tak punya daya mampunya membela diri. Karena siapalah yang dianggarkan dadanya. Jika ia seorang gadis, tak kuasa ibu jika saja tak ditemani oleh seorang wali. Jika ada yang lancang mengolok-oloknya, niscaya akan dikatakan padanya ‘hai kau anak yatim, panggil ayahmu dari alam baka’.

Bagaimana nasib seorang anak piatu? Malang engkau, Nak. Boleh jadi tak terurus, harta benda dan raga diurus sendiri. Dunia ini jadi lebih sentimentil dari kelopak mata seorang piatu. Jika dilihat seorang ibu menggendong, ia rindu digendong. Jika seorang ibu mengandung, menangis hati membayangkan ibunya dulu bersakit-sakitan. Jikalau ia beruntung, ia akan mendapatkan ibu tiri yang baik hati. Dan jika aib dikandung  badannya, ibu tiri jahat menorah-noreh sakit hatinya yang sudah susah payah bangun tersebut.

Bagaimana pula jika ia tak berayah, tak jua beribu alias yatim piatu? Jika ia seorang bocah yang berjalan-jalan, oleng ke kiri maka jatuh ia ke kiri. Oleng ke kanan, jatuhlah ia ke kanan. Sebab tak ada ibu bapak yang memegangi jemari, tak ada yang mengawal kemana ia pergi. Tak ada yang bertanya jika ia terlambat pulang. Sungguh ia sebatang kara, hanya sanak saudara dan tuhan saja yang ia punya. Tak ada yang membela selain kehormatannya sendiri.

Sudah sama-sama kita lihat betapa kasihan si anak yatim, anak piatu terlebih lagi anak yatim piatu. Maka siapakah ia si anak yatim piatu itu sebenarnya? Pada hari ini, kita lihat urusan agama tak ubahnya seorang anak yatim piatu. Tak ada yang mengurusnya, tiada yang peduli selain hanya segelintir orang saja.

Jika dikabarkan pada seorang manusia tentang urusan niaga, lekas-lekas ia berangkat. Tidak peduli hujan, hilang rasa malas, sedikit rasa jengah. Jika dikabarkan pada seorang lelaki tentang kemolekan wanita, maka sirna kantuknya, bangkit gairah, berbunga-bunga hatinya. Sebab begitu indah dalam bayangannya urusan tersebut. Jika dinampakkan bagi wanita tentang harta dan perhiasan, seolah penuh perut dan seolah melebar lubang tindik telinga. Karena wanita gemar emas dan berlian, sebab suka sekali wanita itu dibanjiri hias-hiasan. Seolah tak cukup puji-pujian langit bahwa manusia itu setinggi-tinggi mahluk yang mulia. Maka bagaimanakah si polan ketika urusan agama datang? Tiba-tiba sakit giginya kambuh, tiba-tiba sangat sibuk, mengantuk, gatal bokongnya berlama-lama dalam majelis, dan entah kenapa tiap detik adalah kesempitan.

Hai marilah kita berangkat berdakwah?”, salah seorang mengajak. Lalu si polan berkata, “nanti saja, aku masih muda. Belum kulihat isi dunia”. Ditanyakan lagi pada wanita, “Hai Muslimah, suami macam apa yang akan kau pilih dalam perjuanganmu?”. Ia berkata “Aku akan belabuh pada seorang yang baik hatinya, tutur kata mengasyikkan dan ia memiliki agama”. Namun datang seorang kaya yang tanpa agama dan akhlak, ahhhh si muslimah itu mendadak amnesia. Ia lupa, bahwa hanya seorang yang sholeh, yang sanggup membahagiakan sampai akhirat. Sedangkan yang kaya, yang gagah yang tak menjanjikan agama, sejatinya hanya icip-icip saja.

Kita pikir-pikirlah, apakah kita si polan dan muslimah itu ? Begitulah nasib urusan agama. Jika pun ada yang mengurus agama yang mulia ini, kadang kala ia jatuh di tangan yang jahil. Agama ibarat anak yatim dikawal oleh ibu tiri yang bengis. Agama jadi ajang pilah-pilih kemauan. Jika cocok dirasai hati, urusan agama itu diambil. Jika tak cocok dengan kepentingan, ia pun dibuang. Setidaknya dikantongi saja agama itu, yang jika kapan-kapan diperlukan, boleh ia digadai. Jika sholat mampu mengantarkan pada kesehatan, orang senang sholat banyak-banyak. Jika rajam dinilai susah dan banyak rintangan, disimpan rapat-rapat ayat Allah itu. Disunat disana, disembelih disini. Ihh… merana nian duhai kau, si anak yatim.

Wahai kau anak piatu, begitulah agama ini. Iya senasib dengan anak piatu. Tak miliki bunda selepas di kandungan. Siapakah manusia yang membela al-quran yang dicela? Siapakah pemimpin kaum muslimin yang melepaskan fitnah terhadap aktivis dakwah? Siapakah yang mengembalikan tanah al-Quds? Adakah yang menyahut ketika kaum kafir berkata:”wahai salahuddin, bangunlah kau dari kuburmu!”. Tatkala perang salib baru kembali ditabuhkan. Tak ada yang membela agama, tak sanggup, tak berdaya, dicela, dihina, dipencarkan, disantap nikmat seumpama daging di hadapan anjing-anjing lapar. Tahukah kau seperti apa anak piatu itu? Jika dibuka padanya album kenangan, maka ia berkata “aduh… aku tak mengingat bunda, karena sejak kecil ia telah tiada”.Begitulah pelindung agama kita hari ini. Jika diucapkan pada kita tentang bunda kaum muslimin Khilafah Islamyah, maka mengerutlah dahi, aneh dirasai telinga, sukar diendus pula. Jika dibacakan dalil-dalil, kita sudah BEBAL ! Telinga kita gatal ! tidak suka ia diucapkan. Mengapa? Karena ia disangka musuh yang mengganyang modernitas. Karena sudah biasa bagi kita hidup yang  binal, tak usah kembali ke jaman onta (dengan penuh kebodohan, mulut kita berkata-kata tanpa rasa malu). Cih!

Anak yatim, anak piatu….. anak yatim piatu. Dihardik! Saudaraku, suci tetaplah suci. Noda tetap menjadi noda. Jika saja kita tahu bahwa mengurus agama ini adalah perkara suci, sesuci nilai hidup dan mati, saya yakin kita rindu untuk menjadi salah satu pengasuhnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad:7)

Biarlah meski hanya jadi pembokat mengurusi urusan yang kecil-kecil, jika kita pikir kita belum mampu memanggul masalah besar. Mengapa kita enggan untuk turun tangan mengurusi agama? Takut miskin? Takut goyangnya jabatan? Berat meninggalkan istri, khawatir prestasi menurun, tidak siap menahan getir dalam dakwah? Banyak orang miskin, tapi tidak juga menjalankan agama. Seperti banyak pula orang yang lupa daratan akibat diguyur harta. Lantas mengapa tidak jua berdakwah? Banyak pejabat yang tidak tenteram hidupnya. Istri cantik tapi hanya suka pada harta saja, buat apa? Apakah istri, bos kita ,prestasi, rekan kerja atau harta mampu untuk memberikan syafaat di yaumil akhir? Percuma. Loyalitas kita pada agama yang memberatkan timbangan amal kelak di akhirat. Kesempitan hidup bagi  yang jauh dari agama. Celaka hidup orang yang menghardik agama Allah ini. Demi Allah, ia akan celaka!

Anak yatim..

Anak piatu…

Anak yatim piatu, …

Cepatlah engkau besar! Songsonglah congkaknya dunia, perjuangan kami di nadimu!

Oleh: Alga Biru

-Medan, 18 September 2010-

Read Full Post »

Ya Allah.. yang maha pengasih, maha penyayang.

segalanya sudah Engkau cukupkan atas kami. nafas yang berhembus, kulit yang menutup seluruh tubuh, dan rongga-rongga yang Engkau susun dengan kreasi-Mu.

kami titipkan azzam kami pada-Mu, engkau tambahkan nikmat-Mu pada kami. Engkau luruskan yang bengkok, Engkau ampuni yang tersalah, Engkau ganjar pula dengan balasan yang berkali lipat.

Engkau lindungi aku disaat tak ada lagi tempat berlindung, Engkau jaga aku dengan tangan-Mu sendiri. Engkau tambah nikmat… Engkau tambah nikmat… Engkau tambah nikmat….

subhanallah,… Luar Biasa! Allahu Akbar! ~

“maka nikmat Tuhan Yang manakah yang engkau dustakan?”

>>2 Syawal 1431 H <<<

-Alga Biru

Read Full Post »

#memaafkan

Kelegaan dari kesanggupan kita memaafkan sungguh luar biasa. Saya merasakannya sendiri. Sikap  yang masih belum ridho memaafkan,ngga menghasilkan apa pun buat diri kita selain bikin hati kita gersang dan miskin. Tidak ridho untuk memaafkan, termasuk juga tidak legowo menghaturkan permintaan maaf, ibarat racun bagi tubuh kita. Ya, racun! Yang namanya racun, bikin tubuh yang sehat jadi sakit dan tubuh yang sakit jadi lebih sakit lagi. (hiii… syerem kan). Buat apa racun itu dipelihara ?! berdamailah dengan diri sendiri, disitulah salah satu kebahagiaan itu. Menitipkan seluruh rasa pada Dzat yang membuat rasa. Memohon kelapangan pada Dzat yang menggenggam keluasan alam semesta. Insyaallah kekesalan kita tentang sesuatu yang meresahkan hati, ikhlaskan ia seperti apa adanya. Apa yang terjadi pada diri kita toh akibat ulah tangan kita sendiri. Introspeksi, insyaallah akan mendatangkan kebaikan. Kebanyakan dari manusia menganiaya dirinya sendiri, lalu ia mendatangkan azab atas ulahnya  selama di dunia. Berita ini banyak banget tertuang di dalam kalam tuhan, Al-Qur’an yang agung.

Ngomong-ngomong soal menganiaya diri sendiri, saya jadi keinget ama salah seorang hamba Allah, Karlina namanya. Ia sudah tak ada lagi bersama-sama kita di alam ini. Setahun lalu, ia menghembuskan nafas dari kejahatan tangannya sendiri. Maksudnya? Ya… bunuh diri gitu deh. Karlina merupakan korban penghianatan. Karl punya seseorang yang amat berharga dalam hidupnya. Tak lain dan tak bukan yakni tunangannya sendiri. Tunangannya ganteng, lumayan berduit, pekerjaan mapan, ya kerenlah. Berpisah kota, cinta pun pudar. Sebenarnya bukan masalah jarak sih, tapi barangsiapa yang ingkar dari janjinya maka bencana yang akan menimpa. Yahh… Kebanyakan dari laki-laki tidak mensyukuri perempuannya. Dan kebanyakan dari perempuan tidak mensyukuri laki-lakinya. Darrr! Pecahlah hati. Gersanglah jiwa. Hati perempuan itu ibarat gelas kaca, kalau sudah jatuh ia ke lantai, tak dapat ia disusun menjadi gelas lagi. Dengan kemarahan yang membabi buta, kecewa Karlina pada lelakinya. Dengan dendam yang tidak terbalas, maka dilampiaskannya pada diri sendiri. Dalam linangan air mata, setengah botol racun serangga ditegakkan kala itu. (gilee… setengah botol, cuy!) Kondisi tubuh Karl memprihatinkan, nyawanya tak tertolong lagi. Saya inget banget. Waktu itu tengah malam, sy menghadap tubuhnya yang sudah tak bernyawa lagi. Salah satu kisah hidup yang tidak mudah saya lupakan. Semua berawal dari dendam dan kecewa pada keadaan. Tak sudi menerima, tak sudi  memaafkan. Coba aja Karlina masih hidup, saya perkenalkan pada Karlina bahwa lelaki di dunia ini ngga cuma satu!! Kita bisa cariiiiiii lelaki yang ‘lebih’ dari apa pun itu (cieee….). Bukankah Allah sendiri yang menyuruh kita untuk memilih ? Dan Allah juga yang janji bahwa kita akan bertemu dengan pasangan yang setali agama atas pilihan kita itu. Siapa yang ingkar, maka ia yang akan menanggung akibat kejahatannya. Kalau orang lain yang ingkar, tak usah kita repot-repot untuk sewot. Orang macam begitu tak layak dipertahankan. Angkat kaki segera, dunia ini begitu luasnya. Doakan, moga atas segalanya Allah memaafkan pula dosa-dosa kita. Seperti kita memaafkan diri sendiri dan orang lain. So… maafkanlah.

Oya… yang namanya minta maaf, itu perlu redaksional loh. Karena kita ini manusia, terbatas dan tak mampu membaca hati manusia. Jangan Cuma bilang, “maafin gw ya”. Trus ditanya maafnya buat apa, malah ogah bilang, diikuti dengan senewen. Terkesan minta maafnya ngga tulus. Ini nih saya contohin salah satu minta maaf yang jujur, tidak seronok dan lurus ^_^

Jessica : “Pop, maafin gw ya. Sebenarnya gw yang ngumpetin sebelah sepatu lo. Gw juga yang sering neror lo pake SMS. Oya Pop… sebenarnya gw selingkuhan pertama pacar lo. Kalo yang lain-lain, itu Cuma selingan aja. Maafin gw ya. Pliss”

Poppy: (manyun dikit) “yaudah Jess, semua udah berlalu. Insyaallah gw maafin. Untung aja gw ngga lanjut ama doi. Kebuka deh, kalo doi emang ngga setia. Oya soal sepatu, balikin ke gw dong. Ngapain juga lo punya sepatu Cuma sebelah doang”

Jessica:”iya Pop, tar sepatu lo bakal gw balikin. Hemm gw udah putus kok ama mantan lo. Ternyata doi ngebosenin, hehe”

Gleg~

Nahhh.. kalo modelnya kaya di atas, kan jelas ya. Gimana perbaikan ke depannya, dan dengan hati yang lapang juga, hari baru segera dimulai.  Dengan kejernihan kita berpikir, kedalaman hati kita, maka jadilah kita orang yang menang itu. Mudah-mudahan kita tidak tergolong orang-orang yang keras hatinya. Perangai kita kepada manusia menunjukkan perangai kita kepada Allah. Kelembutan kita pada manusia pertanda lembut kita pada Allah. Bagaimana mungkin ada orang yang lembut pada manusia jika ia tidak lembut kepada tuhannya. Banyak orang yang seolah lembut hati, tapi keras kepala dalam menerima kebenaran. Maka sesungguhnya orang ini adalah orang yang keras terhadap rahmad tuhan. Boleh jadi kekhusukan sholatnya hanya khusu ‘yang seolah-olah’. Keterjagaannya dalam tilawah adalah terjaga ‘yang seakan-akan’, Ibadahnya tidak tulus. Akibatnya hati gampang putus asa, diam-diam pesimis, suka memvonis. “Kuman di ujung lautan tampak, sementara gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Naudzubillah… semoga kita tidak termasuk yang demikian.

So, bentar lagi kita bakal menyambut datangnya hari kemenangan. Orang yang menang di bulan syawal bukanlah orang yang bajunya baru atau sepatunya baru, tapi orang yang keimanan dan hatinya baru.

Mohon Maaf Lahir dan Batin~

Oleh : Alga Biru

28 Ramadhan 1431 H

Footnote: kebahagiaan itu, Allah sendiri yang menanam dan mencabutnya. Subhanallah.. walhamdulillah…. Bahagia terus setiap hari.

Read Full Post »

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même