Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2010

… k r i t i k ^_^


”Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761]

Read Full Post »

Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah, yang orangtuanya dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada usia ini, Bar `ah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan
gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.

Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya … . hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.

Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan
tidak menemukan ibunya di sampingnya … dan inilah ucapan ibu bara’ah kepadanya “Bar`ah aku akan pergi ke surga di depan Anda, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak… “

Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan ,
Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.

Suatu hari fihak rumah sakit memberitahu ayah bar’ah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telfon, sehingga ayah bar’ah menjemput Bar `ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil … sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.

Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu…tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu…!

Tragedi Bar `ah belum selesai sampai di sini… berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya , dan oleh orangtua teman-teman sekolah bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.

Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar `ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan , dan setelah beberapa kali tes di dapati bar’ah juga mengidap kanker … tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker….inilah perkataan bar’ah kala itu: “Alhamdu lillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua saya.”

Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!…..Subhanallah

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurus nya … ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.

Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz – The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran … dan ini adalah suara yang indah yang di lantunkan oleh bar’ah …

Mereka menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia pergi ke Coma(nama kota) dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed …

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya … tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak … dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan

Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.

Read Full Post »

Sebuah prolog

Mari masuk ke dapur pencerdasan

Cerdas ini akan tersaji di dapur uji kita hari ini

Bahan telah kita siapkan

Dan adonan yang segera dilumatkan

Maka jadilah, cerdas itu lezat

Cerdas milik semua….

Cerdas…. Kita tak pernah tahu, kondektur bus yang kerap kali kita cela bisa jadi jago penalaran matematika. Tak pernah sedikit pun terbenak, di balik anomali penderita autis ternyata menyimpan daya seni tiada banding. Siapa yang menyangka, dari papan kelontong Pak Ucup, ialah sang pemilik jiwa  pemimpin sekelas jenderal. Mereka semua merupakan cuplikan cerdas yang tersembunyi. Cerdas pun mengintip, seumpama tikus-tikus di dalam got.

*******

Salah satu mitos pendidikan terkenal adalah bahwa kita mengetahui apa itu kecerdasan, bagaimana meningkatkannya, bagaimana menilainya dengan tepat. Ada sekumpulan mitos lain yang mengikuti pendapat ini. Misalnya, adalah mitos bahwa IQ yang lebih tinggi selalu setara dengan keberhasilan yang lebih besar dalam kehidupan. Ingatlah bahwa Theodore Kacynzski (Si Unabomber) adalah seorang yang sangat cerdas dan lulusan Harvard. Adalah mitos bahwa siswa-siswa yang nilainya tinggi akan melakukan lebih banyak hal untuk negara atau planet ini. Adalah mitos bahwa sekolah-sekolah menggunakan data IQ dengan bijaksana saat mereka mendapatkannya. Adalah mitos bahwa kita dapat secara kolektif mendifinisikan dan mengukur IQ dalam cara-cara yang paling disetujui. Dan akhirnya, adalah mitos besar bahwa kecerdasan adalah “sesuatu”, sesuatu yang dimiliki atau dibawa saat melakukan perjalanan. Sesuatu ini, secara aktual, sangat tergantung pada situasi-situasi.

Kondisi-kondisi semisal kebudayaan, bahasa dan situasi-situasi latar belakang, semuanya bisa membuat setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan mekanisme seperti ini, seseorang berdiri sebagai sosok yang unik, dengan tonjolan kelebihannya di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Bagaimana kecerdasan seorang ’monster’ saham Bursa Efek bila dia berada di hutan lindung Papua ? Tebak sendiri berapa lama dia survive berada disana. Lantas berapa lamakah suku pedalaman Maluku mampu bertahan di ’hutan gersang’ ibu kota Jakarta ? Beberapa hal yang kita sebut dengan kecerdasan tampaknya sangat berbudaya dan tergantung konteks. Sehingga siapa pun yang kelewat banyak titel pada hari ini (kecuali titel almarhum di depannya), tampaknya harus merenovasi persepsi kecerdasan yang sebenarnya.

Ada satu fenomena menarik yang terjadi pada tahun 1980-an, yang dilakoni oleh sekelompok psikolog Amerika. Mereka mengamati pemuda Brasil yang tidak memiliki pendidikan sekolah formal sedang melakukan perhitungan matematika cepat sebagai bagian dari transaksi-transaksi bisnis selaku pedagang kaki lima. Para pebisnis ini dilakukan ujicoba. Para peneliti mengamati manakah ketelitian yang lebih akurat, antara pedagang kaki lima yang melakukan perhitungan dalam transaksi sehari-hari ataukah di laboratorium. Dan hasilnya mencengangkan! Ketelitian para pedagang kaki lima tersebut berkurang separuhnya ketika ujicoba ketelitian menghitung di laboratorium. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan-keterampilan di muka bumi ini sangat tergantung konteks, bukan karena kurangnya kapasitas kognitif umum.

Fenomone para blogger di ranah dunia maya juga layak kita teropong. Bahwa aplikasi cerdas dan kecerdasan pun tergantung konteks dimana manusia melakukan dan mengasahnya. Sehingga cerdas bukanlah sekotak kado yang simsalabim masuk ke batok kepala kita. Keberadaannya merupakan serangkaian proses, dibentuk, sangat tergantung konteks, bisa bertambah bahkan bisa berkurang, sejauh mana kita melatihnya dan menjadikannya dalam situasi-situasi kehidupan. Seperti perkataan Eric Jensen dalam bukunya Memperkaya Otak, bahwa cerdas adalah ‘menjadi’ dan bukan ‘sesuatu’.

‘Adonan Kecerdasan’

Kita sudah puas dengan berbagai mitos seputar kecerdasan. Anggapan kecerdasan yang terpatok pada nilai-nilai di sekolah semata. Maka pemandangan yang lumrah jika banyak siswa SMU seperti kesurupan ketika tidak lulus Ujian Nasional. Karena cerdas dinilai dari kelulusan. Betapa kasihan.

Sebagian lagi percaya bahwa kecerdasan adalah bagaimana kita dalam hidup. Ada yang terpaku pada hasil tes IQ. Ada pula yang mengatakan bahwa kecerdasan adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, atau nilai yang diperoleh dari banyak cara untuk hadir dalam kehidupan. Maka Psikolog kognitif, Howard Gardner sang pentolan Harvard melihat kecerdasan sebagai kemampuan  untuk mengemas berbagai keterampilan dalam berbagai cara.

‘Mengemas’, kita garis bawahi pernyataan Gardner di atas dimana cerdas ditampilkan sebagai kemampuan untuk mengemas keterampilan. Institusi yang kita percayai untuk melatih kemampuan mengemas itu adalah sekolah dan universitas. Anak-anak diantar dengan rapi ke bangku sekolah untuk masuk ke dalam program dan kurikulum yang tersedia. Disuapi, dijejali dan dicetak. Mereka ibarat adonan kecerdasan dalam menu kebutuhan intelektual. Bagi siswa yang mungkin tidak serasi dengan program agar siap-siap saja mendapat ’cap’ sebagai siswa yang lamban dan menyusahkan. Disinilah kita selayaknya merenungi institusi bernama sekolah. Akankah institusi yang kita percaya dapat membantu ’mengemas’ keterampilan justru menjadikan generasi ini sebagai ’adonan’ yang gagal.

Adakalanya program-progam sekolah dan universitas justru menyunat potensi peserta didik. Bukannya membantu mengembangkan, yang ada malah menyurutkan kecerdasan yang belum tergali sempurna. Kita bisa saksikan bagaimana sekolah-sekolah memberikan porsi lebih kepada pengetahuan sains ketimbang pelajaran agama. Atau mempersembahan prestise lebih kepada penyandang juara olimpiade ketimbang siswa yang berinovasi di atas kanvas, atau sebaliknya. Lagi-lagi dikotomisasi.

Di kehidupan umum, kita lihat  bagaimana sistem masyarakat sungguh tidak adil. Sudah kita singgung sebelumnya, cerdas itu tergantung konteks. Amat menyakitkan bagi mereka yang tidak berkesempatan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi harus menuai badai cela dan cibiran dalam komunitas. Mereka yang cerdas namun tidak berkesempatan, seolah terlunta-lunta dalam kejamnya dunia. Hanya orang-orang  berjiwa besar yang mampu menunjukkan kepada dunia bahwa mereka (yakni calon mahasiswa yang kurang beruntung itu) hanya tertipu oleh nasib, bukan kecerdasan. Mereka mampu membuktikan, meraka juga layak mendapat pencerdasan sebagaimana anak-anak ITB dicerdaskan. Mereka juga akan merasakan indahnya cerdas meski tidak mencicipi ilmu pengetahuan sebagaimana mahasiswa Universitas Sumatera Utara mencicipinya. Walau pada akhirnya, kehidupan adalah universitas terbuka yang bersifat abadi. Yang membantu mereka mengemas, menjadi adonan yang lezat, walau tanpa titel dan prestise. Mereka memang bukan mahasiswa, mereka tidak mendapat gelar sarjana, tetapi yang penting mereka menjadi manusia berguna.

Maka dari mereka yang berjiwa besar itu, yang bersemayam di universitas kehidupan, mereka eksis dalam kekinian. Seperti Obin, penjual kain batik yang mendunia, padahal cuma lulusan sekolah dasar. Masih dari universitas kehidupan, kita bisa saksikan orang yang sempat termarginalkan karena tidak sarjana justru membangun institusi pendidikan yang menelurkan para sarjana tiap tahunnya. Dunia berkebalikan, inilah adonan kecerdasan yang sesungguhnya. Dimana cerdas memang tergantung konteks, dan cerdas itu milik semua.

Cerdas yang Lezat, Cerdas ala Pendidikan Islam

Sudah terlalu lama, Islam yang notabene way of life tergusur dari kancah kehidupan. Telah amat usang, islam terkunci di surau dan beranda mesjid semata. Sudah saatnya islam yang merupakan mu’alajah musykilah (pemecah problematika) karena predikatnya sebagai ideologi, mengambil peran di abad ini.

Jauh sebelum para pakar mendefinisikan cerdas dan ramuannya, islam sudah mengambil tempat untuk memajukan peradaban dengan cemerlang. Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sama sekali tidak dikenal dalam islam. Memang, tampaknya dunia Barat berhasil membutakan mata sebagian dari kita, sehingga tak terbenak bahwa kata-kata semisal alcohol, cipher, sugar, algebra, alchemy, atlas, coffe, cotton bukan berasal dari antah-berantah melainkan dari istilah bahasa Arab yang dekat pada kejayaan islam.

Ada kaitan, antara keinginan untuk menjadi cerdas dengan orientasi kecerdasan itu sendiri. Yang pada akhirnya, strategi mencerdaskan anak manusia ala islam berbeda dengan alam barat kapitalistik. Dalam idelogi sekular-kapitalis, cerdas diorientasikan pada upaya meraih materi dan aktualisasi, menjadikan orang-orang yang hidup di dalamnya haus kesuksesan duniawi, minim maknawi akhirat. Bahkan untuk bangsa ’terjajah’ seperti Indonesia, tetasan universitasnya sudah di-setting sedemikian rupa untuk menjadi angkatan kerja. Eko Prasetyo dalam bukunya ’Orang Miskin Dilarang Sekolah’ sempat menyindir sistem pendidikan kita yang sepertinya hendak menelurkan para kuli di negeri sendiri. Miris memang, itulah kenyataan.

Dalam bingkai islam, yang bernaung dalam sistem kekhilafahan islam, manusia di dorong untuk menjadi manusia yang berbobot. Bahwa materi dan uang bukanlah segalanya. Manusia mencari uang untuk hidup dan bukan hidup untuk mencari uang. Maka wajar, dengan mindset seperti ini, islam menjadikan tujuan pendidikan yakni pembentukan kepribadian dan penguasaan tsaqafah ilmu terapan secara bersandingan. Di bidang matematika kita mengenal Al-Khuwarizmi, sang penulis buku ’al-Jabr wa al-Muqabalah’ yang sangat berjasa dalam operasi aljabar. Secara bersamaan juga menguasai fikih islam. Di bidang Fisika dan kedokteran, ada Ibnu Sina yang memiliki sejumlah khazanah ilmu seputar kuman dan infeksi. Masih dalam bidang ilmu yang serupa, dunia islam mencetak Khalaf ibn abbas al-Zahrawi yang menulis sebuah ensiklopedi ilmu kedokteran yang berjudul ’al-Tasrif’, yang berisi metode-metode cara membuat obat-obatan dengan cara sublimasi dan destilasi juga ilmu bedah.

Inilah kecerdasan itu. Sehingga orang-orang yang dicetak oleh peradaban islam adalah individu yang siap dengan segala medan tanpa harus ’keberatan’ titel. Karena memang tidak harus jadi sarjana, tapi semua harus menjadi manusia yang berguna. Sebab cerdas bukanlah milik institusi tapi cerdas milik semua. Sungguh cerdas itu tergantung konteks, dan islam menjadikan umatnya dekat dengan realitas. Islam menyiapkan kita menjadi cerdas yang sejati. Seumpama adonan kue yang lezat, yang legit di mulut dan bermanfaat.

(Dian F Hasibuan/ rahim­_imajinasi@yahoo.com)

*)Untuk Siti Zainab, 6 tahun, belum bersekolah

Read Full Post »

^_^

BEBAS

LEPAS

Tumbuh bersama jiwa-jiwa pemberani, yang sudah melewati halang-rintang

CUKUP ALLAH BAGIKU, BAGI KITA

…Bahagia…

*Senyum*

Read Full Post »

‘Bukan sembarang air yang menetes’
(Dalam format ’Side B’)

“No pain no gain!”
Benar juga kata-kata ini. Kita takkan mendapatkan apa pun jika kita tak rela bersakit-sakit dahulu. Jauh sebelum orang-orang barat melansirnya dengan gaya nge-pop, Indonesia sudah mengejewantahkannya dalam gaya-gaya syair dan pantun. Berakit-rakitlah engkau ke hulu, baru berenang ke tepian. Maknanya sama, tidak ada situasi kemudahan yang datangnya seperti simsalabim dan instan. Maka siapkan jiwa dan raga untuk bersakit-sakit lebih dulu untuk datangnya nikmat kemudian. Jauh sebelum syair Indonesia menuliskannya di lembar-lembar indah kesusastraan, al-Qur’an datang dengan rahmad dan peringatan kepada umat manusia. Jalan kepayahan, adalah jalan penuh peluh dimana air muka dan keringat akan dilahap angin dan membasahi kerah bajumu. Jalan kepayahan ditempuh orang-orang berani, optimis, yakin. Betapa daun telinga mereka yang ikut dijatuhi keringat itu mendengar. dimana Allah azza wajalla berfirman:
”sesungguhnya di dalam kesulitan itu terdapat kemudahan”

Ini kabar gembira! Pergilah kicauan-kicauan ketakutan..
Enyahlah bisikan-bisikan kepengecutan.
Saya ucapkan selamat untuk engkau yang bisa bercerita tentang keringat yang menetes di petang ini. Yakni seruan-seruan kicau burung yang engkau jawab dengan kaki yang melangkah. Itu tidak mudah, bukan? Jauh lebih payah jika dibandingkan menarik selimut di waktu subuh. Karena tidur di waktu subuh itu enak hanya sangat melenakan. Rasul bilang, orang yang tidur di subuh hari dan membiarkan malam-malamnya bahkan datangnya pagi pergi bersama tidurnya, ibarat dirinya dikencingi mahluk yang dicipta dari api. Hiii… ngeri, uweks1!

Sekali lagi saya angkat topi, untuk engkau yang di akhir tidurnya mendongeng tentang kisah-kisah revolusi. Bahwa revolusi memang tidak gratis. Makan siang saja tidak gratis, lalu bagaimanakah pula revolusi yang tidak sering-sering itu datang begitu saja tanpa tetesan perjuangan. Belum ada ceritanya, para pegiat revolusi adalah para pemalas. Bahkan meski hanya lelucon, belum pernah sampai ke telinga kita tentang pelaksana agenda perubahan yang hatinya kecut. Tidak pula dicukupkan tentang adu keberanian. Melawan bukan dengan kemarahan, namun racikan kesabaran, kemaafan, dan cinta. Karena revolusi dan segala jenis resolusi perubahan, tidak cukup modal semangat. Banyak yang bersemangat, banyak yang berkeringat namun tidak mendapatkan apa pun selain apessss! Asem!

Hanya keringat yang ditunggangi dengan eksis dan strategis yang jadi juaranya. Allah menolong orang-orang yang menolong-Nya. Allah ada, eksis di tengah orang-orang yang mengatur nafasnya dengan nafas-Nya, menjalankan syariah-Nya dengan sepenuh teguh. Tidak sia-sia meski seujung kuku, yakni pengorbanan di jalan-Nya. Yakini !! Inilah janji hamba yang yakin pada Janji-Nya yang takkan pernah ada dusta. Ketika janji sudah terukir, disanalah bintang-bintang akan tersipu. Karena bintang-bintang tahu, doa orang yang yakin tlah temani pijarnya.

Teteskanlah air keringat itu, keringat perjuangan itu.
Jangan remehkan, sebab itu bukan sembarang air yang menetes.
Kelak air itu akan membelamu, membawamu ke Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Oleh: Alga Biru

Read Full Post »

“Revolusi Dari Rumah Kami”

setelah Menggenggam Bara Islam
dan Melawan Dengan Cinta
saatnya
REVOLUSI DARI RUMAH KAMI
-karena pernikahan adalah perlawanan-

“Seperti aku, tentu kau juga sudah jengah membincang pernikahan dalam suasana merah jambu.
Mari bersamaku,
membincangnya dengan warna merah menyala.
Ya, pernikahan adalah tungku yang memanaskan hawa perjuangan.
Hingga kelak, kita akan berkata dengan bangga:
Rabbi, Revolusi ini berawal dari rumah kami!

***

Buku ini bertutur tentang 3 fungsi utama rumah seorang pejuang Islam: penawar lelah, tempat berbenah, dan penebar dakwah.
Sebab itu, buku RDRK ini dibagi menjadi tiga pintu:

Prolog: meluruskan persepsi-persepsi berbahaya seputar dakwah dan nikah

PINTU PERTAMA: RUMAH, PENAWAR LELAH

Di jalan dakwah, ada bahaya yang mengintip, ada ancaman yang tiba-tiba menyergap. Ada musuh yang menampakkan diri, ada pula kawan yang menelikung dengan pedang Hindi. Adakalanya jiwa terasa lelah, raga terasa penat. Rehatlah sejenak. Rebahkanlah kepala sesaat. Berbaringlah, pejamkan mata untuk merenungi kelemahan diri, meyakini kemahabesaran ilahi.

Saat jiwa lelah, beruntunglah mereka yang telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Beruntunglah mereka yang masih memiliki harapan untuk tersenyum selepas jihad yang melelahkan, sebab di rumah ada bidadari yang menanti dengan senyuman.

Di pintu pertama ini, kita akan membincang penawar lelah itu.

PINTU KEDUA: RUMAH, TEMPAT BERBENAH

Keluarga Nabi saw adalah kisah nyata yang demikian agung. Tidak sedikitpun celah untuk mencela. Tidak semilipun lubang untuk menggali kekurangannya. Rumah Nabi adalah rumah yang memancarkan cahaya ilahi. Dari rumah Nabi saw, Islam menyebar dengan cepat. Berawal dari delapan orang pertama yang memeluk Islam, kemudian 40 orang, dan seterusnya.

Pancaran cahaya ilahi menerangi seluruh Makkah, hingga tidak ada sebuah rumahpun di Makkah, kecuali ada Islam disebut. Pancaran cahaya itu semakin sempurna setelah hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Dari sana Islam menyebar secepat api membakar rumput kering. Islam memenangkan pertempuran demi pertempuran, penaklukan demi penaklukan. Dengan cepat, wilayah Islam meluas hingga memayungi dua pertiga belahan bumi.

Rumah Nabi memang memancarkan cahaya ilahi. Namun janganlah kau lupa, sebelum cahaya itu memancar menerangi semesta, terlebih dahulu ia memijar di dalam rumah Nabi.

Di pintu kedua ini, kita akan berbincang tentang pijar itu. tentang meningkatkan kualitas diri bersama suami atau isteri. Juga tentang mereda badai yang siap menerpa bahtera kita. Juga tentang menyiapkan anak-anak kita, menjadi pejuang-pejuang berikutnya.

PINTU KETIGA: RUMAH, PENEBAR DAKWAH

Semestinyalah, jika Islam telah menancap di dada, maka tidak ada lagi yang memenuhi isi kepala selain tertegaknya kemuliaan Islam, dan itu menghajatkan dakwah.
Sehingga, setiap kesempatan, setiap tempat, setiap waktu, seorang Muslim sejati akan mengoptimalkan dakwahnya.
Termasuk di rumah kita. Ada tamu yang siap kita bakar semangatnya. Ada tetangga yang siap kita bangkitkan pemikirannya. Ada masjid yang siap kita makmurkan, untuk kemudian mencerahkan setiap jamaahnya.
Di pintu ketiga ini, itulah yang akan kita bagi bersama.

Epilog: Rabbi, revolusi ini berawal dari rumah kami!

***

Identitas Buku
Judul : Revolusi Dari Rumah Kami
–karena pernikahan adalah perlawanan-
Penulis : Abay
Penerbit : Za’faran (Grup Anomali) Yogyakarta
Dimensi : 12 cm x 17 cm, 216 halaman
Harga : Rp. 35.000
Terbit : 16 Mei 2010

PROMO KHUSUS 555:
Untuk 555 pemesan pertama, dapatkan bonus buku saku Perkembangan Kemampuan Dakwahku. Buku saku yang akan mengontrol sejauh mana perkembangan kemampuan melakukan kontak dakwah produktif dan kemampuan menjadi pembicara, trainer, penceramah, dll.

Terbatas! Hanya sampai tanggal 13 Mei 2010. Kumpulkan pesanan dari teman, sahabat, suami, isteri, adik, kakak. Karena untuk pemesanan kolektif akan mendapatkan diskon khusus.
Pesan 10 exp diskon 10%
Pesan 20 exp diskon 20%
Pesan 30 exp diskon 30%
Pesan 40 exp diskon 40%
Pesan 50 exp diskon 50%

Pemesanan
Hubungi Nur (0813 4884 5152)

Read Full Post »

Huff… Wanita*

Jika dikatakan cantik dikira menggoda,
jika dibilang jelek di sangka menghina..
Bila dibilang lemah dia protes,
bila dibilang perkasa dia nangis .

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak
(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut
(sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya ,
tapi kenapa ya ….. lebih bangga jadi wanita karir,
padahal ibunya adalah ibu rumah tangga

Bila kesalahannya diingatkankan,
mukanya merah..
bila di ajari mukanya merah,
bila di sanjung mukanya merah
jika marah mukanya merah,kok sama
semua ? bingung !!

Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam;
ditanya tidak atau ya, jawabnya diam;
ditanya ya atau ya, jawabnya :diam,
ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam,
ketika didiamkan malah marah
(repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah,
dibilang berisik ngambek,
dibilang banyak mulut tersinggung,

tapi kalau dibilang S u p e l
wadow seneng banget…padahal sama saja maksudnya.

Dibilang gemuk engga senang
padahal maksud kita sehat gitu lho

dibilang kurus malah senang

padahal maksud kita “kenapa elho jadi begini !!!”

Itulah WANITA makin kita bingung makin senang DIA !

Read Full Post »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même