Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘suara lain’ Category

CIPTAKANLAH KEBAHAGIAAN

Bangun, berjalan, meraba, merambat, naik, turun…. dan semua gerak manusia adalah demi sesuatu yang  tidak merahasia. Bahagia….. Kebahagiaan ialah cita-cita tertinggi manusia. Tidak ada yang melebihi hal itu. Sesuatu yang tidak mengantarkan padanya, niscaya tertolak. Menurut Daniel Gilbert, Professor bidang Psikologi dari Harvard University dan pengarang buku “Stumbling on Happiness”, ada dua jenis kebahagiaan yaitu: kebahagiaan alami dan kebahagiaan sintesis.

Kebahagiaan alami didapat secara spontan. Begitu thobi’i. Seperti “Eureka” Archimedes, yang otomatis dirasakan ketika mendapatkan apa yang diinginkan. Misal: seorang karyawan mendapatkan bonus berlipat di akhir bulan. Wah, siapa tidak senang. Contoh lain, siswa di sekolah mendapatkan nilai terbaik, yang bukan saja terbaik namun menjadi prestasi yang diberi sanjung puji. Sesuai namanya, bahagia yang alami bukan?

Masih berpijak pada pendapat Daniel Gilbert, kebahagiaan jenis kedua adalah kebahagiaan sintesis. Beliau mendefinisikan hal ini yaitu kebahagiaan yang didapat disebabkan seorang manusia memilih sendiri apa yang ia pikirkan agar merasakan rasa senang, yang berujung pada kebahagiaan itu sendiri. Berbeda dengan jenis sebelumnya, bahagia yang satu ini seolah-olah ‘kebahagiaan yang diundang’. Bahagia bukan lagi menjadi sesuatu yang datang, melainkan digiring, diminta dan dipancing kedatangannya. Sehingga, dengan cara ini, bahagia bisa dirasakan siapa saja dan dimana saja. Termasuk orang-orang yang secara kasat mata kurang bernasib baik. Ayo lihat contoh di lapangan. Bayangkan Anda sekarang terjebak macet. Deskripsikan dalam kepala Anda, mikrolet yang menyalib Anda secara tidak senonoh. Belum lagi ditambah asap kotor dari sepeda motor usang di samping mobil Anda. Sudah berjam-jam Anda terjebak macet, kekasih Anda sudah pasti ngomel-ngomel di ujung sana. Oh, betapa sesak rasanya dunia.

Dengan kebahagiaan sintesis, Anda mampu merubah paradigma. Bling! Anda menjadi begitu menikmati kemacetan. Caranya bervariasi. Anda bisa berpikir, “Nah ini kesempatan untuk menelpon kawan lama dan twitteran.”, Bahkan mungkin Anda terpikir untuk membeli jagung bakar yang sudah lama tidak Anda nikmati di hari biasa. Ya, hari ini luar biasa!! Anda mengundang persepsi-persepsi yang membuat apapun lebih indah dan bijaksana.

Kebahagiaan mana yang bertahan lama, apakah kebahagian yang alami atau sintesis? Ternyata, kebahagiaan sintetis bertahan lebih lama. Sedangkan kebahagian alami akan segera hilang seiring dengan berjalannya waktu. Contohnya, ketika mendapat kenaikan gaji Anda merasa senang dan bahagia, namun seiring berjalannya waktu kenaikan gaji itu akhirnya menjadi biasa..

Lalu bagaimana menyeret kebahagiaa yang permanen ini dalam dinamika pekerjaan? Tentu Anda tidak ingin bekerja seumur hidup dengan perasaan tertekan atau hambar. Banyak jalan menuju Roma, maka banyak cara untuk menciptakan kebahagiaan sintesis. Pertama, bekerjalah sesuai passion, gairah atau minat Anda. Bila Anda memilih pekerjaan sesuai passion Anda, itu tanda mencintai diri Anda. Kian hari Anda pun kian mencintai pekerjaan itu. Anda akan hanyut dalam pekerjaan itu. Anda menikmatinya dalam keadaan penuh tekanan sekalipun. Sebab Anda tahu, disanalah adrenalin Anda menemukan jodohnya. Pada titik selanjutkan, Anda akan menjadi seorang yang expert, seorang yang ahli. Anda diakui dan dapat diandalkan. Asyiknya lagi, roda pertambahan financial berbanding lurus lalu mempergemuk celengan Anda dari hari ke hari. Awalnya Anda memang mengundang bahagia itu untuk datang. Lama-kelamaan, ia sendiri yang mendatangi Anda. Seru, bukan?

Kedua, teruslah belajar untuk mengasah pikiran dan hati Anda. Bacalah buku-buku berkelas, ikuti berbagai training dan seminar
bermutu. Lalu, butir-butir kehidupan dari buku, seminar dan training tersebut Anda aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu belajar lagi, terapkan lagi, belajar lagi, terapkan lagi, begitu terus menerus…

Dan yang utama, pasrahkan hidup kepada Sang Pencipta, Allah ta’ala. Dzat yang semua berada dalam genggaman-Nya. Milikilah keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan pernah menelantarkan kita. Dia mencintai kita. Dia pasti menjaga kita, selama kita patuh pada rel-Nya.

Kebahagiaan bukanlah pencapaian Anda akan sesuatu yang melulu berwujud materi. Materi tak ubahnya perangkat yang tak sebanding nilainya jika dikomperasikan kepada penghargaan Anda pada diri sendiri. Jangan mencari bahagia pada perangkat duniawi, sebab bahagia itu sebenarnya ada di hati Anda masing-masing. Anda tidak perlu susah-susah mencari, ia tinggal diaktifkan seperti obor yang dinyalakan orang kampung di malam hari. Itulah pula sebabnya bahagia sintesis lebih mujarab dan tahan lama. Sebab ia lahir dari tombol di hati Anda, bukan di luarnya.

Mulai hari ini mari kita ciptakan kebahagian di setiap lini, agar hidup kita selalu diselimuti bahagia yang kian berlimpah…

*****

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah… Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya<Sayyid Quthb>

****

Oleh: O*YE and friend

(Sejenis mahluk yang selamat dari badai)

Read Full Post »

Memaafkan~ (Tulisan bagus!)

Bila ada orang yang berbuat salah kepada Anda, apa respon Anda?Ada tiga respon yang mungkin muncul.

Pertama, Membalas.

Kedua, Tidak Membalas namun Tidak Memaafkan.

Dan respon yang ketiga adalah Tidak Membalas dan Memaafkan.

 

Bila Anda memilih jenis respon yang pertama maka Anda telah menambah satu orang yang sakit hati lagi di dunia ini.Membalas perlakuan orang lain mungkin akan mendatangkan kepuasan psikologis bagi Anda, namun ketahuilah kepuasaan itu hanya sesaat.

 

Bila Anda memilih jenis respon yang kedua, Tidak Membalas namun Tidak Memaafkan memang halitu tidak akan menyakiti orang lain akan tetapi menyakiti diri Anda sendiri. Kebahagian dan ketenangan hidup pun akan menjauh dari Anda. Bahkan menurut riset yang dilakukan oleh dokter di Amerika Serikat, keengganan Anda memaafkan orang lain akan menimbulkan banyak penyakit kepada Anda seperti pusing, sakit punggung, sakit leher, sakit perut, depresi, cemas, mudah sakit, dan sulit tidur.

 

Respon yang saya sarankan untuk Anda pilih adalah respon yang ketiga, Tidak Membalas dan Anda Memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan kejadian itu, akan tetapi bermakna melepaskan masa lalu.

Agar Anda bersedia Tidak Membalas dan Anda Memaafkan kesalahan orang lain setidaknya ingatlah dua hal ini. Pertama, Anggap orang yang telah menyakiti dan berbuat salah kepada Anda adalah seorang dokter yang sedang memberikan imunisasi kepada Anda. Seorang yang diimunisasi boleh jadi meriang, panas dingin dan susah tidur. Namun hal itu hanya terjadi sesaat, setelah itu Anda telah memiliki modal yang membuat Anda tahan terhadap serangan penyakit, semakin kuat, kokoh dan hebat di masa datang.

Kedua, Ingatlah tak ada manusia yang sempurna. Ketika Anda bergaul dengan orang lain, fokuskanlah pada kelebihan dan kebaikan orang lain bukan fokus kepada kekurangan orang lain. Bila ada orang yang menyakiti Anda, bersegeralah Anda duduk kemudian catat semua kelebihan dan kebaikan yang dimiliki oleh orang itu.Bila Anda tak menemukan kebaikan pada orang tersebut, saya jadi sangsi jangan-jangan Andapun tak memiliki banyak kebaikan.

Sahabat, Bila Anda Memaafkan, bukan orang lain yang mendapat keuntungan, tetapi Andalah yang memperoleh keuntungan itu. 🙂

Salam SuksesMulia..

By : Ust Jamil Azzaini

 

Read Full Post »

Menyikapi Keterpurukan

**

Suatu ketika, ada seorang penceramah yang mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari sakunya. Kemudian ia bertanya “Siapa di antara jamaah sekalian yang mau uang ini?” Langsung saja banyak yang mengacungkan tangan. Katanya lagi “Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini,” Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.

 

Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula; lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya “Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.

 

“Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini” Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia kemudian bertanya lagi “siapa yang masih mau?” Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

 

***

Sahabat sekalian, hikmah berharga yang bisa kita petik dari peristiwa diatas adalah bahwa semua orang masih mau uang tersebut walau bentuknya sudah tidak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal, dan sebagainya. Karena nilainya tidak berkurang; tetap seratus ribu rupiah.

 

Sama seperti kita, Walau kita tengah jatuh (tertimpa tangga pula), tengah sakit, tengah merasakan kegagalan, sedang tak berdaya, terhimpit, dan merasa kecewa, atau dalam keadaan apapun, yakinlah kita –Insyaallah– TIDAK akan kehilangan NILAI kita. Jangan biarkan kekecewaan, kesedihan, keterpurukan, dan sakit hati, menghancurkan hidup, harapan dan cita-cita kita.

 

Sahabat, dalam keterpurukan, kita akan selalu tetap berharga, jika kita tetap menghargai diri kita sendiri. Orang lain akan tetap memandang kita bernilai manakala kita menganggap diri kita bernilai. Allah Swt. pun akan memandang kita bernilai, manakala kita tetap senantiasa berbaik sangka (khusnudzon), baik kepadaNya maupun kepada diri kita sendiri. You Are What You Think. []

Read Full Post »

B. Etika Posting dan Bersikap
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa internet adalah termasuk media tercepat dan termurah untuk menyebarkan informasi. Dalam satu kali klik, seluruh indonesia dapat mengakses informasi yang kita berikan. Dan hal ini tentu saja menimbulkan dua kemungkinan, yaitu menjadi potensi yang sangat baik atau menjadi potensi yang sangat buruk. Oleh karena itu, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan internet sebagai sarana penyebaran informasi.

1. Hendaknya informasi yang kita kirimkan adalah yang benar, dibutuhkan dan untuk umum
Ada banyak informasi yang ada disekeliling kita, sebagian informasi tersebut ada yang benar, meragukan atau salah sama sekali. Seorang yang mendakwahkan Islam harusnya memberikan informasi ketika dia telah memastikan kebenaran informasi ini, dan tidak menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya sehingga akan mengundang mudharat. Bila perlu, ia mencantumkan sumber dan link yang bisa dibuka untuk informasi-informasi yang sensitif. Sehingga dengan adanya hal seperti ini kita terhindar daripada fitnah dan menggunjing, serta merugikan orang/kelompok lain. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS al-Hujuraat [49]: 6)

Setelah kita memastikan kebenaran berita itu, maka hal yang harus kita pikirkan adalah “apakah informasi ini dibutuhkan?”. Karena ada informasi yang tidak dibutuhkan tetapi terkadang tetap diposting dan disampaikan. Hal seperti ini akan membuang waktu dan bisa jadi menyulut masalah yang lain. Di facebook sering kita lihat sindrom semacam ini, seolah-olah update status menjadi sesuatu yang wajib.

“Lagi melihat matahari terbit..”, lalu 5 menit lagi “Tidur lagi ah..”, terus 1 jam berikutnya “saatnya pergi ke kampus”, 30 menit lagi “ada pengemis di jalan, kesian banget deh..”, nggak lama kemudian “BRB, pergi ke neraka dulu..”. Ada juga yang sibuk mengirimkan ucapan selamat, hug, smile, kiss, love yang nggak penting seperti “Please accept this smile — I got it just for you!”, atau “I got you a special ♥heart!” dan lain-lain

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَاسَمِعَ
Cukuplah bagi seseorang berbuat dosa dengan menceritakan setiap apa yang didengarnya (HR. Muslim)

Selanjutnya, kita juga harus membedakan informasi mana yang hanya menjadi konsumsi internal dan informasi mana yang boleh menjadi konsumsi publik. Kehati-hatian seharusnya menjadi asas seseorang dalam menyampaikan informasi. Karena apabila informasi yang seharusnya menjadi konsumsi internal ternyata bisa diakses juga oleh publik, maka ini menjadi sesuatu yang sangat merugikan, bahkan sampai kepada tingkatan haram untuk menyebarkan informasi yang seharusnya tidak boleh disebarkan.

Kisah Hatib bin Abi Balta’ah dapat kita jadikan contoh. Ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk merahasiakan tentang rencana futuh makkah. Hatib yang tidak memiliki saudara yang dapat melindungi harta dan kerabatnya akhirnya tergoda untuk menuliskan surat (menyampaikan informasi) yang harusnya tidak disampaikannya. Walaupun akhirnya Allah dan Rasulullah memaafkan tindakan Hatib yang lalai, tetap saja rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk mencegat perempuan yang membawa surat Hatib kepada penguasa makkah agar jangan sampai rahasia itu jatuh kepada orang yang tidak berhak mengetahuinya.

Rasulullah juga menyampaikan:
إِذَا حَدَّثَ الَّرجُلُ بِاْلحَدِيْثِ ثُمَّ اْلتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Bilamana seorang membicarakan sesuatu kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah (HR. Abu Dawud)

Dalam setiap gerakan dakwah, terdapat kerahasiaan dan kehati-hatian. Dan hal ini harus benar-benar dipahami oleh setiap orang yang berada di jalan dakwah. Maka setiap ummat muslim, khususnya pengemban dakwah harus membiasakan untuk menyampaikan informasi yang perlu-perlu saja. Hal-hal yang tidak perlu menjadi konsumsi publik tidak perlu di-posting. Dan segala sesuatu yang bersifat rahasia tetap harus dijaga. Karena kehati-hatian dan kewaspadaan lebih utama daripada terlanjur lalai.

2. Mengabarkan berita baik untuk berbagi kebahagiaan sah-sah saja tapi jangan berlebihan

Allah menyampaikan di dalam al-Qur’an:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (QS adh-Dhuhaa [93]: 11)

Artinya sah-sah saja seandainya kita mendapatkan nikmat atau kebahagiaan dari Allah lantas kita menyampaikannya dan menceritakannya dengan saudara-saudara kita dengan harapan mereka juga akan termotivasi dan bersyukur pada Allah atas nikmat-nikmat yang juga mereka terima.

Tapi kita harus mengingat, bahwa tidak semua nikmat yang kita rasakan dan kita dapatkan harus kita ceritakan dan pampang atau kita posting. Maksudnya adalah kita hanya mem-posting yang perlu-perlu saja. Tidak semua hal harus kita posting, berusahalah untuk memposting sesuatu yang akan menginspirasi-memotivasi dan membagikan semangat, jangan terlalu berlebihan.

وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَّي وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مِجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُوْنَ
“Dan sesungguhnya orang yang paling aku dibenci dari kalian dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang banyak bicara (HR. Tirmidzi)

3. Menghindari menyebarkan berita yang mengundang mudharat
Yang paling banyak kita temukan dalam posting di dunia maya adalah orang dengan niat yang baik dalam memberikan informasi, namun dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu malah mengundang mudharat. Misalnya dengan posting:

“Teman-teman sekalian, ada situs yang sangat menghina Islam disini: http://www.linknya-dipaste-lagi.com, kita harus mengambil langkah terhadap penghinaan ini!”.
atau yang begini:
“Jaman sekarang ancur banget, ada film yang judulnya –JUDULNYA DISEBUTIN LAGI- yang isinya banyak banget tentang pornografi dan pornoaksi. Ada adegan dewasa euy disitu. Dunia semakin parah deh”

Oklah, mungkin yang nge-pos berniat untuk memberikan informasi, tapi tanpa sadar informasi yang dia sampaikan malah termasuk menyebarkan fitnah itu sendiri, dan semakin banyak orang yang akhirnya mengakses situs tersebut, lalu menyebarkannya kembali dan seterusnya. Apa hasilnya?. Hasilnya sang pembuat situs tadi senang gembira melihat jumlah visitornya yang melangit, lengkap dengan cacian yang paling seram yang bisa dilakukan manusia disitu yang semakin membuatnya punya alasan untuk membenci Islam dan menyudutkan Islam.

Kita harus ingat bahwa memberitahu seseorang tentang sesuatu yang buruk bukan dengan mencontohkannya.

Masalahnya, banyak orang yang awalnya tidak mengetahui malah jadi mengetahui dan mengakses situs-situs yang harusnya tidak boleh diakses. Walaupun mungkin ada manfaat ketika kita menyebarkan informasi semacam ini, tapi tetap saja menolak mafsadat lebih utama dari mendapat manfaat. Sesuai kaidah yang berbunyi:

إَنَّ دَفْعَ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Sesungguhnya, menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat.”

Jadi, ketika kita menemukan situs penghinaan terhadap Islam, informasi yang mengundang mudharat atau semacamnya, lebih baik kita lansgung tutup dan jangan pernah kembali. Tidak perlu membesar-besarkan dan menyebarkannya. Karena justru itu yang diinginkan pembuatnya. Toh hal yang semacam ini akan terus ada kapapnpun internet ada.

Kalau anda memiliki kekuasaan ataupun koneksi kepada orang yang bisa menghentikan, maka cukuplah informasi ini diberikan padanya saja dan tidak selain dia. Semua ini untuk menjaga agar fitnah tidak tersebar kemana-mana.

4. Tidak berlebih-lebihan dalam memberikan informasi
Seringkali kita menemukan banyak sekali hamilud dakwah yang justru ‘tebar pesona’ di setiap posting atau informasi yang dia berikan. Membuat postingnya seolah-olah terlihat ‘keren’, atau sesuatu yang diluar atau bukan kapasitasnya agar banyak comment yang mampir dan mengaguminya.

إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا , وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون
Diantara orang yang aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah orang yang baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah ats-Tsartsarun (orang yang memaksakan diri untuk memperbanyak perkataan), al-Mutasyaddiqun (orang yang bicaranya kesana-kemari tanpa kehati-hatian) dan al-Mutafayqihun (orang yang sengaja memperluas cakupan pembicaraan dan membuka mulut mereka dalam pembicaraan tersebut serta memfasih-fasihkan/membagus-baguskan bahasanya dalam pembicaraan). (Muttafaq‘alaih)

Maka usahakan dalam setiap posting dan informasi yang kita berikan kita selalu berserah kepada Allah. Sama sekali tidak membuat-buat, atau membesar-besarkan perkataan, atau membuat sesuatu yang dibagus-baguskan. Kalaupun kita ingin memposting sesuatu yang menyemangati dan memprovokasi semangat, maka lakukan dengan hati-hati.

5. Tidak bersikap lemah, membuka aib diri sendiri ataupun orang lain dalam menyampaikan informasi
Saya rasa tulisan menyangkut masalah ini sudah banyak dibuat, begitu banyak tulisan yang bernada lebay, melo (melankolis) yang tidak seharusnya ditampilkan di posting. Ataupun posting yang membuka aib pribadi dan hal-hal privat yang harusnya tidak ada di ruang publik. Sehingga hal itu bisa mengundang fitnah kepadanya.

“sedang menunggu bidadari…”, “Malem jum’at enaknya ngapain ya?”, “aku menanti kedatangan dirinya..”, “siapakah dia yang selama ini aku rindukan..”, “aku tak mengerti siapakah aku saat ini”, “sedang mencoba merengkuh bulan”, “Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini.. Mamah”, “Sudahlah…”, “Terimakasih Cinta….”, “Semua telah berakhir…” (terus terang saya suka ngakak lalu nangis kalo baca posting/status yang beginian)

Sedangkan Rasul telah memperingatkan kita untuk menjauhi fitnah:

إن السعيد لمن جنب الفتن
Sesungguhnya kebahagiaan bagi siapa saja yang menjauhi fitnah (HR. Abu Dawud)

Walhasil, atas semuanya itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa posisi kita sebagai hamilud dakwha telah membawa kita pada suatu kedudukan dan tanggung jawab yang lebih besar dan berat dibandingkan yang belum berkomitmen dalam dakwah. Setiap kata-kata, posting, informasi yang kita keluarkan akan diawasi dan dimonitor oleh semua pihak, baik yang suka ataupun yang tidak suka. Karena itu lebih berhati-hatilah dalam memilih informasi mana yang akan kita bagikan.

Dakwah memang sulit dan sudah sulit, jangan dibuat lebih sulit lagi. Refreshing boleh, bercanda boleh, asal jangan berlebihan dalam memanfaatkan dunia maya. Gunakan dunia maya sebagai wasilah untuk memperluas jangkauan dakwah. Bagikan semangat Anda pada yang lain dengan kontribusi apapun. Insya Allah semua yang kita lakukan di dunia maya termasuk kebaikan yang akan dicatat oleh Allah.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Akhukum Fillah,
Felix Siauw

Read Full Post »

Ilmu genetika mengajarkan bahwa Anda adalah Anda sendiri, sebagai hasil dari 24 kromosom yang di curakan ayah Anda dan 24 kromosom lagi oleh ibu Anda. Ke-48 kromosom tersebut berisi segala sesuatu yang menentukan warisan siapakah Anda sebenar-nya. Amran Scheinfeld dalam bukunya, You and Heredity, mengatakan, “Dalam setiap kromosom itu terdapat ratusan gene dan dalam kasus tertentu, sebuah gen akan mampu mengubah kehidupan seseorang.”

Kita ini diciptakan dengan sangat mengesankan dan menakjubkan. Setelah ibu dan ayah bertemu dan melakukan pembuahan, hanya ada satu kemungkinan dari 300.000.000.000 yang lahir. Dan, itulah Anda. Dengan kata lain bila Anda mempunyai saudara kandung sebanyak 300.000.000.000, maka tak seorang pun yang sama persis dengan Anda. Amran melanjutkan, “Anda adalah diri sendiri di dunia ini.”

Sementara Dale Carnegie mengatakan, “Anda adalah sesuatu yang baru di dunia ini. Tak pernah terjadi sebelumnya, sejak dunia ini diciptakan, seseorang yang benar-benar sama dan sempurna dengan Anda, dan sampai dunia akhirnya nanti berhenti, tak akan lahir lagi seseorang yang sama dengan Anda.”

Dalam Islam, konsep ‘kesendirian’ merupakan acuan utama dari perintah untuk beramal. Artinya, manusia harus memperbanyak amalnya karena kelak ia akan dihisab secara sendiri-sendiri. Orang lain tidak bisa memberi manfaat, hanya amalnya yang menentukan. Memang, kita perlu bekerja sama dengan orang lain, tapi itu hanya alat bantu saja dan bukan alat untuk melimpahkan dosa atau mengurangi tanggung jawab pribadi.

Itu pula isyarat nyata dari Allah, bahwa syetan sekalipun yang hobinya menjerumuskan manusia, kelak tak akan mau bertanggung jawab. “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu “, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:” Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”(QS. Al-Hasyr: 16). Lalu bagaimana akibatnya, “Maka adalah kesudahannya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Hasyr: 17).

Semangat menjadi diri sendiri bukan berarti menafikkan keteladanan. Tapi meneladani orang lain tak berarti Anda memindahkan kepribadian orang lain tersebut pada cetakan kepribadian Anda. Sesungguhnya apabila seseorang keluar dari pembawaan wataknya, dan memisahkan dirinya dari tabiat akal dan jiwanya yang tidak ada penyimpangan di dalamnya, merupakan suatu perkara yang akan merusak kehidupan orang tersebut dan menimbulkan goncangan-goncangan dalam tingkah lakunya. Anda mungkin sudah mendengar tentang kisah seekor gagak yang tertarik untuk berjalan di atas tanah, akibatnya ia tidak dapat melangkah sebagaimana yang ia inginkan, dan tidak dapat terbang sebagaimana ia diciptakan.

Sesungguhnya sangat sulit sekali bagi manusia walau bagaimana pun ia berusaha, untuk menjadi yang lain dari dirinya. Dale Carnegie mengisahkan, “Saya bertanya kepada direktur Socony Vacuum Oil Company tentang kesalahan paling besar yang dilakukan oleh orang-orang yang melamar pekerjaan.” Ia menjawab, “Kesalahan yang paling besar dari pelamar pekerjaan adalah mereka tidak mau menjadi diri mereka sendiri. Bukannya mereka mengemukakan ide-ide mereka dengan jujur, tetapi kadangkala malahan mencoba memberikan jawaban yang menurut perkiraan mereka kita inginkan. Tentu saja mereka gagal, karena tak seorang pun yang ingin mempunyai karyawan yang tidak jujur dan palsu.”

Menjadi diri sendiri artinya kita mengoptimalkan segala potensi diri yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bahkan dalam potensi-potensi itu ada berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah SWT berfirman, ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Qs. Fushilat: 53).
William James, seorang ahli juga, pernah mengatakan bahwa, “Seandainya kita mengukur diri kita dengan apa yang seharusnya kita berkembang menurut pembawaan kita, maka akan jelaslah bagi kita bahwa kita ini hanya setengah sadar. Atau dengan kata lain, kita hanya menggunakan sebagian kecil dari sumber-sumber kemampuan fisik dan mental kita. Sebenarnya banyak kekuatan lain yang bermacam-macam yang kita miliki, namun kita tak menyadarinya. Masih banyak bermacam-macam kemampuan yang gagal kita manfaatkan.”

Dalam tradisi interaksi antara Rasulullah dengan para sahabat, sering kita dapati Rasulullah sengaja memancing kemandirian para sahabat untuk mengemukakan pendapat. Tentunya hanya untuk hal-hal yang belum turun wahyu. Seperti yang terjadi tatkala beliau bermusyawarah dengan para sahabat tentang tawanan perang Badr, maka para sahabat mengemukakan pendapatnya masing-masing sesuai dengan apa yang dianggap benar.
Abu Bakar misalnya, mengemukakan agar tawanan itu diampuni, Rasulullah SAW. Abu Bakar beliau samakan dengan Nabi Ibrahim AS, yang berkata mengenai kaumnya, “Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ibrahim:36)

Sementara Umar, beliau serupakan dengan Nabi Nuh AS, yang telah berkata mengenai kaum-nya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Qs. Nuh: 26-27).

Sangat tampak dalam kisah di atas bahwa kedua sahabat tersebut masing-masing mengemukakan pendapat yang mereka anggap benar, sebagaimana ditunjukan oleh pikirannya yang bebas dan perbedaannya yang khusus dalam memecahkan masalah. Itulah kemandirian. Kemandirian itu bahkan bermuara kepada fitrah manusia yang bersih. Yang tidak mau menjilat-jilat dan mendustai nuraninya sendiri. “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (Qs. Ar-Ruum: 30)

Yakinlah bahwa iri hati adalah kebodohan. Dan, kepalsuan itu adalah bunuh diri. Mestinya orang rela dan bersyukur atas apa yang dimilikinya sebagaimana Allah telah menentukan baginya. Di atas hamparan dunia yang luas dan begitu subur ini, tak akan ada biji jagung yang tumbuh baik tanpa ditanam dan dipelihara dengan baik pula. Kekuatan yang ada pada seseorang adalah sesuatu yang baru, alamiah dan tak seorang lain pun yang tahu apa yang dapat dilakukannya. Dan, si empunya tak akan menyadari sebelum ia mencobanya.

Semua potensi itu bisa diasah, dengan berbagai macam cara yang terus berkembang, dari model pelatihan hingga disiplin ilmu yang sudah permanen, dari berguru hingga belajar sendiri. Maka, tunggu apalagi. Segera kenali diri, gali potensi, dan jadilah diri kita sendiri yang jujur dan berani bertanggung jawab. Wallahu’alam

Oleh : Raindraze Rahma

Read Full Post »

Apa sih “be yourself!” itu?

Selama ini, orang-orang begitu mudah mengatakan “be yourself” donk! Padahal belum tentu mereka memahami apa yang mereka ucapkan. Klausa itu memang terasa sangat multi interpretative hingga semua orang berhak punya definisinya masing-masing.

“ ‘BE YOURSELF’ adalah kalimat yang paling gue benci”. Begitu ungkap seorang kawan suatu ketika. Setelah agak lama mencerna, saya akhirnya menggangukkan kepala, mengamini. “Memangnya siapa yang benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri?” Begitu pikir saya. Hingga detik ini pun, saya bahkan belum mampu menemukan definisi yang tepat bagi klausa “menjadi diri sendiri.”

Seorang kawan lain pernah mencoba membantu saya dengan berujar, “Menjadi diri sendiri berarti mengenal sejarah diri. Karena dengan itu, tidak ada orang lain yang benar-benar bisa menjadi kita, begitupun kita yang tidak bisa benar-benar menjadi orang lain.”

Mengenal sejarah diri? Hhmm..boleh juga, cukup make sense. Tapi sepertinya itu belum menjawab pertanyaan saya. Lantas ada apa dengan mengenal sejarah diri? Baiklah…sejarah memang selalu menemukan pengulangannya, namun haruskah seseorang yang ingin “menjadi dirinya sendiri” mencukupkan diri pada sejarahnya? Terus menengok ke belakang? Atau justru terperosok pada sejarahnya sendiri hingga tak mampu menatap ke depan?

Haruskah seseorang yang ingin menjadi dirinya sendiri lalu menjadi stagnan tanpa mau berubah, karena ia takut dituduh “imitatif”, “tidak berkarakter”, “krisis identitas”, and so on?

Padahal, bukankah perubahan (terutama menjadi “lebih baik”) adalah sebuah keniscayaan, bahkan menjadi sebuah keharusan? Bahkan seorang bijak pernah menyebutkan, “TAK ADA DI DUNIA INI YANG MAMPU KONSISTEN, KECUALI SATU HAL: PERUBAHAN.” Lalu apakah seseorang yang mencoba meninggalkan “sejarah” hidupnya atau seseorang yang sengaja “mengubah” karakter itu adalah seseorang yang kehilangan identitas dirinya?

Ah, terlalu berbelit! Sebenarnya saya hanya ingin berbagi kisah tentang seorang perempuan yang sedang mengalami, yah sebutlah, “krisis identitas.” Haha…terlalu berlebihan saya pikir! Sebenarnya hanya masalah sepele, namun cukup menggelitik kesadaran dan membuat saya mengernyitkan dahi. Panggil saja dia “Bunga.” (Hihi….tapi Bunga yang ini bukan korban perkosaan lho!)

Dia bukanlah perempuan yang feminin, tapi tolong jangan disebut tomboy, coz she doesn’t really like it!

Sebelumnya saya mohon maaf, sebenarnya saya punya definisi sendiri terhadap kata “feminin.” Tapi ijinkan saya untuk tidak membahasnya disini, karena untuk saat ini saya akan mencoba mengalah pada common sense bahwa femininitas adalah naluri kewanitaan yang seringkali diejawantahkan dengan berbagai aktivitas fisik khas wanita, seperti (yang paling lazim adalah): suka dandan dan begitu care sama penampilan.

Tapi entah kenapa, sejak dulu Bunga (yang mengaku perempuan ini) adalah sosok yang jauh dari berbagai hal tersebut. Dia selalu saja PeDe pergi keluar rumah dengan memakai baju yang tidak tersentuh setrika sedikitpun. Dia juga terlampau sering pergi ke kampus atau ke kantor dalam keadaan belum mandi. Jika masuk kamarnya, jangan berharap kalian akan menemukan lotion, pembersih muka, bedak, pelembab wajah, apalagi lipstick! Yang ada hanya deodorant dan bedak bayi. Kawan-kawannya pun sempat bengong saat tau bahwa perlengkapan mandi Bunga hanya sabun Lifebuoy plus odol Formula, gak lebih! Itu pun hanya dipakainya rata-rata sekali dalam sehari. Tidak ada sabun muka, apalagi sampai lulur mandi.

Selama 20 tahun sejarah hidupnya bergulir, Bunga merasa nyaman dengan keadaan itu. Kulitnya pun gak pernah protes karena tidak mendapatkan perawatan ekstra. Bunga justru dihantui ketakutan, kalau dia mencoba memakai kosmetik, maka kulitnya yang emang udah putih bin mulus dari sono-nya itu justru akan jadi rewel, seperti yang dialami teman-temannya. Ya flek hitam lah, ya jerawatan lah, de el el. Maka Bunga pun mendapat pembenaran untuk terus mempertahankan kecuekannya.

Namun belakangan, teman2 Bunga mulai risih dengan kebiasaannya. Mereka pun mencoba mencekokinya dengan berbagai doktrin, seperti; “cantik itu pilihan, harus diusahakan, tidak datang begitu saja.”

“Kalo lu emang udah ngerasa cantik dari sononya, makanya dijaga donk! Itu kan amanah dari Allah”

Sampai akhirnya, Bunga memutuskan untuk menuruti perkataan teman-temannya. Dia berpikir, toh tak ada salahnya. Ini kan untuk “menjaga” apa yang sudah diamanahkan Allah, bukan untuk centil-centilan. Tapi di tengah jalan, Bunga justru merasa “menjadi orang lain.”

“Gak gue banget deh!” begitu pikirnya.

Padahal (sekali lagi) Bunga hanya ingin menjaga, bukan mau kecentilan. Toh adalah hal yang wajar bagi seorang wanita untuk merawat diri, meski hal itu sangat jarang dia lakukan. Simpelnya, dia hanya ingin merubah kebiasaannya untuk menjadi (menurut dia) lebih baik.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berusaha merubah kebiasaannya, Bunga telah menjadi orang lain? Berarti Bunga gak ngikutin kata orang untuk “be yourself” donk! Ataukah, untuk terus menjadi dirinya sendiri, berarti Bunga harus tetep males merawat diri?

Hhmmm…

Gimana, udah ketemu jawabannya?

Kalo udah, kirim aja jawaban kamu denagn mengetik REG NGACO kirim ke 1111.

Hehe… simpan jawaban itu untuk dirimu sendiri! Karena sebenernya si Bunga gak butuh!

Read Full Post »

———————————————————————————

—————————-

PAK Krisna adalah seorang yang super sibuk di antara keluarganya dan keluarga istrinya
dan di antara pengusaha lain di perusahaan di kotanya dan di antara orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan tersebut

Lia dan Nisa adalah dua orang putri yang cantik-cantik dan lincah-lincah.
Hingga guru-gurunya pun banyak yang menyenangi mereka dan selalu mencandai keduanya.

Sebab selain cantik dan lincah-lincah, Lia dan Nisa adalah anak-anak yang pintar dan juga lucu.
Namun bagi Pak Krisna, dia tidak merasa ada kesan lain terhadap dua orang putrinya.

Seolah-olah Lia dan Nisa adalah anak yang biasa-biasa saja seperti anak lainnya.

Jarang sekali pak Kisna mau bercanda dengan Lia dan Nisa.
Sebab keningnya sering berkerut memikirkan urusan bisnisnya.
Dan waktu dia berada di rumah pun dia sibuk dengan lap top komputer-nya.
Sambil sekali-kali menjawab bunyi dering handphone-nya.

Setiap Lia dan Nisa menghampkinya, Pak Krisna selalu menyuruh anaknya agar tidak bermain-main didekatnya. Hingga terkadang dkinya selalu memanggil istrinya agar mengajak anak-anaknya tersebut bermain dengan istrinya saja. Seringkali Lia dan Nisa menolaknya.

Dan tak jarang mereka menangis ketika Ibunya memaksa meraka agar tidak bermain-main di dekat Bapaknya.

Hal ini dilakukan oleh Pak Krisna karena Lia dan Nisa sering mengganggu ketenangan dirinya,
yang sedang sibuk memikirkan bisnisnya.

Setiap Lia dan Nisa menanyakan jawaban atas sebuah soal dari PR mereka.

Pak Krisna selalu menjawab, “Kamu berdua kan sudah bapak sekolahkan, bapak kan sudah membayar uang bayaran kamu berdua, sekarang kan yang sedang belajar kamu berdua, mengapa minta bantuan bapak? Nanti kamu tidak bisa pintar dong, kalau tidak bisa mengerjakan PR-mu sendiri”.

Demikian kilah Pak Krisna menolak membantu mengerjakan PR kedua anaknya Lia dan Nisa.

Namun Lia dan Nisa tetap saja selalu menanyakan kembali atas PR-nya
kepada Pak Krisna pada hari-hari berikutnya.

Kali ini mereka meminta pujian Pak Krisna karena mereka berdua telah berhasil mengerjakan PR sendiri

Pak Krisna pun hanya menanggapinya dengan anggukan kepala,
dan hanya menoleh sebentar pada buku PR Lia dan Nisa dengan hanya selintas saja.

Kesibukan Pak Krisna mengurusi bisnis dan mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta ternama di kotanya, sungguh sangat menguras waktu yang dimilikinya.

Waktu keberadaan dirinya di rumah pun sangat sebentar sekali.

Hal ini membuat Lia dan Nisa selalu mencari perhatian Pak Krisna
dengan cara mengajak bermain inilah atau bermain itulah.

Namun Pak Krisna selalu menolak ajakan bermain mereka berdua
dengan mengatakan dirinya sedang sibuk dan supaya mereka bermain dengan Ibunya saja.

Ibunya pun sering sekali menarik-narik tangan mereka berdua dari tangan Pak Krisna dengan setengah paksaan, dan hal ini sering diwarnai dengan tangisan mereka berdua yang terkadang sangat memekakakan telinga Pak Krisna.

Hingga tak jarang dirinya sering menegur istrinya yang dianggap tidak bisa mengerti posisi diririya yang sedang sibuk dan membiarkan anak-anak bermain sendiri.

Namun istrinya seringkali menjawab bahwa dirinya sedang sibuk mengerjakan sebuah pekerjaan rumah tangga,
sehingga tidak tahu kalau anak-anaknya sudah bergelayutan pada tangan Pak Krisna.

Percekcokan kecil pun sering terjadi akibat teguran Pak Krisna yang selalu menyalahkan istrinya
karena tidak mampu mengajak bermain Lia dan Nisa atau mengasuh mereka.

Pada sebuah kesempatan Lia dan Nisa bertanya kepada Ibunya, mengapa ayahnya selalu marah kalau mereka ingin main bersama ayahnya. Ibunya menjawab, kalau ayah mereka itu sibuk sekali mengurusi pekerjaannya.

Lantas Lia bertanya, buat apa ayahnya bekerja.
Ibunya pun menjawab dengan ringan “Ayahmu sibuk bekerja biar dapat uang”.

Sekarang giliran Nisa yang bertanya, “Memangnya berapa uang yang didapat ayah?”

Ibunya menjawab, “Hus, kamu masih kecil sudah tanya-tanya masalah duit”.

Sekarang Lia yang bertanya, “lya Bu berapa banyak uang yang didapat ayah?”, tanya Lia.
Sebab pelajaran berhitung bagi Lia adalah pelajaran yang paling disenanginya.

Ibunya menjawab karena anak-anaknya terus merengek minta jawaban.

“Ayah kalian mendapat gaji yang besar sekali, dalam sehari saja bisa dapat lebih dari 1 juta” .
Begitulah jawaban sang Ibu, dengan tujuan supaya Lia dan Nisa tidak bertanya-tanya terus masalah duit, karena mereka masih kecil dan belum pantas membicarakan duit, demikian pikir sang Ibu.

Sejenak Lia berpikir, lalu berucap,

“Bu, Ayah kan selalu pulang malam, kalau Lia hitung berarti ayah kerjanya kurang lebih 12 jam.

Kalau sehari ayah bisa dapat 1 juta lebih.
Berarti perjamnya ayah tidak kurang dapat uangnya 100 ribuan ya Bu?”.

Ibunya menjawab dengan cepat, “Sudah-sudah, kamu ini masih kecil, lebih baik kamu cepat belajar kembali. Katanya ada PR, cepat sekarang kerjakan PR-nya dulu!”.

Nisa menolak ketika Ibunya berdiri mengajak mereka kekamar mereka masing-masing, sambil berkata, “Tapi Bu, Nisa ingin bermain sama ayah, jadi ….”.

Sebelum Nisa menyelesaikan perkataanya, Ibunya lebih cepat memotongnya

“Nisa, Ibu tidak mau lagi membicarakan hal ini, Ibu kan belum masak. Ayo cepat jangan rewel.
Ibu tidak suka punya anak rewel!”.

Semenjak hari itu. Lia dan Nisa terlihat tidak pernah mengganggu kembali Pak Krisna.
Hal ini membuat Pak Krisna dan Istrinya merasa lega.

Namun yang agak aneh dari tingkah laku mereka adalah terlihat mereka semakin kompak main bersama
dan sering ngobrol bisik-bisik.

Namun hal ini tidak terlalu digubris oleh Pak Krisna yang semakin sibuk mengurus pekerjaannya.
Tingkah laku dari Lia dan Nisa yang tidak menganggu Pak Krisna ketika berada di rumah, berlangsung hingga satu bulan berikutnya.

Pada suatu pagi yang cerah di hari minggu, Pak Krisna sedang bersiap untuk menemui salah satu rekan bisnisnya, yang sudah membuat janji dengannya.

Namun ketika baru saja dirinya selesai memakai pakaian,
tiba-tiba Lia datang menghampirinya sambil setengah berlari dan sambil berkata,

“AYAAAAAH, sekarang ayah pasti bisa bermain sama Lisa, sebab Lisa sudah ngumpulin uang 100 ribu

Jadi ayah harus bermain dengan Lisa sekarang selama satu jam.

Kata Ibu ayahkan dalam sehari bisa adapat uang 1 juta perharinya.
Nah Lia hitung berarti ayah perjamnya dapat uang sekitar 100 ribu.
Sekarang ayah bisa bermain kan sama Lia karena tabungan Lia sudah seratus ribu,
NIH uangnya, kalau ayah tidak percaya!”.

Mengalami perlakuan ini dari Lia, Pak Krisna langsung kaget. Lalu berteriak memanggil istrinya.
Istrinya pun datang dengan setengah berlari dan menanyakan ada apa.

Pak Krisna pun menanyakan istrinya perihal perilaku anaknya Lia yang mengajak dirinya bermain
sambil menyodorkan uang 100 ribu
.
Dia menanyakannya dengan nada marah, apakah istrinya yang mengajarkan hal ini.

Istrinya pun bersumpah, bahwa dirinya tidak mengajarkan hal itu kepada anaknya sambil tidak terasa air matanya mengalir karena teringat akan pembicaraan dulu dengan Lia dan Nisa.

Dia pun berkata dalam hati kalau dirinya tidak menyangka tujuan anaknya menanyakan penghasilan ayahnya adalah untuk hal ini.

 

Melihat Istrinya menangis, membuat Pak Krisna agak luluh hatinya.
Lalu menoleh kepada Lia yang terlihat akan menangis juga.
Karena dia menganggap telah menjadi penyebab ibunya dimarahi.

Hati Istri pak Krisna tersentuh, dia pun mendorong suaminya agar hari ini Pak Krisna meluang waktunya untuk bermain bersama Lia. Sambil memandang wajah Pak Krisna dengan penuh harap.

Pak Krisna pun menjawab kalau hari ini sudah membuat janji dengan rekan bisnisnya untuk bertemu, dan dia tidak mau mengecewakanya. Sang Istri pun tidak kehabisan akal

Dan menyuruh Suaminya agar menunda pertemuanya barang satu jam saja, untuk bermain bersama dengan anaknya.

Akhirnya Pak Krisna terpojok oleh dorongan istri dan rengekan lia yang semakin menjadi-jadi sambil memaksa memberikan uang seratus ribu yang ada ditangannya.

Kemudian Pak Krisna pun menghubungi rekan bisnisnya agar pertemuan bisnisnya diundur satu jam.
Sambil tidak sadar tangannya meraih uang seratus ribu yang disodorkan oleh Lia karena takut hilang.

Maka Pak Krisna pun membolehkan tangan Lia bergelayutan pada tangannya.

Dia pun teringat pada Nisa. Dan mengajaknya juga untuk bermain bersamanya berjalan-jalan diseputar kompleks perumahan. Namun Nisa menolak ajakan ayahnya sambil cemberut.

Pak Krisna melihat jarum jam tangan yang ada di tangannya, karena waktu itu telah terpotong 15 menit. Maka dirinya pun meninggalkan Nisa dan bermain dengan Lia berputar-putar dijalan kompleks perumahannya.

Selama jalan-jalan tersebut Lia terlihat girang sekali; wajahnya ceria sambil sesekali mengajak Pak Krisna untuk bermain kejar-kejaran dengannya.

Namun Pak Krisna melayaninya dengan sedikit kekalutan.
Karena pikirannya terus menerawang kepada sikap rekan bisnisnya yang pasti telah sedikit dikecewakan dengan telatnya pertemuan dengannya selama satu jam itu.

Hari-hari berikutnya, Pak Krisna kembali disibukkan dengan urusan bisnis dan mengajar, yang dari hari ke hari semakin jarang sekali dirinya terlihat santai. Sebab ketika berada di rumah pun, banyak sekali tamu-tamu yang berdatangan.

Karena ada yang sekedar silaturahmi dari rekan-rekan bisnisnya, ada juga yang meminta Pak Krisna untuk mau bekerja sama bisnis dengan mereka.

Sehingga peristiwa Lia yang menyodorkan uang 100 ribu kepada dirinya untuk mau bermain dengan Lia, sedikit demi sedikit dilupakannya.

Suatu malam, Nisa mengigau keras sekali membuat semua penghuni rumah tersebut terbangun. Terutama istri Pak Krisna yang segera berlari ke kamar tidur anak-anaknya.

Istri Pak Krisna pun kaget melihat Nisa yang sedang kejang-kejang dan ketika tangannya memegang badan Nisa, terasa panas sekali. Spontan istri Pak Krisna berteriak memanggil suaminya. Pak Krisna datang menyeruak ke kamar itu.

Ketika melihat Nisa kejang-kejang segera dia menyuruh istrinya untuk mengompres Nisa.

Kejang-kejang Nisa sedikit berhenti. Namun suhu badannya masih tetap panas.
Istri Pak Krisna pun meminumkan obat penurun panas ke mulut Nisa.

Namun sampai subuh, panasnya tetap tidak menurun.
Akhirnya mereka berdua, yakni pak Krisna dan Istrinya segera membawa Nisa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, segera Nisa dibawa ke ruangan Gawat Darurat, dan langsung mendapatkan penanganan seorang dokter.

Setelah sekian lama diperiksa dokter yang menangani Nisa menyuruh Pak Krisna untuk menunggu di luar saja. Setelah sekitar satu jam berselang, Dokter tersebut meminta Pak Krisna untuk menghadapnya setengah jam lagi ke ruangannya.

Lewat setengah jam, Pak Krisna bersama istrinya masuk ke ruang dokter tersebut.
Lalu bertemu dengan sang dokter. Dokter tersebut langsung menginformsikan keadaan kesehatan Nisa dan mengatakan agar Pak Krisna dan istrinya bisa tenang dalam menyikapi kenyataan yang dialami oleh anak mereka, yakni Nisa.

Dokter menerangkan bahwa Nisa terkena demam tinggi, kini panasnya telah reda. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan berikutnya, dokter menemukan adanya kanker otak pada Nisa dan harus diopname.

Mendengar hal ini, Istri Pak Krisna langsung melelehkan air matanya, sambil berharap agar dokter bisa menyembuhkannya. Dokter hanya menjawab dia akan berusaha sebaik mungkin.

Selama seminggu, Nisa terbaring di rumah sakit.

Dan hari itu adalah hari terakhir Nisa terbaring di rumah sakit, namun bukan berarti telah sembuh hingga bisa pulang ke rumah lagi. Tetapi karena Nisa telah lebih dulu menghadap panggilan Tuhan Yang telah menciptakannya, mendahului Pak Krisna dan istrinya serta Lia sebagai kakaknya.

Pak Krsina dan istrinya hanya bisa menitikan air matanya, sambil mendekap Lia yang juga kelihatan menangis pula, karena sedih telah ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh adiknya, NISA.

Setelah beberapa saat tubuhnya didekap oleh orangtuanya. Lia melepaskan diri dari dekapan mereka dengan perlahan, dan menghampiri jenazah adiknya Nisa, sambil terus terisak menahan tangisnya.

Lia memandang wajah Nisa sambil berkata;

“Nisa, mengapa cepat pergi, bagaimana uang yang kamu titipkan pada Lia.
Kalau begitu beri tahu Lia bagaimana cara menitipkan uang ini pada Allah,
agar ketika ayah meninggal juga, kamu bisa bermain dengan ayah seperti Lia dulu,
walaupun HANYA SATU JAM.

Lia berjanji akan menambahkan uangnya menjadi 100 ribu dan menitipkan uang ini kepada Allah, tapi bagaimana cara menitipkannya, cepat kasih tahu sebelum kita berpisah!”.

Mendengar ucapan Lia, Pak Krisna langsung terenyuh hatinya.

Dia teringat wajah Nisa yang geleng-geleng kepala
sambil cemberut, ketika diajaknya bermain bersama Lia, sebulan yang lalu.

Rupanya Nisa ingin juga bermain, namun Nisa belum mempunyai uang yang cukup 100 ribu.
Sehingga menolak bermain dengannya.

Saat itu juga Pak Krisna merangkul tubuh Lia dan menciuminya beberapa kali.

Sambil menangis Pak Krisna berjanji akan selalu menyediakan waktu buat bermain dengan Lia,
tanpa harus membayar sepeser pun.

Asalkan Lia mau memaafkan kesalahannya selama ini yang selalu menolak ketika diajak bermain.

Lia pun hanya menangis saja mendengar ucapan ayahanya.

Istri Pak Krisna menghampiri mereka dan merangkul mereka berdua dengan derai air mata, yang semakin deras mengalir di pipinya.

Sejak kematian Nisa, dan dengan adanya ucapan Lia pada saat mereka melihat wajah Nisa yang terakhir. Pak Krisna tersadar dari kekhilafannya.

Dia berjanji dalam Hatinya, sesibuk apa pun bisnis, dirinya selalu akan menyediakan waktu untuk bisa bercengkrama dengan keluarganya dan anaknya Lia.

Kepada Nisa, dirinya selalu berdoa agar KELAK di alam akhirat
dirinya bisa BERTEMU KEMBALI dengan Nisa.

Dan apabila bertemu, dirinya akan MENGAJAKNYA BERMAIN………….

…………SEPUAS HATI NISA.

Read Full Post »

Older Posts »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même