Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kabar-kabari’ Category

#KompakNulis #OPEy 2 Pekan

Berikut FAQ (Frequently Asked Question) seputar program kali ini :

1. Seperti apa program #KompakNulis #OPEy ?
Jawab : #OPEy singkatan dari One Post Everyday. Yakni satu hari bikin minimal satu tulisan untuk dipublikasikan dan secara kompak dengan hashtag #KompakNulis

2. Apa jenis tulisan dan tema #KompakNulis?
Jawab : Bertema bebas, berjenis bebas. Tidak mengandung SARA dan melanggar hukum Syariah dan agama. Silakan berkreasi dalam bentuk feature, cerpen, puisi, curhatan atau entah apapun yang merupakan produk berpikir. Silakan buat menu harian untuk memudahkan dan menstabilkan aliran ide nantinya.

3. Apa ada batas minimal atau maksimal tulisan?
Jawab : Tidak ada batasan. Jika dengan satu paragraf dirasa cukup, ya boleh tampilkan apa adanya. Karena tujuan #KompakNulis #OPEy memang untuk belajar dan belajar. Setiap orang berbeda level dan standar tulisan yang diinginkan. Jadi, tidak perlu lirak lirik, santai aja. Yang penting kan prosesnya.

4. Kemana tulisan dikirim?
Jawab : Tidak dikirim kemana-mana, tampilkan alias posting di media maya masing-masing. Bisa di Blog, Facebook, Instagram, dan lainnya tergantung ketersediaan dan keinginan.

5. Apa harus mention leadernya?

Jawab : Tidak harus, tapi boleh. Sesuai hashtag #KompakNulis, saling mention bertujuan untuk membangun jaringan dan kekompakan sesama pegiat postingan positif di dunia maya. Mention orang terdekat, sahabat atau yang dirasa paling bagus membaca tulisan di hari tersebut.

6. Jadi fungsi Leader apa dong?

Jawab : Sebagai penyemangat, mengakomodir pertanyaan, supporter utama, dan membantu hal-hal teknis lainnya. Termasuk memilih Best of the Week versi Leader dan apresiasi sejenis.

7. Apa ada hastagnya ?
Jawab : Bisa pakai #KompakNulis #OPEy #Part2OPEy dan penambahan hashtag lain yang dirasa perlu

8. Berapa lama #KompakNulis #OPEy berlangsung?
Jawab : Posting setiap hari tanpa jeda, selama 14 hari tanpa putus.

9. Bagaimana jika ada satu hari yang saya bolong atau nggak posting?
Jawab : Karena ini adalah komitmen harian, buat yang ‘bolong’ bisa diulang dari Day 1 atau Start diulang dari awal.

10. Bagaimana jika saya sudah ikut di program sebelumnya?

Jawab : Tidak masalah, tinggal melanjut hari, hingga genap 14 hari atau dilebihkan sampai Part yang sedang berlangsung selesai.

11. Apakah #KompakNulis #OPEy punya institusi atau grup dan sejenisnya?
Jawab : Tidak adaaa…… #KompakNulis bukan gerakan bawah tanah atau apa, jadi tidak yang gitu-gituannya ya.

12. Apa ada hadiahnya?
Jawab : Tidak adaaaa…. Hadiahnya pahala, minta langsung dari Yang Maha Kuasa. Efek positif lainnya, silakan dirasakan sendiri.

13. “Tulisan #KompakNulis aku nggak ada yang baca, yang like pun sedikit, siapa yang tanggung jawab cobak?”
Jawab : Hemmm,,,, pertanyaan yang rumit. Jangan lapor polisi ya sis. Belum ada undang-undangnya. Hehe. Daripada pegel hati, mending lillahi aja. 🙂

Sekian dari kami para Admin, silakan jika ada pertanyaan lanjutan. Atmosfer yang sedang kami bangun ialah bergerak ke luar, dengan kekuatan dari dalam. Salam literasi ! [Alga Biru]

Iklan

Read Full Post »

Mario Bross, Sailor Moon, Dragon Ball. Ketiga kartun itu melintas di alam pikir seorang anak kecil bergigi kelinci. Dia membayangkan, alangkah enak bisa memainkan Mario melompat pada tombal Spica, Usagi berubah wujud, dan bola naga yang diperebutkan melalui mantra khame-khame. Saya pikir anak jaman now, terlepas mereka bermicin atau tidak, tidak kenal ya dengan Ikyusan. Kesemua tokoh itu adalah superstar cartoon di era 90-an.
“Diaaannn….. Panjatkan dulu melinjo kita. Mamak mau melodeh nanti siang”
Lalu si anak gigi kelinci itu meneropong pohon melinjo yang sejarak dengan pohon kelapa di sampingnya. Dia masih berjarak 7 menter dari si melinjo yang meranum. Pohon itu dijaga 4 ekor angsa, sepasang induk dengan dua anaknya. Mereka masih berenang-renang di kolam Lele Dumbo yang tak jauh pula darisana.
“Nanti Mamak kasikan kao main Mario Bross. Panjatkanlah dulu!”
Apa boleh buat, batin anak itu berkata. Dia pun berjalan menuju si melinjo tanpa beralas kaki. Sejenak lengang, lalu tiba-tiba….. Srooooot!! Sroootttt!!! Si induk angsa jantan menyosor kaki anak itu.

“Mamakkkkkk…. Mamaakkkkkkk…..” Anak itu tunggang langgang. Dan secepat kilat dia menaiki si melinjo sebagai tujuan sekaligus pelarian.
“Hehe… Bisa juga awak naek”, lega. Anak itu sudah bertengger di pohon melinjo yang lambai menjulang. Mematuhi ibunya demi sebuah hiburan yang dijanjikan, ‘medium rekreasi imajinasi’ pada masa itu.

HANA

 

20 Tahun kemudian…….
Pohon melinjo sudah ditebang, Angsa tak ada yang merawat, tinggal kolam Lele Dumbo yang ditumbuhi eceng gondok. Si pemanjat pohon melinjo bahkan sudah memiliki anak. Kini giliran dia, menemani anak-anaknya. Berusaha memahami anak-anaknya, akan letak definisi bahagia pada hari ini. Gawai bukan lagi benda mewah, semua orang punya, hanya beda tipe. Saking kepunyaannya orang-orang pada benda ini, sampai anak kecil pun bisa mengakses benda segala bisa tersebut. Kalau ingin nonton Sailor Moon, mereka tidak perlu menunggu hari minggu jam 8 pagi. Cukup memasukkan keyword, dan langsung bisa melihatnya kapanpun, dimanapun. Canggih ya!
.
.
.
.
“Maryam… Hana…. Hari ini kita mau kemana ya? Ke Jungle atau ke Kuntum?”, Ibu Gigi Kelinci itu berpura-pura meminta bersetujuan anak balitanya. Tanpa persetujuan pun, sebenarnya dia sudah mempertegas mereka akan kemana. Jadi, meminta tanggapan itu semacam alat komunikasi saja.

IYANG

Kuntum FarmVille, tak jauh dari Jalan Raya Tajur, Bogor…
Tiket masuknya, Rp.40.000/orang. Bukan main! Apa sih yang ada di dalam sana, mahalnya gini-gini amat. Hatinya bertanya-tanya. Kali ini, Si Ibu Gikel (Gigi Kelinci) ingin memperkenalkan dua anak perempuannnya dengan alam bebas.
“Heyy lihat…. Ada kelinci !!! “, jerit anak gempal, Hana namanya.
“Yes! It’s Rabbit… Where’s the carrot? Lets go!”, Maryam, kakak si gempal, senang sekali berbicara dalam Bahasa Inggris. Bu Gikel membelikan pakan kelinci seharga 5 ribu, yang dijaja di samping kandang kelinci. Ya sodara-sodara, tidak gratis ya tapi bayar!

“Cow…. Chicken…. Kambing…. Horse…. Fish… Rusa….” Dengan kepolosan, Maryam menyebut nama-nama binatang yang dilihatnya secara bergantian, dengan bahasa berlainan pula.
Perempuan itu menyapu sekeliling area rekreasi yang berdiri dengan nama “Kuntum FarmVille”. Area peternakan buatan, yang cukup luas. Ternak di kandang, tumbuhan dicagar, dan umbi-umbian yang ditanam rapi (yang malah terkesan kurang alami). Tempat itu dipugar di tengah-tengah perkotaan. Seolah orang-orang kota punya portal menghilangkan kepenatan. Maryam dan Hana, gembira sekali, tidak habis-habisnya mengeksplorasi. Mereka melupakan dunia gawai yang maya sejenak dalam pikiran mereka. Dan mereka happy ketika segalanya bisa disentuh, dengan sentuhan yang sebenar-benarnya.

.
.
.

BUNDA
Si Ibu Gikel berdiri menyender di pohon yang sedang berbuah. Tertulis jelas, dengan papan tegas, berjudul “Pohon Sukun”. Kepada suami dia berkata:
“Yaeyalahhhh pohon sukun! Siapa juga tahu ini pohon sukun”, dengan bibir monyong dia mentoel papan-nama itu. Sekonyong-konyong, ia meralat pernyataannya sendiri. Hemm, mungkin bagi aku semua ini biasa, sangat biasa…. Ini cuma permainan kampung, tumbuh-tumbuhan kampung, yang secara gratis bisa dinikmatinya setiap pulang kampung. Tapi bagi anak-anak masa kini, ini lebih dari cukup untuk disebut kemehawan. Mungkin inilah joyfull learning ala sekolah alam, yang kita sudah sama-sama tahu betapa mahalnya.
“Beda jaman…. Beda definisi gini ya Bang”, ucap Bu Gikel bersoloroh menuju pintu keluar Kuntum FarmVille. Rekreasi mewah masa kini, dengan melihat kesederhanaan di masa lampau. [] Alga Biru

 

Read Full Post »

 

SAM_3590.JPG

 

 

Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini.
Sebelum beranjak jauh, teman-teman pasti ingin tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan kang Abik lewat novel Ayat-ayat Cintanya. Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra.
Di setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan. Salah satunya berisi coretan dan gambar-gambar Universitas Al-Azhar, Kairo. Walau bisa disebut pemalas di waktu ‘aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran ilmu alat (nahu dan shorof) dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah akhirnya yang membuatku sampai ke negeri impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif.
Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes kedua langsung di ibukota Jakarta.
Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Alhamdulillah berkat rahmat Allah Ta’ala, dari seribuan calon peserta se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama , dan waktu itu aku tes di kota Jambi. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir telah kami jalani dalam keadaan sehat. Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah.
Persiapanpun dimulai, setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah Minang tercinta. Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut.
Sesampai di Mesir, aku mengalami shock culture dikarenakan banyaknya perbedaan-perbedaan yang aku rasakan di saat awal-awal di Mesir. Salah satunya tentu di saat aku mulai memasuki dunia perkuliahan di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS. Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di Universitas Al-Azhar saat itu.
Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta’ala, akupun bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya.
Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar jami’ wa jami’atan. Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan mengaji (di Mesir istilahnya talaqqi) di masjid Al-Azhar dengan para masyayikh yang mumpuni di bidangnya. Tempat untuk mengaji atau talaqqi tidak hanya di masjid Al-Azhar, ada beberapa medhiyafah yang memberikan tempat untuk menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus memberikan kita “kunci” untuk membuka gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar Asy-Syariif itu sendiri.
Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir dan Indonesia adalah dzauq atau hawa keilmuannya. Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar kepada Doktor-doktor di bidang agama yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau bersungguh-sungguh.

 

SAM_3742.JPG

Berbicara masalah bersungguh-sungguh atau malas lebih enak kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah. Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal nanti sewaktu UAS harus wajib datang kalau tidak ingin rasib alias gagal dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam pengabsenannya, beberapa kali alpha maka bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya.
Inilah uniknya kampus Al-Azhar di mataku. Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta’ala.
Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit, noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak ketolongan. Disaat-saat imtihan atau ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Penolong.
Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di perkuliahan dan talaqqi saja, banyak juga masisr diantaranya yang bekerja dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi. Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di sebuah warung makan, menjadi agen travel, tour guide¸bimbingan belajar dan bahkan bekerja di vila-vila mewah.
Apapun kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat, ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang didapat. Di Mesir kaidah fokus dan balance dalam setiap pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! [Kontributor : Assa Dullah Rouf/Mesir]

 

Read Full Post »

Saya bukan pecinta musik, apalagi maniak. Jadi nggak tahu juga musik yang cetar itu kayak apa. Tapi saya masih ingat, dari SMP sampai SMA saya masih punya koleksi kaset-kaset yang diputer side A balik side B di Tape. Country music jadi salah satu aliran musik yang tampaknya cocok didengar telinga saya.

Tahun 2000, konon Billboard dirajai oleh suara emas seorang anak bernama Billy Gilman yang menarik hati jutaan pendengarnya lewat single One Voice. Pertama kali saya mendengarnya pada ajang Grammy, liat di televisi, nggak sengaja kebuka. Langsung saya catat namanya, liat reviewnya di yahoo (waktu itu kayaknya lebih ngetop yahoo daripada google). Album One Voice sendiri saya beli 2 keping. Satu untuk didengerin, satu lagi segelnya sengaja nggak dibuka, untuk pajangan dan cadangan. (Ngerasain juga apa yang namanya “ngefans”). Hehe.

Lahir album seterusnya, Dare to Dream, yang edisi natal saya nggak beli.  Di album ini mulai kerasa yang namanya anak puber, suaranya pecah, nggak enak, dan ternyata benar, abis itu Billy nggak ngeluarin album lagi.

11 tahun berlalu sejak One Voice dan turunannya melegenda. Waktu berputar, dan saya sepertinya makin tidak tahu soal musik. Terakhir kali suami saya berkicau “someone like you”-Adele, saya bilang itu suara laki-laki. Belakangan saya baru tahu Adele itu perempuan. Hehehe. Unik juga suaranya.

billy-gilman-2014-lost-in-translation-billboard-650

Masih tataran iseng, saya cari di google (nah kali ini pakai google ya), Billy Gilman dan rumornya. Waoww… udah balik bermusik lagi rupanya. Jadi udah ada lagu barunya gitu. Yang saya kaji pertama kali ialah giginya (Dasarnya saya dokter gigi ya). Jadi guys,,, bonengnya Billy Gilman udah raib. Keren deh. Emang dunia kedokteran gigi dan material sekarang juga canggih-canggih sih ya.

Tak cuma gigi, rupanya Billy pun sudah merubah identitas dan status orientasi seksual. Wow ! Untung saya bukan fans gilak ya… Kalau kagak kan depresi juga. hahaha. Iyap betul. Jadi tahun lalu, kalau nggak salah, dia bikin video My Story, bikin  pernyataan bahwa dia adalah… jreng jreng…. “Billy Gilman comes out as gay” .

Pernyataan ini membuat geger dunia country music, dan ini kali kedua (seingat saya) ada artis country yang secara terbuka menjadi gay setelah Ty Herndon.

Nambah deh daftar muka tampan yang berhomoseksual. Kalau dibilang tren, emang LGBT sekarang lagi jadi tren. Atau lebih tepatnya, sekarang trennya orang menjadi “diri sendiri” dan insyaf diri . Yang mendekat/tobat akan makin tobat, yang berlari/sesat akan tersesat dengan sendirinya. Ya, jadi diri sendiri. Artinya, jalan hidup apa yang kamu ambil, kalau orang lain ngga suka, harus siap dong tidak disukai. Benci adalah benci, suka adalah suka. Pro atau kontra. Hak dan batil bersaingan, tidak ketemu dan biarkan saja begitu. Dulu jaman nabi pun, istri sendiri tidak terselamatkan.

 

Kebahagiaan itu memang harus diperjuangkan, dan jangan sampai kita salah dalam memperjuangkan sesuatu. Kita sulit mencerna sesuatu “kenapa saya begini”, maka kita harus mencari sesuatu yang layak untuk dipercaya, diyakini, singkat kata yang diimani.

 

“Apabila seorang hamba mendekatiKu sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Dan apabila hambaku mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan Berlari” (Hadist Qutsi

 

 

Read Full Post »

Buat yang senang Film India melebihi sebatas goyang dan cinta termehek-mehek, tentu kamu ingat satu film bagus khas Amir Khan berjudul “Taarae Zameen Par”. Filmnya udah lama banget ya, mungkin sekitar 8-9 tahun lalu. Dan pastinya masih ingat aktor utamanya si Anak Berkebutuhan Khusus dalam hal membaca (aduh saya lupa istilah kerennya). Ya, pokoknya si Anak itulah, yang giginya supperrrr monyong, gede, asli UNIK banget. Takkan terlupakan itu gigi canggih. Suami saya aja geleng-geleng terus kalo nonton :”Ya Allah… itu gigi”.  Yeah… terlepas dari urusan gigi, akting anaknya keren, matanya tajam, dan kelihatan lincah. Disokong ide cerita yang bagus, film itu pantas dikasi bintang 4.

Yang masih nggak ngeh, sila baca kisi-kisi filmnya ya: Film Taare Zameen Par

tare3

Ishaan diperankan oleh aktor dengan nama asli Darsheel Safary. Hemm, seperti apa ya Darsheel sekarang? Masyaallah….. ajaib mungkin, nge-wow lebih tepatnya. Ternyata pria muda ini tumbuh cepat dan berkarakter, kece…. dan kita tahu, setiap orang memang bisa berubah. Apalagi sekedar perkara fisik. Gampang banget ngerubahnya, disokong dunia kedokteran dan medis yang makin canggih sekarang ini.

taraetarae2

Hemm,,, beda banget ya. Jadi, buat cewe atau cowo yang memilih teman berdasarkan tampang, kayaknya itu poin yang perlu untuk dipertanyakan.  Seseorang yang memiliki visi dan misi hidup, pasti tahu “harus mengapakan perkara fisik ini”. Buat cewek yang ngerasa cakep, ini jadi ujian. Bener nggak sih calon pasangan yang deketin itu niatnya lurus? atau cuma pengen bagian cakep-cakepnya aja. Kalau udah keriput gimana. Carilah yang seiman, berkepribadian, memiliki integritas, yang tentunya janji alias omongannya bisa dipercaya. Jangan gampang percaya sebelum jelas urusannya. Okeyyy….Itu aja pesan sponsor dari tulisan saya 🙂

 

Read Full Post »

Oleh Abduldaem Al-Kaheel

Ketika para ilmuwan mengamati Stellar Collapse di Galactic Center, kita mungkin menemukan sinyal Quran yang luar biasa di dalam ayat,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى

“Demi bintang ketika terbenam.” (QS An-Najm [53]: 1)

Ilmuwan Astronomi dan galaksi mulai memeriksa informasi baru yang berasal dari pusat galaksi yang berisi planet kita. Informasi ini merupakan data primer yang selanjutnya dapat mengungkapkan inti galaksi yang masif ini. Para ilmuwan juga memulai menganalisis data yang menarik ini diperoleh bentuk pengamatan berlanjut dan diobvervasi dengan salah satu teleskop terbesar di dunia, Gemini North di Observatorium Gemini, Hawaii, lautan Pasifik.

Gambar menarik ini menunjukkan runtuhnya bintang dengan awan kosmis sangat besar di inti galaksi Bima Sakti. Para ilmuwan percaya bahwa gambar-gambar ini akan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang akan mengubah pemahaman saat ini tentang pusat galaksi.

Bintang aneh, yang memiliki nama taksonomi ARS 8, menurut para ilmuwan, adalah massa kumpulan gas sampai dekat Gemini Utara. Teknik optikal yang digunakan di dalamnya menunjukkan bahwa gambar ini adalah bintang ambruk di kosmik gas dan awan debu dekat pusat galaksi.

Pengungkapan tentang bintang ini dianggap sebagai keberhasilan besar dalam upaya memahami hakikat inti galaksi melalui pengetahuan ilmuwan tentang bagaimana bintang-bintang dan gas kosmis bergerak relatif, juga studi intensif komponen awan gas, keadaan dan kondisi iklim yang mengelilingi bintang. Hal ini berarti bahwa metode ilmiah baru dalam mencari rincian pada pusat galaksi Bima Sakti akan dikembangkan kemudian.
Pusat galaksi, menurut para ilmuwan, adalah sebuah tempat yang menarik dan aneh, karena mungkin untuk mengamati lingkaran cincin gas kosmik dan bintang-bintang yang berputar dengan cepat di sekitar Black Hole sangat besar oleh ukuran-ukuran kosmis.

Gambar: bintang yang sangat cemerlang bergerak di alam semesta yang luas. Para ilmuwan mengatakan bahwa semua bintang bergerak dengan cepat dan bahwa tidak ada bintang yang tenang, seperti yang terpikir di masa lalu. Allah yang Maha Perkasa menyatakan di dalam Alquran: “Mereka masing-masing mengambang dalam garis edarnya.” (Yasin: 40). Sumber: NASA.

Gambar The Brilian Galaxy M101. Para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta memiliki milyaran galaksi yang masing-masing terdiri dari miliaran bintang. Semua bintang berputar dan bergerak, beberapa di antaranya runtuh ke pusat galaksi, beberapa bintang membentur bintang lain, dan ada lebih banyak hal yang tidak ada yang tahu kecuali Allah Ta’ala.

Yang mengejutkan tentang wahyu ini adalah bahwa Alquran telah menunjukkan fakta Stellar Collapse dan bintang rotasi cepat. Allah berfirman:

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS An-Najm [53]: 1-5)

Ayat-ayat ini menyebutkan banyak karakter yang dimiliki semua bintang seperti: bintang runtuh, bintang cepat rotasi, semua bintang kehabisan bahan bakar lalu runtuh dan meledak. Oleh karena itu, kata hawa (runtuh atau jatuh) dalam ayat pertama secara akurat dapat mengekspresikan fenomena ini.

Oleh karena itu, Allah swt, telah bersumpah dengan fenomena ini yang kita menyadari baru-baru ini bahwa Rasul, Muhammad saw, tidak berbicara menurut keinginan sendiri dan bahwa setiap kata yang dikatakan adalah wahyu dari Allah. Seolah-olah Allah Ta’ala ingin berkata kepada setiap orang yang mencurigai kejujuran Muhammad bahwa saat ketika ia menemukan fenomena ini dan observatorium mendeteksi gambar-gambar yang ia tidak akan pernah meragukan antara bintang runtuh.

Selama Anda tidak meragukan fenomena menakjubkan yang ditemukan sekarang, padahal ia tidak diketahui pada saat Al-Quran diturunkan, maka Anda harus menyadari bahwa Al-Qur’an ini bersumber dari Allah Ta’ala.

Akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa riset dan studi dapat berfungsi sebagai bukti nyata tentang kejujuran Alquran dan pesan Islam.

Read Full Post »

Pilem Serem

MAKJANG !!!! NGERI KALI PILEMNYA !! PENGEEEENNNN !!

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis agar waras

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis agar waras