Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2010

Memunggungimu untuk bertarung di sarang laba-laba

Mencacahi hujan dan waktu, menunggu embun membasahi dedaunan.

Akulah kawan senasib yang takkan membiarkanmu disakiti (lagi)

Akulah pekerja keras yang menghapus bekas luka tak terperi



Engkau adalah bidadari di jaring laba-laba

Ingin aku membebaskanmu dari ikatan jala-jala

Butuh seribu keringat yang jatuh

Lolongan permintaaan dan doa yang tidak pupus

Rumah laba-laba itu akan putus

Kelabu akan menjadi abu

Embun akan datang

Mentari akan menyinari wajahmu



Aku ingin melihatmu satu

Aku tak sabar menjumpai untuk satu

Aku hendak mengajakmu menjadi satu

Aku dan kamu, satu…

Oleh: Alga

26 Januari 2010, 23:10

โ€Ksatria Membebaskan Bidadari di Jaring Laba-labaโ€–> Syair paling aneh yang pernah ada di kepalaku…. ahhh.

Read Full Post »

beberapa ciri ciri para pegiat anti khilafah hasil rekomendasi yang diinginkan hana stewart dan zeyno baran yg anti khilafah dan juga anti kepada hizbut tahrir adalah sebagai berikut;

1. dia bisa jadi beragama islam tapi moderat yg pro barat, bisa juga dia bilang setuju syariat tapi realitasnya anti khilafah yang sangat.
dgn gaya bahasa santun sesekali pake dalil untuk opini bahwa dia seorang yang “berilmu/tafaqquh fiddien” dgn tujuan mengambil simpati dari umat untuk digiring pada arus berfikirnya yg moderat. dia lupa banyak umat yang masih kritis dan berakal sehat hingga mudah membedakan mana moderat pro barat dan mana pejuang yang ikhlas kepada Allah swt.

2. kerjaannya suka lebih tepatnya sering menuduh dengan dengki dan menebar fitnah keji pada perjuangan khilafah dan pejuangnya dimana mana, tentu saja dgn paradigma berfikir yangg usang yakni “generalisir” hingga seringkali salah alamat ๐Ÿ™‚ disangkanya pejuang khilafah padahal bukan…

3. mencari sisi sisi lemah/manusiawi dari karakter para pejuang khilafah, dan darinya dijadikan senjata dalam upaya Character assassination/”pembunuhan karakter” pada pejuang khilafah, endingnya supaya umat membenci dan menjauhi para pejuang khilafah. karena mereka (pegiat anti khilafah) memahami psikologi org2 indonesia yang tidak suka temperament/emosional yg meledak ledak…hingga hal ini jadi makanan empuk buat menimpuk para pejuang khilafah. suatu saat umat akan tau bahwa karakter keras, tegas, lemah lembut adalah bukan ukuran dan itu semua hal yang biasa melekat pada insan manusia yang lemah.

4. berupaya mengkaitkan perjuangan khilafah identik dgn perjuangan yang memakai cara cara kekerasan. maka tidak jarang mereka berkomentar yg bersifat provokatif agar pejuang khilafah “kelihatan salah langkah dan membenarkan upaya kekerasan fisik” padahal umat faham menegakkan khilafah tidak dibenarkan dgn kekerasan fisik.

5. beberapa orang disetting seperti pejuang khilafah beneran padahal bukan, cirinya pintar memberikan “kesan” ke publik, bahwa dia sebagai pejuang syariah dan khilafah dgn memakai profil image arroyah alliwa’ , fb-nya bisa jadi nge-link ke hizbut-tahrir.or.id, sesekali copas dari situs tersebut buat argumentasi di forum /grup diskusi meski ga nyambung pd inti permasalahannya, tapi kerjaannya mengiringi langkah “agen barat” penebar fitnah, dia salah, bahwa pejuang khilafah bisa di ukur dengan fikrah dan syakhsiyyahnya.

bumi Allah yang rindu dibebaskan,12012010
saudaramu yang dhoif…

.::pemberontakyangkesepian

::.
Andiy Qutuz Leonidaz

Read Full Post »

Cinta, Waktu dan Guci

Meskipun lari ke ujung dunia

Kalau berjodoh, takkan kemana

Kau akan menemukan jodohmu

Seperti adam dan hawa yang kembali bertemu

Jodohmu tak mengenal tua dan lekang oleh waktu

Seumpama abu kremasi

yang dimasukkan dalam guci dan labu

-23 Januari 2010

Oleh: Alga Biru (Renungan jeda sederhana)

Read Full Post »

Dakwah adalah suatu kewajiban yang telah Allah pesankan pada seluruh manusia. Tidak terbagi apakah dia laki-laki ataupun perempuan. Dakwah juga tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Dakwah juga tidak dibatasi oleh wasilah yang digunakan untuk menyampaikan seruan Allah. Dakwah adalah kewajiban mulia yang dijalankan oleh para Nabi dan Rasul, lalu dilanjutkan oleh para pewarisnya dari kalangan para ulama dan kaum muslim semuanya.

Dakwah pasti melibatkan wasilah (cara). Fakta masa sekarang menunjukkan, dakwah tidak hanya terjadi lewat wasilahkonvensional dan tradisional saja, melainkan sudah ramai terjadi dalam wasilah yang lebih kontemporer dan modern seperti lewat audio-video dan yang paling ramai adalah internet dan turunannya seperti forum mailing list, forum diskusi, forum jejaring sosial, messenger, chatting, blog dan website dan cara-cara yang lainnya.

Sayangnya, banyak diantara wasilah-wasilah dakwah dan niat-niat dakwah yang baik ini akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mudharat dan tidak bermanfaat. Saya sendiri secara pribadi merasa sedih dan kecewa ketika menyaksikan sebagian ummat muslim yang seharusnya lebih faham daripada sebagian yang lainnya akhirnya terjebak (mungkin tanpa sadar) aktivitas keharaman dalam wasilah modern internet ini. Oleh karena itu saya mencoba untuk menulis sebuah penjelasan tentang panduan-pamduan dakwah khususnya lewat media internet ini agar seorang muslim dapat lebih bijaksana dan syarโ€™i dalam memanfaatkannya.

Berdakwah di dunia maya tidaklah sama dibandingkan dengan dakwah di dunia nyata. Di dunia nyata kita mengetahui siapa objek dakwah kita secara langsung dan melihatnya secara fisik, terjadi kontak mata dan komunikasi dapat berlangsung secara hampir sempurna. Berbeda dengan dunia maya, yang kita tidak mengetahui objek dakwah kita dan kontak yang terjadi biasanya hanya lewat tulisan dan gambar. Karena itu bisa dikatakan dakwah di dunia nyata memiliki keterbatasan dibandingkan dunia nyata.

A. Debat di dunia maya
Dalam dunia maya, acapkali kita melihat diskusi atau debat yang terjadi dalam membahas suatu masalah. Memang betul, debat (jidal) adalah suatu cara untuk berdakwah dan itu diperbolehkan Allah swt, sebagaimana yang disampaikan-Nya dalam al-Qurโ€™an

ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS an-Nahl [16]: 125)

ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุชูุฌูŽุงุฏูู„ููƒูŽ ูููŠ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง ูˆูŽุชูŽุดู’ุชูŽูƒููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุชูŽุญูŽุงูˆูุฑูŽูƒูู…ูŽุง ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุจูŽุตููŠุฑูŒ
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Mujaadilah [58]: 1)

Selain memperbolehkan wasilah debat atau diskusi ini, Allah dan rasul-Nya pun telah menentukan aturan-aturan dalam melakukan debat ini. Secara garis besar anjuran debat dalam Islam ini adalah:

1. Debat dilakukan dalam tataran ide yang sedang diperdebatkan
Debat dilakukan dengan menyerang dan menjatuhkan argumentasi-argumentasi yang batil, lalu memberikan argumentasi-argumentasi yang jitu dan benar, berdasarkan kajian hingga sampai pada suatu kebenaran. Karena itu, seperti telah disebut, debat mengandung dua sifat, yaitu merobohkan dan membangun; menjatuhkan dan menegakkan argumentasi-argumentasi. Di antara teladan cara debat yang diajarkan al-Quran adalah:

ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุญูŽุงุฌูŽู‘ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูููŠ ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุขุชูŽุงู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ู ุฑูŽุจูู‘ูŠูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุญู’ูŠููŠ ูˆูŽูŠูู…ููŠุชู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูุญู’ูŠููŠ ูˆูŽุฃูู…ููŠุชู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุจูุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ููŽุฃู’ุชู ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ููŽุจูู‡ูุชูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽููŽุฑูŽ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu;
(QS al-Baqarah [2]: 258)

2. Debat dilakukan dengan cara yang baik (ahsan) sebagaimana yang diperintahkan Allah
Maksudnya dilakukan dengan menggunakan patokan yang sama, yaitu al-Qurโ€™an dan al-Hadits. Bukan berpatokan pada โ€œpokokโ€nya, atau โ€œkataโ€nya, ataupun dengan akal pikiran. Kalaupun menggunakan akal, maka haruslah dengan menggunakan pemikiran yang rasional, bukan persangkaan ataupun filsafat.

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุงูŽุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ุงูŽูˆู’ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุชู’
Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam (HR. Bukhari Muslim)

ุฃู…ุง ุจุนุฏ ูุฅู† ุฃุตุฏู‚ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุฎูŠุฑ ุงู„ู‡ุฏูŠ ู‡ุฏูŠ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…
Amma baโ€™du: sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู†ูŽุฒูŽู‘ู„ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an (QS az-Zumar [39]: 23)

ุนูŽู†ู’ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุจูุงู„ุฑู‘ูŽุฃู’ูŠู ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุณู’ููŽู„ู ุงู„ู’ุฎููู‘ู ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุญู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽุงู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู…ู’ุณูŽุญู ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูŽุงู‡ูุฑู ุฎููู‘ูŽูŠู’ู‡ู
Diriwayatkan daripada โ€˜Ali bin Abi Talib katanya: โ€œJika agama itu dibangun dengan akal pikiran tentu saja bagian bawah khuf lebih patut disapu daripada bahagian atas. Sesungguhnya saya melihat Rasulullah s.a.w. menyapu di bahagain atas khufnya. (HR. Abu Dawud)

3. Menghindari berkata yang buruk, keji, mencaci atau memaki individu
Ketika berdebat, kita benar-benar harus mengingat bahwa yang kita debat adalah ide yang disampaikan, bukan individu yang menyampaikan, sehingga kita tidak boleh menyerang secara individual dan menggunakan kata-kata yang tidak mencerminkan keimanan kepada Allah.

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ุทูŽู‘ุนูŽู‘ุงู†ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ุนูŽู‘ุงู†ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู„ู’ููŽุงุญูุดู ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฐููŠุกู. ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงู„ุชูู‘ุฑู’ู…ูุฐููŠูู‘ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ
Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji (HR. Tirmidzi)

4. Tidak mencari-cari perdebatan atau senang dengan perdebatan
Al-Qurโ€™an telah menjadikan debat sebagai salah satu cara dalam menyampaikan kebenaran Islam, tapi bukan berarti al-Qurโ€™an memerintahkan kita untuk senang dalam berdebat atau mencari-cari perdebatan. Seorang mukmin seharusnya memahami bahwa perdebatan adalah salah satu bagian dari dakwah dan jalan terakhir dalam dakwah, bukan malah mengawali dakwah dengan perdebatan.

ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุง ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนููˆุง ููŽุชูŽูู’ุดูŽู„ููˆุง ูˆูŽุชูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุฑููŠุญููƒูู…ู’ ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑููˆุง ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุงุจูุฑููŠู†ูŽ
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS al-Anfaal [8]: 46)

5. Perhatikan siapa yang menjadi partner debat/diskusi
Pertama-tama kali yang harus diperhatikan adalah siapa partner debat atau diskusi kita, karena partner debat/diskusi seharusnya seseorang yang memang menginginkan dan mencari kebenaran, bukan hanya menyenangi debat atau menjadikan debat untuk memperolok-olok agama Islam.

ู…ูŽุง ุถูŽู„ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู‡ูุฏู‹ู‰ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ุฌูŽุฏูŽู„ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽู„ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉูŽ: ู…ูŽุง ุถูŽุฑูŽุจููˆู‡ู ู„ูŽูƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฌูŽุฏูŽู„ู‹ุง ุจูŽู„ู’ ู‡ูู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ุฎูŽุตูู…ููˆู†ูŽ
โ€œTidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebatโ€ Kemudian Rasulullah saw membaca ayat: โ€œMereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [QS Az-Zukhruf [43]: 58]โ€ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, tidak semua manusia yang diseru dengan ayat-ayat al-Qurโ€™an akan bertambah keimanannya, Allah memperingatkan bahwa ada juga yang justru bertambah kekafirannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Maka ayat Allah tidak layak dibacakan untuk orang setipe ini.

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุฑูŽุถูŒ ููŽุฒูŽุงุฏูŽุชู’ู‡ูู…ู’ ุฑูุฌู’ุณู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูุฌู’ุณูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุงุชููˆุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (QS at-Taubah [9]: 125)

Dan bila sudah kita pastikan bahwa partner diskusi kita adalah termasuk orang munafik ataupun kafir yang memang bukan mencari kebenaran dalam debat dan diskusi, maka segeralah meninggalkan orang yang semacam ini lalu beristighfar pada Allah karena kita telah melakukan hal yang tidak bermanfaat.

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฎููˆุถููˆู†ูŽ ูููŠ ุขูŠูŽุงุชูู†ูŽุง ููŽุฃูŽุนู’ุฑูุถู’ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฎููˆุถููˆุง ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆูŽุฅูู…ูŽู‘ุง ูŠูู†ู’ุณููŠูŽู†ูŽู‘ูƒูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ููŽู„ุง ุชูŽู‚ู’ุนูุฏู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฐูู‘ูƒู’ุฑูŽู‰ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู†ูŽ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (QS al-Anโ€™am [6]: 68)

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุฒูŽู‘ู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฃูŽู†ู’ ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠููƒู’ููŽุฑู ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูุณู’ุชูŽู‡ู’ุฒูŽุฃู ุจูู‡ูŽุง ููŽู„ุง ุชูŽู‚ู’ุนูุฏููˆุง ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฎููˆุถููˆุง ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุฅูุฐู‹ุง ู…ูุซู’ู„ูู‡ูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฌูŽุงู…ูุนู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ูููŠ ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง
Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam
(TQS an-Nisaa [4]: 140)

Maksud โ€œduduk bersama/besertaโ€ adalah berada dalam suatu forum, sehingga seolah-olah dengan adanya kita disitu menjadi legitimasi dalam proses memperolok ayat-ayat Allah.

Imam asy-Syafiโ€™i sendiri berkata perihal berdebat dengan orang semacam ini:

ู…ูŽุง ู†ูŽุงุธูŽุฑู’ุชู ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู… ุฅู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ
โ€œAku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal ituโ€.

Sedangkan Imam Malik berkata:

โ€œTermasuk merendahkan dan meremehkan ilmu jika seseorang membicarakan ilmu di hadapan orang yang tidak mentaati ilmu ituโ€.

Dan al-Auzaโ€™i juga menyampaikan:

ุฅุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ุดูŽุฑู‘ู‹ุง ููŽุชูŽุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ุฌูุฏูŽุงู„ูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ูŽ
โ€œJika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.โ€

Daripada melayani orang semacam ini lebih baik kita beramal shalih. Ingat, meghabiskan waktu 30 menit untuk mendebat orang semacam ini berarti kita membuang kesempatan untuk berdakwah selama 30 menit kepada orang yang mau mendengarkan. Lebih baik beramal daripada mendebat orang yang tidak ingin mencari kebenaran.

6. Perhatikan apa yang akan diperdebatkan/didiskusikan
Seorang mukmin tidak akan menceburkan dirinya dalam perkara-perkara yang seharusnya tidak didiskusikan, dalam perkara yang tidak bermanfaat, dan juga dalam perkara-perkara yang tidak akan meningkatkan keimanan ketika mendebat/mendiskusikannya.

Dalam berdiskusi, kita hanya boleh membahas hal-hal yang telah Allah perbolehkan untuk mendiskusikannya, dan menjauhi perkara yang telah dilarang atau dimakruhkan untuk mendiskusikannya. Termasuk perkara ini adalah mendebat Allah dan ayat-ayat-Nya.

ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูŠูุฌูŽุงุฏูู„ููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ู…ูุญูŽุงู„ู
dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.(QS ar-Ra’du [13]: 13)

ุฌูุฏูŽุงู„ูŒ ูููŠ ุงู’ู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู ูƒููู’ุฑูŒ
Berdebat tentang al-Qurโ€™an adalah kufur (HR. Ahmad Syakir)

Selain itu, kita juga diperintahkan untuk jangan terlalu dalam dalam memperdebatkan sesuatu yang ghaib semacam takdir, eksistensi Allah dan yang semacamnya

Diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika diperbincangkan tentang sahabatku maka hentikanlah, jika diperbincangkan tentang ilmu nujum maka hentikanlah, dan jika diperbincangkan tentang takdir, maka hentikanlah,” (Hasan, lihat kitab ash-Shahihah [34]).

7. Tinggalkan perdebatan di forum-forum umum yang tidak terbatas
Seperti yang telah disampaikan di atas, tujuan perdebatan adalah menegakkan yang benar dan menjatuhkan yang salah, atau sederhananya merubah dari yang buruk menjadi yang baik. Apabila perdebatan ini dilakukan di forum-forum umum ataupun wasilah umum yang dapat terlihat oleh publik, maka sesungguhnhya perdebatan semacam ini akan lebih banyak mudharatnya bagi yang lain, dan pasti akan menjadi perdebatan yang tidak berujung.

Saat ini banyak kita liat, di forum-forum diskusi, wall facebook, milis ataupun yang lain, perdebatan yang tidak bermanfaat muncul. Dan dalam forum semacam ini tidak ada moderator yang memoderasi pendapat-pendapat yang muncul disitu. Sehingga semua jenis pendapat mulai dari yang benar dan salah bisa bercampur disitu dan tidak jarang terdapat makian, hasutan, penghinaan, provokasi dan lainnya yang jelas tidak akan membawa kebaikan dan manfaat bagi keimanan. Disitu pula terkadang emosi yang banyak bermain, dan ini dilihat oleh banyak orang dan menimbulkan suatu preseden buruk. Dan jelas hal-hal seperti ini menimbulkan mudharat dan haram hukumnya. Sedangkan kaidah fiqh menyatakan: “wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan ke keharaman maka wasilah itu haram”. Maka berdebat di internet dalam forum-forum umum dan bisa diakses semua orang tanpa moderasi adalah haram.

Jika kita benar-benar ingin menasehati dan berdebat dengan ahsan, undanglah partner debat/diskusi kita untuk off air, kopi darat, lalu diskusikan dan debatlah dengan empat mata atau lebih, ini lebih baik daripada kita berdebat dan berdiskusi di forum umum maya.

Walhasil, saya hanya ingin menyampaikan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk mendebat orang-orang yang memang tidak ingin mencari kebenaran. Dan bila kita menemui komentar-komentar yang menyerang Islam di internet, janganlah terburu-buru untuk mendebatnya, karena itulah yang mereka inginkan. Bila kita menemui komentar apapun di internet, maka ada dua pilihan: 1) bila kita suka kita baca dan amalkan, 2) bila kita tidak suka tutup saja.

Bersambung ke bagian B. Etika Posting dan Bersikap

Akhukum Fillah,
Felix Siauw

Read Full Post »

Sembilan Puluh Menit dan Hujan

Namaku Resti. Amat penting bagiku memiliki rasa setia kawan, penghormatan pada yang lebih tua dan menggembirakan sejawat. Walau begitu, aku enggan nongkrong-nongkrong. Tidur di kamar kost lebih bermanfaat daripada nongkrong. Tidur lebih berarti ketimbang membuang-buang karbondioksida dengan sia-sia di tempat tongkrongan dengan sekumpulan orang yang tidak ingin kehilangan gengsi. Demi menghargai sebuah ajakan mulia, kali ini aku memilih โ€™nongkrongโ€™. Hemm, tepatnya menjadi seorang pendengar budiman. Tongkrongan dalam ceramah sembilan puluh menit.

Detik-detik ini terasa lama, jam dinding itu seperti kura-kura. Lambat, bagai tetesan air keran macet. โ€Menit ke enam puluh lima, bersisa dua puluh lima menit lagiโ€ batinku. Aku masih duduku bersila. Setelah aku memutar posisi dudukku ke kanan, ke kiri dan nyaris setengah menjongkok. Aku menahan diri dengan segala rupa agar pertemuan berdurasi seratus delapan puluh menit ini ditutup dengan salam. Jujur, pertemuan ini cukup spektakuler. Hanya sayang, aku memang tipe yang gampang bosan. Rasa bosan itu mampu kujerjaki di lima puluh menit pertama. Selebihnya adalah perjuangan melawan kantuk dan lalat yang hinggap.

Bagiku, pantang rasa kantuk ini ketahuan. Maka jangan heran, jika perilaku menghitung detik, mengusir lalat, memutar bola mata, dan mengangguk-anggukan kepala disebut sebagai metode pengalihan kantuk. Setidaknya bagiku, gadis yang setia menghitung detik.

โ€Gimana adik-adik, cukup jelas tidak pemahaman islam barusan?โ€ Di menit ke seratus, sang pementor bertanya. Aku menggeleng, bukan karena kantuk, tapi memang tidak ada pertanyaan sejauh ini. Dua orang lainnya masih diam , belum menggelontorkan semacam pertanyaan maupun sanggahan.

Satu, dua, tiga, empat. Aku menghitung jumlah kepala yang hadir di forum ini termasuk kepalaku. Kami orang-orang yang tak saling kenal yang kemudian dikumpulkan. Agenda ini bersifat mingguan berdurasi sembilan puluh menit. Forum dengan formasi setengah lingkaran ini tidak memiliki banyak menu dan aku telah memenuhi syarat. Seorang pemimpin forum yang disebut pementor, setia hadir membawakan tema yang konon sudah dirancang susah payah semalam suntuk.

Untuk forum seperti ini, aku perlu memasang telinga yang mendengar, kemauan dan rasa menghargai kepada penyaji. Dan itulah pula yang membawaku tetap bertahan untuk menghitung detik dan mengusir lalat di menit-menit sisa. Bagiku, menghargai ย orang lain seumpama momen genting si anak penyu yang berjuang keras menggapai pantai. Jika kelewatan dan tidak lekas mencari sela, situasi saling menghargai itu akan luput. Hubungan pertemanan bisa karam, kekeluargaan bisa mengendur, percintaan akan pupus.

Nalar gampangnya, apakah kau suka jika ketika berbicara lantas ada yang menguap. Itulah yang aku jaga. Kalau bisa, aku tak ingin seorang pun tau aku si pembosan. Aku datang ke forum ini dengan niat kedamaian, sebisa mungkin tidak menodai siapa pun. Termasuk si pementor yang membawa kalam suci dan perkataan suci. Ia tidak dibayar, cukup tuhannya yang membayar. Ia datang bukan karena diundang, justru dialah yang mengundang segenap kami. Aku salut padanya. Rasa salut terbukti mampu membawaku kemari. Walau aku tidak yakin berapa lama lagi energi salut itu bisa membuatku bertahan.

********

Hujan gerimis membasahi tanah gersang. Jika hujan ini berlangsung lebih lama lagi, banjir tidak akan terelekkan. Bumi ini merutuk. Serba salah sudah. Jika hujan, airnya tergenang menjadi garang. Jika kemarau, tanah kerontang dedauan memucat cepat. Gerimis menusuk ini kutahankan. Baru ada dua kepala yang hadir di agenda sembilan puluh menit bersama pementor. Baru ada aku dan dirinya, si pementor yang setia. Dia tidak pernah datang terlambat, meski sehari-harinya selalu jalan kaki.

Sosok itu bernama Meli. Dirinya terpaut dua tahun lebih tua dariku. Keteladanan dan interval diantara kami menambah alasan di dalam diriku untuk tak pupus menghargai akad diantara kami. Meskipun gerimis ini ingin ku hangatkan dalam selimut damai dan tidur siang.

Sepuluh menit waktu berlalu dari yang telah ditentukan. Sejujurnya, aku lebih suka pertemuan atau mentoran kali ini batal saja. Aku tidak nyaman dimentor sendirian. Aku tak sudi menghitung lalat sendirian. Aku ingin melihat tampang dua temanku yang lainnya geser kanan kiri yang membosan. Memang, Kak Meli pernah memberi nasihat agar kami banyak bertaโ€™awuz. Karena boleh jadi itu semata godaan syaithan di dada kami. Menggoda agar kami beranjak dari majelis.

โ€Kak Meli, bagaimana kalau mentoran kali ini diundur saja?โ€ Usulku memberanikan diri.

โ€Hemm… Sayang adik. Kita kan sudah sengaja datang kesini untuk mengkaji. Hujan tidak menghentikan langkah kita. Sekarang tinggal kita mulai saja, mengapa mundur?โ€ Kata-kata keluar dengan lembutnya. Tapi usahaku untuk penggagalan ini belum sampai finis.

โ€Nggak usah aja ya, Kak! Plisss… Saya teringat jemuran di kost. Apalagi saya sedang jemur sepatu Kak. Wah, kalau diambil orang kan sayang. Ya ya? โ€œ ungkapku dengan nada memelas. Bukan Resti namanya jika tidak pandai cari alasan.

Maka benarlah. Kak Meli tak sanggup melawan dan hatinya tertawan sendirian.

โ€Hemm, Ya sudah kalau ada halangan. Minggu depan kita kajian lagi ya. Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknyaโ€

โ€Yaโ€ Cepat saja kukatakan. Secepat hujan yang jatuh ke bumi, bebas hambatan.

********

Sudah berlalu waktu seminggu, tapi serasa baru kemarin. Lagi-lagi, seminggu ini hujan turun bergantian dengan awan mendung. Dari balik tirai jendela, air dari atap langit membasahi bumi seumpama tembakan air bertubi-tubi. Dalam suasana yang sejuk rupa begini, kakiku berat melangkah keluar. Hujan reda dan deras bergantian, namun aku terlanjur beringsut di balik selimut. Menghangat dan lamat-lamat terpejam. Ahh….. Sudahlah, lupakan mentoring sejenak. Kemungkinan teman-temanku yang lain pun telah bermuara di pulau yang sama, pulau kapuk nan nyaman yang mengundang mimpi untuk datang. Zzzz… Zzzz… Zzzz….

********

Empat pesan singkat masuk ke inbox telepon selular kesayanganku. HP sejak tadi di-silent, tidurku praktis bebas dari gangguan. Tapi entah, aku merasa ada getar gundah yang menggelitik. Karena seseorang di tempat lain, ternyata sedari tadi menunggu kedatanganku. Hingga mungkin tubuhnya jenuh menunggu disitu. Lelah bersama detik-detik yang menertawai kesendiriannya.

Aslm Wr Wb. Dek, kk udah nunggu nih. Adek datang mentoring kan?

(14.07, SMS pertama Kak Meli)

Hemm… kk masih nunggu loh. Kalau mau datang, silakan. Ok

(14.17, SMS kedua Kak Meli)

Dek, kalau masih ada kesempatan utk datang, boleh aja. Lebih baik terlambat drpd tdk sama sekali.

(14.45, SMS ketiga. Masih dari orang yang sama)

Woi… Dikau datang mentoring? Wah, aku ngga datang ni. Males uy. Tapi kasihan tu Kโ€™Meli. Kayanya dia nungguinย  qta.

(15.05. Kali ini dari orang berbeda. Namanya Dewi, teman sekelompok mentoringku)

Hatiku berkompetisi. Aku merasa telah berbuat kecurangan, disisi lain aku pun mendapat dukungan. Kak Meli, pementorku, sudah bersusah menunggu meski faktanya para pendengarnya belum tergerak untuk ini. Kami mungkin menganggap bahwa mentoring tak berbeda dengan nongkrong. Sah saja bila tidak datang. Selimut hangat teramat menggoda. Sehingga kewajiban dari langit tertunda. Ya, aku berharap ini hanya tunda saja.

********

Hari yang cerah, bunga-bunga bermekaran indah. Tak boleh lagi ada alasan untuk tidak pergi. Ada rindu mendengar wejangan Kak Meli. Ada getir rasa bersalah selama dua minggu ini. Entah perasaan yang merabai, yang pasti aku ingin bertemu dengannya. Memelas maaf. Aku belum seperti Kak Meli yang tidak terhalang hujan untuk menyampaikan risalah. Aku bahkan belum bisa menyumbangkan waktuku sepenuhnya meski hanya untuk mendengar. Tapi kali ini aku janji, aku tak ingin menghitung detik lagi.

Tik… Tik… Tik…

Detik terus melaju. Namun belum ada seorang pun yang datang seperti biasa. Tidak Kak Meli, tidak yang lainnya. Beginikah rasa sesak menunggu sendirian? Hatiku tiba-tiba haru, membayangkan Kak Meli yang kemarin menunggu seorang diri di tengah deru hujan.

Ahh…. Dan kini aku baru sadar bahwa aku bukan hanya si pembosan, tp juga tidak sabaran. Aku mencari-cari di phonebook digit nomor seluler Kak Meli. Ya! Tuuttt… Tuuutt… Nomor sibuk. Nihil. Cepat jemariku memencet nomor lain, digit nomor Dewi rekan sekelompokku, terpampang di layar. Tak sabar, ingin mendengar sahutannya.

โ€Halo..โ€ terdengar sahutan di seberang

โ€Halo.. Wi, Aku sendirian nih. Dikau dimana? Ngga mentoring? Jangan malas gitu dongโ€ Kataku bertubi, menggurui.

โ€Mentoring? Resti.. Hemm… Belum dapat kabar ya?โ€

โ€Hemm.. Kabar apaan?โ€

Ada jeda. Nafas Dewi terdengar menghempas.

โ€Kak Meli sakit seminggu ini. Dia udah ngga di dunia ini lagi. Jenazahnya dikubur kemarinโ€

Seketika mulutku terkunci. Langit hidupku tenggelam ke inti bumi. Tak kuasa, air mata jatuh seketika.

โ€Res.. sorry banget, kemarin aku lupa kasi kabar. Maaf yakโ€ Dewi masih bersuara. Sedangkan aku susah payah untuk membalas ucapannya.

โ€Tak apaโ€ Aku berharap Dewi mendengar sengau suaraku yang keluar dengan penuh perjuangan. Telepon itu kusudahi. Dengan sekelumit kecamuk yang menggigiti hati ini.

********

Batu nisan itu tak dapat bercakap-cakap. Tanah masih basah dan harum kematian. Bunga tanjung belum mengering sempurna. Aku tidak memperdulikan titik-titik air dari langit yang mulai rintik. Rasa sesal seringkali tiada guna. โ€Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknyaโ€. Kata-kata itu masih melekat di ingatan. Ya, kata-kata itu terbukti nyata. Di luar dugaanku, tanpa pertanda sedikit pun Kak Meli pergi mendahului. Mungkin ketika ia meregang, aku masih sempat bermalas-malas seolah masih lama masa itu tiba.

โ€Kak Mel…. Aku tidak akan malas-malas lagi. Tidak peduli terik maupun hujan. Meskipun aku harus membosan dalam sembilan puluh menit bahkan sembilan puluh tahun sekalipun. Aku takkan lagi menyiakan kesempatan. Bukan demi siapa-siapa. Demi sisa hidup yang tak boleh sia-siaโ€

Hujan lebat membasahi. Airnya mengalir di pipi. Bercampur dengan air mataku sendiri

Oleh: AlgaBiru (Pengen jadi superman!)

-27 Desember 2009-

Pesan untuk dโ€™Riser: Ayooooโ€ฆ. Ngaji !!

Ngaji itu wajib loh. Jangan nyeseelll entar pas udah di liang kuburโ€ฆJ

Read Full Post »

…. In My Mind

Mungkin ini seperti retorika. Tapi jika diresapi, ini akan jadi sesuatu yang berharga.

“Walau susah, pasti ada jalan”

“Walau payah, pasti ada muara”

“Walau Lelah, jangan pernah menyerah”

Dedikasi saya untuk sahabat-sahabat: Silvi, Kak Eq, Kak Ute, Mba Dida, Mufrida, Mia, Nidia, dan lainnya, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu baik nama maupun jasanya.

dan untuk…. saya.

atau siapa pun yang kadang mengalami titik jenuh. Jangan menyerah, jangan putus asa. Bersama Allah, bisa….*

Read Full Post »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/seยทnaยทrai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ห†โŒฃห†

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place ร  S'ancrer Par Lui Mรชme

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/seยทnaยทrai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ห†โŒฃห†

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place ร  S'ancrer Par Lui Mรชme