Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Kabar Luar Negeri’

 

SAM_3590.JPG

 

 

Hai, perkenalakan namaku Assa Dullah Rouf, biasa disapa Assa atau di kuliah teman-teman asing sering menyapa dengan Asad yang berarti singa. Aku seorang putra asli Minangkabau yang kini sedang merantau ke negeri seribu menara guna meneruskan pendidikannya di jurusan Tafsir dan Ilmu Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Perjalanan ini dimulai 10 Oktober 2012, kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan Piramid dan Spinx ini.
Sebelum beranjak jauh, teman-teman pasti ingin tahu bagaimana kisahku bisa sampai ke Negeri yang terkenal di Indonesia lewat tulisan kang Abik lewat novel Ayat-ayat Cintanya. Tak ayal, salah satu penyemangatku juga karena menonton filem AAC tersebut, tidak tanggung-tanggung aku pun membeli buku novel tersebut walau sudah kelar menontonnya. Untuk beberapa lama aku tersihir oleh negara yang terkenal dengan pesona kecantikan sang ratu Cleopatra.
Di setiap senti dinding kamarku di pondok dipenuhi oleh coretan-coretan. Salah satunya berisi coretan dan gambar-gambar Universitas Al-Azhar, Kairo. Walau bisa disebut pemalas di waktu ‘aliyah, tetapi aku selalu mengusahakan hadir mata pembelajaran ilmu alat (nahu dan shorof) dan Tafsir, karena tiga mata pembelajaran ini yang sangat kuminati dan kucintai, inilah akhirnya yang membuatku sampai ke negeri impian, kiblatnya keilmuan, Al-Azhar Asy-Syariif.
Sungguh tak mudah, aku menjalani serangkaian tes. Tes pertama oleh departemen agama dan tes kedua oleh delegasi utusan Al-Azhar Kairo. Tes pertama dapat diikuti di daerah-daerah yang sudah ditunjuk oleh Depag (Departemen Agama), dan setelah lulus tes pertama dilanjutkan dengan tes kedua langsung di ibukota Jakarta.
Dengan modal pas-pasan (keilmuan) dan berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Alhamdulillah berkat rahmat Allah Ta’ala, dari seribuan calon peserta se-Indonesia yang tes aku dinyatakan lulus tahap pertama , dan waktu itu aku tes di kota Jambi. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jakarta, bermodal menginap di tempat tante temanku satu sekolah yang juga ikut tes, kami berdua yang mengikuti ujian dari pagi hingga mangrib menjelang akhirnya bisa keluar dengan hati lapang, karena tes tahap terakhir telah kami jalani dalam keadaan sehat. Setelah lebih dua minggu berlalu, akhirnya pengumuman kelulusan tahap duapun keluar dan namaku terpampang jelas di halaman akhir, ya itu namaku, sujud syukur tunduk aku pada-Mu ya Allah.
Persiapanpun dimulai, setelah mencari dana bantuan sana-sini saatnyalah untuk meninggalkan ranah Minang tercinta. Dengan lepasan tangis ibu ketika melepas anak sulung pertamanya untuk pergi merantau ke negeri yang hanya dikenalnya melalui cerita mulut ke mulut. Sedih, pasti, setiap anak yang ikut pergi bersamaku merasakan hal yang serupa. Namun disitulah yang namanya pengorbanan, disaat kita sudah fokus untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan mengorbankan hal-hal yang dapat menghalangi dari tercapainya tujuan tersebut.
Sesampai di Mesir, aku mengalami shock culture dikarenakan banyaknya perbedaan-perbedaan yang aku rasakan di saat awal-awal di Mesir. Salah satunya tentu di saat aku mulai memasuki dunia perkuliahan di Al-azhar. Aku dapati dikta-diktat tebal permata kuliahnya –ditulis dalam Bahasa Arab- yang harus kulahap dalam beberapa bulan sebelum memasuki UAS. Saat-saat yang bisa dibilang traumatik dikarenakan aku memang tidak tahu menahu pada awalnya bagaimana sistem pendidikan yang ada di Universitas Al-Azhar saat itu.
Lagi-lagi berkat rahmat Allah Ta’ala, akupun bisa naik ke tingkat dua. Dinamakan “tingkat” karena di universitas Al-Azhar hanya mengenal istilah tingkat bukan semester, ya semacam kita waktu di sekolah dulu. Jadi ketika kamu gagal disatu tingkat, maka kamu terpaksa untuk mengulang di tingkat tersebut selama setahun kedepan, dan diujikan dengan mata perkuliahan yang mana kamu gagal di tahun sebelumnya.
Di Al-Azhar aku mengenal istilah Al-azhar jami’ wa jami’atan. Al-Azhar itu adalah masjid dan kampus. Bermakna bahwa menuntut ilmu tidak bisa dicukupi di perkuliahan saja dan hendaknya ditambah dengan mengaji (di Mesir istilahnya talaqqi) di masjid Al-Azhar dengan para masyayikh yang mumpuni di bidangnya. Tempat untuk mengaji atau talaqqi tidak hanya di masjid Al-Azhar, ada beberapa medhiyafah yang memberikan tempat untuk menimba ilmu yang juga tidak jauh dari Mesjid Al-Azhar. Singkatnya dunia kampus memberikan kita “kunci” untuk membuka gerbang keilmuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah masjid Al-Azhar Asy-Syariif itu sendiri.
Yang membuat hal berbeda antara menuntut ilmu di Mesir dan Indonesia adalah dzauq atau hawa keilmuannya. Saat di Mesir, sangat memungkinkan untuk langsung belajar kepada Doktor-doktor di bidang agama yang sudah ternama di dunia. Semesta keilmuan bertebar disana sini. Pilihannya sederhana, apakah ingin malas-malasan atau bersungguh-sungguh.

 

SAM_3742.JPG

Berbicara masalah bersungguh-sungguh atau malas lebih enak kalau kita membicarakan sistem perkuliahan yang ada di universitas Al-Azhar itu sendiri. Di kampus Al-Azhar kita tidak akan mendapatkan istilah “absensi”, jadi mau hadir atau tidak ke kuliah tidak ada masalah. Abis solat subuh lanjut tidur dan tidak kuliah, boleh, asal nanti sewaktu UAS harus wajib datang kalau tidak ingin rasib alias gagal dan mengulang kembali di tahun ajaran berikutnya. Disinilah kita dapat melihat perbedaan yang besar dengan sistem perkuliahan di Indonesia yang lebih ketat dalam pengabsenannya, beberapa kali alpha maka bisa dipastikan kamu akan mengulang di semester berikutnya.
Inilah uniknya kampus Al-Azhar di mataku. Seorang mahasiswa dinilai dari hasil ujiannya, yang dianggap paling representatif. Maukah kita akrab dengan dosen ataupun nggak, tidak akan mempengaruhi hasil ujian akhir yang kita lalui. Semua tergantung pribadi mahasiswanya, siapa yang rajin berhasil dan siapa yang malas akan menuai kegagalan. Semua ini tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah Ta’ala.
Ketika kita melihat bagaimana ketatnya pengawasan ujian di Al-Azhar, ketat sekali. Mau ke kamar mandi aja kamu dikawali. Bicara dikit, noleh dikit ditegur, ditambah waktu yang juga cuma dua jam dengan soal yang beranak-pinak yang pada akhirnya membuat keringat dingin keluar nggak ketolongan. Disaat-saat imtihan atau ujian inilah seluruh jiwa-jiwa mahasiswa Indonesia di Mesir atau masisir menjadi sangat dekat dengan Sang Maha Penolong.
Kehidupan masisir tidak hanya sebatas di perkuliahan dan talaqqi saja, banyak juga masisr diantaranya yang bekerja dan ada juga yang sibuk menjadi aktivis di berbagai macam organisasi. Untuk bekerja kita akan mendapati masisir yang bekerja di sebuah warung makan, menjadi agen travel, tour guide¸bimbingan belajar dan bahkan bekerja di vila-vila mewah.
Apapun kegiatannya, tugas utamanya tetaplah sukses studi. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pikirkan. Ketika memikirkan sukses kuliah maka itu yang didapat, ketika memikirkan sukses bisnis, sukses organisasi dan lainnya maka itu yang didapat. Di Mesir kaidah fokus dan balance dalam setiap pekerjaan menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil di rantau orang. Semoga kisah ini bermanfaat. Salam kangen untuk Indonesia! [Kontributor : Assa Dullah Rouf/Mesir]

 

Iklan

Read Full Post »

Satu keputusan dalam hidup mengubah serangkaian kisah yang tak terlupakan. Itulah yang aku rasakan. Bisa dibilang, awalnya aku nggak minat-minat amat dengan bidang yang aku tekuni saat ini. Aku tidak pernah memimpikan akan jadi sarjana sains biologi. Seingatku, baru detik-detik terakhir aku mengisi formulir SNMPTN, pilihanku tertuju pada bidang itu. Voila! Jadilah aku seorang mahasiswa yang berkutat dengan ilmu pengetahuan hayati ini.

her
Semester demi semester di bangku perkuliahan di Universtias Andalas, aku mengerucut keahlianku untuk riset seputar tikus. Ternyata keistimewaan hewan satu ini membawa berkah tersendiri, dan petualangan hingga detik ini. Ketertarikan ini kemudian mengantarkanku keliling nusantara, bahkan sampai keluar negeri, sekedar masuk hutan yang terkadang sampai hitungan bulan, mencari tikus pula. Hijaunya hutan-hutan di Sulawesi, sejuknya gunung-gunung di Jawa, kedamaian Sumatera, lepasnya pandangan di datarnya Pulau Kalimantan, dan indahnya Filipina. Juga kini, bisa melanjutkan studi master di salah satu Top University di dunia, dan mendapat kesempatan merasakan kota yang mendapat anugrah “the most liveable city in the world”, Melbourne Australia.
Ya, melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), mulai Juli 2015 sampai sekarang aku aktif menjadi mahasiswa Master of Science di University of Melbourne, Australia dan menghabiskan waktu saya riset mamalia kecil di Museum Victoria, Melbourne, Australia.

 

Indonesia, Engkaulah Surga!
Penjelajahan demi penjelajahan, riset demi riset mengantarkan kakiku berpijak pada bumi yang demikian kaya sumber daya alamnya, Indonesia. Tim ilmuwan dari Museum Zoologi Bogor, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lousiana State University, dan Museum Victoria mengungkap genus baru tikus, yang disebut tikus hidung babi. Aku bersama tim menelisik satu persatu, mengeliminasi ketidakmungkinan, dan Alhamdulillah menemukan kelompok genus baru ciptaan Allah ini.

 

 

(Bersambung….)

Read Full Post »

Kata orang, kau baru tahu manisnya iman saat tak tahu lagi kemana harus berpegang, saat tak ada arah lain selain menuju keimanan. Itulah yang aku rasakan dalam perjalanan hidupku. Rasanya baru kemarin tatkala pertama kuinjakkan kaki di Madrid, Spanyol. Bukan sebagai pelajar, apalagi pelancong, aku berada nun jauh disini dalam rangka mengadu nasib menjadi Asisten Rumah Tangga. Sebagai orang yang bermajikan, mestilah aku harus pintar-pintar menempatkan diri. Namun tetap jugalah, nasib tiap orang tidak ada yang bisa meraba dan menerka.

IMG_8753
Aku dikontrak oleh diplomat Indonesia untuk melakoni pekerjaan ini selama 4 tahun, dari tahun 2007 hingga 2011. Belum genap sesuai kontrak, aku minta izin mengundurkan diri dan bermohon pulang ke tanah air. Aku berkeberatan dengan jam kerja yang aku pikir di luar kewajaran, ditambah gaji yang meleset dari akad di awal. Permintaan pengunduran diriku itu tertolak, dan awalnya menemukan kata damai. Namun tak seindah jalan musyawarah, dua bulan menjalani sesudahnya, tetap tidak ada perubahan. bahkan semakin menjadi parah ,perlakuan mereka kepadakku tentang perkataan yang tidak pantas seperti makian dan omelan setiap harinya. berangkat dari keluagra yang tidak mampu dari Indonesia, tujuan utamakku bekerja dengan mereka memang supaya aku bisa mendapatkkan uang untuk membantu kedua orang tuakku. dan alasan itu seringkali di bahas dengan nada tinggi oleh Ibu Diplomat.
Akhirnya, di bulan ke-18 dari 4 tahun kontrak, aku mengundurkan diri secara paksa alias kabur! Tak kusangka langkah inilah yang akan kutempuh. Aku pikir kisah TKW yang kabur dari rumah majikan hanya akan kusantap di tayangan berita sore di layar kaca. Ternyata, inipun menimpaku pula. Ya, aku kabur dari Rumah Keluarga Diplomat dan Lingkup Kedutaan Besar Republik Indonesia di Madrid. Entahlah, bisa apa aku di negara ini, mengingat KBRI adalah identitas yang tertulis dalam segala Dokumen yang membungkus raga ini. Bukan perkara gampang terlebih jika harus berhadapan dengan urusan di pintu KBRI, bisa di bayangkan. Saat kita memerlukan bantuan, KBRI tempat berpulang. Ahh, mungkin ini memang hanya masalah personal saja, yang tak pengertian dengan nasib orang sepertiku.

IMG_2284
Perjalanan selanjutnya setelah kabur adalah Petualangan yang paling seru dan bermakna. Aku sendiri tidak paham dengan Bahasa Spanyol, tidak pula kenal banyak orang, sebab sehari-hariku hanya kerja dan kerja. Saat dilanda galau main kucing-kucingan di negeri orang, aku semakin nikmat berserah ke pada Allah. Berbekal satu tas ransel yang berisi Alquran, mukena dan dokumen identitaskku, aku keluar rumah di Madrid pada musim dingin yang membeku. Sungguh tidaklah Allah Swt menyiakan hidup seorang hamba, termasuk aku yang banyak dosa ini. Aku dipertemukan dengan hamba Allah, berkebangsaan Pakistan. Siapakah dia? Bukan siapa-siapa sekadar orang yang aku kenal di masjid dalam hitungan minggu belakangan. Bisakkah aku kabur dari rumah itu, lalu Allah memberiku jalan dengan cara mengingat masjid, jaraknya 20 menit menggunakan bus dari depan Rumah, di kenal dengan Islamic Center de Madrid ( masjid M 30). Terhitung tiga kali aku datang ke sana secara diam-diam dari Majikkanku yang berbeda agama. Hari minggu ketika mereka ke gereja, aku memanfaatkan pergi ke Masjid dengan menghitung waktu sebelum mereka sampai ke rumah. Tiga kali bertemu dan berbagi cerita, maka pada minggu ke 4 terjadi pertemuankku dengan saudari muslimku Manju. Maka dimulailah hidup baruku, terhitung Januari 2009 hingga Desember 2010 aku tinggal di Madrid dan Tenerife secara sembunyi-sembunyi dari sesama WNI, terlebih KBRI Madrid. Dokumen identitasku masih atas nama Diplomat, aku bekerja part time secara ilegal di sebuah restoran hotel di tenerife. Di sana pula aku belajar bahasa sepanyol ( castellano) Kala itu usiaku baru genap ke 21 tahun. Aku serahkan semua pada Allah, kemana aku bermuara. Aku pun memutuskan memakai Hijab, walau pada saat itu motivasinya supaya tidak mudah dikenali atasan, hehe.

flower-blue-sky
Akhir tahun 2010 aku pindah ke Barcelona dan mulai berani menghubungi beberapa teman WNI. Aku putuskan pindah karena mendapat tawaran kerja sebagai babysitter di sebuah keluarga Spanyol. Aku merasa betah dan nyaman, aku pun bekerja kepada keluarga tersebut sampai saat ini. Alhamdullah bekerja dengan orang Spanyol (espanyoles) jauh lebih enak dari segala sisi. Akhir pekan aku habiskan untuk masak pesenan catering kecil-kecilan bagi para pelajar Indonesia yg ada di Barcelona. Dan untuk Para ustadz yang datang dari Malaysia serta Indonesia dalam rangka tugas dakwah. Masjid disini tidak memiliki kubah seperti masjid kebanyakan yang biasa di Indonesia, melainkan tempat ibadah yang memanfaatkan ruko biasa. Yang boleh shalat berjamaah hanya para lelaki muslim. Pekerjaan sebagai koki dadakan ini karena suamiku memiliki banyak kenalan termasuk dengan pengurus masjid. Aku dinilai bisa memasak cita rasa yang unik dan sesuai lidah. Orang Indonesia yang shalat disini sangat sedikit jumlahnya. Paling hari jumat saja yang lumayan padat. Mungkin disebabkan posisi tinggal mereka yang jauh dari masjid. Saya dan Suami tinggal di Kawasan Rambla de Raval yang juga dekat dengan City Centre . Kawasan ini dikenal sebagai kawasan Imingran Pakistan, Bangladesh, Maroco, Aljazair, India dan Filipina. Tak heran, disini menjadi tempat yang strategis mendapatkan makanan halal. Kadangkala kami mendapat kunjungan dakwah dari sesama muslim, untuk nasihat menasihati dalam kebaikan dan perihal agama.
Tahun kedua di Barcelona tepatnya 2013, Allah menghadirkanku seorang suami yang kurasa selalu membawaku semakin dekat denganNya. Seorang lelaki dari tanah kelahirannku, dijodohkan oleh Allah. Kehadirannya menghapus kisah hampa dan sedihku yang lalu. Betapa besar rasa syukur padaMu ya Allah.
Bagi para pembaca DRISE, aku ingin sampaikan satu hal yakni janganlah kita berputus asa dari rahmad Allah. Sesungguhnya putus asa itu tidak pantas dibandingkan nikmat Allah Swt yang luas tiada bandingnya. Tantangan dan rintangan yang ada dalam kehidupan, pada dasarnya merupakan lompatan demi lompatan menuju arah yang lebih baik, insyaallah. Bangga jadi muslim, islam rahmad lil’alamin.

 

 
** [Seperti yang dituturkan Cahyatun Aisya kepada Redaksi/Alga Biru]

Read Full Post »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis sebagai Pengingat

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis sebagai Pengingat