Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pesan Agung’ Category

.

Kejadian ini pernah terjadi dalam keluarga kami. Bertamu ke tempat orang, jauh-jauh dari Medan, murni menyambung silaturahmi. Sayangnya, tuan rumah menyambut datar. Terkesan hambar. Senyum sekedarnya, sedikit obrolan, bahkan seolah-olah hendak berucap, “duh, kapan sih tamunya pulang?”. Hemm, sebenarnya kami pengen cepat pulang rasanya. Tapi mau nginep dimana, cari penginapan kala itu tak semudah sekarang. Jadi tamu tak diharapkan itu nggak enak. Makan hati, pengen pergi. Padahal dengan segala kehormatan seorang tamu, kemuliaan seharusnya yang ia dapatkan. Coba, kita bayangin kalo kita jadi tamu yang dibegitukan? Kemuliaan tamu tidak akan hilang dari perlakuan buruk tuannya. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak pernah ada. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak didatangi selama-lamanya.

.

.

Dear gaes…

Sebentar lagi tamu kehormatan kita akan datang. Bulan Ramadhan,  yang sebenarnya hanya menyapa orang beriman. Mau nggak kita disebut tidak beriman? Lucu nggak kalo jd orang Islam tapi dipertanyakan imannya karena nggak menghormati bulan Ramadhan?

.

.

Masih ada 2-3 hari, masih bisa kebut berbenah ilmu, hati dan fisik, biar setrong selama masa uji Ramadhan.

.

.

Jadilah tuan rumah yang menghormati dan memuliakan tamunya. Yakin, namanya tamu pasti akan pulang. Siapa tahu nantinya kita nggak ketemu tamu itu lagi. Siapa yang tahu keimanan kita esok hari. [] 😭😭😭😭

Iklan

Read Full Post »

 

ISAN23

Majelis Mu’awiyah sedang ramai dihadiri orang yang telah berdamai berkat kelapangan hati Al-Hasan ibn Ali. Ali ibn Abi Thalib sendiri telah wafat, ditikam Khawarij garis keras, Abdurahhman ibn Muljam. Lelaki bernama Dhirar ibn Dhamrah, ditanya oleh sang pemimpin baru itu.


“Wahai Dhirar, kisahkanlah padaku tentang Ali”. Ia hendak menolak permintaan itu, andai ia bisa. Sebab khawatir ada nada marah dan cemburu membersamai Muawiyah yang pada waktu sebelumnya pernah berlainan pandangan politik dengan Ali Radhiallahu anhu.

“Ali tidaklah berbeda dengan salah seorang di antara kami. Dia akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dengan selalu mengulurkan bantuan bila kami menadah tangan. Orang yang kuat tidak berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang lemah tidak putus asa dari keadilannya”

Wajahnya disambar kesungguhan, peluhnya keras menahan ingatan yang terbuncah. Dhirar berkata “Aku mendengar Ali bersedu kepada tuhannya. Rabbi! Rabbi! Ya Rabbi!” “Hai Dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau datang kepadaku ? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah engkau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku! Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tak ada lagi rujuk. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku! Ah sayang…. Sangat sedikit bekal di tangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai”

Dhirar duduk meratap. Majelis itu khusyuk terisak. Tangis Mu’awiyah tak tertahan. “Kesedihanku atas kehilangannya umpama kesedihan seorang ibu yang anaknya disembelih di hadapan matanya sendiri”, ucap Dhirar, dengan pilu meninggalkan majelis yang banjir air mata.

****
Masih, intisari karya ustadz @salimafillah . Masih juga, visual @ikhsansiddiq *** Semoga berkah keduanya. Segalanya ialah cermin.

Read Full Post »


isan
“Injak kepalaku ini hai Bilal. Demi Allah, kumohon injaklah”. Abu Dzar Al-Ghiffari menyiapkan kepalanya di tanah berdebu. Ia masih memohon disitu, sementara Bilal bersiteguh hati, tak mengikuti permintaan itu.

“Kumohon Bilal Saudaraku. Injaklah kepalaku”, masih juga ia meminta.
Kemarin itu rupanya. Abu Dzar berkesal hati mengira Bilal tak mengerjakan amanahnya, dan mengiranya membenar-benarkan diri.

Berkatalah ia “Hai anak budak hitam”, ia menghardik.

Ditegur ia oleh Baginda Rasulullah, “Engkau!”, sabdanya,”Sungguh dalam dirimu terdapat jahiliyah”

Sergap, Abu Dzar tak berdaya. Alangkah ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia.

Muadzin kesayangan Rasul itu campur hati, antara murka dan nelangsa. Berkatalah ia: “Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak”

Adab persahabatan, jalin jelindan dalam dinamika kehidupan. Tak kemudian sepi dari masalah. Cukuplah bagaimana ia menjadi rahmah berkah bagi sekalian alam.

**
Mengukir kembali dari yang ditangkap, “Iman yang Tak Sendiri” oleh @salimafillah

Visual, jepretan @ikhsansiddiq

Read Full Post »

nikahMungkin sudah nasibnya, orang yang berstatus single atau bahasa kerennya jomblo, selalu di-bully di berbagai pertemuan. Meski tak bermaksud mengolok, candaan dan pertanyaan serius “kapan nikah” kerap kali terlontar. Kalau cuma sekali atau dua kali, pertanyaan itu enak dicerna dan dianggap angin lalu belaka. Tapi apa jadinya jika pertanyaan seputar ini selalu ditanya lagi dan lagi, tersindir disini dan disana. Sampai-sampai seolah para jomblo kehabisan cara untuk menjawab hal senada.

Berikut empat tipe dan cara yang bisa dijadikan jawaban pas, tepat, sampai nyentrik ketika Anda ditanya “kapan nikah”.

Pertama: Jika ditanya kapan nikah ? Jawab saja, “Insyaallah, mohon doanya”. Orang yang berniat tulus sampai bercanda, biasanya akan terdiam dan merasa cukup dengan lontaran seperti ini. Jangan lupa, Anda juga harus pasang tampang serius namun lembut, jangan cengegesan. Karena gesture alias bahasa tubuh, serta mimik, akan menentukan seberapa besar bobot dari kata-kata itu.

Kedua: “Kuliah udah, kerja udah, nikah kapan nih?” Ngaku deh, sering kan ditanya seperti ini. Biasanya kalimat ini terlontar untuk Anda yang dianggap sudah cukup umur dan mapan, atau setidaknya memang dianggap telah tiba waktunya, tapi belum-belum juga datang jodoh. Maka jawab saja, “sabar ya, lagi nyari yang sekufu dan se-agama”. Insyaallah yang dengar mafhum arah pembicaraan ini.

Ketiga : Jomblo sering diledekin, rasanya memang begitu adanya. “Sandal aja ada pasangannya, kok kamu sendirian aja”. Model seperti ini cukup dijawab dengan pernyataaan : “Cari sandal aja pengennya yang cocok di kaki, bukan cuma cocok di mata sama cocok di kantong”. Jawaban ini akan mengesankan Anda adalah tipe selektif dan tidak mau disamain dengan nasib-nasib sandal, yang apalah itu artinya dibanding harga diri Anda.

Keempat: Tak kalah telak, kadang jomblo terkena kritik tajam dengan sebuah pernyataan “Jangan terlalu banyak pertimbangan, pilih saja dari yang ada”. Batin jomblo kadang hendak teriak. Apalagi sebenarnya ini bukan masalah kita enggan memilih, tapi justru baru ditolak, hehe. Ah, sudahlah. Hal itu cukup Tuhan yang tahu. Maka buat orang yang sok kritik dan sok tahu ini katakan saja : “Jodoh pasti bertemu, jodoh pasti bertamu, jodoh pasti bersatu”.

Sebenarnya, masih banyak jenis pertanyaan “kapan nikah” beserta kiat-kiat menjawab supaya nggak mati kutu. Namun pada hakikatnya sama saja. Hal utama dari tantangan ini ialah bagaimana kita selalu membangun mental sebagai orang merdeka. Yaitu, kita ialah sosok yang membentuk keadaan dengan jalan hidup yang kita pilih. Bukan sebaliknya, direpotkan dengan suara-suara sumbang yang bahkan itu hanya sendar gurau pemecah keheningan.

Jadi, tak pantas kita berkecil hati, tak pula merasa tidak laku. Santai saja. Semua ada jalannya, setiap kejadian perlu momen. Kita hanya memilih cara, tapi Allah jua yang menentukan momentum dan tiap inci realitas yang menimpa kita. Semangat ya jomblo!

Read Full Post »

Waduuh,, judulnya superior bingiittt! Padahal nggak gitu-gitu amat keless, hehe. Okelah, kita masuk ke inti aja ya. Semoga bermanfaat!

***

islam slEmpat tahunan bergabung dan berdakwah dengan pena bersama majalah DRISE, membuat kami tim redaksi ditakdirkan untuk mensortir tulisan para pembaca. Bentuknya bisa berupa cerpen atau opini lepas kreasi remaja islam. Di bawah alam sadar, jari jemari seolah sudah memiliki selera untuk memilih yang mana sih jenis tulisan yang layak terbit. Kayak muncul intuisi gitu loh. Apalagi jika ada perkara yang “fatal” di naskahnya. Wah, nggak dibaca sampe abis juga udah langsung terelimasi alias nggak layak terbit.

 

Jadi, supaya tulisan kamu nggak ditolak melulu, berikut bocoran hal-hal yang sering bikin naskah ditolak redaksi :

  1. Naskah di copas ke badan email. Huuu,,,, sepele ya?! Iyess,, tapi ini fatal banget. Percaya nggak percaya, fenomena ini terjadi pada 30% pengirim naskah ke majalah kami. So, supaya nggak bikin ilfil redaksi, mohoooon bingit supaya naskah di attach rapi.
  2. Lengkapi subjek email. Sebenarnya tulisan yang tanpa subjek email nggak langsung ditolak sih, tapi biasanya dipending alias ngantri untuk di-follow up. Isi email redaksi macem-macem ya say. Mulai dari naskah cerpen, opini, belum pertanyaan pembaca. Jadi kalau nggak dikasi “pop up” semisal subjek, resikonya bisa dicuekin.
  3. ‘Naskah Basi”. Naskah basi ini maksudnya bisa karena temanya sudah pernah diangkat, sudah tidak update, atau ketahuan copas dari penulis lain. Wah, yang seperti ini biasanya langsung tewas, alias nggak layak terbit. Majalah Drise sendiri tidak membatasi tema. Harapannya supaya para pembaca bereksplorasi dan bebas berkreasi. Tapi bukan berarti tanpa strategi dong. Kenali majalah sasaran, niscaya dia akan mengenalimu.
  4. Gaya bahasa tidak sesuai. Berhubung majalah DRISE sasarannya adalah pembaca remaja, jadi mohon banget sesuaikan dengan selera ‘lidah’. Tim redaksi sendiri rata-rata sudah nggak remaja lagi. Tapi masih getol kok dalam meremajakan tulisannya. Tujuannya cuma satu , yaitu agar konten tersampaikan dengan baik kepada perasaan dan pemikiran pembaca.
  5. Tidak sesuai EYD. Rubrik share your mind (opini) dan monogatari (cerpen) ialah jenis halaman yang mempertahankan originalitas naskah. Jadi tidak akan banyak editan. Sehingga peran penulis/kontributor dalam menuliskan naskah sesuai EYD sangatlah bernilai untuk diloloskan. Kalau kamu emang jenis alayers, plisss disimpen dulu alaynya ya. Kita ikutin ejaan yang disempurnakan, banggalah berbahasa indonesia dengan benar.
  6. Tidak memenuhi standard naskah. Biasanya, tulisannya kepanjangan atau bahkan terlalu mini. Tiap halaman sudah punya estimasi per karakter yang harus dijaga dan dipenuhi. Kalau terlalu sedikit, jadi kurang matching. Kalau kebanyakan, jadi bingung pas lay out, jangan-jangan majalahnya jadi mirip koran nasional. Tulisan kecil-kecil dan mepet-mepet. Kasian yang bacanya, Dear!
  7. Naskah tanpa nama! Whats?? Iyess…. naskah tanpa nama pengirim ini nggak sekali-dua kali. Entah karena gugup atau terlalu semangat, naskah tanpa nama penulisnya terbukti nyata adanya. Sooo… gimana tulisannya mau diloloskan kalau penulisnya ghaib, huuu sereem!

 

 

Jadi kan say, coba diinget-inget, jangan-jangan naskah yang kamu kirim mengandung unsur di atas. Mungkin satu atau dua poin, malah bisa lebih… hehe. Ngga perlu kapok atau minder. Yakin tiap tulisan itu punya jodohnya. Mungkin belum cocok untuk diterbitkan di suatu media, tapi layak di tempat lain. Don’t give up! Maju teruuusss!

 

PhotoGrid_1449129814867(1)

 

Salam

Alga Biru
Redaktur Majalah DRISE
drise-online.com

 

Read Full Post »

Episode 1 “Perang Sabil”

Pernah terjadi suatu masa di bumi ini, di mana semangat kokoh membaja, pengorbanan sampai kepada puncaknya, kemuliaan membalut tubuh manusia, dan sorga membentang di muka dunia. Di sana, di Aceh, pada abad ke-19. Ketika itu Aceh bukan cuma menjadi Serambi Makkah, tapi juga Serambi Sorga. Seluruh rakyatnya berlomba-lomba meraih cinta Ainon Mardliah, dan membeli rumah megah di padang rumput halus sorga dengan nyawa dan darah. Saat itu kaphe (kafir) Belanda menyerbu Aceh demi menuntaskan nafsu penjajahannya, dan rakyat Aceh maju melawan dalam Perang Sabil yang agung. Dan inilah dia, sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia yang tegak membela agama dan negerinya. Dia serupa kuntum mawar yang mekar dalam kecamuk medan perang. Yang walaupun kecamuknya membakar retih jiwa manusia, tapi harumnya semerbak di dunia dan akhirat. Nama perempuan itu: Meutia.

1874

Pantai Peureulak mendesir desah. Seakan-akan meracau karena manusia demikian kacau. Penjajah hendak menerkam tanah Aceh di mulut pantainya, dan semua orang harus maju membelanya. Bulan suci kian menjelang dan bayang-bayang perang kian mencekam. Pantai telah ramai dengan pasukan perang yang telah siap dengan senjata, kuda, dan perbekalan, hendak bergerak menuju Banda Aceh, sebab penjajah akan memulai penyerbuannya dari sana.

Tak jauh dari pantai berdirilah sebuah rumah megah. Tiang-tiangnya kokoh dan dindingnya tebal. Rumah itu adalah rumah Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak.

Ada prahara besar di dada Teuku Daud. Ia berdiri di kamarnya. Menatap istrinya yang duduk bersimpuh di atas ranjang, ditentang seorang anak kecil yang sedang lelap tertidur. Cut Jah, nama istri teuku Daud itu, dan ketika itu matanya basah, jantungnya bergelora. Teuku Daud berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Pelan tangannya terangkat, dan jemarinya mengusir air mata lara di pipi istrinya. Lalu senyum teragung ia persembahkan kepada perempuan yang dicintainya itu.

“Jangan antar kepergian orang yang hendak pergi melawan kezaliman dengan air mata,” bujuk Teuku Daud.

“Bagaimanalah mungkin air mataku tak tumpah,” isak Cut Jah. “Kau belum tentu akan kembali padaku, Cutbang (panggilan utk laki-laki yang lebih tua, abang).”

“Beginilah hidup sudah diciptakan Allah. Boleh jadi aku yang berangkat lebih dahulu, atau boleh jadi pula dirimu. Kita tak bisa melawan semuanya itu. Tapi apapun yang terjadi, berjuang adalah kewajiban, dan kita mesti ikhlas menetapinya. Yang meninggalkan, ikhlas. Yang ditinggalkan pun harus ikhlas. Ikhlaslah, sayang!”

Tangis Cut Jah meledak lagi, ia menghambur ke pelukan hangat suaminya, berusaha menguatkan hatinya saat harus menatap takdir yang membentang di muka. Mereka berpelukan erat, seolah tak ingin melepaskannya selama-lamanya. Hanya ada cinta di sana.

“Sabarlah, sabar,” bisik Teuku Daud. “Ini semua adalah ujian untuk mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan sampaikanlah kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.”

Cut Jah melepaskan pelukannya, ia sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Jemari Teuku Daud menghapuskan lagi air mata istrinya.

“Semua orang pasti mati,” ia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menjalani hidup kita, dan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang menjemput. Bersabarlah.”

Tiba-tiba terbit senyum di wajah Cut Jah. “Aku mencintaimu, Cutbang! Sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu pergilah kau berperang! Jangan menoleh lagi ke belakang. Belalah negeri kita seteguh-teguhnya. Aku ikhlas. Aku bangga menjadi istri seorang pejuang.”

“Terima kasih, sayang! Istri salihah adalah penghulu bidadari di padang sorga. Dan aku bahagia sebab telah dianugerahi Allah salah satu diantaranya.” Teuku Daud menoleh kepada puterinya yang sedang lelap tertidur. Ia mengecup kening anak itu dan tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, jaga pula Meutia. Ajari dia Islam, agar dia menjadi perempuan tangguh seperti dirimu.”

“Insya Allah,” sahut Cut Jah.

“Kalau ada umur aku pasti kembali. Tapi bila aku tak kembali, sampaikan kepada Meutia, bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang telah syahid membela agama dan negerinya. Aku ingin dia bangga demi mengetahuinya.”

“Janganlah risau tentang itu, Cutbang! Aku pasti mengatakannya. Akan aku ajari dia kebencian kepada penjajah, dan akan aku jadikan dia perempuan yang mulia.”

“Terima kasih,” Teuku Daud menangkup halus kedua pipi istrinya dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mengecup kening istrinya. Cut Jah mencium tangan Teuku Daud dengan khidmat.

“Jangan pernah mundur, Teuku,” Cut Jah tersenyum.

Teuku Daud mengangguk, “Aku mencintaimu, kita tak akan pernah berpisah. Para pencinta boleh mati, tapi cinta mereka tak akan pernah hilang dari muka bumi. Mereka yang pergi tak benar-benar pergi. Yang mati, tidaklah mati.”

Mereka turun dari ranjang, tegak berhadap-hadapan di tengah-tengah kamar. Teuku Daud membetulkan letak kerudung istrinya. Cut Jah menguatkan ikatan pedang di pinggang suaminya. Pandangan mereka jatuh kepada puteri mereka yang sedang terlelap di ranjang, membalurinya dengan kasih sayang. Mungkin untuk yang terakhir kali.

“Marilah,” ajak Teuku Daud.

Mereka berdua melangkah keluar kamar itu, bergandengan tangan. Melapisi hati dengan kesabaran dan keikhlasan abadi. Itulah senjata terampuh menghadapi segala kenyataan. Di beranda rumah mereka berhenti.

Teuku Daud menatap dalam-dalam bola mata cokelat bening istrinya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” sahut Cut Jah.

Teuku Daud menuruni undakan depan rumah itu, melangkah dengan teguh. Tak pernah menoleh lagi ke belakang. Cut Jah menatap punggung kokoh suaminya yang terus menjauh, ia tersenyum, tak ada lagi air mata. Kokohnya gunung Seulawah tak sanggup menandingi kokohnya hati para pejuang. Ikhlasnya bidadari tak akan kuasa melawan keikhlasan hati istri-istri pejuang.

Cut Jah berjalan kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, ia melihat puterinya telah bangun dan duduk sendirian sambil mempermainkan kain selimutnya. Cut Jah tersenyum dan menghampiri ranjang, ia peluk puterinya itu dan digendongnya. Ia buaikan rindu puterinya dengan mendendangkan syair yang menggetarkan kaum penjajah. “Kau tahu, sayang, ayahmu adalah seorang pejuang!”

“Allah hai dododaidi

Boh gadung bi boh kayee uteun

Rayeuk sinyak hana peu mak bri

Aeb ngeun keuji ureung donyakeun

Allah hai dododaidang

Seulayang blang ka putoh talo

Beurijang rayeuk muda seudang

Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le

Beudoh sare tabela bangsa

Bek tatakot keu darah ile

Adak pih mate po mak ka rela.”

Allah hai dododaidi (semacam ninabobo dalam bahasa Aceh)

Buah gadung buah-buahan dari hutan

Kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

Aib dan keji dikatakan orang-orang.

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

Cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda

Supaya bisa berperang membela negeri.

Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri saja

Mari bangkit bersama membela bangsa

Janganlah takut jika darah mengalir

Walaupun engkau mati, Nak, Ibu sudah relakan.

[Sayf Muhammad Isa]

Read Full Post »

Sudah tua umur ini. Makin bertambah-tambah saja dosa dan banyak hisab selama di dunia. Amat besar pinta harap, upaya yang dikerahkan tak kalah pula kerasnya. Allah ta’ala, tuhan sejagat raya menentukan nasib kita, mempertemukan kita, dan membuat kita merasakan semua.

Pertengahan sya’ban ini, dimana beberapa hari lagi genaplah usia saya yang ke-23 tahun, hisab tak terperi itu membawa kisah tersendiri. Kejadian demi kejadian sudah diikhwalkan ibarat hikayat seorang saya. Tahun ini, di tahun 2010 yang dirahmati Allah, masih banyak daftar hajat yang belum juga kesampaian. Saya punya keinginan untuk wisuda 31 juli, menikah 31 juli, hamil muda di tahun 2010, berdakwah lebih gress lagi, bekerja lebih keras di tahun ini pula. Namun saudara-saudara, sepertinya banyak yang belum terlaksana ya…. Hehe. Begitulah lemahnya kita manusia. Tak kuasa, memang kita hanya bisa berencana dan berusaha. Apapun adanya itu, nikmat senantiasa saya kecap, syukur menyusuri bertubi tubi, subhanallah. Demikianlah Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk diri ini. Telah saya cerap semua ini, sungguh Allah amatlah bijaksana. DIA angkat saya dari lembah kemaksiatan, DIA giring saya pada jalan yang lurus (bukankah itulah doa-doa bahwa kita hendak ditunjukkan pada shirotol mustaqim?!). DIA amat sayang pada saya, maka DIA buat saya ‘kualat’ kalau-kalau saya nyata berbuat dosa, nyatalah insyaf diri ini. Taklah pantas seorang hamba merasa suci, sementara dirinya tak bebas dari dosa.  Terima kasih duhai RABB, KAU hendak menolong dan mengajak saya kembali. KAU buat skenario yang lebih baik lagi, dari skenario yang coba hamba rancang untuk sesuatu yang hamba pikir demi kebaikan. Sesungguhnya KAU yang lebih tahu apa-apa kebaikan itu. Melampaui nalar-nalar manusia yang kerap kali disusupi hawa nafsu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)

Tak boleh tidak, hamba yang baik adalah hamba yang tahu terima kasih kepada sesama. Maka di bulan yang syahdu ini, saya ingin memberi ucapan terima kasih yang terdalam, luar biasa rasaaaa ini. Luar biasa sebab ada orang-orang baik hati yang mencintai dalam kebaikan, mau diajak kepada kebaikan, dan tidak khianat

Terima kasih untuk mamak dan ayah, orang tua yang mengajarkan sholat dan kalimat syahadat dengan segenap kemampuan. Sebenarnya, itulah warisan sebaik-baik warisan. Jika harta yang diwariskan, bisa saja suatu hari adanya ia menjadi fitnah satu sama lain. Semoga mamak dan ayah diberi kemudahan dan berkah di usia tua, selamat dunia dan akhirat. Juga abang-abang keturunan mamak dan ayah (yaiyalah… masa keturunan tetangga, hehe) yaitu Bang Udi, Bang Ade, Bang Ican. Semuanya sudah mencar-mencar, semoga sukses selalu. Beranak pinak dengan banyak, janganlah takut miskin sebab rizqi berasal dari Allah.

Yang pertama, teristimewa untuk kawan yang telah teruji kesetiaannya selama 11 tahun pertemanan: Trissep ‘encep’ fatma alias Mimi Stroberry. Manusia yang makin hari makin GJ, telat puber namun sangat berdedikasi pada nasihat dan nasib baik (haha.. amat baik rupa wahai nasibmu, kawan!)

Terima kasih untuk saudari2ku seperjuangan di kotaku: Rekan-rekan dakwah di Chapter USU beserta almameter FKG USU ( Kak Alfi, Kak Dewi, Chintia, Ayu, Kak Husna, Shinta, Kak Leni ’04, Anggun ‘05, Okta ‘06, Defi ‘07 dan lainnya). Teman yang juga berjuang di kota yang sama: Rindy, Kak Reni, Bang Nain, Hadid ‘Kajo’ yang tlah insyaf (hehe), dan saudara sekalian yang tak dapat disebutkan satu persatu. Semoga istiqomah, duhai saudara!

Barisan akhwat di dunia maya, yang meskipun ‘maya’ serta belum bertemu muka, kehadiran kalian tidaklah semu (maya) bagi saya. Hidup saya takkan lengkap tanpa kalian, begitulah skenario tuhan mempertalikan hikmah bagi kita, subhanallah. Teruntuk; Mia Kurniaty (terima kasih untuk nasihat seputar pernikahan, kisah-kisah luar biasa yang takkan pernah saya lupakan seumur hidup. SMS kamu masih awet di inbox saya, selalu saya menangis jika membacanya. Dunia memang kejam, tapi kita tercipta tuk bisa!). Untuk Mba Farida di Surabaya (kapan yo tele-conference lagi? Hehe. Moga sukses wisudanya tahun ini. Aamiin). Jugar rentetan kawan-kawan yang memiliki memoar tersendiri antara kita: Ann Fauziana, Teh Melissa, Hazna ‘Anggi’Alifah, Mba Cebiana, Mba Fi, Lia ‘Rayap’, Faras, Mba Wiwin SBY, Kanti Rahmilah (sudah lama tak bersua, teh!), Teh Erna Jatinangor-Bogor, Wulan ‘centil’ cakep dot com dan lainnya. Saya paling payah disuruh mengingat, duhhhh! ^_^

Selanjutnya…. Tak boleh jua saya mungkir, secuplik budi baik dari teman-teman ikhwan yang selewat, saya kenal di dunia maya pula. (Hutang emas boleh dibayar, Bang. Hutang budi dibawa mati). Meski selewat, tak boleh ia dipungkiri dengan cara yang keji. Maka dengan itu, dengan segala kerendahan hati saya ingin ucapkan terima kasih teruntuk: Abay abu hamzah (terima kasih untuk posisi the proof reading, jiahh…. Atas karya-karya Abay yang lebih dulu saya baca, lalu seenak udel saya ‘caci maki’. Haha), Luky Rouf (maaf… maaf… dan maaf. Naskahnya masih saya endap. Hehe. Biarlah ia cemburu pada naskah-naskah yang lain ^_^), Riki Yuliana (hatur nuhun, untuk support yang sulit saya balas di masa-masa sulit dan terjal. Thanks juga untuk Indigo, biar sampai kiamat ia tak bertelur namun di mata Allah tetap ia berbuah amal. Aamiin), Asep Firman (terima kasih atas doanya, kang. Doa ustad-ustad handal kan biasanya manjur. Apalagi akang berdoa meski saya tak minta, itu luar biasa). Juga untuk Mas Adi (Kusnady Arrazi), atas masukan mantap untuk karya-karya Alga. Semoga kebaikan Mas dibayar dengan berlipat ganda. Jika ada yang tak tersebutkan namanya, mohonlah saya dimaafkan. Walau pepatah ada berkata:’forgive but not forget it’, cukuplah ia di hati yang terlanjur dan dalam catatan aib-aib. Janganlah ungkit keburukan, sebab mengingat kebaikan adalah lebih utama. Untuk diri sendiri dan kita semua.

Untuk kawan-kawan lama yang sekian waktu tak bersua: Personil ATN R.I.P., adik-adik Laskar Kepompong, Guru spiritualku yang tetap somsek sampai detik ini yakni Bu Reni di kost-kostan Jatinangor (sedang apa engkau, Suhu?). Teruntuk teman lama, yang tetap gresss, Ipank Ureshii:’Cepatlah pulang, Pantai Losari katanya indah. Di peluk ibu siapalah tahan untuk tidak menangis. Semoga dimudahkan segala urusanmu’. Hemm…Untuk akhwat baik rupa, berhati halus, Almarhumah Mazaya, semoga Allah memberimu tempat terbaik di alam baqa. Duhai sahabat, masih terkenang wajah dan lisanmu!

Untuk perusahan kecil yang akan besar, penggapai mimpi yang tinggi, penggenggam teguh ambisi yang suci: rekan-rekan DRISE Company. Terima kasih untuk Pak Adhi, pemimpin yang bijaksana dan (tak segan-segan) memberi potongan harga dan tenggang hutang-piutang. Hehe. Semoga bapak diberi kemudahan rizqi,aamiin. Pimred, Kang Hafidz341, heummm…. Semoga akang bangga memiliki karyawan seperti saya. hehe. Untuk kru lainnya yang saya tak tau, tak kenal dan tak sanggup menyebutkannya satu persatu, syukron sangat atas kerja samanya. Untuk my partner di rubrik Girly, Hikari Inqilabi: manusia unik seperti kamu harus terus eksis di muka bumi. Ayooo….. berkah dalam maisyah, gapai jepang, dan sukseslah pernikahanmu kelak. (lagi-lagi upaya provokasi, haha).

Terakhir…. Teman dengan segala definisi, posisi dengan segala macam kebiasaan untuk berterima kasih, dan sosok yang merangkum hikmah kesengsaraan: Sayf Muhammad Isa. Semoga tuan diberkahi Allah ta’ala. Semoga perusahaan tuan, DRISE yang sama-sama kita banggakan ini diberi kekuatan berjalan, seumpama jalannya para mujahid masuk sorga. Tuan, taukah tuan apakah bahagia itu? Yakni tatkala sabar dan syukur itu sudah bertemu dalam tiap kejadian. (ahh,, mengapalah pula saya ocehkan itu, padahal tuanlah pengukir keduanya). Ingatlah pertemuan ombak dan awan di cakrawala, aamiin.

Sahabatku sekalian….

Kalian juara di hati saya. Ya, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

-syukron –

Medan, 27 Juli 2010

-Alga Biru-

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!