Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2009

^Senyum^

Senyumku  adalah ketukan tak putus harap yang siap diuji

Rindu dan senyum ini seperti tong kosong yang diadu. Terlalu nyaring!

Senyumku adalah  hikmah yang bertebaran tanpa kendali. Seperti bulu itik yang ditiup-tiup sehabis mandi….

Terima kasih untuk semua orang yang telah mengajariku tentang rasa syukur dan sabar. Untuk hidupku yang begini hebatnya…

Ahh,,… Tak sanggup ku hitung betapa banyaknya nikmat ini.

Alhamdulillah Ya ALLAH*

^Senyum^

Read Full Post »

Tatkala Anda telah menikah, maka saatnya Anda menikmati hidup ini dengan penuh syukur.

Dan dikarenakan syukur dan sabar itu tak mungkin dipisahkan, maka pastinya Anda pun harus banyak bersabar menerima berbagai keanehan yang dilakukan oleh pasangan hidup Anda. Tenang saja, aneh itu baru permulaan, insya Allah setelah Anda paham, justru aneh itu yang membuat pendewasaan sejati dalam diri Anda.

Sobat Harmoni, menikahi wanita yang Anda cintai itu adalah hal yang biasa, tetapi tetap mencintai wanita yang kini engkau nikahi adalah hal luar biasa yang patut Anda syukuri. Sebab untuk mencapai itu tidaklah mudah. Perlu kesabaran yang luas atau bagi manusia modern seperti Anda tentunya sangat memerlukan pemahaman karakter yang luas antar sesama pasangan, agar keluarga Anda tetap utuh hingga ajal menjemput. Bahkan jika bisa, utuhlah sampai kelak bertemu kembali di surganya Allah Swt. Amien.

Ya, seringkali hubungan antara suami dan istri berantakan hanya gara-gara suami tidak memahami kondisi fitrah istrinya begitu pun sebaliknya.

Ketahuilah bahwa pria dan wanita memang begitu berbeda. Konsep apa pun yang mengatakan bahwa pria dan wanita itu sama, sehingga harus diberikan hak dan kewajiban yang sama, maka itu adalah konsep yang sangat menyesatkan, jauh dari kefitrahan kodratnya masing-masing. Itu sebabnya Anda perlu tahu beberapa perbedaan antara pria dan wanita, simaklah:

1) Pria berburu dan melindungi, wanita mengasuh dan menyatukan. Sehingga wanita yang mengasuh dan menyusui anaknya tentunya lebih utama dari pada wanita yang meninggalkan anaknya kepada pembantunya yang belum tentu mengerti akhlak mulia. Kecuali ia adalah wanita karir, terlebih lagi suaminya hanya memiliki penghasilan pas-pasan, semoga Allah memaafkannya.

2) Pria obyektif, wanita intuitif (menganalisa lewat nada suara dan tatapan mata). Sehingga wajar saja jika pria merasa kesulitan jika berdusta di hadapan wanita ketika berhadapan langsung, sebab wanita seperti memiliki mesin pendeteksi kebohongan, biasanya pria menggunakan SMS ketika sedang membohongi istrinya. Tapi tidak selalu.

3) Sudut pandang mata pria sempit, kerucut di retina mata pria kurang lebar, tidak seperti wanita, sehingga wajar jika pria lebih fokus tapi kurang kreatif melihat wacana lain di sekitarnya. Sehingga pula sering gagal jika diminta menemukan sesuatu, seperti menemukan gula yang terletak dengan sangat jelas di antara bumbu-bumbu dapur. Selain itu, karena sudut pandang mata pria sempit, maka tatkala melihat wanita lain yang menggoda, maka kepala pria turut berputar mengikuti arah wanita tersebut. Tapi bukan berarti pria tersebut jatuh cinta, naluriah saja, tidak berbahaya selama pria tersebut memiliki iman yang kuat. Namun, menundukkan pandangan mata jauh lebih utama.

Namun demikian bukannya berarti wanita tidak pernah melihat pria yang tampan, tetapi karena sudut pandang wanita luas melebar, relatif hampir 180 derajat, maka wanita jarang kepergok basah ketika sedang memandangi seorang pria yang tampan. Dan tentunya, karena sudut pandang yang melebar ini pulalah, yang bisa menyebabkan para wanita ketika berniat belanja mentega di supermarket, maka seringkali yang terbeli bukan hanya mentega, melainkan hal-hal menarik lainnya. Itulah konsekuensi logis dari sudut pandang mata yang luas. Wallahu a’lam.

4) Otak wanita memiliki koneksi antara otak kiri dan kanan sekitar 30% lebih aktif dari pria, tak heran jika wanita bisa berjalan, bicara, dan pakai lipstik sekaligus. Itu sebabnya ibu rumah tangga cocoknya bagi wanita, bukan pria. Lihatlah sang ibu, mampu melakukan beberapa hal sekaligus : masak, sambul ngasuh, sambil nyuci, bahkan sambil nyapu, sambil ngemil, bahkan sambil ngomel. Sedangkan pria biasanya hanya bisa berkonsentrasi pada satu pekerjaan di satu waktu. Maaf, maka tak heran jika pria jarang berbicara ketika sedang bercinta dengan istrinya. mungkin karena terlalu Fokus.

5) Wanita suka bicara, pria seperlunya. Maka tak heran jika 2 orang wanita bisa saling menelpon selama 1 jam, padahal mereka berdua baru pulang berlibur bersama selama satu minggu. Dan tentunya wajar saja, jika kata “gosip” lebih melekat pada diri wanita dibandingkan pria.

6) Wanita bicara, relatif dengan perasaan – baik positif maupun negatif, sehingga kadang terkesan hiperbolik bagi pria. Jadi kalau ada wanita yang berkata, “Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, kau hanya mencintaiku ketika engkau menginginkan seks saja!” Jika Anda pria, dan mendengarkan hal itu, maka : tenang saja, tak perlu dibantah, sabarlah, tidak hanya Anda yang mengalaminya.

7) Wanita pun mendengar dengan perasaan. Sehingga jika istri Anda mengajukan pertanyaan pilihan semisal, ”Suamiku, hari ini mau dimasakin sayur asem atau sayur bening?” Maka jika perasaan istri Anda sedang labil jangan sampai asal menjawab seperti, “Terserah kamu saja, deh!” Hati-hati, istri Anda bisa kecewa dengan jawaban “terserah” Anda, karena bagi istri Anda tidak ada “Sayur Terserah.” Namun demikian jika Anda menjawab, “Sayur asem saja!” maka istri Anda bisa saja ngedumel ga karuan, “Memang sayur bening bikinan saya tidak enak ya… kok milihnya sayur asem melulu!” Padahal dari sekitar 10 kali ’transaksi,’ Anda baru 5 kali memilih sayur asem.

Itu sebabnya ketika terjadi penawaran yang mengharuskan si suami memilih, maka ada baiknya si suami mengatakan, “O begitu ya, ada sayur asem dan sayur bening… memangnya kamu sudah nyiapain untuk masak sayur apa?” Jika ia menjawab, “Sayur Bening…!” Maka segeralah Anda memujinya, “Kebetulan saya juga sedang pengen makan sayur bening nih, apalagi sayur bening buatan kamu sangat unik sebab banyak kelebihannya dibandingkan sayur bening yang biasa!” (kalau bukan kelebihan garam, biasanya kelebihan air-pen)

8) Biasanya wanita memiliki ambang stres kecil, sedangkan pria cukup banyak bisa menampung masalah dalam hati dan pikirannya. Sehingga tak heran jika wanita setelah melewati harinya ia suka curhat pada suaminya di kala malam tiba. Yang berbahaya adalah jika suaminya dalam kondisi stres juga, maka suaminya kadang enggan mendengarkan. Istri kalau stres cenderung berbicara dan mencari teman bicara, sedangkan suami kalau stres cenderung diam dan mencari ketenangan.

9) Bagi pria, keahlian itu yang utama, sedangkan bagi wanita kebersamaan lebih utama. Itu sebabnya jika secara obyektif istrinya bersalah, seorang suami yang mengerti tidak langsung menghakimi istrinya. Suami yang baik akan menunjukkan keberpihakannya kepada istrinya. Ia bisa mengatakan, “Mari kita hadapi bersama…”

10) Suami suka dipercaya, sedangkan istri suka diperhatikan. Berikanlah kepercayaan penuh kepada suami Anda, katakanlah, “Saya yakin Kakanda bisa menyelesaikan masalah-masalah ini..!” Dan berikanlah perhatian pada istri Anda. Katakanlah, “Kanda tuh cintaaa banget sama Dinda…” kalau bisa ucapkanlah minimal seminggu dua kali. Tapi jangan ucapkan terlalu sering, misal setiap jam, sebab dikhawatirkan maknanya jadi kurang mendalam lagi, dan juga jangan ucapkan hanya kalau Anda sedang ada maunya.

11) Secara umum, Pria menyukai SEKS (wanita adalah perhiasan terindah bagi pria-pen), sedangkan kebetulan wanita suka diperhatikan (begitulah karakter perhiasan-pen). Wanita berpikir SEKS adalah konsekuensi dari menikah, sedangkan tidak sedikit pria yang berpikir MENIKAH adalah konsekuensi dari menginginkan seks. Jika ada wanita lajang menyatakan “Aku mencintaimu!” kepada seorang pria, artinya bisa jadi banyak seperti, “Aku bersedia menikah denganmu,” atau “Aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu,” atau “Aku ingin mendapatkan perhatianmu lebih banyak,” atau “Aku ingin dibelikan ini dan itu…” Tetapi jika seorang pria lajang menyatakan “Saya mencintaimu!” kepada seorang wanita yang belum menikah, maka artinya relatif sederhana yaitu “Aku ingin segera berhubungan seks denganmu…!”

12) Pria yang humoris adalah yang pandai melontarkan humor, sedangkan wanita humoris adalah yang tertawa ketika pria melontarkan humor. Itu sebabnya, jika suami Anda melontarkan humor tolonglah untuk tertawa seikhlas mungkin, dan jangan pernah katakan “garing amat sih”. Sebab sejujurnya, seorang istri akan terlihat tambah menarik plus menggoda bagi suami jika istri itu menghargai humor2 suaminya…

Kesimpulan, intinya pria menginginkan kekuasaan, prestasi, dan seks, dan wanita menginginkan hubungan, stabilitas, dan cinta.

Wallahu alam

Semoga Bermanfaat

Dikutip dari: Group OASE – http:/cahaya-semesta.com

–> terima kasih untuk friend paling hoki di FB saya, Mister MFL. Muhammad Fendi Leong, yang telah membuat Notes nya. Jzk

Read Full Post »

Allah membungkan BUSH !

MAKANYA !! ALLAH DILAWAN! nyaho deh Lu !

Read Full Post »

Segelas kopi pukul lima

 


 

Si cangkir putih bundar, hitam kecoklatan, angin semilir dan pukul lima. Empat syarat lengkap sudah. Ritual ini pun akan segera menemui awal. Judul yang sama setiap sore yakni segelas kopi di pukul lima. Aku membaui aromanya seumpama aku merindukan anak semata wayang. Seruput dari cairan kafein ini memasuki tenggorokan, jangan sampai lupa untuk ditahan dulu sebelum ia hanya tinggal rasa pahit gurih di langit-langit. Bagiku, kopi di tangan pada pukul lima sore merupakan suguhan paling nikmat. Aku tidak peduli tempat, hanya interest dengan empat syarat di atas. Ritual yang sama, dengan menu pikiran yang macam-macam. Tak jarang aku langsung menemukan kisah jenaka selama ritual.

Pernah suatu hari aku memutuskan untuk melakukan ritual ini di taman olahraga. Tak disangka disana aku bertemu reporter acara kuis berhadiah. Kuis yang aku pikir sekedar cari sensasi sebagai bahan acara. Siapa Obama, sang reporter bertanya. Mati saja aku kalau sampai tak tau. Tuh, apa ku bilang. Sensasi yang membagi-bagi rizqi. Walaupun aku sempat heran, karena tak satupun dari pertanyaan sang reporter menyerempet soal olahraga. Barangkali dia memang tidak peduli meski ku sedang berada di taman firdaus sekalipun. Obama lebih penting daripada olahraga. Atau Olahraga kalah popular dengan Obama, sehingga khawatir aku jadi bikin malu saat diwawancara.

Dalam kisah lain yakni suatu sore pukul lima, yang aku lupa tepatnya tanggal berapa. Aku menyengajakan diri menyeruput minuman surgaku di kolam belakang milik almarhum nenek. Entah kenapa, ada yang memanggilku kesana. Pekat hijau kolam teratai yang sudah belasan tahun tak ku singgahi. Kodok bertotol muncul di semak, entah turunan yang keberapa dirinya. Capung dan kupu-kupu tampak berebutan nektar. Ya, Aku pun menyeruput menyerut kenangan yang masih belum pudar. Segalanya masih terasa sama.

Beruntungnya aku ada gundukan batu besar yang meminjamkan hitam pualamnya untuk ku duduki. Batu-batu serupa poligon tak beraturan, bertumpang tindih di sekeliling. Mereka menarik. Yang mengingatkanku pada gadis kecil berumur lima tahun yang hobi melempar batu kecil ke kolam. Gadis kecil berambut ekor kuda. Malas mandi dan sembrono sifatnya. Aku mengambil batu kecil itu satu. Plung! Segerombolan ikan dobi tampak merasa terganggu di air kolam. Tidak sia-sia aku kesini. Minimal menjadi buronan bagi para dobi yang anti dengan kesepian. Aku masih bergerilya pada mereka lalu mengambil sebuah batu kecil, lagi. Lantas tiba-tiba urung. Taukah kau kawan apa yang ku lihat disana. Yakni bulatan kecil yang berkilauan. Kelabat berlarian di pikiranku tentang gadis kecil berumur lima tahun yang sembrono. Benda kecil berkilau itu kini dalam genggamanaku. Cincin putih seukuran ujung jentikku. Seukuran dengan jari manis anak berumur lima tahun yang ada di ingatan. Kelabat itu makin jelas. Ya, gadis kecil itu aku dan kini aku ingat bahwa aku pernah kehilangan cincin ini di tempat yang entah dimana. Gagap gempita, kini aku menemukannya kembali. Disini. Di tempat dimana ia sendiri yang mengundangku. Di cincin itu jelas tertulis namaku : ”Diana”. Seruput kopi pahit menemaniku. Slurrrp!

Dan kali ini, disinilah aku. Dalam interval pukul lima sampai pukul lima lebih. Di sebuah beranda rumah kontrakan, yang ku huni gratis pemberian bos. Rumah hunian yang dihinggapi oleh dua anak yatim piatu, aku dan adik laki-laki yang berumur lima belas tahun. Ya, kontrakan gratis dimana aku merasa berhutang budi sejujurnya. Bos ku seorang janda yang sangat rupawan. Perempuan yang setia dalam kesendirian dan penuh dedikasi. Aku beruntung sebab ia tlah memungutku menjadi karyawan yang sangat ia sayangi. Anak si Bos, Fahmi namanya, mewarisi kemolekan ibunya. Fahmi pria putih bersih berkepala oval yang mengingatkanku pada Choki Sitohang. Satu-satunya lelaki di kantor yang sepertinya tidak pernah lupa mengancing lengan baju. Satu-satunya lelaki bahkan spesies manusia yang ku kenal, yang memiliki tanaman kaktus di jendela ruangan. Kata Si Bos, Fahmi lelaki yang taat beribadah dan gemar bersedekah. Si Bos selalu membangga-banggakan Fahmi di depanku macam lipstik yang dijajakan para <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>sales. Bisik-bisik rekan sekantorku, konon katanya Si Bos ada mau padaku. Si Bos ingin segera menimang cucu, berharap cucunya dieram di rahimku, membentuk apa yang disebut sebagai kehidupan awal. Ku tanya pada mereka yang berbisik-bisik, kenapa harus aku. Sempurna, mereka berkata. Alasan bahwa aku nona sempurna, mereka anggap sebagai modus yang paling masuk akal kenapa Choki ’Fahmi’ Sitohang itu cocok bersanding denganku. Entahlah, aku berharap kesempurnaan berhasil ku capai meskipun status itu terdengar riskan. Kalau pun ada sesuatu yang sempurna dengan lelucon sederhana, maka hal itu adalah ritual secangkir kopi pukul lima sore. Slurrp!

Read Full Post »

Malaikat Juga Tahu

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri.. Cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi.. Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya

^D^


Read Full Post »

Malaikat juga tau…

 

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya

dengan sembrono. 

 

Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan

sia-sia.

 

Read Full Post »

**Nasib**

Begitu banyak cerita dan kisah dalam hidup ini. Tebing curam sudah kita lewati, padang yang landai sudah kita jalani. Tak satu pun kejadian yang ada di langit maupun di bumi terjadi tanpa hikmah. Tawa, ceria, tangis, haru, bingung, gelisah, marah dan kesuksesan datang silih berganti bagai siang dengan malam. Senantiasa ada yang menemani, meski kita merasa sendiri. Pikiran kita seolah terkunci oleh realita dimana banyak teman disaat tawa, sedikit dikala lara. Lebih banyak pengunjung pesta dibanding pelayat ke rumah duka. Kita melihat nuansa sedih dan ketercekaman sebagai aib dan pembalasan sikap. Kerap kali, kita mendefinisikan bahagia dengan mendekatkannya pada orang yang tertawa-tawa. Bukankah tidak sedikit orang yang tertawa namun hatinya menangis. Orang yang bergelimang harta padahal harta itu merupakan aib dan fitnah baginya. Berhentilah melihat kebahagiaan dari warna lipstik. Lebih baik hidup sederhana tapi dengan banyak cinta. Ahhhh…. tidak pahamkah kita bahwa nasib adalah ujian ?

Nasib. Ya, nasib. Setiap insan memiliki garis nasib di tapak tangannya, yakni nasib bermuatan ujian. Ujian kehidupan tidak akan dibebankan bagi orang yang tak sanggup menanggung beban. Beban diperuntukkan bagi yang sanggup, bagi yang kuat. Karena jika ujian diberikan pada yang tak sanggup menanggung beban, niscaya ia gugur sejak awalnya. Seperti bayi yang tak dilahirkan, bahkan telur yang tak pernah dierami.

Katakanlah, kelapangan merupakan ujian.
Dan katakanlah pula, kesempitan pun menjadi ujian.
Katakanlah, sehat adalah ujian.
Dan katakanlah, penyakit ini pun ujian

Anda sangat senang ketika bayi pertama lahir ke dunia.
Itu dari Allah.
Anda pun bersedih, ketika orang yang dicintai kini tlah tiada
Maka, itu pun datangnya dari Allah.
Dialah sumber segala-galanya.

”Maka apabila ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam kebajikan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, maka berbaliklah ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat” (TQS al-Hajj: 11)

Maka janganlah kita menjadi orang yang ridho pada ALLAH hanya disaat senang, sedang dikala sedih kita berpaling. Allah mengetahui, sedangkan kita tidak. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, belum tentu buruk. Dan apa yang kita pikir buruk, ternyata hal itu merupakan kebaikan. Kita terlanjur jatuh pada hal-hal yang kasat, enggan untuk memaknai yang tersembunyi.

Renungan:
Sungguh kita telah berbuat kecurangan. Mendekat pada-Nya dimusim durja, lalai dan lupa ketika muram itu sirna. Beratus hasta kita mendekat meminta pertolongan, tapi jengkal demi jengkal kita pongah seolah kita tak pernah memelas di siang dan malam. Mungkin kita lupa ALLAH Maha Melihat, sehingga kita merasa bisa mencuri-curi melakukan hal yang Dia benci.

Oleh: Alga Biru

Read Full Post »

Older Posts »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même