Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Rahim_Fiksi’ Category

(Tulisan ini sarat akan spoiler. Jangan lanjut baca kalau belum baca bukunya. Hehe.)

Kala itu saya masih kuliah semester tiga, belum banyak pikiran. Melalui rental buku, pilihan saya jatuh pada novel berjudul The Orange Girl alias Gadis Jeruk, karya Jostein Gaarder.  Jujur, awal-awalnya novel itu membosankan, bingung juga bagusnya dimana. Sebenarnya itu kali kedua saya baca besutan Gaarder, setelah sebelumnya tidak tamat membaca Sophie’s World yang entah apa. Berhubung nggak mau rugi, apa boleh buat, saya paksain baca sampe kelar.

org

Novel berkisah tentang Georg Roed yang mendapati surat wasiat pemberian ayahnya beberapa tahun setelah beliau meninggalkan. Surat itu berisikan pertanyaan menggelisahkan:

 

“Aku mesti mengajukan pertanyaan serius kepadamu, Georg, dan itulah sebabnya aku menulis. Akan tetapi, agar mampu mengajukan pertanyaan ini, pertama-tama aku harus menyampaikan cerita sedih yang telah kujanjikan kepadamu tadi.”

 

Isi surat berlanjut tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis yang membawa jeruk-jeruk ranum di keranjang, yang selanjutnya disebut Si Gadis Jeruk. Kisah masa lalu, pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan, dan misteri siapa si gadis jeruk sebenarnya, terus disembunyikan.

“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.”

Sebelas tahun berlalu, saya udah nggak ingat satu persatu isi buku itu. Mungkin secara alam bawah sadar, saya jadi terobsesi dengan wasiat. Dan inspirasi terpendam lainnya tentang hidup, dan bagaimana penulis seharusnya menyembunyikan teka teki dalam cerita. Gadis Jeruk termasuk novel filsafat harian yang nggak terlalu berat. Mau bagaimana juga, kelebihannya terletak di ngalur ngidul seputar makna hidup. Teka teki siapa sebenarnya si gadis jeruk, jadi umpan yang membuat pembaca bertahan. Sekuat tenaga, penulis bertekad menyembunyikan hingga di lembar terakhir.

Cerita dan teka-teki. Ini belum termasuk bagaimana novel thriller yang lihai membuat modus dan strategi. Bersembunyi dalam detail dan kemahiran penulisnya agar tetap logis.

Akhir cerita, Si Gadis Jeruk itu ternyata sang ibu anak itu sendiri, alias  istri ayahnya. Jadi ini tentang surat wasiat untuk mencintai seseorang, dalam kesempatan yang pendek maupun panjang. Dalam kesempatan hidup sebelum mati.

Teringat “Stay With Me”  yang lagi digarap. Ada yang kangen Bima? Bagaimana dengan teka-teki di setiap part-nya? Masih setia nggak? Jati diri Bima jadi umpan yang saya siapkan sepanjang cerita. Pencarian identitas, romantika, diselingi serba serbi orientasi seksual yang akhir-akhir ini meresahkan. #CerbungBima diurut berdasarkan dimensi waktu, nilai kejutan, dan keadaan sehari-hari para tokohnya. Kalau kecepatan, ceritanya malah kurang seru. Kalau kelamaan, takutnya hambar. Memasuki lembar ke-18, saya pikir belum banyak-banyak amat untuk dinalar. Masih tersisa berpuluh-puluh lembar halaman lagi untuk ditulis. Hehehe.

Jadi penulis perlu sabar, jadi pembaca harus setia. Sampai ketemu!

Iklan

Read Full Post »

cancel

Jack dan Joel berdiri tepat di depan gedung Octagon yang eksotis berada. Mereka dan para kru televisi bersiap melaporkan berita yang menggemparkan.

“Hei Jack, kau sudah membaca seluruh skrip kan?” Joel memekik keras melawan deru angin disana.

“Sudah dong! Tenang sajalah”, ujar Jack yakin.

Betapa slebor partnernya itu. Sampai-sampai Jack terpaksa selalu mengingatkan hal-hal kecil. Joel menaikkan jari jempolnya tinggi-tinggi. Tanda bahwa mereka full ready untuk pengambilan hot news olaharaga.

“Kami berdua, Jack and Joel melaporkan berita terbaru dari Octagon. Pertandingan Khalid Ramzanov versus Tony Furgeson dinyatakan batal. Khalid Ramzanov terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat masalah berat badan.”, ucap Joel dengan gaya pelaporan yang santai.

“Oh yeah? Sayang sekali Jack! Padahal pertarungan mereka sangat kita nanti-nantikan”

“Alright! Untuk ketiga kalinya, mereka gagal benar-benar berhadapan. Oh, aku tak tahu lagi harus bagaimana”

“Awalnya Tony, lalu Tony lagi, kini pembatalan dari pihak Khalid… sebenarnya, apa yang terjadi dengan Khalid?”

“Keterangan lebih lanjut belum didapatkan secara resmi. Dana White akan mengadakan konfirmasi keadaan ini secepatnya.”

“Aku berharap yang terbaik, Jack!”

Dalam hitungan menit, berjuta pasang mata menyaksikan dan membaca berita menyedihkan itu di laman jurnal olahrga. Tiket yang terjual bersiap dikembalikan. Tony diwawancarai dengan senyum terkulum dan memberi aneka komentar. Dia tidak tahu, apakah harus mengucapkan selamat pada dirinya sendiri. Soal berat badan ini, dia menganggar diri. Betapa dirinya melangkah jauh di ranah profesional. Para haters menyerbu akun-akun resmi Khalid dan berserapah. Sementara para fans the eagle, menerka sesumbar apa yang terjadi. Selain pula rasa heran, dan pastinya sebetik kekecewaan. []

 

*) Tulisan di atas adalah cuplikan dari Fan Fiction “The Title”. Versi lengkapnya bisa follow akun Wattpad @algabiru atau KLIK berikut ini : The Title FanFic

Read Full Post »

tony

Anthony ArmandTonyFerguson Padilla. (Kelahiran 12 February 1984). Pria keturunan Scottish American ini menekuni berbagai olahraga di usia remaja. Semacam, sepak bola, bola basket dan gulat. Tadinya ia berprofesi selaku bartender bar sebelum akhirnya direkrut oleh rekan kerja yang mengetahui keahliannya dalam seni bela diri. Dia mendapatkan julukan, si setan ‘el cucuy’ dari para penggemar. Kebergabungannya di ajang UFC pertama kali pada kurun awal tahun 2008. Kemenangan debut Tony atas  Steve Avalos diikuti kemenangan-kemenangan berikutnya. Hingga tahun 2017, Tony tercatat tiga kali mengalami kekalahan pertarungan. Dan untuk ketiga kali pula, pada Maret 2017, ia dijadwalkan menghadapi Khabib Nurmagomedov, salah satu pesaing utama di kelas lightweight.

***

 

Dunia yang sibuk. Manusia berjalan cepat tanpa saling mengenal. Otak mereka dipenuhi rencana. Kota ini dibangun dengan kegemerlapan. Kota seratus kebebasan, seribu aturan. Bukankah kebebasan itu menuntut aturan-aturan baru yang mengikat? Karena kita adalah manusia, makhluk yang paling banyak ketergatungannya dibanding makluk lain di muka bumi. Murad benar, dua bulan waktu yang sebentar. Pekan ini saja, tugas pertama Khalid ialah membakar lemak dan mengetatkan latihan. Pembakaran ini, pengetatan latihan, bukan mudah bagi siapa pun. Beban mental semakin ditanggung elang muda itu.

Engkau  bergerak lebih banyak, mengenal karakter manusia, ketika orang-orang mengenal namamu lewat media. Engkau tak boleh sembarang bicara jika kalimatmu dikutip orang yang tidak memahami. ”Hello Eagle!”, salah seorang member AKA Gym menyapa Khalid pagi ini. Dia menggengam lelaki itu penuh hangat. Walau jujur, Khalid lupa siapa namanya. Begitu banyak manusia. Tak ada waktu mengingat satu per satu. Khalid membuka-buka telepon genggam. Meski siknronisasi notofikasi  sudah berstatus mode off, ia tetap bisa melihat angka-angka komentar berjumlah ribuan. Salah satu yang membuat hati panas, psy war yang digencarkan lawan mainnya, Tony Furgeson.

 

 

*) Kelanjutan dari cerita ini bisa dibaca di akun Wattpad : @algabiru_full

atau KLIK :  the title [fanfic]

Read Full Post »

                   Berikut adalah cuplikan “The Title”, fiksi yang diangkat dari perjalanan karir atlet “Khabib Nurmagomedov” di dunia bela diri campuran. Cerita lengkapnya bisa dibaca di akun Wattpad saya: @algabiru_full . Selamat membaca!

 

***

Elang lapar itu bernama Khalid Ramzanov. Babak penghabisan. Ronde ketiga dalam hitungan detik ke depan. Ia terengah, berkeringat. Dadanya lepas, cukup puas.

***

“I am good. Yeah, good” Dia berbicara dengan Bahasa Inggris yang tidak fasih. Mulutnya mengulum mouthguard. Ia tak mampu menahan diri untuk tidak bicara. Disini, ia ingin tunjuki sesuatu. Ia ingin memperlihatkan sedikit pelajaran.

“Hey, be carefull. I gonna smash your boy”, katanya percaya diri. “Yeah, be carefull. I know who I am” Usman menepuk-nepuk nafsu buasnya. Sam dan Ramzan tidak sabar melihat kemenangan. Hajar dia, Brat!

Big Jhon memberi aba-aba. Khalid dan Michael saling bicara dan memberi tanda. Hanya Big Jhon yang mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dramatis. Riuh suara supporter menggema di ruang masyhur Octagon. Whuu! Khalid menyoraki, membiarkan mereka meneriaki apapun yang mereka mau. Telunjuk teracung. Dikecup ambisius.

Here we go!

Teng!

Ronde ketiga tak tertahankan. Michael Johnson lemah lebam. Khalid masih perkasa. Terlalu perkasa dalam perbandingan laga yang mendominasi. Khalid menyiapkan perangkap. Conditioning yang apik. Di detik tigapuluh pertama, Michael diterkam. Grappling kembali. Cukup sekali banting, Michael seperti bangkai rusa di savana Afrika. Khalid menggelung rapat kakinya, lawan terperangkap rapat. Dalam posisi strategis ini, ia bisa melumati mangsa sembari minum kopi. Michael lemah tak berdaya. Ia menyembunyikan muka dari serangan. Cuma itu yang bisa dia lakukan. Lalu…… Percakapan indah itu pun terjadi. Sebait kalimat yang hanya dikeluarkan petarung rendah hati. Di jarak yang amat dekat, Khalid berkata sesuatu kepada Michael :

“You have to give up. I need to fight for the title. You know this I deserve it.”

Dua tahun lalu, Khalid mengalami cedera serius. Dia tahu bagaimana nasib seorang petarung yang mengalami cedera. Seorang atlet harus memikirkan masa depannya. Candui semua gengsi dan bully.

Calon bangkai berada di tangan. Khalid ingin berwelas asih. Menyerahlah, Michael Johnson. Itu terbaik bagimu. Khalid memberi sinyal agar ia menyerah. Entah apa yang ada di kepalanya. Michael Johnson tidak peduli dengan kata-kata itu, tak juga menyerah. Mungkin ia mempercayai bualan di luar pertandingan. Trash talk palsu. Satu hal yang semua orang perlu tahu, rasa sakit ini nyata, pukulan yang sakit, dan kemungkinan cedera. Big Jhon teguh pendirian, melanjutkan pertandingan.

Ini pilihanmu, Michael Johnson. Demi Tuhan, aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin dirimu sampai disiniBiarkan aku menepati janjiku mendapatkan belt kemenangan itu.

“This is horrible position. Khalid pulls like on over hook on the left arm of Michael Johnson. Obviously is going to go for Kimura. Right?”. Nafas tertahan. Big John berhitung. Sampai kapan Michael Johnson sanggup bertahan? Oh tidak. Dia takkan sanggup.

“Khalid gonna break his arms”. Michael Johnson terperangkap. Khalid memelintir tangannya. Terkunci. Pitingan Kimura dengan sempurna dilakukan. Big Jhon merentangkan tangan. Buru-buru memisahkan dua petarung itu. Khalid mengacungkan telunjuk.

Aku harap kau baik-baiksa saja. Aku tak ingin menyakitimu. Thank you, Michael Johnson. Kening beradu kening. Simbol Elang menghormati buruannya. Ia memilih membiarkan. Ia punya hasrat lain selain rasa lapar. The belt, the title. []

Read Full Post »

“Assalamualaikum. Pagi Dok! Gimana Chocoblack oreo kemarin say? Semoga melengkapi kebahagiaan kalian. Salam buat Gunawan” , Pesan singkat, dari Wina.

Temanku satu ini, masih sempat-sempatnya. Katanya sibuk. Masih nyempetin recall ke pelanggan-pelanggan. Alasannya, selain ingin memastikan, sekalian dapat endorse kece.

“Enak gilak! Malah udah abis. Eh, pesan cheese strawberry ya. Bakal nyamperin mertua besok” Pesan centang double blue, terbaca.

“Oya, entar aku mention ke socmed deh”. Soft selling tipe testimoni customer termasuk yang paling diminati penjual manapun.  Wina memulai usahanya dari nol. Dari nol follower, nol rupiah, nol pengalaman. Triple zero. Sukses berdagang, sukses membahagiakan orang. Tak peduli pembelinya segelintir atau sejuta orang. Selagi mereka menikmati dan mendapat kebermanfaatan, itulah kesuksesan perniagaan sebenarnya.

“Tengkyu, Dokter Lola”

Typing message….

Dia masih melanjutkan menulis pesan di layar. Bakal panjang nih urusannya.

“Oya, minggu depan ada kajian Ustadz Fikri, datang yuk. Mumpung Ustadznya lagi ada di  Jakarta”

Typing message….

“Ajak suami juga, La. Hijrah sama-sama, lebih berkah”

Wina yang aku kenal hari ini, sosok dengan transformasi dari hari ke hari. Pertama kali mengenalnya, orangnya tomboi, bicara nyablak, pendapatnya spontan. Memang tetap kentara nyablaknya sampai sekarang. Wina tomboi yang rupawan. Sejak tomboi pun manis dan putih halusnya enak dipandanga. Kini kecantikan itu tersembunyi di balik hijab. Menyisakan wajah dan telapak tangan. Bukan perkara hijab, bukan cuma perkara itu. Sesuatu yang lebih nyata, lebih berdaya. Sesuatu yang sulit dilalui. Pelan namun pasti, pilihannya berubah, jalan hidupnya berpindah. Mungkin itu yang disebut hijrah.

Read…

Pesan terbaca. Aku menimbang, entah harus berkata apa. Mau pergi, kok ya segan. Mau nolak, ya malah lebih segan. Bukan main, kalau aku menolak, ini akan jadi penolakan ke belasan kalinya. Ada perasaan asing yang menghinggapi. Terbayang suasana di pengajian dengan orang-orang baru, pikiran-pikiran baru, yang asing, yang bukan kebiasaanku.

Typing message…

Aku meramu sebuah kalimat. Alasan-alasan jitu. Sekiranya masuk akal. Semacam : “Oke, lihat nanti ya”. Atau “Ada janji lain nih”, “Kerjaan lagi numpuk”, bisa juga semisal “Wah, jilbab udah kekecilan, bingung pake kostum apa”. Celaka, semua alasan itu sudah expired, alias sudah pernah dipakai. Urusan pengajian aja pakai acara bo’ong. Kok  berasa kurang kerjaan amat ya. Layar si ponsel pintar kedap kedip. Padam perlahan. Membiarkan pesan itu terbaca, tidak berbalas. Pikiranku menembus pilihan-pilihan. Nalar saling bertabrakan, serupa atom-atom lembam.

Read Full Post »

Racikan vanila, coklat dan caramel yang akrab di depan mata. Kemeja flannel sewarna navy, celanan belel dan rambut yang baru saja tercukur rapi. Bagaimana aku lupa kemeja flannel yang dipakai setahun lalu itu. Dan itu, sepatu boots pemberianku di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh delapan. Hadiah yang sepertinya sasaran. Bagus, nge-hits dan mahal. Apa mau dikata, yang berpunya ternyata tak suka modelnya. Alhasil lebih sering jadi benda pajangan. Mas Gun hadir ke hadapanmu, terkejab mulutnya menganga.

“Hallo….”,senyum terkembang. Darahku mengalir, seolah baru saja jatuh cinta.

“Ya ampun…” Aku menarik tangannya, buru-buru menutup pintu.

“Sorry tadi nggak sempat balas  whatsapp, buru-buru aja kesini”. Senjata makan tuan.  Cake Vanilla yang seharusnya mengejutkannya, berbalas mengejutkanku. Sama sekali belum tersentuh.

“Aku kira siapa,Mas. Hampir saja…..”

Mas Gun menatap sekeliling ruangan, merasa asing walau bersamaku. Dia memang jarang datang kesini secara khusus. Apalagi jika harus melebur ke tengah teman-temanku yang tak dikenalnya satu persatu.

“Nyantai aja Mas. Cuma kita berdua kok”,. Ruangan poliklinik terhubung pintu-pintu coklat tegas. Di bagian ujungnya sengaja dibuatkan kamar tidur khusus untuk dokter yang bertugas jaga malam. Jika sedang tak ada kegawatdaruratan, di kamar itulah aku bersantai. Masih dirinya tersenyum. Lekat kami bersitatap. Di ujung bibir sudah terangkum kalimat-kalimat yang enak didengar. Tak satu pun kata keluar. Hanya kelakuan badan dengan kesibukan yang dibuat-buat. Aku mengagumi caranya mencintai. Betapa diriku, selalu kalah dalam hal ini. Ketika kau bertemu seseorang setiap hari, kau terlalu menghafal gerak-geriknya, secara alami kau kehilangan keterhebatan. Euforia itu perlahan menjadi biasa. Tidak kentara, tidak istimewa. Kau cuma tahu betapa berharganya ia tatkala rindu menghinggapi. Barangkali rindu bukanlah momen yang bisa dibeli. Rindu itu seperti cinta. Cinta itu semirip mantra bahagia. Selama kau bisa menghargai hal-hal kecil, disana ada kebahagiaan.

“Maafin aku….” Apa yang dipunyai seorang istri selain permohonan ini. Hangat tangannya menyentuh lenganku. Mencengkram namun lembut. Rambutnya jatuh ke dahi seperti perempuan. Tatapnya hitam, menyimpan misteri. Menelan keingintahuan, membiarkan alam pikirku berdelusi. Membiarkan malam ini larut dalam kasmaran. Aku bahagia, merasakan jatuh cinta lagi.

Read Full Post »

Kejadian  pagi tadi….

 

Aku berusaha mengistimewakan hari ini dengan berbagai cara. Bangun pagi dengan mengecup pipinya. Ya aku tentu jadi lebih istimewa mengingat itu bukanlah kebiasaanku. Kulihat dia mengerling genit dan menampakkan lesung pipi, betapa dia memang tampan. Selebihnya kami bangun seperti biasa. Mandi, sholat subuh dan menyalakan televisi. Dia tak mengucapkan apapun, aku pun tidak, atau.. belum.

Plok! Dia menepuk jidat, mengingat dan berjingkat.

“Ada rapat pagi ini”

Hari ini bertepatan hari selasa. Meskipun ada istilah “I hate Monday”, tanpa sadar hari senin membuat lebih siap siaga menghadapinya. Tapi coba hari selanjutnya. Selasa, rabu, kamis, kecuali mungkin hari jumat, beberapa janji dan tugas terlupakan. Mas Gun tergesa, bahkan tak sempat sarapan. Aku yang memang masih asik mengunyah di meja makan tak sempat mengantarnya ke halaman, melambaikan tangan untuk suami tersayang. Kudengar mobil berderu menyala. Pintu garasi menyeret dibuka. Aku merapikan piring-piring kotor, berharap masih tersisa sekian menit untuk dadah-dadah dari kejauhan. Hap! Tiba-tiba, kepala Mas Gun menyembul dari pintu garasi. Sudah keduluanan rupanya. Aku tersenyum.

“Hari ini kena shift jaga?”

“Iya”

“Jam berapa?” Mas Gun bertanya tergesa

“Sore…. Sampai besok pagi” Aku mencoba tersenyum

Namun wajahnya berpendar kecewa. Berarti sedikit sekali hari ini kami bertemu, hampir tak ada. Senyumku memudar. Terbang seiring bayangnya  yang beranjak pergi.

 

 

****

“Dok, tanda tangan disini ya”. Bu Ayu, pegawai bagian administrasi memberiku setumpuk lembaran untuk diisi, diperiksa, dan membubuhkan lembaran persetujuan. Profesi sebagai seorang dokter tak semudah yang digambarkan orang. Undang-undang etika  yang  mengikat, pasien yang kian kritis, profesi ini bisa bikin stress diri sendiri. Rekam medis pasien tak bisa asal isi, kalau tak mau ada masalah di belakang hari. Belum proses klaim asuransi yang juga menuntut profesionalitas tingkat tinggi. Kalau tak sabar-sabar, mungkin banyak dokter yang memilih bunuh diri.

“Kenapa sih Dok melamun terus. Pasien sepi ya, jadi baper”. Hatiku geli. Wanita yang hampir setua ibuku ini meladeniku genit. Aku tak menyangka, dengan usianya dia bisa-bisanya menggodaku “baper”, kosa kata anak muda. Aku hanya terpingkal sejenak dan melanjutkan tanda tangan sana, tanda tangan sini, bagian-bagian yang sudah ditandai.

Masalah hidup tak pandang profesi. Tak juga dihampar berdasar usia. Saat masih kecil, kita melihat kurva pertumbuhan manusia berdasarkan index dan waktu. Masa menjadi penentu. Namun tidak dengan kematangan seseorang. Pada akhirnya, sejalan dengan firman Tuhan, beban ialah apa yang disanggupi oleh pundak masing-masing. Untunglah Dia maha adil. Jika keadailan ini tidak kuresapi, sering kusesali, kenapa aku begini.

“Udah semua ya Bu”, Kataku sembari merapikan lembaran-lembaran medis.

“Okey Dok, semoga cepat cair ya”, Lagi-lagi dia mengerling genit. Bayangan tentang bahwa aku bertangan dingin yang berkorelasi dengan pundi-pundi materi tak terlintas di benakku detik ini. Benar, pasien hari ini tergolong sepi. Baru dua tiga orang yang ditangani, itu pun medical check up bulanan. Seputar pasien sakit gula yang kadarnya tak turun-turun, atau pasien radang paru yang tak jera berhenti merokok.

“Pak hentikan dulu rokoknya, ya”

“Iya kok, udah nggak lagi” Jawabnya singkat dengan senyum aneh.

Detik itu juga, tercium aroma tembakau dari mulutnya. Dan, aha…. Nah ini. Abu rokok tertangkap basah di celana hitam si perokok itu. Yang sepintas seperti ketombe gatal paling ganas sedunia. Aku tentu tak perlu menggeledah isi kantong celananya untuk membuktikan. Biarlah. Sehat untuk sehatnya sendiri. Sakit tetaplah bagianku, dan memang untuk itu para dokter ada.

Lengang. Aku membiarkan sedikit kaca jendela terbuka dari bilik kecil ini. Mencari keriuhan, menemaniku menghabiskan waktu. Wajah pasien yang sibuk, menunggu menahan duka. Para perawat mondar mandir berseragam putih biru. Kesibukan yang tak mampu menghalau gundah di hatiku. Aku memandangi tanda centang dua berwarna biru di layar  chat Whatsapp. Baru dibaca doang.

Mas, pengen pulang rasanya. Pengen peluk kamu. Happy Anniversary ya.

Note : Ada sesuatu di kulkas. Spesial deh pokoknya

I miss you

Kata orang, refleksi hari jadi. Tak ada yang terlalu baik, tak tertimpa sesuatu yang teramat buruk, setahun pernikahan ini. Karir yang mandiri, rumah yang tersedia, suami tampan, istri molek, aku berkata ‘I love you’, dijawabnya ‘aku padamu, sayang’. Hari berlalu, musim berganti, dua orang menyatu menjadi satu. Gunawan Putra, terlalu muluskah perjalanan kita. Sampai-sampai terlintas di benak, apa cuma segini aja makna cinta. Terlalu mulus. Bahkan tak pernah keluar keluh dari mulutmu, kita belum ada tanda hendak berketurunan. Kau selalu berkata, “Manusia membaca tanda dan peristiwa, mengetahui cara, berbicara teori, berikhtiar ke ujung bumi. Sekuat tenaga menemukan kunci. Tapi segel itu bukan manusia yang punya. Tuhan hanya belum berkehendak, hanya itu”.

Tok tok…

Fragmen lamunan sendu terbuyarkan. Dua kali pintu diketuk, tanpa suara. Ahh malasnya terima  tamu. Terlihat gagang pintu berusaha susah payah dibuka. Kurang ajar, tamu tidak sopan. Datang nggak pake salam, sudah berani mau buka pintu kamar orang.

“Sebentarrrr….” Aku berteriak edan.

Tok tok…

Lagi, bunyi pintu diketuk. Siapa sih! Dengan tangan kanan terkepal, pintu kayu kecoklatan tersingkap hebat. Apakah aku bermimpi? Ataukah ini halusinasi tingkat tinggi.

Read Full Post »

Older Posts »

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang