Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘sEdikit Kisahku’ Category

Bagaimana aku memulainya?

Bahkan aku tidak tahu hendak menulis apa. Aku kehilangan isi kepala dan wacana. Oh begini rupanya “tidak memikirkan apa-apa”. Ketika aku bertanya, “apa yang aku pikirkan?”. Jawabannya ialah tidak ditemukannya jawaban. Semacam tatapan kosong seorang anak bau kencur, yang ditanya kenapa pipis sembarangan. Anak itu tidak tahu pipis itu apa, bagaimana, dan kenapa.

 

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kita manusia, tidak pernah benar-benar mengenal kekosongan, setidaknya dari apa yang aku alami. Aku lalu berpikir (pada fase ini rupaya aku mulai punya ide), kenapa aku bisa begini? Kenapa ada blocking yang sedemikian padat antara keinginan dan kata-kata. Antara harapan dan eksekusi. Bukankah seseorang yang berjalan akan sampai pada suatu titik perhentian? Sedangkan aku sedang mencoba menuliskan sesuatu, lalu menyaksikan “tidak ada apa-apa” disana.

 

Aku mulai mengingat kejadian sehari ini. Sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja untuk diungkapkan, maka aku takkan menceritakannya. Aku beranjak kepada yang lain, semisal :  “tema apa yang membuat tulisanku lebih berarti”. Dan aku mulai meratapi ide-ide yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu kan, seperti baju lebaran yang susah payah dipilih. Kamu bisa merasa lucu ketika bertemu kembaranmu, duplikat penampilanmu. Warna yang sama, pola yang serupa, lalu kamu merasa bersalah, seolah baru saja ketahuan curang saat ujian. Aku bertanya kembali, kenapa aku bisa punya pikiran ‘sok’ begini? Sehebat apapun aku menginginkan originalitas, cepat atau lambat, karya kita, baju yang kita pakai, isi pikiran, akan menemukan duplikasi.

 

Aku berkata kepada seseorang di grup, “Hei, aku ingin baca buku ini. Sepertinya bagus ya?”

Jawabannya sedikit mematahkanku , “Belum tentu deh ya. Aku udah malas baca buku si Anu. Kayaknya tulisan dia gitu-gitu terus. Ngga ada sesuatu yang baru.”. Wow! Kok rasanya berat banget jadi penulis itu ya. Ekspektasi pembaca (setia) makin lama makin meninggi. Pertanyaannya, mampukah aku selaku penulis bau kencur bau kunyit ini menghadapi persoalan semacam itu?

 

 

Persoalan seolah tulisan ini belum juga naik kelas, tidak berkelas, yang lebih parah… penurunan kelas. Wah sungguh bencana!

 

 

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, aku harus mencari kambing hitam. Dan sepertinya, pikiran kotor bercampur keinginan superrr yang membuatku kandas kali ini. Okelah, baiklah.

 

 

 

Salam write’s block!

Karena penulis juga manusia.

algabiru-3.jpg

 

Iklan

Read Full Post »

Aku mengenalnya sejak kali pertama kami saling bertukar pandang di penghujung tahun 2004. Waktu itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu yang agak ketat disana-sini. Maklum, Islam ideologis belum lama menyentuhku dan di penghujung tahun inilah pelan-pelan aku mendalaminya. Aisyah, yang akrab ku panggil Kak Ais, tampak sedang panas-panasnya mengenyam Islam dimana aku pun kini berada di dalamnya. Dalam jamaah yang shahi ini (insyaallah), kami saling berpegangan dan saling menguatkan.

bagus-picture.jpeg

Kota Medan kala itu, pengemban dakwah masih tergolong sedikit. Dan dalam jumlah yang sedikit, kami bahu membahu bekerja untuk agama Allah dengan segenap kekuatan. Kak Ais ialah sosok yang menawan dari sisi keilmuan. Siapa yang rela mendengar, mestilah yang keluar dari mulutnya sebuah pelajaran. Posisinya sebagai mahasiswa di PTN ternama (Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara) membuat dirinya menjadi permata untuk mendakwahkan Islam.

 

Tiap bulan rutin digelar Jalsah Muna yang terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuannya. Tiap bulan pula aku selalu dibuat terpukau dengan jawaban-jawabannya yang lugas, tangkas dan berdalil. “Wah hebat….. sudahlah berprestasi di kampus, dakwahnya juga okey”. Perangai Kak Ais pun baik. Ringan tangan untuk yang membutuhkan, apalagi untuk dakwah.

 

Hari berganti hari, waktu berganti waktu. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang bersedia kami bina dengan Islam, banyak pula yang menolak.

 

“Kak, kenapa ya ada orang yang menerima dan ada penolakan? Padahal yang kita bawa demi kebaikan dirinya sendiri” tanyaku suatu kali.

“Itu sama seperti pertanyaan kenapa ada surga dan neraka? Sungguh Allah menciptakan dua jalan, manusia diberi pilihan memilih jalannya sendiri” jawabnya.

Cobaan tidak saja datang dari luar, datang pula dari dalam. Suatu kesempatan, mahaly kami bersepakat membuat rumah binaan. Isinya terdiri dari orang-orang yang sudah dibina, sedang dan akan dibina. Klop! Jadi saling melengkapi untuk perubahan. Kak Ais salah satu yang nimbrung tinggal disana. Pas aku lihat-lihat lagi orang yang akan menempati, aku jadi rindu pengen ke rumah binaan terus. “wahhh asyiknya, tinggal bersama rekan seperjuangan”, pikirku.

Sebulan, dua bulan, aura keislaman makin terasa di sekeliling kami. Tapi lama kelamaan seolah ada yang kurang. Di suatu majelis rutin, aku tak melihat Kak Ais. Kemanakah ia?

 

“Kak Rani, Kak Ais mana? Kok kayanya ngga keliatan” tanyaku pada seorang rekan.

“Oh, dia pulang ke rumah orang tuanya. Hemm… Ada urusan sepertinya”

“Ohh ….”

Aku melihat wajah Kak Rani yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ahh, sudahlah. Yah, namanya juga ada urusan, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

 

Waktu demi waktu berlalu, Kak Ais seolah lenyap ditelan bumi. Dia yang biasanya bercengkrama dan bertukar cerita, entah bagaimana kabarnya. Beredar kabar, Kak Ais tidak kerasan tinggal di rumah binaan. Loh, kok bisa? Dugaannya macam-macam. Konon, tidak akur dengan salah seorang kawan. Permasalahan kecil yang jadi besar, dan permasalahan besar yang makin membesar. Atau keadaan rumah binaan yang buat ngga nyaman. Ahhh, apapun itu. Pasti masalah yang kompleks. Sehingga Kak Ais yang ku kenal tabah dan sabar, tampak ‘babak belur’ dan memilih angkat kaki dari rumah yang terbina ini.

“Kak, benar ngga sih Kak Ais pindah dari sini?”

“Kak, apa iya Kak Ais ngga ngaji lagi?”

“Kenapa?”

Seluruh tanya beredar di kepala. Jawaban yang sebenarnya hanya sedikit yang mengetahui. Ahh, sedih rasanya kehilangan satu sel tubuh. Terlebih-lebih sel yang terkenal unggul, produktif pula. Entah setan apa dan entah siapa setannya yang menyebabkan ikatan diantara kami menjadi longgar.

 

Suatu kali sosok Kak Ais kelihatan di mushola kampus. Yah, wajar kali ya. Namanya juga anak kampus, pastinya berkeliaran di kampus. Namun  Kak Ais tidak berlama-lama dan begitu tergesa-gesa. Menghindar ? Mungkin. Ahh, astaghfirullah. Rasa penasaran kadang mengundang rasa su’udzon untuk masuk ke hati ini. Cerita punya cerita, tiap kali ketemu kawan-kawan, sikap Kak Ais sama. Yakni tak suka berlama-lama. Tidak seperti dulu lagi.  Maklum, mungkin karena aktifitas yang dijalani sudah berbeda, ketertarikan terhadap sesuatu pun berbeda kadarnya. Inikah yang disebut “hibernasi dakwah” ?

 

(BERSAMBUNG…  )

OLEH: ALGA BIRU

Read Full Post »

flower-blue-sky

Akhir-akhir ini lebih banyak waktu di rumah, lebih banyak waktu di depan komputer, online. Banyak pesan di inbox yang nyatanya belum sempat dibalas, bahkan tertengok.  Jadi keingetan, dengan seorang yang kini telah tiada. Namanya, Maza. Waktu itu, kali-kali pertama pakai facebook. Belum nemu banyak teman. Biasanya, hal ini membuat kita ingat lekat dengan siapa kita berteman di dunia maya.

Kenal Maza, mulai dari dia lajang, menikah sampai akhirnya pindah ke Qatar (negeri Arab deh pokonya). Bisa dibilang, Maza onliner sejati. Apalagi sejak menikah dan pindah ke negeri seberang, frekuensi online makin sering, mungkin karena kesepian, wajar sih ya. Anaknya periang, apresiatif. Sukanya berteman, murni berteman. Bukan tipe yang seolah-olah nunjukin “ini loh gue”.  Beberapa kali update status. “Ukhtifillah, doain Maza ya, sekarang lagi sakit nih. Kangen dengan kalian semua”. Satu persatu teman mendoakan.  Udah sakit kaya gitu, masih sempat-sempatnya ia menulis sebuah notes di Fbnya. Yang isinya ucapan terima kasih untuk teman-teman Fb yang selama ini menemami, menginspirasi dan menguatkan jiwa dan agamanya. Ajaibnya, nama saya ada di dalamnya. Senang rasanya, ada yang mengingat dan mendoakan kita.

Namun, ngga ada yang menyangka, itu jadi tulisan terakhir dari Maza. Seolah-olah itu jadi pesan kematian untuk semua orang yang ditinggalkannya. Ya, maut memang misterius. Kita tidak tau, siapa duluan yang akan dipanggil. Kita ngga pernah tau pasti, akankah ini jadi status terakhir kita di Facebook? Apakah ini jadi hari terakhir kita melihat matahari. Lihatlah status-status  atau twit orang yang kini telah tiada. Mengerikan bukan? Dulu mereka berbicara dengan kita, kini hanya kata-katanya saja yang bisa kita nikmati secara pasif.

Sebagai seorang teman, saya merasa belum sempurna dalam menyemangati Maza di masa sulit. Ya, Allah… ampuni keegoisan hamba pada saudara hamba tersebut. Kadang-kadang urusan pribadi telah menyita waktu dan perhatian.

Teruntuk seluruh teman, yang dikenal langsung maupun tidak langsung. Yang kenal di Facebook atau media lainnya. Berbaik-baiklah dalam berkata, bertepat-tepatlah dalam berjanji.  Mohon lampirkan pesan di notes ini jika ada janji di antara kita yang belum terpenuhi. Sebab saya khawatir, ini jadi yang terakhir. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

 

 

Medan, 31 Januari 2013

Alga Biru

Read Full Post »

Hari ini saya sedang melamun, lebih tepatnya lagi ‘merenung’. Saya suka merenung. Renungan itu kerjaannya para visioner loh (wehh…..). Sejam lalu sebelum merenung, saya tekuni setitik nasib. Ohh, saya sudah sarjana sekarang (Hak… hak.. hak.. akhirnya). Saya tekuni bahwa saya bisa tidur 4 jam sehari untuk kali ini (huohoho…. Susah pisan!). Saya tekuni dan pandangi si ‘Perempuan Semesta’, naskah duet zona terpisah saya dengan salah satu seorang trainer remaja. Lumayan juga. Saya ratapi dan saya syukuri kekurangan-kekurangan diri saya yang jumlahnya puluhan. Mungkin lebih. Saya cintai kekurangan itu seperti saya mencintai matahari. Saya cintai apa yang hari ini saya dapat. Cinta saya pada semua itu akan mengubah dunia, saya percaya itu. Saya tidak bermimpi, bukan? Ya, saya bukan pemimpi.

 

Saya merenung, apa yang harus saya lakukan? Saya bergerak kesana-kemari. Mencoba melakukan sesuatu lebih dari sekedar ‘konsep’. Terminal demi terminal yang sarat dengan kontemplasi mengajak pikiran ini bertamasya. Saya lihat tumpukan buku saya minggu ini (Rata-rata buku motivasi dan bisnis). Pikiran ini meranggas. Ohh,… asik juga kalau jadi trainer ya. Pikir saya. Lumayan, kantong pahala. Lumayan, kantong inspirasi. Bukankah cara meraup inspirasi paling ajeg menurut saya adalah dengan bertemu banyak orang? Trainer bisa melakukan itu. Seorang trainer pastilah bertemu, melayani, dan mendengar keluhan bermacam kalangan. Seru juga kalo saya jadi trainer. Pikiran saya mulai nakal…. Ya, kalau saya beneran jadi trainer, bisa gempar nih dunia persilatan. Hehe. Ah, saya bukan trainer. (sekarang ini, bukan)
Tiba-tiba SMS masuk ke ponsel Qwerty saya. “Eh dari Pak SM!”. Pak SM ini Trainer inceran saya untuk diwawancarai. Lumayan juga ni si bapak. Jebol dari IPB, melanglang buana jadi trainer. Andai saya trainer, batin saya mengadu. Lalu SMS itu pun saya baca:”Assalamualaikum. Pak Dian F Hasibuan, email sudah saya kirim. Wass”
Whats???
Oh My….. !!!

Wahh, udah ngga bener nih. Dengan tampang yang tidak ridho, saya balas SMS itu:
“Waalaikumslm. Terima kasih atas jawabannya. Maaf Pak, saya perempuan”
Oalah Pak, saya bukan laki-laki. Ah, ada-ada saja. Saya pun tersenyum. Dunia saya asik sekali. Lucu, bijaksana dan luar biasa! Thank’s Allah…. Ya Rabb, jadikanlah saya ‘sesuatu’. Jauhi saya dari yang ‘bukan-bukan’.  (Aamiin)

 

Footnote: Setelah sekian lama, akhirnya saya nge-blog lagi. Ada yang rindu? Ayo tunjuk tangan 😀

Read Full Post »

iyah (part 2)

titik-titik air ini mengalir seperti kecipak rintik hujan di dahan yang kehujanan. Coba saksikan ke dalam jiwa yang terus belajar, dimana dia semakin mengerti tentang sebuah kata “manusiawi”. Memahami air jiwa, memahami setiap gejala.

kelak, ketika poto-poto di album telah menjadi kusam bahkan mengabu. Disanalah seorang nenek tua bercerita tentang puisi-puisi air mata. Sajak bijaksana dari air manjur jiwanya. Terkekeh dia mengingatnya.

dan dari keriputnya, kita tak pernah benar-benar tau, banyak sakit yang ia simpan sebagai asam garam kehidupan.

note: jika kau ada masalah, yakin saja… semua badai masalah pasti ada akhirnya. sabar ya…

Read Full Post »

gecko-cartoon-webs

Cicak....!!!

Kejadian ini tidak untuk dicontoh. (07/11/09), hari sabtu. Universitas saya adalah universitas bukan main. Sedangkan fakultas saya merupakan variable penguat bahwa apa yang saya katakan ini tidak terkategori dusta. Salah seorang mahasiswi ex-Unpad menertawakan saya, perihal saya yang tetap masuk kuliah di hari sabtu. ”Di Unpad mah mana ada kuliah hari sabtu”, begitu katanya. Maka dengan mantap saya jawab:”kampusku sungguh bukan main”.

Bangga ? ya, sedikit. Sedikit berbangga, dan diikuti oleh segelintir kericuhan nalar di belakang. Sebenarnya bukan ricuh, Cuma timing nya sedang tidak akur. Hemm, Waktu itu hari sabtu, dan kebetulan (dengan entah kebetulan yang keberapa), beberapa teman saya mengajak saya untuk andil dalam sebuah agenda politik. Kali ini aksi turun ke jalan. Cicak Versus Buaya, memang tengah ramai diperbincangkan. Institusi islam tempat saya dibina, alhamdulillah men-tabhani permasalahan tersebut. Jadilah saya bingung:”Wah… sayang juga ini kuliahku. Mana padat”. Ah, bolos saja. Sesekali. Insyaallah bisa dikejar. Lagian kalau saya kuliah, ilmu tersebut hanya untuk saya. Itu pun jika masuk ke otak. Tapi kalo saya melakukan edukasi politik, keringat dan air mata saya adalah untuk umat. Dan bakti ini merupakan bakti yang belum ada bandingnya, pikir saya menimbang-nimbang. Tapi sebentarrr… sy jadi teringat bahwa kuliah ini jadi fardu ’ain untuk bakti saya pada amanah orang tua. Wah,… fardu ketemu fardu, gmn ini aulawiyat nya ? prioritasnya?
Fardu ketemu fardu, berarti harus dilaksanakan keduanya. Yup! Bersama-Mu Allah, tak ada jalan Buntu. AKU YAKIN !!
Saya mulai membuat siasat, bagaimana agar keduanya bisa dengan penuh rahmad saya tunaikan. Demi ALLAH, saya tak ingin ketinggalan untuk menggedor pintu surga kelak. Namun….Saya teringat sebuah makalah wajib yang akan saya kumpul di hari yang sama. Makalah yang saya sendiri merasa tidak senonoh jika mengacuhkannya. Makalah yang sudah selama seminggu ini saya cicil. Seolah malaikat pun menggiring bahwa tiap kewajiban harus dengan sungguh diselesaikan. Aha! Siasat punya siasat, akhirnya saya menemukan jalan. Saya akan ikut aksi, tapi saya akan setor makalah dulu. Niatnya begitu…

Jam 7 teng! Kuliah pagi. Saya tepat waktu (cuittt siuwww…. ini prestasi besar untuk seorang yang sering kesiangan). Waktu terus berjalan dan matahari semakin tinggi ke ubun. Kok ? Kok ? Kapan makalah ini dikumpul ? kenapa tak ada tanda-tanda ? Setelah mencari sinyal-sinyal makalah, seorang teman menasehati saya bahwa makalah saya di-print dengan kertas yang salah. ”Loh ?? iya ya ??”. Ini namanya kurang kerjaan, dan selebihnya waktu terbuang untuk melakukan print ulang. Alamak!

Tik… tik… tik… tik… detik demi detik, sang waktu mengumpat saya di sabtu itu. SMS dari teman saya mulai menanyakan keberadaan saya. ”Ya, saya kesana”, sms terkirim.
Dan ketika deru sang skuter andalan saya mulai menepaki jalan, saya terima SMS bahwa aksi sudah di penghujung. Tik… tik… tik… Sang waktu telah menggilas saya. Ahh…..

Untuk apa lagi saya kesana ?
binar sudah saya rasakan. Dan saya pun putar arah, menuju rumah.
Saya hanya bisa berencana, perkara hasil kadang tak seperti apa yang diharapkan. Salah saya memang yang terlalu serakah dan percaya diri dalam menjalani keduanya. Salah saya memang yang tidak bulat untuk mengambil sebuah pilihan saja. Saya bahkan kalah tekad dibanding seorang petarung CPNS di kertas jawaban multiple choice.

Bagaimana kelak jika ALLAH meng-eliminasi saya untuk masuk ke tirai-Nya ?? saya tidak punya hujjah dalam hal ini. Saya pulang dan menghabiskan beberapa waktu untuk tidur. Selebihnya… berisikan renungan.

” Duhai Rabb , Saya tidak mungkin mengulang waktu dan bernegosiasi dengan nasib.

Waktu-Mu tak mungkin mampu untuk dikorup”

(To be continue….)

Read Full Post »

My Birthday

hup !!

Sekuat apa pun, takkan mampu kau putar waktu....

Kamar saya sudah bertabur debu. Ini tidak sehat ! pikir saya. Demikian banyak dokumen layak dan tidak layak yang bercampur menjadi satu kesatuan yang tidak enak dilihat. Saya menemukan beberapa lembar foto semasa SMU, terharu. Ya Ampunn.. jerawat saya dulu tidak sebanyak sekarang. Eheee. Sudah berapa lama saya meninggalkan segaram putih abu-abu ….? empat tahun lebih mungkin. Selain foto,  dokumen dan barang sejenisnya, saya pun temukan ‘buku harian’ di tempat tidak strategis, di sembarang sudut kamar. Benda keramat itu awet juga rupanya. Baik dari sisi jasad maupun content-nya. usang… tapi saya masih suka. Seperti diri ini, yang semakin renta dan tambah usia, tapi tetap saya sukai adanya. Tentu tak lepas dari muhasabah disana-sini tiap hari. Menghargai diri sendiri adalah awal yang baik, bukan… ? syukur nikmat dan tidak takut tantangan, posisinya harus sejajar dalam arung jeram kehidupan ini.  Melalui buku harian, foto kenangan, dan ‘debu-debu’ ini, saya menyadari makna sebuah perubahan sebagai keniscayaan. P-E-R-U-B-A-H-A-N.

31 Juli 2009 nanti, genap usia saya ke 22 tahun menurut kalender Masehi. Huufff…

Renung, merenung..  Saya berkesimpulan bahwa saya nyata-nyata tidak perlu menunggu tanggal 31 Juli untuk sebuah perubahan. Entah usia, nasib, termasuk lembaran cerita unik dalam derap langkah dan tinta yang terukir.

COZ  EVERY SINGLE DAY IS MY BIRTHDAY

(Karena setiap hari adalah ‘ulang tahun’, maka saya rela mendapat kado tiap kali bangun pagi :P)

Read Full Post »

Older Posts »

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même