Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2009

CHARICE -“You Raise Me Up”

(My inspiration Album)

 

Iklan

Read Full Post »

Kawan-kawan, maksud saya evolusi. Bukan revolusi. Belum banyak hal-hal yang terkategori ‘revolusi’ dalam hidup saya. Akan halnya pula evolusi itu sendiri.Rata-rata berjalan dengan kecepatan rata-rata. Tidak terlalu cepat, tidak juga seperti kura-kura.Adapun kisah evolusi dimulai dari sebuah karya kecil ’sigmoid’ yang sempat mewarnai hari-hari saya sejak tahun 2007 ke 2008. Lembaran Proyek Sigmoid berjalan indah dan keringat mengering diatasnya. Sekarang karya itu sudah jadi dan entah kemana. Virus trojan sudah melahapnya habis tak bersisa. Belum sempat me-recovery, tiba-tiba saja saya kehilangan selera. Kala itu saya memang sedang futur berat. Salah seorang sempat berkata:”ayo Alga, menulis lagi”. Kasihan anak itu, karena tidak saya gubris. Sebagai rekan sejawat, kita memang agak prihatin jika ada yang ’syahid’ di setengah perjuangan. Hehehe. Duh, syahid. Saya ganti deh kata-katanya, karena terlalu terhormat. Hemm,… yah, semacam ’gugur’ sebelum berkembang. Blog di wordpress ini telah menjadi saksi bisu, saya yang sempat menjadi mayat hidup. Atau hidup sebagai mayat.Juli 2008, hingga Januari 2009. Tak ada postingan apa pun. Bahkan untuk sekedar copypaste. ”Saya sedang semedi”. Begitu alasan saya.

Sigmoid… sangat ilmiah kedengarannya. Terbukti, banyak yang mengeluh ketika membacanya. Hehe. Tetangga saya pernah saya paksa untuk membaca. Dan dia menyerah di Bab satu (hihihi…) Lantas… saya beranikan diri ini untuk keluar dari hidup saya. Saya bosan dengan karya-karya Sub Marcos, literatur yang bermodus ’politisasi’. Saya juga sempat bosan dengan kitab Nizhomul Islam (Walo sekarang jadi makin suka). Saya cukup terhibur dengan Supernova, tapi kemudian saya bosan juga. Saya jenuh dengan orang yang mondar mandir, seperti kutu banyaknya. Saya bosan banyaknya testimoni di Friendster. Saya bosan dengan gemerlapan, saya bosan jika sedikit-sedikit dekat pada maksiat. Benar-benar jenuh di kala itu. Dan, kebosanan itu menuntut korban yang jatuh. Sigmoid laksana tumbal bosan yang diakhiri dengan Rest In Peace di liang lahat.

Masih dalam konteks ”mencari dunia baru”. Saya beranikan diri untuk membaca ’ayat-ayat cinta’. Awalnya gara-gara liat si Apu kayanya (Hahaha… aya aya wae). Dan saya pun berhenti. Saya hanya mengobati penasaran, kenapa banyak yang gandrung dengan AAC ? Saya senang dengan kiriman Cirex ”Sepasang Mata untuk Cinta yang buta”. Boleh juga. Dan pencarian belum usai. Dalam kefuturan ini, saya terdengar agak kekanakan. ”Saya ingin dimengerti”. Dan saya memulainya dengan mencoba untuk memahami, kenapa ada orang yang enak dalam bertutur dan tidak mengalami miss-interpretasi. Hal yang paling menggelikan dari pencarian ini adalah uji coba saya untuk ”menjadi orang lain”. Menarik loh! Saya tidak menolak untuk menjadi Nurhadi, jika itu adalah langkah yang baik. Saya tidak menolak, jika saya memakai dialek Habiburrahman jika itu mewujudkan kebajikan bagi orang yang membacanya. Saya tidak keberatan menjadi apa pun dan siapa pun, jika itu adalah fase metamorfosis dalam penjelmaan menjadi kupu-kupu.

 

………….Ada tutur kata terucap…………

……….Ada damai yang ku rasakan…..

…..Bila sinarnya sentuh wajahku….

………Pencarianku pun usai sudah…….

Saya tidak mengenal istilah ”be your self, and whatever what they say”. Karena saya menafsirkan itu sebagai tindakan sebego-begonya orang bego. Yah… masa udah bego, mau tetap jadi diri sendiri yang bego ??? hehehe. (Untuk tulisan “be your self”-nya Raindraze, itu pengecualian)

Januari 2009, saya kembali “mengudara”. WordPress aktif lagi, YM juga. Walo pun sampe sekarang masih ada residu akibat dibajaknya email merahmaron@yahoo.com. Inbox yang sudah saya pertahankan sejak SMP. Dan… yah… EVOLUSI !!

Pelan tapi pasti, gaya tulisan saya pun mengalami evolusi. Saya tidak akan mentok pada jargon revolusi, tidak juga bercukup diri topik membongkar misteri kehidupan. Saya ingin necis meski dimandat untuk mengangkat tema-tema cinta. Tidak keberatan jika perlu membahas keteladanan jihad dan komersialisasi agama dalam satu paket.

Cara pandang saya bergerak satu per satu. Ranah perjuangan saya mulai stabil. Saya mulai membuka diri lagi. Saya tidak perlu ’sayap-sayapan’ untuk terbang. Dulu, sempat sedih ketika separuh sayap saya terbang dibawa rembulan berasa madu. Sampai sekarang masih sedih sih. Tapi… yah.. sayap itu bukan rizqi saya. Bodohlah saya jika saya berprasangka buruk pada ketentuan-Nya. Dengan keringat dan air mata, saya bangun tangga menuju langit luas. Dengan keringat dan air mata, saya yakinkan diri saya, bahwa undakan langit ini harus selesai sebelum saya mati.

Maka nikmatilah apa yang bisa tersaji disini. Saya pun begitu. Menikmati masukan kalian. Apresiasi, atau berbagi mimpi disini. Atau jika mau, kita berlomba membangun tangga langit bersama. Ya, menikmati apa yang belum dicapai. Menikmati apa yang sudah diberi. Sekali lagi, nikmatilah apa yang tersaji disini. Siluet metamorf, yang merupakan penggalan-penggalan kehidupan dari dunia yang bertajuk ”Rahim_Imajinasi”. Mari bertelur !!

 

Catatan: Terima kasih untuk yang sudah berkunjung ke Rahim_Imajinasi. Terima kasih untuk yang sudah membaca Sigmoid. Terima kasih untuk yang masih mengingat saya. Terima kasih bagi para  penjaga islam (Kalian kereeennnn!)

Read Full Post »

Ilmu genetika mengajarkan bahwa Anda adalah Anda sendiri, sebagai hasil dari 24 kromosom yang di curakan ayah Anda dan 24 kromosom lagi oleh ibu Anda. Ke-48 kromosom tersebut berisi segala sesuatu yang menentukan warisan siapakah Anda sebenar-nya. Amran Scheinfeld dalam bukunya, You and Heredity, mengatakan, “Dalam setiap kromosom itu terdapat ratusan gene dan dalam kasus tertentu, sebuah gen akan mampu mengubah kehidupan seseorang.”

Kita ini diciptakan dengan sangat mengesankan dan menakjubkan. Setelah ibu dan ayah bertemu dan melakukan pembuahan, hanya ada satu kemungkinan dari 300.000.000.000 yang lahir. Dan, itulah Anda. Dengan kata lain bila Anda mempunyai saudara kandung sebanyak 300.000.000.000, maka tak seorang pun yang sama persis dengan Anda. Amran melanjutkan, “Anda adalah diri sendiri di dunia ini.”

Sementara Dale Carnegie mengatakan, “Anda adalah sesuatu yang baru di dunia ini. Tak pernah terjadi sebelumnya, sejak dunia ini diciptakan, seseorang yang benar-benar sama dan sempurna dengan Anda, dan sampai dunia akhirnya nanti berhenti, tak akan lahir lagi seseorang yang sama dengan Anda.”

Dalam Islam, konsep ‘kesendirian’ merupakan acuan utama dari perintah untuk beramal. Artinya, manusia harus memperbanyak amalnya karena kelak ia akan dihisab secara sendiri-sendiri. Orang lain tidak bisa memberi manfaat, hanya amalnya yang menentukan. Memang, kita perlu bekerja sama dengan orang lain, tapi itu hanya alat bantu saja dan bukan alat untuk melimpahkan dosa atau mengurangi tanggung jawab pribadi.

Itu pula isyarat nyata dari Allah, bahwa syetan sekalipun yang hobinya menjerumuskan manusia, kelak tak akan mau bertanggung jawab. “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu “, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:” Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”(QS. Al-Hasyr: 16). Lalu bagaimana akibatnya, “Maka adalah kesudahannya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Hasyr: 17).

Semangat menjadi diri sendiri bukan berarti menafikkan keteladanan. Tapi meneladani orang lain tak berarti Anda memindahkan kepribadian orang lain tersebut pada cetakan kepribadian Anda. Sesungguhnya apabila seseorang keluar dari pembawaan wataknya, dan memisahkan dirinya dari tabiat akal dan jiwanya yang tidak ada penyimpangan di dalamnya, merupakan suatu perkara yang akan merusak kehidupan orang tersebut dan menimbulkan goncangan-goncangan dalam tingkah lakunya. Anda mungkin sudah mendengar tentang kisah seekor gagak yang tertarik untuk berjalan di atas tanah, akibatnya ia tidak dapat melangkah sebagaimana yang ia inginkan, dan tidak dapat terbang sebagaimana ia diciptakan.

Sesungguhnya sangat sulit sekali bagi manusia walau bagaimana pun ia berusaha, untuk menjadi yang lain dari dirinya. Dale Carnegie mengisahkan, “Saya bertanya kepada direktur Socony Vacuum Oil Company tentang kesalahan paling besar yang dilakukan oleh orang-orang yang melamar pekerjaan.” Ia menjawab, “Kesalahan yang paling besar dari pelamar pekerjaan adalah mereka tidak mau menjadi diri mereka sendiri. Bukannya mereka mengemukakan ide-ide mereka dengan jujur, tetapi kadangkala malahan mencoba memberikan jawaban yang menurut perkiraan mereka kita inginkan. Tentu saja mereka gagal, karena tak seorang pun yang ingin mempunyai karyawan yang tidak jujur dan palsu.”

Menjadi diri sendiri artinya kita mengoptimalkan segala potensi diri yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bahkan dalam potensi-potensi itu ada berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah SWT berfirman, ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Qs. Fushilat: 53).
William James, seorang ahli juga, pernah mengatakan bahwa, “Seandainya kita mengukur diri kita dengan apa yang seharusnya kita berkembang menurut pembawaan kita, maka akan jelaslah bagi kita bahwa kita ini hanya setengah sadar. Atau dengan kata lain, kita hanya menggunakan sebagian kecil dari sumber-sumber kemampuan fisik dan mental kita. Sebenarnya banyak kekuatan lain yang bermacam-macam yang kita miliki, namun kita tak menyadarinya. Masih banyak bermacam-macam kemampuan yang gagal kita manfaatkan.”

Dalam tradisi interaksi antara Rasulullah dengan para sahabat, sering kita dapati Rasulullah sengaja memancing kemandirian para sahabat untuk mengemukakan pendapat. Tentunya hanya untuk hal-hal yang belum turun wahyu. Seperti yang terjadi tatkala beliau bermusyawarah dengan para sahabat tentang tawanan perang Badr, maka para sahabat mengemukakan pendapatnya masing-masing sesuai dengan apa yang dianggap benar.
Abu Bakar misalnya, mengemukakan agar tawanan itu diampuni, Rasulullah SAW. Abu Bakar beliau samakan dengan Nabi Ibrahim AS, yang berkata mengenai kaumnya, “Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ibrahim:36)

Sementara Umar, beliau serupakan dengan Nabi Nuh AS, yang telah berkata mengenai kaum-nya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Qs. Nuh: 26-27).

Sangat tampak dalam kisah di atas bahwa kedua sahabat tersebut masing-masing mengemukakan pendapat yang mereka anggap benar, sebagaimana ditunjukan oleh pikirannya yang bebas dan perbedaannya yang khusus dalam memecahkan masalah. Itulah kemandirian. Kemandirian itu bahkan bermuara kepada fitrah manusia yang bersih. Yang tidak mau menjilat-jilat dan mendustai nuraninya sendiri. “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (Qs. Ar-Ruum: 30)

Yakinlah bahwa iri hati adalah kebodohan. Dan, kepalsuan itu adalah bunuh diri. Mestinya orang rela dan bersyukur atas apa yang dimilikinya sebagaimana Allah telah menentukan baginya. Di atas hamparan dunia yang luas dan begitu subur ini, tak akan ada biji jagung yang tumbuh baik tanpa ditanam dan dipelihara dengan baik pula. Kekuatan yang ada pada seseorang adalah sesuatu yang baru, alamiah dan tak seorang lain pun yang tahu apa yang dapat dilakukannya. Dan, si empunya tak akan menyadari sebelum ia mencobanya.

Semua potensi itu bisa diasah, dengan berbagai macam cara yang terus berkembang, dari model pelatihan hingga disiplin ilmu yang sudah permanen, dari berguru hingga belajar sendiri. Maka, tunggu apalagi. Segera kenali diri, gali potensi, dan jadilah diri kita sendiri yang jujur dan berani bertanggung jawab. Wallahu’alam

Oleh : Raindraze Rahma

Read Full Post »

Apa sih “be yourself!” itu?

Selama ini, orang-orang begitu mudah mengatakan “be yourself” donk! Padahal belum tentu mereka memahami apa yang mereka ucapkan. Klausa itu memang terasa sangat multi interpretative hingga semua orang berhak punya definisinya masing-masing.

“ ‘BE YOURSELF’ adalah kalimat yang paling gue benci”. Begitu ungkap seorang kawan suatu ketika. Setelah agak lama mencerna, saya akhirnya menggangukkan kepala, mengamini. “Memangnya siapa yang benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri?” Begitu pikir saya. Hingga detik ini pun, saya bahkan belum mampu menemukan definisi yang tepat bagi klausa “menjadi diri sendiri.”

Seorang kawan lain pernah mencoba membantu saya dengan berujar, “Menjadi diri sendiri berarti mengenal sejarah diri. Karena dengan itu, tidak ada orang lain yang benar-benar bisa menjadi kita, begitupun kita yang tidak bisa benar-benar menjadi orang lain.”

Mengenal sejarah diri? Hhmm..boleh juga, cukup make sense. Tapi sepertinya itu belum menjawab pertanyaan saya. Lantas ada apa dengan mengenal sejarah diri? Baiklah…sejarah memang selalu menemukan pengulangannya, namun haruskah seseorang yang ingin “menjadi dirinya sendiri” mencukupkan diri pada sejarahnya? Terus menengok ke belakang? Atau justru terperosok pada sejarahnya sendiri hingga tak mampu menatap ke depan?

Haruskah seseorang yang ingin menjadi dirinya sendiri lalu menjadi stagnan tanpa mau berubah, karena ia takut dituduh “imitatif”, “tidak berkarakter”, “krisis identitas”, and so on?

Padahal, bukankah perubahan (terutama menjadi “lebih baik”) adalah sebuah keniscayaan, bahkan menjadi sebuah keharusan? Bahkan seorang bijak pernah menyebutkan, “TAK ADA DI DUNIA INI YANG MAMPU KONSISTEN, KECUALI SATU HAL: PERUBAHAN.” Lalu apakah seseorang yang mencoba meninggalkan “sejarah” hidupnya atau seseorang yang sengaja “mengubah” karakter itu adalah seseorang yang kehilangan identitas dirinya?

Ah, terlalu berbelit! Sebenarnya saya hanya ingin berbagi kisah tentang seorang perempuan yang sedang mengalami, yah sebutlah, “krisis identitas.” Haha…terlalu berlebihan saya pikir! Sebenarnya hanya masalah sepele, namun cukup menggelitik kesadaran dan membuat saya mengernyitkan dahi. Panggil saja dia “Bunga.” (Hihi….tapi Bunga yang ini bukan korban perkosaan lho!)

Dia bukanlah perempuan yang feminin, tapi tolong jangan disebut tomboy, coz she doesn’t really like it!

Sebelumnya saya mohon maaf, sebenarnya saya punya definisi sendiri terhadap kata “feminin.” Tapi ijinkan saya untuk tidak membahasnya disini, karena untuk saat ini saya akan mencoba mengalah pada common sense bahwa femininitas adalah naluri kewanitaan yang seringkali diejawantahkan dengan berbagai aktivitas fisik khas wanita, seperti (yang paling lazim adalah): suka dandan dan begitu care sama penampilan.

Tapi entah kenapa, sejak dulu Bunga (yang mengaku perempuan ini) adalah sosok yang jauh dari berbagai hal tersebut. Dia selalu saja PeDe pergi keluar rumah dengan memakai baju yang tidak tersentuh setrika sedikitpun. Dia juga terlampau sering pergi ke kampus atau ke kantor dalam keadaan belum mandi. Jika masuk kamarnya, jangan berharap kalian akan menemukan lotion, pembersih muka, bedak, pelembab wajah, apalagi lipstick! Yang ada hanya deodorant dan bedak bayi. Kawan-kawannya pun sempat bengong saat tau bahwa perlengkapan mandi Bunga hanya sabun Lifebuoy plus odol Formula, gak lebih! Itu pun hanya dipakainya rata-rata sekali dalam sehari. Tidak ada sabun muka, apalagi sampai lulur mandi.

Selama 20 tahun sejarah hidupnya bergulir, Bunga merasa nyaman dengan keadaan itu. Kulitnya pun gak pernah protes karena tidak mendapatkan perawatan ekstra. Bunga justru dihantui ketakutan, kalau dia mencoba memakai kosmetik, maka kulitnya yang emang udah putih bin mulus dari sono-nya itu justru akan jadi rewel, seperti yang dialami teman-temannya. Ya flek hitam lah, ya jerawatan lah, de el el. Maka Bunga pun mendapat pembenaran untuk terus mempertahankan kecuekannya.

Namun belakangan, teman2 Bunga mulai risih dengan kebiasaannya. Mereka pun mencoba mencekokinya dengan berbagai doktrin, seperti; “cantik itu pilihan, harus diusahakan, tidak datang begitu saja.”

“Kalo lu emang udah ngerasa cantik dari sononya, makanya dijaga donk! Itu kan amanah dari Allah”

Sampai akhirnya, Bunga memutuskan untuk menuruti perkataan teman-temannya. Dia berpikir, toh tak ada salahnya. Ini kan untuk “menjaga” apa yang sudah diamanahkan Allah, bukan untuk centil-centilan. Tapi di tengah jalan, Bunga justru merasa “menjadi orang lain.”

“Gak gue banget deh!” begitu pikirnya.

Padahal (sekali lagi) Bunga hanya ingin menjaga, bukan mau kecentilan. Toh adalah hal yang wajar bagi seorang wanita untuk merawat diri, meski hal itu sangat jarang dia lakukan. Simpelnya, dia hanya ingin merubah kebiasaannya untuk menjadi (menurut dia) lebih baik.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berusaha merubah kebiasaannya, Bunga telah menjadi orang lain? Berarti Bunga gak ngikutin kata orang untuk “be yourself” donk! Ataukah, untuk terus menjadi dirinya sendiri, berarti Bunga harus tetep males merawat diri?

Hhmmm…

Gimana, udah ketemu jawabannya?

Kalo udah, kirim aja jawaban kamu denagn mengetik REG NGACO kirim ke 1111.

Hehe… simpan jawaban itu untuk dirimu sendiri! Karena sebenernya si Bunga gak butuh!

Read Full Post »

———————————————————————————

—————————-

PAK Krisna adalah seorang yang super sibuk di antara keluarganya dan keluarga istrinya
dan di antara pengusaha lain di perusahaan di kotanya dan di antara orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan tersebut

Lia dan Nisa adalah dua orang putri yang cantik-cantik dan lincah-lincah.
Hingga guru-gurunya pun banyak yang menyenangi mereka dan selalu mencandai keduanya.

Sebab selain cantik dan lincah-lincah, Lia dan Nisa adalah anak-anak yang pintar dan juga lucu.
Namun bagi Pak Krisna, dia tidak merasa ada kesan lain terhadap dua orang putrinya.

Seolah-olah Lia dan Nisa adalah anak yang biasa-biasa saja seperti anak lainnya.

Jarang sekali pak Kisna mau bercanda dengan Lia dan Nisa.
Sebab keningnya sering berkerut memikirkan urusan bisnisnya.
Dan waktu dia berada di rumah pun dia sibuk dengan lap top komputer-nya.
Sambil sekali-kali menjawab bunyi dering handphone-nya.

Setiap Lia dan Nisa menghampkinya, Pak Krisna selalu menyuruh anaknya agar tidak bermain-main didekatnya. Hingga terkadang dkinya selalu memanggil istrinya agar mengajak anak-anaknya tersebut bermain dengan istrinya saja. Seringkali Lia dan Nisa menolaknya.

Dan tak jarang mereka menangis ketika Ibunya memaksa meraka agar tidak bermain-main di dekat Bapaknya.

Hal ini dilakukan oleh Pak Krisna karena Lia dan Nisa sering mengganggu ketenangan dirinya,
yang sedang sibuk memikirkan bisnisnya.

Setiap Lia dan Nisa menanyakan jawaban atas sebuah soal dari PR mereka.

Pak Krisna selalu menjawab, “Kamu berdua kan sudah bapak sekolahkan, bapak kan sudah membayar uang bayaran kamu berdua, sekarang kan yang sedang belajar kamu berdua, mengapa minta bantuan bapak? Nanti kamu tidak bisa pintar dong, kalau tidak bisa mengerjakan PR-mu sendiri”.

Demikian kilah Pak Krisna menolak membantu mengerjakan PR kedua anaknya Lia dan Nisa.

Namun Lia dan Nisa tetap saja selalu menanyakan kembali atas PR-nya
kepada Pak Krisna pada hari-hari berikutnya.

Kali ini mereka meminta pujian Pak Krisna karena mereka berdua telah berhasil mengerjakan PR sendiri

Pak Krisna pun hanya menanggapinya dengan anggukan kepala,
dan hanya menoleh sebentar pada buku PR Lia dan Nisa dengan hanya selintas saja.

Kesibukan Pak Krisna mengurusi bisnis dan mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta ternama di kotanya, sungguh sangat menguras waktu yang dimilikinya.

Waktu keberadaan dirinya di rumah pun sangat sebentar sekali.

Hal ini membuat Lia dan Nisa selalu mencari perhatian Pak Krisna
dengan cara mengajak bermain inilah atau bermain itulah.

Namun Pak Krisna selalu menolak ajakan bermain mereka berdua
dengan mengatakan dirinya sedang sibuk dan supaya mereka bermain dengan Ibunya saja.

Ibunya pun sering sekali menarik-narik tangan mereka berdua dari tangan Pak Krisna dengan setengah paksaan, dan hal ini sering diwarnai dengan tangisan mereka berdua yang terkadang sangat memekakakan telinga Pak Krisna.

Hingga tak jarang dirinya sering menegur istrinya yang dianggap tidak bisa mengerti posisi diririya yang sedang sibuk dan membiarkan anak-anak bermain sendiri.

Namun istrinya seringkali menjawab bahwa dirinya sedang sibuk mengerjakan sebuah pekerjaan rumah tangga,
sehingga tidak tahu kalau anak-anaknya sudah bergelayutan pada tangan Pak Krisna.

Percekcokan kecil pun sering terjadi akibat teguran Pak Krisna yang selalu menyalahkan istrinya
karena tidak mampu mengajak bermain Lia dan Nisa atau mengasuh mereka.

Pada sebuah kesempatan Lia dan Nisa bertanya kepada Ibunya, mengapa ayahnya selalu marah kalau mereka ingin main bersama ayahnya. Ibunya menjawab, kalau ayah mereka itu sibuk sekali mengurusi pekerjaannya.

Lantas Lia bertanya, buat apa ayahnya bekerja.
Ibunya pun menjawab dengan ringan “Ayahmu sibuk bekerja biar dapat uang”.

Sekarang giliran Nisa yang bertanya, “Memangnya berapa uang yang didapat ayah?”

Ibunya menjawab, “Hus, kamu masih kecil sudah tanya-tanya masalah duit”.

Sekarang Lia yang bertanya, “lya Bu berapa banyak uang yang didapat ayah?”, tanya Lia.
Sebab pelajaran berhitung bagi Lia adalah pelajaran yang paling disenanginya.

Ibunya menjawab karena anak-anaknya terus merengek minta jawaban.

“Ayah kalian mendapat gaji yang besar sekali, dalam sehari saja bisa dapat lebih dari 1 juta” .
Begitulah jawaban sang Ibu, dengan tujuan supaya Lia dan Nisa tidak bertanya-tanya terus masalah duit, karena mereka masih kecil dan belum pantas membicarakan duit, demikian pikir sang Ibu.

Sejenak Lia berpikir, lalu berucap,

“Bu, Ayah kan selalu pulang malam, kalau Lia hitung berarti ayah kerjanya kurang lebih 12 jam.

Kalau sehari ayah bisa dapat 1 juta lebih.
Berarti perjamnya ayah tidak kurang dapat uangnya 100 ribuan ya Bu?”.

Ibunya menjawab dengan cepat, “Sudah-sudah, kamu ini masih kecil, lebih baik kamu cepat belajar kembali. Katanya ada PR, cepat sekarang kerjakan PR-nya dulu!”.

Nisa menolak ketika Ibunya berdiri mengajak mereka kekamar mereka masing-masing, sambil berkata, “Tapi Bu, Nisa ingin bermain sama ayah, jadi ….”.

Sebelum Nisa menyelesaikan perkataanya, Ibunya lebih cepat memotongnya

“Nisa, Ibu tidak mau lagi membicarakan hal ini, Ibu kan belum masak. Ayo cepat jangan rewel.
Ibu tidak suka punya anak rewel!”.

Semenjak hari itu. Lia dan Nisa terlihat tidak pernah mengganggu kembali Pak Krisna.
Hal ini membuat Pak Krisna dan Istrinya merasa lega.

Namun yang agak aneh dari tingkah laku mereka adalah terlihat mereka semakin kompak main bersama
dan sering ngobrol bisik-bisik.

Namun hal ini tidak terlalu digubris oleh Pak Krisna yang semakin sibuk mengurus pekerjaannya.
Tingkah laku dari Lia dan Nisa yang tidak menganggu Pak Krisna ketika berada di rumah, berlangsung hingga satu bulan berikutnya.

Pada suatu pagi yang cerah di hari minggu, Pak Krisna sedang bersiap untuk menemui salah satu rekan bisnisnya, yang sudah membuat janji dengannya.

Namun ketika baru saja dirinya selesai memakai pakaian,
tiba-tiba Lia datang menghampirinya sambil setengah berlari dan sambil berkata,

“AYAAAAAH, sekarang ayah pasti bisa bermain sama Lisa, sebab Lisa sudah ngumpulin uang 100 ribu

Jadi ayah harus bermain dengan Lisa sekarang selama satu jam.

Kata Ibu ayahkan dalam sehari bisa adapat uang 1 juta perharinya.
Nah Lia hitung berarti ayah perjamnya dapat uang sekitar 100 ribu.
Sekarang ayah bisa bermain kan sama Lia karena tabungan Lia sudah seratus ribu,
NIH uangnya, kalau ayah tidak percaya!”.

Mengalami perlakuan ini dari Lia, Pak Krisna langsung kaget. Lalu berteriak memanggil istrinya.
Istrinya pun datang dengan setengah berlari dan menanyakan ada apa.

Pak Krisna pun menanyakan istrinya perihal perilaku anaknya Lia yang mengajak dirinya bermain
sambil menyodorkan uang 100 ribu
.
Dia menanyakannya dengan nada marah, apakah istrinya yang mengajarkan hal ini.

Istrinya pun bersumpah, bahwa dirinya tidak mengajarkan hal itu kepada anaknya sambil tidak terasa air matanya mengalir karena teringat akan pembicaraan dulu dengan Lia dan Nisa.

Dia pun berkata dalam hati kalau dirinya tidak menyangka tujuan anaknya menanyakan penghasilan ayahnya adalah untuk hal ini.

 

Melihat Istrinya menangis, membuat Pak Krisna agak luluh hatinya.
Lalu menoleh kepada Lia yang terlihat akan menangis juga.
Karena dia menganggap telah menjadi penyebab ibunya dimarahi.

Hati Istri pak Krisna tersentuh, dia pun mendorong suaminya agar hari ini Pak Krisna meluang waktunya untuk bermain bersama Lia. Sambil memandang wajah Pak Krisna dengan penuh harap.

Pak Krisna pun menjawab kalau hari ini sudah membuat janji dengan rekan bisnisnya untuk bertemu, dan dia tidak mau mengecewakanya. Sang Istri pun tidak kehabisan akal

Dan menyuruh Suaminya agar menunda pertemuanya barang satu jam saja, untuk bermain bersama dengan anaknya.

Akhirnya Pak Krisna terpojok oleh dorongan istri dan rengekan lia yang semakin menjadi-jadi sambil memaksa memberikan uang seratus ribu yang ada ditangannya.

Kemudian Pak Krisna pun menghubungi rekan bisnisnya agar pertemuan bisnisnya diundur satu jam.
Sambil tidak sadar tangannya meraih uang seratus ribu yang disodorkan oleh Lia karena takut hilang.

Maka Pak Krisna pun membolehkan tangan Lia bergelayutan pada tangannya.

Dia pun teringat pada Nisa. Dan mengajaknya juga untuk bermain bersamanya berjalan-jalan diseputar kompleks perumahan. Namun Nisa menolak ajakan ayahnya sambil cemberut.

Pak Krisna melihat jarum jam tangan yang ada di tangannya, karena waktu itu telah terpotong 15 menit. Maka dirinya pun meninggalkan Nisa dan bermain dengan Lia berputar-putar dijalan kompleks perumahannya.

Selama jalan-jalan tersebut Lia terlihat girang sekali; wajahnya ceria sambil sesekali mengajak Pak Krisna untuk bermain kejar-kejaran dengannya.

Namun Pak Krisna melayaninya dengan sedikit kekalutan.
Karena pikirannya terus menerawang kepada sikap rekan bisnisnya yang pasti telah sedikit dikecewakan dengan telatnya pertemuan dengannya selama satu jam itu.

Hari-hari berikutnya, Pak Krisna kembali disibukkan dengan urusan bisnis dan mengajar, yang dari hari ke hari semakin jarang sekali dirinya terlihat santai. Sebab ketika berada di rumah pun, banyak sekali tamu-tamu yang berdatangan.

Karena ada yang sekedar silaturahmi dari rekan-rekan bisnisnya, ada juga yang meminta Pak Krisna untuk mau bekerja sama bisnis dengan mereka.

Sehingga peristiwa Lia yang menyodorkan uang 100 ribu kepada dirinya untuk mau bermain dengan Lia, sedikit demi sedikit dilupakannya.

Suatu malam, Nisa mengigau keras sekali membuat semua penghuni rumah tersebut terbangun. Terutama istri Pak Krisna yang segera berlari ke kamar tidur anak-anaknya.

Istri Pak Krisna pun kaget melihat Nisa yang sedang kejang-kejang dan ketika tangannya memegang badan Nisa, terasa panas sekali. Spontan istri Pak Krisna berteriak memanggil suaminya. Pak Krisna datang menyeruak ke kamar itu.

Ketika melihat Nisa kejang-kejang segera dia menyuruh istrinya untuk mengompres Nisa.

Kejang-kejang Nisa sedikit berhenti. Namun suhu badannya masih tetap panas.
Istri Pak Krisna pun meminumkan obat penurun panas ke mulut Nisa.

Namun sampai subuh, panasnya tetap tidak menurun.
Akhirnya mereka berdua, yakni pak Krisna dan Istrinya segera membawa Nisa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, segera Nisa dibawa ke ruangan Gawat Darurat, dan langsung mendapatkan penanganan seorang dokter.

Setelah sekian lama diperiksa dokter yang menangani Nisa menyuruh Pak Krisna untuk menunggu di luar saja. Setelah sekitar satu jam berselang, Dokter tersebut meminta Pak Krisna untuk menghadapnya setengah jam lagi ke ruangannya.

Lewat setengah jam, Pak Krisna bersama istrinya masuk ke ruang dokter tersebut.
Lalu bertemu dengan sang dokter. Dokter tersebut langsung menginformsikan keadaan kesehatan Nisa dan mengatakan agar Pak Krisna dan istrinya bisa tenang dalam menyikapi kenyataan yang dialami oleh anak mereka, yakni Nisa.

Dokter menerangkan bahwa Nisa terkena demam tinggi, kini panasnya telah reda. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan berikutnya, dokter menemukan adanya kanker otak pada Nisa dan harus diopname.

Mendengar hal ini, Istri Pak Krisna langsung melelehkan air matanya, sambil berharap agar dokter bisa menyembuhkannya. Dokter hanya menjawab dia akan berusaha sebaik mungkin.

Selama seminggu, Nisa terbaring di rumah sakit.

Dan hari itu adalah hari terakhir Nisa terbaring di rumah sakit, namun bukan berarti telah sembuh hingga bisa pulang ke rumah lagi. Tetapi karena Nisa telah lebih dulu menghadap panggilan Tuhan Yang telah menciptakannya, mendahului Pak Krisna dan istrinya serta Lia sebagai kakaknya.

Pak Krsina dan istrinya hanya bisa menitikan air matanya, sambil mendekap Lia yang juga kelihatan menangis pula, karena sedih telah ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh adiknya, NISA.

Setelah beberapa saat tubuhnya didekap oleh orangtuanya. Lia melepaskan diri dari dekapan mereka dengan perlahan, dan menghampiri jenazah adiknya Nisa, sambil terus terisak menahan tangisnya.

Lia memandang wajah Nisa sambil berkata;

“Nisa, mengapa cepat pergi, bagaimana uang yang kamu titipkan pada Lia.
Kalau begitu beri tahu Lia bagaimana cara menitipkan uang ini pada Allah,
agar ketika ayah meninggal juga, kamu bisa bermain dengan ayah seperti Lia dulu,
walaupun HANYA SATU JAM.

Lia berjanji akan menambahkan uangnya menjadi 100 ribu dan menitipkan uang ini kepada Allah, tapi bagaimana cara menitipkannya, cepat kasih tahu sebelum kita berpisah!”.

Mendengar ucapan Lia, Pak Krisna langsung terenyuh hatinya.

Dia teringat wajah Nisa yang geleng-geleng kepala
sambil cemberut, ketika diajaknya bermain bersama Lia, sebulan yang lalu.

Rupanya Nisa ingin juga bermain, namun Nisa belum mempunyai uang yang cukup 100 ribu.
Sehingga menolak bermain dengannya.

Saat itu juga Pak Krisna merangkul tubuh Lia dan menciuminya beberapa kali.

Sambil menangis Pak Krisna berjanji akan selalu menyediakan waktu buat bermain dengan Lia,
tanpa harus membayar sepeser pun.

Asalkan Lia mau memaafkan kesalahannya selama ini yang selalu menolak ketika diajak bermain.

Lia pun hanya menangis saja mendengar ucapan ayahanya.

Istri Pak Krisna menghampiri mereka dan merangkul mereka berdua dengan derai air mata, yang semakin deras mengalir di pipinya.

Sejak kematian Nisa, dan dengan adanya ucapan Lia pada saat mereka melihat wajah Nisa yang terakhir. Pak Krisna tersadar dari kekhilafannya.

Dia berjanji dalam Hatinya, sesibuk apa pun bisnis, dirinya selalu akan menyediakan waktu untuk bisa bercengkrama dengan keluarganya dan anaknya Lia.

Kepada Nisa, dirinya selalu berdoa agar KELAK di alam akhirat
dirinya bisa BERTEMU KEMBALI dengan Nisa.

Dan apabila bertemu, dirinya akan MENGAJAKNYA BERMAIN………….

…………SEPUAS HATI NISA.

Read Full Post »

Siapa kah ??

Siapa kah ??

Beberapa orang pernah merasa terganggu karena saya kirimin situs-situs dan pesan melalui fasilitas  “send Instan Message to all” via YM. Apalagi alamat email YM yang saya punya terkategori agak aneh. Yang sampai detik ini saya tetap merasa aneh, tapi tidak terlalu saya pusingnya kecuali jika ada oknum-oknum yang terbukti merasa terganggu. Begitu banyak nama-nama dan alamat email yang tidak saya kenal yang menjadi jejaring di friendlist (hampir sekitar 150-an). tak jarang, Satu per satu dari mereka mempertanyakan ’siapa saya’ dan ’bagaimana saya bisa mengenal mereka’. Nah Loh.. ?? Padahal di benak saya pun muncul pertanyaan serupa.

 

Sebenarnya saya tidak begitu tau asal muasa dari kasus ini. Tapi saya teringat tentang beberapa daftar yang pernah dikirimkan salah seorang teman dari jogja yang kontennya adalah alamat email kawan-kawannya. Saya sendiri tidak merasa meminta alamat email apa pun darinya. Saya hanya merasa pernah dua kali komunikasi dengannya, komunikasi datar. Paling-paling beberapa kali dia pernah mengisi testimonial di jaman friendster dahulu kala (abad ke berapa gitu ??? hehehe ). Ya sudah karena dikirimin, sebagai seorang yang tidak mengerti teknologi, saya klik ”yess” saja. Maka terisilah friendlist saya dengan jajaran orang yang ”I-dunno-who”. Ya, saya tak tau siapa. Mereka pun tak tau saya. Perkenalan yang Maya. Huff,,, Waktu berlalu begitu lama dan dia pun raib. Seiring dengan raibnya dia, ingatan saya tentangnya pun pudar.

 

Sekarang ini, saya makin keranjingan dengan artikel yang lucu-lucu. Makin heboh saja jika berjumpa dengan sesuatu yang saya kategorikan ”pantas untuk dibagi” atau ”penting untuk diketahui”. Selalu ada keinginan untuk berbagi dengan teman-teman. Dan keinginan itu akhirnya bermuara pada media ”send Instant message to All” Yahoo Massanger. Akibat dari keranjingan ini, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Silakan tinggalkan pesan di kotak meebo atau di kolom komen jika memang tidak ingin inbox offline YM kamu penuh dengan kiriman-kiriman saya. Insyaallah, saya tau diri kok. Makasi ya… Take care!

 

Oleh : Algabiru , dengan email address merahmaron@yahoo.com atau rahimimajinasi@yahoo.com

Read Full Post »

Pilem Serem

MAKJANG !!!! NGERI KALI PILEMNYA !! PENGEEEENNNN !!

Read Full Post »

Older Posts »

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même