Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Om Adit

Om, tiadakah  kerut wajah ketika disampaikan bahwa kakanda telah tiada ??

( bersambung…)

Read Full Post »

Teratai Communty

“Ini hari pertamaku bekerja,“ wajah ceriaku mewarnai pagi yang dingin. Lin terdengar antusias dengan deretan kisah sambil kuberharap dia takjub sepenuhnya. Zaman edan begini, masih ada juga orang baik hati. Selain menolongku, Renata mempekerjakanku. Suatu yang sangat kubutuhkan.

“Wah, boleh juga. Kenalin aku ya! Kayaknya teman barumu keren, tuh.“

“Hm, kapan-kapan aku ajak kamu main ke sana. Nggak terlampau jauh. Limabelas menit perjalanan,“ Aku dan Lin sarapan bersama. Menyambut hari, setelah selesai mengurus rutinitas padi Simbok. Aku lebih banyak bercerita, betapa pengalamanku kemarin mampu menggerakkan turbin semangat yang sempat macet.

“Gimana dengan waktu kerjanya?“ Lin bertanya.

“Setengah hari. Sampai jam dua siang.“

“Yah, Cuma kasihan aja kalau Simbok nggak ada yang jaga,” Lin mengembuskan nafas lega.

“Tenang. Aku sanggup jaga kok. Ngomong-ngomong, belakangan ini kamu pulangnya kok malam terus?” Tanyaku heran. Ya, selalu pulang malam. Ada apa sebenarnya? Sibukkah. Bikin khawatir saja.

“Ada urusan,“ Jawabnya singkat. Sekonyong-konyong merapikan piring dan gelasnya, pergi ke dapur. Finish. Entahlah, kadang kurasa, Lin pribadi yang sulit dimengerti. Walau kuakui, dia teman yang menyenangkan

Huff, aku berlomba dengan waktu. Jangan sampai terlambat. Orang bijak memanfaatkan momen perdananya dengan unggul. Lin, ingin sekali aku merangkul dan menyelamimu lebih lama. Maaf kawan, mungkin tidak pagi ini. Karena agaknya, aku amat bergairah.

***

Lima belas menit perjalanan.

Kalian pikir aku bohong-bohongan. Perjalanan dengan jalan beneran. Jalan berlubang digenangi air hujan yang seingatku dua hari yang lalu. Tas hitam ranselku bermasalah di tengah jalan, ujungnya hampir copot. Sengaja aku mengambil jalan pintas yang agak terjal. Meski sepatuku harus jadi tumbal terkena lumpur pinggiran. Tak pernah kuduga, beberapa blok dari rumahku yang kumuh ada peraduan mungil yang istimimewa koalisi seorang, Renata.

Bedenyt-denyut pegal kakiku meninggi. Di jalan, aku bertemu teman lama yang nasibnya jauh lebih baik. Kulihat dia sudah mengendarai sepeda motor. Entah barang lunas atau kredit, yang pasti selangkah lebih maju dari aku yang puas dengan jalan kaki. Hidup memang ajaib sekaligus sederhana. Kadang di atas, kadang di bawah. Banyak kenyataannya, yang di bawah lebih sering terus menerus berada di bawah ketimbang foya-foya di atas gemerlap dunia.

Tak perlu banyak disesali. Apalagi kalau soal jalan kaki. Kalian tahu nggak plus-plusnya jalan kaki? Di tengah keluhan rasa capek, syukur bisa jadi obat mujarab. Sederetan orang menerima fakta dengan berjalan di kursi roda. Bilyunan orang sakit merasa iri karena mereka hanya bisa berbaring dan melupakan cara jalan-jalan sore. Jalan kaki bisa dijadikan aksi sosial tempat kalian menyapa dan merambah kehidupan.

Oh, baiklah….

Aku sudah sampai tujuan. Itu dia!! Tempat mungil dengan cat hitam di luaran, dilukis dengan latar abstrak. Aku bukan tim penilai yang bisa berkata bagus atau jelek.

TERATAI COMMUNITY…. Nama itu tertulis dengan bahan triplek (dari bahan bekas sepertinya) yang ditempelkan sembarang di dinding depan. Membingungkan. Coba tebak. Apa menurut kalian ada korelasi antara warna hitam dengan teratai yang cenderung menghijau? Papan setinggi tubuhku terpanggang menjorok ke halaman. Kubacakan isinya buat kalian :

Komposisi:

  1. Silakan Anda buka jendela dunia dengan membaca.
  2. Silakan mempertajam kepekaan dengan banyak bertanya dan lebih memahami.
  3. Mari memintal jaring-jaring sosial dengan mengerahkan indera ke sekeliling.
  4. Seribu tahun kehidupan tidak jauh lebih berharga ketimbang satu hari yang diisi dengan pelayanan.

Hmm, mari kita coba masuki, barangkali ada hal-hal membingungkan lainnya.

“Selamat pagi!“ Sapaku hangat.

“Assalamu’alaikum Warahmatullah. “ Seorang wanita berkerudung merah jambu, tidak membalas sapaanku. Balik menyapa. Pendengaranku keseleo, begitu rupanya. Baiklah, saatnya beradaptasi.

“Hm. Salamu alaikum!“ Kataku mengulangi, sekenanya.

“Waalaikum Salam Warahmatullah,“ dijawabnya. Hm, suara itu terdengar satu, tapi berpadu ganda. Hei, apa ada hantu pagi-pagi begini?

“Hei, Dik Prim?“ Kepala mungil Renata terlihat dari atap. Dia cengar-cengir, kain corak army dijadikan bandana di kepalanya. Dia membanyol.

Aku tertunduk. Terus mengulum senyum. Seketika senyumku memudar. Tertegur dengan pemandangan yang tadinya belum sempat aku pedulikan. Di bawah kakiku, corak futuristik rela terbuka diinjak-injak. Menyulap ruangan mini ini seakan luar biasa menyihir. Lagi-lagi aku putus asa untuk sekedar memberi penilaian. Baiklah, aku deskripsikan yang aku mengerti. Jangan menuntut banyak. Itu saja syaratnya.

Hm, di bagian pangkal pintu masuk, kutebak alas plastik itu bercorak batik Solo. Sangat mencolok, dilukis dengan warna biru. Panjangnya seukuran panjang lenganku. Ibarat main tebak kartu remi, lalu coraknya bertukar lagi. Kali ini ukuran yang jauh lebih banyak mengelilingi hingga ke sudut ruangan. Bagian inilah yang ku harap aku boleh bertanya. Corak asal-asalan bercat biru.

“Dik Prim, kok malah bengong?” Barangkali aku memang terlalu lama tertunduk. Teguran Renata membuyarkanku.

“Aneh. Errm …. Maksudku, unik,“ kataku.

“Naiklah ke sini!“ Renata membujukku untuk naik ke tangga stainless. Aku menurut. Sebenarnya enggan, tapi tak apalah. Anggap saja ini bentuk kepatuhan buruh pada majikan.

Tangga itu goyang ke kiri-kanan. Lenganku menggeletar. Satu, dua, tiga… delapan. Yup! Aku menghitung. Sampai juga di puncak. Renata mengajakku duduk santai di loteng. Tinju tanganku memukul-mukul papan loteng yang kusangka dari asbes. Aww!! Aku meringis kesakitan. Tak kusangka, ternyata kuat juga. Huff….

Dari atas sana, aku merasakan eksotisme yang bernilai lebih. Lantai yang berlapis pad plastic ber-fluoressen dan mengilap. Oh Tuhan!

“Teratai biru, “ Renata sumringah. Tampak bangga.

“Maksudnya?” Selalu begini, berlangkah-langkah lebih maju dalam hal kebegoan.

“Kalau matamu peka, Dik Prim harusnya melihat teratai yang berwarna biru. Yah! Tak melulu biru, sih. Hm, can you see?“

Aku memicingkan mata. Tetap tidak mengerti maksud ucapannya.

“Gambar tiga dimensi!“ Tangannya mengarahkan ke sekeliling. Agar aku paham, bahwa yang dimaksud dengan ‘ tiga dimensinya’ adalah lantai pad plastic warna biru yang kukira corak asal-asalan.

“Tadinya sih ingin begitu. Tapi, wujudnya sudah kehilangan rupa. Tinggal membuat para pengunjung diam dalam keheranannya,“ Jelasnya tuntas.

“Dik Prim, kuucapkan selamat datang. Tugas pertamamu, errm… kuharap kau bisa membantu saya menurunkan buku-buku ini. Kita banting harga, semacam cuci gudang,” katanya.

Di loteng mini itu, beragam perkakas disusun teratur. Lebih rapi dibanding meja belajar Lin. Nyatanya Renata menganggapnya sebagai terminal singgal sebelum diperjualbelikan. Cuci gudang besar-besaran. Walau tempat dan onderdil di dalamnya cukup bersih, hidungku menghirup bau lembaran kertas yang menua. Barang lama yang terlihat baru. Hup!! Kalau begini caranya, rasa lelahku bisa memudar dengan seringnya mendapati kejutan.

Kejutan ala Teratai Communtity.

***

Jam dua siang.

Perutku keroncongan. Aku meneguk air putih banyak-banyak dari galon lima literan. Pekerjaan menyenangkan, di tempat yang menyenangkan. Teratai Community adalah sebuah tempat persinggahan di mana orang-orang bisa datang untuk sekedar membaca buku, meneguk the manis dingin maupun kopi. Minta dibuatkan bajigur pun ada. Membeli pernak-pernik. Bahkan memesan barang yang jauh dari pembangkit nalar. Semisal, mengambil cicilan alat dapur, gelas cantik atau pun pemesanan nata de coco.

“Serba ada ya?! Seperti Pasar Malam,“ Kataku pada Dona, perempuan muda yang menyindirku pagi tadi.

“Lebih dari itu. Teratai Commuty tempat berbagi yang menyenangkan. Berkumpul, menularkan keresahan dan pengalaman. Bahkan menemukan al-Khaliq.“

“Hei, bercanda kamu. Bukankah Tuhan itu ada di mana-mana? Jangan bilang kita bakal diajari menangkap yang ghaib-ghaib ke dalam botol.“

“Ha, ha, ha. Good try! Ya enggaklah. Tuhan selalu ada. Ingat itu… Ada!!!. Bukankah cecunguk macam kita yang siap-siap dibinasakan Menganggap-Nya ada tidaklah cukup, karena kita lebih sering melupakannya. Mengkhianati ke-ADA-an-Nya dan penglihatan-Nya.“

Aku diam.

Cermat menelaah kata-kata itu. Kurasa, aku memang harus giat belajar, supaya lebih nyambung tiap kali mengobrol.

“Makanlah. Limabelas menit lagi kita ada arisan,“ Dona menyodorkan sepiring nasi goreng. Arisan?? Heh, ada yang begituan. Halo pemirsa, ada kejutan lagi. Tolong! Semoga jantungku kuat kendali.

***

Matahari bersungut-sungut. Sinarnya gagal menerobos lingkaran manusia yang berlindung di bawah teras. Berpasang-pasang sandal tiba-tiba saja menyesaki ubin yang tadinya bebas noda. Ketika kulihat-lihat lagi, beberapa sandal lainnya tak jauh beda dari yang punyaku. Dekil. Walau tetap saja, punyaku yang paling lecek. Kuakui, baru kali ini aku tidak terlecehkan terkait sandal butut.

“Kita mau apa, sih?” aku menyikut Dona, mengernyit bingung.

“Aku ’kan sudah bilang, kita ada arisan. Every single day.. ! Ingat!“

Aku masih tidak percaya dengan pendengaranku. Arisan katanya?? Apa bakal ada acara kocok-kocok nomor tarikan. Ada sekitar sepuluh orang menghadiri ruang perhalatan uot-door itu, yang katanya acara arisan. Sepuluh orang, terhitung diriku tentunya. Sebagai hari pertama bekerja, aku baru mengenal dua orang saja, Renata dan tak lupa, Dona. Ada satu orang rekan kerjaku. Tapi kami belum sempat berkenalan jauh. Wah, sayang. Hmm… Enam orang lainnya belum pernah kulihat sebelumnya. Alih-alih saja mereka mengerubungi tempat ini layaknya lebah.

Aku diam dan mengamati. Berharap akan jauh lebih mengerti. Aku mendongak ke atap, barangkali ada cecak mampir yang membisikkan info terkini. Bukan cecak… hei… baru aku sadari atap yang kudiami ini berbentuk kerucut. Hmm, bentuk jamur barangkali. Aku pernah melihatnya di rumah kaya. Tampak aneh dengan empat pilar gelondongan kayu yang berjajar di sisinya. Bisa kutebak, teras mungil ini merupakan sulap ajaib dari orang-orang ini. Fantastis! Atas kejutan-kejutan lainnya, aku mulai terbiasa. Begitu rupanya.

“Ayo Renata, silakan dibuka,“ Suara lembut itu terdengar. Ini dia!! Aku belum sempat berkenalan dengannya. Dia kelewat pemalu, mungkin. Meski terlihat kemayu, kerjanya cekatan. Parasnya manis dengan kerudung yang melekat serasi. Hari ini dia mengenakan serba hitam. Kerudungnya lebar, bercitarasa dewasa.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,“ Suara desau halus Renata menyisip bara. Termasuk aku.

Kurasa, ocehan ini bakal panjang. Oh, diam dan dengarkanlah

Uhuk…. dia terbatuk

”Ehem… alhamdulillah, sembah sujud dan segala puji pada Rabb Semesta yang telah mengumpulkan kita di kesempatan kali ini. Semoga, rumput yang bergoyang di luaran sana senantiasa memberikan kabar kepada penghuni langit untuk mendoakan kita…

Amin, disambut seisi ruangan.

Renata melanjutkan,

”Banyak mahluk diciptakan dengan istimewa tapi manusia diciptakan dengan terobosan luar biasa. Tahukah kawan-kawan apa yang membuat iblis durhaka pada Rabbnya? Manakala manusia ditinggikan di atas ketinggian mahluk lainnya. Dan iblis menolak sujud, memilih kesombongan. Dengan asumsi bahwasanya apalah arti dari manusia yang hanya dicipta dari tanah. Sedang ia, lebih tinggi yakni api.”

Hela nafasnya bergerak lambat, meraup energi baru. Dia melanjutkan…

Dan manusia dianugerahkan akal sebagai pembeda ini dan itu. Barangsiapa menggunakan akalnya untuk memikirkan dan tunduk, maka baginya penghidupan yang indah.

Aku tertegun. Begitukah??!!

Selamat datang untuk yang baru datang. Selamat datang untuk pendatang yang kesekian kalinya. (disambut dengan gelak tawa renyah, orang di sebelahku. Tak kukenali namanya belum berhenti cengengesan sekian detik lamanya.)

Kita ada dari ketiadaan. Dan bisa sewaktu-waktu binasa tanpa pernah mengenal ada dan tiadanya. Karena dimensi waktu pun adalah ukuran nisbi yang diawali dari suatu ketiadaan. Terlalu banyak misteri hidup yang belum terkuak. Teramat banyak kesederhanaan yang tidak tersederhanakan.

Misalnya??? Seseorang nyeletuk dari arah belakang. Aku menoleh. Wow.. tak kusangka, teras mungil ini makin sesak manusia. Kerumunan manusia serius hening

Oh… bagus!

Satu hal yang selalu menjadi misteri adalah waktu dan memori. Okeh… pertama-tama: kita butuh definisi. Apa yang membuat kita sanggup berbicara tentang konsep waktu semata-mata adalah karena perbandingan tentang masa lampau dengan kekinian dan ramallah tentang seseuatu yang kita namai masa depan Lalu ketika perbandingan itu tidak ada lagi, apakah kita masih sanggup bicara tentang waktu. Andai satuan dari defini yang telah disepakati adalah peredaran bumi atas sumbu serta sumbu serta revolusi atas matahari, lantas masa apakah gerangan ketika segalanya terhenti?

”Apa?? Apa?? Coba ulangi.” Kataku.

”Jika peredaran bumi atas sumbu serta revolusi atas matahari, lantas masa apakah gerangan ketika semuanya berhenti?”

”Hei, apakah kita sedang bicara kiamat?” Kilahku menceracau.

”Berkaitan, Dik Prim. Sulit memisahkan misteri sang waktu dengan ramalan tentang amukan kiamat. Alam raya terus berkembang dan tidak statis. Suatu proses secara hukum alam selalu menjejaki tombol finis di mana ia mengalami keberakhiran. Kabar itu bukan untuk ditebak-tebak kapan datang atau tidak datangnya. Melainkan apa yang kita persiapkan kalau dia datang sewaktu-waktu. Tanpa alarm, bisa-bisa langsung baku hantam.”

Aku manggut-manggut. Disambut ‘oohhh’ panjang dari yang lainnya. Huff, lelah

Renata menarik nafas. Mulai mengoceh

”Syukur kau bertanya, Dik. Sehingga lebih terang bagi kita akan sebuah sepasang yang melekat di kita, yaitu keberawalan dan keberakhiran. Yang belum kita omongkan adalah apa yang menjembatani keduanya, atau apakah sebuah awal dan akhir merupakan dimensi yang tegak sendiri-sendiri?”

Air muka Renata serius memuncak. Renata yang cengengesan hilang seketika. Bertransformasi menggeluti cyber otak manusia-manusia yang terenyuh mengikuti tikungan demi tikungan pemikirannya.

Dari awal dan akhir kita mencerapi semacam periode yang berparodi. Dari fase awal hingga kita mencapai fase akhir. Kebanyakan kita disajikan paparan di mana kita melihat banyak hal.

“Interupsi Renata!! “

”Ya!” Renata mempersilakan seorang gadis berpangkas cepak yang suara melengking membuat merinding.

“Maaf, saya tidak paham.“

“Yang mana?“ Renata balik bertanya.

“Kaitan paparan dan periode,“ katanya.

“Oh, baiklah. Bagaimana kalau kita awali dengan deskripsi periode yang berparodi?“

“Sepakat!“

Renata menyeruput teh kentalnya, sebelum akhirnya melanjutkan.

Periode yang berparodi dari pembahasan kita adalah kehidupan itu sendiri. Kita ambil kisah nenek tua yang puas dengan masa hidupnya. Meski puas hanyalah simbol, tapi saya yakin. Jasmaninya renta dan lelah untuk mengenjot lebih lama. Si renta itu sudah mengalami berbagai fase yang terdapat baginya pilihan-pilihan siap saji. Diawali dari ‘kecebong’ air mani menjijikkan ayahnya yang masih belum meliputi bagian dari eksistensinya. Berbekal dari situ, dia tumbuh dalam rahim ibunya. Untuk kesekian kalinya, peruntungan berpihak padanya. Dia lahir menembus alam nyata tempat ia mengumandangkan tangisan. Tiada satu pun beban sebelum prossesor di kepalanya mampu bertindak sebagai pembeda. Tiada yang menggugah batinnya, sebelum datang pertanyaan seputar eksistensi.

Lalu…

Renata menggantung kalimatnya. Ia kembali menyeruput teh kental yang tinggal sepertiganya.

”Pertanyaan seputar keresahan itu mengajaknya menjejakkan kaki tempat cikal bakal tujuan disusun sedemikian rupa. Itulah alasan kenapa ada tipe manusia yang merasa cukup dengan kehidupan sederhana namun ada yang justru jatuh bangun menegak ekstase pada harta dunia. Kenapa?! Karena orientasinya beda. Walaupun pencarian dan keresahannya berasal dari rahim yang sama. Yakni kebahagiaan dan memungut tentram. Banyak yang terjadi, manusia lebih memilih menjadi pesakitan. Sakit gila dan cinta dunia. Haus harta, takhta dan wanita.”

Renata disambut manggut-manggut tanda kesepahaman. Baru kali ini aku merasa, celah terang itu semakin jelas memasuki relung hati yang hampa.

”Hidup ibarat di hutan rimba, demi jalan menuju pulang. Berangkat dari antah berantah yang tidak dikenal dan mencari terang dari semak belantara yang rimbun. Jika memang demikian, jangan pernah berhenti untuk mencari. Teruslah berhenti di setiap ranah yang dipercayai ada kompas tercecer di balik belukar. Kompas yang saya maksudkan di sini adalah sebuah neumena dan petunjuk menuju ruang pembebasan. Bagaimana mungkin selamat tanpa kompas. Bagaimana bisa keluar dari belukar bermodal keserampangan. Paham??!”

Nada akhirnya, minta disepakati.

Ya, ya, ya. Hadirin menyahut setuju.

Renata menyeruput tegukan terakhir. Mungkin celotehnya pun, sesegera aliran teh kental di kerongkongan.

”Terima kasih atas pintu hati dan kesempatan yang dipampangkan kepada saya. Semoga apa pun bentuk ikhtiar kecil ini, seyogianya mampu memberi kontribusi positif atas perjalanan manusia di muka bumi.”

Orang yang berada di sampingku, yang tadi menginterupsi, mukanya tersenyum. Senyum malaikat.

Menit-menit minimalis yang telah kita lewati akan terasa maksimal, tatkala kita hadirkan dalam kehidupan. Tumbuh kembanglah setiap insan yang bernyawa. Jika alam berpancaroba dari waktu ke waktu, lalu adakah hujjah bagi kita untuk apatis pada perubahan diri? Harmonislah pada alam. Niscaya alam mendeteksi kita dengan keluwesannya.

Renata menarik nafas.

“Ada pertanyaan?“ katanya

Seseorang di seberangku mengacungkan tangan..

Ya! Renata mempersilakan. Dengan wibawanya, seperti biasa

“Ta, gue penasaran. Apa pendapat loe tentang feminisme?!”

Gubraks!!

Gubraks dua kali kayaknya aku ini.

Nih orang, kok tiba-tiba nyantol ke situ. Kayak nggak ada ngebahas ke arah situ deh. Sedikit pun tidak. So… badai tornadokah di kepalanya?

Sembari Renata menjawab, dengan jawaban penuh majas dan kadang berputar-putar, sementera itu, aku merenung. Mendapati sesuatu di ujung, sungguh ini tempat yang hebat.

***

Read Full Post »

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même