Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2016

Keren banget makhluk Allah yang satu  ini. Setiap inci kehidupannya adalah manfaat, kepake, nggak ada yang sia-sia. Mulai dari batang, daun, buah, pelepahnya kepake semua. Hidup sekali, lepas itu mati. Tak berbuah dua kali, manfaat berkali-kali.

Screenshot_2016-01-13-23-28-24-491

Belajar banyak dari sekitar, mengambil pelajaran untuk dipahami dan mempengaruhi kelakuan kita sebagai khalifah di muka bumi. Perbaiki visi, apakah selama ini kita lebih banyak menarik kemanfaatan orang sekitar demi kepentingan pribadi. Perbaiki niat, entah selama ini pamrih, sehingga lelah dalam kebaikan. Perbaiki cara, mungkin sinergi terhenti karena lemah dalam strategi dan menonjolkan ego diri.

 

Kita manusia yang sangat manusiawi. Tiap orang tumbuh dengan caranya, dengan kiblatnya, punya proses dan perjalanannya masing-masing. Sering lain yang dilihat, dikecap, sehingga lain yang diperbuat. Tapi jika kita terus berlatih memahami, fitrah kita akan menelusuri jalan kebaikan sebagaimana yang ALLAH perintahkan. Ayoo muhasabah diri. Belum terlambat.

Read Full Post »

Ramainya isu Gafatar dan radikalisme, bikin ortu makin ngawasin remaja supaya nggak salah arah dalam bergabung dengan kelompok tertentu. Walau diawasin, namanya remaja juga mahkluk sosial, tetap mencari komunitas yang mengikuti panggilan hatinya.

akhwat

Hidup tanpa komunitas kayanya ‘basi’ dan kuper ya… Nah, supaya hidupmu keren, gabung di komunitas yang baik dan terarah ya. Berikut segmen komunitas yang bisa kamu pilih!
1. Muslimah dan gerakan cinta membaca
Salah satu hal positif yang perlu dikembangkan ialah kebiasaan hidup membaca. Kita perlu komunitas untuk berbagi bacaan yang bagus dan mempertahankan pola hidup yang bermaanfaat ini. Sebab membaca ialah jendela ilmu pengetahuan.
2. Menulis untuk perubahan
Belum lengkap membaca tanpa menulis. So, yang giat membaca biasanya akan tergoda untuk melahirkan tulisan. Pastikan yang kita tulis berkontribusi untuk perubahan. Eits, pena bisa lebih tajam dari pedang loh.
3. Remaja cinta qur’an
Salah satunya ialah gerakan One Day One Juz (ODOJ). Indahnya jika remaja kita bisa jadi remaja ODOJ, yang mendengar dapat pahala, juga yang membacanya. Yang menyebarkan dan mengamalkannya?! Pasti lebih besar lagi pahalanya. Yuk gabung!
4. Remaja Pro Syariah
Remaja butuh komunitas dalam menjaga imannya. Remaja butuh figur dari kalangan remaja sendiri untuk menyuarakan indahnya islam kepada sesama remaja. Remaja pro syariah akan jadi agen berkilau yang menyuarakan syariat. Pastikan kamu di dalamnya ya, Sist!

Read Full Post »

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

Read Full Post »

Perang kepentingan kali ini, udah kayak Castiel bingung belain siapa, raja neraka ataukah bela Whincester Bersaudara. Kata orang bijak alias motivator alias yang pengendalian dirinya tingkat dewa :”bukan waktu yang kurang, tapi bagaimana kita mengaturnya”. Kadang ngalamin nggak sih yang namanya, bingung harus mendahulukan yang mana. Rasanya ingin semuanya tapi ngga bisa, rasanya pengen bisa tapi pastinya ngga bisa. Hehe…. Tamak memang tidak punya tempatnya.

Yang ikut ODOP apa kabar? ODOP alias One Day One Post, yang tentu dimulai dengan basmalah, dilalui dengan keringat, dan belum tahu nanti akhirnya gimana. Kemarin kebobolan, tak sentuh ini blog kesayangan. ODOPnya libur dulu sehari, hehehe….Ngga ada yang nyariin juga kali ya.pena-2

Gagal nge-ODOP gegerapa seharian di luar. Nemenin si kakak yang udah 2 minggu ngga liat keramaian. Kejamnyaaaa…. Selepas itu, sekarang tiap hari harus sudah mulai cicil naskah, yang sayang sekali sodara-sodara,naskahnya masih rahasia jadi ngga bisa sebar gitu aja dengan Cuma-Cuma. Eyaa… Malamnya berjibaku menidurkan si adik yang selalu menolak tidur. Entahlah. Kenapa sih anak-anak mau tidur aja kayak disuruh kerja paksa?!

Jadi, satu alasan kepada alasan berikutnya. Makanya, ini perang kepentingan campur perang alasan. Mana alasan yang paling masuk akal. Sebab setiap perkara harus ada kambing hitam. Terlepas dari itu, saya selalu rindu nge-ODOP, terlepas berbagai rintangannya. Setiap perjalanan manusia itu ada seni memintal kisah, memperjodohkan kesempatan dan destinasi takdir. Saya ingin ada disana, memahami maksud setiap kejadian.

Read Full Post »

Assalamualaikum. Dek, pengen deh ketemu lagi sama Dian.
Kapan adek punya waktu. Hemm, kakak rindu mengkaji Islam.
Dian mau jadi mentor kakak? Jzk
Subhanallah! Allahu Akbar! SMS tersebut ku sambut dengan puja puji kepada Allah. Langsung ku balas SMS tersebut. Meng-iya-kan.
Waalaikumsalam. Alhamdulillah kita berjumpa lagi, kapan kak?
Pertemuan kami di hari yang ditentukan, lebih dari sekedar percakapan. Pertemuan tersebut laksana cahaya yang menerangi gelap, yakni meneruskan kalimatullah ke dalam jiwa-jiwa insan manusia. Halqah dan dakwah.
Maka gugurlah celaan para pencela yang dulu berkata ini-itu di masa futur Kak Ais. Maka sirnalah rasa jumud yang selama ini membenamkan Kak Ais. Semua karena-Mu, Ya Allah. Dan betapa bahagia diriku yang bisa mempersaksikan kebesaran-Mu.
Kini Kak Ais kembali berada dalam barisan dakwah dan lebih banyak belajar tentang kebijaksanaan. Beliau banyak bercerita tentang pentingnya sikap empati dan welas asih antar sesama manusia terlebih di kalangan pengemban dakwah. Janganlah pula kita memelihara penyakit hati, sebab penyakit itu laksana kanker yang mematikan inangnya lamban laun.
Hidup berjamaah ibarat melihat pelangi. Perhatikanlah! Pelangi takkan indah jika hanya satu warna. Kita akan melihat individu-individu berlainan watak dan karakter. Sehingga bisa berbeda pula pola pendekatan dan penjagaan satu sama lain.
Kak, jadi kan kita ketemuan di taman perpus. SMS-ku pada Kak Ais
Bip bip. Jadi dek. Balasnya singkat
Maka sore itu ialah sore yang dipersaksikan langit jingga yang mesra. Sore dimana aku dan Kak Ais berbagi cerita tentang kesukaan-kesukaan kami terhadap sastra, fiksi dan tentunya…. dakwah.

Welcome Scan
Sore dimana Allah Yang Esa menghadiahkan pada kami pelangi yang berpendar di dalamnya aneka warna. Pelangi sore di ufuk, saksikanlah aku memanjat doa kepada tuhanku.
“Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang berjumpa dan berpisah karena-Mu. Hapuskanlah kesalahan di masa lalu kami sehingga kami kembali pada-Mu dalam keadaan suci. Aamiin”. [Alga Biru]
Medan, 24 Agustus 2012

 

 

Diterbitkan dalam buku Antologi “Nyala Nyali Dakwah”-Al Azhar Fresh Zone

Read Full Post »

INDAHSuatu kali sosok Kak Ais kelihatan di mushola kampus. Yah, wajar kali ya. Namanya juga anak kampus, pastinya berkeliaran di kampus. Namun Kak Ais tidak berlama-lama dan begitu tergesa-gesa. Menghindar ? Mungkin. Ahh, astaghfirullah. Rasa penasaran kadang mengundang rasa su’udzon untuk masuk ke hati ini. Cerita punya cerita, tiap kali ketemu kawan-kawan, sikap Kak Ais sama. Yakni tak suka berlama-lama. Tidak seperti dulu lagi. Maklum, mungkin karena aktifitas yang dijalani sudah berbeda, ketertarikan terhadap sesuatu pun berbeda kadarnya. Inikah yang disebut “hibernasi dakwah” ?
Di tempat manapun di dunia ini, kita tidak bisa menjamin apa dan siapa pun. Sekalipun individu-individu sudah dibina, selalu ada cacat perbuatan, baik terang-terangan maupun yang tersembunyi. Jika tidak banyak, maka sedikit pasti ada-ada saja. Maka hadirlah para pencela yang suka mencela,”Kak Ais itu begini… Kak Ais itu begitu….”. Orang model begini jumlahnya tidak banyak dalam barisan dakwah. Hanya saja, jika dibiarkan mendominasi, bisa-bisa yang lain jadi ketularan ‘penyakit’.

BUNGA
Dua tahun berjalan…..
Aku berada di kampus yang sama, seperti Kak Ais. Aku seorang yang suka gemar membaca. Lebih tepatnya, menyendiri untuk membaca. Tempat favorit? Taman perpustakaan pastinya. Disanalah Allah subhana wata’ala mempertemukanku kembali dengan Kak Ais. Ahh, rindu sangat hati ini.
“Assalamualaikum….” Kak Ais menyapa
“Waalaikumsalam…”
Tangan kami saling bertemu, berjabat tangan. Terasa nikmat ukhwah islamyah itu kembali mengalir.
“Lagi ngapain dek? Kok sendirian?”
“Ohh… Dian sering kesini kak. Sejuk. Enak sambil baca buku”. Kala itu aku sedang membaca buku Filosofi Kopi Dewi Lestari. Kak Ais agar bekerut kening. Mungkin dia heran, kok selera bacaanku karya-karya fiksi.
“Suka juga baca novel?” Kak Ais bertanya.
“kakak suka”
“belakangan ini suka”
“baca apa kak?”
“Laskar Pelangi”
Bla bla bla…. Pembicaraan mengalir deras, kebekuan pun meleleh. Suasana ini begitu hangat. Tak terasa sore menyapa dua insan yang berbahagia ini.
“Kak, kapan ya kita ketemu lagi?” kataku
“hemmm….” Kak Ais terdiam, meraba kemungkinan. “Nanti aja ya kakak SMS. Nomor dian masih yang lama kan?”
“Iya kak”, jawabku singkat. Lalu obrolan itu disudahi dimana masing-masing kaki berjalan menuju pulang. Dalam hati ku berdoa, “Ya Allah, izinkanlah pertemuan kami berikutnya”
Alangkah baik Allah Yang Maha Pemurah. Sebab doa tersebut terjawab kurun waktu kurang dari semalam. Jawaban yang tertuang melalui SMS Kak Ais yang masuk ke HP-ku

 
Assalamualaikum. Dek, pengen deh ketemu lagi sama Dian.
Kapan adek punya waktu. Hemm, kakak rindu mengkaji Islam.
Dian mau jadi mentor kakak? Jzk
Subhanallah! Allahu Akbar! SMS tersebut ku sambut dengan puja puji kepada Allah. Langsung ku balas SMS tersebut. Meng-iya-kan.

 
Waalaikumsalam. Alhamdulillah kita berjumpa lagi, kapan kak?

 

 

[Bersambung…]

Read Full Post »

Aku mengenalnya sejak kali pertama kami saling bertukar pandang di penghujung tahun 2004. Waktu itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu yang agak ketat disana-sini. Maklum, Islam ideologis belum lama menyentuhku dan di penghujung tahun inilah pelan-pelan aku mendalaminya. Aisyah, yang akrab ku panggil Kak Ais, tampak sedang panas-panasnya mengenyam Islam dimana aku pun kini berada di dalamnya. Dalam jamaah yang shahi ini (insyaallah), kami saling berpegangan dan saling menguatkan.

bagus-picture.jpeg

Kota Medan kala itu, pengemban dakwah masih tergolong sedikit. Dan dalam jumlah yang sedikit, kami bahu membahu bekerja untuk agama Allah dengan segenap kekuatan. Kak Ais ialah sosok yang menawan dari sisi keilmuan. Siapa yang rela mendengar, mestilah yang keluar dari mulutnya sebuah pelajaran. Posisinya sebagai mahasiswa di PTN ternama (Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara) membuat dirinya menjadi permata untuk mendakwahkan Islam.

 

Tiap bulan rutin digelar Jalsah Muna yang terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuannya. Tiap bulan pula aku selalu dibuat terpukau dengan jawaban-jawabannya yang lugas, tangkas dan berdalil. “Wah hebat….. sudahlah berprestasi di kampus, dakwahnya juga okey”. Perangai Kak Ais pun baik. Ringan tangan untuk yang membutuhkan, apalagi untuk dakwah.

 

Hari berganti hari, waktu berganti waktu. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang bersedia kami bina dengan Islam, banyak pula yang menolak.

 

“Kak, kenapa ya ada orang yang menerima dan ada penolakan? Padahal yang kita bawa demi kebaikan dirinya sendiri” tanyaku suatu kali.

“Itu sama seperti pertanyaan kenapa ada surga dan neraka? Sungguh Allah menciptakan dua jalan, manusia diberi pilihan memilih jalannya sendiri” jawabnya.

Cobaan tidak saja datang dari luar, datang pula dari dalam. Suatu kesempatan, mahaly kami bersepakat membuat rumah binaan. Isinya terdiri dari orang-orang yang sudah dibina, sedang dan akan dibina. Klop! Jadi saling melengkapi untuk perubahan. Kak Ais salah satu yang nimbrung tinggal disana. Pas aku lihat-lihat lagi orang yang akan menempati, aku jadi rindu pengen ke rumah binaan terus. “wahhh asyiknya, tinggal bersama rekan seperjuangan”, pikirku.

Sebulan, dua bulan, aura keislaman makin terasa di sekeliling kami. Tapi lama kelamaan seolah ada yang kurang. Di suatu majelis rutin, aku tak melihat Kak Ais. Kemanakah ia?

 

“Kak Rani, Kak Ais mana? Kok kayanya ngga keliatan” tanyaku pada seorang rekan.

“Oh, dia pulang ke rumah orang tuanya. Hemm… Ada urusan sepertinya”

“Ohh ….”

Aku melihat wajah Kak Rani yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ahh, sudahlah. Yah, namanya juga ada urusan, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

 

Waktu demi waktu berlalu, Kak Ais seolah lenyap ditelan bumi. Dia yang biasanya bercengkrama dan bertukar cerita, entah bagaimana kabarnya. Beredar kabar, Kak Ais tidak kerasan tinggal di rumah binaan. Loh, kok bisa? Dugaannya macam-macam. Konon, tidak akur dengan salah seorang kawan. Permasalahan kecil yang jadi besar, dan permasalahan besar yang makin membesar. Atau keadaan rumah binaan yang buat ngga nyaman. Ahhh, apapun itu. Pasti masalah yang kompleks. Sehingga Kak Ais yang ku kenal tabah dan sabar, tampak ‘babak belur’ dan memilih angkat kaki dari rumah yang terbina ini.

“Kak, benar ngga sih Kak Ais pindah dari sini?”

“Kak, apa iya Kak Ais ngga ngaji lagi?”

“Kenapa?”

Seluruh tanya beredar di kepala. Jawaban yang sebenarnya hanya sedikit yang mengetahui. Ahh, sedih rasanya kehilangan satu sel tubuh. Terlebih-lebih sel yang terkenal unggul, produktif pula. Entah setan apa dan entah siapa setannya yang menyebabkan ikatan diantara kami menjadi longgar.

 

Suatu kali sosok Kak Ais kelihatan di mushola kampus. Yah, wajar kali ya. Namanya juga anak kampus, pastinya berkeliaran di kampus. Namun  Kak Ais tidak berlama-lama dan begitu tergesa-gesa. Menghindar ? Mungkin. Ahh, astaghfirullah. Rasa penasaran kadang mengundang rasa su’udzon untuk masuk ke hati ini. Cerita punya cerita, tiap kali ketemu kawan-kawan, sikap Kak Ais sama. Yakni tak suka berlama-lama. Tidak seperti dulu lagi.  Maklum, mungkin karena aktifitas yang dijalani sudah berbeda, ketertarikan terhadap sesuatu pun berbeda kadarnya. Inikah yang disebut “hibernasi dakwah” ?

 

(BERSAMBUNG…  )

OLEH: ALGA BIRU

Read Full Post »

Kata orang, kau baru tahu manisnya iman saat tak tahu lagi kemana harus berpegang, saat tak ada arah lain selain menuju keimanan. Itulah yang aku rasakan dalam perjalanan hidupku. Rasanya baru kemarin tatkala pertama kuinjakkan kaki di Madrid, Spanyol. Bukan sebagai pelajar, apalagi pelancong, aku berada nun jauh disini dalam rangka mengadu nasib menjadi Asisten Rumah Tangga. Sebagai orang yang bermajikan, mestilah aku harus pintar-pintar menempatkan diri. Namun tetap jugalah, nasib tiap orang tidak ada yang bisa meraba dan menerka.

IMG_8753
Aku dikontrak oleh diplomat Indonesia untuk melakoni pekerjaan ini selama 4 tahun, dari tahun 2007 hingga 2011. Belum genap sesuai kontrak, aku minta izin mengundurkan diri dan bermohon pulang ke tanah air. Aku berkeberatan dengan jam kerja yang aku pikir di luar kewajaran, ditambah gaji yang meleset dari akad di awal. Permintaan pengunduran diriku itu tertolak, dan awalnya menemukan kata damai. Namun tak seindah jalan musyawarah, dua bulan menjalani sesudahnya, tetap tidak ada perubahan. bahkan semakin menjadi parah ,perlakuan mereka kepadakku tentang perkataan yang tidak pantas seperti makian dan omelan setiap harinya. berangkat dari keluagra yang tidak mampu dari Indonesia, tujuan utamakku bekerja dengan mereka memang supaya aku bisa mendapatkkan uang untuk membantu kedua orang tuakku. dan alasan itu seringkali di bahas dengan nada tinggi oleh Ibu Diplomat.
Akhirnya, di bulan ke-18 dari 4 tahun kontrak, aku mengundurkan diri secara paksa alias kabur! Tak kusangka langkah inilah yang akan kutempuh. Aku pikir kisah TKW yang kabur dari rumah majikan hanya akan kusantap di tayangan berita sore di layar kaca. Ternyata, inipun menimpaku pula. Ya, aku kabur dari Rumah Keluarga Diplomat dan Lingkup Kedutaan Besar Republik Indonesia di Madrid. Entahlah, bisa apa aku di negara ini, mengingat KBRI adalah identitas yang tertulis dalam segala Dokumen yang membungkus raga ini. Bukan perkara gampang terlebih jika harus berhadapan dengan urusan di pintu KBRI, bisa di bayangkan. Saat kita memerlukan bantuan, KBRI tempat berpulang. Ahh, mungkin ini memang hanya masalah personal saja, yang tak pengertian dengan nasib orang sepertiku.

IMG_2284
Perjalanan selanjutnya setelah kabur adalah Petualangan yang paling seru dan bermakna. Aku sendiri tidak paham dengan Bahasa Spanyol, tidak pula kenal banyak orang, sebab sehari-hariku hanya kerja dan kerja. Saat dilanda galau main kucing-kucingan di negeri orang, aku semakin nikmat berserah ke pada Allah. Berbekal satu tas ransel yang berisi Alquran, mukena dan dokumen identitaskku, aku keluar rumah di Madrid pada musim dingin yang membeku. Sungguh tidaklah Allah Swt menyiakan hidup seorang hamba, termasuk aku yang banyak dosa ini. Aku dipertemukan dengan hamba Allah, berkebangsaan Pakistan. Siapakah dia? Bukan siapa-siapa sekadar orang yang aku kenal di masjid dalam hitungan minggu belakangan. Bisakkah aku kabur dari rumah itu, lalu Allah memberiku jalan dengan cara mengingat masjid, jaraknya 20 menit menggunakan bus dari depan Rumah, di kenal dengan Islamic Center de Madrid ( masjid M 30). Terhitung tiga kali aku datang ke sana secara diam-diam dari Majikkanku yang berbeda agama. Hari minggu ketika mereka ke gereja, aku memanfaatkan pergi ke Masjid dengan menghitung waktu sebelum mereka sampai ke rumah. Tiga kali bertemu dan berbagi cerita, maka pada minggu ke 4 terjadi pertemuankku dengan saudari muslimku Manju. Maka dimulailah hidup baruku, terhitung Januari 2009 hingga Desember 2010 aku tinggal di Madrid dan Tenerife secara sembunyi-sembunyi dari sesama WNI, terlebih KBRI Madrid. Dokumen identitasku masih atas nama Diplomat, aku bekerja part time secara ilegal di sebuah restoran hotel di tenerife. Di sana pula aku belajar bahasa sepanyol ( castellano) Kala itu usiaku baru genap ke 21 tahun. Aku serahkan semua pada Allah, kemana aku bermuara. Aku pun memutuskan memakai Hijab, walau pada saat itu motivasinya supaya tidak mudah dikenali atasan, hehe.

flower-blue-sky
Akhir tahun 2010 aku pindah ke Barcelona dan mulai berani menghubungi beberapa teman WNI. Aku putuskan pindah karena mendapat tawaran kerja sebagai babysitter di sebuah keluarga Spanyol. Aku merasa betah dan nyaman, aku pun bekerja kepada keluarga tersebut sampai saat ini. Alhamdullah bekerja dengan orang Spanyol (espanyoles) jauh lebih enak dari segala sisi. Akhir pekan aku habiskan untuk masak pesenan catering kecil-kecilan bagi para pelajar Indonesia yg ada di Barcelona. Dan untuk Para ustadz yang datang dari Malaysia serta Indonesia dalam rangka tugas dakwah. Masjid disini tidak memiliki kubah seperti masjid kebanyakan yang biasa di Indonesia, melainkan tempat ibadah yang memanfaatkan ruko biasa. Yang boleh shalat berjamaah hanya para lelaki muslim. Pekerjaan sebagai koki dadakan ini karena suamiku memiliki banyak kenalan termasuk dengan pengurus masjid. Aku dinilai bisa memasak cita rasa yang unik dan sesuai lidah. Orang Indonesia yang shalat disini sangat sedikit jumlahnya. Paling hari jumat saja yang lumayan padat. Mungkin disebabkan posisi tinggal mereka yang jauh dari masjid. Saya dan Suami tinggal di Kawasan Rambla de Raval yang juga dekat dengan City Centre . Kawasan ini dikenal sebagai kawasan Imingran Pakistan, Bangladesh, Maroco, Aljazair, India dan Filipina. Tak heran, disini menjadi tempat yang strategis mendapatkan makanan halal. Kadangkala kami mendapat kunjungan dakwah dari sesama muslim, untuk nasihat menasihati dalam kebaikan dan perihal agama.
Tahun kedua di Barcelona tepatnya 2013, Allah menghadirkanku seorang suami yang kurasa selalu membawaku semakin dekat denganNya. Seorang lelaki dari tanah kelahirannku, dijodohkan oleh Allah. Kehadirannya menghapus kisah hampa dan sedihku yang lalu. Betapa besar rasa syukur padaMu ya Allah.
Bagi para pembaca DRISE, aku ingin sampaikan satu hal yakni janganlah kita berputus asa dari rahmad Allah. Sesungguhnya putus asa itu tidak pantas dibandingkan nikmat Allah Swt yang luas tiada bandingnya. Tantangan dan rintangan yang ada dalam kehidupan, pada dasarnya merupakan lompatan demi lompatan menuju arah yang lebih baik, insyaallah. Bangga jadi muslim, islam rahmad lil’alamin.

 

 
** [Seperti yang dituturkan Cahyatun Aisya kepada Redaksi/Alga Biru]

Read Full Post »

Berhijrah adalah aktivitas berpindah. Tentu kategori berpindah menuju sesuatu yang lebih baik. Misalnya berhijrah dari yang kurang islami menjadi lebih islami. Berhijrah bukan jalan tol bebas hambatan. Sejumlah tantangan, baik dari diri sendiri dan orang sekitar, pasti menghampiri. Jangan sampai gagal move on, gara-gara diri sendiri yang kurang amunisi. Berikut 7 jenis buku rekomendasi penyemangat diri.

 

  1. Muhammad The Greatest Story : Sebagai orang yang paling merasakan “cobaan hidup dan hikmah dakwah”, kisah Rasulullah wajib bin wajib kita ketahui dari pangkal hingga akhir. Buku tentang tokoh nomor satu paling berpengaruh di dunia ini sudah banyak ditulis berbagai versi. Salah satu favorit saya, yang ditulis Ahmad Hatta ini. Karena full colour dan runut. Cocok!buku1
  2. Beyond the Inspiration : Buku ini merupakan buku perdana Felix Siauw. Gaya tulisannya masih perkasa, dan belum unyu-unyu. Tapi serius… ini pas banget buat yang selama ini disorientasi tujuan hidup, mengkambing hitamkan hidayah yang tak kunjung turun dan kehilangan superhero jaman modern. Coba deh baca. Lay out-nya juga keren!buku2.png
  3. Nizhom Ijtimai fil Islam : karya Taqqiyuddin An Nabhani. Buku ini terkategori “berat”, isinya daging semua, dan rujukan kita untuk terpicu memperbaiki habblum minannas, habullum minannafsi. Baik pakaian, makanan, jodoh, cadar, hingga tata cara bepergian. Supaya ngga jenuh, pastikan punya guru/mentor/ustadzah untuk mengurai apa maksud dari isi buku rujukan ini.
  4. The True Hijab [antologi kisah] : Kalau ingin mencontoh Rasul, rasanya kejauhan, “yahh, dia kan rasul”. Kalau pengen meneladani para sahabat Rasul juga “ngga kelihatan”. Haduuh, ada-ada aja alasan kita. Nih, saya rekomendasikan kisah yang dekat-dekat. Yaitu perjuangan teman-teman kita dalam mempertahankan hijabnya. Buku sejenis juga boleh kok, semisal 99 Hijab Stories Muhammad Assad, atau yang versi dakwah ada buku Nyala Nyali Dakwah (ada tulisan saya juga loh disitu, hehe). Real action!
  5. How Master Your Habits : karya Felix Siauw. Ini bukan karena saya penggemar Felix Siauw loh ya. Tapi kebanyakan buku “how to” yang ada di lemari saya adalah karangan orang Barat. Emang bagus-bagus karangan orang luar dalam membangun motivasi dan semangat hidup. Kekurangannya adalah sisi spiritual. Ya wajar, kan agama di pinggirkan dulu  kalau mau ngomongin dunia. Sedangkan kita selaku muslim, perkara dunia dan akhirat itu satu menyatu, nilainya ibadah, yang dikerjar berkah.habits
  6. Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim! : Dari judulnya aja bikin greget ya. Apalagi kalau dibawakan oleh Salim A Fillah yang diksinya lingkar melingkar, indah bagai dawai, seksi semercik amunisi. Ya sudahlah! gimana ngga move on!saksikan-bahwa-aku-seorang-muslim-salim-a-fillah
  7. Ketika Mas Gagah Pergi [Fiksi Islami]. Ada yang based on true story. Nah, kalau dibumbui itu namanya fiksi. Fiksi itu indah dan menginspirasi. Fiksi Ketika Mas Gagah Pergi salah satu saja yang saya rekomendasi. Novel sejenis dengan tema  layak kita baca. Kalau mau move on, hindari tema termehek-mehek walau dibungkus islami seperti putus ta’aruf, konflik poligami, atau sejenisnya. Supaya aman dari replika keseharian, boleh deh kita konsumsi buku pyurrr perjuangan seperti jihad fi sabilillah romantis contohnya novel GHAZI (Sayf Muhammad Isa), Api Tauhid (Kang Abik), atau Pesantren Impian (Asma Nadia)gagah.jpg

 

Ini buku pilihan saya, bagaimana dengan Anda? Semangat teruss ya…. 🙂

Read Full Post »

Dalam forum bapak-bapak, perkumpulan para kolega sekantor, tidak melulu membicarakan seputar kerjaan dan proyek. Tak jarang, para bapak juga berkelakar tentang rumah tangga mereka termasuk istri-istri. Sebagian mengeluhkan istrinya yang demikian judes alias cerewet. Mulai dari jam pulang kerja yang diintrogasi sampai aliran gaji tak luput dari audit para istri. Ini membuat para bapak kerap mencandai istri dengan sebutan ‘satpam’, ‘kapolda’, ‘mami indekos’ atau sejenisnya.
Ternyata, fenomena soal istri cerewet tak hanya ada di jaman digital seperti sekarang. Rupanya sejak jaman Rasul dan sahabat pun kisah ini punya momok tersendiri. Tapi ahh.. apalah itu dibanding istri yang satu ini. Siapalah Anda dibanding orang yang terkenal perangainya ini, dia disegani kawan maupun lawan. Tersebutlah suatu kisah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab.
Seorang laki-laki bergegas kediaman khalifah Umar bin Khattab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Sudah siaplah ia dengan segala kronologis sang istri yang begitu memekak telinga dan makan hati. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Makin kaku kaki lelaki itu tersebab seorang Umar hanya diam mendengar omelan istrinya. Aduhai amangoy, apalah gerangan khalifah ini? Kenapa ia diam saja. Padahal ini Umar loh. Siapa tak mengenal Khalifah yang tegas dan bersahaja. Konon, jangankan manusia, setan pun terbirit dengan kedatangannya. Melihat gelagat di luar dugaan ini, sang lelaki tadi mundur perlahan, mengurungkan niatnya.

Muslim_by_Laila_Jihad1
Khalifah Umar memilih diam mendengarkan sebab ia ingat hal-hal yang menjadi keutamaan istrinya. Pertama, Istri merupakan perisai api neraka. Ketika begitu banyak godaan di luar sana, tentulah gelora yang ada akan mengalir kepada istri bukan lainnya. Sehingga nafsu yang ada berwujud ibadah, terjauhlah dari azab Allah Swt. Istri jugalah yang menjadi motivator utama dan pertama dalam kehidupan.
Kedua, selain motivator dan inisiator, para suami janganlah lupa, bahwa istri adalah perawat rumah tangga. Tidaklah sama sentuhan istri dengan para asisten rumah tangga manapun. Istri merawat dari hati. Anda bisa membeli apapun, namun apakah Anda bisa membeli cinta. Sedang istri memberi sepenuh cinta, tidak hanya dalam merawaat benda-benda mati, tapi juga anak dan diri suami selaku manusia yang memiliki akal budi. Apalagi di jaman emansipasi seperti sekarang. Susah sekali mendapati istri berbakti sepenuh hati. Jadi, jika sudah nampak kebaikan istri, ingatlah itu lebih sering dari keburukannya.
Selain dua poin utama di atas, banyak hal lain yang tidak dirinci satu persatu. Termasuk ketelatenan istri menjaga penampilan dan eksistensi keluarga. Bukan tidak susah menjaga diri dari godaan untuk main mata dan main hati di belakang suami. Namun, para istri ingat akan suami mereka yang menjaganya, sehingga tidak ingin mengecewakan baik jiwa maupun raga.
Nah para suami, masih mengeluh istri cerewet? Nanti dulu, jangan-jangan ketika dia sudah tidak ada, atau lemah terbaring sakit, Anda malah rindu dengan omelan setiap pagi, dan riweuh-nya istri dalam melengkapi kebutuhan Anda. Kunci suami-istri sejak zaman nabi masih sama yaitu syukuri, syukuri dan syukuri. Sabar dan sabar. Orang syukur dan sabar pasti diberi kenikmatan lebih. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

moved to : https://jetaisparisienne.com

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

moved to : https://jetaisparisienne.com

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang