Feeds:
Pos
Komentar

Ada jenis perkataan, yang seolah bijaksana, sejatinya berbahaya. Ini susah. Seperti benar di awal, ngawur di ujungnya. “Buat apa kita berantem gara-gara beda agama. Semua agama sama, kan dari Tuhan, kita sama-sama hamba Tuhan”. Bak mencampur air susu di bekas penggorengan. Seumpama mengaduk sambal di adonan kue talam, manalah jadi kawan. 😈😈
.
.
“Sinterklas, Orang Cebol dan Kelinci Paskah”, halaman 164, bagian ini menarik perhatian saya. Singkat cerita, pengamatan ini tentang keyakinan yang didapat dan keyakinan yang dipilih. Setiap anak tidak memilih dia lahir dari orang tua macam apa, islam atau nasrani, hindu atau budha. Namun pengalaman dan fakta yang kemudian memancing alam pikir manusia untuk memilih.
.
.
Saya, lahir dari keluarga muslim, secara alami (nature), maka saya beragama Islam. Secara alami pun, setiap orang punya kecenderungan mencari Tuhan-tuhan tempat perlindungan. Mencari eksistensi lebih besar dari dirinya sebagai sesembahan.
.
.
.
Namun, apakah saya percaya surga-neraka, mau sholat, puasa atau nggak, itu hasil pilihan-pilihan saya sebagai orang merdeka. Pilihan yang dibentuk/di-didik (nurture) dari pengalaman-pengalaman saya sendiri. Jelang puber, saya berpikir: kenapa harus sholat? Lima kali sehari, lagi. Kebanyakan. Kenapa nggak seminggu sekali aja. Jadi, mau sholat apa nggak. Mau iman apa nggak, itu pilihan. .
.
Tidak ada seorang pun yang bisa membeli pengalaman orang lain. Seperti tidak bisanya seseorang membeli iman orang lain, maka tidak pula mewarisinya.
.
.
Nggak papa kok kalo beda pendapat. Tapi tak perlu kau bohongi kenyataan ini. Katakanlah, langit itu biru, awan itu putih. Tak usah kau paksakan ia menjadi dunia absurd dalam penyakit kemunafikan. Yang oleh Tuhan sendiri, sudah disiapkan tempatnya di kerak neraka.
.
.
Eh, masih yakin kan neraka itu ada?

 

IMG20170602135347-01 (1)

.

Kejadian ini pernah terjadi dalam keluarga kami. Bertamu ke tempat orang, jauh-jauh dari Medan, murni menyambung silaturahmi. Sayangnya, tuan rumah menyambut datar. Terkesan hambar. Senyum sekedarnya, sedikit obrolan, bahkan seolah-olah hendak berucap, “duh, kapan sih tamunya pulang?”. Hemm, sebenarnya kami pengen cepat pulang rasanya. Tapi mau nginep dimana, cari penginapan kala itu tak semudah sekarang. Jadi tamu tak diharapkan itu nggak enak. Makan hati, pengen pergi. Padahal dengan segala kehormatan seorang tamu, kemuliaan seharusnya yang ia dapatkan. Coba, kita bayangin kalo kita jadi tamu yang dibegitukan? Kemuliaan tamu tidak akan hilang dari perlakuan buruk tuannya. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak pernah ada. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak didatangi selama-lamanya.

.

.

Dear gaes…

Sebentar lagi tamu kehormatan kita akan datang. Bulan Ramadhan,  yang sebenarnya hanya menyapa orang beriman. Mau nggak kita disebut tidak beriman? Lucu nggak kalo jd orang Islam tapi dipertanyakan imannya karena nggak menghormati bulan Ramadhan?

.

.

Masih ada 2-3 hari, masih bisa kebut berbenah ilmu, hati dan fisik, biar setrong selama masa uji Ramadhan.

.

.

Jadilah tuan rumah yang menghormati dan memuliakan tamunya. Yakin, namanya tamu pasti akan pulang. Siapa tahu nantinya kita nggak ketemu tamu itu lagi. Siapa yang tahu keimanan kita esok hari. [] 😭😭😭😭

Kau tidak bisa memilih tanah tumpah lahirmu. Tidak pula bisa memilih siapa ayah dan ibumu. Kau dibesarkan oleh tangan-tangan mereka, oleh visi misi, yang dulunya hanya ada di benak para orang tua itu. Murad, si pelatih gulat, mencetak anaknya sendiri untuk menjadi pemangsa. Anak itu tidak terlalu kekar, jarang sekali wajahnya sangar.
Khalid Ramazanov tidak pernah membayangkan, dia akan menjadi pemimpin dari semua petarung di belakangnya. Dia legenda di tanah hijau yang dikucilkan orang. Namun kebanggaan tetaplah butuh pengakuan. Eksistensi tidak bisa berdiri sendiri. Landasan Octagon telah riuh gegar. Disana, orang-orang buas dengan pikirannya. Percakapan saling maki dan adu perkasa telah lebih dulu ditampakkan layar kaca. Apakah pantas Khalid mendapatkan gelarnya? Ataukah dia ditelan cita-cita hampa di Makachkala, Pegunungan Dagestan.
kh
Next story on my wattpad account : @algabiru_full

(Hikmah dari Pemboikotan Rasulullah Saw)

 

Kejadian ini berlangsung 3 tahun lamanya, pada bulan Muharram tahun ke-7 kenabian. Rezim panik Bani Quraisy teramat sulit membendung dukungan intelektual dan rekrutmen yang digalang oleh kelompok Rasulullah dan sahabatnya. Dengan tangan kekuasaan yang mereka miliki, penguasa Makkah ini mendokumentasikan kekuatannya di sebuah shahifah (lembaran)  berisi sumpah yang kuat, yang berbunyi : “Bahwa mereka selamanya tidakakan menerima perdamaian dari bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila merekas mau menyerahkan beliau Muhammad Sallahu’alaihi Wassalam untuk dibunuh”.

Ib Al-Qayyim berkata, “Ada yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Manshur bbin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Ada lagi yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Nadhr bin al Harits. Yang benar, penulisnya adalah Baghidh bin Amir bin Hasyim, lalu Rasulullah mendoakan keburukan untuknya dan dia pun mengalami kelumpuhan di tangannya sebagaimana doa beliau. Subahallah! Allahu Akbar!

Shahifah itu digantung di dinding Ka’bah yang menjadi fondasi pemersatu bangsa Arab di masa itu. Dua bani yang terkena delik tersebut tetap melindungi Rasulullah kecuali segelintir orang yang merupakan sepersaudaraan dengan Rasul sendiri, yakni Abu Lahab, maka celakalah tangan Abu Lahab!

Pemboikotan ini sebenarnya tidak mulus ditaati oleh penduduk Makkah, karena sebagian mereka ada yang melakukan dukungan secara sembunyi-sembunyi. Namun, tentu saja penguasa itu bukanlah orang-orang bodoh. Setiap ada saudagar pedagang yang berjualbeli, maka mereka memborongnya. Dan setiap kali bani Abdul Muthalib hendak membeli keperluan hidup, maka mereka menaikkan harga berkali-kali lipat. Strategi penyelamatan jiwa Rasul tetap dilakukan oleh pamannya, Abu Thalib. Setiap kali beliau tidur di ranjangnya, maka secara bergantian dia menyuruh orang lain menggantikan posisi tersebut dalam rangka mengelabui kemungkinan terjadinya usaha pembunuhan.

Tindakan sewenang-wenang ini semakin dirasakan tidak adil oleh khalayak Makkah. Maka berkatalah Hisyam bin Amru dari suku bani Amir bin Lu’ay, yang secara sembunyi-sembunyi menemui Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumi, “Wahai Zuhair! Apakah engkau tega menikmati makan dan minum, sementara kondisi saudara-saudaramu dari pihak ibu seperti yang engkau ketahui saat ini (kelaparan)?”

“Celaka engkau! Apa yang dapat aku perbuat bila hanya seorang diri? Sungguh demi Allah! Andaikata ada seorang lagi yang mendukungku, niscaya aku robek shahifah perjanjian tersebut”, jawabnya.

“Engkau sudah mendapatkannya!” kata Hisyam

“Siapa dia?” tanya dia

“Aku” kata Hisyam

“Kalau begitu, carikan bagi kita orang ketiga”, jawabnya

Lalu Hisyam pergi menuju kediaman al-Muth’im bin Adiy. Dia menyinggung tali kekerabatan yang ada di antara bani Hasyim dan bani al-Muthalib, dua orang putra Abdi Manaf, dan mencela persetujuannya atas tindakan zalim kaum Quraisy. Kepada orang ketiga ini, terjadi pembicaraan yang semirip. Mereka bersepakat mencari pendukung tambahan guna melaksanakan niatan tersebut. Maka didapatlah penyokong berikutnya, Zuhari bin Abi Umayyah. Dari Zuhair, dirinya mengajak Zam’ah bin al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad.

Di tempat yang disepakati, mereka pun berkumpul.  Zuhair datang mengenakan pakaian kebesaran, mengelilingi Ka’bah tujuh kali, lalu menghadap khalayak seraya berkata: “Wahai penduduk Makkah! Apakah kalian tega bisa menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sementara bani Hasyim binasa? Tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga shahifah yang telah memutuskan kekerabatan dan amat zalim ini dirobek!”

Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut, “Demi Allah, engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!”

Lalu Zam’ah bin Al-Aswad memotongnya, “Demi Allah! Justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu!”

Abu al-Bukhturury menimpali, “Benar apa yang dikatakan Zam’ah. Kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya.”

Ditambahkan pula oleh al-Muth’im sebagai orang ketiga di antara mereka, “Mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang  berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis di dalamnya.”

Abu Jahal kemudian berkata dengan kesal, “Urusan ini telah diputuskan pada suatu malam dan saat itu telah dimusyawarahkan di tempat selain ini!”

Demikian cekcok berlangsung, mereka semakin bersitegang perihal pemboikotan. Sementara itu, paman Nabi, Abu Thalib, diberitahukan adanya penghancuran shahifah oleh rayap-rayap. Sementara nabi tidak menyaksikan  perseteruan itu, nyatalah itu menjadi wahyu bagi beliau. Sang paman masih tanda tanya atas apa yang dipersaksikan pendengarannya. Dia mengatakan, “Ini untuk membuktikan apakah dia berbohong, sehingga kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya. Demikian pula sebaliknya, jika dia benar, maka kalian harus membatalkan pemutusan hubungan kekerabatan dan kezaliman terhadap kami.” Mereka berkata kepadanya, “Kalau begitu, engkau telah berlaku adil.”

Dengan perbincangan alot, Al-Muth’im mengambil tindakan tegas dan berusaha merobek shahifah yang tergantung di Ka’bah. Namun apa yang ia lihat, pengejutkan semua orang. Shahifah itu telah hancur berantakan dimakan rayap, kecuali tulisan, “Bismikallah” yang artinya “dengan nama-Mu, ya Allah” dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya. Allahu Akbar!

Kenyataan itu menggemparkan hati nurani dan mengeluarkan suasana pemboikotan menjadi keamanan bagi Rasulullah Saw dan sahabatnya. Meski demikian, orang kafir itu tidak bergeming menyaksikan wahyu yang membenarkan perkataan Rasul terkait kejadian shahifah yang dimakani rayap-rayap itu. Mereka bersikap seperti apa yang difirmankan Allah Swt, “Dan jika mereka (orang-orang musyrik melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 2).

IMG20170511062653.jpg

Pacsa Pemboikotan

Sebenarnya, setelah Rasulullah dan sahabat keluar dari rumah-rumah dan berbaur kembali dengan masyarakat, pencercaan Kafir Quraisy tidaklah berkurang. Mereka tetap mengutuk, dan menyusun konspirasi berikutnya. Sedangkan Abu Thalib di masa itu sudah dalam kondisi tua renta, usianya lebih dari 80 tahun. Hal ini mengusik Abu Jahal yang masih berkerabatan dengan Nabi. Dia khawatir, kalau-kalau nanti Abu Thalib wafat malah berpesan dan berwasiat yang macam-macam kepada keponakannya itu. Maka sebelum itu terjadi, para pemuka kaum dan sanak keluarga itu berkumpul. Sudah ada lobi-lobi politik yang disampaikan kepada Abu Thalib, agar Nabi Saw berlembut-lembut kepada urusan agama dan hegemoni kafir Quraisy di Makkah. Abu Thalib pun meminta pertimbangan Nabi Saw, selaku keponakannya. Lalu Nabi Saw berkata, “Wahai pamanku! Kenapa tidak engkau ajak saja mereka kepada sesuatu yang lebih baik untuk mereka”

Dia pun bertanya, “mengajak kepada apa?”

“Ajak mereka agar mengucapkan satu kalimat yang dapat membuat bangsa Arab dan orang-orang asing tunduk takluk kepada mereka” kata beliau Sallahu Alaihi Wassaalam.

Beliau bersabda, “Kalian ucapkan, laailaha illallah dan kalian cabut sesembahan selain-Nya”

Mendengar kalimat itu tersebut, mereka kebingungan lantas berseru, “Wahai Muhammad, apakah kamu ingin menjadikan ilah-ilah (tuhan-tuhan) yang banyak menjadi satu saja? Sungguh aneh polahmu ini”. Kemudian masing-masing dari mereka kepada yang lainnya, “Demi Allah, sesungguhnya orang ini tidak memberikan yang kalian inginkan. Pergilah dan teruslah dalam agama nenek moyang kalian.” Berkenaan dengan ini pula, turunlah surah Shad ayat 1 sampai 7 yang menggambarkan kesombongan dan kabar kebinasaan yang telah menanti mereka.

 

Hikmah Pemboikotan

Allah Swt tidak segan mengirimkan tentaranya di langit dan bumi guna menolong agamaNya dan membelalaknya mata orang yang selama ini ragu. Rayap-rayap itu telah merendahkan tangan manusia. Dan Allah Swt berkehendak membuka hati orang-orang di luar Rasulullah Swt untuk membuka jalan kebaikan. Tidak lepas, dari usaha beliau terus mendakwahkan Islam baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Di masa tenang maupun susah. Dakwah ini, sesungguhnya apa yang akan menerangi jalan manusia dan memanusiakan mereka. Sehingga, siapapun mereka, dari berbagai kalangan, selayaknya mendukung dan melindungi Rasul. Namun, ada segelintir orang yang memang congkak dan sombong yang telah beku hatinya untuk menerima kebenaran. Mereka itulah yang kelak akan binasa dengan cara terbaik di balik usaha terbaik yang dilakukan partai rasul ini.

Disampaikan pula pada mereka, kalimat ini yakni laailaha illallah muhammad rasulullah, adalah esensi kata dan makna yang akan membuat mereka berkuasa di muka bumi. Kalimat ini menggetarkan manusia dan menyatukan elemen-elemen alam semesta untuk tunduk. Sejarah sendiri yang membuktikan, kini jazirah Arab bahkan hampir seluruh negeri di belahan dunia diwarnai oleh Islam dan kaum muslimin.

Sekuat apapun, konspirasi kaum kafir membendung dakwah, sesungguhnya dakwah ini akan terus bersemayam di hati manusia. Dia membakar jiwa orang yang berkutat tauhid di sanubari. Pemboikan tidak membuat mereka lari, malah kian meneguhkan keimanan Rasul dan orang-orang yang bersamanya. Wallahu’alam.

Judul buku : Srinti

Penulis  : Sofie Dewayani

Ilustrator : Cecillia Hidayat

Penerbit : Yayasan Litara

Tahun  : 2014
Yang Tersisa Dari Puing Reruntuhan
Set up dalam buku bergambar untuk anak-anak ini bermula dari rasa. Sebuah cinta tak pernah padam karena perpisahan. Cinta adalah perasaan yang tak lekang oleh waktu, dan terus tumbuh jika disemai dengan keikhlasan. Buku ini menceritakan tentang seorang anak yang menemukan boneka bernama Sri yang diketahuinya milik adiknya, dari sela reruntuhan. Dengan penuh kasih ia merawat boneka itu seperti adiknya merawat Sri, boneka kesayangannya.

Sampai suatu hari seorang anak lain melihat boneka itu dan dengan keyakinan penuh ia percaya jika boneka itu bernama Santi, boneka milik almarhum kakak yang dicintainya, Mbak Yuyun.

Terbayang perebutan yang dilalukan kedua anak itu. Keduanya merasa memiliki ikatan kuat dengan sebuah boneka yang sama. Yang satu meyakini boneka Sri milik almarhum adiknya, yang satu bersikeras boneka itu bernama Santi, milik almarhum kakak perempuannya.

Sebuah boneka yang tadinya terkubur dalam reruntuhan bersama ribuan kenangan pemiliknya, kini diperebutkan dua orang gadis kecil. Mereka tak berebut boneka an sich, melainkan hakikat kepemilikan yang melekat pada boneka itu. Bahwa keduanya merasa, boneka itu entah Sri atau Santi, memiliki benang yang mengikat hati dan kenangan mereka akan pemilik yang mereka cintai sepenuh hati. 

Boneka itu terkoyak, dan membuat tangis dalam hati mereka berdua pecah seketika.

Masing-masing berlari mengadukan luka mereka pada keluarga yang tersisa.

Yang satu diberi nasihat, “Mbok ya sudah…adik sudah punya boneka baru di surga.”

Yang seorang lagi menerima kata-kata, ” Ssst…Mbak Yuyun sudah tenang di kuburnya. Dia nggak perlu boneka.”

Bagian ini masuk dalam falling action. Konflik mulai mereda. Lara hati mulai lilih mesti belum puas memaafkan. 

Kedua anak itu mulai berkompromi. Bagaimanapun boneka itu hanya satu. Masing-masing merasa anggota keluarga merekalah yang memiliki boneka itu.  

Belajar mengikhlaskan, mereka mulai melepas ke’aku’an mereka pada boneka itu. Mulai berbagi. Bukan hanya berbagi boneka semata-mata, melainkan juga belajar melepaskan dan mengikhlaskan kesedihan atas kehilangan orang terkasih.

Buku ini tidak bisa dibilang ringan karena maknanya yang mendalam tentang pelajaran melepaskan luka dan bukan malah menekannya. Tetapi juga tidak bisa dibilang berat karena penulis dan ilutrator mampu membuat narasi yang minim kata tetapi menyentuh hati kita sedalam-dalamnya.

Buku bergambar untuk pembaca pemula yang dilatar belakangi peristiwa gempa bumi Mei 2006 ini sangat disarankan untuk dimiliki.

Anak-anak yang tak mengalami peristiwa itu juga belajar bahwa di Yogyakarta saat itu telah terjadi gempa bumi kuat yang menewaskan banyak orang. Saat itu barang-barang milik orang-orang terkasih ikut terkubur di bawah reruntuhan, menyisakan kenangan dan kisah.


Judul Buku : 💦Islam Rahmatan Lil Alamin💦✒

Penulis    : Hafidz Abdurrahman, Felix Y. Siauw✒

Visual      : Emeralda Noor Achni

Penerbit  : ALFATIH PRESS✒

Tebal Buku   : 104 Lembar✒

Peresensi : Imas S. Masitoh😊✒
“Teruntuk sesiapa yang berjanji menjadi penjaga islam yang terpercaya, yang merindukan kebangkitan islam”
Sesuai dengan kata-kata yang muncul pertama kali ketika membuka buku ini dilembar ke tiga, maka pembahasannya mengenai pemikiran islam yang hendak diemban untuk kebangkitan sejati manusia. Pemikiran inilah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, yang karenanya orang-orang kafir senantiasa membencinya.
Sebenarnya seperti apa pemikiran-pemikiran islam ini? Tentu kita tahu bahwa tak ada celah sedikitpun bagi kaum Quraisy pada saat itu menemukan kesalahan dari Rasulullah, bahkan Rasulullah memiliki nasab yang paling tinggi dan akhlak yg paling mulia, sehingga diberi gelar al amin. Maka gambaran sebelum islam turun adalah seperti itu, dan setelah islam ini turun maka didapati orang-orang yang asalnya menyukai Rasulullah menjadi membencinya, bahkan menghinakannya karena sebenarnya yang mereka benci bukanlah Rasulullahnya melainkan islam yang beliau bawa.
Maka buku ini benar-benar sangat membuat penasaran diawal dengan pendahuluannya, ditambah dengan gambar visual yg menarik dan memudahkan pembaca untuk memahami isi buku. Kata-kata dalam buku ini sangat bermakna dan memberikan kerangka yang jelas tentang islam terhadap manusia dan agama, islam dan konsepnya, sumber dalil dalam islam,  dan metode islam.
Saya fikir isi buku ini hanyalah kerangka alur yg menjelaskan secara singkat dan umumnya, sehingga perlu ada pengkajian lebih mendalam, karena itu wajarlah bila di akhir buku ada penawaran untuk bergabung ke komunitas #YukNgaji untuk mendalami pemikiran, ilmu dan staqofah islam yang mulia dan memberikan kebahagiaan.

Judul Buku: Gila Baca ala Ulama

Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm

Penulis: Ali bin Muhammad Al-‘Imran

Penerjemah: Arif Fauzi

Penerbit: Kuttab Publishing

ISBN: 978-602-8171-12-0

Tebal: 178 halaman

Tahun Terbit: Januari 2016

Peresensi: Evyta Ar
Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku

Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati

(halaman 132)
Mengenal tokoh-tokoh intelektual, sastrawan dan ilmuwan asal lokal maupun Barat yang memiliki kecintaan terhadap buku mungkin sudah cukup biasa bagi kita. Ada banyak informasi tentang mereka yang bertebaran di berbagai sumber dan membuat kita takjub. Kita menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui tokoh yang satu memiliki ribuan buku di ruang bacanya atau tokoh yang lain tetap membaca dan menulis meskipun berada di dalam penjara.
Di buku Gila Baca Ala Ulama ini, kita akan lebih takjub lagi mengetahui betapa para ulama Islam begitu tinggi gairah dan kecintaannya terhadap buku dan ilmu. Tak hanya berhasil membaca ratusan ribu jilid buku, melainkan juga menulis dan menyalin ulang ratusan jilid buku dan mengajarkannya. Sebut saja Ibnul Jauzi yang telah membaca 200.000 jilid buku, Ibnu Taimiyyah yang tetap membaca meskipun dalam keadaan sakit berat, atau bahkan Hasan Al-Lu’luai, yang selama 40 tahun usia hidupnya, ia selalu tidur dengan buku tergeletak di atas dadanya. Terkadang tak hanya sekali dua kali para ulama tersebut membaca satu buku, melainkan berulang-ulang.
Belum selesai ketakjuban kita atas kegemaran membaca beberapa tokoh ulama masa lalu, Ali bin Muhammad Al-‘Imran penulis buku ini juga masih memberikan kita kejutan dengan kisah-kisah kelezatan para ulama dalam memburu dan membeli buku. Ada Imam Muhammad bin Ya’qub Fairuz Abadi yang membeli berbagai buku berharga seharga 50.000 mitsqal emas atau senilai dengan 21 milyar rupiah, atau Abul Alla’ Al-Hamadzani yang rela menjual rumah—harta satu-satunya—demi membeli buku-buku yang ia sukai. Masya Allah.
Selain itu, buku Gila Baca Ala Ulama ini juga mampu menghibur kita dengan kisah mimpi para ulama yang masuk surga bersama buku saking cintanya beliau terhadap buku. Jika kita tergelitik karena merasa mengantuk setiap kali menyentuh dan mulai membaca buku, maka penulis menyuguhkan kisah sebaliknya, ada ulama yang justru mengusir kantuk dengan membaca buku. Hmm … Bertolak belakang sekali ya dengan kita 😀 Ada puluhan ulama yang kegilaannya terhadap buku dikisahkan di buku ini.
Buku ini berhasil membuat saya merasa kerdil dan menciut. Betapa kita hari ini sering merasa takjub dengan banyaknya koleksi buku kita yang berrak-rak berjejer. Tetapi, seberapa banyak ilmu yang sudah kita petik dari buku-buku itu? Berapa banyak buku yang kita baca dalam sebulan, setahun, sebanyak usia kita? Jika dibandingkan dengan para ulama yang membaca ribuan jilid buku dalam waktu singkat, barangkali kita ibarat semut dan gajah perbandingannya. Apalagi buku-buku yang mereka baca notabene adalah kitab-kitab tebal, manuskrip dengan topik berat, yang bisa jadi tidak sebanding dengan buku bacaan kita saat ini.
    “Sungguh, cara melestarikan khazanah ini tidak dengan sekadar menyusunnya di dalam lemari indah, menertibkan, menghiasi, menerbitkan dan mengeditnya. Tidak cukup seperti itu. Akan tetapi, cara paling baik dan paling tepat untuk melestarikannya adalah dengan membangkitkan gerakan ilmiah serta menumbuhkan dan meninggikan cita-cita. Marilah kita tambah setiap hari barisan para pembaca dengan wajah-wajah baru. Mereka harus tekun membaca khazanah itu dan mengambil manfaat darinya. Hanya dengan cara ini, semua sarana penunjang (penyimpanan, penyusunan dan penerbitan) berkembang dan menjadi sempurna.” (halaman 18)
Ali bin Muhammad Al-‘Imran memberikan perspektif baru terhadap ‘kegilaan’ pada buku lewat karyanya. Beliau saat ini juga sedang memimpin proyek men-tahqiq karya ulama salaf seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, dan lain-lain.

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Alunan Dialektis

Didik Hari Purwanto - personal Blog

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même