Feeds:
Pos
Komentar

                   Berikut adalah cuplikan “The Title”, fiksi yang diangkat dari perjalanan karir atlet “Khabib Nurmagomedov” di dunia bela diri campuran. Cerita lengkapnya bisa dibaca di akun Wattpad saya: @algabiru_full . Selamat membaca!

 

***

Elang lapar itu bernama Khalid Ramzanov. Babak penghabisan. Ronde ketiga dalam hitungan detik ke depan. Ia terengah, berkeringat. Dadanya lepas, cukup puas.

***

“I am good. Yeah, good” Dia berbicara dengan Bahasa Inggris yang tidak fasih. Mulutnya mengulum mouthguard. Ia tak mampu menahan diri untuk tidak bicara. Disini, ia ingin tunjuki sesuatu. Ia ingin memperlihatkan sedikit pelajaran.

“Hey, be carefull. I gonna smash your boy”, katanya percaya diri. “Yeah, be carefull. I know who I am” Usman menepuk-nepuk nafsu buasnya. Sam dan Ramzan tidak sabar melihat kemenangan. Hajar dia, Brat!

Big Jhon memberi aba-aba. Khalid dan Michael saling bicara dan memberi tanda. Hanya Big Jhon yang mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dramatis. Riuh suara supporter menggema di ruang masyhur Octagon. Whuu! Khalid menyoraki, membiarkan mereka meneriaki apapun yang mereka mau. Telunjuk teracung. Dikecup ambisius.

Here we go!

Teng!

Ronde ketiga tak tertahankan. Michael Johnson lemah lebam. Khalid masih perkasa. Terlalu perkasa dalam perbandingan laga yang mendominasi. Khalid menyiapkan perangkap. Conditioning yang apik. Di detik tigapuluh pertama, Michael diterkam. Grappling kembali. Cukup sekali banting, Michael seperti bangkai rusa di savana Afrika. Khalid menggelung rapat kakinya, lawan terperangkap rapat. Dalam posisi strategis ini, ia bisa melumati mangsa sembari minum kopi. Michael lemah tak berdaya. Ia menyembunyikan muka dari serangan. Cuma itu yang bisa dia lakukan. Lalu…… Percakapan indah itu pun terjadi. Sebait kalimat yang hanya dikeluarkan petarung rendah hati. Di jarak yang amat dekat, Khalid berkata sesuatu kepada Michael :

“You have to give up. I need to fight for the title. You know this I deserve it.”

Dua tahun lalu, Khalid mengalami cedera serius. Dia tahu bagaimana nasib seorang petarung yang mengalami cedera. Seorang atlet harus memikirkan masa depannya. Candui semua gengsi dan bully.

Calon bangkai berada di tangan. Khalid ingin berwelas asih. Menyerahlah, Michael Johnson. Itu terbaik bagimu. Khalid memberi sinyal agar ia menyerah. Entah apa yang ada di kepalanya. Michael Johnson tidak peduli dengan kata-kata itu, tak juga menyerah. Mungkin ia mempercayai bualan di luar pertandingan. Trash talk palsu. Satu hal yang semua orang perlu tahu, rasa sakit ini nyata, pukulan yang sakit, dan kemungkinan cedera. Big Jhon teguh pendirian, melanjutkan pertandingan.

Ini pilihanmu, Michael Johnson. Demi Tuhan, aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin dirimu sampai disiniBiarkan aku menepati janjiku mendapatkan belt kemenangan itu.

“This is horrible position. Khalid pulls like on over hook on the left arm of Michael Johnson. Obviously is going to go for Kimura. Right?”. Nafas tertahan. Big John berhitung. Sampai kapan Michael Johnson sanggup bertahan? Oh tidak. Dia takkan sanggup.

“Khalid gonna break his arms”. Michael Johnson terperangkap. Khalid memelintir tangannya. Terkunci. Pitingan Kimura dengan sempurna dilakukan. Big Jhon merentangkan tangan. Buru-buru memisahkan dua petarung itu. Khalid mengacungkan telunjuk.

Aku harap kau baik-baiksa saja. Aku tak ingin menyakitimu. Thank you, Michael Johnson. Kening beradu kening. Simbol Elang menghormati buruannya. Ia memilih membiarkan. Ia punya hasrat lain selain rasa lapar. The belt, the title. []

Iklan

UFC 205 : “Hard Shot”

Berikut ini, cuplikan fanfiction yang mengangkat Khabib Nurmagomedov (Russia) sebagai tokoh utama. Update setiap hari di akun Wattpad saya: @algabiru_full. Yang nggak punya akun Wattpad, tetap bisa dibaca via browser kok. Selamat menikmati ! 🙂 

lat-ufc-205-wre0044575557-20161112

***

Bruce Buffer mantap memegang corong jitu microphone. Teriakan orang-orang mengalahkan musik yang diputar saat walk out. Khalid Ramzanov di garda kiri, Michael Johnson di seberang.

“Ladies and gentelmen, three rounds in the UFC lightweight division, intorducing first fighting out of the blue corner on mixed martial artist early professional record, 18 wins 10 losses. 10 inches tall weight in at 156 pounds. The number six lightweight contender in the world, Michael ‘the manace’ Johnson”. Suara lantang Bruce Buffer bulat memperkenalkan Johnson. Michael mengangkat kedua tangannya seperti pengkhotbah. Ia bersiap memeluk kemenangan. Dominasi penonton dikuasai tuan rumah, mendukung Johnson. Octagon gegar bersambut tepuk tangan.

Bruce Buffer menarik nafas dalam tempo cepat. Melafalkan nama dan prestasi petarung yang sudah dihafal orang banyak. “And now introducing his opponent. Fighting out of the red corner on mixed martial artist holding an undefeated. Professional record 23 wins no losses. Weight in at 156 pounds. Dagestan Russia presenting the number two ranked lightweight contender in the world, Khalid “the eagle” Ramzanov.” Khalid mengacungkan tangan kanan, menyapa penggemar yang bertudungkan Papakha. Topi bulat mekar dari bahan bulu domba. So iconic, yang menandakan keberadaan mereka.

John McCarthy, sang wasit, dengan rapat mengenakan sarung tangan hitam. Posisi wasit salah satu hal penting berlangsungnya duel. Wasit harus jeli, dengan cepat menghentikan pertandingan, apabila salah satu petarung sudah terkunci. Selain mendengar teriakan ‘stopped me’, dari salah satu petarung yang menyerah. Atau dengan cepat memberi isyarat untuk dihentikannya pertarungan.

“Here we go!” Komentator memanaskan suasana melalui microphone. “Very fast hand from Michael Johnson” Michael mengacungkan tinju panjang membuka serangan. “Ramzanov, the best grappler in the business”. Pertarungan yang sangat sentimental. Bagaimana keduanya berpasang nyali di agenda face-to-face. Kekesalan Khalid kepada UFC, ketika Conor McGregor yang entah bagaimana, menyerobot belt kemenangan. Trash talk sudah biasa dilakukan pemain pra pertandingan. Khalid-Michael berbeda. Pengamat yakin, inilah pertandingan sebenarnya. Jenis seni bela diri yang harus disaksikan banyak orang.

“This has very different both guys have been very respectful in preparation to this fight”

Khalid berlatih di AKA Gym bersama Daniel Cormier guna menghadapi Michael Johnson. Pertarungan terakhir kali, bersama Darrel Horcher, yang mengalami cedera berat hingga dua tahun lamanya. Michael petarung yang aktif berlaga, walau sekian kali didera kekalahan. Rekam jejak ini menghentakkan berpasang mata. Mereka rival yang seimbang.

“Lagi-lagi pukulan cepat.. Oh Michael Johnson!” Nafas pria itu tertahan “Hampir ia mematahkan rahang lawannya!” Khalid mengelak cepat, menahan pukulan Michael bertubi-tubi. Terdengar bunyi ‘ohhh’ penonton. Adrenalin diretas keadaan.

Khalid mengendalikan pertarungan. He is the best grappler tonight. Sekuat tenaga, Michael menahan bantingan, badannya yang besar itu,…. bum! jatuh.

“The best way to describe his style” Orang mulai berkomentar di tengah kompetisi ini, “and when he gets a hold of people it almost seems like they’re shocked and how strong he is”

Micahel Johson terhimpit. Khalid menahan kendali Johnson, tidak bisa lepas. Dia berusaha menekan untuk semakin mengunci posisi. “Johnson is terrible trouble here”, komentator tak tahan untuk tidak bicara.

“Massive pressure!”

“Yeah, massive pressure!”

“He’s going to slice that right knee through” Mereka berkomentar dengan mulut didekap, “and Johson with a minute now have to go is in full survival mode here”

Michael menahan dengan kentara. Tangan kiri melindugi wajahnya dari serangan sikut, lengan dan kepal Khalid bergantian. Tak terhitung berapa kali ia sudah ditinju. Masih ronde satu, Michael memilih bertahan. Ia seorang yang punya harga diri.

Dominasi Khalid dalam kuncian berlangsung sejak menit ke dua. Saat ini, satu menit yang tersisa. Michael pesakitan dan tertahan. Big John McCarthy memantau tanda-tanda untuk menjatuhkan vonis submission. Namun, belum. Michael bertahan, apapun itu.

“Johnson getting hurt”

“Oh my god,… Johnson getting hurt”

Orang-orang terus berteriak. Seolah-olah menahan sakitnya.

25 second…..

Khalid Ramzano, Excellent positon! Johnson tak mampu bangkit. Gerakan-gerakan cepat Khalid menampilkan keindahan seni bela diri. He’is inside control here.

“Big shot near temple,” komentator gahar tercekat, “Michael is terrible”

“Look out Ramzanov that right arm as well. Johnson is effectively defending himself with one hand and he can’t move his body”

10 second…..

Sepuluh detik terakhir yang berbahaya. Khalid tidak menyia-nyiakan. Ia menghajar dengan perkasa. Tidak membiarkan mangsanya lari. Limit sedikit waktu tersisa. Ia bangkit dan melemparkan Johnson ke sisi ring. Meninju layaknya seorang tuan yang berkuasa.

Teng!

“Wow!! Unbelievable! Unbelievable!”

Ronde pertama diakhiri dengan tepuk tangan. Khalid mendominasi pertandingan. Michael belum menyerah. Dua ronde tersisa. Dia bertekad menuntut balas. []

Ada jenis perkataan, yang seolah bijaksana, sejatinya berbahaya. Ini susah. Seperti benar di awal, ngawur di ujungnya. “Buat apa kita berantem gara-gara beda agama. Semua agama sama, kan dari Tuhan, kita sama-sama hamba Tuhan”. Bak mencampur air susu di bekas penggorengan. Seumpama mengaduk sambal di adonan kue talam, manalah jadi kawan. 😈😈
.
.
“Sinterklas, Orang Cebol dan Kelinci Paskah”, halaman 164, bagian ini menarik perhatian saya. Singkat cerita, pengamatan ini tentang keyakinan yang didapat dan keyakinan yang dipilih. Setiap anak tidak memilih dia lahir dari orang tua macam apa, islam atau nasrani, hindu atau budha. Namun pengalaman dan fakta yang kemudian memancing alam pikir manusia untuk memilih.
.
.
Saya, lahir dari keluarga muslim, secara alami (nature), maka saya beragama Islam. Secara alami pun, setiap orang punya kecenderungan mencari Tuhan-tuhan tempat perlindungan. Mencari eksistensi lebih besar dari dirinya sebagai sesembahan.
.
.
.
Namun, apakah saya percaya surga-neraka, mau sholat, puasa atau nggak, itu hasil pilihan-pilihan saya sebagai orang merdeka. Pilihan yang dibentuk/di-didik (nurture) dari pengalaman-pengalaman saya sendiri. Jelang puber, saya berpikir: kenapa harus sholat? Lima kali sehari, lagi. Kebanyakan. Kenapa nggak seminggu sekali aja. Jadi, mau sholat apa nggak. Mau iman apa nggak, itu pilihan. .
.
Tidak ada seorang pun yang bisa membeli pengalaman orang lain. Seperti tidak bisanya seseorang membeli iman orang lain, maka tidak pula mewarisinya.
.
.
Nggak papa kok kalo beda pendapat. Tapi tak perlu kau bohongi kenyataan ini. Katakanlah, langit itu biru, awan itu putih. Tak usah kau paksakan ia menjadi dunia absurd dalam penyakit kemunafikan. Yang oleh Tuhan sendiri, sudah disiapkan tempatnya di kerak neraka.
.
.
Eh, masih yakin kan neraka itu ada?

 

IMG20170602135347-01 (1)

.

Kejadian ini pernah terjadi dalam keluarga kami. Bertamu ke tempat orang, jauh-jauh dari Medan, murni menyambung silaturahmi. Sayangnya, tuan rumah menyambut datar. Terkesan hambar. Senyum sekedarnya, sedikit obrolan, bahkan seolah-olah hendak berucap, “duh, kapan sih tamunya pulang?”. Hemm, sebenarnya kami pengen cepat pulang rasanya. Tapi mau nginep dimana, cari penginapan kala itu tak semudah sekarang. Jadi tamu tak diharapkan itu nggak enak. Makan hati, pengen pergi. Padahal dengan segala kehormatan seorang tamu, kemuliaan seharusnya yang ia dapatkan. Coba, kita bayangin kalo kita jadi tamu yang dibegitukan? Kemuliaan tamu tidak akan hilang dari perlakuan buruk tuannya. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak pernah ada. Lebih baik, tuan rumah seperti itu tidak didatangi selama-lamanya.

.

.

Dear gaes…

Sebentar lagi tamu kehormatan kita akan datang. Bulan Ramadhan,  yang sebenarnya hanya menyapa orang beriman. Mau nggak kita disebut tidak beriman? Lucu nggak kalo jd orang Islam tapi dipertanyakan imannya karena nggak menghormati bulan Ramadhan?

.

.

Masih ada 2-3 hari, masih bisa kebut berbenah ilmu, hati dan fisik, biar setrong selama masa uji Ramadhan.

.

.

Jadilah tuan rumah yang menghormati dan memuliakan tamunya. Yakin, namanya tamu pasti akan pulang. Siapa tahu nantinya kita nggak ketemu tamu itu lagi. Siapa yang tahu keimanan kita esok hari. [] 😭😭😭😭

Kau tidak bisa memilih tanah tumpah lahirmu. Tidak pula bisa memilih siapa ayah dan ibumu. Kau dibesarkan oleh tangan-tangan mereka, oleh visi misi, yang dulunya hanya ada di benak para orang tua itu. Murad, si pelatih gulat, mencetak anaknya sendiri untuk menjadi pemangsa. Anak itu tidak terlalu kekar, jarang sekali wajahnya sangar.
Khalid Ramazanov tidak pernah membayangkan, dia akan menjadi pemimpin dari semua petarung di belakangnya. Dia legenda di tanah hijau yang dikucilkan orang. Namun kebanggaan tetaplah butuh pengakuan. Eksistensi tidak bisa berdiri sendiri. Landasan Octagon telah riuh gegar. Disana, orang-orang buas dengan pikirannya. Percakapan saling maki dan adu perkasa telah lebih dulu ditampakkan layar kaca. Apakah pantas Khalid mendapatkan gelarnya? Ataukah dia ditelan cita-cita hampa di Makachkala, Pegunungan Dagestan.
kh
Next story on my wattpad account : @algabiru_full

(Hikmah dari Pemboikotan Rasulullah Saw)

 

Kejadian ini berlangsung 3 tahun lamanya, pada bulan Muharram tahun ke-7 kenabian. Rezim panik Bani Quraisy teramat sulit membendung dukungan intelektual dan rekrutmen yang digalang oleh kelompok Rasulullah dan sahabatnya. Dengan tangan kekuasaan yang mereka miliki, penguasa Makkah ini mendokumentasikan kekuatannya di sebuah shahifah (lembaran)  berisi sumpah yang kuat, yang berbunyi : “Bahwa mereka selamanya tidakakan menerima perdamaian dari bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila merekas mau menyerahkan beliau Muhammad Sallahu’alaihi Wassalam untuk dibunuh”.

Ib Al-Qayyim berkata, “Ada yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Manshur bbin Ikrimah bin Amir bin Hasyim. Ada lagi yang mengatakan bahwa pernyataan itu ditulis oleh Nadhr bin al Harits. Yang benar, penulisnya adalah Baghidh bin Amir bin Hasyim, lalu Rasulullah mendoakan keburukan untuknya dan dia pun mengalami kelumpuhan di tangannya sebagaimana doa beliau. Subahallah! Allahu Akbar!

Shahifah itu digantung di dinding Ka’bah yang menjadi fondasi pemersatu bangsa Arab di masa itu. Dua bani yang terkena delik tersebut tetap melindungi Rasulullah kecuali segelintir orang yang merupakan sepersaudaraan dengan Rasul sendiri, yakni Abu Lahab, maka celakalah tangan Abu Lahab!

Pemboikotan ini sebenarnya tidak mulus ditaati oleh penduduk Makkah, karena sebagian mereka ada yang melakukan dukungan secara sembunyi-sembunyi. Namun, tentu saja penguasa itu bukanlah orang-orang bodoh. Setiap ada saudagar pedagang yang berjualbeli, maka mereka memborongnya. Dan setiap kali bani Abdul Muthalib hendak membeli keperluan hidup, maka mereka menaikkan harga berkali-kali lipat. Strategi penyelamatan jiwa Rasul tetap dilakukan oleh pamannya, Abu Thalib. Setiap kali beliau tidur di ranjangnya, maka secara bergantian dia menyuruh orang lain menggantikan posisi tersebut dalam rangka mengelabui kemungkinan terjadinya usaha pembunuhan.

Tindakan sewenang-wenang ini semakin dirasakan tidak adil oleh khalayak Makkah. Maka berkatalah Hisyam bin Amru dari suku bani Amir bin Lu’ay, yang secara sembunyi-sembunyi menemui Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumi, “Wahai Zuhair! Apakah engkau tega menikmati makan dan minum, sementara kondisi saudara-saudaramu dari pihak ibu seperti yang engkau ketahui saat ini (kelaparan)?”

“Celaka engkau! Apa yang dapat aku perbuat bila hanya seorang diri? Sungguh demi Allah! Andaikata ada seorang lagi yang mendukungku, niscaya aku robek shahifah perjanjian tersebut”, jawabnya.

“Engkau sudah mendapatkannya!” kata Hisyam

“Siapa dia?” tanya dia

“Aku” kata Hisyam

“Kalau begitu, carikan bagi kita orang ketiga”, jawabnya

Lalu Hisyam pergi menuju kediaman al-Muth’im bin Adiy. Dia menyinggung tali kekerabatan yang ada di antara bani Hasyim dan bani al-Muthalib, dua orang putra Abdi Manaf, dan mencela persetujuannya atas tindakan zalim kaum Quraisy. Kepada orang ketiga ini, terjadi pembicaraan yang semirip. Mereka bersepakat mencari pendukung tambahan guna melaksanakan niatan tersebut. Maka didapatlah penyokong berikutnya, Zuhari bin Abi Umayyah. Dari Zuhair, dirinya mengajak Zam’ah bin al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad.

Di tempat yang disepakati, mereka pun berkumpul.  Zuhair datang mengenakan pakaian kebesaran, mengelilingi Ka’bah tujuh kali, lalu menghadap khalayak seraya berkata: “Wahai penduduk Makkah! Apakah kalian tega bisa menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sementara bani Hasyim binasa? Tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga shahifah yang telah memutuskan kekerabatan dan amat zalim ini dirobek!”

Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut, “Demi Allah, engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!”

Lalu Zam’ah bin Al-Aswad memotongnya, “Demi Allah! Justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu!”

Abu al-Bukhturury menimpali, “Benar apa yang dikatakan Zam’ah. Kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya.”

Ditambahkan pula oleh al-Muth’im sebagai orang ketiga di antara mereka, “Mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang  berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis di dalamnya.”

Abu Jahal kemudian berkata dengan kesal, “Urusan ini telah diputuskan pada suatu malam dan saat itu telah dimusyawarahkan di tempat selain ini!”

Demikian cekcok berlangsung, mereka semakin bersitegang perihal pemboikotan. Sementara itu, paman Nabi, Abu Thalib, diberitahukan adanya penghancuran shahifah oleh rayap-rayap. Sementara nabi tidak menyaksikan  perseteruan itu, nyatalah itu menjadi wahyu bagi beliau. Sang paman masih tanda tanya atas apa yang dipersaksikan pendengarannya. Dia mengatakan, “Ini untuk membuktikan apakah dia berbohong, sehingga kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya. Demikian pula sebaliknya, jika dia benar, maka kalian harus membatalkan pemutusan hubungan kekerabatan dan kezaliman terhadap kami.” Mereka berkata kepadanya, “Kalau begitu, engkau telah berlaku adil.”

Dengan perbincangan alot, Al-Muth’im mengambil tindakan tegas dan berusaha merobek shahifah yang tergantung di Ka’bah. Namun apa yang ia lihat, pengejutkan semua orang. Shahifah itu telah hancur berantakan dimakan rayap, kecuali tulisan, “Bismikallah” yang artinya “dengan nama-Mu, ya Allah” dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya. Allahu Akbar!

Kenyataan itu menggemparkan hati nurani dan mengeluarkan suasana pemboikotan menjadi keamanan bagi Rasulullah Saw dan sahabatnya. Meski demikian, orang kafir itu tidak bergeming menyaksikan wahyu yang membenarkan perkataan Rasul terkait kejadian shahifah yang dimakani rayap-rayap itu. Mereka bersikap seperti apa yang difirmankan Allah Swt, “Dan jika mereka (orang-orang musyrik melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 2).

IMG20170511062653.jpg

Pacsa Pemboikotan

Sebenarnya, setelah Rasulullah dan sahabat keluar dari rumah-rumah dan berbaur kembali dengan masyarakat, pencercaan Kafir Quraisy tidaklah berkurang. Mereka tetap mengutuk, dan menyusun konspirasi berikutnya. Sedangkan Abu Thalib di masa itu sudah dalam kondisi tua renta, usianya lebih dari 80 tahun. Hal ini mengusik Abu Jahal yang masih berkerabatan dengan Nabi. Dia khawatir, kalau-kalau nanti Abu Thalib wafat malah berpesan dan berwasiat yang macam-macam kepada keponakannya itu. Maka sebelum itu terjadi, para pemuka kaum dan sanak keluarga itu berkumpul. Sudah ada lobi-lobi politik yang disampaikan kepada Abu Thalib, agar Nabi Saw berlembut-lembut kepada urusan agama dan hegemoni kafir Quraisy di Makkah. Abu Thalib pun meminta pertimbangan Nabi Saw, selaku keponakannya. Lalu Nabi Saw berkata, “Wahai pamanku! Kenapa tidak engkau ajak saja mereka kepada sesuatu yang lebih baik untuk mereka”

Dia pun bertanya, “mengajak kepada apa?”

“Ajak mereka agar mengucapkan satu kalimat yang dapat membuat bangsa Arab dan orang-orang asing tunduk takluk kepada mereka” kata beliau Sallahu Alaihi Wassaalam.

Beliau bersabda, “Kalian ucapkan, laailaha illallah dan kalian cabut sesembahan selain-Nya”

Mendengar kalimat itu tersebut, mereka kebingungan lantas berseru, “Wahai Muhammad, apakah kamu ingin menjadikan ilah-ilah (tuhan-tuhan) yang banyak menjadi satu saja? Sungguh aneh polahmu ini”. Kemudian masing-masing dari mereka kepada yang lainnya, “Demi Allah, sesungguhnya orang ini tidak memberikan yang kalian inginkan. Pergilah dan teruslah dalam agama nenek moyang kalian.” Berkenaan dengan ini pula, turunlah surah Shad ayat 1 sampai 7 yang menggambarkan kesombongan dan kabar kebinasaan yang telah menanti mereka.

 

Hikmah Pemboikotan

Allah Swt tidak segan mengirimkan tentaranya di langit dan bumi guna menolong agamaNya dan membelalaknya mata orang yang selama ini ragu. Rayap-rayap itu telah merendahkan tangan manusia. Dan Allah Swt berkehendak membuka hati orang-orang di luar Rasulullah Swt untuk membuka jalan kebaikan. Tidak lepas, dari usaha beliau terus mendakwahkan Islam baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Di masa tenang maupun susah. Dakwah ini, sesungguhnya apa yang akan menerangi jalan manusia dan memanusiakan mereka. Sehingga, siapapun mereka, dari berbagai kalangan, selayaknya mendukung dan melindungi Rasul. Namun, ada segelintir orang yang memang congkak dan sombong yang telah beku hatinya untuk menerima kebenaran. Mereka itulah yang kelak akan binasa dengan cara terbaik di balik usaha terbaik yang dilakukan partai rasul ini.

Disampaikan pula pada mereka, kalimat ini yakni laailaha illallah muhammad rasulullah, adalah esensi kata dan makna yang akan membuat mereka berkuasa di muka bumi. Kalimat ini menggetarkan manusia dan menyatukan elemen-elemen alam semesta untuk tunduk. Sejarah sendiri yang membuktikan, kini jazirah Arab bahkan hampir seluruh negeri di belahan dunia diwarnai oleh Islam dan kaum muslimin.

Sekuat apapun, konspirasi kaum kafir membendung dakwah, sesungguhnya dakwah ini akan terus bersemayam di hati manusia. Dia membakar jiwa orang yang berkutat tauhid di sanubari. Pemboikan tidak membuat mereka lari, malah kian meneguhkan keimanan Rasul dan orang-orang yang bersamanya. Wallahu’alam.

Judul buku : Srinti

Penulis  : Sofie Dewayani

Ilustrator : Cecillia Hidayat

Penerbit : Yayasan Litara

Tahun  : 2014
Yang Tersisa Dari Puing Reruntuhan
Set up dalam buku bergambar untuk anak-anak ini bermula dari rasa. Sebuah cinta tak pernah padam karena perpisahan. Cinta adalah perasaan yang tak lekang oleh waktu, dan terus tumbuh jika disemai dengan keikhlasan. Buku ini menceritakan tentang seorang anak yang menemukan boneka bernama Sri yang diketahuinya milik adiknya, dari sela reruntuhan. Dengan penuh kasih ia merawat boneka itu seperti adiknya merawat Sri, boneka kesayangannya.

Sampai suatu hari seorang anak lain melihat boneka itu dan dengan keyakinan penuh ia percaya jika boneka itu bernama Santi, boneka milik almarhum kakak yang dicintainya, Mbak Yuyun.

Terbayang perebutan yang dilalukan kedua anak itu. Keduanya merasa memiliki ikatan kuat dengan sebuah boneka yang sama. Yang satu meyakini boneka Sri milik almarhum adiknya, yang satu bersikeras boneka itu bernama Santi, milik almarhum kakak perempuannya.

Sebuah boneka yang tadinya terkubur dalam reruntuhan bersama ribuan kenangan pemiliknya, kini diperebutkan dua orang gadis kecil. Mereka tak berebut boneka an sich, melainkan hakikat kepemilikan yang melekat pada boneka itu. Bahwa keduanya merasa, boneka itu entah Sri atau Santi, memiliki benang yang mengikat hati dan kenangan mereka akan pemilik yang mereka cintai sepenuh hati. 

Boneka itu terkoyak, dan membuat tangis dalam hati mereka berdua pecah seketika.

Masing-masing berlari mengadukan luka mereka pada keluarga yang tersisa.

Yang satu diberi nasihat, “Mbok ya sudah…adik sudah punya boneka baru di surga.”

Yang seorang lagi menerima kata-kata, ” Ssst…Mbak Yuyun sudah tenang di kuburnya. Dia nggak perlu boneka.”

Bagian ini masuk dalam falling action. Konflik mulai mereda. Lara hati mulai lilih mesti belum puas memaafkan. 

Kedua anak itu mulai berkompromi. Bagaimanapun boneka itu hanya satu. Masing-masing merasa anggota keluarga merekalah yang memiliki boneka itu.  

Belajar mengikhlaskan, mereka mulai melepas ke’aku’an mereka pada boneka itu. Mulai berbagi. Bukan hanya berbagi boneka semata-mata, melainkan juga belajar melepaskan dan mengikhlaskan kesedihan atas kehilangan orang terkasih.

Buku ini tidak bisa dibilang ringan karena maknanya yang mendalam tentang pelajaran melepaskan luka dan bukan malah menekannya. Tetapi juga tidak bisa dibilang berat karena penulis dan ilutrator mampu membuat narasi yang minim kata tetapi menyentuh hati kita sedalam-dalamnya.

Buku bergambar untuk pembaca pemula yang dilatar belakangi peristiwa gempa bumi Mei 2006 ini sangat disarankan untuk dimiliki.

Anak-anak yang tak mengalami peristiwa itu juga belajar bahwa di Yogyakarta saat itu telah terjadi gempa bumi kuat yang menewaskan banyak orang. Saat itu barang-barang milik orang-orang terkasih ikut terkubur di bawah reruntuhan, menyisakan kenangan dan kisah.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/se·na·rai/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même