Feeds:
Pos
Komentar

dark

 

Sambil nunggu lanjutan part #BimAddiction tayang di hari kamis. Berikut Author santronin peralatan lukis Bima yang sepertinya bikin penasaran banget. Kok bisa sih berpendar unik kayak gitu. Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan di benak pembaca. Salam #BimAddiction!

1. Cat glow in the dark jenis water based

Secara garis besar, cat glow in the dark water based atau cat fosfor basis air jenis water based biasa digunakan untuk melukis pada dinding/beton, gypsum, kanvas, baju atau apapun yang menyerap air. Langit-langit kamar target menarik yang jadi langganan penggunaan cat tipe ini. Cat fosfor basis air biasa dikenal dengan cat jenis acrylic seperit cat material lukis. (exp : Satiniq Luminos – water based)
Fosfor, phosphorescent atau photoluminescent adalah produk dengan cara kerja yang hampir sama dengan sistem tenaga surya yang biasanya digunakan. Yaitu proses penyerapan energi yang berasal dari sinar matahari dan memancarkannya kembali. Dimana proses ini tidak melibatkan tenaga listrik baik di awal proses maupun diakhir proses.
Konsep proses Glow in the dark berbeda dari baterai atau aki yang menyimpan tenaga seperti pada baterai HP atau laptop. Konsep yang digunakan Glow in the dark adalah langsung memancarkan cahaya seketika di-charge dengan sinar walaupun mungkin tidak kelihatan kentara karena kondisi yang terang pada saat penyinaran. Sehingga kondisi maksimal dari Glow in the dark adalah 0.01 detik sesudah di-charge karena cahayanya paling terang.

2. Kuas Lukis

Kuas lukis sangat membantu dalam mengaplikasikan cat fosfor ke tembok atau gypsum. Pilihan kuas lukis dengan bahan sintetis karena akan mengurangi bekas goresan saat melukis gambar. Berbeda dengan kuas yang terbuat dari serat alam yang akan meninggalkan bekas serta kuas bulu yang rapuh.
3. Spon

Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah penggunaan spon. Spon berguna untuk memberikan efek-efek dalam melukis glow in the dark. Sehingga, gambar yang dilukis akan terlihat lebih bertekstur dan unik.
4. Lakban kertas

Lakban kertas adalah hal yng tidak kalah pentingnya. Untuk menghindari cat yang melebar kemana-mana. Anda membtuhkan lakban kertas untuk melindungi area bebas cat.
5. Lampu Ultraviolet

Sebagai alat untuk memudahkan saat melukis glow in the dark, maka dibutuhkan lampu ultraviolet. Fungsi lampu ultraviolet sendiri akan memudahkan visualisasi gambar pada saat melukis. Cat glow in the dark yang terkesan transparan akan menyulitkan anda untuk mengetahui batasan gambar. Sehingga, lampu ultraviolet dibutuhkan untuk mengenali dan mengontrol hasil menggambar dengan cat glow in the dark. (tipe : UV Lamp PL- 55 W). []

.
.
.

Sumber artikel : Membuat Glow In the Dark

Sumber gambar : Crisco Art (Instagram Account)

Ketinggalan cerita #BimAddiction ? Silakan intip melalui akun Storial berikut ini : Glow in The Dark

Iklan

(Tulisan ini sarat akan spoiler. Jangan lanjut baca kalau belum baca bukunya. Hehe.)

Kala itu saya masih kuliah semester tiga, belum banyak pikiran. Melalui rental buku, pilihan saya jatuh pada novel berjudul The Orange Girl alias Gadis Jeruk, karya Jostein Gaarder.  Jujur, awal-awalnya novel itu membosankan, bingung juga bagusnya dimana. Sebenarnya itu kali kedua saya baca besutan Gaarder, setelah sebelumnya tidak tamat membaca Sophie’s World yang entah apa. Berhubung nggak mau rugi, apa boleh buat, saya paksain baca sampe kelar.

org

Novel berkisah tentang Georg Roed yang mendapati surat wasiat pemberian ayahnya beberapa tahun setelah beliau meninggalkan. Surat itu berisikan pertanyaan menggelisahkan:

 

“Aku mesti mengajukan pertanyaan serius kepadamu, Georg, dan itulah sebabnya aku menulis. Akan tetapi, agar mampu mengajukan pertanyaan ini, pertama-tama aku harus menyampaikan cerita sedih yang telah kujanjikan kepadamu tadi.”

 

Isi surat berlanjut tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis yang membawa jeruk-jeruk ranum di keranjang, yang selanjutnya disebut Si Gadis Jeruk. Kisah masa lalu, pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan, dan misteri siapa si gadis jeruk sebenarnya, terus disembunyikan.

“Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian dicerabut lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih? Kamu hanya dua pilihan ini. Itulah aturannya. Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.”

Sebelas tahun berlalu, saya udah nggak ingat satu persatu isi buku itu. Mungkin secara alam bawah sadar, saya jadi terobsesi dengan wasiat. Dan inspirasi terpendam lainnya tentang hidup, dan bagaimana penulis seharusnya menyembunyikan teka teki dalam cerita. Gadis Jeruk termasuk novel filsafat harian yang nggak terlalu berat. Mau bagaimana juga, kelebihannya terletak di ngalur ngidul seputar makna hidup. Teka teki siapa sebenarnya si gadis jeruk, jadi umpan yang membuat pembaca bertahan. Sekuat tenaga, penulis bertekad menyembunyikan hingga di lembar terakhir.

Cerita dan teka-teki. Ini belum termasuk bagaimana novel thriller yang lihai membuat modus dan strategi. Bersembunyi dalam detail dan kemahiran penulisnya agar tetap logis.

Akhir cerita, Si Gadis Jeruk itu ternyata sang ibu anak itu sendiri, alias  istri ayahnya. Jadi ini tentang surat wasiat untuk mencintai seseorang, dalam kesempatan yang pendek maupun panjang. Dalam kesempatan hidup sebelum mati.

Teringat “Stay With Me”  yang lagi digarap. Ada yang kangen Bima? Bagaimana dengan teka-teki di setiap part-nya? Masih setia nggak? Jati diri Bima jadi umpan yang saya siapkan sepanjang cerita. Pencarian identitas, romantika, diselingi serba serbi orientasi seksual yang akhir-akhir ini meresahkan. #CerbungBima diurut berdasarkan dimensi waktu, nilai kejutan, dan keadaan sehari-hari para tokohnya. Kalau kecepatan, ceritanya malah kurang seru. Kalau kelamaan, takutnya hambar. Memasuki lembar ke-18, saya pikir belum banyak-banyak amat untuk dinalar. Masih tersisa berpuluh-puluh lembar halaman lagi untuk ditulis. Hehehe.

Jadi penulis perlu sabar, jadi pembaca harus setia. Sampai ketemu!

 

Berikut ini merupakan rangkuman pengalaman saya dan keluarga. Memadukan program sekolah dan keasyikan bermain di rumah dengan menggunakan buku sekalian pengembangan literasi anak di rumah. Salah satu hikmah lainnya dari aksi literasi kali ini: saya jadi pengen bikin alat peraga sendiri, Hehe (ngirit!). Semoga berkenan.

Motivasi : Stimulasi literasi, kebiasaan, tingkah laku dan pengetahuan (sains, verbal, imajinasi, spiritual dan lainnya) di masa emasnya.

Tantangan :

Anak : Tergantung karakter Ananda dari masing-masing orangtua. Secara umum, anak balita sudah mampu diajak berbicara, bercerita, berekspresi (responsif), sesuai kemampuan yang dikategorikan berdasarkan jenjang umur.

Orang tua : Tidak memiliki kecakapan diri dalam menyelenggarakan konsep literat di rumah, atau lebih tepatnya belum menyiapkan diri secara maksimal. Ketidaksiapan ini akan berdampak pada penundaan, kurang peduli, bosan dan kurag atraktif.

Waktu : Memerlukan waktu khusus (tanpa selingan) minimal 15 menit per hari bagi orangtua dan anak untuk terlibat dalam aktivitas membaca dan membacakan buku. Sebaiknya kegiatan ini dilaksanakan secara merata. Baik ibu ke anak, ayah ke anak, anak ke ibu, akan ke ayah dan seterusnya.

Materi : Buku anak tampil dengan ragam variasi. Mulai dari yang murah, sedang, hingga relatif mahal. Buku cerita bergambar aneka warna, naskah cerita, dan bentuk-bentuk lain yang dimodifikasi.

Ilmu : Sudah mulai banyak dibuka ragam acara, cerita, dan figur dongeng dan pendongeng di kalangan pegiat literasi Indonesia. Mulai dari Program Membaca Lantang, Kampung Dongeng, dan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini menyiratkan pada kita bahwa kecakapan di bidang ini memiliki warna tersendiri bagi perkembangan anak dan generasi. Ortu perlu upgrade diri nih, untuk menularkan energi positif ini kepada anak.

 

solar1

Berbagi Pengalaman :

Nama : Sayfal’s Family

Anggota : Papih (31yo), Bunda(30yo), Maryam(5y10m), Hana (4y2m)

Komunitas terkait : Sekolah, pengajian, yayasan, rumah.

Materi dan Aksi : Buku yang dipersiapkan mengikuti atau dimodifikasi sesuai tema yang sedang berjalan di sekolah. Misal : Menghapal Juz Amma, Profesi, Kebersihan diri dan Berkebun lainnya. Lalu saya menyiapkan dengan mengumpulkan beberapa buku yang menunjang item yang sedang dijalani. Misal : Januari, Aneka Profesi. Pilih judul seputar profesi. Saya pilih 2 jenis profesi : Dokter dan Astonot.

Bukunya meliputi gambar berikut : (terlampir)

Bulan Januari ini saya mencoba salah satu kemasan literasi yang cukup mengasyikkan : kombinasi buku dan alat peraga. Paket “Discover Space” (Educational Tin Set) yang terdiri dari : buku referensi, poster grafis, alat peraga tata surya. Berhubung anak saya belum lancar membaca, buku paket berbahasa Inggrisnya memang berniat untuk dibacakan. Hehe. Isi buku meliputi pengetahuan jagat raya, galaksi, rasi bintang, bermacam planet, eksplorasi jagat raya, dan jenis lainnya. Dari sekian macam penjelasan, Maryam dan Hana menyukai formasi tata surya. Terkait nama, formasi, jumlah, bentuk, jarak (jauh-dekat), gerakan dan tak lupa pula, profesi yang mulia di belakang ilmu tersebut.

solar2

Adalah tugas orang tua untuk mengarahkan bahan ajar yang bersifat umum ini kepada penguatan basis aqidah islamyah. Bahwa semua benda angkasa, baik yang terlihat maupun yang tidak, dalam bumi maupun yang di luarnya, merupakan ciptaan Allah Yang Maha Tinggi. Sehingga kita dan keluarga, seyogianya merasa kecil diantara kemahaluasan Allah dan benda-benda ciptaan-Nya. Dan jangan lupa, untuk menanamkan cita-cita tinggi dan tertinggi. Profesi astronot yang bertaqwa, tinggi derajatnya di hadapan Allah Swt. Dan mewujudkan misi manusia diciptakan, yakni menjadi Khalifah di muka bumi. Wallahu’alam.

Profil buku penunjang : Discover Space/NPP Team/North Parade Publishing/2017

 

#KompakNulis #OPEy

#KompakNulis #OPEy 2 Pekan

Berikut FAQ (Frequently Asked Question) seputar program kali ini :

1. Seperti apa program #KompakNulis #OPEy ?
Jawab : #OPEy singkatan dari One Post Everyday. Yakni satu hari bikin minimal satu tulisan untuk dipublikasikan dan secara kompak dengan hashtag #KompakNulis

2. Apa jenis tulisan dan tema #KompakNulis?
Jawab : Bertema bebas, berjenis bebas. Tidak mengandung SARA dan melanggar hukum Syariah dan agama. Silakan berkreasi dalam bentuk feature, cerpen, puisi, curhatan atau entah apapun yang merupakan produk berpikir. Silakan buat menu harian untuk memudahkan dan menstabilkan aliran ide nantinya.

3. Apa ada batas minimal atau maksimal tulisan?
Jawab : Tidak ada batasan. Jika dengan satu paragraf dirasa cukup, ya boleh tampilkan apa adanya. Karena tujuan #KompakNulis #OPEy memang untuk belajar dan belajar. Setiap orang berbeda level dan standar tulisan yang diinginkan. Jadi, tidak perlu lirak lirik, santai aja. Yang penting kan prosesnya.

4. Kemana tulisan dikirim?
Jawab : Tidak dikirim kemana-mana, tampilkan alias posting di media maya masing-masing. Bisa di Blog, Facebook, Instagram, dan lainnya tergantung ketersediaan dan keinginan.

5. Apa harus mention leadernya?

Jawab : Tidak harus, tapi boleh. Sesuai hashtag #KompakNulis, saling mention bertujuan untuk membangun jaringan dan kekompakan sesama pegiat postingan positif di dunia maya. Mention orang terdekat, sahabat atau yang dirasa paling bagus membaca tulisan di hari tersebut.

6. Jadi fungsi Leader apa dong?

Jawab : Sebagai penyemangat, mengakomodir pertanyaan, supporter utama, dan membantu hal-hal teknis lainnya. Termasuk memilih Best of the Week versi Leader dan apresiasi sejenis.

7. Apa ada hastagnya ?
Jawab : Bisa pakai #KompakNulis #OPEy #Part2OPEy dan penambahan hashtag lain yang dirasa perlu

8. Berapa lama #KompakNulis #OPEy berlangsung?
Jawab : Posting setiap hari tanpa jeda, selama 14 hari tanpa putus.

9. Bagaimana jika ada satu hari yang saya bolong atau nggak posting?
Jawab : Karena ini adalah komitmen harian, buat yang ‘bolong’ bisa diulang dari Day 1 atau Start diulang dari awal.

10. Bagaimana jika saya sudah ikut di program sebelumnya?

Jawab : Tidak masalah, tinggal melanjut hari, hingga genap 14 hari atau dilebihkan sampai Part yang sedang berlangsung selesai.

11. Apakah #KompakNulis #OPEy punya institusi atau grup dan sejenisnya?
Jawab : Tidak adaaa…… #KompakNulis bukan gerakan bawah tanah atau apa, jadi tidak yang gitu-gituannya ya.

12. Apa ada hadiahnya?
Jawab : Tidak adaaaa…. Hadiahnya pahala, minta langsung dari Yang Maha Kuasa. Efek positif lainnya, silakan dirasakan sendiri.

13. “Tulisan #KompakNulis aku nggak ada yang baca, yang like pun sedikit, siapa yang tanggung jawab cobak?”
Jawab : Hemmm,,,, pertanyaan yang rumit. Jangan lapor polisi ya sis. Belum ada undang-undangnya. Hehe. Daripada pegel hati, mending lillahi aja. 🙂

Sekian dari kami para Admin, silakan jika ada pertanyaan lanjutan. Atmosfer yang sedang kami bangun ialah bergerak ke luar, dengan kekuatan dari dalam. Salam literasi ! [Alga Biru]

 

 

Seorang spion alias mata-mata Russia diketahui berada di London. Scotland Yard berusaha mencari,tetapi mereka tidak berhasil. Akhirnya, mereka meminta bantuan Sherlock Holmes.

 

“Ada berapa WC umum di London?” tanya Sherlock Holmes.

“Lima ratus,”

“Kalau begitu, beri saya 500 detektif.”

Holmes diberi 500 detektif dan menjelang sore, spion Russia itu tertangkap.

“Bagaimana anda melakukannya?” tanya Polisi.

“Gampang,” jawab Holmes.

“Saya menempatkan satu detektif di setiap WC umum. Bila ada lelaki yang keluar sambil masih menaikan resleting celana, itu pasti spion Russia.” (Sumber digital : Ketawa.com)

 

Alih-alih tertawa, sebagian orang bahkan gagal merasa lucu. Padahal skrip lelucon ini diambil dari buku yang cukup terkenal, “Mati Ketawa ala Rusia”. Fakta yang tak kalah lucu, almarhum Gus Dur pun menyumbang kata pengantar pada buku humor bertema politik dan sosial sehari-hari ala Rusia. Konon, yang paling lucu itu orang sunda. Karena bahasa sunda punya kata ganti dengan berbagai tingkatan, mulai dari kasar, sedikit kasar, sampai bahasa halusnya. Sebagian meng-klaim, humor paling bijaksana itu humor orang Padang. Karena mereka gemar berdagang dan merantau sekaligus, sehingga sediaan candaan bernuansa rumpun minang ini sangat kentara, menyegarkan. Bebas saja, setiap diri punya cerita humornya masing-masing.

Lain cerita dalam kasus tertentu. Bukan soal strata humor, tapi fokus kita bertanya tentang muatan candaan. Terlepas betapa hirarkinya masalah selera humor seseorang, para pelucu punya tanggung jawab pada misi apa yang menjadi bahan lucu-lucuannya. Manusia punya banyak bahan untuk memancing selera humor sesuai tujuannya masing-masing. Rasa humor, terbukti bisa mengharmoniskan hubungan dan mencairkan suasana. Tujuan semacam ini tidak harus bikin orang ketawa, terpingkal. Bisa merasa rileks saja, itu sudah jadi bagian humor yang baik. Atmosfer beginilah yang seharusnya kita bangun dalam menanggapi kebutuhan manusia akan humor.

Apakah Anda termasuk tipe menusia dengan aggressive humor? Berhati-hati dengan tipe yang seperti ini. Aggresive humor, memancing  rasa humor dengan memojokkan, memanipulasi, yang mungkin mengganggu kehidupan individu bahkan komunitas. Perlukah kita memoroti kehormatan kehormatan seseorang untuk melucu. Atau seberapa keras hati kita sehingga kita merasa perlu memancing sensitivitas agama, yang jelas-jelas sakral sebagai bahan-bahan lucu-lucuan? Kalau tujuannya untuk membangun hubungan, sarana hiburan, konten semacam itu jauhlah panggang dari api.

“Berikanlah istirahat pada tabiat kerasmu yang serius, diregangkan dulu dan hiasilah dengan sedikit canda. Tetapi jika engkau berikan canda kepadanya, jadikanlah ia seperti kadar engkau memasukkan garam pada makanan” (Adabud-Dunnya wad-Din halaman 319 dan al-Bidayah wan-Nihayah XI/316)

Ya, laksana masakah di pinggan. Hambar tanpa garam, dan nikmat dengan diberikan sedikit atau secukupnya. Kalau terlalu banyak, jangankan lezat, sekali cicip pun kita sudah enggan memakan masakan yang kebanyakan garamnya. Canda yang dibolehkan saja masih berpotensi mematikan hati, apalah lagi canda yang menohok agama, keyakinan, peradaban dan kehormatan. Itu bukan lagi canda, alih-alih ia bisa beralih pada kekerasan verbal.

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)

Bayangkan hati yang mati. Ia tak bisa membedakan benar atau salah, cocok atau tidak cocok, tepat atau kurangnya. Singkat kata, kesensitivan hati manusianya seolah hilang. Jangan-jangan, memang inilah yang terjadi pada pemburu tawa dengan konten-kontennya yang melukai agama dan kehormatan. Ya, hatinya telah mati sedemikian rupa. Wallahu’alam. [] Alga Biru

 

Mario Bross, Sailor Moon, Dragon Ball. Ketiga kartun itu melintas di alam pikir seorang anak kecil bergigi kelinci. Dia membayangkan, alangkah enak bisa memainkan Mario melompat pada tombal Spica, Usagi berubah wujud, dan bola naga yang diperebutkan melalui mantra khame-khame. Saya pikir anak jaman now, terlepas mereka bermicin atau tidak, tidak kenal ya dengan Ikyusan. Kesemua tokoh itu adalah superstar cartoon di era 90-an.
“Diaaannn….. Panjatkan dulu melinjo kita. Mamak mau melodeh nanti siang”
Lalu si anak gigi kelinci itu meneropong pohon melinjo yang sejarak dengan pohon kelapa di sampingnya. Dia masih berjarak 7 menter dari si melinjo yang meranum. Pohon itu dijaga 4 ekor angsa, sepasang induk dengan dua anaknya. Mereka masih berenang-renang di kolam Lele Dumbo yang tak jauh pula darisana.
“Nanti Mamak kasikan kao main Mario Bross. Panjatkanlah dulu!”
Apa boleh buat, batin anak itu berkata. Dia pun berjalan menuju si melinjo tanpa beralas kaki. Sejenak lengang, lalu tiba-tiba….. Srooooot!! Sroootttt!!! Si induk angsa jantan menyosor kaki anak itu.

“Mamakkkkkk…. Mamaakkkkkkk…..” Anak itu tunggang langgang. Dan secepat kilat dia menaiki si melinjo sebagai tujuan sekaligus pelarian.
“Hehe… Bisa juga awak naek”, lega. Anak itu sudah bertengger di pohon melinjo yang lambai menjulang. Mematuhi ibunya demi sebuah hiburan yang dijanjikan, ‘medium rekreasi imajinasi’ pada masa itu.

HANA

 

20 Tahun kemudian…….
Pohon melinjo sudah ditebang, Angsa tak ada yang merawat, tinggal kolam Lele Dumbo yang ditumbuhi eceng gondok. Si pemanjat pohon melinjo bahkan sudah memiliki anak. Kini giliran dia, menemani anak-anaknya. Berusaha memahami anak-anaknya, akan letak definisi bahagia pada hari ini. Gawai bukan lagi benda mewah, semua orang punya, hanya beda tipe. Saking kepunyaannya orang-orang pada benda ini, sampai anak kecil pun bisa mengakses benda segala bisa tersebut. Kalau ingin nonton Sailor Moon, mereka tidak perlu menunggu hari minggu jam 8 pagi. Cukup memasukkan keyword, dan langsung bisa melihatnya kapanpun, dimanapun. Canggih ya!
.
.
.
.
“Maryam… Hana…. Hari ini kita mau kemana ya? Ke Jungle atau ke Kuntum?”, Ibu Gigi Kelinci itu berpura-pura meminta bersetujuan anak balitanya. Tanpa persetujuan pun, sebenarnya dia sudah mempertegas mereka akan kemana. Jadi, meminta tanggapan itu semacam alat komunikasi saja.

IYANG

Kuntum FarmVille, tak jauh dari Jalan Raya Tajur, Bogor…
Tiket masuknya, Rp.40.000/orang. Bukan main! Apa sih yang ada di dalam sana, mahalnya gini-gini amat. Hatinya bertanya-tanya. Kali ini, Si Ibu Gikel (Gigi Kelinci) ingin memperkenalkan dua anak perempuannnya dengan alam bebas.
“Heyy lihat…. Ada kelinci !!! “, jerit anak gempal, Hana namanya.
“Yes! It’s Rabbit… Where’s the carrot? Lets go!”, Maryam, kakak si gempal, senang sekali berbicara dalam Bahasa Inggris. Bu Gikel membelikan pakan kelinci seharga 5 ribu, yang dijaja di samping kandang kelinci. Ya sodara-sodara, tidak gratis ya tapi bayar!

“Cow…. Chicken…. Kambing…. Horse…. Fish… Rusa….” Dengan kepolosan, Maryam menyebut nama-nama binatang yang dilihatnya secara bergantian, dengan bahasa berlainan pula.
Perempuan itu menyapu sekeliling area rekreasi yang berdiri dengan nama “Kuntum FarmVille”. Area peternakan buatan, yang cukup luas. Ternak di kandang, tumbuhan dicagar, dan umbi-umbian yang ditanam rapi (yang malah terkesan kurang alami). Tempat itu dipugar di tengah-tengah perkotaan. Seolah orang-orang kota punya portal menghilangkan kepenatan. Maryam dan Hana, gembira sekali, tidak habis-habisnya mengeksplorasi. Mereka melupakan dunia gawai yang maya sejenak dalam pikiran mereka. Dan mereka happy ketika segalanya bisa disentuh, dengan sentuhan yang sebenar-benarnya.

.
.
.

BUNDA
Si Ibu Gikel berdiri menyender di pohon yang sedang berbuah. Tertulis jelas, dengan papan tegas, berjudul “Pohon Sukun”. Kepada suami dia berkata:
“Yaeyalahhhh pohon sukun! Siapa juga tahu ini pohon sukun”, dengan bibir monyong dia mentoel papan-nama itu. Sekonyong-konyong, ia meralat pernyataannya sendiri. Hemm, mungkin bagi aku semua ini biasa, sangat biasa…. Ini cuma permainan kampung, tumbuh-tumbuhan kampung, yang secara gratis bisa dinikmatinya setiap pulang kampung. Tapi bagi anak-anak masa kini, ini lebih dari cukup untuk disebut kemehawan. Mungkin inilah joyfull learning ala sekolah alam, yang kita sudah sama-sama tahu betapa mahalnya.
“Beda jaman…. Beda definisi gini ya Bang”, ucap Bu Gikel bersoloroh menuju pintu keluar Kuntum FarmVille. Rekreasi mewah masa kini, dengan melihat kesederhanaan di masa lampau. [] Alga Biru

 

(Bakal panjang nih, nyeduh teh dulu sono)

.

.

.

Cyduk!

Rasa dendam menjalar. Bahkan hingga di halaman 123, belum-belum juga ketahuan, apa sih makhluk yang berhasil ditemukan Edmond Kirsch. Apa semacam sel berukuran mega-DNA sebagai asal mula segala sesuatu. Ataukaah kotak pembentur partikel yang mampu menstimulasi Big Bang secara sintetis. Atau ini lelucon The Real Slim Shaddy yang memproduksi ribuan Eminem berkostum putih-putih, yang sama mahirnya berkata kotor.

 

Ini kali pertama saya melarutkan diri untuk Dan Brown. Yes, slice by slide, every single moment. Enam karya Brown lainnya, pernah coba-coba saya baca, tapi kok nggak masuk otak ya. Hehe. Abaikan! Saya tidak harus merasa lebih keren dengan membaca penulis-penulis sohor. Tapi yang ini saya tertarik, sejak awal. Judulnya, topik, latar, sesi pembuatan, membuat penasaran.

 

Origin. Cerita ini dimulai dari pertemuan Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama dunia, mewakili Kristen, Yahudi dan Islam. Mereke bertemu di Perpustakaan Montserrat yang legendaris. Kirsch, hendak mempresentasikan sampel temuannya, yang konon menjawab asal mula kehidupan. Ketiga pemuka agama itu gusar bukan main. Nasib agama dan spiritual seolah diambang kehancuran. Tidak diceritakan, alias secara sengaja dirahasiakan oleh penulis, something macam apa yang akan diumumkan Kirsch kepada dunia.

 

“Orang-orang paling berbahaya di bumi adalah orang-orang saleh, terutama ketika Tuhan mereka diserang” (Origin)

 

Di sisi lain, kelompok rahasia beraliran Kristen tertentu menyusun rencana.  Kelompok elit, sangat konservatif, merekrut para anggotanya dengan membawa janji-janji suci. Sosok elegan, taat, bertangan dingin, diwakili tokoh Luis Avila, yang tergabung ke dalamnya.

 

Teroris Kristen, begitukah? Tentu saja, Brown tidak sevulgar itu. Dia tahu bagaimana ‘aturan main’. Semakin halus sapuan narasi, semakin dia mampu menggiring orang banyak. Itu soal isi cerita, silakan dibaca sendiri kelanjutannya.

 

origin

Ada beberapa catatan dialog, yang menjadi titik kritis untuk saya pikirkan lebih banyak.

 

“Apa dua pertanyaan fundamental yang diajukan umat manusia sepanjang sejarah kita?” Kirsch bertaya kepada sahabat lamanya, Robert Langdon.

“Yah, pertanyaannya adalah : Bagaimana semuanya ini bermula? Dari mana asal kita?”

(Origin, halm 65)

 

Loh pertanyaan macam apa ini? Sekolah-sekolah kekinian tampaknya semakin tidak ingin menjawab dialog semacam ini. Mungkin terlalu sakral, jadi silakan dicari masing-masing. Atau….. Memang semakin tidak dipentingkan lagi? Kita berada di era kemajuan, yang melesat tiada bandingnya. Walhasil, manusia lebih disibukkan seputar itu.

 

nizhom

 

 

Syaikh Taqqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizomul Islam menjawab khusus piranti-piranti manusia, piranti yang paling rumit, yang beliau sebut ‘uqdatul kubro’. Siimpul besar,  yang diisyaratkan sebagai tiga pertanyaan besar: dari mana, mau apa, mau kemana. Jangan salahkan Brown, kalau menyebutnya cuma dua. Brown itu orang kafir, dia tidak mengenal (iman) pada syariat (islam), ya boro-boro sih Buk.

 

Saya cukup terkesan bagaimana usaha Brown mengurai perkembangan spirtual dari masa ke masa. Jangan-jangan salah satu kepustakaan Brown berasal dari tulisan filsuf “yang entah nggak jelas dia ngomong apa”. Hehe. Semua ini  butuh pendekatan narasi yang lebih sederhana untuk ditangkap otak-otak lugu seperti saya. Setidaknya kutipan dialog ini cukup bisa dinalar arahnya:

“Kita adalah makhluk yang  ber-evolusi secara intelektual dan berkeahlian teknologi. Kita tidak mempercayai pandai-besi raksasa yang bekerja di perut gunung berapi atau dewa-dewa yang mengendalikan air pasang atau musim. Kita sama sekali tidak seperti nenek moyang kuno kita.” (Origin, halm 98)

 

Mirip-mirip sebenarnya dengan dagelan filsuf ‘manusia menciptakan agama’. Masih seputar-putar itu, pikir saya.

 

Di Planetarium ala Edmond Kirsch, Brown menggambarkan perkembangan tuhan-tuhan manusia dari masa ke masa secara visual melalui deskripsi verbal. Sebagai orang Islam, kesakralan “Allah, the only one God” tergolong aman dalam kesanggupan narasi manapun, termasuk Brown. Karena Tuhan saya tidak diwenangi untuk dilukiskan oleh pihak manapun. Sejak awal seharusnya kita berpikir, Tuhan memang tidak serendah itu, bukan?

 

Salah satu yang menarik lainnya, perspektif Brown tentang neuron. Disini saya tergugu, Brown sudah sampai ke titik itu. Edmond Kirsch berusaha berimajinasi tentang komputer super canggih yang ditanyai seputar urusan-urusan manusia.

 

Dari mana asal kita?

Kemana kita akan pergi?

 

Jawaban komputer itu ialah : “DATA TIDAK MENCUKUPI UNTUK RESPONS AKURAT” (Origin, halm 102).

 

Apa jadinya kalau Dan Brown ikut halqahnya Syaikh Taqqiyuddin? Haishh, pyurrr ngawur. Mereka kan beda zaman, hehe. Masih dari kitab yang sama, tulis Syaikh Taqy rahimakumullah:

“Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah Swt, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Tetapi bukan berarti dapat dikatakan, ‘Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah Swt, sedang akalnya sendiri tidak  mampu memahami Zat Allah?”.

 

Lanjut Syaikh Taqy mengenai hal ini : “Usaha manusia untuk memahami hakekat Zat Allah Swt merupakan perkara mustahil untuk dicapai. Sebab, Zat Allah berada di luar jangkauan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat  yang berada di luar batas kemampuannya. Seharusnya keterbatasan ini justru menjadi penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan.”

 

Soal kalimat terakhir ini, saya sepakat. Bukankah nikmatnya hidup karena ‘misteri di dalamnya’. Dalam masa kenabian pun, permintaan ‘bertemu hakekat Allah ini’ selalu kita temukan. Boro-boro ditampakkan padanya hakekat, nur Allah itu membuat silau mata manusia. Sesilau-silaunya. Singkat kata, matamu tidak berguna di hadapan Allah. Sinyal otakmu tidak kesampaian untuk menjangkau-Nya.

 

Rentetan pertanyaan lain telah menunggu. Kalaupun Dan Brown membaca karya Syaikh Taqy ini, mungkin dia nggak cukup puas. Memang harus ngaji sih, Om!! Hihihi…. Wuedan, Dan Brown disuruh ngaji. Wiwiiwiw….

 

Dan Brown meracik topik yang sulit dengan cerita-cerita misteri yang manis. Terlepas kemudian, suka-suka dia mau dibawa kemana. Lebih suka-suka lagi pembacanya, mau dipahami bagaimana. Syaikh Taqy mengilhami banyak murid-muridnya dalam mengurai simpul besar. Pertanyaan fundamental yang membayangi semua manusia, tanpa terkecuali. Simpul besar, gerbang mengenal-Nya yang memiliki sifat yang sembilan puluh sembilan.

 

Anyaway…. By the way,,, Pertanyaan lampirannya ialah: Kapan murid Syaikh Taqy buat cerita manis semacam ini??! [] Alga Biru

 

 

 

 

*)Keterangan gambar

Atas : Penerbit Mizan Official

Bawah : Koleksi Pribadi

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang