Feeds:
Pos
Komentar
612201601329

Penampakan Cover 1001 dan 1002, yang kali ini dibahas, yang 1002 ya🙂

 

Judul Buku : Kedai 1002 Mimpi

Penulis : Valiant Budi (@vabyo)

Penerbit : Gagas Media

Jumlah Halaman :  iv + 384 Halaman

Tahun Terbit :  2014

Peresensi : Alga Biru

 

Buku ini sekuel dari buku berjudul Kedai 1001 Mimpi yang berisikan pengalaman penulis selama menjadi TKI di Arab Saudi. Buku sebelumnya yang konon mendapat sambutan beragam dan kontroversial menjadi “bahan baku” utama dari sekuelnya kali ini. Jika buku 1001 tersebut membahas apa yang Vabyo hadapi selama di Arab Saudi, maka di 1002 ini bermuatan efek dari cerita akhir versi Arab Saudi.

 

Buat yang udah baca buku pertamanya, tentu udah tahu sama tahu kisah terakhirnya ketika Vabyo menuju gerbang kebebasan, Bahrain. Berbagai tekanan dan pengalaman ‘tak terlupakan’ selama menjadi TKI membuat Vabyo mengambil keputusan ‘kabur terselubung’ dari Arab, yang tentu pula pemutusan kontrak kerja di Sky Rabbit, berkedok mudik kangen ke Indonesia. (Jadi hati-hati aja kalau ada karyawan ngakunya mudik, jangan-jangan nggak balik lagi, hehe).  Minggat!

 

Berbagai kenangan pahit selama menjadi TKI selalu menghantui walau sudah berhasil selamat pulang ke Indonesia. Disamping rasa trauma, ada juga ‘masalah tambahan’ yang diungkap di buku ini akibat terbitnya buku Kedai 1001 Mimpi. Bisa dibilang, buku itu Arab Undercover, yang mengungkap fakta gelap dari pengalaman penulisnya selama jadi TKI di Arab Saudi. Mulai dari perilaku karyawan kafe yang tidak sesuai prosedur (mendaur susu basi, “mencampur sesuatu” ke kopi+makanan customer yang cerewet, sampai perbuatan tidak senonoh di ruang family section ala Café Arab, dimana ruang café dipisahkan antara ruang khusus cowo dengan ruang keluarga).

 

Konten di buku 1001 yang dinilai sensitif tersebut menuai kecaman bagi sebagian orang (Memang, sepintas sulit memisahkan Islam dengan Arab, Sistem Islam atau Budaya). Alhasil, tudingan “kafir”, sesat, antek, mengganggu kehidupan Vabyo tak hanya dunia maya tapi juga secara nyata, dengan berbagai teror. Salah satu misteri di buku ini ialah, siapa sih penyerang dan peneror Vabyo sebenarnya? Nah! ( Di bagian ini, agak kecewa juga. Hemm, mungkin melindungi privacy kasus kali ya).

Selain kisah lanjutan dari efek buku 1001, konten lainnya yang memenuhi buku ‘curhat’ tebal buku ini ialah pengalaman Vabyo buka warung bersama Kakaknya Vanvan. Jadi, dari sisi judul, cukup pas kalau dinamai Kedai 1002 Mimpi. Selain sekuel Arab undercover, juga berisi dunia kedai ala penulis. Bagaimana mengubah musibah menjadi berkah, cacian menjadi aset, dan zero to hero, setidaknya bagi diri sendiri.

 

Buku kali ini nggak terlalu banyak misteri dan ‘hal-hal baru’. Apalagi jika ada yang ngarep nemu Vabyo TKI jilid 2, hentikan berekspektasi. Selain kasian, ya memang setiap manusia punya mimpi-mimpi baru untuk diraih. Bahasa Vabyo tetap unik konyol, masih khas. Buat yang pengen gaya ngocol dalam tulisannya, mungkin bisa sedikit belajar pake diksi-diksi dia disini. Selamat baca!

 

 

Note:

Saya sendiri bukan follower Vabyo di dumay. Kalaupun follow, baru belakangan ini aja. Abis baca bukunya yang pertama, baru tahu kalau bukunya termasuk kategori kontroversial. Memang, beberapa kisahnya, seolah sentimen Arab begitu kentara. Kebayangnya, mungkin dia sendiri kaget “kok Arab bisa begini”. Kalau tahu gitu, ngapain ninggalin pekerjaan dan karir di Indonesia, demi “sesuatu yang ternyata jauh panggang dari api”. Saya sendiri nggak mau menilai personal. Kalau tulisan seseorang kita rasa ‘bercitra negatif”, lebih baik acuhkan saja. Ngapain ngasi dia panggung. (Sorry, jika tulisan ini malah kayak kontraproduktif, ups).

Karya dilawan dengan karya. Jika ingin kebenaran bersuara lebih nyaring, kita perlu memperkencang suara, bukan membungkam lawan bicara. Tentu tidak seru, jika bersuara sendiri dalam sunyi. (Eh, analoginya aneh ya, hehe).  Jadilah pejuang yang tidak egois! Jadilah penulis yang realistis.

Bagaimana aku memulainya?

Bahkan aku tidak tahu hendak menulis apa. Aku kehilangan isi kepala dan wacana. Oh begini rupanya “tidak memikirkan apa-apa”. Ketika aku bertanya, “apa yang aku pikirkan?”. Jawabannya ialah tidak ditemukannya jawaban. Semacam tatapan kosong seorang anak bau kencur, yang ditanya kenapa pipis sembarangan. Anak itu tidak tahu pipis itu apa, bagaimana, dan kenapa.

 

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kita manusia, tidak pernah benar-benar mengenal kekosongan, setidaknya dari apa yang aku alami. Aku lalu berpikir (pada fase ini rupaya aku mulai punya ide), kenapa aku bisa begini? Kenapa ada blocking yang sedemikian padat antara keinginan dan kata-kata. Antara harapan dan eksekusi. Bukankah seseorang yang berjalan akan sampai pada suatu titik perhentian? Sedangkan aku sedang mencoba menuliskan sesuatu, lalu menyaksikan “tidak ada apa-apa” disana.

 

Aku mulai mengingat kejadian sehari ini. Sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja untuk diungkapkan, maka aku takkan menceritakannya. Aku beranjak kepada yang lain, semisal :  “tema apa yang membuat tulisanku lebih berarti”. Dan aku mulai meratapi ide-ide yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu kan, seperti baju lebaran yang susah payah dipilih. Kamu bisa merasa lucu ketika bertemu kembaranmu, duplikat penampilanmu. Warna yang sama, pola yang serupa, lalu kamu merasa bersalah, seolah baru saja ketahuan curang saat ujian. Aku bertanya kembali, kenapa aku bisa punya pikiran ‘sok’ begini? Sehebat apapun aku menginginkan originalitas, cepat atau lambat, karya kita, baju yang kita pakai, isi pikiran, akan menemukan duplikasi.

 

Aku berkata kepada seseorang di grup, “Hei, aku ingin baca buku ini. Sepertinya bagus ya?”

Jawabannya sedikit mematahkanku , “Belum tentu deh ya. Aku udah malas baca buku si Anu. Kayaknya tulisan dia gitu-gitu terus. Ngga ada sesuatu yang baru.”. Wow! Kok rasanya berat banget jadi penulis itu ya. Ekspektasi pembaca (setia) makin lama makin meninggi. Pertanyaannya, mampukah aku selaku penulis bau kencur bau kunyit ini menghadapi persoalan semacam itu?

 

 

Persoalan seolah tulisan ini belum juga naik kelas, tidak berkelas, yang lebih parah… penurunan kelas. Wah sungguh bencana!

 

 

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, aku harus mencari kambing hitam. Dan sepertinya, pikiran kotor bercampur keinginan superrr yang membuatku kandas kali ini. Okelah, baiklah.

 

 

 

Salam write’s block!

Karena penulis juga manusia.

algabiru-3.jpg

 

JUDUL : Esio Trot (Aruk-aruk)

PENULIS : Roald Dahl

PENERBIT :  Gramedia Pustaka Utama

JUMLAH HALAMAN : 63 Halaman

TAHUN TERBIT: April 2006 (cetakan pertama)

PERESENSI : Alga Biru

 

 

Mr Hoppy tinggal di sebuah apartemen seorang diri dan selalu kesepian, terutama sejak pensiun dari pekerjaannya. Ia menyenangi merawat bunga yang ditanam di balkonnya. Ada yang di pot, tong kayu, dan keranjang. Ia senang melihat pemandangan ke arah luar dari balkon tersebut. Dimana salah satu kegemaran sekaligus rahasianya ialah ia tertarik pada seseorang yang tinggal tepat di bawah apartemen tersebut.

 

Tetangga beda lantai itu ialah seorang wanita paruh baya yang cantik, baik hati, dan lembut, berama Mrs Silver. Lain Mr Hoppy, lain pula Mrs Silver. Ia memiliki hewan peliharaan seekor kura-kura kecil bernama Alfie. Memasuki musim semi, sang kura-kura yang berhibernasi itu merayap menuju balkon merasakan hangatnya cuaca. Dari balkon itu pula Mr Hoppy kerap mendengar celoteh riang Mrs Silver merawat sang kura-kura kecil yang beruntung. “Selamat datang sayangku! Oh betapa aku merindukanmu”.

“Anda saja aku jadi si kura-kura kecil itu, aku rela melakukan apa saja”

Mr Hoppy dan Mrs Silver saling menyapa, balkon ke balkon menikmati kegemaran masing-masing. Suatu kali Mrs Silver tampak mengeluhkan Alfie yang mungil. “Setiap musim semi aku selalu menimbang Alfie, dan oh… kenapa seekor kura-kura itu lambat sekali besarnya. Padahal aku ingin sekali ia cepat besar. Andai aku bisa, aku akan melakukan apa pun”.

Tiba-tiba Mr Hoppy terpikir ide yang brilian. “Hei, sewaktu aku bekerja di Afrika Utara, seorang pria suku pedalaman memberitahuku sebuah mantera supaya kura-kura mereka cepat besar”, katanya sekita. Oya benarkah?

Mr Hoppy buru-buru menuliskan ‘mantra” tersebut, dan berpesan agar secara rutin dibacakan tiga kali sehari (pagi, siang dan malam). Tak lupa, Mr Hoppy menyuruh Mrs Silver melafalkannya. Mantra itu berbunyi :

 

ARUK-ARUK, ARUK-ARUK, RASEBMEM, HALRASEBMEM!

HALOYA, ARUK-ARUK!

HUBMUT, GNABMEK RAKEM!

RASEB, KAKGNEB, GNUBMEG!

NALET! KAGGNET! HAYNUK! KUGET!

TAREBMEM ARUK-ARUK, TAREBMEM!

OYA, OYA! NALET NANAKAM!

 

Mrs Silver terheran-heran dengan mantra itu. Apa ini? Bahasa yang aneh! Lalu Mrs Hoppy membongkar salah satu rahasianya. Tatkala tiap kata mantera itu dibaca dari belakang (dari kanan ke kiri) maka seketika ia menjelma menjadi bahasa manusia! Ya, coba saja!

Benar, namun hanya itukah rahasia Mr Hoppy? Itu belumlah seberapa dibandingkan kenyataan sebenarnya. Benarkah itu mantera magic seperti yang diungkapkannya pada Mrs Silver? Dan tahukah kamu bahwa setelah 7 hari mantera itu dilafalkan, Alfie bertambah bertambah 2 ons, begitu seterusnya. Bagaimana semua itu dapat terjadi? Ah, kekuatan cinta saja yang mampu menjawabnya. Silakan simak sendiri kelanjutan kisahnya ya.

Roald Dahl merupakan penulis cerita anak yang menjadi rujukan bagi sekolah di Inggris. Tema karyanya seputar hikmah dan kritik terhadap budaya dan sosial dalam pendidikan anak-anak di negara Eropa. Adapun ketika tulisan ini dibuat, kura-kura masih dijual secara bebas dan belum ada pelarangan Undang-Undang satwa yang dikeluarkan pemerintah. Setting dan kultur cerita tentu saja mengikuti dimana penulis hidup dan menjalani keseharian. Roald Dahl tutup usia pada umur ke-74  pada tahun 1990.[]

IMG20160605174121.jpg

 

Haruki Murakami, “Ketika Berlari dan Menulis Menjadi Energi Kehidupan”

Judul : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Jumlah halaman : 197 halaman
ISBN : 978-602-291-086-2
Peresensi : Alga Biru

What I Talk About When I Talk About Running menjadi karya Haruki Murakami yang menyuguhkan nilai filosofis sebagai pelari dan penulis profesional sekaligus. Penulis novel Norwegian Wood ini memilih berbagi kisah selama berlari dan menulis yang kerap didokumentasikannya di jurnal harian. Ya, siapa sangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.
“Otot sulit terbentuk dan mudah hilang. Lemak mudah terbentuk dan sulit hilang”. Semboyan itu terpampang lantang di pusat kebugaran di Tokyo (Halaman 59). Sebagai seorang pelari jarak jauh, yang konsisten berlari setiap hari, Murakami tahu betul makna kalimat tersebut. Itu merupakan kenyataan yang menyakitkan namun tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Kenyataan itu pula yang membimbing Murakami untuk memilih yang terbaik bagi diri dan tubuhnya. Penderitaan adalah sebuah pilihan, tulis Murakami dalam prakata buku ini, dimana berlari dan menulis dilakoninya secara sungguh-sungguh di usia 33 tahun.
“Aku aku mulai berlari pada 1982 sehingga kalau dihitung sudah hampir 23 tahun lebih menjalani olahraga ini.” (Halaman 11). Murakami memilih olaharaga lari jarak jauh dengan mengenal sifat-sifat pada dirinya. Pada dasarnya, ia menyadari egonya yang lebih suka kesendirian, tak selalu nyaman dengan kompetisi, dan selalu tidak cocok dengan olahraga berkelompok. “Tentu saja aku punya sifat tidak mau kalah. Namun, entah kenapa sejak dulu aku tidak terlalu memusingkan ketika mengalami kekalahan ataupun kemenangan dari orang lain. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak.” (Halaman 12).
Berlari terutama untuk jarak tempuh setidaknya 10 kilometer membuatmu mampu berkontemplasi dengan diri sendiri. Membantu mengosongkan pikiran, tentu saja tidak dalam artian kosong sama sekali, namun lebih kepada mengingat hal-hal sederhana yang menyenangkan. Melatih fokus dan konsentrasi, konsistensi dengan target yang ingin dicapai. Hal ini, dalam pengalaman Murakami sendiri, tak ubahnya seperti perjalanannya sebagai seorang penulis profesional. Ia menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di pagi hari untuk berkonsentrasi dengan ide yang akan dituangkannya dalam tulisan. Novel berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song) memulai debutnya selaku penulis pemula. Sebelum terjun secara profesional dengan semata-mata menulis sebagai profesinya, Murakami dibantu oleh istri memiliki usaha Klub Jazz di dekat Stasiun Setagaya. Pola pikir Murakami yang tidak muluk-muluk namun maksimal untuk apa yang ditekuni, membuatnya mengambil keputusan penting, yaitu menutup usaha Klub tersebut guna berkonsentrasi sebagai penulis. Tentu ini ditentang juga dipandang miring oleh segelintir orang.

 

HARUKIM
Ketahanan, kekuatan, dan kesabaran yang dirasakan Murakami dalam berlari, mirip dengan apa yang seharusnya ia pertahankan selama menulis. Seorang penulis fiksi —atau yang setidaknya berharap bisa menulis sebuah novel—membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengahs tahun, satu tahun atau dua tahun. (Halaman 88). Kenyataan tidak semudah kelihatanya. Orang lain, terutama yang bukan berprofesi sebagai penulis, sering menyangka menulis itu pekerjaan gampang. “Orang-orang itu mengira jika kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu kamu coba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” ( Halaman 90).

 
Buku ini mewakili bukan saja apa yang dirasakan oleh para pelari, ia juga menyuarakan suara hati para penulis yang bertebaran di muka bumi. Kita tidak menemukan tips berlari atau sejenisnya, sebab buku ini tidak diperuntukan untuk itu. Tidak pula proses kreatif sebagis penulis legendaris, namun sebuah langkah sederhana yang nyata menuju ke arah sana. Di dalamnya pula ada serangkaian misteri yang ingin dibagikan Murakami kepada pembaca. Akankah ia mulus berlari di ajang maraton Boston juga kesempatan lainnya? Seperti apa rintangan dan latihan yang ia lakukan? Apa kaitan dirinya sebagai pelari yang juga penulis? Sebab sangat sedikit penulis yang juga menekuni olahraga lari jarak jauh dengan konsistensi puluhan tahun.

 
Kelemahan dari buku ini terletak pada alurnya yang cenderung melompat-lompat, dari satu adegan kepada adegan berikutnya. Semacam lompatan ingatan, yang bersikeras menyatukan cetusan hari ini dengan peristiwa kemarin dalam satu kesatuan rangkaian cerita. Tentu tidak mudah menyatukan dunia lari dan dunia menulis di satu titik, dimana kedua hal tersebut tampak perbedaannya. Hal ini makin menguatkan Murakami sebagai salah satu seorang yang tidak main-main menggeluti bidangnya. Karya yang membuat penggemarnya naksir, dan siapa pun merasa penasaran. []

what_i_talk_about_when_i_talk_about_running_1-large

“The Geography of Bliss, PENCARI BAHAGIA KELILING DUNIA”

Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 569 halaman
ISBN : 978-602-1637-95-1
Peresensi : Alga Biru*

“Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan”, begitu kira-kira buku ini diperkenalkan kepada calon pembacanya. Kita tentu tergelitik, bagaimana bisa seorang penggerutu yang mungkin tukang mengeluhkan banyak hal menemukan sesuatu yang dikejar umat manusia yaitu kebahagiaan?
Kisah perjalanan dengan berbagai formatnya, belakangan ini cukup diminati dan memiliki penggemar sendiri. Sudah beratus bahkan ribuan buku yang ditulis guna menampilkan tempat menarik yang pantas untuk dikunjungi ketika cuti tahunan atau mereka yang senang jalan-jalan. Namun buku ini menambah pesonanya sendiri, bahwa ia lebih dari sekedar jalan-jalan. Lebih dalam lagi, ini sebuah perjalanan yang amat terencana guna mencari tempat paling membahagiakan. Maka pertanyaannya, dimana tempat macam semacam itu? Bagaimana bisa ia membahagiakan orang yang berangkat kesana? Kenapa ia terpilih? Lalu sebelum pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan, kita tentu satu frekuensi terlebih dulu tentang apa yang disebut dengan “kebahagiaan”.

 
“La chasse au bonheur, perburuan kebahagiaan, begitu orang Prancis menyebutnya. Perburuan langka inilah yang dilakoni oleh Eric Weiner untuk kemudian buku ini terlahir dengan titel ‘the Geography of Bliss’. Tentu tidak mudah, mengingat begitu banyak titik atau tempat di muka bumi ini yang memiliki kemungkinan ‘sesuatu yang membahagiakan’ atau ‘membuat orang bahagia’.

 

IMG-20160417-WA0002
Weiner kemudian mengerucutkan kemungkinan tersebut menjadi sepuluh nominasi negara yang menjawab kegelisahannya, dengan berbagai kriteria dan pendalaman. Kesepuluh tersebut dibahas satu persatu di sepuluh bab buku isi buku. Kesepuluh negara itu yakni Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Maldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika.

 
Sebagai orang Indonesia, kita tentu bertanya “Hei, kemana Indonesia? Bukankah Indonesia punya Bali, Raja Ampat, atau pesona vulkanis Bromo, yang sepertinya cocok dijuluki surga pencuci mata guna mengundang aura kebahagiaan. Ada apa dengan Belanda? Sehingga dijadikan sebagai negara kandidat pertama dalam perburuan kebahagiaan di buku ini. Belanda menjadi nominasi paling masuk akal untuk menjawab apa sebenarnya yang membuat orang Bahagia disebabkan negara ini memiliki WDH (World Database of Happiness). Institusi WDH ini semacam gudang dan pusat penelitian paling bertanggung jawab guna menjawab apa dan bagaimana mekanisme kebahagiaan berjalan di muka bumi. Weiner segera meluncur sekaligus melancong tentunya, ke sasarannya yang pertama.

 
“Kebahagiaan adalah angka”, begitu bunyi perjalanan Weiner ke Belanda. Ini pasti mengundang tanya, kenapa begitu ya? Nah. Bagaimana dengan definisi ala Swiss, “bahagia adalah kebosanan”, sedangkan untuk Thailand, “kebahagiaan adalah tidak berpikir”. Bagaimana pula dengan definisi jenaka ala Qatar, “kebahagiaan adalah menang Lotre”.

 
“Observasi yang berwarna-warni. Wawasan mendalam yang diselipi anekdot”, begitu testimoni The Economist untuk buku ini. Kenyataannya buku ini memiliki kemampuan humor disana-sini. Yang tetap terasa walau kita membaca sebuah literasi terjemahan. Tentu saja, definisi apik kebahagiaan, terlebih lagi “tempat yang membahagiakan” masih menjadi misteri dan terlalu sederhana untuk dipancing keluar dalam jurnal ekspedisi sekalipun. Setidaknya melalui buku ini kita belajar untuk memilah nilai kebajikan, hal-hal yang sepantasnya dikejar, dan menyibak nilai kebahagiaan itu sendiri. Selamat membaca!

Langit selalu sama, ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari ini aku menitipkan harapan yang tinggi kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru disini. Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan paling ideal, tidak juga buruk. Namun sesuatu yang menakjubkan hadir disini. Mungkin jika aku duduk-duduk saja di kursi nyaman di Indonesia, tentulah akan lain hasilnya. Maka dari perjalanan hidup kali ini, aku memetik pelajaran,sebagai tanda-tanda KuasaNya.

20160419_154014
Aku menginjakkan kaki di Pakistan tepatnya kota Islamabad guna melanjutkan studiku di bidang Islamic Banking & Finance di International Islamic University Islamabad. Sejak bulan Juli 2013 lalu aku mengawali hidup di negeri orang, yang kini sudah semester 6 dalam perkuliahan. Berat awalnya meninggalkan tanah kelahiran Indonesia tercinta. Sebelum benar-benar memutuskan ke Pakistan, aku sempat tergoda untuk ke negara lain, utamanya Malaysia. Namun setelah di timbang-timbang, berdasarkan tempat,culture dan society saya berpikir bahwa Pakistan memiliki tantangan yang berbeda tersendiri dibandingkan dengan Negara lainnya, maka seperti inilah pilihanku. Bismillah, jika sudah memilih, pantang untuk disesali.
Pakistan tentu tidak seluas Indonesia, tapi bukan berarti perilaku dan budayanya homogen. Berbagai peristiwa politik, aneka budaya, pendekatan bahasa, memberi efek kejut bagiku pada awalnya. Namun aku cepat beradaptasi. Sesekali aku menghabiskan waktu melaksanakan hobi di bidang olahraga maupun travelling. Hobi yang satu ini banyak juga manfaatnya. Salah satunya memudahkanku bergaul, berbaur dan mengenal bangsa-bangsa.
Nilai-nilai keislaman di Pakistan memang kental. Suatu kali aku bersafar yang akhirnya membuatku hilir dari satu bagian distrik ke distrik berikutnya. Sebagai seorang pendatang dari Indonesia yang ‘apa adanya’, pemandangan unik di Pakistan ini menggelitik spiritualitasku. Bagaimana hati tidak senang, pikiran tenang, sebab salah satu bahkan banyak distrik di Pakistan lekat dengan Al-Qur’an. Masjid atau surau mereka ramai dengan para penghafal al-Quran. Baik yang masih kecil, berumur muda, dewasa, juga lansia. Kalau pemandangan seperti ini, bisa dibilang langka di Indonesia. Kecuali kita menyengajakan diri datang ke Pesantren atau Ramadhan tiba. Sedangkan disini, membaca dan menghafal Al-Qur’an itu sudah seperti kebutuhan, seolah makan dan minumnya kehidupan.
Rahasianya terletak pada pembiasaan keluarga muslim di rumah-rumah yang berlanjut kepada habits sosial. Bisa dibilang, orang tua malu jika anaknya tidak pandai mengaji, tidak berangkat ke surau, seolah itu aib. Bedakan dengan budaya Indonesia yang tentu masih jauh dari gambaran ini. Bukannya tidak bangga jadi orang Indonesia, tapi kita sudah sepatutnya iri dengan kebaikan orang lain, apalagi jika sudah sampai kepada tatanan komunitas. Wah kayaknya keren ya kalau Indonesia menyalakan gerakan cinta Al-Qur’an seperti ini.
Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi salah satu tempat dimana anak-anak menghafal qur’an saya pun berkesempatan untuk sedikit sharing dengan mereka dan guru mereka, mereka memulai menghafal al-quran pada umur 5-15 tahun, program dimulai dengan membaca huruf hijaiyah-qur’an- dan start mulai menghafal, untuk program tahfiz maksima 2 tahun sudah selesai 30 juz, dan disini mereka tidak dipungut biaya sepeserpun ataupun requirments yg harus dia penuhi asalkan sang anak siap dan ingin bersungguh sungguh menghafal dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari, dengan kegiatan yang full seharian untuk menghafal quran mulai subuh hingga isya.
Satu lagi yang aku sukai dari karakteristik orang sini ialah kebiasaan mereka dalam memuliakan tamu. Tanpa memandang warna kulit, kasta sosial, maka tamu yang berhadir dijamu seperti raja. Dijamu seperti saudara dekat mereka sendiri. Makan dan minum yang enak, yang kadang mereka pun jarang menikmatinya. Semata-mata ingin tamunya senang dan kerasan. Sehingga persaudaraan akan tumbuh dengan sendirinya. Keramah-tamahan itu tentu tidak sekedar basa basi melainkan terlihat nyata. Itu juga yang membuatku rindu dengan tempat ini.

 

DSC_0999
Bukan berarti, Pakistan sepi dari masalah ya. Pergolakan politik, kesenjangan sosial, termasuk migrasi rakyat Afghanistan ke Pakistan tentu menjadi sorotan tersendiri. Isu Sunni-Syiah juga kerap menjadi perbincangan. Pergolakan politik Pakistan yang turun naik terkait pemerintahan, namun lebih banyak menyangkut kepada keamanan, perihal terorisme. Sudah wajar disini apabila suatu saat datang informasi dari KBRI Islamabad untuk tidak pergi ke suatu tempat atas informasi intelejen Pakistan bahwa tempat tersebut akan terjadi penyerangan dari berbagai kelompok dengan berbagai ideologi, seperti Taliban Pakistan yang bermarkas di North Waziristan contohnya. Tidak selesai sampai disitu, masalah refugee Afghanistan yg terkadang menimbulkan bertambah tingginya tingkat kesenjangan sosial di Pakistan dikarenakan mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konflik Sunni-Syiah yang kerap terjadi ketika hari 10 Muharram dan Hari mauled nabi Muhammad SAW, memicu insiden tembak menembak ataupun bomb blast seringkali tidak dapat terhindari.
Saya berkeyakinan bahwa Ilmu bisa di timba darimanapun asalnya dan ajal akan menjemput dimanapun kita berada entah daerah yang aman maupun daerah yg bergejolak konflik justru ini menjadi tantangan kami semua untuk semakin dekat dengan sang maha pencipta dan semoga apapun tantangan yg sedang saya hadapi disini menjadi pelajaran bagi saya dan memudahkan jalan saya kedepannya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Aamin ya Rabbal’alamiin. [Seperti yang dituturkan Aldila Putra Ramadhan kepada Redaksi/Alga Biru]

851422043_25989

Judul Buku: Pohon Semesta
Penulis: Abay Abu Hamzah
Penerbit: Anomali
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: 288 hlm

Dari mana wangi ini berasal? Sebuah judul prolog yang mengawali halaman buku setelah kata pengantar. Buku dg judul Pohon Semesta ini termasuk salah satu buku yang bisa digunakan bagi para pengemban dakwah untuk memperluas tsaqofahnya. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sgt renyah shg mudah dicerna khususnya bagi pemula. Buku yang ditulis oleh kang Abay ini memiliki 6 bab, dimana Bab tersebut terdiri dari Bab Bunga, Akar, Batang, Dahan, Daun, dan Buah. Dalam setiap Babnya ulasan yang ditulis berbeda-beda namun tetap menyambung dg bab-bab berikutnya. Pada bab bunga mengulas tentang keagungan dan kemuliaan islam, dimana saking mulia dan agungnya islam ini, wanginya tercium hingga keseluruh antero bumi. Pada bab kedua (Akar) mengulas tentang akar islam, keimanan kepada Allah dan Rasulnya. Bab selanjutnya bab Dahan, dalam bab ini diulas singkat ttg betapa nikmatnya ilmu dan betapa asyiknya beramal shalih. Selanjutnya, bab daun penulis mulai mengulas ttg menebarkan cahaya islam yg gemilang, dan bersegera menjadikan islam sebgai rahmat bagi seluruh alam. Setelah penulis mengulas ttg cahaya islam yg begitu gemilang, penulis melanjutkan dg ulasan untuk meneguhkan hati dalam perjuangan menegakkan islam ini dalam bab Batang. Dan yang terakhir bab Buah, dalam bab ini dijelaskan bahwa pasti akan datang suatu masa hasil dari suatu perjuangan dalam menegakkan islam ini, dan hasil dari perjuangan itu adalah dirasakanny rahmat ketika islam benar** tegak dg sempurna (Hasil ketika dunia), dan  hasil yg didapat diakhirat adlah surga.
Menurut saya, buku ini sgt cocok untuk direcommended bagi pengemban dakwah sebgai tambahn tsaqofah mereka dalam berinteraksi, dan ulasan** yang dibahas pun sgt ringan dan mudah dicerna.

Sekian dan terimakasih.😊
Resensi oleh : Khotimah Ayu Maduratna

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

Viajeros de Indonesia

Real Life is a HOLIDAY

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiades caravan

Adventurer | Bibliophile | Cinephile | Deltiologist | Explorer

Journey of Sinta Yudisia

Mother. Wife. Writer. Wanderer.Someday, a Psychologist

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Ceritaku Untuk Dunia

Tulis Apa Yang Kamu Pikirkan, Jangan Pikirkan Apa Yang Akan Kamu Tulis

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Dhico Velian

semacam catatan harian

. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

... tempatku belajar banyak hal ...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

Viajeros de Indonesia

Real Life is a HOLIDAY

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiades caravan

Adventurer | Bibliophile | Cinephile | Deltiologist | Explorer

Journey of Sinta Yudisia

Mother. Wife. Writer. Wanderer.Someday, a Psychologist

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

Ceritaku Untuk Dunia

Tulis Apa Yang Kamu Pikirkan, Jangan Pikirkan Apa Yang Akan Kamu Tulis

Ridho Dan Bukunya

Membuka Dunia Dengan Membaca

Dhico Velian

semacam catatan harian

. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

... tempatku belajar banyak hal ...

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 6.415 pengikut lainnya