Feeds:
Pos
Komentar

 

 

Seorang spion alias mata-mata Russia diketahui berada di London. Scotland Yard berusaha mencari,tetapi mereka tidak berhasil. Akhirnya, mereka meminta bantuan Sherlock Holmes.

 

“Ada berapa WC umum di London?” tanya Sherlock Holmes.

“Lima ratus,”

“Kalau begitu, beri saya 500 detektif.”

Holmes diberi 500 detektif dan menjelang sore, spion Russia itu tertangkap.

“Bagaimana anda melakukannya?” tanya Polisi.

“Gampang,” jawab Holmes.

“Saya menempatkan satu detektif di setiap WC umum. Bila ada lelaki yang keluar sambil masih menaikan resleting celana, itu pasti spion Russia.” (Sumber digital : Ketawa.com)

 

Alih-alih tertawa, sebagian orang bahkan gagal merasa lucu. Padahal skrip lelucon ini diambil dari buku yang cukup terkenal, “Mati Ketawa ala Rusia”. Fakta yang tak kalah lucu, almarhum Gus Dur pun menyumbang kata pengantar pada buku humor bertema politik dan sosial sehari-hari ala Rusia. Konon, yang paling lucu itu orang sunda. Karena bahasa sunda punya kata ganti dengan berbagai tingkatan, mulai dari kasar, sedikit kasar, sampai bahasa halusnya. Sebagian meng-klaim, humor paling bijaksana itu humor orang Padang. Karena mereka gemar berdagang dan merantau sekaligus, sehingga sediaan candaan bernuansa rumpun minang ini sangat kentara, menyegarkan. Bebas saja, setiap diri punya cerita humornya masing-masing.

Lain cerita dalam kasus tertentu. Bukan soal strata humor, tapi fokus kita bertanya tentang muatan candaan. Terlepas betapa hirarkinya masalah selera humor seseorang, para pelucu punya tanggung jawab pada misi apa yang menjadi bahan lucu-lucuannya. Manusia punya banyak bahan untuk memancing selera humor sesuai tujuannya masing-masing. Rasa humor, terbukti bisa mengharmoniskan hubungan dan mencairkan suasana. Tujuan semacam ini tidak harus bikin orang ketawa, terpingkal. Bisa merasa rileks saja, itu sudah jadi bagian humor yang baik. Atmosfer beginilah yang seharusnya kita bangun dalam menanggapi kebutuhan manusia akan humor.

Apakah Anda termasuk tipe menusia dengan aggressive humor? Berhati-hati dengan tipe yang seperti ini. Aggresive humor, memancing  rasa humor dengan memojokkan, memanipulasi, yang mungkin mengganggu kehidupan individu bahkan komunitas. Perlukah kita memoroti kehormatan kehormatan seseorang untuk melucu. Atau seberapa keras hati kita sehingga kita merasa perlu memancing sensitivitas agama, yang jelas-jelas sakral sebagai bahan-bahan lucu-lucuan? Kalau tujuannya untuk membangun hubungan, sarana hiburan, konten semacam itu jauhlah panggang dari api.

“Berikanlah istirahat pada tabiat kerasmu yang serius, diregangkan dulu dan hiasilah dengan sedikit canda. Tetapi jika engkau berikan canda kepadanya, jadikanlah ia seperti kadar engkau memasukkan garam pada makanan” (Adabud-Dunnya wad-Din halaman 319 dan al-Bidayah wan-Nihayah XI/316)

Ya, laksana masakah di pinggan. Hambar tanpa garam, dan nikmat dengan diberikan sedikit atau secukupnya. Kalau terlalu banyak, jangankan lezat, sekali cicip pun kita sudah enggan memakan masakan yang kebanyakan garamnya. Canda yang dibolehkan saja masih berpotensi mematikan hati, apalah lagi canda yang menohok agama, keyakinan, peradaban dan kehormatan. Itu bukan lagi canda, alih-alih ia bisa beralih pada kekerasan verbal.

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)

Bayangkan hati yang mati. Ia tak bisa membedakan benar atau salah, cocok atau tidak cocok, tepat atau kurangnya. Singkat kata, kesensitivan hati manusianya seolah hilang. Jangan-jangan, memang inilah yang terjadi pada pemburu tawa dengan konten-kontennya yang melukai agama dan kehormatan. Ya, hatinya telah mati sedemikian rupa. Wallahu’alam. [] Alga Biru

 

Iklan

Mario Bross, Sailor Moon, Dragon Ball. Ketiga kartun itu melintas di alam pikir seorang anak kecil bergigi kelinci. Dia membayangkan, alangkah enak bisa memainkan Mario melompat pada tombal Spica, Usagi berubah wujud, dan bola naga yang diperebutkan melalui mantra khame-khame. Saya pikir anak jaman now, terlepas mereka bermicin atau tidak, tidak kenal ya dengan Ikyusan. Kesemua tokoh itu adalah superstar cartoon di era 90-an.
“Diaaannn….. Panjatkan dulu melinjo kita. Mamak mau melodeh nanti siang”
Lalu si anak gigi kelinci itu meneropong pohon melinjo yang sejarak dengan pohon kelapa di sampingnya. Dia masih berjarak 7 menter dari si melinjo yang meranum. Pohon itu dijaga 4 ekor angsa, sepasang induk dengan dua anaknya. Mereka masih berenang-renang di kolam Lele Dumbo yang tak jauh pula darisana.
“Nanti Mamak kasikan kao main Mario Bross. Panjatkanlah dulu!”
Apa boleh buat, batin anak itu berkata. Dia pun berjalan menuju si melinjo tanpa beralas kaki. Sejenak lengang, lalu tiba-tiba….. Srooooot!! Sroootttt!!! Si induk angsa jantan menyosor kaki anak itu.

“Mamakkkkkk…. Mamaakkkkkkk…..” Anak itu tunggang langgang. Dan secepat kilat dia menaiki si melinjo sebagai tujuan sekaligus pelarian.
“Hehe… Bisa juga awak naek”, lega. Anak itu sudah bertengger di pohon melinjo yang lambai menjulang. Mematuhi ibunya demi sebuah hiburan yang dijanjikan, ‘medium rekreasi imajinasi’ pada masa itu.

HANA

 

20 Tahun kemudian…….
Pohon melinjo sudah ditebang, Angsa tak ada yang merawat, tinggal kolam Lele Dumbo yang ditumbuhi eceng gondok. Si pemanjat pohon melinjo bahkan sudah memiliki anak. Kini giliran dia, menemani anak-anaknya. Berusaha memahami anak-anaknya, akan letak definisi bahagia pada hari ini. Gawai bukan lagi benda mewah, semua orang punya, hanya beda tipe. Saking kepunyaannya orang-orang pada benda ini, sampai anak kecil pun bisa mengakses benda segala bisa tersebut. Kalau ingin nonton Sailor Moon, mereka tidak perlu menunggu hari minggu jam 8 pagi. Cukup memasukkan keyword, dan langsung bisa melihatnya kapanpun, dimanapun. Canggih ya!
.
.
.
.
“Maryam… Hana…. Hari ini kita mau kemana ya? Ke Jungle atau ke Kuntum?”, Ibu Gigi Kelinci itu berpura-pura meminta bersetujuan anak balitanya. Tanpa persetujuan pun, sebenarnya dia sudah mempertegas mereka akan kemana. Jadi, meminta tanggapan itu semacam alat komunikasi saja.

IYANG

Kuntum FarmVille, tak jauh dari Jalan Raya Tajur, Bogor…
Tiket masuknya, Rp.40.000/orang. Bukan main! Apa sih yang ada di dalam sana, mahalnya gini-gini amat. Hatinya bertanya-tanya. Kali ini, Si Ibu Gikel (Gigi Kelinci) ingin memperkenalkan dua anak perempuannnya dengan alam bebas.
“Heyy lihat…. Ada kelinci !!! “, jerit anak gempal, Hana namanya.
“Yes! It’s Rabbit… Where’s the carrot? Lets go!”, Maryam, kakak si gempal, senang sekali berbicara dalam Bahasa Inggris. Bu Gikel membelikan pakan kelinci seharga 5 ribu, yang dijaja di samping kandang kelinci. Ya sodara-sodara, tidak gratis ya tapi bayar!

“Cow…. Chicken…. Kambing…. Horse…. Fish… Rusa….” Dengan kepolosan, Maryam menyebut nama-nama binatang yang dilihatnya secara bergantian, dengan bahasa berlainan pula.
Perempuan itu menyapu sekeliling area rekreasi yang berdiri dengan nama “Kuntum FarmVille”. Area peternakan buatan, yang cukup luas. Ternak di kandang, tumbuhan dicagar, dan umbi-umbian yang ditanam rapi (yang malah terkesan kurang alami). Tempat itu dipugar di tengah-tengah perkotaan. Seolah orang-orang kota punya portal menghilangkan kepenatan. Maryam dan Hana, gembira sekali, tidak habis-habisnya mengeksplorasi. Mereka melupakan dunia gawai yang maya sejenak dalam pikiran mereka. Dan mereka happy ketika segalanya bisa disentuh, dengan sentuhan yang sebenar-benarnya.

.
.
.

BUNDA
Si Ibu Gikel berdiri menyender di pohon yang sedang berbuah. Tertulis jelas, dengan papan tegas, berjudul “Pohon Sukun”. Kepada suami dia berkata:
“Yaeyalahhhh pohon sukun! Siapa juga tahu ini pohon sukun”, dengan bibir monyong dia mentoel papan-nama itu. Sekonyong-konyong, ia meralat pernyataannya sendiri. Hemm, mungkin bagi aku semua ini biasa, sangat biasa…. Ini cuma permainan kampung, tumbuh-tumbuhan kampung, yang secara gratis bisa dinikmatinya setiap pulang kampung. Tapi bagi anak-anak masa kini, ini lebih dari cukup untuk disebut kemehawan. Mungkin inilah joyfull learning ala sekolah alam, yang kita sudah sama-sama tahu betapa mahalnya.
“Beda jaman…. Beda definisi gini ya Bang”, ucap Bu Gikel bersoloroh menuju pintu keluar Kuntum FarmVille. Rekreasi mewah masa kini, dengan melihat kesederhanaan di masa lampau. [] Alga Biru

 

(Bakal panjang nih, nyeduh teh dulu sono)

.

.

.

Cyduk!

Rasa dendam menjalar. Bahkan hingga di halaman 123, belum-belum juga ketahuan, apa sih makhluk yang berhasil ditemukan Edmond Kirsch. Apa semacam sel berukuran mega-DNA sebagai asal mula segala sesuatu. Ataukaah kotak pembentur partikel yang mampu menstimulasi Big Bang secara sintetis. Atau ini lelucon The Real Slim Shaddy yang memproduksi ribuan Eminem berkostum putih-putih, yang sama mahirnya berkata kotor.

 

Ini kali pertama saya melarutkan diri untuk Dan Brown. Yes, slice by slide, every single moment. Enam karya Brown lainnya, pernah coba-coba saya baca, tapi kok nggak masuk otak ya. Hehe. Abaikan! Saya tidak harus merasa lebih keren dengan membaca penulis-penulis sohor. Tapi yang ini saya tertarik, sejak awal. Judulnya, topik, latar, sesi pembuatan, membuat penasaran.

 

Origin. Cerita ini dimulai dari pertemuan Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama dunia, mewakili Kristen, Yahudi dan Islam. Mereke bertemu di Perpustakaan Montserrat yang legendaris. Kirsch, hendak mempresentasikan sampel temuannya, yang konon menjawab asal mula kehidupan. Ketiga pemuka agama itu gusar bukan main. Nasib agama dan spiritual seolah diambang kehancuran. Tidak diceritakan, alias secara sengaja dirahasiakan oleh penulis, something macam apa yang akan diumumkan Kirsch kepada dunia.

 

“Orang-orang paling berbahaya di bumi adalah orang-orang saleh, terutama ketika Tuhan mereka diserang” (Origin)

 

Di sisi lain, kelompok rahasia beraliran Kristen tertentu menyusun rencana.  Kelompok elit, sangat konservatif, merekrut para anggotanya dengan membawa janji-janji suci. Sosok elegan, taat, bertangan dingin, diwakili tokoh Luis Avila, yang tergabung ke dalamnya.

 

Teroris Kristen, begitukah? Tentu saja, Brown tidak sevulgar itu. Dia tahu bagaimana ‘aturan main’. Semakin halus sapuan narasi, semakin dia mampu menggiring orang banyak. Itu soal isi cerita, silakan dibaca sendiri kelanjutannya.

 

origin

Ada beberapa catatan dialog, yang menjadi titik kritis untuk saya pikirkan lebih banyak.

 

“Apa dua pertanyaan fundamental yang diajukan umat manusia sepanjang sejarah kita?” Kirsch bertaya kepada sahabat lamanya, Robert Langdon.

“Yah, pertanyaannya adalah : Bagaimana semuanya ini bermula? Dari mana asal kita?”

(Origin, halm 65)

 

Loh pertanyaan macam apa ini? Sekolah-sekolah kekinian tampaknya semakin tidak ingin menjawab dialog semacam ini. Mungkin terlalu sakral, jadi silakan dicari masing-masing. Atau….. Memang semakin tidak dipentingkan lagi? Kita berada di era kemajuan, yang melesat tiada bandingnya. Walhasil, manusia lebih disibukkan seputar itu.

 

nizhom

 

 

Syaikh Taqqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizomul Islam menjawab khusus piranti-piranti manusia, piranti yang paling rumit, yang beliau sebut ‘uqdatul kubro’. Siimpul besar,  yang diisyaratkan sebagai tiga pertanyaan besar: dari mana, mau apa, mau kemana. Jangan salahkan Brown, kalau menyebutnya cuma dua. Brown itu orang kafir, dia tidak mengenal (iman) pada syariat (islam), ya boro-boro sih Buk.

 

Saya cukup terkesan bagaimana usaha Brown mengurai perkembangan spirtual dari masa ke masa. Jangan-jangan salah satu kepustakaan Brown berasal dari tulisan filsuf “yang entah nggak jelas dia ngomong apa”. Hehe. Semua ini  butuh pendekatan narasi yang lebih sederhana untuk ditangkap otak-otak lugu seperti saya. Setidaknya kutipan dialog ini cukup bisa dinalar arahnya:

“Kita adalah makhluk yang  ber-evolusi secara intelektual dan berkeahlian teknologi. Kita tidak mempercayai pandai-besi raksasa yang bekerja di perut gunung berapi atau dewa-dewa yang mengendalikan air pasang atau musim. Kita sama sekali tidak seperti nenek moyang kuno kita.” (Origin, halm 98)

 

Mirip-mirip sebenarnya dengan dagelan filsuf ‘manusia menciptakan agama’. Masih seputar-putar itu, pikir saya.

 

Di Planetarium ala Edmond Kirsch, Brown menggambarkan perkembangan tuhan-tuhan manusia dari masa ke masa secara visual melalui deskripsi verbal. Sebagai orang Islam, kesakralan “Allah, the only one God” tergolong aman dalam kesanggupan narasi manapun, termasuk Brown. Karena Tuhan saya tidak diwenangi untuk dilukiskan oleh pihak manapun. Sejak awal seharusnya kita berpikir, Tuhan memang tidak serendah itu, bukan?

 

Salah satu yang menarik lainnya, perspektif Brown tentang neuron. Disini saya tergugu, Brown sudah sampai ke titik itu. Edmond Kirsch berusaha berimajinasi tentang komputer super canggih yang ditanyai seputar urusan-urusan manusia.

 

Dari mana asal kita?

Kemana kita akan pergi?

 

Jawaban komputer itu ialah : “DATA TIDAK MENCUKUPI UNTUK RESPONS AKURAT” (Origin, halm 102).

 

Apa jadinya kalau Dan Brown ikut halqahnya Syaikh Taqqiyuddin? Haishh, pyurrr ngawur. Mereka kan beda zaman, hehe. Masih dari kitab yang sama, tulis Syaikh Taqy rahimakumullah:

“Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah Swt, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Tetapi bukan berarti dapat dikatakan, ‘Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah Swt, sedang akalnya sendiri tidak  mampu memahami Zat Allah?”.

 

Lanjut Syaikh Taqy mengenai hal ini : “Usaha manusia untuk memahami hakekat Zat Allah Swt merupakan perkara mustahil untuk dicapai. Sebab, Zat Allah berada di luar jangkauan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat  yang berada di luar batas kemampuannya. Seharusnya keterbatasan ini justru menjadi penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan.”

 

Soal kalimat terakhir ini, saya sepakat. Bukankah nikmatnya hidup karena ‘misteri di dalamnya’. Dalam masa kenabian pun, permintaan ‘bertemu hakekat Allah ini’ selalu kita temukan. Boro-boro ditampakkan padanya hakekat, nur Allah itu membuat silau mata manusia. Sesilau-silaunya. Singkat kata, matamu tidak berguna di hadapan Allah. Sinyal otakmu tidak kesampaian untuk menjangkau-Nya.

 

Rentetan pertanyaan lain telah menunggu. Kalaupun Dan Brown membaca karya Syaikh Taqy ini, mungkin dia nggak cukup puas. Memang harus ngaji sih, Om!! Hihihi…. Wuedan, Dan Brown disuruh ngaji. Wiwiiwiw….

 

Dan Brown meracik topik yang sulit dengan cerita-cerita misteri yang manis. Terlepas kemudian, suka-suka dia mau dibawa kemana. Lebih suka-suka lagi pembacanya, mau dipahami bagaimana. Syaikh Taqy mengilhami banyak murid-muridnya dalam mengurai simpul besar. Pertanyaan fundamental yang membayangi semua manusia, tanpa terkecuali. Simpul besar, gerbang mengenal-Nya yang memiliki sifat yang sembilan puluh sembilan.

 

Anyaway…. By the way,,, Pertanyaan lampirannya ialah: Kapan murid Syaikh Taqy buat cerita manis semacam ini??! [] Alga Biru

 

 

 

 

*)Keterangan gambar

Atas : Penerbit Mizan Official

Bawah : Koleksi Pribadi

“Kalau datang ke acara lihat urgensinya apa. Jika ada (urgensi), ya silahkan (ke Monas). Kalau tidak, buat apa (datang). Apa sih yang mau disuarakan?” ujar Kang Emil itu, Kamis (30/11/2017) seperti dikutip Detik.

Melalui akun twitter, Bapak Ridwan Kamil berkicau dua kali terkait kepentingan acara Reuni Akbar 212 sembari meng-capture sikap MUI Jabar yang mengimbau warganya tidak ikut acara tersebut. Kenyataan selanjutnya ialah ratus ribuan orang mulai memenuhi Monas sejak jumat 1 Desember 2017 dan mengalami puncak kepadatan di esok harinya. Jika MUI saja sudah mengimbau tidak datang, jadi orang-orang ini hadir untuk apa ya?

Monas sempat digadang-gadang batal untuk digunakan. Kita mengapresiasi sikap Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang menepati janjinya, guna memberi tempat perizinan jalannya acara. Pengukuhan persatuan umat Islam, itu yang ingin ditunjukkan para peserta yang tidak kurang dari 800ribuan banyaknya. Mereka yang hadir tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, namun juga luar Jakarta bahkan luar daerah.

Mengutip pernyataan Fadli Zon yakni, “Kegiatan ini adalah kegiatan konstitusional, kegiatan yang dijamin konstitusi dalam Pasal 28 bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat,” seru Fadli dari atas panggung yang disambut riuh oleh massa yang hadir. (Kompas/02/12)

Netizen membanjiri lini masa dan melakukan citra diri untuk sekadar menampik fitnah yang dituduhkan pada mereka sebagai ‘peserta bayaran’. Mereka datang dari hati, menyatukan komitmen, membela suara Islam, yang hari ini semakin dipersulit gerakannya. Agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW pada 14 tahun silam, tidak hanya menyatukan umat dari sisi spiritual, melainkan aksi sosial dan politik.

Ujaran Tito Karnavian bahwa aksi ini tak lepas dari nuansa politik, tampaknya cukup beralasan. Jangan baper, memang Islam itu berpolitik kok. Politik disini bukan alih-alih bersikap praktis, namun memahami politik sebagai usaha umat Islam untuk diurusi dengan Syariah Islam selaku umat Rasulullah SAW.

 

…Akumulasi dari segala pandang yang dibawa dari reuni kali ini ialah, semangat juang sampai titik darah penghabisan. Persatuan ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan…

Tampak hadir meliputi para politikus seperti Anies Baswedan, Amin Rais, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Fahri Hamzah. Sangat disayangkan Presiden Jokowi tidak hadir dalam acara ini, yang seharusnya menyambut baik undangan panitia dan umat Islam secara umum.

“Balas dendam politik itu nyata”, ungkap Ustadz Rahmad Labib selaku DPP Hizbut Tahrir Indonesia, sebelum harakah ini resmi dibubarkan rezim dengan melalui Perppu Ormas No 2 Tahun 2017. Metro TV mengangkat tajuk “Meneladani Sang Nabi” dengan narasi intoleransi yang gagap gempita di bawah payung Reuni Akbar 212.

Bak memancing di air keruh, media satu ini belum kapok merespon negatif semangat umat Islam. Bagaimana bisa menyebut intoleransi kalau ketoleran itu dilanggar sendiri oleh mereka yang merasa paling toleran? Satu per satu umat Islam melalui perpanjangan suara ulama terus dihadang. Persekusi acara pengajian, pencitraburukan aktivis, isu terorisme, tak habisnya digoreng pihak sono untuk membendung ide-ide Islam.

Rabun dekat pada persoalan orang, rabun jauh pada masalahnya sendiri. Pepatah itu tampaknya cocok buat orang yang masih menggunjingkan persatuan umat Islam di Indonesia. Sementara pemerintah tak kian berbenah, hutang Indonesia membengkak menjadi 810 Triliun rupiah, dan dikhawatirkan terkena dampak krisis di tahun 2018 yang tak lama lagi segera datang.

Dalam atmosfer yang kian terjepit ini, umat semakin menyadari urgensi Islam sebagai solusi kehidupan. Persatuan umat, berdaya di negeri sendiri, merangkul persaudaraan, dan berkeadilan adalah semangat yang bisa kita tangkap dari rentetan kejadian setahun belakangan.

Dengan berkibarnya Ar-Rayah pada Reuni Akbar 212, ajaran Khilafah kembali disebut-sebut. Portal berita CNN keukeh menyebut bendera hitam bertuliskan laailaha illallah muhammad rasulullah sebagai bendera HTI, dan wujud intoleransi. Ini kesempatan buat kaum muslimin terutama orang yang faqih agama guna menjelaskan kedudukan dan ruh dari bendera agung Rasulullah SAW.

Akumulasi dari segala pandang yang dibawa dari reuni kali ini ialah, semangat juang sampai titik darah penghabisan. Persatuan ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan. Kalau ada halang rintang dalam perjuangan, ingatlah kembali betapa indah masa berkumpul dalam kebersamaan, disatukan dalam ruh izzatul Islam. Ketika persaudaraan ini dipertalikan oleh Sang Penggenggam Hati, Allah Yang Maha Tinggi. Panjang dan terjalnya perjuangan, biarlah Allah SWT yang memecut diri dan memilih kita sebagai hamba-hambaNya yang terbaik. Wallahu’alam. [Alga Biru]

.

.

,

*)Diterbitkan pula di Portal VOA-ISLAM :

http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2017/12/04/54666/reuni-akbar-212-bukan-akhir-melainkan-awal-dari-perjuangan/#sthash.D1jOC9xJ.mFYPljy6.dpbs

Fenomena sosial media : Penggunaan sosial media menurut pengamat beberapa tren, penggunaan di tahun 2017 dan 2018 akan terus menurun atau  semakin selektif di dunia maya. Baik seletif dalam memilih jenis maupun menerima pertemanan.  Memilih sosial media : Banjirnya tipe dan jenis sosial media, haruslah disikapi dengan bijaksana, bukan ikut-ikutan semata. Kalo kebanyakan juga kan bikin pusing. Sosial media juga sebenarnya memiliki fitur yang berbeda sesuai fungsi.

***

 

Jenis dan rekomendasi sosial media

Twitter : Sempat tren di 2012-2015, penggunanya menurun atau stagnan hingga tahun 2017. Penggunaan teks terbatas, cocok untuk penyajian berita singkat dan info kilat. Untuk yang pengen dapat info banyak dan beragam, bisa main twitter. Peran hashtag sangat kuat di twitter. Mengingat twitter di optimasi pengguna berdasarkan trends and topic berkala.

Facebook : Kaya akan fitur, baik gambar, teks, video, grup, fan page dan chat. Indonesia termasuk lima besar pengguna facebook terbesar di dunia. Hingga saat ini, penduduk Indonesia masih setia menggunakan Facebook sebagai jejaring sosial pertemanan, jualan, atau membentuk lini komunitas. Kekurangan : Fitur yang banyak ini menjadikan facebook kurang spesifik dalam pengenalan produk dan minat pengguna. Saya termasuk yang sering bosan mengunjungi  facebook, karena tampilan “ramai” yang memusingkan ini.

Goodreads : Sudah dibahas di ODOB kemarin. Ini jenis jejaring sosial untuk para pembaca buku. Baik aktif maupun pasif. Aktif, dalam artian selalu update dan feedback dalam pertemanan Goodreads. Pasif, sekedar melihat review, rate atau komentar yang pedas+lucu

Wattpad : Jejaring sosial untuk penulis dan pembaca. Terutama penulis pemula, banyak mewujudkan mimpinya melalui Wattpad. Yang dipublikasikan di Wattpad, biasanya karya baru dari penulis  baru, dimana tulisan akan di update secara berkala (dari status on-going sampai complete). Dari huru hara Facebook, saya lari ke Wattpad dan memang menyenangkan menemukan hal-hal baru di dalamnya. Mungkin karena saya penulis, jadi senang ber-Wattpad. Belakangan ini kembali bosan, karena huru hara yang sama ditemukan di Facebook. (Haduuhh, manusia alay kok nggak ada habis-habisnya). Mencoba berburu ke tempat lain, seperti Inkit, Fanfic, dan Novel Nusantara. Tapi fitur Wattpad ternyata lebih unggul buat saya nikmati.

 

Instagram : Jejaring sosial berbasis foto dan gambar. Sekarang sudah bisa video juga, bahkan durasi diperpanjang hingga 1 menit.  Makin diperkaya pula dengan snapgram dan video Live.  Snapgram ini dipercaya untuk mengimbangi fans snapchat yang kian gegar. Konten live di Instagram masih kalah stabil dengan Facebook. Buat para pelapak, instagram sangat saya rekomendasi untuk dikembangkan.

 

Snapchat : Flash video, durasi 10 detik. Kurang tahu update terbaru, sepertinya makin lama. Cocok buat yang doyan selfie, dan dokumentasi keseharian. Saya kurang minat dengan snapchat, selain bukan kebutuhan, juga memakan RAM yang cukup besar. Karena aktivasi snapchat selalu standby (yang artinya makan baterai juga)

 

Steller : Awal muncul 2012, yang konon untuk mengimbangi kekurangan di instagram. Saat ini nge-hits di Indonesia sejak diluncurkannya StellerID. Sesuai namanya, Steller, yang artinya Story Teller. Cocok banget buat yang senang fotografi dan bercerita. Bentuknya seperti slide and swipe, tapi ciyuss menarik banget. Yang nggak suka fotografi, dikompenasasi dengan fitur lay out dari Steller yang keren-keren. Saya masih newbie di Steller dan menikmati penjelajahan Steller, yang masih diisi oleh para profesional. Sambil terus berdoa, semoga para alayers dan Seller yang ganas tidak mengepung media ini sedemikian rupa.

 

***

Demikian penjelajahan saya  “memburu perawan”, hehe. Istilah saya aja sih. Dalam rangka memburu tempat-tempat seru untuk meraih inspirasi baru dan pertemanan singkat yang berkualitas. Oya, salah satu sosmed yang saya tetap setiap padanya, WordPress. Terus mengalami pembaruan dan memenuhi kebutuhan saya untuk berbagi dan mencari tahu hal-hal baru.

 

Hemm, benar juga prediksi trenders. Segelintir teman cukup untuk mengisi hari-hari kita. Termasuk dunia maya yang menjadi sarana sosialisasi manusia di abad digital. Saran saya, semakin banyak unsur baper di sosial media, kita harus semakin peka pada kebutuhan. Baik pada apa, pada siapa, bagaimana menyikapi dan disikapinya perbedaan kebutuhan ini. Selamat menjelajah! []

Sobatku Lesbi!

Sebenarnya bukan “lesbi” dalam artian ‘body contact”. Mungkin lebih tepatnya SSA (Same Sex Attraction) alias kecenderungan suka pada sesama jenis. Yup, sejak SMA, aku selalu punya teman dengan riwayat yang kecenderungannya SSA. Awalnya ya berteman biasa. Jalan bareng, ngerumpi bareng, pokoknya demen bareng kemana-mana. Mungkin karena anak cewek, ya wajar dong senengnya bareng-barang. Atau pegang tangan (maksudnya, gandengan pas jalan), ya menurut aku waktu itu wajar-wajar aja. Anak cewek kan beda sama anak cowok. Lebih sensitif gitu. Plus sentuhan itu bagian dari eksistensi kedekatan.

Kalau teman SMA, emang nggak bikin pengakuan. Cuma ngerasa aja, “ini orang gelagatnya makin aneh aja”. Yang cukup shock itu pas jaman kuliahan. Ada teman, sebutlah namanya Nia. Kita nggak deket sih. Cuma dianya suka banget deket-deket aku. Bela-belain main ke rumah, walau rumahnya jauh dari rumahku. Sekali dua kali mampir sih, it’s OK. Tapi kalau keseringan dan akhirnya malah “krik krik krik” alias obrolannya garing, aduh gimana ya. Mau ngusir gimana, kan nggak sopan.

Akhirnya aku ngasi “kode” kalau aku tuh dah bosen banget menjamu dia. Aku diem seribu bahasa. Ogah dalam memulai topik pembicaraan. Bicara pun sekena-kenanya (Aduh, kalo diingat, kok tega banget kayaknya ya. Hehe). Ehh, dianya tahan banting. Dia ngeliatin aku dengan tatap mata menusuk. Nggak bisa lepas matanya ngeliat aku. Malah lama lagi. Ada kali, dua puluh menitan diplototin gitu. (Baru sadar pas dia pulang, tatapannya itu ngeri alias tumpah penuh nafsu). Sebagai pecinta lawan jenis, diliatin sesama jenis nggak gimana-gimana sih. Cuma agak aneh aja, bertanya-tanya. ‘Aku kenapa ya? Apa salah pake baju? Atau ada salah sikap”.

Karena berteman sesama jenis itu bukan dosa, ya aku kembali seperti sedia kala, berteman dengan siapa aja. Belakangan aku digosipin ngasih harapan cinta sama Nia. What the….? Hello, aku masih doyan cowok. Kok udah ngomong soal harapan cinta nih. Teman ya teman, kok jadi demen sesama gini ya. Waduuuhhh… Hemm, jujur, aku nggak pengen nyakitin siapa-siapa. Nggak juga pengen ngeliat hal-hal yang di luar batasnya. Kalau butuh tangan, aku ulurin. Apalagi emang tugas teman untuk saling bantu. Yeahh,,, enak nggak enak dapat rumor kek gini. Malah aku kan orangnya takut pacaran, alias tipe orang Mencari Pasangan Halal. Jadi, ya nggak pacaran dong. Karena nggak pacaran, plus sering disambangin Nia, ya terjadilah gosip-gosip busuk di belakang.

Belum sempat nolongin Nia secara terapis. Tapi yang pasti aku ajakin dia ngaji dan baca surah Al-Kahfi Al-Waqiah tiap malam jumat. Siapa tahu ngefek alias jadi doa yang benar buat kami bersama. Nggak maulah terjerembab dalam fitnah. Kecenderungan suka sesama jenis ini ada latar belakangnya loh. Dari situ, aku ngeterapi Nia kecil-kecilan. Karena sebenarnya, Nia juga pengen melepas ‘rasa ini’. Pengen jadi yang seharusnya, suka ke lawan jenis. Seperti yang agama dan norma gariskan. Sabar, ini ujian. Kalau diuji, pasti karena kita bisa melewatinya. Iyes!

***

Sedikit Tausiah

Pernah punya sobat sesama cewek tapi bawaannya paranoid alias dia enggan kita dekat dengan cewek lain, kita perlu ditanya modusnya itu apa. Beneran sayang banget sampe segitunya, atau dia punya kecenderungan lain?!

Satu sisi, kita memang diperintahkan untuk berkumpul dan berteman pada sesama jenis. Sebab Rasul SAW membatasi hubungan lawan jenis hanya dalam perkara pernikahan, jual beli, pendidikan atau kesehatana. Sehingga wajar kita punya sobat cewek, bukan cowok. Tapi jadi lain ceritanya kalau sobat cewek itu punya gejala-gejala liwath (suka sesama jenis). Hal itu bisa terlihat dari gaya berpakaian, atau bahkan dari pengakuannya langsung bahwa dia memang tertariknya pada sesama perempuan. Plis, ini perlu treatment khusus ya.

Teman yang punya kecenderungan liwath ini bukan untuk dibenci, dijauhi apalagi dicaci. Mau tidak mau, dia masih saudara kita juga. Dia pun masih manusia yang dihargai eksistensinya. Sehingga penanganan teman yang lesbi ini butuh terapi para ahli. Bisa dari ustadz, psikolog maupun tim rukyah yang terpercaya. Tak lupa, butuh support banget dari keluarga dan teman-temannya. Jangan biarkan dia berjuang sendiri, bisa-bisa dia akan mencari sesama lesbi sebagai wujud pelampiasan rasa ini.

Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -Rahimahullah- dalam Kitabnya “Al-Kabair” telah memasukkan homoseks sebagai dosa yang besar dan beliau berkata: “Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an Al-Aziz, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka.

Dengan melihat akan besarnya dosa homoseks, sampai Allah -Ta’ala- menghukum kaum Luth yang melakukan liwath dengan hukuman yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kota mereka menjadi kenangan bagi kita, Allah -Ta’ala- berkata dalam surat Al-Hijr ayat 74:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيل.

“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.

Ayat ini cukuplah jadi renungan siapa saja, terutama yang udah ada gejala SSA supaya segera mencari terapi handal agar kita semua terhindar dari murka Allah Swt yang amat pedih. Wallahu’alam. [Alga Biru]

UFC 209 CANCELLED

cancel

Jack dan Joel berdiri tepat di depan gedung Octagon yang eksotis berada. Mereka dan para kru televisi bersiap melaporkan berita yang menggemparkan.

“Hei Jack, kau sudah membaca seluruh skrip kan?” Joel memekik keras melawan deru angin disana.

“Sudah dong! Tenang sajalah”, ujar Jack yakin.

Betapa slebor partnernya itu. Sampai-sampai Jack terpaksa selalu mengingatkan hal-hal kecil. Joel menaikkan jari jempolnya tinggi-tinggi. Tanda bahwa mereka full ready untuk pengambilan hot news olaharaga.

“Kami berdua, Jack and Joel melaporkan berita terbaru dari Octagon. Pertandingan Khalid Ramzanov versus Tony Furgeson dinyatakan batal. Khalid Ramzanov terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat masalah berat badan.”, ucap Joel dengan gaya pelaporan yang santai.

“Oh yeah? Sayang sekali Jack! Padahal pertarungan mereka sangat kita nanti-nantikan”

“Alright! Untuk ketiga kalinya, mereka gagal benar-benar berhadapan. Oh, aku tak tahu lagi harus bagaimana”

“Awalnya Tony, lalu Tony lagi, kini pembatalan dari pihak Khalid… sebenarnya, apa yang terjadi dengan Khalid?”

“Keterangan lebih lanjut belum didapatkan secara resmi. Dana White akan mengadakan konfirmasi keadaan ini secepatnya.”

“Aku berharap yang terbaik, Jack!”

Dalam hitungan menit, berjuta pasang mata menyaksikan dan membaca berita menyedihkan itu di laman jurnal olahrga. Tiket yang terjual bersiap dikembalikan. Tony diwawancarai dengan senyum terkulum dan memberi aneka komentar. Dia tidak tahu, apakah harus mengucapkan selamat pada dirinya sendiri. Soal berat badan ini, dia menganggar diri. Betapa dirinya melangkah jauh di ranah profesional. Para haters menyerbu akun-akun resmi Khalid dan berserapah. Sementara para fans the eagle, menerka sesumbar apa yang terjadi. Selain pula rasa heran, dan pastinya sebetik kekecewaan. []

 

*) Tulisan di atas adalah cuplikan dari Fan Fiction “The Title”. Versi lengkapnya bisa follow akun Wattpad @algabiru atau KLIK berikut ini : The Title FanFic

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!