Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sel-sel rahimku’ Category

Bagaimana aku memulainya?

Bahkan aku tidak tahu hendak menulis apa. Aku kehilangan isi kepala dan wacana. Oh begini rupanya “tidak memikirkan apa-apa”. Ketika aku bertanya, “apa yang aku pikirkan?”. Jawabannya ialah tidak ditemukannya jawaban. Semacam tatapan kosong seorang anak bau kencur, yang ditanya kenapa pipis sembarangan. Anak itu tidak tahu pipis itu apa, bagaimana, dan kenapa.

 

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kita manusia, tidak pernah benar-benar mengenal kekosongan, setidaknya dari apa yang aku alami. Aku lalu berpikir (pada fase ini rupaya aku mulai punya ide), kenapa aku bisa begini? Kenapa ada blocking yang sedemikian padat antara keinginan dan kata-kata. Antara harapan dan eksekusi. Bukankah seseorang yang berjalan akan sampai pada suatu titik perhentian? Sedangkan aku sedang mencoba menuliskan sesuatu, lalu menyaksikan “tidak ada apa-apa” disana.

 

Aku mulai mengingat kejadian sehari ini. Sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja untuk diungkapkan, maka aku takkan menceritakannya. Aku beranjak kepada yang lain, semisal :  “tema apa yang membuat tulisanku lebih berarti”. Dan aku mulai meratapi ide-ide yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu kan, seperti baju lebaran yang susah payah dipilih. Kamu bisa merasa lucu ketika bertemu kembaranmu, duplikat penampilanmu. Warna yang sama, pola yang serupa, lalu kamu merasa bersalah, seolah baru saja ketahuan curang saat ujian. Aku bertanya kembali, kenapa aku bisa punya pikiran ‘sok’ begini? Sehebat apapun aku menginginkan originalitas, cepat atau lambat, karya kita, baju yang kita pakai, isi pikiran, akan menemukan duplikasi.

 

Aku berkata kepada seseorang di grup, “Hei, aku ingin baca buku ini. Sepertinya bagus ya?”

Jawabannya sedikit mematahkanku , “Belum tentu deh ya. Aku udah malas baca buku si Anu. Kayaknya tulisan dia gitu-gitu terus. Ngga ada sesuatu yang baru.”. Wow! Kok rasanya berat banget jadi penulis itu ya. Ekspektasi pembaca (setia) makin lama makin meninggi. Pertanyaannya, mampukah aku selaku penulis bau kencur bau kunyit ini menghadapi persoalan semacam itu?

 

 

Persoalan seolah tulisan ini belum juga naik kelas, tidak berkelas, yang lebih parah… penurunan kelas. Wah sungguh bencana!

 

 

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, aku harus mencari kambing hitam. Dan sepertinya, pikiran kotor bercampur keinginan superrr yang membuatku kandas kali ini. Okelah, baiklah.

 

 

 

Salam write’s block!

Karena penulis juga manusia.

algabiru-3.jpg

 

Read Full Post »

Aku mengenalnya sejak kali pertama kami saling bertukar pandang di penghujung tahun 2004. Waktu itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu yang agak ketat disana-sini. Maklum, Islam ideologis belum lama menyentuhku dan di penghujung tahun inilah pelan-pelan aku mendalaminya. Aisyah, yang akrab ku panggil Kak Ais, tampak sedang panas-panasnya mengenyam Islam dimana aku pun kini berada di dalamnya. Dalam jamaah yang shahi ini (insyaallah), kami saling berpegangan dan saling menguatkan.

bagus-picture.jpeg

Kota Medan kala itu, pengemban dakwah masih tergolong sedikit. Dan dalam jumlah yang sedikit, kami bahu membahu bekerja untuk agama Allah dengan segenap kekuatan. Kak Ais ialah sosok yang menawan dari sisi keilmuan. Siapa yang rela mendengar, mestilah yang keluar dari mulutnya sebuah pelajaran. Posisinya sebagai mahasiswa di PTN ternama (Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara) membuat dirinya menjadi permata untuk mendakwahkan Islam.

 

Tiap bulan rutin digelar Jalsah Muna yang terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuannya. Tiap bulan pula aku selalu dibuat terpukau dengan jawaban-jawabannya yang lugas, tangkas dan berdalil. “Wah hebat….. sudahlah berprestasi di kampus, dakwahnya juga okey”. Perangai Kak Ais pun baik. Ringan tangan untuk yang membutuhkan, apalagi untuk dakwah.

 

Hari berganti hari, waktu berganti waktu. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang bersedia kami bina dengan Islam, banyak pula yang menolak.

 

“Kak, kenapa ya ada orang yang menerima dan ada penolakan? Padahal yang kita bawa demi kebaikan dirinya sendiri” tanyaku suatu kali.

“Itu sama seperti pertanyaan kenapa ada surga dan neraka? Sungguh Allah menciptakan dua jalan, manusia diberi pilihan memilih jalannya sendiri” jawabnya.

Cobaan tidak saja datang dari luar, datang pula dari dalam. Suatu kesempatan, mahaly kami bersepakat membuat rumah binaan. Isinya terdiri dari orang-orang yang sudah dibina, sedang dan akan dibina. Klop! Jadi saling melengkapi untuk perubahan. Kak Ais salah satu yang nimbrung tinggal disana. Pas aku lihat-lihat lagi orang yang akan menempati, aku jadi rindu pengen ke rumah binaan terus. “wahhh asyiknya, tinggal bersama rekan seperjuangan”, pikirku.

Sebulan, dua bulan, aura keislaman makin terasa di sekeliling kami. Tapi lama kelamaan seolah ada yang kurang. Di suatu majelis rutin, aku tak melihat Kak Ais. Kemanakah ia?

 

“Kak Rani, Kak Ais mana? Kok kayanya ngga keliatan” tanyaku pada seorang rekan.

“Oh, dia pulang ke rumah orang tuanya. Hemm… Ada urusan sepertinya”

“Ohh ….”

Aku melihat wajah Kak Rani yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ahh, sudahlah. Yah, namanya juga ada urusan, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

 

Waktu demi waktu berlalu, Kak Ais seolah lenyap ditelan bumi. Dia yang biasanya bercengkrama dan bertukar cerita, entah bagaimana kabarnya. Beredar kabar, Kak Ais tidak kerasan tinggal di rumah binaan. Loh, kok bisa? Dugaannya macam-macam. Konon, tidak akur dengan salah seorang kawan. Permasalahan kecil yang jadi besar, dan permasalahan besar yang makin membesar. Atau keadaan rumah binaan yang buat ngga nyaman. Ahhh, apapun itu. Pasti masalah yang kompleks. Sehingga Kak Ais yang ku kenal tabah dan sabar, tampak ‘babak belur’ dan memilih angkat kaki dari rumah yang terbina ini.

“Kak, benar ngga sih Kak Ais pindah dari sini?”

“Kak, apa iya Kak Ais ngga ngaji lagi?”

“Kenapa?”

Seluruh tanya beredar di kepala. Jawaban yang sebenarnya hanya sedikit yang mengetahui. Ahh, sedih rasanya kehilangan satu sel tubuh. Terlebih-lebih sel yang terkenal unggul, produktif pula. Entah setan apa dan entah siapa setannya yang menyebabkan ikatan diantara kami menjadi longgar.

 

Suatu kali sosok Kak Ais kelihatan di mushola kampus. Yah, wajar kali ya. Namanya juga anak kampus, pastinya berkeliaran di kampus. Namun  Kak Ais tidak berlama-lama dan begitu tergesa-gesa. Menghindar ? Mungkin. Ahh, astaghfirullah. Rasa penasaran kadang mengundang rasa su’udzon untuk masuk ke hati ini. Cerita punya cerita, tiap kali ketemu kawan-kawan, sikap Kak Ais sama. Yakni tak suka berlama-lama. Tidak seperti dulu lagi.  Maklum, mungkin karena aktifitas yang dijalani sudah berbeda, ketertarikan terhadap sesuatu pun berbeda kadarnya. Inikah yang disebut “hibernasi dakwah” ?

 

(BERSAMBUNG…  )

OLEH: ALGA BIRU

Read Full Post »

Jika ditanya, seberapa penting? Jawabannya penting nggak penting. Kuis atau lomba menuis memiliki beberapa kemanfaatan seperti berlatih mengeksplorasi tema, meracik plot dan menjaga deadline penulisan naskah. Nggak semua penulis kan punya ide bagus. Giliran ada, sukanya leyeh-leyeh alias menunda, ujung-ujungnya nggak jadi, sampe temanya basi.

tes

Kuis atau lomba menulis tentunya punya standard penulisan dan penjurian. Tantangan itulah yang jadi nilai seninya. Gimana sih supaya menarik ‘perhatian juri’. Itu kalau emang niatnya menang ( ada juga yang ikutan karena mengisi waktu senggang). Yah, itung-itung nambah jam terbang nulis lah. Ngga ada ruginya kan. Saran saya, walaupun sekedar cari pengalaman nulis, namanya hidup harus dorongan. Berikut kiat mengikuti kuis, supaya nggak sekedar jadi ‘penggembira’ doang.

 

  1. Lihat panitia penyelenggara. Ini dalam rangka menilik kualitas penjurian, maksud dan tujuan lomba serta mencegah hal-hal tidak diinginkan semisal penipuan atas nama lomba menulis. Atas nama keikutsertaan lomba, panitia abal-abal kadang meminta bayaran sejumlah uang. Hati-hati… biasanya panitia mumpuni nggak pake bayar-bayaran, apalagi yang bergerak dengan sponsor dan institusi legal. Nggak ada tuh minta uang pendaftaran.
  2. Perhatikan tema lomba. Untuk meningkatkan gairah dan kualitas naskah, maka jangan sekali-kali ikut lomba menulis untuk bidang yang tidak kamu kuasai. Karena itu semacam buang waktu dan menipu diri sendiri. Misalnya : Menulis Essay Peningkatan Transportasi dan Usaha Ekonomi. Secara, latar pendidikan kita di bidang medis, kok kurang nyambung ya.
  3. Cek poin penilaian. Apa sih yang diinginkan oleh juri? Originalitas, kreativitas, atau pokoknya nulis aja deh. Hehe. Ada juga tipe penjurian berdasarkan popularitas di social media (misal : LIKE terbanyak). Kalau saya sih, tipe kuis kayak gini biasanya nggak mau ikutan. Kok kayak dimanfaatin gitu ya kitanya, hehe.
  4. Jaga  deadline. Udah semangat-semangat setor naskah, ehh taunya udah lewat deadline. Nah, disini pentingnya kita punya persiapan dan perhatianmu wahai penulis. Jangan main garap aja, tapi nggak liat tanggalnya.
  5. Hadiah itu gairah. Ini termasuk poin penting kalau mau ikutan kuis. Kalau hadiahnya medali, piagam, sertifikat apalagi voucher belanja (yang ujung-ujungnya disuruh jualin karya penerbitnya), bawaannya langsung manyun. Ya mending nulis lepas aja, free for share, nggak mau jadi umpan pemasaran penerbitan. Bagi saya, penulis ya nulis, penjual ya jualan. Jangan disuruh penulis itu merangkap penjualan. Ada waktu dimana kita memang berdedikasi murni pengen nulis, kala lain pengen jualan. Jangan dicampur-campurlah ya.

 

Berikut salah satu kuis bergengsi yang bisa kita ikuti, saya kutip dari blog Mba Afifah Afra. Yang lain juga ada, entar saya update di postingan berikutnya ya :

“Lomba Penulisan Pariwisata dalam Rangka Hari Pers Nasional 2016”.

 

Lomba ini diselenggarakan untuk mendorong kecintaan masyarakat umum dan khususnya wartawan pada dunia bahari dan wisata Nusantara.  Selain wartawan dan media, empat komponen lain dalam konsep pentahelix itu adalah akademisi, pengusaha, komunitas, dan pemerintah. Total hadiah 500 juta loh!
Berikut ini beberapa ketentuan lomba:
1. Peserta lomba adalah wartawan yang bekerja aktif dan diakui pada satu perusahaan media massa cetak atau media daring. Bisa juga penulis lepas yang menerbitkan karyanya di salah satu media massa atau media sosial, atau pemilik blog yang memublikasikan karyanya di blog pribadinya.
2. Peserta dapat memilih satu dari tiga tema yang disediakan panitia, yaitu:
  • Pertama, Wisata Bahari yang berkaitan dengan kearifan lokal bersifat bahari yang meliputi aspek budaya, seperti ritual, tradisi, gaya hidup, mata pencarian, dan kuliner.
  • Tema kedua, Wisata Halal yang berkaitan dengan program Kementerian Pariwisata menggarap wisata halal secara serius, diawali dengan prestasi Pemerintah NTB mendapat penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination yang diadakan di Uni Emirat Arab.
  • Tema terakhir, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok Tengah yang merupakan potensi kekuatan pariwisata di NTB dan merupakan satu dari 10 destinasi  wisata baru yang dikembangkan pemerintah.
3. Karya tulis juga harus sudah disiarkan atau dipublikasikan di media massa atau media sosial (blog) pada kurun waktu Januari 2015-Januari 2016. Karya tulis dikirim melalui email pwi.pariwisata@gmail.com atau dalam amplop  tertutup dengan mencantumkan kode “Lomba Penulisan Pariwisata” di sudut kiri amplop dilengkapi dengan pemuatan di media (cetak, daring, blog) kepada:
Panitia HPN 2016 
Gedung Dewan Pers Lantai 4, 
Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat 
 
Selambatnya tanggal 25 Januari 2016. Dan disertakan kopi pemuatan di media.
4. Pengumuman pemenang akan disampaikan di arena Hari Pers Nasional 2016 di Lombok pada Februari 2016

 

 

Read Full Post »

IMG20160110132026

Tak lah disangka, rupanya gencatan senjata tak hanya terjadi “Vaksin Versus Pro Vaks” atau lagu lama yang kembali anyar :”Full Mom Versus Working Mom”. Tapi para Mamak mulai merambah dunia “Me Time”, dimana segenap Mamak lain menolaknya. Bukan nolak sih ya, cuma disindir “Jangan manja ya Mak, biasa aja”. Ngga sampe terjadi Netizen-War, cuma sedikit adu mulut  (Eh, sama aja ya. hehe).

 

Bagi saya, ngga papa sih Mak. Nasehat menasehati itu perlu. Seperti perang Mamak Bekerja dan Mamak Rumahan, saya jangan disuruh milih ya Mak. Tiap rumah tangga dan setiap jiwa itu beda karakternya. Ambil aja yang baik-baik di mata agama. Kalau udah pilih jalan hidup, ngga usah lihat kiri-kanan ya Mak, nanti galau lagi. Katanya mau move on?

 

Apalagi pretelan semacam “Me Time” ini. Kalau kita para Mamak, memang lagi butuh piknik, butuh curi-curi waktu untuk menenangkan diri. Tinggal bilang aja. Kan ada rekan seperjuangan kita Mak? Itu Bapak-bapak jangan dilupakan. Mereka yang support kita untuk makin pinter, makin cantik, makin eksis. Jadi, ngga cuma kerepotan seputar anak atau tugas kantor yang dikeloni.

 

Cara tiap orang merasakan “nikmatnya waktu” kan beda-beda ya. Kalau saya, diajak ke toko buku udah senang. Anak-anak digendong dulu sama Bapaknya. Sambil merayu, mendelik sedikit :’Tolong Ya Bang, jaga dulu setengah jam”. Setiap pulang kerja, suami selalu tanya : “Say, malam ini keluar ngga?”. Walau ngga memohon, mungkin suami-suami udah ngerti kalau istri (apalagi Mamak Rumahan) butuh waktu bersama juga di luaran.

 

Bekerja sama, dan sama-sama bekerja aja ya Mak. Stop menilai kebahagiaan dan indahnya “me-time” itu dengan pergi ke salon, jalan-jalan, dan kumpul dengan teman se-konco. Suatu hari saya memohon kepada Allah: “Ya ALLAH, saya pengen istirahat, capek banget semua ini”. Rupa-rupanya bener, langsung dibayar lunas Mak. Jatuh dari motor, tulang iga patah dua biji, tulang jari remuk, tangan sobek, plus kepala bocor. Kontan, me-time banget alias bed-rest selama 2 bulan. Waktu itu situasinya, lagi kuliah, anak satu, hamil anak kedua, dan emang lagi sibuk banget sebenarnya.

 

Gairahkan hidup ya Mak! Ngerti banget kok tuntutan ibu jaman sekarang luar biasa banyaknya. Ah, hanya kitalah yang mengerti Mak. Dan sebagai sesama Mamak-mamak, jangan saling menikung ya. Kadang-kadang, apa yang kita serap, tak seperti kelihatannya. Yakin, surga itu ada di rumah kita, bersama anak-anak dan pasangan.

 

Medan, 11 Januari 2016

 

 

 

Read Full Post »

Ukhti, Don’t Give Up!

Jika hati sudah meleleh

Pikiran buntu tak temukan jalan

Maka tubuh pun seolah remuk tak berbentuk

******

Pernah ngga ngerasain pikiran mumet banget? Berasa di pundak ini memikul berkilo-kilo beban penderitaan. Penyebabnya macem-macem. Nilai jeblok, kehilangan sahabat sampai kisah diputusin kekasih hati. Di akhir tahun ajaran atau semester, korban ‘frustasi’ banyak menimpa kita-kita loh. Pas nilai ujian diumumkan dan ternyata tak sesuai harapan, ya ampyuuunnn…. Cilaka dua belas! Dunia serasa mau runtuh. Ada yang nangis-nangis, teriak-teriak sampai kejang-kejang. Kegagalan itu menyakitkan, kawan!

Hemmm…. Iyah, kegagalan memang menyakitkan. Sesak dan nusuk banget. Segala bentuk yang tidak kita suka, yang bikin puyeng dan berasa malu-maluin sering kita hindari. Salah satunya kegagalan. Ngomong-ngomong soal kegagalan, Alga jadi inget sama satu tokoh dunia, Abraham Lincoln. Selama bertahun-tahun dia harus berjuang untuk mengikuti puluhan kampanye pemilihan dan bangkit dari kegagalan. Tahun 1831, Lincoln mendera kebangkrutan bisnis. Setahun berikutnya, ia coba ikut pemilu. Ehh… gagal. Belum kapok juga, tahun 1834, Lincoln kembali mengadu nasib dalam pemilu. Tahu hasilnya? Gagal maneng, sodara-sodara! Huahaha…. Kegagalan demi kegagalan terus menuai dirinya di tahun-tahun berikutnya. Bukan hanya kalah pemilu, bahkan pada 1836 dia mengalami penyakit nervous breakdown akibat rasa sedih mendalam pasca kematian kekasih tercinta. Apakah Lincoln menyerah? Weits, pantang menyerah. Barulah pada tahun 1860 ia akhirnya berhasil menduduki jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat. Rasulullah SAW, sebagai teladan yang agung juga sosok yang sabar dalam segala dera. Dalam dakwahnya, berkali-kali rasul ditolak oleh para pemuka kabilah. Semua mencemooh dan termakan dengan hasutan para penghasut. Bahkan ketika rasul datang ke bani thaif untuk meminta nusroh (pertolongan), pemuka bani thaif malah menyuruh orang-orang bodoh dan anak-anak untuk melempari rasul layaknya orang gila yang masuk ke kampung orang. Masyaallah, tega bener tuh orang-orang. Meski sudah diperlakukan dengan sadis, ngga pernah rasul berputus asa. Orang-orang jahil tersebut malah didoakan supaya cepat sadar dan rasul bangkit dengan strategi berikutnya, walau hati rasul sempat sedih mendapat penolakan yang sedemikian rupa. Begitulah orang-orang besar. Mereka hidup dengan jiwa yang besar, tidak keok ditimpa ‘kegagalan’.

Sebenarnya kegagalan itu tidak perlu ditakuti. Angkatlah ia menjadi teman, sebab tidak ada orang yang bisa mengelak sepenuhnya dari kegagalan. Lalu, seperti apakah mengangkat kegagalan sebagai teman? (Baca teroossss ya…)

****

FAILURE QUOTIENT FOR UKHTI FILLAH

Failure Quotient ? Apaan tuh? Failure Quotient alias kecerdasan kegagalan adalah kemampuan seseorang dalam mengelola rasa takut, ketidaknyamanan, depresi akibat kegagalan yang menimpanya sehingga berubah menjadi energi positif yang membangkitkan. Kegagalan yang biasanya menjadi momok bagi banyak orang, secara ‘simsalabim’ bisa diubah menjadi semangat dengan menghadirkan failure questient dalam diri kita. Tangis berubah menjadi senyum. Energi negatif diubah menjadi energi positif (Duehh… berasa lagi belajar fisika nih, hehe). Woi, walaupun kita ini cewe-cewe yang identik dengan sisi melankolis…. tapi bukan berarti boleh cengeng. Apalagi berujung pada putus asa. Wehh… alamat sesat, sist!

Mereka menjawab,’Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa’. Ibrahim berkata,’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmad Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat’ (TQS. Al-Hijr: 55-56)

Hii… syerem euy. Kalo udah kena virus ‘putus asa’, dunia berasa gelap. Harapan-harapan bisa pupus. Wuss.. Lihat aja kasus bunuh diri yang menimpa kalangan remaja. Biasanya karena hilangnya harapan dan berharap pada mimpi kosong. Syaithan menggembosi kita untuk kalut dan ragu menghadapi hari esok. Maka mulailah kita berburuk sangka pada segala sesuatu. Nah, yang paling parah, kita berburuk sangka pada Allah ta’ala. Rasul SAW pernah bersabda sebelum wafatnya:

tidak boleh mati salah seorang diantara kalian kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah(HR. Muslim)

Dalam hadist qudsi juga disebutkan: ”Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku, apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya. Dan bila berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan baginya(HR. Ahmad)

Ukhti yang Alga sayangi, Masa sih kita buruk sangka pada Allah yang sudah demikian baik ? Semua udah DIA beri. Kehidupan, usia, rizqi dan buanyaaakk lagi. Nafas gratis, paru-paru gratis, ginjal gratis, coba kalo bayar?? Hehehe. Ayooo…. Jangan menyerah! Kita pasti bisa! Allah bersama kita, yup! < Alga Biru>

Read Full Post »

^Senyum^

Senyumku  adalah ketukan tak putus harap yang siap diuji

Rindu dan senyum ini seperti tong kosong yang diadu. Terlalu nyaring!

Senyumku adalah  hikmah yang bertebaran tanpa kendali. Seperti bulu itik yang ditiup-tiup sehabis mandi….

Terima kasih untuk semua orang yang telah mengajariku tentang rasa syukur dan sabar. Untuk hidupku yang begini hebatnya…

Ahh,,… Tak sanggup ku hitung betapa banyaknya nikmat ini.

Alhamdulillah Ya ALLAH*

^Senyum^

Read Full Post »

Kawan-kawan, maksud saya evolusi. Bukan revolusi. Belum banyak hal-hal yang terkategori ‘revolusi’ dalam hidup saya. Akan halnya pula evolusi itu sendiri.Rata-rata berjalan dengan kecepatan rata-rata. Tidak terlalu cepat, tidak juga seperti kura-kura.Adapun kisah evolusi dimulai dari sebuah karya kecil ’sigmoid’ yang sempat mewarnai hari-hari saya sejak tahun 2007 ke 2008. Lembaran Proyek Sigmoid berjalan indah dan keringat mengering diatasnya. Sekarang karya itu sudah jadi dan entah kemana. Virus trojan sudah melahapnya habis tak bersisa. Belum sempat me-recovery, tiba-tiba saja saya kehilangan selera. Kala itu saya memang sedang futur berat. Salah seorang sempat berkata:”ayo Alga, menulis lagi”. Kasihan anak itu, karena tidak saya gubris. Sebagai rekan sejawat, kita memang agak prihatin jika ada yang ’syahid’ di setengah perjuangan. Hehehe. Duh, syahid. Saya ganti deh kata-katanya, karena terlalu terhormat. Hemm,… yah, semacam ’gugur’ sebelum berkembang. Blog di wordpress ini telah menjadi saksi bisu, saya yang sempat menjadi mayat hidup. Atau hidup sebagai mayat.Juli 2008, hingga Januari 2009. Tak ada postingan apa pun. Bahkan untuk sekedar copypaste. ”Saya sedang semedi”. Begitu alasan saya.

Sigmoid… sangat ilmiah kedengarannya. Terbukti, banyak yang mengeluh ketika membacanya. Hehe. Tetangga saya pernah saya paksa untuk membaca. Dan dia menyerah di Bab satu (hihihi…) Lantas… saya beranikan diri ini untuk keluar dari hidup saya. Saya bosan dengan karya-karya Sub Marcos, literatur yang bermodus ’politisasi’. Saya juga sempat bosan dengan kitab Nizhomul Islam (Walo sekarang jadi makin suka). Saya cukup terhibur dengan Supernova, tapi kemudian saya bosan juga. Saya jenuh dengan orang yang mondar mandir, seperti kutu banyaknya. Saya bosan banyaknya testimoni di Friendster. Saya bosan dengan gemerlapan, saya bosan jika sedikit-sedikit dekat pada maksiat. Benar-benar jenuh di kala itu. Dan, kebosanan itu menuntut korban yang jatuh. Sigmoid laksana tumbal bosan yang diakhiri dengan Rest In Peace di liang lahat.

Masih dalam konteks ”mencari dunia baru”. Saya beranikan diri untuk membaca ’ayat-ayat cinta’. Awalnya gara-gara liat si Apu kayanya (Hahaha… aya aya wae). Dan saya pun berhenti. Saya hanya mengobati penasaran, kenapa banyak yang gandrung dengan AAC ? Saya senang dengan kiriman Cirex ”Sepasang Mata untuk Cinta yang buta”. Boleh juga. Dan pencarian belum usai. Dalam kefuturan ini, saya terdengar agak kekanakan. ”Saya ingin dimengerti”. Dan saya memulainya dengan mencoba untuk memahami, kenapa ada orang yang enak dalam bertutur dan tidak mengalami miss-interpretasi. Hal yang paling menggelikan dari pencarian ini adalah uji coba saya untuk ”menjadi orang lain”. Menarik loh! Saya tidak menolak untuk menjadi Nurhadi, jika itu adalah langkah yang baik. Saya tidak menolak, jika saya memakai dialek Habiburrahman jika itu mewujudkan kebajikan bagi orang yang membacanya. Saya tidak keberatan menjadi apa pun dan siapa pun, jika itu adalah fase metamorfosis dalam penjelmaan menjadi kupu-kupu.

 

………….Ada tutur kata terucap…………

……….Ada damai yang ku rasakan…..

…..Bila sinarnya sentuh wajahku….

………Pencarianku pun usai sudah…….

Saya tidak mengenal istilah ”be your self, and whatever what they say”. Karena saya menafsirkan itu sebagai tindakan sebego-begonya orang bego. Yah… masa udah bego, mau tetap jadi diri sendiri yang bego ??? hehehe. (Untuk tulisan “be your self”-nya Raindraze, itu pengecualian)

Januari 2009, saya kembali “mengudara”. WordPress aktif lagi, YM juga. Walo pun sampe sekarang masih ada residu akibat dibajaknya email merahmaron@yahoo.com. Inbox yang sudah saya pertahankan sejak SMP. Dan… yah… EVOLUSI !!

Pelan tapi pasti, gaya tulisan saya pun mengalami evolusi. Saya tidak akan mentok pada jargon revolusi, tidak juga bercukup diri topik membongkar misteri kehidupan. Saya ingin necis meski dimandat untuk mengangkat tema-tema cinta. Tidak keberatan jika perlu membahas keteladanan jihad dan komersialisasi agama dalam satu paket.

Cara pandang saya bergerak satu per satu. Ranah perjuangan saya mulai stabil. Saya mulai membuka diri lagi. Saya tidak perlu ’sayap-sayapan’ untuk terbang. Dulu, sempat sedih ketika separuh sayap saya terbang dibawa rembulan berasa madu. Sampai sekarang masih sedih sih. Tapi… yah.. sayap itu bukan rizqi saya. Bodohlah saya jika saya berprasangka buruk pada ketentuan-Nya. Dengan keringat dan air mata, saya bangun tangga menuju langit luas. Dengan keringat dan air mata, saya yakinkan diri saya, bahwa undakan langit ini harus selesai sebelum saya mati.

Maka nikmatilah apa yang bisa tersaji disini. Saya pun begitu. Menikmati masukan kalian. Apresiasi, atau berbagi mimpi disini. Atau jika mau, kita berlomba membangun tangga langit bersama. Ya, menikmati apa yang belum dicapai. Menikmati apa yang sudah diberi. Sekali lagi, nikmatilah apa yang tersaji disini. Siluet metamorf, yang merupakan penggalan-penggalan kehidupan dari dunia yang bertajuk ”Rahim_Imajinasi”. Mari bertelur !!

 

Catatan: Terima kasih untuk yang sudah berkunjung ke Rahim_Imajinasi. Terima kasih untuk yang sudah membaca Sigmoid. Terima kasih untuk yang masih mengingat saya. Terima kasih bagi para  penjaga islam (Kalian kereeennnn!)

Read Full Post »

Pengemban Dakwah, menggenggam dunia dengan mabda'

Allah Maha Besar...... Kemegahan dunia ini kecil dan remeh

Para pengemban dakwah, sungguh saya terkagum dengan apa yang Anda lakukan. Begitu banyak orang yang menginfakkan harta, namun Anda tidak hanya berinfak materi. Lebih dari itu, Anda telah mewakafkan diri Anda di jalan Allah. Suatu jalan dimana banyak orang tak melihatnya secara kasat. Jalan yang tak terlihat namun Anda mengejewantahkannya dengan segenap yakin. Anda mewujud dimana Anda melihat dengan penglihatan-Nya, dan berbicara dengan bicara-Nya.

Dengan ini pula, Anda membuat para sahabat merasa iri dengan apa yang Anda lakukan. Anda mendapat pahala yang berkali lipat dari kedudukan mereka. Betapa tidak, wahai penyeru agama,…. Sekalipun Anda jauh dari Rasulullah, Anda tetap memegang sunnah beliau seumpama Anda mempertahankan nyawa. Bukan main wahai saudaraku, Rasul pun memuji Anda dalam majelisnya. Beliau SAW bersabda: ”Beruntunglah orang-orang yang melihat aku dan beriman kepadaku (beliau menyebutnya satu kali). Dan beruntunglah orang-orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku (beliau menyebutnya tujuh kali)”


Ya, beginilah galaksi perjuangan para pengemban dakwah yang dicemburui orang-orang terdahulu. Anda rela menjadi terasing diantara jutaan sesak umat manusia di dunia. Anda telah memilih jalan keterasingan yang dirahmati sekalipun harus menggenggam bara api. Keterasingan Anda tak menghalangi jiwa Anda untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Rasulullah bersabda: ” Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing. Siapakah orang-orang yang asing itu? Yakni orang-orang yang melakukan perbaikan pada saat manusia umumnya rusak”


Betapa membanggakannya usaha perniagaan Anda. Berjual beli di hadapan Allah, dimana tak satu pun janji yang Allah ingkari. Anda telah menukar jiwa Anda dengan sesuatu yang belum ada bandingan-Nya yakni illyin dalam genggaman-Nya. Dari jual beli tersebut, dengan segenap pengabdian, Anda menghabiskan sisa umur untuk perbaikan umat manusia. Andalah ’orang besar’ sekalipun terlihat kecil dalam kacamata duniawi.

Anda telah menjadi ’orang yang besar’ justru tatkala Anda memandang dunia ini kecil. Betapa kecilnya. Amat sangat. Hal itu tiada lain karena Anda memiliki sesuatu yang besar dalam jiwa Anda. Anda telah memayungi ubun-ubun Anda dengan kekuatan iman yang tasdiqul jazm kepada Allah. Anda memiliki Allah Yang Maha Besar dalam bait dan spasi kehidupan Anda. Telah Anda dedikasikan kekuatan ruh itu hingga titik penghabisan dan nafas Anda yang terakhir. Bagi Anda, Allah Yang Maha Besar merupakan poros dalam dinamika hidup ini. Sehingga banyak hal rumit kian mengerucut. Seumpama kerumitan itu hanya berupa partikel-partikel yang ber-tawwaf. Kerumitan yang membuat lisan Anda basah dengan dzikir dan semakin membuat diri Anda dekat kepada-Nya.

Teruntuk Anda yang dulunya sempat terseok dalam kebatilan, namun kini telah memilih jalan dakwah ini sebagai muara: Selamat wahai saudaraku!!! Ini menjadi pilihan yang amat genting. Anda memilih sebuah peran penting dan dimuliakan. Sebuah peran yang memiliki banyak tantangan dan reward dalam pangkuan Sang Ilahi Rabbi. Peganglah selalu komitmen Anda dengan segenap kesadaran dan keikhlasan. Tidakkah ini juga mengingatkan kita pada kegagahan Sayyidina Ali ketika bersyahadat di usia yang belia dan istiqomah bersama kutlah Rasulullah. Allahu Akbar ! Semoga Allah mempertemukan kita dengan beliau dan para pejuang sejati yang telah berkorban dengan darah, keringat dan air mata.

Wahai Saudaraku, para pengemban dakwah… bersabarlah, bersabarlah dan bersabarlah. Allah akan mengeluarkan kita dari gelap menuju cahaya. Allah tiada cacat dalam memenuhi janji-Nya. Maka saksikanlah wahai umat manusia… Allah akan menjawab segala apa yang Dia kabarkan.

”Dan katakanlah: kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap”

(TQS. Al Isra’:81)

 

Dari Saudaramu: Dian Hasibuan

Read Full Post »

                    Kadang kala kita tertimpa rasa bosan dalam membina satu hubungan. Rasanya tak semanis pertama berjumpa, tak deg-deg-seeerrrr sejak pertama berkenalan. (Loh, kisah apaan nih ? sejoli ?). Jawab: Ga menciut jadi kisah sejoli aja, tapi dalam gambaran lebih luas, kisah pertemanan pun demikian. Ketika kali pertama kita mengenal seseorang dan mengadopsinya sebagai ‘teman’, kita boleh jadi tertarik untuk mengetahui lebih dekat. Ingin tau dimana rumahnya, apakah kita memiliki hobbi yang sama, watak yang serupa atau bahkan memiliki sudut pandang sejenis. Orang baru, dunia baru. Namun seiring dengan berjalannya waktu, hubungan itu seolah bertemu dengan rasa ‘basi’.
Saking basinya, “apa kabar?” seolah benar-benar menjadi sebuah ‘template’ yang teracuhkan. Kita pun sering kali lupa menampilkan muka yang berseri-seri ketika berjumpa. Alih-alih menjawab sapaan dan bersedekah dengan senyum, kita cenderung tidak mau menggali apa pun selain masalah di kepala kita yang tampaknya menumpuk. Setidaknya, bagi saya.. dari bertukar kabar, kita bisa mendapat solusi alternatif dan inspirasi dari lusinan masalah kita yang menumpuk. Saya tidak akan memberi CAP STEMPEL LEMAH untuk teman-teman saya yang datang dengan keluhan. Taukah kita, justru disanalah seni dalam pertemanan. Tentu kita tidak akan mengeluh pada sembarang orang bukan ? Tentu kita juga tidak perlu menelan seluruh masalah kita sendirian? Dengan menelan bulat-bulat permasalahan, disanalah kita memperoleh nilai minus dalam membentuk hubungan. Kita mungkin sedikit autis bahkan merasa jadi hebat dengan berhasil hidup sendiri.
Sebuah Deskripsi
Sebuah Deskripsi

           Kemandirian tidak diukur dari sana, itu menurut saya. Kemandirian itu berawal dari mantap pikir dan ahli batin. Maksudnya, kita berpikir dan berbuat dalam meraih suatu tujuan. Caranya dengan giat memacu diri sendiri, namun jangan kesampingkan orang lain. Undanglah orang lain untuk sedikit memasuki wilayah dan masalah kita. Disanalah kita bisa mengasah batin. Kadang dalam sebuah percakapan, bisa saja terjadi salah paham atau adu pemikiran. Benturan itu takkan terelakkan. Maka ingatlah akan tujuan, insyaallah batin kita akan terasah.
Ya, asahlah batin dan pikirmu. Mengasah batinmu dengan terjun ke dalam kehidupan teman-temanmu dengan dirimu berjalan bersamanya. Taukah kamu bahwa pengasahan batin adalah sesuatu yang nyaris tiada batasnya ? Jadikan setiap dinamika yang ada menjadi sekolah bagi kehidupan. Pengalaman temanmu adalah cermin bagimu. Kesahmu adalah bonus untuk mengasah batinnya. Dan riang hatinya merupakan obat dari kegundahan yang mungkin belum terjawab.
Betapa indahnya membina hubungan dengan pola pengasahan batin seperti ini. Maka kita pun tidak akan meremehkan sebuah pertanyaan ‘apa kabar’. Kita juga tidak akan mengesampingkan sebuah kata ‘yes, I am Fine’ yang mungkin dilontarkan.
                Melalui tulisan ini saya sekalian ingin minta maaf kepada orang-orang yang bisa jadi merasa saya ‘desak’ dengan pertanyaan lanjutan. Melalui pertanyaan lanjutan, sebenarnya saya hanya ingin memutus mata rantai ‘individualistik’ dari benak saya selama ini. Bosan juga jadi orang individualis ( hehehe… kalo ini mah wajib bosan yak!). Tapi kalo terganggu, biasanya sih saya adem aja. Maklum, setiap jiwa pada dasarnya memiliki Free Zone dalam dirinya. Itu fitrah. Konon, rahasia membuat manusia (terutama wanita) menjadi benar-benar seorang wanita.
Jika sudah demikian, akankah kita merasa bosan dengan pertemanan atau hubungan yang sudah ada ? Akankah kita kehilangan gairah pada orang yang ada di depan kita, dengan berpikir wujudnya ‘itu-itu saja’. Setiap diri adalah aset yang terus tumbuh dan pemilik kawah yang dalam di palung hatinya. Kisah penggalian watak dan batin ini takkan usai. Dan kita akan merasakan manisnya, ketika ia telah tiada atau ketika telah banyak kenangan yang kita gores bersama. Kita akan rinduuuuuuuuuuuuu sekali. Seperti kerinduan Rasulullah pada Khadijah. Yang tidak habis rasa rindunya bahkan ketika Bunda Khadijah telah tiada. Penggalian Sejati ! Pertemanan Abadi! Subhanallah….
Semoga pertemanan kita seperti beliau. Amin
TERUS MENGGALI !!!

(Footnote: “Wombat! Terus Menggali!”-à Keinget istilahnya Dee-Supernova)
Oleh: Alga Biru
Medan Asik Nian, 04 September 2009

Read Full Post »

FLYING WITHOUT WINGS

FLYING WITHOUT WINGS
(Episode “Buku Harian”)

Apa yang kamu bayangkan ketika diberi kesempatan untuk membaca buku harian seorang yang telah tiada ? Kalau saya ditanya, maka saya katakan bahwa saya “ketagihan”. Ada rasa merinding memang, ngeri rasanya membayangkan jika ternyata si empunya melihat saya dari dunia lain. Tapi apa yang akan kamu lihat di lembaran buku harian ?

Kejujuran…
Kehancuran…
Tumpah ruah…

Tiap orang berbeda-beda dalam memanjakan buku hariannya. Atau bisa dikatakan,tiap orang berbeda-beda meramu makna dari tiap kata yang ingin ia tuangkan. Ada yang ingin menggambarkannya secara lugas, tangkas dan hilang kendali. Konon, ketika kita telah menuangkan sesuatu,… masalah di pundak seakan hoyong separuhnya. Buku harian, memberikan ruang monopoli bagi pemiliknya untuk menghakimi apa saja dan siapa saja. Disana, dia boleh sedih, gembira, menghujat, sinis, salah paham atau bahkan salah terus-terusan.

Demikianlah buku harian sebagai ruang privacy, dimana nasib menjadi kesendirian masing-masing. Huufff… Terkadang, kita sulit menerima mahluk hidup yakni manusia sebagai ruang untuk berbagi. Terlanjur ada tembok, atau bahkan tembok itu pun seakan bertelinga. Padahal, boleh jadi,.. dengan berbagai sesama manusia, kita justru mendapat pencerahan. Dengan syarat, kita bersedia memanggul konsekuensi akan ada pro-kontra. Dan syarat tambahan, kita juga harus rela beradu pemikiran. Sedikit berbantahan untuk kemudian meraih lebih dari sekedar win-win solution, dengan kata penutup “wassalam”.
Kenyataan lain yang menjadi daya tarik buku harian adalah karena ia bisa dipercaya. Tidak ember kemana-mana. Kecuali ada tangan jahil yang membongkarnya. Beda dengan manusia, yang sering keburu nafsu untuk mengumbar aib saudaranya. Inilah dunia, manusia baik ada. Manusia ember pun tak kalah banyaknya.
Ngomong-ngomong soal buku harian, sudah 3 tahun belakangan ini saya tidak menulisnya lagi. SIGMOID sempat menjadi pelarian saya dan tempat sumpah serapah yang sangat haru. Dari Sigmoid, saya juga mulai berani melangkah untuk mempercayai manusia untuk menjadi telinga atas sejumlah unek-unek saya. Dari Sigmoid, setidaknya saya coba-coba bertanya dengan hati-hati: ” duhai kawan, apakah saya orang aneh? Apa cerita fiksi saya bisa dicerna?”
Dan saya amat bersyukur, saya menemukan pantulan saya.

Pantulan !!

Ya, satu hal tidak bisa didapatkan dari sekedar menulis buku harian, dimana biasa kita sembunyikan rapat-rapat di lemari atau laci. Apresiasi, kritik, ketidaksetujuan, penolakan bergabung menjadi satu adonan dan membidik saya untuk memperkenalkan siapa diri saya sebenarnya.
Sekarang, saya memilih untuk berekspedisi akan telinga siapakah yang kena sial karena mendapat muntahan saya ?? Muntahan pemikiran, perasaan saya. Oh ya,, satu lagi yakni muntahan imajinasi saya. Sebenarnya, ada kekhawatiran andai sewaktu-waktu ‘muntahan’ saya bocor. Tapi biarlah,,,mudah-mudahan deskripsi seputar neraka Jahannam mampu sebagai stop dan rem untuk tidak mencipratkan isi curhat dan muntahan saya tersebut. Kalau toh bocor juga, saya pikir…disanalah kantong pahala kesabaran menggembul.

Buku harian,…

Atau Manusia sebagai pendengar,,,

Sama saja fungsinya. Sama-sama berpotensi sebagai tempat singgah untuk berbagi masalah. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tinggal bagaimana kita memilih dan menjadikannya tepat guna dan sasaran.
Terkhusus panggilan keimanan sebagai solusi atas gejolak dari ghorizah Baqa maupun Ghorizah Nau yang dimiliki manusia, Ghorizah tadayyun pun membimbingnya. Sabar dan Sholat terpilih sebagai jalan dimana segala keluhan didengarkan-Nya. Dia Yang Maha Menyaksikan takkan tinggal Diam. Dia Yang Maha Mendengar, senantiasa mendengar desah dan niat. Hanya, Dia sudah berjanji untuk memberi uji dan coba, agar kita hanya tunduk pada-Nya. Tiada bersandar pada apa pun selain pada-Nya. Tiada keabadian, selain Abadi milik-Nya.
Lantas ketika esok menggapai, ada salam bahagia dan ceria. Disanalah, rasa syukur kita bertambah. Allah tidak membiarkan kita sendirian. Allah masih menemani dan memberi kita teman. Allah telah menciptakan kita berpasang-pasangan. Allah pun mencipta kita berlainan dengan garis tangan yang berbeda-beda.

……….
……….
Bilakah tiba masanya ketika buku harian yang sebenarnya dibacakan ? “Buku harian” yang selama ini dicatat oleh malaikat pencatat di kiri maupun di kanan. Yakni ketika perkumpulan di padang mahsyar. Entah kita mendapat di tangan kanan, atau melalui tangan kiri. Disanalah, ketika mulut tak dapat berhujjah. Semua saksi nyata dihadirkan. Yang diam akhirnya bicara….

ALLAH… ALLAH… ALLAH…
Giring aku menuju kebaikan

Oleh: Dian F Hasibuan —-“flying without wings”

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

moved to : https://jetaisparisienne.com

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

moved to : https://jetaisparisienne.com

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang