Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Arti hadirku’

Perang kepentingan kali ini, udah kayak Castiel bingung belain siapa, raja neraka ataukah bela Whincester Bersaudara. Kata orang bijak alias motivator alias yang pengendalian dirinya tingkat dewa :”bukan waktu yang kurang, tapi bagaimana kita mengaturnya”. Kadang ngalamin nggak sih yang namanya, bingung harus mendahulukan yang mana. Rasanya ingin semuanya tapi ngga bisa, rasanya pengen bisa tapi pastinya ngga bisa. Hehe…. Tamak memang tidak punya tempatnya.

Yang ikut ODOP apa kabar? ODOP alias One Day One Post, yang tentu dimulai dengan basmalah, dilalui dengan keringat, dan belum tahu nanti akhirnya gimana. Kemarin kebobolan, tak sentuh ini blog kesayangan. ODOPnya libur dulu sehari, hehehe….Ngga ada yang nyariin juga kali ya.pena-2

Gagal nge-ODOP gegerapa seharian di luar. Nemenin si kakak yang udah 2 minggu ngga liat keramaian. Kejamnyaaaa…. Selepas itu, sekarang tiap hari harus sudah mulai cicil naskah, yang sayang sekali sodara-sodara,naskahnya masih rahasia jadi ngga bisa sebar gitu aja dengan Cuma-Cuma. Eyaa… Malamnya berjibaku menidurkan si adik yang selalu menolak tidur. Entahlah. Kenapa sih anak-anak mau tidur aja kayak disuruh kerja paksa?!

Jadi, satu alasan kepada alasan berikutnya. Makanya, ini perang kepentingan campur perang alasan. Mana alasan yang paling masuk akal. Sebab setiap perkara harus ada kambing hitam. Terlepas dari itu, saya selalu rindu nge-ODOP, terlepas berbagai rintangannya. Setiap perjalanan manusia itu ada seni memintal kisah, memperjodohkan kesempatan dan destinasi takdir. Saya ingin ada disana, memahami maksud setiap kejadian.

Iklan

Read Full Post »

IMG20160110132026

Tak lah disangka, rupanya gencatan senjata tak hanya terjadi “Vaksin Versus Pro Vaks” atau lagu lama yang kembali anyar :”Full Mom Versus Working Mom”. Tapi para Mamak mulai merambah dunia “Me Time”, dimana segenap Mamak lain menolaknya. Bukan nolak sih ya, cuma disindir “Jangan manja ya Mak, biasa aja”. Ngga sampe terjadi Netizen-War, cuma sedikit adu mulut  (Eh, sama aja ya. hehe).

 

Bagi saya, ngga papa sih Mak. Nasehat menasehati itu perlu. Seperti perang Mamak Bekerja dan Mamak Rumahan, saya jangan disuruh milih ya Mak. Tiap rumah tangga dan setiap jiwa itu beda karakternya. Ambil aja yang baik-baik di mata agama. Kalau udah pilih jalan hidup, ngga usah lihat kiri-kanan ya Mak, nanti galau lagi. Katanya mau move on?

 

Apalagi pretelan semacam “Me Time” ini. Kalau kita para Mamak, memang lagi butuh piknik, butuh curi-curi waktu untuk menenangkan diri. Tinggal bilang aja. Kan ada rekan seperjuangan kita Mak? Itu Bapak-bapak jangan dilupakan. Mereka yang support kita untuk makin pinter, makin cantik, makin eksis. Jadi, ngga cuma kerepotan seputar anak atau tugas kantor yang dikeloni.

 

Cara tiap orang merasakan “nikmatnya waktu” kan beda-beda ya. Kalau saya, diajak ke toko buku udah senang. Anak-anak digendong dulu sama Bapaknya. Sambil merayu, mendelik sedikit :’Tolong Ya Bang, jaga dulu setengah jam”. Setiap pulang kerja, suami selalu tanya : “Say, malam ini keluar ngga?”. Walau ngga memohon, mungkin suami-suami udah ngerti kalau istri (apalagi Mamak Rumahan) butuh waktu bersama juga di luaran.

 

Bekerja sama, dan sama-sama bekerja aja ya Mak. Stop menilai kebahagiaan dan indahnya “me-time” itu dengan pergi ke salon, jalan-jalan, dan kumpul dengan teman se-konco. Suatu hari saya memohon kepada Allah: “Ya ALLAH, saya pengen istirahat, capek banget semua ini”. Rupa-rupanya bener, langsung dibayar lunas Mak. Jatuh dari motor, tulang iga patah dua biji, tulang jari remuk, tangan sobek, plus kepala bocor. Kontan, me-time banget alias bed-rest selama 2 bulan. Waktu itu situasinya, lagi kuliah, anak satu, hamil anak kedua, dan emang lagi sibuk banget sebenarnya.

 

Gairahkan hidup ya Mak! Ngerti banget kok tuntutan ibu jaman sekarang luar biasa banyaknya. Ah, hanya kitalah yang mengerti Mak. Dan sebagai sesama Mamak-mamak, jangan saling menikung ya. Kadang-kadang, apa yang kita serap, tak seperti kelihatannya. Yakin, surga itu ada di rumah kita, bersama anak-anak dan pasangan.

 

Medan, 11 Januari 2016

 

 

 

Read Full Post »

*Tangga Kesuksesan*

TANGGA KESUKESAN

Tangga kesuksesan itu ngga panjang kok. Ini urutannya: gagal –>introspeksi –>bangkit lagi !

***

Berikut ini kiat-kiat bangkit dari kegagalan demi meraih kesuksesan:

Pertama, Cintai dirimu.

Huee…. Cinta diri? Narsis dong. Yee… sebenarnya sih ngga gitu-gitu amat. Maksud mencintai diri dalam hal ini adalah kita menghargai keberadaan diri. Terimalah diri kita, baik kelebihan maupun kekurangan. Siapa lagi yang bisa menghargai kita selain diri kita sendiri? Nah, darisanalah harapan akan terbit. Optimisme akan melahrikan kekuatan tiada banding.

Kedua, Aktualisasi kegagalan.

Gagal bukanlah aib. Orang yang gagal dalam banyak usaha untuk sukses adalah lebih baik ketimbang orang yang ngga pernah gagal karena takut mencoba. So, jangan minder karena pernah gagal. Pilihan ada di tangan kita: berjuang dan menang atau menyerah dan kalah.

Ketiga, Gagal untuk belajar.

Ya, Seperti yang udah disebutkan dalam point sebelumnya, bahwa kegagalan bukan aib. Kegagalan justru jadi ajang pembelajaran. Kita baru tahu manisnya perjuangan ketika ada ‘action’, bukan cuma konsep. Dari ‘action’ tadilah kita mendapat pelajaran mental, psikis dan spiritual. Dari aksi nyata, kita akan bercermin dan langkah berikutnya akan lebih mawas dan tampil memukau.

****

“….Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (TQS. An-Najm: 39)

******

<Alga Biru>

Read Full Post »

Sebuah prolog

Mari masuk ke dapur pencerdasan

Cerdas ini akan tersaji di dapur uji kita hari ini

Bahan telah kita siapkan

Dan adonan yang segera dilumatkan

Maka jadilah, cerdas itu lezat

Cerdas milik semua….

Cerdas…. Kita tak pernah tahu, kondektur bus yang kerap kali kita cela bisa jadi jago penalaran matematika. Tak pernah sedikit pun terbenak, di balik anomali penderita autis ternyata menyimpan daya seni tiada banding. Siapa yang menyangka, dari papan kelontong Pak Ucup, ialah sang pemilik jiwa  pemimpin sekelas jenderal. Mereka semua merupakan cuplikan cerdas yang tersembunyi. Cerdas pun mengintip, seumpama tikus-tikus di dalam got.

*******

Salah satu mitos pendidikan terkenal adalah bahwa kita mengetahui apa itu kecerdasan, bagaimana meningkatkannya, bagaimana menilainya dengan tepat. Ada sekumpulan mitos lain yang mengikuti pendapat ini. Misalnya, adalah mitos bahwa IQ yang lebih tinggi selalu setara dengan keberhasilan yang lebih besar dalam kehidupan. Ingatlah bahwa Theodore Kacynzski (Si Unabomber) adalah seorang yang sangat cerdas dan lulusan Harvard. Adalah mitos bahwa siswa-siswa yang nilainya tinggi akan melakukan lebih banyak hal untuk negara atau planet ini. Adalah mitos bahwa sekolah-sekolah menggunakan data IQ dengan bijaksana saat mereka mendapatkannya. Adalah mitos bahwa kita dapat secara kolektif mendifinisikan dan mengukur IQ dalam cara-cara yang paling disetujui. Dan akhirnya, adalah mitos besar bahwa kecerdasan adalah “sesuatu”, sesuatu yang dimiliki atau dibawa saat melakukan perjalanan. Sesuatu ini, secara aktual, sangat tergantung pada situasi-situasi.

Kondisi-kondisi semisal kebudayaan, bahasa dan situasi-situasi latar belakang, semuanya bisa membuat setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan mekanisme seperti ini, seseorang berdiri sebagai sosok yang unik, dengan tonjolan kelebihannya di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Bagaimana kecerdasan seorang ’monster’ saham Bursa Efek bila dia berada di hutan lindung Papua ? Tebak sendiri berapa lama dia survive berada disana. Lantas berapa lamakah suku pedalaman Maluku mampu bertahan di ’hutan gersang’ ibu kota Jakarta ? Beberapa hal yang kita sebut dengan kecerdasan tampaknya sangat berbudaya dan tergantung konteks. Sehingga siapa pun yang kelewat banyak titel pada hari ini (kecuali titel almarhum di depannya), tampaknya harus merenovasi persepsi kecerdasan yang sebenarnya.

Ada satu fenomena menarik yang terjadi pada tahun 1980-an, yang dilakoni oleh sekelompok psikolog Amerika. Mereka mengamati pemuda Brasil yang tidak memiliki pendidikan sekolah formal sedang melakukan perhitungan matematika cepat sebagai bagian dari transaksi-transaksi bisnis selaku pedagang kaki lima. Para pebisnis ini dilakukan ujicoba. Para peneliti mengamati manakah ketelitian yang lebih akurat, antara pedagang kaki lima yang melakukan perhitungan dalam transaksi sehari-hari ataukah di laboratorium. Dan hasilnya mencengangkan! Ketelitian para pedagang kaki lima tersebut berkurang separuhnya ketika ujicoba ketelitian menghitung di laboratorium. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan-keterampilan di muka bumi ini sangat tergantung konteks, bukan karena kurangnya kapasitas kognitif umum.

Fenomone para blogger di ranah dunia maya juga layak kita teropong. Bahwa aplikasi cerdas dan kecerdasan pun tergantung konteks dimana manusia melakukan dan mengasahnya. Sehingga cerdas bukanlah sekotak kado yang simsalabim masuk ke batok kepala kita. Keberadaannya merupakan serangkaian proses, dibentuk, sangat tergantung konteks, bisa bertambah bahkan bisa berkurang, sejauh mana kita melatihnya dan menjadikannya dalam situasi-situasi kehidupan. Seperti perkataan Eric Jensen dalam bukunya Memperkaya Otak, bahwa cerdas adalah ‘menjadi’ dan bukan ‘sesuatu’.

‘Adonan Kecerdasan’

Kita sudah puas dengan berbagai mitos seputar kecerdasan. Anggapan kecerdasan yang terpatok pada nilai-nilai di sekolah semata. Maka pemandangan yang lumrah jika banyak siswa SMU seperti kesurupan ketika tidak lulus Ujian Nasional. Karena cerdas dinilai dari kelulusan. Betapa kasihan.

Sebagian lagi percaya bahwa kecerdasan adalah bagaimana kita dalam hidup. Ada yang terpaku pada hasil tes IQ. Ada pula yang mengatakan bahwa kecerdasan adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, atau nilai yang diperoleh dari banyak cara untuk hadir dalam kehidupan. Maka Psikolog kognitif, Howard Gardner sang pentolan Harvard melihat kecerdasan sebagai kemampuan  untuk mengemas berbagai keterampilan dalam berbagai cara.

‘Mengemas’, kita garis bawahi pernyataan Gardner di atas dimana cerdas ditampilkan sebagai kemampuan untuk mengemas keterampilan. Institusi yang kita percayai untuk melatih kemampuan mengemas itu adalah sekolah dan universitas. Anak-anak diantar dengan rapi ke bangku sekolah untuk masuk ke dalam program dan kurikulum yang tersedia. Disuapi, dijejali dan dicetak. Mereka ibarat adonan kecerdasan dalam menu kebutuhan intelektual. Bagi siswa yang mungkin tidak serasi dengan program agar siap-siap saja mendapat ’cap’ sebagai siswa yang lamban dan menyusahkan. Disinilah kita selayaknya merenungi institusi bernama sekolah. Akankah institusi yang kita percaya dapat membantu ’mengemas’ keterampilan justru menjadikan generasi ini sebagai ’adonan’ yang gagal.

Adakalanya program-progam sekolah dan universitas justru menyunat potensi peserta didik. Bukannya membantu mengembangkan, yang ada malah menyurutkan kecerdasan yang belum tergali sempurna. Kita bisa saksikan bagaimana sekolah-sekolah memberikan porsi lebih kepada pengetahuan sains ketimbang pelajaran agama. Atau mempersembahan prestise lebih kepada penyandang juara olimpiade ketimbang siswa yang berinovasi di atas kanvas, atau sebaliknya. Lagi-lagi dikotomisasi.

Di kehidupan umum, kita lihat  bagaimana sistem masyarakat sungguh tidak adil. Sudah kita singgung sebelumnya, cerdas itu tergantung konteks. Amat menyakitkan bagi mereka yang tidak berkesempatan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi harus menuai badai cela dan cibiran dalam komunitas. Mereka yang cerdas namun tidak berkesempatan, seolah terlunta-lunta dalam kejamnya dunia. Hanya orang-orang  berjiwa besar yang mampu menunjukkan kepada dunia bahwa mereka (yakni calon mahasiswa yang kurang beruntung itu) hanya tertipu oleh nasib, bukan kecerdasan. Mereka mampu membuktikan, meraka juga layak mendapat pencerdasan sebagaimana anak-anak ITB dicerdaskan. Mereka juga akan merasakan indahnya cerdas meski tidak mencicipi ilmu pengetahuan sebagaimana mahasiswa Universitas Sumatera Utara mencicipinya. Walau pada akhirnya, kehidupan adalah universitas terbuka yang bersifat abadi. Yang membantu mereka mengemas, menjadi adonan yang lezat, walau tanpa titel dan prestise. Mereka memang bukan mahasiswa, mereka tidak mendapat gelar sarjana, tetapi yang penting mereka menjadi manusia berguna.

Maka dari mereka yang berjiwa besar itu, yang bersemayam di universitas kehidupan, mereka eksis dalam kekinian. Seperti Obin, penjual kain batik yang mendunia, padahal cuma lulusan sekolah dasar. Masih dari universitas kehidupan, kita bisa saksikan orang yang sempat termarginalkan karena tidak sarjana justru membangun institusi pendidikan yang menelurkan para sarjana tiap tahunnya. Dunia berkebalikan, inilah adonan kecerdasan yang sesungguhnya. Dimana cerdas memang tergantung konteks, dan cerdas itu milik semua.

Cerdas yang Lezat, Cerdas ala Pendidikan Islam

Sudah terlalu lama, Islam yang notabene way of life tergusur dari kancah kehidupan. Telah amat usang, islam terkunci di surau dan beranda mesjid semata. Sudah saatnya islam yang merupakan mu’alajah musykilah (pemecah problematika) karena predikatnya sebagai ideologi, mengambil peran di abad ini.

Jauh sebelum para pakar mendefinisikan cerdas dan ramuannya, islam sudah mengambil tempat untuk memajukan peradaban dengan cemerlang. Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sama sekali tidak dikenal dalam islam. Memang, tampaknya dunia Barat berhasil membutakan mata sebagian dari kita, sehingga tak terbenak bahwa kata-kata semisal alcohol, cipher, sugar, algebra, alchemy, atlas, coffe, cotton bukan berasal dari antah-berantah melainkan dari istilah bahasa Arab yang dekat pada kejayaan islam.

Ada kaitan, antara keinginan untuk menjadi cerdas dengan orientasi kecerdasan itu sendiri. Yang pada akhirnya, strategi mencerdaskan anak manusia ala islam berbeda dengan alam barat kapitalistik. Dalam idelogi sekular-kapitalis, cerdas diorientasikan pada upaya meraih materi dan aktualisasi, menjadikan orang-orang yang hidup di dalamnya haus kesuksesan duniawi, minim maknawi akhirat. Bahkan untuk bangsa ’terjajah’ seperti Indonesia, tetasan universitasnya sudah di-setting sedemikian rupa untuk menjadi angkatan kerja. Eko Prasetyo dalam bukunya ’Orang Miskin Dilarang Sekolah’ sempat menyindir sistem pendidikan kita yang sepertinya hendak menelurkan para kuli di negeri sendiri. Miris memang, itulah kenyataan.

Dalam bingkai islam, yang bernaung dalam sistem kekhilafahan islam, manusia di dorong untuk menjadi manusia yang berbobot. Bahwa materi dan uang bukanlah segalanya. Manusia mencari uang untuk hidup dan bukan hidup untuk mencari uang. Maka wajar, dengan mindset seperti ini, islam menjadikan tujuan pendidikan yakni pembentukan kepribadian dan penguasaan tsaqafah ilmu terapan secara bersandingan. Di bidang matematika kita mengenal Al-Khuwarizmi, sang penulis buku ’al-Jabr wa al-Muqabalah’ yang sangat berjasa dalam operasi aljabar. Secara bersamaan juga menguasai fikih islam. Di bidang Fisika dan kedokteran, ada Ibnu Sina yang memiliki sejumlah khazanah ilmu seputar kuman dan infeksi. Masih dalam bidang ilmu yang serupa, dunia islam mencetak Khalaf ibn abbas al-Zahrawi yang menulis sebuah ensiklopedi ilmu kedokteran yang berjudul ’al-Tasrif’, yang berisi metode-metode cara membuat obat-obatan dengan cara sublimasi dan destilasi juga ilmu bedah.

Inilah kecerdasan itu. Sehingga orang-orang yang dicetak oleh peradaban islam adalah individu yang siap dengan segala medan tanpa harus ’keberatan’ titel. Karena memang tidak harus jadi sarjana, tapi semua harus menjadi manusia yang berguna. Sebab cerdas bukanlah milik institusi tapi cerdas milik semua. Sungguh cerdas itu tergantung konteks, dan islam menjadikan umatnya dekat dengan realitas. Islam menyiapkan kita menjadi cerdas yang sejati. Seumpama adonan kue yang lezat, yang legit di mulut dan bermanfaat.

(Dian F Hasibuan/ rahim­_imajinasi@yahoo.com)

*)Untuk Siti Zainab, 6 tahun, belum bersekolah

Read Full Post »

Cinta, Waktu dan Guci

Meskipun lari ke ujung dunia

Kalau berjodoh, takkan kemana

Kau akan menemukan jodohmu

Seperti adam dan hawa yang kembali bertemu

Jodohmu tak mengenal tua dan lekang oleh waktu

Seumpama abu kremasi

yang dimasukkan dalam guci dan labu

-23 Januari 2010

Oleh: Alga Biru (Renungan jeda sederhana)

Read Full Post »

Arti Hadirmu, Arti Hadirku

Jika kau tak dapat menjadi kapal pesiar

jadilah rakit di tengah rawa yang buram dan penolong penyeberang yang kesepian

Jika kau tak mampu menjadi jalan raya

jadilah jalan setapak menuju mata air

Seandainya diriku bukanlah matahari

semoga aku menjadi bintang-bintang di kegelapan malam

Dan ini sungguh cukup bagiku

Menghargai arti hadirmu, hadirku

( ^Senyum^)


*Apa pun masalahnya, minumnya teh botol sosro

Apa pun makanannya, tetap berpikir positif !!   =)



Oleh: AlgaBiru

Read Full Post »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang