Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Janin dan Jiwa’ Category

*)Berikut ini mungkin bukan tema kekinian, tapi penting untuk direnungkan. Setidaknya buat saya pribadi.  Saya coba merangkai perenungan ini, ditinjau dari dalil-dalil yanga ada. Bismillah

***

quran

“Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari bumi. Allah mengutus Jibril dan memberikan perintah kepadanya, ‘Ambilah segenggam tanah dari bumi.’. Maka terciptalah anak cucu Adam sesuai dengan (bentuk dan jenis) tanahnya. (Sabda Nabi Muhammad Saw).

Tanyalah manusia itu asalnya dari mana. Tanah akan memberi persaksian pertamanya. Shalat akan membela orang yang menegakkannya. Yang mati akan kembali pada asal muasal raganya, debu yang menyatu dengan tanah yang rapuh dibentuk serupa tembikar. Manusia pertama itu bernama Adam, ia bermakna adim, yakni bagian permukaan dari bumi. Itulah identitas pertama dan semua kisah yang kita lalui.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (yang lunak)” (Shad: 71)

Kedudukan manusia yang istimewa telah tampak dari ‘alat’ yang digunakan saat ia diciptakan. Perhatikan ini ! Semua makhluk diciptakan tanpa sentuhan, sedang Dia cukup berkata ‘jadilah, sehingga terciptalah ia!’. Nabi Saw bersabda : ‘Ada tiga hal yang telah diciptakan Allah dengan kedua tangan-Nya, dan tidak ada yang lain : Adam, surga ‘And, Luh-luh yang dibuat Allah untuk menulis kalam-Nya kepada Musa”. Tidakkah kita tersanjung dengan kehebatan Allah Swt? Tidakkah Dia pun berkehendak untuk menciptakan makhluk lain? Namun Dia memberikan media khusus, yakni tanganNya sendiri untuk menciptakan hikmah dan kisah penghambaan luar biasa ini.

Salah satu hamba Allah Swt meneliti calon makhluk bernama manusia, dialah Iblis. Fase itu manusia belum utuh dan ruh belum ditiupkan. Iblis berkeliling, mengira-ngira apa hebatnya karya Allah Swt ini. Kenapakah ia begitu istimewa. Nabi bersabda : “Ketika Adam telah terbentuk di surge, Allah membiarkannya begitu saja sehingga Iblis dapat mengililinya (menelitinya). Ketika Iblis mengetahui bahwa Adam itu kering, maka dia tahu bahwa Adam makhluk yang tidak dapat mengontrol dirinya”. Melalui hadist ini, Iblis mengetahui nafsu sebagai kelemahan manusia. Semua kelemahan itu diseimbangkan oleh Allah Swt sesuai firmanNya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (setan) terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat” ( TQS. Al Hijr : 42). Yang diikuti peniupan ruh Rabbani, sebagai pengisi kehidupan dan ikatan kepada Allah Swt : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr : 29).

Bersujud dalam hal ini bukanlah menyembah dalam konteks peribadahan. Bersujud untuk sebuah sikap mengakui eksistensi, dari seruan yang mencakup perintah Allah Swt sendiri. Sikap takabbur memasuki relung hati iblis, hal ini terbaca dari perkataannya dalam dialog bersama Allah Swt. Yakni : “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada makhluk yang telah Ku-ciptakan dengan tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi ? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari bara api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (Shad : 75-76).

Sejak tempo dulu. Penyakit sombong ini sangat memelaratkan dan fatal. Kesombongan mengakibatkan iblis, sebagai salah satu penduduk surga, terusir dan diberi tangguh menuju kesesatan. Kira-kira sudah jenis kesombongan apa yang kita lakukan? Ataukah memang perasaan itu yang selama ini menghalangi kita dari hidayah Allah Swt. Apakah sombong yang kecil maupun besar berlindung di balik kata-kata, “Saya ingin menjadi orang sholeh, berhijab, menjauhi riba, namun hati belum merasa siap”. Sedangkan diri kita tercipta sempurna, lengkap lahir dan potensi ruhiyah. Iblis menonjolkan kesombongannya, sesuatu yang menjadi hak Allah Swt sebagai penguasa langit dan bumi.

“Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya! Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (Al-A’raf: 12-13).

“Kesombongan itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah kain penutup tubuh-Ku. Siapa pun yang mencoba menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya pasti Ku-lemparkan ke dalam neraka Jahannam”. []

Iklan

Read Full Post »

*)Tulisan berikut ini isinya santai saja, semoga berbuah hikmah.

 

 

Hidup yang seolah sama. Bangun dan lapar, lapar dan bangun. Bekerja dan lelah, lelah dan bekerja. Suka, duka, bergantian. Sebagai penulis rubrik dan passion saya di dunia literasi, menulis tidak seindah kelihatannya. Menulis adalah pekerjaan yang harus dilalui dengan kejujuran tanpa bermaksud menyakiti. Maksud saya, bukankah kadang kejujuran itu memang menyakitkan? Nulis, tinggal jreng?? Langsung jadi, nggak pake modal. Ya nggak gitu jugalah. Sambil mikir, tangan kok gatal ya pengen ngubek-ngubek isi dompet. Eh, kotak pesan. Lalu surel ini masuk ke inbox yang telah difilter aplikasi.

 

 

“Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ini dengan kak Alga Biru? Apa kabar, Kak? Sudah lama saya mencari akun media sosial dari tulisan-tulisan yang selama ini menginspirasi saya. Perkenalkan, saya Mia dari Jombang. Saya mengenal tulisan dan dakwah Kakak sejak SMU. Melalui majalah yang saya pinjam dari teman, saya jadi pembaca rubrik yang kakak tulis. Alhamdulillah sekarang saya sudah menyelesaikan studi, dan pengen punya bakat nulis dan berdakwah seperti Kakak. Gimana caranya ya Kak? Mohon doakan, semoga proses saya istiqomah dalam menempuh jalan hijrah.

 

 

Surat elektronik singkat itu meruntuhkan pikiran-pikiran kotor yang sempat mampir. Insyaf. Sudah sepatutnya potensi ini, nikmat sehat dan iman ini disyukuri. Barangkali ada diantara kita yang terburu-buru berkarya. Lupa, kalau nikmat itu sebenarnya ada pada prosesnya. Ada tabungan amal dari setiap tetes keringat dan nafas ilmu yang diraih susah payah. Riset yang kebanyakan harus kita “buang” daripada ditulis “to be something“. Kalau disebar, alhamdulillah, jadi amal jariyah. Ya, moga-moga aja nggak ada yang iseng stalk aib-aib penulis ya. Yalah, buat apa. Unfaedah.

 

Katanya, hidup ini amanah. Potensi, itu amanah. Salah satunya potensi dan karakter yang berlainan masing-masing orang. Mungkin emang saya diamanahin kerjanya nulis-nulis gini. Kemarin cobain motret-motret, kok nggak keceh ya. Biasa aja. Nggak ngangenin. Dikangeni? Boro-boro 🙂Emang bisanya yang begini ini. Mau gimana lagi. Ya nggak sih.

Hemm, terimakasih untuk yang mau saling sapa. Tak kalah penting pula, nasihat santai dan komentar pedas yang datang bersamaan. Meski tak semua berbalas, tak semua terdengar, kita saling mendoakan diam-diam. []

 

 

Note: Mia dari Jombang, bukan identitas sebenarnya 🙂

Read Full Post »

Hidup sembarang hidup. Kita makan, minum, beraktivitas, berlari, tidur, dan merasakan segalanya berjalan normal. Kejadian yang berulang seringkali menghilangkan makna. Kita lupa bagaimana menakjubi kaki yang kuat, tangan yang lengkap, badan yang sehat. Jadi lain ceritanya di hadapan seorang manusia yang memiliki keistimewaan sekaligus keterbatasannya.

Al-Quran-Bicara-Tentang-Cara-Mendekatkan-Diri-Pada-Allah

Cerita ini sedikit berbelit. Seseorang yang terhubung dengan tali persaudaraan yang unik, kisah yang mengharukan, dan mengajak kita seharusnya lebih banyak bersyukur dibandingkan sebelumnya. Robert Davila ialah seorang yang memiliki keterbatasan fisik. Sejak kecil, ia lumpuh dari leher hingga kaki. Dia diayomi di rumah perawatan khusus di salah satu negara bagian Amerika. Tentu saja, dengan keterbatasan ini, tidak mudah baginya untuk melakukan berbagai hal. Baik kemandirian sederhana yang rutin, apalagi menerjang tantangan lainnya di dalam hidup.

Rumah khusus itu memiliki kegiatan positif guna membangun karakter para pasiennya. Kerap kali para pastor atau pemuka agama datang untuk memberikan ceramah, melakukan pelayanan dan menghibur mereka. Robert memiliki teman akrab selama tinggal disana. Suatu kali, sang teman bercerita bahwa sebentar lagi ia akan menjalani operasi khusus guna mendapatkan donor organ yang diperlukannya. Berharap operasi itu akan memberikan hidup yang lebih baik baginya. Nasib berkata lain, tatkala Robert mendapat kabar bahwa sang teman ternyata meninggal di meja operasi. Ia sangat sedih kehilangan teman yang paling berharga bagi dirinya. Sebagai bentuk empati keluarga duka, diberikanlah kalung salib kesayangan kepada Robert sebagai bagian dari peninggalannya sebelum menemui ajal. Kalung itu pun diterima Robert dengan haru, betapa ia merindukan pertemanan mereka.

Satu malam yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ia bermimpi aneh yang bukan main. Di dalam mimpi itu, Robert berdiri tegak dengan kedua kakinya. Di samping kirinya ia melihat salib berdiri tegak. Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sekelompok orang sedang mengitari seorang pemimpin yang tampak penting. Seorang yang dikelilingi itu bercahaya terlindungi. Rasa penasaran membuat dirinya menghampiri dan bertanya siapakah lelaki itu. Dan lelaki itu memperkenalkan diri bernama Muhammad, seraya menunjuk ke arah Salib. Berkata : “Ketahuilah, salib itu hanyalah hamba. Dia tak patut untuk disembah”. Selepas perkataan itu, Robert terbangun dari mimpinya.

Dia tak dapat melupakan mimpi ganjil yang amat luar biasa merasuk ke dalam jiwanya. Dia meminta dibantu untuk bisa berselancar di dunia maya untuk mencari perihal seputar Muhammad. Dia mendapatkan Muhammad sebagai seoarang nabi yang mengajarkan agama Islam kepada umat manusia. Robert mempelajari lebih jauh tentang Islam dan kitab sucinya. Tentu saja dia mengalami banyak kesulitan, terlebih Al Quran yang dengan Bahasa Arab yang tidak dia pahami. Dia mempelajari bagaimana syarat seseorang masuk Islam. Kalimat syahadat akan mengantarkannya kepada keislaman. Dia terpesona dan pertanyaannya seputar kedudukan Jesus di dalam Al-Qur’an pun terjawab. Dia pun bersyahadat, meski tak seorang pun menyadarinya. Dia menyembunyikan keislamannya dari siapapun.

Dengan keislaman yang sembunyi-sembunyi, Robert berusaha keras menghapal Al-Qur’an semampu dirinya. Akhirnya, dia berhasil menghapal 10 ayat pendek, subhanallah. Hapalan ini menjadi wiridnya sehari-hari, yang dia lafadzkan dalam keterbatasan. Suatu hari, datanglah seorang Amerika berketurunan Mesir untuk melakukan rutinitasnya membersihkan ruangan. Tak sengaja, dia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Alangkah terkejutnya, darimana kah asal suara itu. Merasa terpana, kepada Robert lelaki itu bertanya : “apakah yang kau bacakan tadi?”. Aku membaca al-Qur’an, karena aku sedang berusaha menghapalnya”. Percakapan itu pun berlanjut, “Bagaimana kau melakukannya? Bukankah ini lingkungan kekristenan?”. Robert pun berkata : “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah. Aku mencarinya di internet, lalu aku pun mengimaninya”. Lelaki keturunan Mesir itu tak lain adalah seorang muslim yang sudah lama tidak kehilangan rasa keislamannya. Dengan berurai air mata, dia berkata Robert : “Hai kawan, aku ingin kembali. Aku ingin merasakan nikmat agama ini lagi”. Mereka pun menjalin persahabatan. Menemukan iman dengan caranya sendiri. Kadang kita mengira telah melakukan banyak hal, merasa lebih jasa dan sempurna. Kesempurnaan palsu yang tak membuat kita mengecap indahnya hidayah Allah Swt. Sementara orang tertentu, yang jauh dari kemungkinan-kemungkinan, mendapatkan satu kemungkinan terpenting yang merubah jalan hidup. Memantaskan diri memeluk hidayah, bertambah takwa meski satu anak tangga. Tiada yang lebih menyempurnakan dari sempurnanya iman. []

 

*)Perjalanan spiritual, hasil nongkrongin video bagus Ustadz Nouman Ali Khan. Semoga bermanfaat dan menambah keimanan

 

Read Full Post »

Bagaimana aku memulainya?

Bahkan aku tidak tahu hendak menulis apa. Aku kehilangan isi kepala dan wacana. Oh begini rupanya “tidak memikirkan apa-apa”. Ketika aku bertanya, “apa yang aku pikirkan?”. Jawabannya ialah tidak ditemukannya jawaban. Semacam tatapan kosong seorang anak bau kencur, yang ditanya kenapa pipis sembarangan. Anak itu tidak tahu pipis itu apa, bagaimana, dan kenapa.

 

 

Tentu saja, semua ini bukan berarti tidak ada sama sekali. Kita manusia, tidak pernah benar-benar mengenal kekosongan, setidaknya dari apa yang aku alami. Aku lalu berpikir (pada fase ini rupaya aku mulai punya ide), kenapa aku bisa begini? Kenapa ada blocking yang sedemikian padat antara keinginan dan kata-kata. Antara harapan dan eksekusi. Bukankah seseorang yang berjalan akan sampai pada suatu titik perhentian? Sedangkan aku sedang mencoba menuliskan sesuatu, lalu menyaksikan “tidak ada apa-apa” disana.

 

Aku mulai mengingat kejadian sehari ini. Sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja untuk diungkapkan, maka aku takkan menceritakannya. Aku beranjak kepada yang lain, semisal :  “tema apa yang membuat tulisanku lebih berarti”. Dan aku mulai meratapi ide-ide yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu kan, seperti baju lebaran yang susah payah dipilih. Kamu bisa merasa lucu ketika bertemu kembaranmu, duplikat penampilanmu. Warna yang sama, pola yang serupa, lalu kamu merasa bersalah, seolah baru saja ketahuan curang saat ujian. Aku bertanya kembali, kenapa aku bisa punya pikiran ‘sok’ begini? Sehebat apapun aku menginginkan originalitas, cepat atau lambat, karya kita, baju yang kita pakai, isi pikiran, akan menemukan duplikasi.

 

Aku berkata kepada seseorang di grup, “Hei, aku ingin baca buku ini. Sepertinya bagus ya?”

Jawabannya sedikit mematahkanku , “Belum tentu deh ya. Aku udah malas baca buku si Anu. Kayaknya tulisan dia gitu-gitu terus. Ngga ada sesuatu yang baru.”. Wow! Kok rasanya berat banget jadi penulis itu ya. Ekspektasi pembaca (setia) makin lama makin meninggi. Pertanyaannya, mampukah aku selaku penulis bau kencur bau kunyit ini menghadapi persoalan semacam itu?

 

 

Persoalan seolah tulisan ini belum juga naik kelas, tidak berkelas, yang lebih parah… penurunan kelas. Wah sungguh bencana!

 

 

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, aku harus mencari kambing hitam. Dan sepertinya, pikiran kotor bercampur keinginan superrr yang membuatku kandas kali ini. Okelah, baiklah.

 

 

 

Salam write’s block!

Karena penulis juga manusia.

algabiru-3.jpg

 

Read Full Post »

INDAHSuatu kali sosok Kak Ais kelihatan di mushola kampus. Yah, wajar kali ya. Namanya juga anak kampus, pastinya berkeliaran di kampus. Namun Kak Ais tidak berlama-lama dan begitu tergesa-gesa. Menghindar ? Mungkin. Ahh, astaghfirullah. Rasa penasaran kadang mengundang rasa su’udzon untuk masuk ke hati ini. Cerita punya cerita, tiap kali ketemu kawan-kawan, sikap Kak Ais sama. Yakni tak suka berlama-lama. Tidak seperti dulu lagi. Maklum, mungkin karena aktifitas yang dijalani sudah berbeda, ketertarikan terhadap sesuatu pun berbeda kadarnya. Inikah yang disebut “hibernasi dakwah” ?
Di tempat manapun di dunia ini, kita tidak bisa menjamin apa dan siapa pun. Sekalipun individu-individu sudah dibina, selalu ada cacat perbuatan, baik terang-terangan maupun yang tersembunyi. Jika tidak banyak, maka sedikit pasti ada-ada saja. Maka hadirlah para pencela yang suka mencela,”Kak Ais itu begini… Kak Ais itu begitu….”. Orang model begini jumlahnya tidak banyak dalam barisan dakwah. Hanya saja, jika dibiarkan mendominasi, bisa-bisa yang lain jadi ketularan ‘penyakit’.

BUNGA
Dua tahun berjalan…..
Aku berada di kampus yang sama, seperti Kak Ais. Aku seorang yang suka gemar membaca. Lebih tepatnya, menyendiri untuk membaca. Tempat favorit? Taman perpustakaan pastinya. Disanalah Allah subhana wata’ala mempertemukanku kembali dengan Kak Ais. Ahh, rindu sangat hati ini.
“Assalamualaikum….” Kak Ais menyapa
“Waalaikumsalam…”
Tangan kami saling bertemu, berjabat tangan. Terasa nikmat ukhwah islamyah itu kembali mengalir.
“Lagi ngapain dek? Kok sendirian?”
“Ohh… Dian sering kesini kak. Sejuk. Enak sambil baca buku”. Kala itu aku sedang membaca buku Filosofi Kopi Dewi Lestari. Kak Ais agar bekerut kening. Mungkin dia heran, kok selera bacaanku karya-karya fiksi.
“Suka juga baca novel?” Kak Ais bertanya.
“kakak suka”
“belakangan ini suka”
“baca apa kak?”
“Laskar Pelangi”
Bla bla bla…. Pembicaraan mengalir deras, kebekuan pun meleleh. Suasana ini begitu hangat. Tak terasa sore menyapa dua insan yang berbahagia ini.
“Kak, kapan ya kita ketemu lagi?” kataku
“hemmm….” Kak Ais terdiam, meraba kemungkinan. “Nanti aja ya kakak SMS. Nomor dian masih yang lama kan?”
“Iya kak”, jawabku singkat. Lalu obrolan itu disudahi dimana masing-masing kaki berjalan menuju pulang. Dalam hati ku berdoa, “Ya Allah, izinkanlah pertemuan kami berikutnya”
Alangkah baik Allah Yang Maha Pemurah. Sebab doa tersebut terjawab kurun waktu kurang dari semalam. Jawaban yang tertuang melalui SMS Kak Ais yang masuk ke HP-ku

 
Assalamualaikum. Dek, pengen deh ketemu lagi sama Dian.
Kapan adek punya waktu. Hemm, kakak rindu mengkaji Islam.
Dian mau jadi mentor kakak? Jzk
Subhanallah! Allahu Akbar! SMS tersebut ku sambut dengan puja puji kepada Allah. Langsung ku balas SMS tersebut. Meng-iya-kan.

 
Waalaikumsalam. Alhamdulillah kita berjumpa lagi, kapan kak?

 

 

[Bersambung…]

Read Full Post »

nikahMungkin sudah nasibnya, orang yang berstatus single atau bahasa kerennya jomblo, selalu di-bully di berbagai pertemuan. Meski tak bermaksud mengolok, candaan dan pertanyaan serius “kapan nikah” kerap kali terlontar. Kalau cuma sekali atau dua kali, pertanyaan itu enak dicerna dan dianggap angin lalu belaka. Tapi apa jadinya jika pertanyaan seputar ini selalu ditanya lagi dan lagi, tersindir disini dan disana. Sampai-sampai seolah para jomblo kehabisan cara untuk menjawab hal senada.

Berikut empat tipe dan cara yang bisa dijadikan jawaban pas, tepat, sampai nyentrik ketika Anda ditanya “kapan nikah”.

Pertama: Jika ditanya kapan nikah ? Jawab saja, “Insyaallah, mohon doanya”. Orang yang berniat tulus sampai bercanda, biasanya akan terdiam dan merasa cukup dengan lontaran seperti ini. Jangan lupa, Anda juga harus pasang tampang serius namun lembut, jangan cengegesan. Karena gesture alias bahasa tubuh, serta mimik, akan menentukan seberapa besar bobot dari kata-kata itu.

Kedua: “Kuliah udah, kerja udah, nikah kapan nih?” Ngaku deh, sering kan ditanya seperti ini. Biasanya kalimat ini terlontar untuk Anda yang dianggap sudah cukup umur dan mapan, atau setidaknya memang dianggap telah tiba waktunya, tapi belum-belum juga datang jodoh. Maka jawab saja, “sabar ya, lagi nyari yang sekufu dan se-agama”. Insyaallah yang dengar mafhum arah pembicaraan ini.

Ketiga : Jomblo sering diledekin, rasanya memang begitu adanya. “Sandal aja ada pasangannya, kok kamu sendirian aja”. Model seperti ini cukup dijawab dengan pernyataaan : “Cari sandal aja pengennya yang cocok di kaki, bukan cuma cocok di mata sama cocok di kantong”. Jawaban ini akan mengesankan Anda adalah tipe selektif dan tidak mau disamain dengan nasib-nasib sandal, yang apalah itu artinya dibanding harga diri Anda.

Keempat: Tak kalah telak, kadang jomblo terkena kritik tajam dengan sebuah pernyataan “Jangan terlalu banyak pertimbangan, pilih saja dari yang ada”. Batin jomblo kadang hendak teriak. Apalagi sebenarnya ini bukan masalah kita enggan memilih, tapi justru baru ditolak, hehe. Ah, sudahlah. Hal itu cukup Tuhan yang tahu. Maka buat orang yang sok kritik dan sok tahu ini katakan saja : “Jodoh pasti bertemu, jodoh pasti bertamu, jodoh pasti bersatu”.

Sebenarnya, masih banyak jenis pertanyaan “kapan nikah” beserta kiat-kiat menjawab supaya nggak mati kutu. Namun pada hakikatnya sama saja. Hal utama dari tantangan ini ialah bagaimana kita selalu membangun mental sebagai orang merdeka. Yaitu, kita ialah sosok yang membentuk keadaan dengan jalan hidup yang kita pilih. Bukan sebaliknya, direpotkan dengan suara-suara sumbang yang bahkan itu hanya sendar gurau pemecah keheningan.

Jadi, tak pantas kita berkecil hati, tak pula merasa tidak laku. Santai saja. Semua ada jalannya, setiap kejadian perlu momen. Kita hanya memilih cara, tapi Allah jua yang menentukan momentum dan tiap inci realitas yang menimpa kita. Semangat ya jomblo!

Read Full Post »

writODOP yang merupakan singkatan dari One Day One Post sudah dimulai oleh beberapa kawan dengan garis start masing-masing. Komitmennya, setiap hari wajib ada tulisan atau ‘sesuatu’ yang mencerahkan yang di posting di social media. Saya sendiri memilih Blog sederhana ini menjadi wahana.

 

Saya sendiri sudah memasuki hari ke-5. Istilah ODOP ini adalah hasil jejak saya mengikuti Ibu Professional Mba Shinta Rini yang juga hasil ketularan semangat temannya. Wah, energi positif kok dibiarin nganggur, yaudah saya ikutan juga.

 

Sebelum ini, sebenarnya saya udah nimbrung ODOP juga di twitter, seingat saya waktu itu One Day One Paragraf, komitmen 30 hari. Nah, kalau kali ini, levelnya dinaikkan jadi sehari satu postingan selama 99 hari. Adapun optimasi ODOP ini ialah sebagai berikut  ( Versi Mba Shinta Rini. Versi saya nyusul, keburu Anakku bangun ni hehe)

1. Disiplin baca buku, minimal satu minggu satu buku
2. Disiplin menulis resume isi buku ( boleh oret-oretan, mind mapping atau resensi buku)
3. Disiplin menulis alur untuk bahan tulisan postingan ( di buku notes, handphone atau komputer)
4. Disiplin menuliskan resume kegiatan seminar, workshop, pengajian, dan diskusi yang pernah dihadiri dalam sebulan
5. Disiplin menuliskan kegiatan bersama anak dan keluarga untuk dokumentasi home team atau family project
6. Disiplin menuliskan kegiatan yang menarik dalam sebuah diary untuk mengasah kepekaan menemukan hikmah yang berserak
7. Disiplin mengunjungi blog admin dan anggota ODOP for #99 days untuk belajar menulis yang asyik dan cari inspirasi yang bisa dikembangkan di tulisan sendiri
8. Disiplin belajar ilmu menulis dari buku, sesama penulis, blog dan website
9. Disiplin menghapal satu ayat Al-Quran dan artinya supaya bisa menambah referensi supaya tulisan yang dibikin bisa bermanfaat dan berbobot
10. Disiplin bangun pagi dan menulis sebelum keluarga bangun supaya kegiatan domestik nggak terganggu. Atau segera bereskan urusan domestik biar bisa segera nulis dan posting PR
11. Disiplin mengikuti update berita dan info terkini baik di dunia maya maupun dunia nyata biar nggak kuper dan gaptek
12. Disiplin berdoa minta sama Allah supaya dijauhkan dari rasa malas menulis, membaca dan merenungi hikmah yang didapat setiap harinya

Read Full Post »

Older Posts »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

/jur·nal/

yang ditemui mata dan mengendap di pikiran

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beautiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Apa pun itu, tulislah!