Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘RESENSI BUKU’

 

 

Judul : Titik Nol

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Februari 2013

Jumlah halaman : 552 halaman

 

 

 

titik-nol

Mungkin udah banyak orang yang baca buku ini. Apalagi kalau beli di waktu sekarang-sekarang ini, di cover depan buku sudah terpampang cap medali “best seller”, anggun sekali. Mungkin bagi mereka yang sudah mengikuti jejak si penulis, bahkan sebelum terbitnya, hampir nggak perlu label-label sejenis itu, pasti langsung beli. Berhubung mottonya ‘One book thousand feelings’, jadi yaudah gapapa, saya senang hati resensi buku berikut ini.

Buku karya Agustinus Wibowo berjudul Titik Nol, atau Ground Zero dalam versi terjemahan Bahasa Inggris. Belum lama ini, tampil meramaikan Beijing International Book Fair, yang disambut antusias penulisnya hingga diterbitkan dalam bahasa Vietnam, untuk memperluaskan pembacanya.

 

 

Titik Nol berisikan kisah perjalanan Agustin sejak dirinya berkhidman dalam dunia “perjalanan” dari satu fase ke fase berikutnya. Dari satu titik ke titik berikutnya, rangkaian proses, kejadian, titik henti, titik balik dan akumulasi dari seluruhnya yang menentukan jati diri seorang manusia. Mungkin hal ini bukanlah berita baru mengingat buku perjalanan bukanlah aliran baru. Tentu bukan pula cerita yang benar-benar baru kalau kita sebelumnya sudah membaca karya Agustin lainnya (Selimut Debu dan Garis Batas). Nostalgia Jalur Sutra, Sekat batas Negara Stan, dan konflik intrik menjadi santapan khas dari tema karya Agustin. Namun buku ini mengangkat derajatnya tatkala Agustin mengisahkan penggalan-penggalan cerita lain dari dirinya, dengan sentuhan yang lebih privacy. Terkhusus bagaian kisah dirinya menemani ibunya semasa sakit hingga ajal menjeput. Konflik keluarga, idealisme, isu agama, melebur menjadi satu cerita yang menyisakan misteri di tiap lembarnya.

 

 

Bagaimana seorang sarjana universitas terkemuka memulai hidupnya sebagai traveller? Itu satu misteri. Bagaimana rencana hidupnya semula, reaksi keluarga, lalu memilih menghabiskan umur belasan tahun keliling dunia? Maka itu jadi misteri lainnya. Bukankah Traveller juga manusia yang memiliki ayah-ibu, tetangga, uang tabungan, karir, yang juga harus dipikirkan? Pada akhirnya kita mengerti, semua itu tak semudah kelihatannya.

 

 

Tak kalah menarik yaitu kisah eksklusif Agustin menemani ibunya selama proses penyembuhan-lalu sakit-dan sakit terus. Berkesinambungan, antara kisah perjalanan Agustin mengitari Asia Tengah, dengan penggalan cerita dari ranjang pesakitan.  Kontras, antara Ibu yang tidak kemana-mana, dengan Agustin yang sudah kemana saja. Namun setiap manusia memang punya kisah perjalanannya sendiri. Dimana Agustin menuliskan : Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku adalah perjalananmu. Setiap orang memiliki kisah perjananan sendiri, tapi hakikat perjalanan itu adalah sama. Banyak sisi tempat kita memandang, bisa beda rasa yang kita petik. Semoga pembaca bisa mengambil nilai positif dari kisah perjalanan yang satu ini. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Iklan

Read Full Post »

JUDUL : Esio Trot (Aruk-aruk)

PENULIS : Roald Dahl

PENERBIT :  Gramedia Pustaka Utama

JUMLAH HALAMAN : 63 Halaman

TAHUN TERBIT: April 2006 (cetakan pertama)

PERESENSI : Alga Biru

 

 

Mr Hoppy tinggal di sebuah apartemen seorang diri dan selalu kesepian, terutama sejak pensiun dari pekerjaannya. Ia menyenangi merawat bunga yang ditanam di balkonnya. Ada yang di pot, tong kayu, dan keranjang. Ia senang melihat pemandangan ke arah luar dari balkon tersebut. Dimana salah satu kegemaran sekaligus rahasianya ialah ia tertarik pada seseorang yang tinggal tepat di bawah apartemen tersebut.

 

Tetangga beda lantai itu ialah seorang wanita paruh baya yang cantik, baik hati, dan lembut, berama Mrs Silver. Lain Mr Hoppy, lain pula Mrs Silver. Ia memiliki hewan peliharaan seekor kura-kura kecil bernama Alfie. Memasuki musim semi, sang kura-kura yang berhibernasi itu merayap menuju balkon merasakan hangatnya cuaca. Dari balkon itu pula Mr Hoppy kerap mendengar celoteh riang Mrs Silver merawat sang kura-kura kecil yang beruntung. “Selamat datang sayangku! Oh betapa aku merindukanmu”.

“Anda saja aku jadi si kura-kura kecil itu, aku rela melakukan apa saja”

Mr Hoppy dan Mrs Silver saling menyapa, balkon ke balkon menikmati kegemaran masing-masing. Suatu kali Mrs Silver tampak mengeluhkan Alfie yang mungil. “Setiap musim semi aku selalu menimbang Alfie, dan oh… kenapa seekor kura-kura itu lambat sekali besarnya. Padahal aku ingin sekali ia cepat besar. Andai aku bisa, aku akan melakukan apa pun”.

Tiba-tiba Mr Hoppy terpikir ide yang brilian. “Hei, sewaktu aku bekerja di Afrika Utara, seorang pria suku pedalaman memberitahuku sebuah mantera supaya kura-kura mereka cepat besar”, katanya sekita. Oya benarkah?

Mr Hoppy buru-buru menuliskan ‘mantra” tersebut, dan berpesan agar secara rutin dibacakan tiga kali sehari (pagi, siang dan malam). Tak lupa, Mr Hoppy menyuruh Mrs Silver melafalkannya. Mantra itu berbunyi :

 

ARUK-ARUK, ARUK-ARUK, RASEBMEM, HALRASEBMEM!

HALOYA, ARUK-ARUK!

HUBMUT, GNABMEK RAKEM!

RASEB, KAKGNEB, GNUBMEG!

NALET! KAGGNET! HAYNUK! KUGET!

TAREBMEM ARUK-ARUK, TAREBMEM!

OYA, OYA! NALET NANAKAM!

 

Mrs Silver terheran-heran dengan mantra itu. Apa ini? Bahasa yang aneh! Lalu Mrs Hoppy membongkar salah satu rahasianya. Tatkala tiap kata mantera itu dibaca dari belakang (dari kanan ke kiri) maka seketika ia menjelma menjadi bahasa manusia! Ya, coba saja!

Benar, namun hanya itukah rahasia Mr Hoppy? Itu belumlah seberapa dibandingkan kenyataan sebenarnya. Benarkah itu mantera magic seperti yang diungkapkannya pada Mrs Silver? Dan tahukah kamu bahwa setelah 7 hari mantera itu dilafalkan, Alfie bertambah bertambah 2 ons, begitu seterusnya. Bagaimana semua itu dapat terjadi? Ah, kekuatan cinta saja yang mampu menjawabnya. Silakan simak sendiri kelanjutan kisahnya ya.

Roald Dahl merupakan penulis cerita anak yang menjadi rujukan bagi sekolah di Inggris. Tema karyanya seputar hikmah dan kritik terhadap budaya dan sosial dalam pendidikan anak-anak di negara Eropa. Adapun ketika tulisan ini dibuat, kura-kura masih dijual secara bebas dan belum ada pelarangan Undang-Undang satwa yang dikeluarkan pemerintah. Setting dan kultur cerita tentu saja mengikuti dimana penulis hidup dan menjalani keseharian. Roald Dahl tutup usia pada umur ke-74  pada tahun 1990.[]

IMG20160605174121.jpg

Read Full Post »

 

Haruki Murakami, “Ketika Berlari dan Menulis Menjadi Energi Kehidupan”

Judul : What I Talk About When I Talk About Running
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : April 2016
Jumlah halaman : 197 halaman
ISBN : 978-602-291-086-2
Peresensi : Alga Biru

What I Talk About When I Talk About Running menjadi karya Haruki Murakami yang menyuguhkan nilai filosofis sebagai pelari dan penulis profesional sekaligus. Penulis novel Norwegian Wood ini memilih berbagi kisah selama berlari dan menulis yang kerap didokumentasikannya di jurnal harian. Ya, siapa sangka kalau menulis dan berlari punya banyak kesamaan.
“Otot sulit terbentuk dan mudah hilang. Lemak mudah terbentuk dan sulit hilang”. Semboyan itu terpampang lantang di pusat kebugaran di Tokyo (Halaman 59). Sebagai seorang pelari jarak jauh, yang konsisten berlari setiap hari, Murakami tahu betul makna kalimat tersebut. Itu merupakan kenyataan yang menyakitkan namun tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Kenyataan itu pula yang membimbing Murakami untuk memilih yang terbaik bagi diri dan tubuhnya. Penderitaan adalah sebuah pilihan, tulis Murakami dalam prakata buku ini, dimana berlari dan menulis dilakoninya secara sungguh-sungguh di usia 33 tahun.
“Aku aku mulai berlari pada 1982 sehingga kalau dihitung sudah hampir 23 tahun lebih menjalani olahraga ini.” (Halaman 11). Murakami memilih olaharaga lari jarak jauh dengan mengenal sifat-sifat pada dirinya. Pada dasarnya, ia menyadari egonya yang lebih suka kesendirian, tak selalu nyaman dengan kompetisi, dan selalu tidak cocok dengan olahraga berkelompok. “Tentu saja aku punya sifat tidak mau kalah. Namun, entah kenapa sejak dulu aku tidak terlalu memusingkan ketika mengalami kekalahan ataupun kemenangan dari orang lain. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak.” (Halaman 12).
Berlari terutama untuk jarak tempuh setidaknya 10 kilometer membuatmu mampu berkontemplasi dengan diri sendiri. Membantu mengosongkan pikiran, tentu saja tidak dalam artian kosong sama sekali, namun lebih kepada mengingat hal-hal sederhana yang menyenangkan. Melatih fokus dan konsentrasi, konsistensi dengan target yang ingin dicapai. Hal ini, dalam pengalaman Murakami sendiri, tak ubahnya seperti perjalanannya sebagai seorang penulis profesional. Ia menghabiskan waktu tiga hingga empat jam di pagi hari untuk berkonsentrasi dengan ide yang akan dituangkannya dalam tulisan. Novel berjudul Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Song) memulai debutnya selaku penulis pemula. Sebelum terjun secara profesional dengan semata-mata menulis sebagai profesinya, Murakami dibantu oleh istri memiliki usaha Klub Jazz di dekat Stasiun Setagaya. Pola pikir Murakami yang tidak muluk-muluk namun maksimal untuk apa yang ditekuni, membuatnya mengambil keputusan penting, yaitu menutup usaha Klub tersebut guna berkonsentrasi sebagai penulis. Tentu ini ditentang juga dipandang miring oleh segelintir orang.

 

HARUKIM
Ketahanan, kekuatan, dan kesabaran yang dirasakan Murakami dalam berlari, mirip dengan apa yang seharusnya ia pertahankan selama menulis. Seorang penulis fiksi —atau yang setidaknya berharap bisa menulis sebuah novel—membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengahs tahun, satu tahun atau dua tahun. (Halaman 88). Kenyataan tidak semudah kelihatanya. Orang lain, terutama yang bukan berprofesi sebagai penulis, sering menyangka menulis itu pekerjaan gampang. “Orang-orang itu mengira jika kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu kamu coba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” ( Halaman 90).

 
Buku ini mewakili bukan saja apa yang dirasakan oleh para pelari, ia juga menyuarakan suara hati para penulis yang bertebaran di muka bumi. Kita tidak menemukan tips berlari atau sejenisnya, sebab buku ini tidak diperuntukan untuk itu. Tidak pula proses kreatif sebagis penulis legendaris, namun sebuah langkah sederhana yang nyata menuju ke arah sana. Di dalamnya pula ada serangkaian misteri yang ingin dibagikan Murakami kepada pembaca. Akankah ia mulus berlari di ajang maraton Boston juga kesempatan lainnya? Seperti apa rintangan dan latihan yang ia lakukan? Apa kaitan dirinya sebagai pelari yang juga penulis? Sebab sangat sedikit penulis yang juga menekuni olahraga lari jarak jauh dengan konsistensi puluhan tahun.

 
Kelemahan dari buku ini terletak pada alurnya yang cenderung melompat-lompat, dari satu adegan kepada adegan berikutnya. Semacam lompatan ingatan, yang bersikeras menyatukan cetusan hari ini dengan peristiwa kemarin dalam satu kesatuan rangkaian cerita. Tentu tidak mudah menyatukan dunia lari dan dunia menulis di satu titik, dimana kedua hal tersebut tampak perbedaannya. Hal ini makin menguatkan Murakami sebagai salah satu seorang yang tidak main-main menggeluti bidangnya. Karya yang membuat penggemarnya naksir, dan siapa pun merasa penasaran. []

what_i_talk_about_when_i_talk_about_running_1-large

Read Full Post »

“The Geography of Bliss, PENCARI BAHAGIA KELILING DUNIA”

Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jumlah Halaman : 569 halaman
ISBN : 978-602-1637-95-1
Peresensi : Alga Biru*

“Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan”, begitu kira-kira buku ini diperkenalkan kepada calon pembacanya. Kita tentu tergelitik, bagaimana bisa seorang penggerutu yang mungkin tukang mengeluhkan banyak hal menemukan sesuatu yang dikejar umat manusia yaitu kebahagiaan?
Kisah perjalanan dengan berbagai formatnya, belakangan ini cukup diminati dan memiliki penggemar sendiri. Sudah beratus bahkan ribuan buku yang ditulis guna menampilkan tempat menarik yang pantas untuk dikunjungi ketika cuti tahunan atau mereka yang senang jalan-jalan. Namun buku ini menambah pesonanya sendiri, bahwa ia lebih dari sekedar jalan-jalan. Lebih dalam lagi, ini sebuah perjalanan yang amat terencana guna mencari tempat paling membahagiakan. Maka pertanyaannya, dimana tempat macam semacam itu? Bagaimana bisa ia membahagiakan orang yang berangkat kesana? Kenapa ia terpilih? Lalu sebelum pertanyaan itu dijawab tuntas dan memuaskan, kita tentu satu frekuensi terlebih dulu tentang apa yang disebut dengan “kebahagiaan”.

 
“La chasse au bonheur, perburuan kebahagiaan, begitu orang Prancis menyebutnya. Perburuan langka inilah yang dilakoni oleh Eric Weiner untuk kemudian buku ini terlahir dengan titel ‘the Geography of Bliss’. Tentu tidak mudah, mengingat begitu banyak titik atau tempat di muka bumi ini yang memiliki kemungkinan ‘sesuatu yang membahagiakan’ atau ‘membuat orang bahagia’.

 

IMG-20160417-WA0002
Weiner kemudian mengerucutkan kemungkinan tersebut menjadi sepuluh nominasi negara yang menjawab kegelisahannya, dengan berbagai kriteria dan pendalaman. Kesepuluh tersebut dibahas satu persatu di sepuluh bab buku isi buku. Kesepuluh negara itu yakni Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Maldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika.

 
Sebagai orang Indonesia, kita tentu bertanya “Hei, kemana Indonesia? Bukankah Indonesia punya Bali, Raja Ampat, atau pesona vulkanis Bromo, yang sepertinya cocok dijuluki surga pencuci mata guna mengundang aura kebahagiaan. Ada apa dengan Belanda? Sehingga dijadikan sebagai negara kandidat pertama dalam perburuan kebahagiaan di buku ini. Belanda menjadi nominasi paling masuk akal untuk menjawab apa sebenarnya yang membuat orang Bahagia disebabkan negara ini memiliki WDH (World Database of Happiness). Institusi WDH ini semacam gudang dan pusat penelitian paling bertanggung jawab guna menjawab apa dan bagaimana mekanisme kebahagiaan berjalan di muka bumi. Weiner segera meluncur sekaligus melancong tentunya, ke sasarannya yang pertama.

 
“Kebahagiaan adalah angka”, begitu bunyi perjalanan Weiner ke Belanda. Ini pasti mengundang tanya, kenapa begitu ya? Nah. Bagaimana dengan definisi ala Swiss, “bahagia adalah kebosanan”, sedangkan untuk Thailand, “kebahagiaan adalah tidak berpikir”. Bagaimana pula dengan definisi jenaka ala Qatar, “kebahagiaan adalah menang Lotre”.

 
“Observasi yang berwarna-warni. Wawasan mendalam yang diselipi anekdot”, begitu testimoni The Economist untuk buku ini. Kenyataannya buku ini memiliki kemampuan humor disana-sini. Yang tetap terasa walau kita membaca sebuah literasi terjemahan. Tentu saja, definisi apik kebahagiaan, terlebih lagi “tempat yang membahagiakan” masih menjadi misteri dan terlalu sederhana untuk dipancing keluar dalam jurnal ekspedisi sekalipun. Setidaknya melalui buku ini kita belajar untuk memilah nilai kebajikan, hal-hal yang sepantasnya dikejar, dan menyibak nilai kebahagiaan itu sendiri. Selamat membaca!

Read Full Post »

Judul Buku:  Sejuta Warna Pelangi
Genre: Buku Cerita Anak Bergambar, Wordless Picture Book
Pengarang: Clara Ng
Ilustrator:
   – Muhammad Taufiq
   – Maryna Roesdy
   – Martin Dima
   – Eddie Sukmadjie
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 220 halaman
Tujuh Warna Pelangi, Sejuta Rasa Mengagumi
Bagaimana perasaanmu saat melihat pelangi? Senang? Takjub? Itulah perasaan saya saat pertama kali menelusuri halaman demi halaman buku ini.
Sejuta Warna Pelangi adalah kompilasi sembilan cerita anak-anak karya Clara Ng yang meraih gelar Juara Adikarya IKAPI. Berkolaborasi dengan empat ilustrator kenamaan membuat buku ini semakin asyik dilahap anak-anak. Bahkan, saya sebagai orang dewasa pun sangat menikmatinya.
851302952_41548
Milo Sedang Bosan dan Kapan Hujan Berhenti? adalah dua judul yang paling menarik bagi saya. Ceritanya yang seru didampingi ilustrasi yang apik dapat merangsang imajinasi anak-anak. Contohnya, kita akan terbayang betapa kacaunya dunia bawah laut saat Milo Si Hiu iseng karena bosan ditinggal kedua orang tuanya bekerja. Dengan lumpur hitam dan ganggang yang melambai-lambai Milo tampak sangat menyeramkan dan tentu saja membuat kaget semua binatang. “Tanpa bisa mengendalikan arah renangnya, Ibu Buni Buntal menabrak Pak Belu, si belut listrik. Durinya yang tajam menancap pada tubuh Pak Belu. “ADDDUUUHHHH!” teriak Pak Belu kesakitan, berenang tanpa melihat arah. Ya ampun! Pak Pius Paus menguap, langsung menyedot Pak Belu ke dalam mulutnya. Pak Pius kecegukan. Hiks. Matanya membelalak terbuka. Hiks. Dia kecegukan sekali lagi. Tiba-tiba Pak Pius berenang liar. Astaga! Apa yang terjadi?! Hiks! Hiks! Hiks! Rupanya Pak Belu yang ada di dalam perut Pak Pius menyetrumnya! Tolooong! Pak Pius berenang kacau-balau, menyebabkan gelombang air laut menerjang setinggi gedung bertingkat.” (Milo Sedang Bosan, hal 87-89) Seru bukan? Selain mendapat kosakata baru, anak dapat mengenal hewan-hewan laut beserta ciri khususnya.
Cerita yang asyik juga dapat kita temui di Kapan Hujan Berhenti?. Fabel ini mengisahkan hujan yang tak kunjung reda di peternakan, yang kemudian menyebabkan sekelompok demi sekelompok hewan berdatangan ke kandang sapi yang aman dan hangat. Selain belajar mengenal binatang, anak-anak juga dapat belajar berhitung secara menyenangkan. “Malam itu hujan tidak berhenti turun. Seekor anak sapi, dua anak kuda, tiga anak kucing, empat anak anjing, lima anak domba, enam anak ayam, dan tujuh anak itik mendengkur pulas bersama. Mereka bergulung hangat dan nyaman sampai pagi tiba!” (Kapan Hujan Berhenti?, hal 215)
Sebagai orang dewasa adakalanya saya merasa tertampar saat membaca buku ini. Tanggung jawab dan tuntutan hidup yang besar seringkali membuat hidup menjadi jenuh dan menyebalkan. Sehingga membuat kita semakin apatis terhadap magic words dalam kisah-kisah dongeng. Kalimat sederhana yang tersebar di beberapa cerita menggelitik kita untuk merenung lebih dalam. “Hati Kakek senang, rasanya ringan melayang. Terbanglah terbang, bagai burung layang-layang” (Aku Bisa Terbang, hal 45). Bukankah memang betul bahwa hati yang senang akan membuat segala pekerjaan menjadi ringan? Dalam Melukis Cinta, cinta digambarkan melalui sinar pagi keemasan di pagi hari, tidak memilih teman dan bermain bersama, juga donat dan kembang gula yang disantap bersama dengan sahabat dan keluarga. “Cinta adalah… Saat aku gembira dan sedih, Mama akan memeluk dan menciumku. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sehingga aku dapat tidur dengan aman sampai pagi tiba” (Melukis Cinta, hal 70-71). Ternyata makna cinta tak perlu selalu disampaikan secara rumit lewat untaian bait puisi ataupun novel roman. Ungkapan sederhana juga mampu membuat hati berdesir mengingat betapa lugasnya dunia anak-anak. Mereka pun dapat memahami cinta sesuai dengan usianya

Read Full Post »

travel

Judul Buku:  A Travelogue
Aceh-Germany-Europe
Penulis:  Saiful Akmal, dkk
Penerbit:  Salsabila
Hal:  308
Cetakan Pertama:  Tahun 2014
Resensi oleh:  Atih S.Nurlaili

Buku ini merupakan kisah perjuangan para putra  aceh  menuntut ilmu di Eropa khususnya Jerman.  Buku yang terdiri dari 6 bagian ini berbagi semangat,  suka dan duka hingga kesuksesan diimpikan benar-benar bukan sekedar impian,  melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan, dengan adanya ikhtiar dan doa.

Jalan Panjang Menuju Jerman, berkisah tentang perjuangan untuk bisa mendapatkan beasiswa di jerman,  pertamakali merasa perbedaan budaya, bahasa, lingkungan di tempat yang baru.

Full time student.. belajar dan belajar
Kuliah di eropa, selain menambah ilmu juga pengalaman hidup yang makin memperkaya jiwa.  (Rifki furqon / oldenburg )
Di bagian ini bercerita tentang pengalaman memahami situasi dan kondisi lingkungan  Jerman,  culture shock di sana.

Part time tourist… rehat sejenak
Berisi tentang perjalanan non akademik ke negara-negara  di Eropa,  seperti Belanda, Italia.

Yang terberat bukanlah menentukan suatu pilihan.  Melainkan menjalankan keputusan yg telah berani dikatakan,diprioritaskan maupun diperjuangkan (Rifqi Furqan /Oldenburg )
Mulailah dari mimpi, lanjutkan dengan doa dan ikhtiar tanpa henti

Muhammad Mulyawan /Clausthal “Dia selalu bersama kita ” Merencanakan untuk thesis di perusahaan minyak dibandingkan di kampus, berbeda dengan  mayoritas  mahasiswa lainnya.  Berbagai upaya dilakukannya, mulai mencari informasi perusahaan minyak di internet, mengirimkan surat pengajuan thesis,  tak lupa sering meletakkan surat-surat tersebut di bawah sajadah dan berdoa di setiap duha dan tahajud tiada henti seraya memohon ampunan Allah.  Masih terngiang bagaimana dia ditolak untuk magang perusahaan, namun tak menyurutkan semangat tuk meraih impiannya.  Hingga satu persatu balasan penolakan itu datang, dan harapannya pada perusahaan RWE Dea AG,  namun hingga tiba masa pengumuman penerimaan,  tak kunjung datang info maupun email balasan hingga dia putuskan menghubungi perusahaan tersebut menanyakan keputusannya.  Surat tersebut dibalas, dan intinya dia tidak diterima.
Hancur sudah harapannya, seketika merasa kecewa, apakah Allah lupa akan doa hambaNya… hingga dia sadar bahwa dirinya hanya manusia yang berupaya, Allah lah yang menentukan hasilnya.  Diapun mengikhlaskannya, dan dalam waktu yang sudah sangat sempit, diputuskan tesis di kampus.
Tak lama, seorang dosen mencari dan menawarkan apakah masih menginginkan tesis di perusahaan?
Ada salah satu perusahaan yang membutuhkan satu mahasiswa untuk melakukan penelitian di tempat mereka,  RWE Dea AG. Proyek yang dilakukan Kepala Departemen Reservoir Engineering RWE sangat sesuai dengan topik yang diangkat dalam tesisnya. Tanpa pikir panjang diiyakan olehnya,dan setelah keluar dari laboratorium, langsung ambil air wudhu dan bentangkan sajadah, melakukan sujud syukur. Tiada syukur yang mampu diucapkan selain tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar dan belajar,   dan dia sangat percaya bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Aulia Farsi /Hamburg “Herzlich Wilkommen” Selamat Datang.
Merasakan bahwa pertama kalinya menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Frankfurt.  Menggunakan Deutsch, bahasa jerman pertama kalinya.  Meski baru awal, sangat kentara perbedaan tempat aktivitasnya di pusat perlindungan orang cacat.  Negara melindungi dan merawat mereka, dengan perlakuan yang baik, penuh perhatian dan kasih sayang. Gratis.
Berbeda dengan negeri kita.

Dalam suatu bagian Islam yang Tak biasa,  menuturkan berbagai tantangan bagi muslim menjalankan ibadahnya di negeri minoritas muslim.  Kesulitan mencari tempat kosong untuk sholat, menjadi hal yang lumrah.  Ketika ramadhan merasakan durasi waktu  puasa lebih lama dibandingkan di Indonesia hanya sekitar 8 jam, akan tetapi di Jerman bisa sampai 18 jam.  Sungguh luar biasa.  Bahkan ketika harus sendiri berkutat dengan tugas dosen di malam takbiran.

Haru,  senang, lucu,  sedih tumpah ruah ketika kita membaca buku ini. Sembari membayangkan jika kita berada di posisi tersebut.

Selain kisah-kisah yang dialami oleh para penulisnya,  di antara perpindahan satu bagian ke bagian lainnya terdapat tips-tips  yang sangat bermanfaat bagi siapapun yang hendak melakukan studi di Jerman.  Buku ini benar-benar memberikan inspirasi dan  gambaran  secara detail  menempuh pendidikan di Jerman.

Read Full Post »

veil

Kebebasan ala Amerika dibandingkan dengan keterkungkungan ala Iran

Judul novel : veil of roses  / kerudung merah
Penulis : Laura Fitzgerald
Penerbit : GPU
Tahun : 2012
Tebal : 370 halaman

Tami Joon adalah gadis Iran yang ‘diungsikan’ keluarganya ke Amerika demi meraih apa yg disebut dg kebebasan. Paragraph awal dibuka dg mengesankan ketika Tami takjub melihat anak usia 9 thn saling meledek ttg pacaran dan ciuman antar lawan jenis. Hal yg tak akan pernah ia temui di negerinya, Iran. Dan awal adegan ini pula yg membuat saya memutuskan membeli buku ini karena penasaran dg isi lanjutannya.

Dalam 3 bulan Tami Joon harus segera menikah dg laki2 iran kaya raya yg sudah berstatus penduduk tetap amerika demi menghindari deportasi. Alur cukup bagus diolah dari konflik ini plus silakan geregetan dg adegan demi adegan karena seolah mencemooh Islam dan mengagungkan peradaban barat dalam hal ini amerika. Meskipun banyak jg kejujuran yg disajikan sebagaimana kalimat berikut ini:

– Di sini (amerika), tampaknya semua dirancang bagi kaum pria utk selalu memikirkan seks.

Tapi jauh lebih banyak suara sumbang thp iran daripada thp amerika sendiri. Mulai dari tertawa yg terlarang bagi gadis di pinggir jalan, budaya hijab dan taaruf serta tak ada cinta ketika seseorang menikah hingga kritikan thp pemerintah iran yg korup tapi sama sekali tdk ada kritik thp pemerintah amerika yg kental dg skandal seks.

Proses Tami Joon beradaptasi sangat natural disajikan dg terjemahan bahasa yg cukup bagus. Sekali baca susah utk meletakkannya sebelum tamat. Intinya, novel ini membawa wawasan baru dan bagus utk dibuat skripsi, thesis dan semacamnya.

Oleh :Ria Fariana (Member grup BACA YUK)

Read Full Post »

Older Posts »

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Life is Beatiful

Me, Myself and food

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang