Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘4 Arwah’

Merabai kecemerlangan, pembelajaran dan….  lebih dari semua itu, saya merasakan kelemahan yang terdalam. Pengakuan yang tidak terbantah.

***

Medan, 10 Februari 2011…. Siap siaga, tangan ini memintal kata, otak bekerja dan hampir-hampir tidak ada jeda. File proposal kerja, bermuatan 20649 karakter baru selesai dirampungkan.

“B’ Isa, besok proposalnya kirim aja ke Burhan” SMS saya ke Ahmad Isa.

             Ahmad Isa, lelaki sederhana, yang menurut saya ada anomali di otaknya. Ehehe. Dia, dalam identifikasi saya, ialah jenis manusia yang cenderung mengaktifkan otak kanan (mungkin). Dia kidal, susah berhitung dan analisis yang ricuh. Kanvas kata-kata yang agaknya dia mengerti. Jangan suruh yang lain, tapi mintalah ia mengarang, niscaya ia menjadi pengarang dengan sebaik-baik karangan. The Cronicles of Draculesti, naskah setebal 100-an halaman A4, bisa ia selesaikan hanya dalam tempo 2 pekan ! Luar Biasaaa!

Burhan, kawan saya ini agak perlente perawakannya. Kami belum pernah bertemu muka. Tapi dari gelagatnya, kawan satu ini kerap menawarkan ‘egoistis’ (ngga mau ngalah) bin ngoyo, dan sempat membodoh-bodohi saya sebab dia mahir berbahasa asing (Inggris, Spanyol, Prancis, dan beberapa bahasa daerah… hehe). Saya tidak akan pernah tahan berkawan dengan orang ngoyo, kalau-kalau saja saya tidak ingat bahwa saya haruslah belajar apa saja dari siapa saja, tanpa pandang bulu. Burhan, memberikan pelajaran paling budiman kepada saya. Pelajaran tentang uang, budi pekerti berbisnis, dan sedikit strategi mencegah ketakutan batin dari kefakiran. Itulah sebab asal muasal, kenapa proposal kerja yang di dalamnya ada rancangan bisnis publishing (penerbitan), saya sarankan ke Isa untuk diberikan padanya saja. Share planning gitu deh….

“Kalian berani bayar saya berapa untuk ngurusin yang ginian” katanya.

Haha. Untung saja saya sudah dikit2 ngerti si Burhan. Wajar sih, dia kan biasa digaji pake dolar di Metrodata.

Dengan nada kolokan, saya bilang:

“Han, jangan lupa kacang sama kulitnya. Kamu kan dulu pernah ngerasain susah. Ni kita lagi susah, tega amat minta komisi. Udah deh, jangan ngaco”. Burhan sudah saya anggap guru. Saya harus lebih cerdas dari sang guru ini, saya pasang tekat. Demi mencegah sifat ngoyo-nya supaya tidak semakin merajalela. Ehehe.

***

Perut bumi berputar, spiral waktu tidak menoleh ke belakang, ia tidak bicara namun tidak pernah ia berhenti. Siapa saja yang meremehkan waktu, niscaya akan terpenggal. Bulan April mengintip, tanda-tanda DRise Publishing akan mengudara, kian menyembul. Apa gejalanya? Satu gejala yang paling signifikan: Modal sudah cair (hehee….). Banyak orang yang mengeluhkan modal dalam kali pertama mereka berwirausaha. Iyalah…. Jangankan berbisnis, kencing saja kita masih dikenai pajak (uang)!

Saya mengeluh…..

(Zakaria) berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.” (Maryam: 4)

 

Maka selirih dengan Nabi Zakaria AS, saya memohon,”Ya Tuhanku, sungguh aku ini tak memiliki penghasilan dan lumbung uang. Dan seumur hidup, belum pernah aku kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku”.

Kun Fayakun! Mengalahi mantera, doa saya itu pun dikabulkan Tuhan Sekalian Alam, Allah ta’ala.

Maka di bulan April yang cerah, DRise Publishing, yang menjadikan The Cronicles of Draculesti sebagai karya perdana, dikirim ke percetakan. Hemm… yahhh mungkin resiko jadi orang yang belum berpengalaman, digiring kesana mau, digiring kesini okey. Buta dan tertatih dalam belajar, saya dan rekan sabar dalam segala rintang. Tidak mengelak dari realita, saya mengaku, sungguh banyak kebodohan saya dalam ini dan itu.

Tapi tak boleh menyerah! Tak, oh Tak!

Maka….

Mulailah diatur jadwal-jadwal promosi, cincai-cincai dengan Pak Adhi (Bos Drise Majalah) mulai dilakukan, cuap-cuap ke segenap negeri terus digalakkan. Tanpa rasa malu, saya tag iklan Draculesti sebanyak-banyaknya. Saya pikir, kenapa saya harus malu. Saya tidak memakan harta korupsi, saya tidak menganiaya siapa-siapa. Saya hari ini, sedang berusaha melayakkan diri untuk ditaburi rizqi dari Allah, bismillah.

(Bersambung……)

Nantikan kilas balik Skenario Allah ta’ala kepada DRise Publishing…… Romantis dan penuh lika-liku lohhh  ^_^

****

(Hemm… Untuk yang mau komplain perihal Draculesti dan Drise Publishing, stay tuned aja ya. Insyaallah ada penjelasan lebih lanjut. Ssttt,,,, entar ada hadiahnya juga loh)

Iklan

Read Full Post »


TELAH  TERBIT! <THE CRONICLES OF DRACULESTI>

-FIKSI SEJARAH ISLAM IDEOLOGIS PERTAMA-

Sebuah serial epik fiksi sejarah yang berkisah tentang perang yang terjadi di abad pertengahan. Novel ini menggambarkan betapa agungnya penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad al Fatih; kekejaman Dracula terhadap prajurit Khilafah Islam; dan takdir yang mempertemukan keduanya dalam berbagai pertempuran. Dracula dan al Fatih tumbuh bersama, namun menempuh jalan  yang berbeda. Novel ini menggambarkan keagungan jihad dan futuhat kaum muslimin untuk menegakkan kalimatullah dan menghancurkan tirani yang mengangungkan umat manusia. Kemudian menebarkan kesejahteraan dan ilmu pengetahuan kepada dunia.

*****

Nahh……  Penasaran kan???? Hayooo Pesan dan Jadilah agen dari buku perdana DRISE Publishing:  ”The Cronicles of Draculesti” karya Sayf Muhammad Isa.

HARGA: Rp. 25.000 ajahhh!!

Persyaratan Agen:

  1. Amanah dan terpercaya
  2. Pola pemesanan

CASH : Pembelian 10-29exp diskon 20%

Pembelian 30-49exp diskon 30%

Pembelian >50exp diskon 40%

KREDIT

Pembelian secara kredit berlaku untuk pemesanan minimal 30exp dan 50%  biaya dibayar dimuka. Pembayaran berikutnya maksimal 3 minggu setelah barang sampai di tempat tujuan. Potongan diskon sama dengan pola pembayaran CASH di atas.

  1. Pembayaran dikirim via Rekening BCA a.n. Dian Fadilah Hasibuan 7865071647
  2. Wajib menyimpan slip bukti setoran ke rekening tujuan. Sebelum kemudian dikonfirmasi oleh DRISE Publishing. Hal ini semata untuk mencegah kesalahpahaman di lapangan.
  3. Ongkos kirim ditanggung pemesan.

AYOO…. SAATNYA LITERATUR ISLAM IDEOLOGIS BANGKIT !!!  BAROKAH!

Informasi dan Pemesanan: Dian (0898 2700 920)

Email: drise_publishing@gmail.com

Read Full Post »

Episode 1 “Perang Sabil”

Pernah terjadi suatu masa di bumi ini, di mana semangat kokoh membaja, pengorbanan sampai kepada puncaknya, kemuliaan membalut tubuh manusia, dan sorga membentang di muka dunia. Di sana, di Aceh, pada abad ke-19. Ketika itu Aceh bukan cuma menjadi Serambi Makkah, tapi juga Serambi Sorga. Seluruh rakyatnya berlomba-lomba meraih cinta Ainon Mardliah, dan membeli rumah megah di padang rumput halus sorga dengan nyawa dan darah. Saat itu kaphe (kafir) Belanda menyerbu Aceh demi menuntaskan nafsu penjajahannya, dan rakyat Aceh maju melawan dalam Perang Sabil yang agung. Dan inilah dia, sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia yang tegak membela agama dan negerinya. Dia serupa kuntum mawar yang mekar dalam kecamuk medan perang. Yang walaupun kecamuknya membakar retih jiwa manusia, tapi harumnya semerbak di dunia dan akhirat. Nama perempuan itu: Meutia.

1874

Pantai Peureulak mendesir desah. Seakan-akan meracau karena manusia demikian kacau. Penjajah hendak menerkam tanah Aceh di mulut pantainya, dan semua orang harus maju membelanya. Bulan suci kian menjelang dan bayang-bayang perang kian mencekam. Pantai telah ramai dengan pasukan perang yang telah siap dengan senjata, kuda, dan perbekalan, hendak bergerak menuju Banda Aceh, sebab penjajah akan memulai penyerbuannya dari sana.

Tak jauh dari pantai berdirilah sebuah rumah megah. Tiang-tiangnya kokoh dan dindingnya tebal. Rumah itu adalah rumah Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak.

Ada prahara besar di dada Teuku Daud. Ia berdiri di kamarnya. Menatap istrinya yang duduk bersimpuh di atas ranjang, ditentang seorang anak kecil yang sedang lelap tertidur. Cut Jah, nama istri teuku Daud itu, dan ketika itu matanya basah, jantungnya bergelora. Teuku Daud berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Pelan tangannya terangkat, dan jemarinya mengusir air mata lara di pipi istrinya. Lalu senyum teragung ia persembahkan kepada perempuan yang dicintainya itu.

“Jangan antar kepergian orang yang hendak pergi melawan kezaliman dengan air mata,” bujuk Teuku Daud.

“Bagaimanalah mungkin air mataku tak tumpah,” isak Cut Jah. “Kau belum tentu akan kembali padaku, Cutbang (panggilan utk laki-laki yang lebih tua, abang).”

“Beginilah hidup sudah diciptakan Allah. Boleh jadi aku yang berangkat lebih dahulu, atau boleh jadi pula dirimu. Kita tak bisa melawan semuanya itu. Tapi apapun yang terjadi, berjuang adalah kewajiban, dan kita mesti ikhlas menetapinya. Yang meninggalkan, ikhlas. Yang ditinggalkan pun harus ikhlas. Ikhlaslah, sayang!”

Tangis Cut Jah meledak lagi, ia menghambur ke pelukan hangat suaminya, berusaha menguatkan hatinya saat harus menatap takdir yang membentang di muka. Mereka berpelukan erat, seolah tak ingin melepaskannya selama-lamanya. Hanya ada cinta di sana.

“Sabarlah, sabar,” bisik Teuku Daud. “Ini semua adalah ujian untuk mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan sampaikanlah kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.”

Cut Jah melepaskan pelukannya, ia sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Jemari Teuku Daud menghapuskan lagi air mata istrinya.

“Semua orang pasti mati,” ia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menjalani hidup kita, dan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang menjemput. Bersabarlah.”

Tiba-tiba terbit senyum di wajah Cut Jah. “Aku mencintaimu, Cutbang! Sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu pergilah kau berperang! Jangan menoleh lagi ke belakang. Belalah negeri kita seteguh-teguhnya. Aku ikhlas. Aku bangga menjadi istri seorang pejuang.”

“Terima kasih, sayang! Istri salihah adalah penghulu bidadari di padang sorga. Dan aku bahagia sebab telah dianugerahi Allah salah satu diantaranya.” Teuku Daud menoleh kepada puterinya yang sedang lelap tertidur. Ia mengecup kening anak itu dan tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, jaga pula Meutia. Ajari dia Islam, agar dia menjadi perempuan tangguh seperti dirimu.”

“Insya Allah,” sahut Cut Jah.

“Kalau ada umur aku pasti kembali. Tapi bila aku tak kembali, sampaikan kepada Meutia, bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang telah syahid membela agama dan negerinya. Aku ingin dia bangga demi mengetahuinya.”

“Janganlah risau tentang itu, Cutbang! Aku pasti mengatakannya. Akan aku ajari dia kebencian kepada penjajah, dan akan aku jadikan dia perempuan yang mulia.”

“Terima kasih,” Teuku Daud menangkup halus kedua pipi istrinya dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mengecup kening istrinya. Cut Jah mencium tangan Teuku Daud dengan khidmat.

“Jangan pernah mundur, Teuku,” Cut Jah tersenyum.

Teuku Daud mengangguk, “Aku mencintaimu, kita tak akan pernah berpisah. Para pencinta boleh mati, tapi cinta mereka tak akan pernah hilang dari muka bumi. Mereka yang pergi tak benar-benar pergi. Yang mati, tidaklah mati.”

Mereka turun dari ranjang, tegak berhadap-hadapan di tengah-tengah kamar. Teuku Daud membetulkan letak kerudung istrinya. Cut Jah menguatkan ikatan pedang di pinggang suaminya. Pandangan mereka jatuh kepada puteri mereka yang sedang terlelap di ranjang, membalurinya dengan kasih sayang. Mungkin untuk yang terakhir kali.

“Marilah,” ajak Teuku Daud.

Mereka berdua melangkah keluar kamar itu, bergandengan tangan. Melapisi hati dengan kesabaran dan keikhlasan abadi. Itulah senjata terampuh menghadapi segala kenyataan. Di beranda rumah mereka berhenti.

Teuku Daud menatap dalam-dalam bola mata cokelat bening istrinya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” sahut Cut Jah.

Teuku Daud menuruni undakan depan rumah itu, melangkah dengan teguh. Tak pernah menoleh lagi ke belakang. Cut Jah menatap punggung kokoh suaminya yang terus menjauh, ia tersenyum, tak ada lagi air mata. Kokohnya gunung Seulawah tak sanggup menandingi kokohnya hati para pejuang. Ikhlasnya bidadari tak akan kuasa melawan keikhlasan hati istri-istri pejuang.

Cut Jah berjalan kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, ia melihat puterinya telah bangun dan duduk sendirian sambil mempermainkan kain selimutnya. Cut Jah tersenyum dan menghampiri ranjang, ia peluk puterinya itu dan digendongnya. Ia buaikan rindu puterinya dengan mendendangkan syair yang menggetarkan kaum penjajah. “Kau tahu, sayang, ayahmu adalah seorang pejuang!”

“Allah hai dododaidi

Boh gadung bi boh kayee uteun

Rayeuk sinyak hana peu mak bri

Aeb ngeun keuji ureung donyakeun

Allah hai dododaidang

Seulayang blang ka putoh talo

Beurijang rayeuk muda seudang

Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le

Beudoh sare tabela bangsa

Bek tatakot keu darah ile

Adak pih mate po mak ka rela.”

Allah hai dododaidi (semacam ninabobo dalam bahasa Aceh)

Buah gadung buah-buahan dari hutan

Kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

Aib dan keji dikatakan orang-orang.

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

Cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda

Supaya bisa berperang membela negeri.

Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri saja

Mari bangkit bersama membela bangsa

Janganlah takut jika darah mengalir

Walaupun engkau mati, Nak, Ibu sudah relakan.

[Sayf Muhammad Isa]

Read Full Post »

Si Kakek renta berjalan terseok. Mengayunkan cangkul di tanah tandus berbatu-batu. Lemah dia memukulkan cangkul yang hitam itu menghempas debu. Rasa lelah tidak mampu mengusir senyuman di bibir keriputnya. Mata keruhnya bercahaya penuh harapan yang naik menembus langit dan pergi entah ke mana.

Tangannya yang kisut meraih benih kurma itu, membenamkannya ke lubang di tanah yang sederhana. Diletakannya benih itu di sana seperti seorang ibu yang menimang-nimang bayinya dengan sayang. Berharap satu hari kelak akan tumbuh sesosok makhluk yang akan menebarkan kebaikan kepada semua. Seorang pemuda berlalu di hadapan si Kakek.
“Mengapa engkau menanam kurma-kurma itu wahai kakek? Baru 25 tahun kemudian akan keluar buahnya, sementara itu kau sendiri telah tiada.”
Si Kakek tak kehilangan senyumnya.

“Tak perlulah aku menikmati apa yang sudah aku tanam. Biarlah orang-orang yang datang setelahku yang akan menikmati hasilnya. Aku hanya ingin pahala dari Tuhan untuk apa yang sudah aku lakukan ini, untuk selamanya, walaupun aku telah mati. Walaupun orang tak kenal siapa aku.” Si pemuda tertegun. Sungguh benar apa yang dikatakan si Kakek. Buat selamanya dia tak akan pernah melupakannya.

Si Kakek telah lama pergi. Tapi boleh jadi, kurma yang dinikmati seorang anak di sudut kamarnya, atau yang dipetik orang lalu, untuk menawarkan rasa laparnya, atau yang diambil si miskin untuk dijual dan diambil hasilnya, atau yang manapun dia, adalah kurma si Kakek yang dahulu pernah ditanamnya. Manusia boleh lupa, tapi Tuhan tidak pernah lupa. Tulisan manusia bisa salah, tapi tulisan malaikatNya tak pernah salah. Bayaran dari Tuhan bagi si Kakek mengalir tak henti-hentinya. Terus mengalir, bukan seperti sungai yang sekali waktu ada surutnya. Pahala dari Tuhan tidak akan surut.
Kami percaya apa yang sudah kami lakukan selama ini tidak sia-sia. Tidak percuma. Walaupun sederhana, kami ingin meninggalkan karya yang walaupun nanti tatkala kami sudah lama tiada, hasilnya bisa terus kami petik. Itu saja!!

Oleh: djenderal 4 arwah

Read Full Post »

‘IZZAH KARIM

Oleh: Sayf  Muhammad  Isa

Mesir

Malam hitam kelam. Pekat menakutkan. Namun apabila malam semakin kelam, apabila gelap semakin hitam, tandanya cahaya akan segera datang. Begitulah takdir Tuhan.
Langit malam itu menggelantung di bumi Mesir, memayungi kediaman Jenderal Besar Angkatan Bersenjata Republik Mesir, Syaddad Moustafa. Segala masalah padat sesak di kepalanya. Sepuluh jarinya berlarian di atas tuts laptop. Kaca matanya membayangkan layar yang bercahaya itu. Seragam dan balok pangkat bintang empat yang berat karena tanggung jawab sedang tidak dikenakannya, diganti sehelai kemeja ringan lengan pendek warna putih. Jenderal Syaddad nasionalis sejati, bertanggung jawab, dan keras pada keadilan. Kata-katanya lugas dan tanpa kompromi. Kalau dia sudah mengambil keputusan akan sulit mengubahnya lagi. Di tangannyalah kekuasaan angkatan bersenjata Mesir terletak, pengaruh dan kharismanya besar. Dagu kerasnya kokoh, dihiasi janggut pendek yang tumbuh sampai pipi dan lehernya. Sebagian telah memutih namun tak mengurangi kewibawaannya.
Tiba-tiba pintu kamar kerjanya diketuk, suara salam terdengar. Ia jawab salam itu dan menyahut.
“Masuk saja, tidak dikunci,” tanpa mengalihkan pandangan sekejap pun dari laptopnya.
Masuklah ke ruangan itu, seorang perempuan muda, cantik dan mulia. Sebab tubuhnya terbalut pakaian takwa. Ia melangkah pelan ke hadapan Jenderal Syaddad di seberang meja. Sang Jenderal menatap perempuan itu, wajahnya tegang saja, padahal perempuan itu adalah puterinya sendiri, namanya Nouha.
“Ayah harap kita bicarakan hal penting kali ini,” kata Jenderal Syaddad. “Tidak perlu lagi memicarakan hal yang sudah selesai.”
Nouha tersenyum manis kepada ayahnya. Bagi Jenderal Syaddad semua urusan militer dan politik akan selesai di tangannya dengan baik. Ia setia, Ia ada di garda terdepan dalam menghancurkan semua musuh negara, memerintahkan pembunuhan lawan politik sudah biasa baginya, Ia patuh kepada rezim dan negaranya, tapi urusannya dengan Nouha tak pernah selesai. Urusan yang dibawa Nouha tiap malam ke meja kerjanya menambah-nambah berat beban pikiran di kepalanya yang sudah padat sesak.
Sejak isterinya meninggal, Jenderal Syaddad sangat mencintai puterinya itu. Ia penuhi semua kemauan Nouha, semuanya, kecuali satu hal.
Nouha masih tersenyum, “Urusan ini tak akan selesai, Ayah, tak akan pernah selesai, sampai Allah azza wa jalla memenangkan agama ini. Tiap malam aku akan memohon pertolongan kepada Ayah. Karena Ayah memiliki semuanya. Ayah memiliki kekuatan itu, ayah memiliki kekuasaan itu, dan aku akan terus meminta. Tolonglah para pengemban dakwah, beri perlindungan kepada mereka, dukung mereka, limpahkan kekuasaan pada mereka. Pada tangan ayah-lah sesungguhnya kekuasaan nyata itu berada, karena itu lindungilah mereka dengan kekuasaan itu agar mereka bisa menegakkan Islam dengan sempurna, dan menolong saudara kita yang sedang dijajah.”
“Tak mungkin, Tak mungkin, Nouha,” Jenderal Syaddad berdiri dan menggebrak meja, Nouha tersentak kaget, laptop terbanting, “Kau mau ayah mengkhianati negara? Mengkhianati kontitusi kita? Kau mau ayah jadi pengkhianat?”
“Tak ada gunanya taat pada negara ini. Ayah hanya akan menambah dosa dan kemaksiatan. Jangan ayah bela penguasa antek penjajah, ayah akan mengkhianati Allah dan RasulNya. Demi Allah, aku takut ayah merugi dunia dan akhirat karena membela thagut.”
“Jauh-jauh ayah menyekolahkanmu ke Inggris malah jadi pembangkang seperti ini. Ayah kecewa padamu, KECEWA.” Nada suara Jenderal Syaddad terus meninggi.
“Inilah yang benar. Quran dan sunnah yang harus kita taati,” suara Nouha tetap lemah lembut. “Tolonglah pengemban dakwah, dengan dukungan ayah syariat pasti tegak, Khilafah pasti berdiri, kekuatan kita akan kembali, dengan itu kita pasti bisa mengusir penjajah, menolong saudara kita yang dibunuhi tiap hari, me…”
“DIAM,” potong Jenderal Syaddad. Ia melangkah mendekati Nouha yang tak mau berhenti bicara.
“Jangan setia kepada pemimpin munafik yang membiarkan saja saudaranya mati dibantai penjajah, malah mereka membantu penjajah membantai saudara kita dengan membangun pagar besi. Mereka menginjak-injak Quran dan Sunnah. Mereka itu biadab. Tolonglah kaum muslim, Ayah, tolong ka…”
Plakk…! Jenderal Syaddad kehilangan kesabarannya dan menampar Nouha sampai jatuh terjengkang di lantai. Tak pernah sekali pun ia melakukan hal itu pada puteri kesayangannya, namun malam itu Nouha sudah kelewat batas.
“JANGAN BICARA LAGI,” hardik Jenderal Syaddad sambil menunjuk Nouha.
Nouha menutup wajahnya yang telah memerah, ia menangis.
Menatap puterinya itu Jenderal Syaddad luluh juga. Ia berlutut di sebelah puterinya dan memeluknya, merasakan bahu Nouha yang berguncang di dadanya.
“Nouha, tolong jangan pancing ayah lagi, tak mungkin ayah memenuhi permintaanmu. Kau tahu posisi ayah? Kau tahu siapa ayah?”
Suara tangisan suci memecah malam. Nouha terisak air mata, dan rasa nyeri tamparan itu menerjang hatinya. Tapi ia berusaha kuat. Ia hapus air matanya, perlahan ia lepaskan pelukan tangan ayahnya. Jenderal Syaddad lamat-lamat menyadari sesuatu yang tak enak. Nouha bangkit pelan-pelan.
“Ayah mencintaimu, tak ingin kehilanganmu, hanya dirimu yang ayah punya, kalau kau bicara begini terus kau bisa celaka,” nada suara Jenderal Syaddad mulai menurun, ada sesal di hatinya sebab telah menampar Nouha. “Ayah pun bisa celaka.”
“Kecelakaan mana yang paling besar kalau bukan murka Allah? Mengapa aku meminta semua ini setiap malam? Karena aku mencintai ayah. Karena aku tak ingin ayah mendapat azab yang pedih di akhirat kelak. Aku ingin keluarga kita berkumpul kembali di sorga,” Nouha menunduk, tak kuasa menatap wajah ayahnya.
Jenderal Syaddad diam saja, air mukanya keruh, rasa hatinya tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Nouha berbalik dan melangkah gontai keluar ruangan itu sambil membisikkan ratapan hatinya yang kelak berubah menjadi doa.
Allahumma a’izzal islama wal muslimin, wa ahlikil kafirota wal musyrikin…
Dan Jenderal Syaddad tenggelam ditelan malam sendirian.

Kamp X-Ray
Teluk Guantanamo

Malam masih kelam menakutkan. Kadang-kadang suara jeritan terngiang nyaring di penjara itu, X-Ray. Tempat Amerika menyempurnakan penjajahannya kepada orang-orang Islam. Terali-teralinya kokoh, lampu tembak menyala terang. Serdadu-serdadu berbaju loreng mondar-mandir melaksanakan tugasnya.
Pada salah satu ruang interogasi di fasilitas penjara itu duduklah seorang pemuda, sendirian. Wajahnya ditumbuhi janggut dan kumis, makin menyempurnakan tampang arabnya. Di ruangan itu hanya ada kursi tempatnya duduk, tak ada benda lain lagi. Dinding-dinding dari besi menyelimuti sekelilingnya, dan membuat tanda tanya demikian menyiksa. Pakaian seragam oranye khas tahanan Kamp X-Ray terpasang longgar di badannya.

NEXT.. (lebih…)

Read Full Post »

Isa “4Arwah” dan Sabil

Pada kesempatan kali ini, saya akan meresensi atau lebih tepatnya mengulas sebuah teluran pikiran anak manusia yang lahir ke dunia. Telur itu akhirnya menetas dengan selamat sentosa, dan menjelma menjadi sesuatu yang disebut karya fiksi, berjudul “Sabil”.
Saya mendapatkan Sabil langsung dari penulisnya. Sabil ditulis secara runut dan sensasional oleh Muhammad Isa alias Sayf Ahmad Isa. Pertama kali ditawari Sabil, saya berasumsi bahwa ini seperti novel anak muda kebanyakan. Yakni tentang Rangga ‘sholeh’ mencari Cinta yang ‘sholehah’. Atau apa pun itu yang berwujud teenlit islami. Sah-sah saja sih. Malah saya termasuk yang minat juga. Tapi kali ini saya keliru. Sabil bukan apa yang saya duga.

Saya bertanya pada Isa: ”Ini novel tentang apa?”
Isa berkata: “Perang Ajteh”.

Saya mengucek mata. Saya tidak salah lihat kan? Hari gini ngomongin perang aceh? Emang ada yang lirik ? Betapa semangat di dada saya memburu. Apa ini semacam jawaban dari doa-doa saya. Apa ini pula semacam pertanda dari tetes air mata saya yang jatuh beberapa kurun waktu ini. Sebelum Isa memberikan Sabil, saya sempat terdiam lama dalam perenungan saya melalui buku yang saya baca. Buku itu berjudul :”Pesan-Pesan Menggugah”. Buku ini sangat menyentuh, dan sungguh merupakan penyembuh bagi jiwa yang futur. Di dalamnya ada kisah orang-orang yang menikmati jihad. Betapa mereka telah mencium aroma surga dari padang pasir yang tandus, padahal istana adalah tempat biasa mereka berteduh. Mereka membaui kasturi dari darah yang tercecer. Kilatan pedang syuhada adalah kunci dari terbukanya surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Subhanallah! Sungguh di luar logika. Tapi saya percaya, gemuruh itu ada. Dan takkan sia-sia. Entah energi seperti apa yang mengaliri mereka. Satu yang pasti: Saya sangat iri! Sangat! Saya ingin mengecapnya. Yakni bau darah yang berubah menjadi kesturi. Padang tandus yang senyaman kasur sutera. Dan adakah obat yang membuat saya terasuki ?? Air mata saya jatuh ke bumi. Jatuh begitu saja….
Maha Kuasa ALLAH atas apa yang DIA rancang. Sabil menghampiri. Maka Sabil adalah apa yang kamu baca berikut ini. Kisah Perang Aceh yang sudah tertelan waktu dan dilupakan. Padahal perang ini meledak luar biasa, dimana disana kita akan merabai para ibu yang melepaskan anaknya pergi berjihad. Suami yang gugur menjadi syuhada. Dan pasangan yang tak pernah dipasangkan di dunia, tapi menunggu di akhirat. Uniknya, meski novel ini bernuansa trailer menegangkan dan ’berat’, kamu jangan takut merasa digurui. Sabil tidak hanya tentang pasukan berkuda dan teriakan-teriakan Jihad, justru melalui Sabil saya mengenal cinta sejati serupa nikmat yang tidak terlupakan seumur hidup. Malam-malam romantis yang membuat dahan-dahan dan rembulan akan cemburu. Subhanallah. Jihad, sejarah perang aceh dan romantisme dibungkus dalam satu paket. Kita pun akan tau bahwa Perang Aceh dekat dengan Kekhilafahan. Ini tak lagi terbantahkan. Betapa ungkapan ’Serambi Mekkah’ bukanlah sebutan yang disematkan begitu saja tanpa goresan tinta emas di masa lalu. Ya, memang sudah saatnya kita mengetahui jati diri, setidaknya kisah di negeri sendiri. Sudah tiba masanya kita tidak lagi sibuk dengan diri sendiri. Jihad menanti, kawan. Persiapkan diri! Insyaallah, Allah akan menuntun. Dan pada akhirnya…… SABIL hadir ke hadapan kamu! Enjoy!

Teuku Nanta duduk tegak di punggung kudanya yang berwarna hitam. Ia ada di Pantai Ceureumen, tepat di tempat di mana ia berada kemarin, dan beberapa hari sebelumnya. Firdaus tegak di sisinya, menunggang kuda pula.
“Bagaimana, Tuanku?” Tanya Firdaus.
Teuku Nanta diam sejenak dan memandang mata Firdaus lekat-lekat lantas tersenyum, “Kita berperang dengan Belanda.”
Firdaus pun tersenyum lebar, “Benarkah?”
“Surat Belanda yang terakhir hari ini tak perlu dibalas. Belanda menuntut Aceh untuk menyerahkan kedaulatannya dengan batas waktu sampai besok jam delapan pagi. Kita cukup mengibarkan bendera putih jika kita menyetujui tuntutan mereka. Tapi tentu saja jawaban kita tidak. Jika sampai besok jam delapan pagi kita tak mengibarkan bendera putih di pantai maka Belanda menyatakan perang secara resmi dengan kita.”
“Sebuah perang resmi rupanya!” Firdaus memandang ke tengah lautan.
“Ulama-ulama dan uleebalang Aceh sungguh ksatria,” lanjut Teuku Nanta, “mereka pun semuanya memilih melawan. Aku bangga melihat mereka. Saat ini mereka sedang mempersiapkan pasukan tempur yang mereka bawa.”
“Aceh berperang pula dengan Belanda ternyata,” Firdaus tersenyum terus. Ia masih tak menyangka.
“Sepertinya kau senang sekali?”
“Kita harus sambut tantangan ini dengan gembira, Tuanku.”
“Tentu saja. Berani mereka menginjakkan kaki di tanah Aceh akan hilanglah nyawa mereka satu-satunya,” Teuku Nanta dan Firdaus tertawa terbahak-bahak.
“Sebenarnya dari semenjak kemarin aku merasa ada sesuatu yang aku lupa,” Teuku Nanta memijit-mijit keningnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, “Tapi aku tak berhasil mengingatnya.”
(lebih…)

Read Full Post »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis sebagai Pengingat

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

Write The Universe

Menulis sebagai Pengingat