Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘islam’

(Bakal panjang nih, nyeduh teh dulu sono)

.

.

.

Cyduk!

Rasa dendam menjalar. Bahkan hingga di halaman 123, belum-belum juga ketahuan, apa sih makhluk yang berhasil ditemukan Edmond Kirsch. Apa semacam sel berukuran mega-DNA sebagai asal mula segala sesuatu. Ataukaah kotak pembentur partikel yang mampu menstimulasi Big Bang secara sintetis. Atau ini lelucon The Real Slim Shaddy yang memproduksi ribuan Eminem berkostum putih-putih, yang sama mahirnya berkata kotor.

 

Ini kali pertama saya melarutkan diri untuk Dan Brown. Yes, slice by slide, every single moment. Enam karya Brown lainnya, pernah coba-coba saya baca, tapi kok nggak masuk otak ya. Hehe. Abaikan! Saya tidak harus merasa lebih keren dengan membaca penulis-penulis sohor. Tapi yang ini saya tertarik, sejak awal. Judulnya, topik, latar, sesi pembuatan, membuat penasaran.

 

Origin. Cerita ini dimulai dari pertemuan Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama dunia, mewakili Kristen, Yahudi dan Islam. Mereke bertemu di Perpustakaan Montserrat yang legendaris. Kirsch, hendak mempresentasikan sampel temuannya, yang konon menjawab asal mula kehidupan. Ketiga pemuka agama itu gusar bukan main. Nasib agama dan spiritual seolah diambang kehancuran. Tidak diceritakan, alias secara sengaja dirahasiakan oleh penulis, something macam apa yang akan diumumkan Kirsch kepada dunia.

 

“Orang-orang paling berbahaya di bumi adalah orang-orang saleh, terutama ketika Tuhan mereka diserang” (Origin)

 

Di sisi lain, kelompok rahasia beraliran Kristen tertentu menyusun rencana.  Kelompok elit, sangat konservatif, merekrut para anggotanya dengan membawa janji-janji suci. Sosok elegan, taat, bertangan dingin, diwakili tokoh Luis Avila, yang tergabung ke dalamnya.

 

Teroris Kristen, begitukah? Tentu saja, Brown tidak sevulgar itu. Dia tahu bagaimana ‘aturan main’. Semakin halus sapuan narasi, semakin dia mampu menggiring orang banyak. Itu soal isi cerita, silakan dibaca sendiri kelanjutannya.

 

origin

Ada beberapa catatan dialog, yang menjadi titik kritis untuk saya pikirkan lebih banyak.

 

“Apa dua pertanyaan fundamental yang diajukan umat manusia sepanjang sejarah kita?” Kirsch bertaya kepada sahabat lamanya, Robert Langdon.

“Yah, pertanyaannya adalah : Bagaimana semuanya ini bermula? Dari mana asal kita?”

(Origin, halm 65)

 

Loh pertanyaan macam apa ini? Sekolah-sekolah kekinian tampaknya semakin tidak ingin menjawab dialog semacam ini. Mungkin terlalu sakral, jadi silakan dicari masing-masing. Atau….. Memang semakin tidak dipentingkan lagi? Kita berada di era kemajuan, yang melesat tiada bandingnya. Walhasil, manusia lebih disibukkan seputar itu.

 

nizhom

 

 

Syaikh Taqqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizomul Islam menjawab khusus piranti-piranti manusia, piranti yang paling rumit, yang beliau sebut ‘uqdatul kubro’. Siimpul besar,  yang diisyaratkan sebagai tiga pertanyaan besar: dari mana, mau apa, mau kemana. Jangan salahkan Brown, kalau menyebutnya cuma dua. Brown itu orang kafir, dia tidak mengenal (iman) pada syariat (islam), ya boro-boro sih Buk.

 

Saya cukup terkesan bagaimana usaha Brown mengurai perkembangan spirtual dari masa ke masa. Jangan-jangan salah satu kepustakaan Brown berasal dari tulisan filsuf “yang entah nggak jelas dia ngomong apa”. Hehe. Semua ini  butuh pendekatan narasi yang lebih sederhana untuk ditangkap otak-otak lugu seperti saya. Setidaknya kutipan dialog ini cukup bisa dinalar arahnya:

“Kita adalah makhluk yang  ber-evolusi secara intelektual dan berkeahlian teknologi. Kita tidak mempercayai pandai-besi raksasa yang bekerja di perut gunung berapi atau dewa-dewa yang mengendalikan air pasang atau musim. Kita sama sekali tidak seperti nenek moyang kuno kita.” (Origin, halm 98)

 

Mirip-mirip sebenarnya dengan dagelan filsuf ‘manusia menciptakan agama’. Masih seputar-putar itu, pikir saya.

 

Di Planetarium ala Edmond Kirsch, Brown menggambarkan perkembangan tuhan-tuhan manusia dari masa ke masa secara visual melalui deskripsi verbal. Sebagai orang Islam, kesakralan “Allah, the only one God” tergolong aman dalam kesanggupan narasi manapun, termasuk Brown. Karena Tuhan saya tidak diwenangi untuk dilukiskan oleh pihak manapun. Sejak awal seharusnya kita berpikir, Tuhan memang tidak serendah itu, bukan?

 

Salah satu yang menarik lainnya, perspektif Brown tentang neuron. Disini saya tergugu, Brown sudah sampai ke titik itu. Edmond Kirsch berusaha berimajinasi tentang komputer super canggih yang ditanyai seputar urusan-urusan manusia.

 

Dari mana asal kita?

Kemana kita akan pergi?

 

Jawaban komputer itu ialah : “DATA TIDAK MENCUKUPI UNTUK RESPONS AKURAT” (Origin, halm 102).

 

Apa jadinya kalau Dan Brown ikut halqahnya Syaikh Taqqiyuddin? Haishh, pyurrr ngawur. Mereka kan beda zaman, hehe. Masih dari kitab yang sama, tulis Syaikh Taqy rahimakumullah:

“Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah Swt, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Tetapi bukan berarti dapat dikatakan, ‘Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah Swt, sedang akalnya sendiri tidak  mampu memahami Zat Allah?”.

 

Lanjut Syaikh Taqy mengenai hal ini : “Usaha manusia untuk memahami hakekat Zat Allah Swt merupakan perkara mustahil untuk dicapai. Sebab, Zat Allah berada di luar jangkauan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat  yang berada di luar batas kemampuannya. Seharusnya keterbatasan ini justru menjadi penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan.”

 

Soal kalimat terakhir ini, saya sepakat. Bukankah nikmatnya hidup karena ‘misteri di dalamnya’. Dalam masa kenabian pun, permintaan ‘bertemu hakekat Allah ini’ selalu kita temukan. Boro-boro ditampakkan padanya hakekat, nur Allah itu membuat silau mata manusia. Sesilau-silaunya. Singkat kata, matamu tidak berguna di hadapan Allah. Sinyal otakmu tidak kesampaian untuk menjangkau-Nya.

 

Rentetan pertanyaan lain telah menunggu. Kalaupun Dan Brown membaca karya Syaikh Taqy ini, mungkin dia nggak cukup puas. Memang harus ngaji sih, Om!! Hihihi…. Wuedan, Dan Brown disuruh ngaji. Wiwiiwiw….

 

Dan Brown meracik topik yang sulit dengan cerita-cerita misteri yang manis. Terlepas kemudian, suka-suka dia mau dibawa kemana. Lebih suka-suka lagi pembacanya, mau dipahami bagaimana. Syaikh Taqy mengilhami banyak murid-muridnya dalam mengurai simpul besar. Pertanyaan fundamental yang membayangi semua manusia, tanpa terkecuali. Simpul besar, gerbang mengenal-Nya yang memiliki sifat yang sembilan puluh sembilan.

 

Anyaway…. By the way,,, Pertanyaan lampirannya ialah: Kapan murid Syaikh Taqy buat cerita manis semacam ini??! [] Alga Biru

 

 

 

 

*)Keterangan gambar

Atas : Penerbit Mizan Official

Bawah : Koleksi Pribadi

Iklan

Read Full Post »

“Kalau datang ke acara lihat urgensinya apa. Jika ada (urgensi), ya silahkan (ke Monas). Kalau tidak, buat apa (datang). Apa sih yang mau disuarakan?” ujar Kang Emil itu, Kamis (30/11/2017) seperti dikutip Detik.

Melalui akun twitter, Bapak Ridwan Kamil berkicau dua kali terkait kepentingan acara Reuni Akbar 212 sembari meng-capture sikap MUI Jabar yang mengimbau warganya tidak ikut acara tersebut. Kenyataan selanjutnya ialah ratus ribuan orang mulai memenuhi Monas sejak jumat 1 Desember 2017 dan mengalami puncak kepadatan di esok harinya. Jika MUI saja sudah mengimbau tidak datang, jadi orang-orang ini hadir untuk apa ya?

Monas sempat digadang-gadang batal untuk digunakan. Kita mengapresiasi sikap Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang menepati janjinya, guna memberi tempat perizinan jalannya acara. Pengukuhan persatuan umat Islam, itu yang ingin ditunjukkan para peserta yang tidak kurang dari 800ribuan banyaknya. Mereka yang hadir tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, namun juga luar Jakarta bahkan luar daerah.

Mengutip pernyataan Fadli Zon yakni, “Kegiatan ini adalah kegiatan konstitusional, kegiatan yang dijamin konstitusi dalam Pasal 28 bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat,” seru Fadli dari atas panggung yang disambut riuh oleh massa yang hadir. (Kompas/02/12)

Netizen membanjiri lini masa dan melakukan citra diri untuk sekadar menampik fitnah yang dituduhkan pada mereka sebagai ‘peserta bayaran’. Mereka datang dari hati, menyatukan komitmen, membela suara Islam, yang hari ini semakin dipersulit gerakannya. Agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW pada 14 tahun silam, tidak hanya menyatukan umat dari sisi spiritual, melainkan aksi sosial dan politik.

Ujaran Tito Karnavian bahwa aksi ini tak lepas dari nuansa politik, tampaknya cukup beralasan. Jangan baper, memang Islam itu berpolitik kok. Politik disini bukan alih-alih bersikap praktis, namun memahami politik sebagai usaha umat Islam untuk diurusi dengan Syariah Islam selaku umat Rasulullah SAW.

 

…Akumulasi dari segala pandang yang dibawa dari reuni kali ini ialah, semangat juang sampai titik darah penghabisan. Persatuan ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan…

Tampak hadir meliputi para politikus seperti Anies Baswedan, Amin Rais, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Fahri Hamzah. Sangat disayangkan Presiden Jokowi tidak hadir dalam acara ini, yang seharusnya menyambut baik undangan panitia dan umat Islam secara umum.

“Balas dendam politik itu nyata”, ungkap Ustadz Rahmad Labib selaku DPP Hizbut Tahrir Indonesia, sebelum harakah ini resmi dibubarkan rezim dengan melalui Perppu Ormas No 2 Tahun 2017. Metro TV mengangkat tajuk “Meneladani Sang Nabi” dengan narasi intoleransi yang gagap gempita di bawah payung Reuni Akbar 212.

Bak memancing di air keruh, media satu ini belum kapok merespon negatif semangat umat Islam. Bagaimana bisa menyebut intoleransi kalau ketoleran itu dilanggar sendiri oleh mereka yang merasa paling toleran? Satu per satu umat Islam melalui perpanjangan suara ulama terus dihadang. Persekusi acara pengajian, pencitraburukan aktivis, isu terorisme, tak habisnya digoreng pihak sono untuk membendung ide-ide Islam.

Rabun dekat pada persoalan orang, rabun jauh pada masalahnya sendiri. Pepatah itu tampaknya cocok buat orang yang masih menggunjingkan persatuan umat Islam di Indonesia. Sementara pemerintah tak kian berbenah, hutang Indonesia membengkak menjadi 810 Triliun rupiah, dan dikhawatirkan terkena dampak krisis di tahun 2018 yang tak lama lagi segera datang.

Dalam atmosfer yang kian terjepit ini, umat semakin menyadari urgensi Islam sebagai solusi kehidupan. Persatuan umat, berdaya di negeri sendiri, merangkul persaudaraan, dan berkeadilan adalah semangat yang bisa kita tangkap dari rentetan kejadian setahun belakangan.

Dengan berkibarnya Ar-Rayah pada Reuni Akbar 212, ajaran Khilafah kembali disebut-sebut. Portal berita CNN keukeh menyebut bendera hitam bertuliskan laailaha illallah muhammad rasulullah sebagai bendera HTI, dan wujud intoleransi. Ini kesempatan buat kaum muslimin terutama orang yang faqih agama guna menjelaskan kedudukan dan ruh dari bendera agung Rasulullah SAW.

Akumulasi dari segala pandang yang dibawa dari reuni kali ini ialah, semangat juang sampai titik darah penghabisan. Persatuan ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan. Kalau ada halang rintang dalam perjuangan, ingatlah kembali betapa indah masa berkumpul dalam kebersamaan, disatukan dalam ruh izzatul Islam. Ketika persaudaraan ini dipertalikan oleh Sang Penggenggam Hati, Allah Yang Maha Tinggi. Panjang dan terjalnya perjuangan, biarlah Allah SWT yang memecut diri dan memilih kita sebagai hamba-hambaNya yang terbaik. Wallahu’alam. [Alga Biru]

.

.

,

*)Diterbitkan pula di Portal VOA-ISLAM :

http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2017/12/04/54666/reuni-akbar-212-bukan-akhir-melainkan-awal-dari-perjuangan/#sthash.D1jOC9xJ.mFYPljy6.dpbs

Read Full Post »

Sebenarnya bukan “lesbi” dalam artian ‘body contact”. Mungkin lebih tepatnya SSA (Same Sex Attraction) alias kecenderungan suka pada sesama jenis. Yup, sejak SMA, aku selalu punya teman dengan riwayat yang kecenderungannya SSA. Awalnya ya berteman biasa. Jalan bareng, ngerumpi bareng, pokoknya demen bareng kemana-mana. Mungkin karena anak cewek, ya wajar dong senengnya bareng-barang. Atau pegang tangan (maksudnya, gandengan pas jalan), ya menurut aku waktu itu wajar-wajar aja. Anak cewek kan beda sama anak cowok. Lebih sensitif gitu. Plus sentuhan itu bagian dari eksistensi kedekatan.

Kalau teman SMA, emang nggak bikin pengakuan. Cuma ngerasa aja, “ini orang gelagatnya makin aneh aja”. Yang cukup shock itu pas jaman kuliahan. Ada teman, sebutlah namanya Nia. Kita nggak deket sih. Cuma dianya suka banget deket-deket aku. Bela-belain main ke rumah, walau rumahnya jauh dari rumahku. Sekali dua kali mampir sih, it’s OK. Tapi kalau keseringan dan akhirnya malah “krik krik krik” alias obrolannya garing, aduh gimana ya. Mau ngusir gimana, kan nggak sopan.

Akhirnya aku ngasi “kode” kalau aku tuh dah bosen banget menjamu dia. Aku diem seribu bahasa. Ogah dalam memulai topik pembicaraan. Bicara pun sekena-kenanya (Aduh, kalo diingat, kok tega banget kayaknya ya. Hehe). Ehh, dianya tahan banting. Dia ngeliatin aku dengan tatap mata menusuk. Nggak bisa lepas matanya ngeliat aku. Malah lama lagi. Ada kali, dua puluh menitan diplototin gitu. (Baru sadar pas dia pulang, tatapannya itu ngeri alias tumpah penuh nafsu). Sebagai pecinta lawan jenis, diliatin sesama jenis nggak gimana-gimana sih. Cuma agak aneh aja, bertanya-tanya. ‘Aku kenapa ya? Apa salah pake baju? Atau ada salah sikap”.

Karena berteman sesama jenis itu bukan dosa, ya aku kembali seperti sedia kala, berteman dengan siapa aja. Belakangan aku digosipin ngasih harapan cinta sama Nia. What the….? Hello, aku masih doyan cowok. Kok udah ngomong soal harapan cinta nih. Teman ya teman, kok jadi demen sesama gini ya. Waduuuhhh… Hemm, jujur, aku nggak pengen nyakitin siapa-siapa. Nggak juga pengen ngeliat hal-hal yang di luar batasnya. Kalau butuh tangan, aku ulurin. Apalagi emang tugas teman untuk saling bantu. Yeahh,,, enak nggak enak dapat rumor kek gini. Malah aku kan orangnya takut pacaran, alias tipe orang Mencari Pasangan Halal. Jadi, ya nggak pacaran dong. Karena nggak pacaran, plus sering disambangin Nia, ya terjadilah gosip-gosip busuk di belakang.

Belum sempat nolongin Nia secara terapis. Tapi yang pasti aku ajakin dia ngaji dan baca surah Al-Kahfi Al-Waqiah tiap malam jumat. Siapa tahu ngefek alias jadi doa yang benar buat kami bersama. Nggak maulah terjerembab dalam fitnah. Kecenderungan suka sesama jenis ini ada latar belakangnya loh. Dari situ, aku ngeterapi Nia kecil-kecilan. Karena sebenarnya, Nia juga pengen melepas ‘rasa ini’. Pengen jadi yang seharusnya, suka ke lawan jenis. Seperti yang agama dan norma gariskan. Sabar, ini ujian. Kalau diuji, pasti karena kita bisa melewatinya. Iyes!

***

Sedikit Tausiah

Pernah punya sobat sesama cewek tapi bawaannya paranoid alias dia enggan kita dekat dengan cewek lain, kita perlu ditanya modusnya itu apa. Beneran sayang banget sampe segitunya, atau dia punya kecenderungan lain?!

Satu sisi, kita memang diperintahkan untuk berkumpul dan berteman pada sesama jenis. Sebab Rasul SAW membatasi hubungan lawan jenis hanya dalam perkara pernikahan, jual beli, pendidikan atau kesehatana. Sehingga wajar kita punya sobat cewek, bukan cowok. Tapi jadi lain ceritanya kalau sobat cewek itu punya gejala-gejala liwath (suka sesama jenis). Hal itu bisa terlihat dari gaya berpakaian, atau bahkan dari pengakuannya langsung bahwa dia memang tertariknya pada sesama perempuan. Plis, ini perlu treatment khusus ya.

Teman yang punya kecenderungan liwath ini bukan untuk dibenci, dijauhi apalagi dicaci. Mau tidak mau, dia masih saudara kita juga. Dia pun masih manusia yang dihargai eksistensinya. Sehingga penanganan teman yang lesbi ini butuh terapi para ahli. Bisa dari ustadz, psikolog maupun tim rukyah yang terpercaya. Tak lupa, butuh support banget dari keluarga dan teman-temannya. Jangan biarkan dia berjuang sendiri, bisa-bisa dia akan mencari sesama lesbi sebagai wujud pelampiasan rasa ini.

Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -Rahimahullah- dalam Kitabnya “Al-Kabair” telah memasukkan homoseks sebagai dosa yang besar dan beliau berkata: “Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an Al-Aziz, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka.

Dengan melihat akan besarnya dosa homoseks, sampai Allah -Ta’ala- menghukum kaum Luth yang melakukan liwath dengan hukuman yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kota mereka menjadi kenangan bagi kita, Allah -Ta’ala- berkata dalam surat Al-Hijr ayat 74:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيل.

“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.

Ayat ini cukuplah jadi renungan siapa saja, terutama yang udah ada gejala SSA supaya segera mencari terapi handal agar kita semua terhindar dari murka Allah Swt yang amat pedih. Wallahu’alam. [Alga Biru]

Read Full Post »

*)Berikut ini mungkin bukan tema kekinian, tapi penting untuk direnungkan. Setidaknya buat saya pribadi.  Saya coba merangkai perenungan ini, ditinjau dari dalil-dalil yanga ada. Bismillah

***

quran

“Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari bumi. Allah mengutus Jibril dan memberikan perintah kepadanya, ‘Ambilah segenggam tanah dari bumi.’. Maka terciptalah anak cucu Adam sesuai dengan (bentuk dan jenis) tanahnya. (Sabda Nabi Muhammad Saw).

Tanyalah manusia itu asalnya dari mana. Tanah akan memberi persaksian pertamanya. Shalat akan membela orang yang menegakkannya. Yang mati akan kembali pada asal muasal raganya, debu yang menyatu dengan tanah yang rapuh dibentuk serupa tembikar. Manusia pertama itu bernama Adam, ia bermakna adim, yakni bagian permukaan dari bumi. Itulah identitas pertama dan semua kisah yang kita lalui.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (yang lunak)” (Shad: 71)

Kedudukan manusia yang istimewa telah tampak dari ‘alat’ yang digunakan saat ia diciptakan. Perhatikan ini ! Semua makhluk diciptakan tanpa sentuhan, sedang Dia cukup berkata ‘jadilah, sehingga terciptalah ia!’. Nabi Saw bersabda : ‘Ada tiga hal yang telah diciptakan Allah dengan kedua tangan-Nya, dan tidak ada yang lain : Adam, surga ‘And, Luh-luh yang dibuat Allah untuk menulis kalam-Nya kepada Musa”. Tidakkah kita tersanjung dengan kehebatan Allah Swt? Tidakkah Dia pun berkehendak untuk menciptakan makhluk lain? Namun Dia memberikan media khusus, yakni tanganNya sendiri untuk menciptakan hikmah dan kisah penghambaan luar biasa ini.

Salah satu hamba Allah Swt meneliti calon makhluk bernama manusia, dialah Iblis. Fase itu manusia belum utuh dan ruh belum ditiupkan. Iblis berkeliling, mengira-ngira apa hebatnya karya Allah Swt ini. Kenapakah ia begitu istimewa. Nabi bersabda : “Ketika Adam telah terbentuk di surge, Allah membiarkannya begitu saja sehingga Iblis dapat mengililinya (menelitinya). Ketika Iblis mengetahui bahwa Adam itu kering, maka dia tahu bahwa Adam makhluk yang tidak dapat mengontrol dirinya”. Melalui hadist ini, Iblis mengetahui nafsu sebagai kelemahan manusia. Semua kelemahan itu diseimbangkan oleh Allah Swt sesuai firmanNya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (setan) terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat” ( TQS. Al Hijr : 42). Yang diikuti peniupan ruh Rabbani, sebagai pengisi kehidupan dan ikatan kepada Allah Swt : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr : 29).

Bersujud dalam hal ini bukanlah menyembah dalam konteks peribadahan. Bersujud untuk sebuah sikap mengakui eksistensi, dari seruan yang mencakup perintah Allah Swt sendiri. Sikap takabbur memasuki relung hati iblis, hal ini terbaca dari perkataannya dalam dialog bersama Allah Swt. Yakni : “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada makhluk yang telah Ku-ciptakan dengan tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi ? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari bara api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (Shad : 75-76).

Sejak tempo dulu. Penyakit sombong ini sangat memelaratkan dan fatal. Kesombongan mengakibatkan iblis, sebagai salah satu penduduk surga, terusir dan diberi tangguh menuju kesesatan. Kira-kira sudah jenis kesombongan apa yang kita lakukan? Ataukah memang perasaan itu yang selama ini menghalangi kita dari hidayah Allah Swt. Apakah sombong yang kecil maupun besar berlindung di balik kata-kata, “Saya ingin menjadi orang sholeh, berhijab, menjauhi riba, namun hati belum merasa siap”. Sedangkan diri kita tercipta sempurna, lengkap lahir dan potensi ruhiyah. Iblis menonjolkan kesombongannya, sesuatu yang menjadi hak Allah Swt sebagai penguasa langit dan bumi.

“Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya! Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (Al-A’raf: 12-13).

“Kesombongan itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah kain penutup tubuh-Ku. Siapa pun yang mencoba menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya pasti Ku-lemparkan ke dalam neraka Jahannam”. []

Read Full Post »

Hidup sembarang hidup. Kita makan, minum, beraktivitas, berlari, tidur, dan merasakan segalanya berjalan normal. Kejadian yang berulang seringkali menghilangkan makna. Kita lupa bagaimana menakjubi kaki yang kuat, tangan yang lengkap, badan yang sehat. Jadi lain ceritanya di hadapan seorang manusia yang memiliki keistimewaan sekaligus keterbatasannya.

Al-Quran-Bicara-Tentang-Cara-Mendekatkan-Diri-Pada-Allah

Cerita ini sedikit berbelit. Seseorang yang terhubung dengan tali persaudaraan yang unik, kisah yang mengharukan, dan mengajak kita seharusnya lebih banyak bersyukur dibandingkan sebelumnya. Robert Davila ialah seorang yang memiliki keterbatasan fisik. Sejak kecil, ia lumpuh dari leher hingga kaki. Dia diayomi di rumah perawatan khusus di salah satu negara bagian Amerika. Tentu saja, dengan keterbatasan ini, tidak mudah baginya untuk melakukan berbagai hal. Baik kemandirian sederhana yang rutin, apalagi menerjang tantangan lainnya di dalam hidup.

Rumah khusus itu memiliki kegiatan positif guna membangun karakter para pasiennya. Kerap kali para pastor atau pemuka agama datang untuk memberikan ceramah, melakukan pelayanan dan menghibur mereka. Robert memiliki teman akrab selama tinggal disana. Suatu kali, sang teman bercerita bahwa sebentar lagi ia akan menjalani operasi khusus guna mendapatkan donor organ yang diperlukannya. Berharap operasi itu akan memberikan hidup yang lebih baik baginya. Nasib berkata lain, tatkala Robert mendapat kabar bahwa sang teman ternyata meninggal di meja operasi. Ia sangat sedih kehilangan teman yang paling berharga bagi dirinya. Sebagai bentuk empati keluarga duka, diberikanlah kalung salib kesayangan kepada Robert sebagai bagian dari peninggalannya sebelum menemui ajal. Kalung itu pun diterima Robert dengan haru, betapa ia merindukan pertemanan mereka.

Satu malam yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ia bermimpi aneh yang bukan main. Di dalam mimpi itu, Robert berdiri tegak dengan kedua kakinya. Di samping kirinya ia melihat salib berdiri tegak. Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sekelompok orang sedang mengitari seorang pemimpin yang tampak penting. Seorang yang dikelilingi itu bercahaya terlindungi. Rasa penasaran membuat dirinya menghampiri dan bertanya siapakah lelaki itu. Dan lelaki itu memperkenalkan diri bernama Muhammad, seraya menunjuk ke arah Salib. Berkata : “Ketahuilah, salib itu hanyalah hamba. Dia tak patut untuk disembah”. Selepas perkataan itu, Robert terbangun dari mimpinya.

Dia tak dapat melupakan mimpi ganjil yang amat luar biasa merasuk ke dalam jiwanya. Dia meminta dibantu untuk bisa berselancar di dunia maya untuk mencari perihal seputar Muhammad. Dia mendapatkan Muhammad sebagai seoarang nabi yang mengajarkan agama Islam kepada umat manusia. Robert mempelajari lebih jauh tentang Islam dan kitab sucinya. Tentu saja dia mengalami banyak kesulitan, terlebih Al Quran yang dengan Bahasa Arab yang tidak dia pahami. Dia mempelajari bagaimana syarat seseorang masuk Islam. Kalimat syahadat akan mengantarkannya kepada keislaman. Dia terpesona dan pertanyaannya seputar kedudukan Jesus di dalam Al-Qur’an pun terjawab. Dia pun bersyahadat, meski tak seorang pun menyadarinya. Dia menyembunyikan keislamannya dari siapapun.

Dengan keislaman yang sembunyi-sembunyi, Robert berusaha keras menghapal Al-Qur’an semampu dirinya. Akhirnya, dia berhasil menghapal 10 ayat pendek, subhanallah. Hapalan ini menjadi wiridnya sehari-hari, yang dia lafadzkan dalam keterbatasan. Suatu hari, datanglah seorang Amerika berketurunan Mesir untuk melakukan rutinitasnya membersihkan ruangan. Tak sengaja, dia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Alangkah terkejutnya, darimana kah asal suara itu. Merasa terpana, kepada Robert lelaki itu bertanya : “apakah yang kau bacakan tadi?”. Aku membaca al-Qur’an, karena aku sedang berusaha menghapalnya”. Percakapan itu pun berlanjut, “Bagaimana kau melakukannya? Bukankah ini lingkungan kekristenan?”. Robert pun berkata : “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah. Aku mencarinya di internet, lalu aku pun mengimaninya”. Lelaki keturunan Mesir itu tak lain adalah seorang muslim yang sudah lama tidak kehilangan rasa keislamannya. Dengan berurai air mata, dia berkata Robert : “Hai kawan, aku ingin kembali. Aku ingin merasakan nikmat agama ini lagi”. Mereka pun menjalin persahabatan. Menemukan iman dengan caranya sendiri. Kadang kita mengira telah melakukan banyak hal, merasa lebih jasa dan sempurna. Kesempurnaan palsu yang tak membuat kita mengecap indahnya hidayah Allah Swt. Sementara orang tertentu, yang jauh dari kemungkinan-kemungkinan, mendapatkan satu kemungkinan terpenting yang merubah jalan hidup. Memantaskan diri memeluk hidayah, bertambah takwa meski satu anak tangga. Tiada yang lebih menyempurnakan dari sempurnanya iman. []

 

*)Perjalanan spiritual, hasil nongkrongin video bagus Ustadz Nouman Ali Khan. Semoga bermanfaat dan menambah keimanan

 

Read Full Post »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang