Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘d’Rise!’

Waduuh,, judulnya superior bingiittt! Padahal nggak gitu-gitu amat keless, hehe. Okelah, kita masuk ke inti aja ya. Semoga bermanfaat!

***

islam slEmpat tahunan bergabung dan berdakwah dengan pena bersama majalah DRISE, membuat kami tim redaksi ditakdirkan untuk mensortir tulisan para pembaca. Bentuknya bisa berupa cerpen atau opini lepas kreasi remaja islam. Di bawah alam sadar, jari jemari seolah sudah memiliki selera untuk memilih yang mana sih jenis tulisan yang layak terbit. Kayak muncul intuisi gitu loh. Apalagi jika ada perkara yang “fatal” di naskahnya. Wah, nggak dibaca sampe abis juga udah langsung terelimasi alias nggak layak terbit.

 

Jadi, supaya tulisan kamu nggak ditolak melulu, berikut bocoran hal-hal yang sering bikin naskah ditolak redaksi :

  1. Naskah di copas ke badan email. Huuu,,,, sepele ya?! Iyess,, tapi ini fatal banget. Percaya nggak percaya, fenomena ini terjadi pada 30% pengirim naskah ke majalah kami. So, supaya nggak bikin ilfil redaksi, mohoooon bingit supaya naskah di attach rapi.
  2. Lengkapi subjek email. Sebenarnya tulisan yang tanpa subjek email nggak langsung ditolak sih, tapi biasanya dipending alias ngantri untuk di-follow up. Isi email redaksi macem-macem ya say. Mulai dari naskah cerpen, opini, belum pertanyaan pembaca. Jadi kalau nggak dikasi “pop up” semisal subjek, resikonya bisa dicuekin.
  3. ‘Naskah Basi”. Naskah basi ini maksudnya bisa karena temanya sudah pernah diangkat, sudah tidak update, atau ketahuan copas dari penulis lain. Wah, yang seperti ini biasanya langsung tewas, alias nggak layak terbit. Majalah Drise sendiri tidak membatasi tema. Harapannya supaya para pembaca bereksplorasi dan bebas berkreasi. Tapi bukan berarti tanpa strategi dong. Kenali majalah sasaran, niscaya dia akan mengenalimu.
  4. Gaya bahasa tidak sesuai. Berhubung majalah DRISE sasarannya adalah pembaca remaja, jadi mohon banget sesuaikan dengan selera ‘lidah’. Tim redaksi sendiri rata-rata sudah nggak remaja lagi. Tapi masih getol kok dalam meremajakan tulisannya. Tujuannya cuma satu , yaitu agar konten tersampaikan dengan baik kepada perasaan dan pemikiran pembaca.
  5. Tidak sesuai EYD. Rubrik share your mind (opini) dan monogatari (cerpen) ialah jenis halaman yang mempertahankan originalitas naskah. Jadi tidak akan banyak editan. Sehingga peran penulis/kontributor dalam menuliskan naskah sesuai EYD sangatlah bernilai untuk diloloskan. Kalau kamu emang jenis alayers, plisss disimpen dulu alaynya ya. Kita ikutin ejaan yang disempurnakan, banggalah berbahasa indonesia dengan benar.
  6. Tidak memenuhi standard naskah. Biasanya, tulisannya kepanjangan atau bahkan terlalu mini. Tiap halaman sudah punya estimasi per karakter yang harus dijaga dan dipenuhi. Kalau terlalu sedikit, jadi kurang matching. Kalau kebanyakan, jadi bingung pas lay out, jangan-jangan majalahnya jadi mirip koran nasional. Tulisan kecil-kecil dan mepet-mepet. Kasian yang bacanya, Dear!
  7. Naskah tanpa nama! Whats?? Iyess…. naskah tanpa nama pengirim ini nggak sekali-dua kali. Entah karena gugup atau terlalu semangat, naskah tanpa nama penulisnya terbukti nyata adanya. Sooo… gimana tulisannya mau diloloskan kalau penulisnya ghaib, huuu sereem!

 

 

Jadi kan say, coba diinget-inget, jangan-jangan naskah yang kamu kirim mengandung unsur di atas. Mungkin satu atau dua poin, malah bisa lebih… hehe. Ngga perlu kapok atau minder. Yakin tiap tulisan itu punya jodohnya. Mungkin belum cocok untuk diterbitkan di suatu media, tapi layak di tempat lain. Don’t give up! Maju teruuusss!

 

PhotoGrid_1449129814867(1)

 

Salam

Alga Biru
Redaktur Majalah DRISE
drise-online.com

 

Iklan

Read Full Post »

SALAM SATU JARI

Tidak dipungkiri memang, bahwa banyak juga anak-anak punk yang kemudian mengganti ideologinya dengan pemikiran-pemikiran Islam. Saya juga tidak tahu apa penyebabnya. Apakah kebanyakan anak-anak punk memang kaum yang selalu mencari kebenaran? Saya rasa demikian. Sebab, setelah lama berkutat di dalam scene punk, saya tahu bahwa komunitas punk adalah komunitas yang luar biasa. Tongkrongan mereka sering dipenuhi dengan diskusi-diskusi segar menyangkut segala macam persoalan. Bukan hanya itu, mereka juga selalu berusaha untuk mengimplementasikan hasil diskusinya tersebut untuk menjadi aksi langsung, sehingga obrolan mereka tidak hanya sebatas talk only seperti yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang gemar obral janji tapi jarang sekali terbukti. Meskipun ada juga sebagian anak-anak punk yang hanya lebih mementingkan fashion dan malas untuk membaca, tapi di sini saya tidak ingin membahas yang itu. Begitulah. Menurut saya, fenomena tentang banyaknya anak punk yang kemudian berpindah haluan ke Islam, saya tidaklah terkejut.

Itu sebabnya, Wake Up! edisi kedua ini mengambil tema Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out!. Sebenarnya sih edisi kali ini Wake Up! tidak hanya ingin membahas tentang punk yang “hijrah” ke Islam saja, tapi lebih kepada makna “kembali ke Islam”. Semoga saja dengan begini seseorang yang ingin memawancarai saya itu bisa mendapatkan jawaban.

Tulisan di atas sengaja Alga copas dari jurnal elektronik resminya salah seorang kawan yang sudah insyaf. Beliau kerap dipanggil Cirex alias Tukang Tidur.  Si Tukang Tidur ini bukan cuma tidur doang, tapi sudah ngerangkep jadi editornya sebuah Zine bernama “Wake Up!” yang aromanya ngajak orang yang udah insyaf supaya makin insyaf.

Memang, pada akhirnya…. Iman ngga sebatas cas-cis-cus, ingin pula diwujudkan dalam aksi termasuk mengganti symbol-simbol berhala yang dulu digemari kepada mainstrim baru dengan aqidah sebagai landasannya. “SALAM SATU JARI” adalah salah satu bentuk kreasi teman-teman punk yang udah insyaf. Udah jadi rahasia umum kalo salam metal tiga jari sebenarnya adalah lambang sakral untuk kaum pagan, kaum satanic (itu loh… pagan yang lambangnya kambing berhala). Weits,… siapa sangka, dari sekedar lambang ternyata terpengaruh dengan hadlarah musyrik, perilaku syirik alamat neraka cuy! Syerem! Salam metal kepala kerbau juga identik dengan hegemoni Zionis dan segala perilaku jahil turunannya. (Sex bebas, alcoholic, hedonistik, dll). Maka, teman-teman punk yang udah tobat ngga mau nrimo lagi lambang-lambang gituan. “La ilahaillallah, Muhammad rasululullah”, itulah sekarang jalan hidup! Ngga pake kompromi. Ahad ! Cukup Allah saja sebagai illah/rabb/tuhan!

“SATU!”

“AHAD!”

“ALLAH”

“TIADA ILLAH SELAIN ALLAH”

Jadi deh salam satu jari sebagai salam yang definisinya bahwa segala puja-puji, sanjungan, penghambaan, pemberian cukuplah diperuntukkan untuk Allah SWT saja. Ya ALLAH, istiqomahkan kami di jalan-Mu yang lurus. Jalan yang Engkau Ridhoi. Aamiin. ALLAHU AKBAR!

Oleh: Alga

Read Full Post »

DRISE JUNI: “AUDISI DEMI SENSASI”

Dunia sekarang-sekarang ini nawarin yang serba instant. Mulai dari mie instant, paket makan siang instant ampe kesuksesan instant…. Yahhh, gini deh. Parahnya remaja muslim ikut latah juga di ajang yang menjanjikan kesuksesan instant. Ikutan berbagai audisi, mulai dari audisi nyanyi ampeee be a man !! Bah!! (Alga geleng-geleng, puyeng)

Udah deh, ngga usah berpaling ke lain hati. Ulik lengkap DRISE bulan ini. Berikut menu mantap yang udah siap saji:

  1. “Hidupku di Ujung Jari” : Dikupas abis berbagai gimana sensasi-sensasi orang yang ikut audisi kaya yang di tipi-tipi
  2. “Aku, Kamu dan Harajuku”: Penasaran gimana sih sebenarnya sepak terjang style yang gileeeee dan nyetrik asal jepang, Harajuku ??? Hikari akan bahas ampeee nyeseeekkk ! mantap dah
  3. “Interview khusus”: Ummu Khoir, Salah satu pembicara di acara spektakuler Muktamar Mubalighoh Indonesia. Intektual dambaan umat.
  4. “Draculesti”: Simak terus lanjutan Draculesti manaklukkan penjajahan … (cieeh, heroistik banget getoohh)

Dan masih banyak yang lainnya, yang ngga kalah serunya. So,daripada plototin Audisi kacangan mulu.Mending tongkrongin bacaan satu ini. DRISE, The Guardian of Muslim Generation!!!

Read Full Post »

D’RISE EDISI MEI: “PELAJAR TERKAPAR” !!!!

Hadir kembali dengan menu-menu menarik siap saji, biar kamu semua ngga ‘kelaperan’ bin terkapar.

Berikut cuplikan menu menarik hasil godokan dapur D’Rise:

BUKA MATA: Pelajar sekarang ‘macem-macem’. Makin variatif, mulai dari kental dengan dunia sex bebas, narkoba, tawuran…. Ahh, yuk kita libas disini. Biar kaga bablas lagi!!!

INTERVIEW: Wawancara khusus  Dr.Ing Fahmi Amhar “Tidak semua harus jadi sarjana, tapi semua harus jadi manusia yang berguna”. Wuihhh!! Kereenn!

GIRLY : Buat yang ngaku tomboy, bakal cuap-cuap lengkap bahwa apa pun ceritanya kamu tetaplah perempuan. Simak ulasannya dalam tajuk ‘Tomboy Juga Perempuan’

REPORTASE: Kali ini kita akan lihat pemuda-pemudi kreatif, yang bedaaaa bgt! Mereka penggagas revolusi, menggagas jalanan. Seperti judul reportase kali ini “Revolusi Menggagas Jalanan”.

Dan masih banyak rubrik lainnya yang ngga kalah serunya. Nyesel deh buat yang ngelewatin D’Rise edisi ini. Kita ngga tanggung jawab loh kalo sampe kehabisan ^_^

Enjoy!!

D’RISE WILL RISE!!

RISE ISLAM!

Read Full Post »


Seperti biasa, cukup banyak kiriman d’riser yang menuhin inbox redaksi. Ada cerpen, curhat, opini, sampe puisi. Semuanya bagus en keren. Group D’Rise! di Facebook juga makin banyak. Udah lebih dari 2000 member. Begitu juga di fan pages-nya. Dan satu lagi, meski drise-online.com belum maksimal tampilan dan isinya, tapi udah banyak juga yang mampir.

Penat…pusing…bahkan hampir nyaris putus asa! Inilah episode berat saat edisi #02 D’Rise! ini akan terbit. Dana produksi yang memang sangat minim (bahkan sejak edisi minus 03..) plus beban pembayaran cetak dan biaya-biaya lain sejak edisi minus 03 masi belum tuntas…tas..tas! plus sarana prasarana nyaris nol (kita tuh komputer aja minjem apalagi kantor ya…) plus dana penjualan yang sereeet nariknya dari para pengedar… plus lagi kita emang gak punya sponsor + donatur… Weleh-weleh, mau gimana lagi..itulah kondisi kita. Ditambah lagi, kita tuh gak punya duit, tapi sampe sekarang terus kasih subsidi buat kamu tiap edisinya, sekitar seceng/eksp.. ya tentu maksudnya biar D’Rise! bisa tampil full colour selama ini…Nah D’Riser! Tercinta, semua ini bukan untuk menyesali keadaan atau biat kamu-kamu jatuh kasihan, tapi sekedar berbagi aja biar D’Riser! Ngerti dikit dapur kita. Boleh dong….

Meski nyaris batal terbit, tapi wajah & semangat pada D’Riser! Selalu terbayang-bayang, akhirnya semua itu membuat kita GAK TEGA KALO GAK TERBIT! Well BISMILLAH.. dengan bertawakkal kepada Allah SWT kita TETAP TERBIT sesuai kemampuan kita. Apapun & bagaimanapun D’Rise! mesti terbit, walauppun gak full colour seperti yang udah-udah, tapi tetap FULL ISLAMI, FULL INSPIRASI, FULL MOTIVASI, FULL IDEOLOGI pokoknya ai lov u Full!

D’Riser! Edisi kali ini kita coba kupas seputar dunia perempuan. Eits, bukannya diskriminatif ama kaum adam ya. Nggak kok, cuma kebetulan aja bulan April ngingetin kita ama perjuangan Raden Ajeng Kartini. Ini yang menginspirasi kita untuk membahas kehidupan wanita. Dijamin anti manyun deh!

Simak aja rubrik Bukamata yang mengupas seputar pandangan beberapa agama dan budaya terhadap wanita. Dilanjut dengan Girly I yang mengajak D’Riser! Putri untuk belajar jadi ummi sejak dini. Nggak ketinggal Girly II yang mengupas gambaran muslimah ideal dalam kacamata remaja. Plus the most yang menceritakan kisah the blody lady alias vampire cewek yang super duper kejam bin sadis.

Jangan lupakan juga lanjutan tips muslimpreneur yang inspiratif. Atau lanjutan epik Draculesti yang makin seru. Lalu intip deh rubrik share your mind dan cerpen dari kiriman d’riser!, sapa tahu punya kamu. Biar nggak penasaran, langsung aja deh lahap sajian kita kali ini, HABIS GELAP TERBITLAH ISLAM![341]

Read Full Post »

D’RISE! EDISI APRIL NGOBROLIN DUNIA KAUM HAWA YANG KUDU DIKETAHUI REMAJA EN REMAJI…”HABIS GELAP TERBITLAH ISLAM”
Berikut info-info super duper menarik yang bakal driser dapetin:

– BUKAMATA: mengupas perjalanan kelam mahluk cantik dalam sudut pandang bebereapa keyakian dan peradaban sebelum datang cahaya Islam yang mengangkat derajat perempuan menjadi mulia plus profil wanita-wanita perkasa pejuang Islam. seru!
– GIRLY I: biar kata masih remaji bin sendiri, gak ada salahnya belajar jadi umi sejak dini demi mempersiapkan menjadi muslimah sejati
– GIRLY II: kaya gimana sih sosok muslimah idola kamu? disini dikupas jawabannya verisi D’Rise!
– TELADAN: kisah imam syafi’i yang inspiratif untuk mendongkrak semangat belajar kita. keren!
– HELP CENTER: mengupas perihal hukum minta bantuan ‘orang pinter’ alias dukun buat cari barang/orang hilang. dan konsul psikonya terkait tips tetep istiqomah dalam balutan busana muslimah sempurna ditengah lingkungan sekular.
– THE MOST BLOODY LADY: kisah vlad cewek yang sadissss!
– masih banyak rubrik lainnya yang gak kalah kerennya. ada SAMBUNGAN DRACULESTI yang makin hot, lanjutan materi muslimpreneur, dan rubrik baru TAFFAKUR ALAM yang mengupas fenomena alam.

Ya udah, LANGSUNG AJA KEPADA PARA PENGEDAR YANG SERIUS SEGERA MEMASTIKAN PESANANNYA. DAN PADA PARA DRISE, JANGAN SAMPE KEHABISAN. KEJAR PARA PENGEDAR YANG TERDEKAT DI KOTA ANDA….KEEP ON DRISE!!!

Read Full Post »

Sembilan Puluh Menit dan Hujan

Namaku Resti. Amat penting bagiku memiliki rasa setia kawan, penghormatan pada yang lebih tua dan menggembirakan sejawat. Walau begitu, aku enggan nongkrong-nongkrong. Tidur di kamar kost lebih bermanfaat daripada nongkrong. Tidur lebih berarti ketimbang membuang-buang karbondioksida dengan sia-sia di tempat tongkrongan dengan sekumpulan orang yang tidak ingin kehilangan gengsi. Demi menghargai sebuah ajakan mulia, kali ini aku memilih ’nongkrong’. Hemm, tepatnya menjadi seorang pendengar budiman. Tongkrongan dalam ceramah sembilan puluh menit.

Detik-detik ini terasa lama, jam dinding itu seperti kura-kura. Lambat, bagai tetesan air keran macet. ”Menit ke enam puluh lima, bersisa dua puluh lima menit lagi” batinku. Aku masih duduku bersila. Setelah aku memutar posisi dudukku ke kanan, ke kiri dan nyaris setengah menjongkok. Aku menahan diri dengan segala rupa agar pertemuan berdurasi seratus delapan puluh menit ini ditutup dengan salam. Jujur, pertemuan ini cukup spektakuler. Hanya sayang, aku memang tipe yang gampang bosan. Rasa bosan itu mampu kujerjaki di lima puluh menit pertama. Selebihnya adalah perjuangan melawan kantuk dan lalat yang hinggap.

Bagiku, pantang rasa kantuk ini ketahuan. Maka jangan heran, jika perilaku menghitung detik, mengusir lalat, memutar bola mata, dan mengangguk-anggukan kepala disebut sebagai metode pengalihan kantuk. Setidaknya bagiku, gadis yang setia menghitung detik.

”Gimana adik-adik, cukup jelas tidak pemahaman islam barusan?” Di menit ke seratus, sang pementor bertanya. Aku menggeleng, bukan karena kantuk, tapi memang tidak ada pertanyaan sejauh ini. Dua orang lainnya masih diam , belum menggelontorkan semacam pertanyaan maupun sanggahan.

Satu, dua, tiga, empat. Aku menghitung jumlah kepala yang hadir di forum ini termasuk kepalaku. Kami orang-orang yang tak saling kenal yang kemudian dikumpulkan. Agenda ini bersifat mingguan berdurasi sembilan puluh menit. Forum dengan formasi setengah lingkaran ini tidak memiliki banyak menu dan aku telah memenuhi syarat. Seorang pemimpin forum yang disebut pementor, setia hadir membawakan tema yang konon sudah dirancang susah payah semalam suntuk.

Untuk forum seperti ini, aku perlu memasang telinga yang mendengar, kemauan dan rasa menghargai kepada penyaji. Dan itulah pula yang membawaku tetap bertahan untuk menghitung detik dan mengusir lalat di menit-menit sisa. Bagiku, menghargai  orang lain seumpama momen genting si anak penyu yang berjuang keras menggapai pantai. Jika kelewatan dan tidak lekas mencari sela, situasi saling menghargai itu akan luput. Hubungan pertemanan bisa karam, kekeluargaan bisa mengendur, percintaan akan pupus.

Nalar gampangnya, apakah kau suka jika ketika berbicara lantas ada yang menguap. Itulah yang aku jaga. Kalau bisa, aku tak ingin seorang pun tau aku si pembosan. Aku datang ke forum ini dengan niat kedamaian, sebisa mungkin tidak menodai siapa pun. Termasuk si pementor yang membawa kalam suci dan perkataan suci. Ia tidak dibayar, cukup tuhannya yang membayar. Ia datang bukan karena diundang, justru dialah yang mengundang segenap kami. Aku salut padanya. Rasa salut terbukti mampu membawaku kemari. Walau aku tidak yakin berapa lama lagi energi salut itu bisa membuatku bertahan.

********

Hujan gerimis membasahi tanah gersang. Jika hujan ini berlangsung lebih lama lagi, banjir tidak akan terelekkan. Bumi ini merutuk. Serba salah sudah. Jika hujan, airnya tergenang menjadi garang. Jika kemarau, tanah kerontang dedauan memucat cepat. Gerimis menusuk ini kutahankan. Baru ada dua kepala yang hadir di agenda sembilan puluh menit bersama pementor. Baru ada aku dan dirinya, si pementor yang setia. Dia tidak pernah datang terlambat, meski sehari-harinya selalu jalan kaki.

Sosok itu bernama Meli. Dirinya terpaut dua tahun lebih tua dariku. Keteladanan dan interval diantara kami menambah alasan di dalam diriku untuk tak pupus menghargai akad diantara kami. Meskipun gerimis ini ingin ku hangatkan dalam selimut damai dan tidur siang.

Sepuluh menit waktu berlalu dari yang telah ditentukan. Sejujurnya, aku lebih suka pertemuan atau mentoran kali ini batal saja. Aku tidak nyaman dimentor sendirian. Aku tak sudi menghitung lalat sendirian. Aku ingin melihat tampang dua temanku yang lainnya geser kanan kiri yang membosan. Memang, Kak Meli pernah memberi nasihat agar kami banyak berta’awuz. Karena boleh jadi itu semata godaan syaithan di dada kami. Menggoda agar kami beranjak dari majelis.

”Kak Meli, bagaimana kalau mentoran kali ini diundur saja?” Usulku memberanikan diri.

”Hemm… Sayang adik. Kita kan sudah sengaja datang kesini untuk mengkaji. Hujan tidak menghentikan langkah kita. Sekarang tinggal kita mulai saja, mengapa mundur?” Kata-kata keluar dengan lembutnya. Tapi usahaku untuk penggagalan ini belum sampai finis.

”Nggak usah aja ya, Kak! Plisss… Saya teringat jemuran di kost. Apalagi saya sedang jemur sepatu Kak. Wah, kalau diambil orang kan sayang. Ya ya? “ ungkapku dengan nada memelas. Bukan Resti namanya jika tidak pandai cari alasan.

Maka benarlah. Kak Meli tak sanggup melawan dan hatinya tertawan sendirian.

”Hemm, Ya sudah kalau ada halangan. Minggu depan kita kajian lagi ya. Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”

”Ya” Cepat saja kukatakan. Secepat hujan yang jatuh ke bumi, bebas hambatan.

********

Sudah berlalu waktu seminggu, tapi serasa baru kemarin. Lagi-lagi, seminggu ini hujan turun bergantian dengan awan mendung. Dari balik tirai jendela, air dari atap langit membasahi bumi seumpama tembakan air bertubi-tubi. Dalam suasana yang sejuk rupa begini, kakiku berat melangkah keluar. Hujan reda dan deras bergantian, namun aku terlanjur beringsut di balik selimut. Menghangat dan lamat-lamat terpejam. Ahh….. Sudahlah, lupakan mentoring sejenak. Kemungkinan teman-temanku yang lain pun telah bermuara di pulau yang sama, pulau kapuk nan nyaman yang mengundang mimpi untuk datang. Zzzz… Zzzz… Zzzz….

********

Empat pesan singkat masuk ke inbox telepon selular kesayanganku. HP sejak tadi di-silent, tidurku praktis bebas dari gangguan. Tapi entah, aku merasa ada getar gundah yang menggelitik. Karena seseorang di tempat lain, ternyata sedari tadi menunggu kedatanganku. Hingga mungkin tubuhnya jenuh menunggu disitu. Lelah bersama detik-detik yang menertawai kesendiriannya.

Aslm Wr Wb. Dek, kk udah nunggu nih. Adek datang mentoring kan?

(14.07, SMS pertama Kak Meli)

Hemm… kk masih nunggu loh. Kalau mau datang, silakan. Ok

(14.17, SMS kedua Kak Meli)

Dek, kalau masih ada kesempatan utk datang, boleh aja. Lebih baik terlambat drpd tdk sama sekali.

(14.45, SMS ketiga. Masih dari orang yang sama)

Woi… Dikau datang mentoring? Wah, aku ngga datang ni. Males uy. Tapi kasihan tu K’Meli. Kayanya dia nungguin  qta.

(15.05. Kali ini dari orang berbeda. Namanya Dewi, teman sekelompok mentoringku)

Hatiku berkompetisi. Aku merasa telah berbuat kecurangan, disisi lain aku pun mendapat dukungan. Kak Meli, pementorku, sudah bersusah menunggu meski faktanya para pendengarnya belum tergerak untuk ini. Kami mungkin menganggap bahwa mentoring tak berbeda dengan nongkrong. Sah saja bila tidak datang. Selimut hangat teramat menggoda. Sehingga kewajiban dari langit tertunda. Ya, aku berharap ini hanya tunda saja.

********

Hari yang cerah, bunga-bunga bermekaran indah. Tak boleh lagi ada alasan untuk tidak pergi. Ada rindu mendengar wejangan Kak Meli. Ada getir rasa bersalah selama dua minggu ini. Entah perasaan yang merabai, yang pasti aku ingin bertemu dengannya. Memelas maaf. Aku belum seperti Kak Meli yang tidak terhalang hujan untuk menyampaikan risalah. Aku bahkan belum bisa menyumbangkan waktuku sepenuhnya meski hanya untuk mendengar. Tapi kali ini aku janji, aku tak ingin menghitung detik lagi.

Tik… Tik… Tik…

Detik terus melaju. Namun belum ada seorang pun yang datang seperti biasa. Tidak Kak Meli, tidak yang lainnya. Beginikah rasa sesak menunggu sendirian? Hatiku tiba-tiba haru, membayangkan Kak Meli yang kemarin menunggu seorang diri di tengah deru hujan.

Ahh…. Dan kini aku baru sadar bahwa aku bukan hanya si pembosan, tp juga tidak sabaran. Aku mencari-cari di phonebook digit nomor seluler Kak Meli. Ya! Tuuttt… Tuuutt… Nomor sibuk. Nihil. Cepat jemariku memencet nomor lain, digit nomor Dewi rekan sekelompokku, terpampang di layar. Tak sabar, ingin mendengar sahutannya.

”Halo..” terdengar sahutan di seberang

”Halo.. Wi, Aku sendirian nih. Dikau dimana? Ngga mentoring? Jangan malas gitu dong” Kataku bertubi, menggurui.

”Mentoring? Resti.. Hemm… Belum dapat kabar ya?”

”Hemm.. Kabar apaan?”

Ada jeda. Nafas Dewi terdengar menghempas.

”Kak Meli sakit seminggu ini. Dia udah ngga di dunia ini lagi. Jenazahnya dikubur kemarin”

Seketika mulutku terkunci. Langit hidupku tenggelam ke inti bumi. Tak kuasa, air mata jatuh seketika.

”Res.. sorry banget, kemarin aku lupa kasi kabar. Maaf yak” Dewi masih bersuara. Sedangkan aku susah payah untuk membalas ucapannya.

”Tak apa” Aku berharap Dewi mendengar sengau suaraku yang keluar dengan penuh perjuangan. Telepon itu kusudahi. Dengan sekelumit kecamuk yang menggigiti hati ini.

********

Batu nisan itu tak dapat bercakap-cakap. Tanah masih basah dan harum kematian. Bunga tanjung belum mengering sempurna. Aku tidak memperdulikan titik-titik air dari langit yang mulai rintik. Rasa sesal seringkali tiada guna. ”Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”. Kata-kata itu masih melekat di ingatan. Ya, kata-kata itu terbukti nyata. Di luar dugaanku, tanpa pertanda sedikit pun Kak Meli pergi mendahului. Mungkin ketika ia meregang, aku masih sempat bermalas-malas seolah masih lama masa itu tiba.

”Kak Mel…. Aku tidak akan malas-malas lagi. Tidak peduli terik maupun hujan. Meskipun aku harus membosan dalam sembilan puluh menit bahkan sembilan puluh tahun sekalipun. Aku takkan lagi menyiakan kesempatan. Bukan demi siapa-siapa. Demi sisa hidup yang tak boleh sia-sia”

Hujan lebat membasahi. Airnya mengalir di pipi. Bercampur dengan air mataku sendiri

Oleh: AlgaBiru (Pengen jadi superman!)

-27 Desember 2009-

Pesan untuk d’Riser: Ayoooo…. Ngaji !!

Ngaji itu wajib loh. Jangan nyeseelll entar pas udah di liang kubur…J

Read Full Post »

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang

The Work of Wiryanto Dewobroto

. . . sebab dari buahnya, pohon itu dikenal.

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

Rumah kecil di seberang universitas

the story of a growing cutie family...

J'étais Parisienne

I was a Parisian

Nurbaiti-Hikaru's Blog

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti

fattahrumfot.writings

Tinta-Tinta Gagasan

The Journey in Me

"The journey is the reward" - Chinese Proverb

bocahbancar.wordpress.com/

A Social Worker, A Great Dreamer

melquiadescaravan

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Journey of Sinta Yudisia

Writing is Healing. I am a Writer & Psychologist.

Jiwa yang Pergi

Catatan hati dan pikiran setelah anakku mengakhiri hidupnya

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Kajian Timur Tengah

dan Studi Hubungan Internasional

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

It's My Notes

Blog tentang catatan-catatan yang sering kutulis di waktu senggang