Latest Entries »

Hari ini saya sedang melamun, lebih tepatnya lagi ‘merenung’. Saya suka merenung. Renungan itu kerjaannya para visioner loh (wehh…..). Sejam lalu sebelum merenung, saya tekuni setitik nasib. Ohh, saya sudah sarjana sekarang (Hak… hak.. hak.. akhirnya). Saya tekuni bahwa saya bisa tidur 4 jam sehari untuk kali ini (huohoho…. Susah pisan!). Saya tekuni dan pandangi si ‘Perempuan Semesta’, naskah duet zona terpisah saya dengan salah satu seorang trainer remaja. Lumayan juga. Saya ratapi dan saya syukuri kekurangan-kekurangan diri saya yang jumlahnya puluhan. Mungkin lebih. Saya cintai kekurangan itu seperti saya mencintai matahari. Saya cintai apa yang hari ini saya dapat. Cinta saya pada semua itu akan mengubah dunia, saya percaya itu. Saya tidak bermimpi, bukan? Ya, saya bukan pemimpi.

 

Saya merenung, apa yang harus saya lakukan? Saya bergerak kesana-kemari. Mencoba melakukan sesuatu lebih dari sekedar ‘konsep’. Terminal demi terminal yang sarat dengan kontemplasi mengajak pikiran ini bertamasya. Saya lihat tumpukan buku saya minggu ini (Rata-rata buku motivasi dan bisnis). Pikiran ini meranggas. Ohh,… asik juga kalau jadi trainer ya. Pikir saya. Lumayan, kantong pahala. Lumayan, kantong inspirasi. Bukankah cara meraup inspirasi paling ajeg menurut saya adalah dengan bertemu banyak orang? Trainer bisa melakukan itu. Seorang trainer pastilah bertemu, melayani, dan mendengar keluhan bermacam kalangan. Seru juga kalo saya jadi trainer. Pikiran saya mulai nakal…. Ya, kalau saya beneran jadi trainer, bisa gempar nih dunia persilatan. Hehe. Ah, saya bukan trainer. (sekarang ini, bukan)
Tiba-tiba SMS masuk ke ponsel Qwerty saya. “Eh dari Pak SM!”. Pak SM ini Trainer inceran saya untuk diwawancarai. Lumayan juga ni si bapak. Jebol dari IPB, melanglang buana jadi trainer. Andai saya trainer, batin saya mengadu. Lalu SMS itu pun saya baca:”Assalamualaikum. Pak Dian F Hasibuan, email sudah saya kirim. Wass”
Whats???
Oh My….. !!!

Wahh, udah ngga bener nih. Dengan tampang yang tidak ridho, saya balas SMS itu:
“Waalaikumslm. Terima kasih atas jawabannya. Maaf Pak, saya perempuan”
Oalah Pak, saya bukan laki-laki. Ah, ada-ada saja. Saya pun tersenyum. Dunia saya asik sekali. Lucu, bijaksana dan luar biasa! Thank’s Allah…. Ya Rabb, jadikanlah saya ‘sesuatu’. Jauhi saya dari yang ‘bukan-bukan’.  (Aamiin)

 

Footnote: Setelah sekian lama, akhirnya saya nge-blog lagi. Ada yang rindu? Ayo tunjuk tangan :D

Cinta Si Putih Abu-abu

cinta

 

……Karena Cinta. duri menjadi mawar. Karena Cinta, cuka menjelma menjadi anggur segar……

 

Kata orang, cinta bikin hidup lebih hidup. Yang sakit, bisa cepat sembuh. Yang lesu bisa jadi semangat. Kalo cinta udah segitu provokatifnya, ‘urusan cinta’ dan segala turunannya akhirnya dirindui setiap manusia.        Sekarang ini, jangankan anak kuliahan, anak SD aja udah berani-beraninya ngulik ‘apa itu cinta’. Anak SMP/SMA? Wahhh jangan tanya. Getol banget. Syukur-syukur kalo cinta yang dipahami adalah cinta yang benar. Nah kalo cintanya ala cinta buta dari gua hantu ?! piye iki.

Karena Alga ngerti pembaca Girly DRISE amat haus cinta (hueekk… mabok),nahh edisi satu tahun DRISE kali ini Alga cuap2 tentang pergolakan cinta. Biar obrolan kita seru, ruang lingkup cinta yang kita bicarain edisi ini dikhususkan untuk cinta paling seru (katanya), yaitu cinta SMU. Cinta dari balik gejolaknya anak-anak SMU. Anak SMP juga boleh nimbrung, coz kayanya beda-beda tipis deh. Siap? Tancaaaappp……

*****

Cinta SMU versus Cinta SeMU ??

Cinta si putih abu-abu, alias cinta anak-anak SMU, menyisakan banyak kisah. Dulu pas Alga masih pake seragam SMU,ada teman Alga yang tiap jam istirahat selalu sibuk ngeladenin pacarnya, ngakunya karena cinta. Dia dipegang-pegang, dielus-elus, sgala macaem (Maaf Alga ngga bisa sebutin satu persatu) . TIAP HARI !! Apa ngga bosen? Sampe Alga mikir, itu dikasi jampi-jampi apa sih ampe mau segitunyee. Ehh,,, selang beberapa bulan, ternyata udah bubaran. Duh, kasihan. Abis manis, tinggal najisnya.

Beberapa bulan lalu ada  cerita unik, datangnya dari kenalan Alga yang masih duduk di bangku sekolahan. Dia curhat tentang betapa dia jatuh hati pada guru muda yang lagi magang di sekolahnya. Aduh makjang….. Kok bisa? Iyalah bisa. Konon, guru tersebut ramah, alim, bicaranya mengesankan, meneduhkan, humoris dan punya wajah yang aduhaiii…. tampan sangat. Ujung-ujungnya, pengen deh jadi kekasihnya. Susah ngelupain wajah and all about him. Syukurnya, dia ngebet pengen jadi istri si guru tampan, artinya dia menempuh jalur yang benar untuk rasa cintanya, bukan jalur illegal semacam pacaran. Tapi kata Sang Guru, “Belajar dulu yaahhh banyak-banyak. Semoga diberi kemudahan dan kekuatan iman”. (Untung gurunya beneran alim, nah kalo zholim ? bisa berabe khan)

Apa yang dirasain teman Alga itu sah-sah aja, fitrah. Tapi banyak kejadian, dari sesuatu yang fitrah malah timbul fitnah. Mulai deh deket-deketin zina. Awalnya sih cuma deket-deket. Iyah, ‘pacaran doang’ kok. (Sengaja Alga kasi tanda petik sebagai sindiran). Pacaran juga ‘ga parah-parah amat’, Cuma pegang tangan doang. Ngga sun bibir, cuma sun di pipi. Hemm, yuk kita simak seruan Allah berikut ini: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Israa’ : 32). So, deketin zina aja udah dilarang Allah, gimana jika benar-benar berzina? Naudzubillah.

********

Jaman sekarang, orang yang ngga pacaran dianggap ketinggalan zaman. Apa sih motif orang-orang buat pacaran?

Pertama, biar disebut dewasa. Iyahh… Banyak orang, apalagi ABG yang ngebet pacaran supaya dianggap dewasa. Maklum, aktivitas baku syahwat ini memang identik dengan urusan orang dewasa, yang ganjil banget kalo dilakukan bocah mungil. So, supaya dianggap dewasa, pacaran deh. Alasan ini kurang tepat, sist! Dewasa itu ngga dinilai dari aktivitas pacaran, tapi dari gaya berpikir. Ngga sedikit orang yang tambah tua, tapi tidak bertambah kedewasaannya. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah. Kalau kemauannya tidak diturutin, bikin ulah deh. Itu kan namanya ngga dewasa!! Ngga pinter me-manage diri. Orang yang mampu melawan hawa nafsunya, mampu mengontrol tingkah laku, yang berujung taat pada syariat, itu baru kedewasaan yang sejati. Jempolan!

Kedua, having fun. Sekedar senang-senang. Orang pacaran itu, biasanya jalan berdua, bergandengan tangan, pergi makan, nonton, dan banyak lagi deh. Kalo pacarnya cakep, dipamerin ke teman-teman. “Nihh… pacar gw keren. Iyalahh, gw aja keren”. Pacaran juga dianggap ajang pelepas stress, karena ada sarana curhat pada sang pacar. Eitss.. Siapa bilang pacar itu jadi obat stress? Banyak kejadian, orang stress karena mikirin pacarnya. Belum pernah Alga dengar ada orang yang mati gara-gara ngga pacaran. Tapi justru kerap kali kita saksikan orang mati karena ulah pacarnya. Dibunuh, diperkosa, dirampas harta dan harga dirinya. So? Pacaran jadi obat stress? Sepertinya otak kita perlu diluruskan segera dari akarnya…..

Ketiga, pacar sebagai motivator. Kata orang, pacaran bikin semangat belajar. Masa sih? Kalau lihat faktanya, kayanya ngga gitu deh. La wong memory aja udah overload untuk inget sang pacar. Seperti kata Maia mantannya Ahmad Dhani “Aku mau makan, ingat kamu. Aku mau tidur, juga ingat kamu”. So, inget pelajarannya kapan dong?? Suseeehhhhh…… inget doi meluluuuu.

Tuh… DRISEr, terbukti bahwa pacaran sebagai ajang apresiasi cinta bukanlah jalan yang membawa hikmah namun justru membawa bencana. Tiga point di atas baru sedikit dari serba serbi cinta semu yang sangat rentan masuk ke dunia remaja. So, kencangkan sabuk pengaman hatimu. Minta perlindungan kepada Rabb Ilahi Robbi, agar kita tak terimbas racun-racun cinta yang membunuh. Disembuhkan dari jeratan cinta yang semu!

 

Oleh: Alga Biru (Medan, 19 November 2010)

Jiwa yang tenang, jiwa yang garang

Hai jiwa yang terpendam….

Tak kunjung jua kau padam

Hapus air mata yang menggenang

Mengeringlah segera, sebab udara diluar sana ganas, tak kenal rengekan

Tahan pahit yang sebentar

Tinju udara polutan

Biar kelak kau rasakan niat yang suci

Biar nanti di hari tua, hanya senyum pejuang yang mengembang

Manalah mungkin anak pejuang lahir dari seorang yang goyah?

Manalah mungkin tinta suci dialiri dari darah yang nista?

Hai jiwa yang bersemedi…

Titilah tasbih-tasbihmu dalam lautan pongah manusia

Titilah bulir-bulir air mata, merontokkan robot-robot manusia

Jangan takut, pasti jiwa ini gagah

Sebab gagak hitam tidak akan datang, sebelum tuntas azzam-mu

 

-Alga Biru, 31 Desember 2010

Menggenggam Cakrawala

...

...

Pendakianku setengah selesai

Tak mungkin aku kembali, sisa keringat hangat tak beranjak

Nyaris aku putus asa, andai saja tak kuingat betapa binasa semua ini di atas sana

Nyaris aku tak sanggup lagi, biar saja aku turun lambat dan menepi

Siapalah aku, yang hendak angkuh pojokkan moncong karang di balik bukit

Aku hanya ingin sedikit rasakan elok sekawanan elang memanggil

Aku hanya ingin ketulusan alam menyentuhi dahi

Sesak dadaku mendengar para pencaci

Biar ku bawa cacian itu ke puncakmu, wahai pancang bumi…..,

yang seserpihnya kokoh dan tertawan

 

Ku mau cakrawala tunduk, mengemasi udara-udara lelah para pendaki

Ku mau gumpalan awan tidak mengamuk, bersih tidak menghadang

Hanya awan nimbus yang melayang bak sutera putih

Biarlah ku genggam cakrawala

Biar ku kenal alam bebas yang bijaksana

Biarlah ku genggam cakrawala

Dimana aku berdiri, lebih tinggi dari siapa pun

Hanya cakrawala dan jiwaku, dalam genggaman….

-Alga Biru, 31 Desember 2010

SALAM SATU JARI

Tidak dipungkiri memang, bahwa banyak juga anak-anak punk yang kemudian mengganti ideologinya dengan pemikiran-pemikiran Islam. Saya juga tidak tahu apa penyebabnya. Apakah kebanyakan anak-anak punk memang kaum yang selalu mencari kebenaran? Saya rasa demikian. Sebab, setelah lama berkutat di dalam scene punk, saya tahu bahwa komunitas punk adalah komunitas yang luar biasa. Tongkrongan mereka sering dipenuhi dengan diskusi-diskusi segar menyangkut segala macam persoalan. Bukan hanya itu, mereka juga selalu berusaha untuk mengimplementasikan hasil diskusinya tersebut untuk menjadi aksi langsung, sehingga obrolan mereka tidak hanya sebatas talk only seperti yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang gemar obral janji tapi jarang sekali terbukti. Meskipun ada juga sebagian anak-anak punk yang hanya lebih mementingkan fashion dan malas untuk membaca, tapi di sini saya tidak ingin membahas yang itu. Begitulah. Menurut saya, fenomena tentang banyaknya anak punk yang kemudian berpindah haluan ke Islam, saya tidaklah terkejut.

Itu sebabnya, Wake Up! edisi kedua ini mengambil tema Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out!. Sebenarnya sih edisi kali ini Wake Up! tidak hanya ingin membahas tentang punk yang “hijrah” ke Islam saja, tapi lebih kepada makna “kembali ke Islam”. Semoga saja dengan begini seseorang yang ingin memawancarai saya itu bisa mendapatkan jawaban.

Tulisan di atas sengaja Alga copas dari jurnal elektronik resminya salah seorang kawan yang sudah insyaf. Beliau kerap dipanggil Cirex alias Tukang Tidur.  Si Tukang Tidur ini bukan cuma tidur doang, tapi sudah ngerangkep jadi editornya sebuah Zine bernama “Wake Up!” yang aromanya ngajak orang yang udah insyaf supaya makin insyaf.

Memang, pada akhirnya…. Iman ngga sebatas cas-cis-cus, ingin pula diwujudkan dalam aksi termasuk mengganti symbol-simbol berhala yang dulu digemari kepada mainstrim baru dengan aqidah sebagai landasannya. “SALAM SATU JARI” adalah salah satu bentuk kreasi teman-teman punk yang udah insyaf. Udah jadi rahasia umum kalo salam metal tiga jari sebenarnya adalah lambang sakral untuk kaum pagan, kaum satanic (itu loh… pagan yang lambangnya kambing berhala). Weits,… siapa sangka, dari sekedar lambang ternyata terpengaruh dengan hadlarah musyrik, perilaku syirik alamat neraka cuy! Syerem! Salam metal kepala kerbau juga identik dengan hegemoni Zionis dan segala perilaku jahil turunannya. (Sex bebas, alcoholic, hedonistik, dll). Maka, teman-teman punk yang udah tobat ngga mau nrimo lagi lambang-lambang gituan. “La ilahaillallah, Muhammad rasululullah”, itulah sekarang jalan hidup! Ngga pake kompromi. Ahad ! Cukup Allah saja sebagai illah/rabb/tuhan!

“SATU!”

“AHAD!”

“ALLAH”

“TIADA ILLAH SELAIN ALLAH”

Jadi deh salam satu jari sebagai salam yang definisinya bahwa segala puja-puji, sanjungan, penghambaan, pemberian cukuplah diperuntukkan untuk Allah SWT saja. Ya ALLAH, istiqomahkan kami di jalan-Mu yang lurus. Jalan yang Engkau Ridhoi. Aamiin. ALLAHU AKBAR!

Oleh: Alga


Bagaimana nasib seorang anak yatim? Kasihan, anak itu tak berayah. Jika ia diganggu orang, tak punya daya mampunya membela diri. Karena siapalah yang dianggarkan dadanya. Jika ia seorang gadis, tak kuasa ibu jika saja tak ditemani oleh seorang wali. Jika ada yang lancang mengolok-oloknya, niscaya akan dikatakan padanya ‘hai kau anak yatim, panggil ayahmu dari alam baka’.

Bagaimana nasib seorang anak piatu? Malang engkau, Nak. Boleh jadi tak terurus, harta benda dan raga diurus sendiri. Dunia ini jadi lebih sentimentil dari kelopak mata seorang piatu. Jika dilihat seorang ibu menggendong, ia rindu digendong. Jika seorang ibu mengandung, menangis hati membayangkan ibunya dulu bersakit-sakitan. Jikalau ia beruntung, ia akan mendapatkan ibu tiri yang baik hati. Dan jika aib dikandung  badannya, ibu tiri jahat menorah-noreh sakit hatinya yang sudah susah payah bangun tersebut.

Bagaimana pula jika ia tak berayah, tak jua beribu alias yatim piatu? Jika ia seorang bocah yang berjalan-jalan, oleng ke kiri maka jatuh ia ke kiri. Oleng ke kanan, jatuhlah ia ke kanan. Sebab tak ada ibu bapak yang memegangi jemari, tak ada yang mengawal kemana ia pergi. Tak ada yang bertanya jika ia terlambat pulang. Sungguh ia sebatang kara, hanya sanak saudara dan tuhan saja yang ia punya. Tak ada yang membela selain kehormatannya sendiri.

Sudah sama-sama kita lihat betapa kasihan si anak yatim, anak piatu terlebih lagi anak yatim piatu. Maka siapakah ia si anak yatim piatu itu sebenarnya? Pada hari ini, kita lihat urusan agama tak ubahnya seorang anak yatim piatu. Tak ada yang mengurusnya, tiada yang peduli selain hanya segelintir orang saja.

Jika dikabarkan pada seorang manusia tentang urusan niaga, lekas-lekas ia berangkat. Tidak peduli hujan, hilang rasa malas, sedikit rasa jengah. Jika dikabarkan pada seorang lelaki tentang kemolekan wanita, maka sirna kantuknya, bangkit gairah, berbunga-bunga hatinya. Sebab begitu indah dalam bayangannya urusan tersebut. Jika dinampakkan bagi wanita tentang harta dan perhiasan, seolah penuh perut dan seolah melebar lubang tindik telinga. Karena wanita gemar emas dan berlian, sebab suka sekali wanita itu dibanjiri hias-hiasan. Seolah tak cukup puji-pujian langit bahwa manusia itu setinggi-tinggi mahluk yang mulia. Maka bagaimanakah si polan ketika urusan agama datang? Tiba-tiba sakit giginya kambuh, tiba-tiba sangat sibuk, mengantuk, gatal bokongnya berlama-lama dalam majelis, dan entah kenapa tiap detik adalah kesempitan.

Hai marilah kita berangkat berdakwah?”, salah seorang mengajak. Lalu si polan berkata, “nanti saja, aku masih muda. Belum kulihat isi dunia”. Ditanyakan lagi pada wanita, “Hai Muslimah, suami macam apa yang akan kau pilih dalam perjuanganmu?”. Ia berkata “Aku akan belabuh pada seorang yang baik hatinya, tutur kata mengasyikkan dan ia memiliki agama”. Namun datang seorang kaya yang tanpa agama dan akhlak, ahhhh si muslimah itu mendadak amnesia. Ia lupa, bahwa hanya seorang yang sholeh, yang sanggup membahagiakan sampai akhirat. Sedangkan yang kaya, yang gagah yang tak menjanjikan agama, sejatinya hanya icip-icip saja.

Kita pikir-pikirlah, apakah kita si polan dan muslimah itu ? Begitulah nasib urusan agama. Jika pun ada yang mengurus agama yang mulia ini, kadang kala ia jatuh di tangan yang jahil. Agama ibarat anak yatim dikawal oleh ibu tiri yang bengis. Agama jadi ajang pilah-pilih kemauan. Jika cocok dirasai hati, urusan agama itu diambil. Jika tak cocok dengan kepentingan, ia pun dibuang. Setidaknya dikantongi saja agama itu, yang jika kapan-kapan diperlukan, boleh ia digadai. Jika sholat mampu mengantarkan pada kesehatan, orang senang sholat banyak-banyak. Jika rajam dinilai susah dan banyak rintangan, disimpan rapat-rapat ayat Allah itu. Disunat disana, disembelih disini. Ihh… merana nian duhai kau, si anak yatim.

Wahai kau anak piatu, begitulah agama ini. Iya senasib dengan anak piatu. Tak miliki bunda selepas di kandungan. Siapakah manusia yang membela al-quran yang dicela? Siapakah pemimpin kaum muslimin yang melepaskan fitnah terhadap aktivis dakwah? Siapakah yang mengembalikan tanah al-Quds? Adakah yang menyahut ketika kaum kafir berkata:”wahai salahuddin, bangunlah kau dari kuburmu!”. Tatkala perang salib baru kembali ditabuhkan. Tak ada yang membela agama, tak sanggup, tak berdaya, dicela, dihina, dipencarkan, disantap nikmat seumpama daging di hadapan anjing-anjing lapar. Tahukah kau seperti apa anak piatu itu? Jika dibuka padanya album kenangan, maka ia berkata “aduh… aku tak mengingat bunda, karena sejak kecil ia telah tiada”.Begitulah pelindung agama kita hari ini. Jika diucapkan pada kita tentang bunda kaum muslimin Khilafah Islamyah, maka mengerutlah dahi, aneh dirasai telinga, sukar diendus pula. Jika dibacakan dalil-dalil, kita sudah BEBAL ! Telinga kita gatal ! tidak suka ia diucapkan. Mengapa? Karena ia disangka musuh yang mengganyang modernitas. Karena sudah biasa bagi kita hidup yang  binal, tak usah kembali ke jaman onta (dengan penuh kebodohan, mulut kita berkata-kata tanpa rasa malu). Cih!

Anak yatim, anak piatu….. anak yatim piatu. Dihardik! Saudaraku, suci tetaplah suci. Noda tetap menjadi noda. Jika saja kita tahu bahwa mengurus agama ini adalah perkara suci, sesuci nilai hidup dan mati, saya yakin kita rindu untuk menjadi salah satu pengasuhnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad:7)

Biarlah meski hanya jadi pembokat mengurusi urusan yang kecil-kecil, jika kita pikir kita belum mampu memanggul masalah besar. Mengapa kita enggan untuk turun tangan mengurusi agama? Takut miskin? Takut goyangnya jabatan? Berat meninggalkan istri, khawatir prestasi menurun, tidak siap menahan getir dalam dakwah? Banyak orang miskin, tapi tidak juga menjalankan agama. Seperti banyak pula orang yang lupa daratan akibat diguyur harta. Lantas mengapa tidak jua berdakwah? Banyak pejabat yang tidak tenteram hidupnya. Istri cantik tapi hanya suka pada harta saja, buat apa? Apakah istri, bos kita ,prestasi, rekan kerja atau harta mampu untuk memberikan syafaat di yaumil akhir? Percuma. Loyalitas kita pada agama yang memberatkan timbangan amal kelak di akhirat. Kesempitan hidup bagi  yang jauh dari agama. Celaka hidup orang yang menghardik agama Allah ini. Demi Allah, ia akan celaka!

Anak yatim..

Anak piatu…

Anak yatim piatu, …

Cepatlah engkau besar! Songsonglah congkaknya dunia, perjuangan kami di nadimu!

Oleh: Alga Biru

-Medan, 18 September 2010-

Ya Allah.. yang maha pengasih, maha penyayang.

segalanya sudah Engkau cukupkan atas kami. nafas yang berhembus, kulit yang menutup seluruh tubuh, dan rongga-rongga yang Engkau susun dengan kreasi-Mu.

kami titipkan azzam kami pada-Mu, engkau tambahkan nikmat-Mu pada kami. Engkau luruskan yang bengkok, Engkau ampuni yang tersalah, Engkau ganjar pula dengan balasan yang berkali lipat.

Engkau lindungi aku disaat tak ada lagi tempat berlindung, Engkau jaga aku dengan tangan-Mu sendiri. Engkau tambah nikmat… Engkau tambah nikmat… Engkau tambah nikmat….

subhanallah,… Luar Biasa! Allahu Akbar! ~

“maka nikmat Tuhan Yang manakah yang engkau dustakan?”

>>2 Syawal 1431 H <<<

-Alga Biru

#memaafkan

Kelegaan dari kesanggupan kita memaafkan sungguh luar biasa. Saya merasakannya sendiri. Sikap  yang masih belum ridho memaafkan,ngga menghasilkan apa pun buat diri kita selain bikin hati kita gersang dan miskin. Tidak ridho untuk memaafkan, termasuk juga tidak legowo menghaturkan permintaan maaf, ibarat racun bagi tubuh kita. Ya, racun! Yang namanya racun, bikin tubuh yang sehat jadi sakit dan tubuh yang sakit jadi lebih sakit lagi. (hiii… syerem kan). Buat apa racun itu dipelihara ?! berdamailah dengan diri sendiri, disitulah salah satu kebahagiaan itu. Menitipkan seluruh rasa pada Dzat yang membuat rasa. Memohon kelapangan pada Dzat yang menggenggam keluasan alam semesta. Insyaallah kekesalan kita tentang sesuatu yang meresahkan hati, ikhlaskan ia seperti apa adanya. Apa yang terjadi pada diri kita toh akibat ulah tangan kita sendiri. Introspeksi, insyaallah akan mendatangkan kebaikan. Kebanyakan dari manusia menganiaya dirinya sendiri, lalu ia mendatangkan azab atas ulahnya  selama di dunia. Berita ini banyak banget tertuang di dalam kalam tuhan, Al-Qur’an yang agung.

Ngomong-ngomong soal menganiaya diri sendiri, saya jadi keinget ama salah seorang hamba Allah, Karlina namanya. Ia sudah tak ada lagi bersama-sama kita di alam ini. Setahun lalu, ia menghembuskan nafas dari kejahatan tangannya sendiri. Maksudnya? Ya… bunuh diri gitu deh. Karlina merupakan korban penghianatan. Karl punya seseorang yang amat berharga dalam hidupnya. Tak lain dan tak bukan yakni tunangannya sendiri. Tunangannya ganteng, lumayan berduit, pekerjaan mapan, ya kerenlah. Berpisah kota, cinta pun pudar. Sebenarnya bukan masalah jarak sih, tapi barangsiapa yang ingkar dari janjinya maka bencana yang akan menimpa. Yahh… Kebanyakan dari laki-laki tidak mensyukuri perempuannya. Dan kebanyakan dari perempuan tidak mensyukuri laki-lakinya. Darrr! Pecahlah hati. Gersanglah jiwa. Hati perempuan itu ibarat gelas kaca, kalau sudah jatuh ia ke lantai, tak dapat ia disusun menjadi gelas lagi. Dengan kemarahan yang membabi buta, kecewa Karlina pada lelakinya. Dengan dendam yang tidak terbalas, maka dilampiaskannya pada diri sendiri. Dalam linangan air mata, setengah botol racun serangga ditegakkan kala itu. (gilee… setengah botol, cuy!) Kondisi tubuh Karl memprihatinkan, nyawanya tak tertolong lagi. Saya inget banget. Waktu itu tengah malam, sy menghadap tubuhnya yang sudah tak bernyawa lagi. Salah satu kisah hidup yang tidak mudah saya lupakan. Semua berawal dari dendam dan kecewa pada keadaan. Tak sudi menerima, tak sudi  memaafkan. Coba aja Karlina masih hidup, saya perkenalkan pada Karlina bahwa lelaki di dunia ini ngga cuma satu!! Kita bisa cariiiiiii lelaki yang ‘lebih’ dari apa pun itu (cieee….). Bukankah Allah sendiri yang menyuruh kita untuk memilih ? Dan Allah juga yang janji bahwa kita akan bertemu dengan pasangan yang setali agama atas pilihan kita itu. Siapa yang ingkar, maka ia yang akan menanggung akibat kejahatannya. Kalau orang lain yang ingkar, tak usah kita repot-repot untuk sewot. Orang macam begitu tak layak dipertahankan. Angkat kaki segera, dunia ini begitu luasnya. Doakan, moga atas segalanya Allah memaafkan pula dosa-dosa kita. Seperti kita memaafkan diri sendiri dan orang lain. So… maafkanlah.

Oya… yang namanya minta maaf, itu perlu redaksional loh. Karena kita ini manusia, terbatas dan tak mampu membaca hati manusia. Jangan Cuma bilang, “maafin gw ya”. Trus ditanya maafnya buat apa, malah ogah bilang, diikuti dengan senewen. Terkesan minta maafnya ngga tulus. Ini nih saya contohin salah satu minta maaf yang jujur, tidak seronok dan lurus ^_^

Jessica : “Pop, maafin gw ya. Sebenarnya gw yang ngumpetin sebelah sepatu lo. Gw juga yang sering neror lo pake SMS. Oya Pop… sebenarnya gw selingkuhan pertama pacar lo. Kalo yang lain-lain, itu Cuma selingan aja. Maafin gw ya. Pliss”

Poppy: (manyun dikit) “yaudah Jess, semua udah berlalu. Insyaallah gw maafin. Untung aja gw ngga lanjut ama doi. Kebuka deh, kalo doi emang ngga setia. Oya soal sepatu, balikin ke gw dong. Ngapain juga lo punya sepatu Cuma sebelah doang”

Jessica:”iya Pop, tar sepatu lo bakal gw balikin. Hemm gw udah putus kok ama mantan lo. Ternyata doi ngebosenin, hehe”

Gleg~

Nahhh.. kalo modelnya kaya di atas, kan jelas ya. Gimana perbaikan ke depannya, dan dengan hati yang lapang juga, hari baru segera dimulai.  Dengan kejernihan kita berpikir, kedalaman hati kita, maka jadilah kita orang yang menang itu. Mudah-mudahan kita tidak tergolong orang-orang yang keras hatinya. Perangai kita kepada manusia menunjukkan perangai kita kepada Allah. Kelembutan kita pada manusia pertanda lembut kita pada Allah. Bagaimana mungkin ada orang yang lembut pada manusia jika ia tidak lembut kepada tuhannya. Banyak orang yang seolah lembut hati, tapi keras kepala dalam menerima kebenaran. Maka sesungguhnya orang ini adalah orang yang keras terhadap rahmad tuhan. Boleh jadi kekhusukan sholatnya hanya khusu ‘yang seolah-olah’. Keterjagaannya dalam tilawah adalah terjaga ‘yang seakan-akan’, Ibadahnya tidak tulus. Akibatnya hati gampang putus asa, diam-diam pesimis, suka memvonis. “Kuman di ujung lautan tampak, sementara gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Naudzubillah… semoga kita tidak termasuk yang demikian.

So, bentar lagi kita bakal menyambut datangnya hari kemenangan. Orang yang menang di bulan syawal bukanlah orang yang bajunya baru atau sepatunya baru, tapi orang yang keimanan dan hatinya baru.

Mohon Maaf Lahir dan Batin~

Oleh : Alga Biru

28 Ramadhan 1431 H

Footnote: kebahagiaan itu, Allah sendiri yang menanam dan mencabutnya. Subhanallah.. walhamdulillah…. Bahagia terus setiap hari.

*jiwa pemberani dan ksatria

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

Betapa bahagianya
Punya banyak teman
Betapa senangnya

Betapa bahagianya
Dapat saling menyayangi
Mensyukuri karunia-Nya

(SHERINA- “Persahabatan”)
(betapa picik jika saudara kira hidup di dunia ini lama. Betapa salah jika saudara kira hanya saudara yang punya hati dan cerita. betapa Allah kaya dan punya segudang hisab yg tidak dibeberkan sekarang-sekarang ini.” Setiap manusia di dunia/Pasti punya kesalahan/Tapi hanya yang pemberani/Yang mau mengakui”)
… ahaayyyy :D

Episode 1 “Perang Sabil”

Pernah terjadi suatu masa di bumi ini, di mana semangat kokoh membaja, pengorbanan sampai kepada puncaknya, kemuliaan membalut tubuh manusia, dan sorga membentang di muka dunia. Di sana, di Aceh, pada abad ke-19. Ketika itu Aceh bukan cuma menjadi Serambi Makkah, tapi juga Serambi Sorga. Seluruh rakyatnya berlomba-lomba meraih cinta Ainon Mardliah, dan membeli rumah megah di padang rumput halus sorga dengan nyawa dan darah. Saat itu kaphe (kafir) Belanda menyerbu Aceh demi menuntaskan nafsu penjajahannya, dan rakyat Aceh maju melawan dalam Perang Sabil yang agung. Dan inilah dia, sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia yang tegak membela agama dan negerinya. Dia serupa kuntum mawar yang mekar dalam kecamuk medan perang. Yang walaupun kecamuknya membakar retih jiwa manusia, tapi harumnya semerbak di dunia dan akhirat. Nama perempuan itu: Meutia.

1874

Pantai Peureulak mendesir desah. Seakan-akan meracau karena manusia demikian kacau. Penjajah hendak menerkam tanah Aceh di mulut pantainya, dan semua orang harus maju membelanya. Bulan suci kian menjelang dan bayang-bayang perang kian mencekam. Pantai telah ramai dengan pasukan perang yang telah siap dengan senjata, kuda, dan perbekalan, hendak bergerak menuju Banda Aceh, sebab penjajah akan memulai penyerbuannya dari sana.

Tak jauh dari pantai berdirilah sebuah rumah megah. Tiang-tiangnya kokoh dan dindingnya tebal. Rumah itu adalah rumah Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak.

Ada prahara besar di dada Teuku Daud. Ia berdiri di kamarnya. Menatap istrinya yang duduk bersimpuh di atas ranjang, ditentang seorang anak kecil yang sedang lelap tertidur. Cut Jah, nama istri teuku Daud itu, dan ketika itu matanya basah, jantungnya bergelora. Teuku Daud berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Pelan tangannya terangkat, dan jemarinya mengusir air mata lara di pipi istrinya. Lalu senyum teragung ia persembahkan kepada perempuan yang dicintainya itu.

“Jangan antar kepergian orang yang hendak pergi melawan kezaliman dengan air mata,” bujuk Teuku Daud.

“Bagaimanalah mungkin air mataku tak tumpah,” isak Cut Jah. “Kau belum tentu akan kembali padaku, Cutbang (panggilan utk laki-laki yang lebih tua, abang).”

“Beginilah hidup sudah diciptakan Allah. Boleh jadi aku yang berangkat lebih dahulu, atau boleh jadi pula dirimu. Kita tak bisa melawan semuanya itu. Tapi apapun yang terjadi, berjuang adalah kewajiban, dan kita mesti ikhlas menetapinya. Yang meninggalkan, ikhlas. Yang ditinggalkan pun harus ikhlas. Ikhlaslah, sayang!”

Tangis Cut Jah meledak lagi, ia menghambur ke pelukan hangat suaminya, berusaha menguatkan hatinya saat harus menatap takdir yang membentang di muka. Mereka berpelukan erat, seolah tak ingin melepaskannya selama-lamanya. Hanya ada cinta di sana.

“Sabarlah, sabar,” bisik Teuku Daud. “Ini semua adalah ujian untuk mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan sampaikanlah kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.”

Cut Jah melepaskan pelukannya, ia sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Jemari Teuku Daud menghapuskan lagi air mata istrinya.

“Semua orang pasti mati,” ia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menjalani hidup kita, dan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang menjemput. Bersabarlah.”

Tiba-tiba terbit senyum di wajah Cut Jah. “Aku mencintaimu, Cutbang! Sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu pergilah kau berperang! Jangan menoleh lagi ke belakang. Belalah negeri kita seteguh-teguhnya. Aku ikhlas. Aku bangga menjadi istri seorang pejuang.”

“Terima kasih, sayang! Istri salihah adalah penghulu bidadari di padang sorga. Dan aku bahagia sebab telah dianugerahi Allah salah satu diantaranya.” Teuku Daud menoleh kepada puterinya yang sedang lelap tertidur. Ia mengecup kening anak itu dan tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, jaga pula Meutia. Ajari dia Islam, agar dia menjadi perempuan tangguh seperti dirimu.”

“Insya Allah,” sahut Cut Jah.

“Kalau ada umur aku pasti kembali. Tapi bila aku tak kembali, sampaikan kepada Meutia, bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang telah syahid membela agama dan negerinya. Aku ingin dia bangga demi mengetahuinya.”

“Janganlah risau tentang itu, Cutbang! Aku pasti mengatakannya. Akan aku ajari dia kebencian kepada penjajah, dan akan aku jadikan dia perempuan yang mulia.”

“Terima kasih,” Teuku Daud menangkup halus kedua pipi istrinya dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mengecup kening istrinya. Cut Jah mencium tangan Teuku Daud dengan khidmat.

“Jangan pernah mundur, Teuku,” Cut Jah tersenyum.

Teuku Daud mengangguk, “Aku mencintaimu, kita tak akan pernah berpisah. Para pencinta boleh mati, tapi cinta mereka tak akan pernah hilang dari muka bumi. Mereka yang pergi tak benar-benar pergi. Yang mati, tidaklah mati.”

Mereka turun dari ranjang, tegak berhadap-hadapan di tengah-tengah kamar. Teuku Daud membetulkan letak kerudung istrinya. Cut Jah menguatkan ikatan pedang di pinggang suaminya. Pandangan mereka jatuh kepada puteri mereka yang sedang terlelap di ranjang, membalurinya dengan kasih sayang. Mungkin untuk yang terakhir kali.

“Marilah,” ajak Teuku Daud.

Mereka berdua melangkah keluar kamar itu, bergandengan tangan. Melapisi hati dengan kesabaran dan keikhlasan abadi. Itulah senjata terampuh menghadapi segala kenyataan. Di beranda rumah mereka berhenti.

Teuku Daud menatap dalam-dalam bola mata cokelat bening istrinya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” sahut Cut Jah.

Teuku Daud menuruni undakan depan rumah itu, melangkah dengan teguh. Tak pernah menoleh lagi ke belakang. Cut Jah menatap punggung kokoh suaminya yang terus menjauh, ia tersenyum, tak ada lagi air mata. Kokohnya gunung Seulawah tak sanggup menandingi kokohnya hati para pejuang. Ikhlasnya bidadari tak akan kuasa melawan keikhlasan hati istri-istri pejuang.

Cut Jah berjalan kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, ia melihat puterinya telah bangun dan duduk sendirian sambil mempermainkan kain selimutnya. Cut Jah tersenyum dan menghampiri ranjang, ia peluk puterinya itu dan digendongnya. Ia buaikan rindu puterinya dengan mendendangkan syair yang menggetarkan kaum penjajah. “Kau tahu, sayang, ayahmu adalah seorang pejuang!”

“Allah hai dododaidi

Boh gadung bi boh kayee uteun

Rayeuk sinyak hana peu mak bri

Aeb ngeun keuji ureung donyakeun

Allah hai dododaidang

Seulayang blang ka putoh talo

Beurijang rayeuk muda seudang

Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le

Beudoh sare tabela bangsa

Bek tatakot keu darah ile

Adak pih mate po mak ka rela.”

Allah hai dododaidi (semacam ninabobo dalam bahasa Aceh)

Buah gadung buah-buahan dari hutan

Kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

Aib dan keji dikatakan orang-orang.

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

Cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda

Supaya bisa berperang membela negeri.

Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri saja

Mari bangkit bersama membela bangsa

Janganlah takut jika darah mengalir

Walaupun engkau mati, Nak, Ibu sudah relakan.

[Sayf Muhammad Isa]

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.