Category: Sel-sel rahimku


Ukhti, Don’t Give Up!

Jika hati sudah meleleh

Pikiran buntu tak temukan jalan

Maka tubuh pun seolah remuk tak berbentuk

******

Pernah ngga ngerasain pikiran mumet banget? Berasa di pundak ini memikul berkilo-kilo beban penderitaan. Penyebabnya macem-macem. Nilai jeblok, kehilangan sahabat sampai kisah diputusin kekasih hati. Di akhir tahun ajaran atau semester, korban ‘frustasi’ banyak menimpa kita-kita loh. Pas nilai ujian diumumkan dan ternyata tak sesuai harapan, ya ampyuuunnn…. Cilaka dua belas! Dunia serasa mau runtuh. Ada yang nangis-nangis, teriak-teriak sampai kejang-kejang. Kegagalan itu menyakitkan, kawan!

Hemmm…. Iyah, kegagalan memang menyakitkan. Sesak dan nusuk banget. Segala bentuk yang tidak kita suka, yang bikin puyeng dan berasa malu-maluin sering kita hindari. Salah satunya kegagalan. Ngomong-ngomong soal kegagalan, Alga jadi inget sama satu tokoh dunia, Abraham Lincoln. Selama bertahun-tahun dia harus berjuang untuk mengikuti puluhan kampanye pemilihan dan bangkit dari kegagalan. Tahun 1831, Lincoln mendera kebangkrutan bisnis. Setahun berikutnya, ia coba ikut pemilu. Ehh… gagal. Belum kapok juga, tahun 1834, Lincoln kembali mengadu nasib dalam pemilu. Tahu hasilnya? Gagal maneng, sodara-sodara! Huahaha…. Kegagalan demi kegagalan terus menuai dirinya di tahun-tahun berikutnya. Bukan hanya kalah pemilu, bahkan pada 1836 dia mengalami penyakit nervous breakdown akibat rasa sedih mendalam pasca kematian kekasih tercinta. Apakah Lincoln menyerah? Weits, pantang menyerah. Barulah pada tahun 1860 ia akhirnya berhasil menduduki jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat. Rasulullah SAW, sebagai teladan yang agung juga sosok yang sabar dalam segala dera. Dalam dakwahnya, berkali-kali rasul ditolak oleh para pemuka kabilah. Semua mencemooh dan termakan dengan hasutan para penghasut. Bahkan ketika rasul datang ke bani thaif untuk meminta nusroh (pertolongan), pemuka bani thaif malah menyuruh orang-orang bodoh dan anak-anak untuk melempari rasul layaknya orang gila yang masuk ke kampung orang. Masyaallah, tega bener tuh orang-orang. Meski sudah diperlakukan dengan sadis, ngga pernah rasul berputus asa. Orang-orang jahil tersebut malah didoakan supaya cepat sadar dan rasul bangkit dengan strategi berikutnya, walau hati rasul sempat sedih mendapat penolakan yang sedemikian rupa. Begitulah orang-orang besar. Mereka hidup dengan jiwa yang besar, tidak keok ditimpa ‘kegagalan’.

Sebenarnya kegagalan itu tidak perlu ditakuti. Angkatlah ia menjadi teman, sebab tidak ada orang yang bisa mengelak sepenuhnya dari kegagalan. Lalu, seperti apakah mengangkat kegagalan sebagai teman? (Baca teroossss ya…)

****

FAILURE QUOTIENT FOR UKHTI FILLAH

Failure Quotient ? Apaan tuh? Failure Quotient alias kecerdasan kegagalan adalah kemampuan seseorang dalam mengelola rasa takut, ketidaknyamanan, depresi akibat kegagalan yang menimpanya sehingga berubah menjadi energi positif yang membangkitkan. Kegagalan yang biasanya menjadi momok bagi banyak orang, secara ‘simsalabim’ bisa diubah menjadi semangat dengan menghadirkan failure questient dalam diri kita. Tangis berubah menjadi senyum. Energi negatif diubah menjadi energi positif (Duehh… berasa lagi belajar fisika nih, hehe). Woi, walaupun kita ini cewe-cewe yang identik dengan sisi melankolis…. tapi bukan berarti boleh cengeng. Apalagi berujung pada putus asa. Wehh… alamat sesat, sist!

Mereka menjawab,’Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa’. Ibrahim berkata,’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmad Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat’ (TQS. Al-Hijr: 55-56)

Hii… syerem euy. Kalo udah kena virus ‘putus asa’, dunia berasa gelap. Harapan-harapan bisa pupus. Wuss.. Lihat aja kasus bunuh diri yang menimpa kalangan remaja. Biasanya karena hilangnya harapan dan berharap pada mimpi kosong. Syaithan menggembosi kita untuk kalut dan ragu menghadapi hari esok. Maka mulailah kita berburuk sangka pada segala sesuatu. Nah, yang paling parah, kita berburuk sangka pada Allah ta’ala. Rasul SAW pernah bersabda sebelum wafatnya:

tidak boleh mati salah seorang diantara kalian kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah(HR. Muslim)

Dalam hadist qudsi juga disebutkan: ”Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku, apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya. Dan bila berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan baginya(HR. Ahmad)

Ukhti yang Alga sayangi, Masa sih kita buruk sangka pada Allah yang sudah demikian baik ? Semua udah DIA beri. Kehidupan, usia, rizqi dan buanyaaakk lagi. Nafas gratis, paru-paru gratis, ginjal gratis, coba kalo bayar?? Hehehe. Ayooo…. Jangan menyerah! Kita pasti bisa! Allah bersama kita, yup! < Alga Biru>

^Senyum^

Senyumku  adalah ketukan tak putus harap yang siap diuji

Rindu dan senyum ini seperti tong kosong yang diadu. Terlalu nyaring!

Senyumku adalah  hikmah yang bertebaran tanpa kendali. Seperti bulu itik yang ditiup-tiup sehabis mandi….

Terima kasih untuk semua orang yang telah mengajariku tentang rasa syukur dan sabar. Untuk hidupku yang begini hebatnya…

Ahh,,… Tak sanggup ku hitung betapa banyaknya nikmat ini.

Alhamdulillah Ya ALLAH*

^Senyum^

Kawan-kawan, maksud saya evolusi. Bukan revolusi. Belum banyak hal-hal yang terkategori ‘revolusi’ dalam hidup saya. Akan halnya pula evolusi itu sendiri.Rata-rata berjalan dengan kecepatan rata-rata. Tidak terlalu cepat, tidak juga seperti kura-kura.Adapun kisah evolusi dimulai dari sebuah karya kecil ’sigmoid’ yang sempat mewarnai hari-hari saya sejak tahun 2007 ke 2008. Lembaran Proyek Sigmoid berjalan indah dan keringat mengering diatasnya. Sekarang karya itu sudah jadi dan entah kemana. Virus trojan sudah melahapnya habis tak bersisa. Belum sempat me-recovery, tiba-tiba saja saya kehilangan selera. Kala itu saya memang sedang futur berat. Salah seorang sempat berkata:”ayo Alga, menulis lagi”. Kasihan anak itu, karena tidak saya gubris. Sebagai rekan sejawat, kita memang agak prihatin jika ada yang ’syahid’ di setengah perjuangan. Hehehe. Duh, syahid. Saya ganti deh kata-katanya, karena terlalu terhormat. Hemm,… yah, semacam ’gugur’ sebelum berkembang. Blog di wordpress ini telah menjadi saksi bisu, saya yang sempat menjadi mayat hidup. Atau hidup sebagai mayat.Juli 2008, hingga Januari 2009. Tak ada postingan apa pun. Bahkan untuk sekedar copypaste. ”Saya sedang semedi”. Begitu alasan saya.

Sigmoid… sangat ilmiah kedengarannya. Terbukti, banyak yang mengeluh ketika membacanya. Hehe. Tetangga saya pernah saya paksa untuk membaca. Dan dia menyerah di Bab satu (hihihi…) Lantas… saya beranikan diri ini untuk keluar dari hidup saya. Saya bosan dengan karya-karya Sub Marcos, literatur yang bermodus ’politisasi’. Saya juga sempat bosan dengan kitab Nizhomul Islam (Walo sekarang jadi makin suka). Saya cukup terhibur dengan Supernova, tapi kemudian saya bosan juga. Saya jenuh dengan orang yang mondar mandir, seperti kutu banyaknya. Saya bosan banyaknya testimoni di Friendster. Saya bosan dengan gemerlapan, saya bosan jika sedikit-sedikit dekat pada maksiat. Benar-benar jenuh di kala itu. Dan, kebosanan itu menuntut korban yang jatuh. Sigmoid laksana tumbal bosan yang diakhiri dengan Rest In Peace di liang lahat.

Masih dalam konteks ”mencari dunia baru”. Saya beranikan diri untuk membaca ’ayat-ayat cinta’. Awalnya gara-gara liat si Apu kayanya (Hahaha… aya aya wae). Dan saya pun berhenti. Saya hanya mengobati penasaran, kenapa banyak yang gandrung dengan AAC ? Saya senang dengan kiriman Cirex ”Sepasang Mata untuk Cinta yang buta”. Boleh juga. Dan pencarian belum usai. Dalam kefuturan ini, saya terdengar agak kekanakan. ”Saya ingin dimengerti”. Dan saya memulainya dengan mencoba untuk memahami, kenapa ada orang yang enak dalam bertutur dan tidak mengalami miss-interpretasi. Hal yang paling menggelikan dari pencarian ini adalah uji coba saya untuk ”menjadi orang lain”. Menarik loh! Saya tidak menolak untuk menjadi Nurhadi, jika itu adalah langkah yang baik. Saya tidak menolak, jika saya memakai dialek Habiburrahman jika itu mewujudkan kebajikan bagi orang yang membacanya. Saya tidak keberatan menjadi apa pun dan siapa pun, jika itu adalah fase metamorfosis dalam penjelmaan menjadi kupu-kupu.

 

………….Ada tutur kata terucap…………

……….Ada damai yang ku rasakan…..

…..Bila sinarnya sentuh wajahku….

………Pencarianku pun usai sudah…….

Saya tidak mengenal istilah ”be your self, and whatever what they say”. Karena saya menafsirkan itu sebagai tindakan sebego-begonya orang bego. Yah… masa udah bego, mau tetap jadi diri sendiri yang bego ??? hehehe. (Untuk tulisan “be your self”-nya Raindraze, itu pengecualian)

Januari 2009, saya kembali “mengudara”. WordPress aktif lagi, YM juga. Walo pun sampe sekarang masih ada residu akibat dibajaknya email merahmaron@yahoo.com. Inbox yang sudah saya pertahankan sejak SMP. Dan… yah… EVOLUSI !!

Pelan tapi pasti, gaya tulisan saya pun mengalami evolusi. Saya tidak akan mentok pada jargon revolusi, tidak juga bercukup diri topik membongkar misteri kehidupan. Saya ingin necis meski dimandat untuk mengangkat tema-tema cinta. Tidak keberatan jika perlu membahas keteladanan jihad dan komersialisasi agama dalam satu paket.

Cara pandang saya bergerak satu per satu. Ranah perjuangan saya mulai stabil. Saya mulai membuka diri lagi. Saya tidak perlu ’sayap-sayapan’ untuk terbang. Dulu, sempat sedih ketika separuh sayap saya terbang dibawa rembulan berasa madu. Sampai sekarang masih sedih sih. Tapi… yah.. sayap itu bukan rizqi saya. Bodohlah saya jika saya berprasangka buruk pada ketentuan-Nya. Dengan keringat dan air mata, saya bangun tangga menuju langit luas. Dengan keringat dan air mata, saya yakinkan diri saya, bahwa undakan langit ini harus selesai sebelum saya mati.

Maka nikmatilah apa yang bisa tersaji disini. Saya pun begitu. Menikmati masukan kalian. Apresiasi, atau berbagi mimpi disini. Atau jika mau, kita berlomba membangun tangga langit bersama. Ya, menikmati apa yang belum dicapai. Menikmati apa yang sudah diberi. Sekali lagi, nikmatilah apa yang tersaji disini. Siluet metamorf, yang merupakan penggalan-penggalan kehidupan dari dunia yang bertajuk ”Rahim_Imajinasi”. Mari bertelur !!

 

Catatan: Terima kasih untuk yang sudah berkunjung ke Rahim_Imajinasi. Terima kasih untuk yang sudah membaca Sigmoid. Terima kasih untuk yang masih mengingat saya. Terima kasih bagi para  penjaga islam (Kalian kereeennnn!)

Pengemban Dakwah, menggenggam dunia dengan mabda'

Allah Maha Besar...... Kemegahan dunia ini kecil dan remeh

Para pengemban dakwah, sungguh saya terkagum dengan apa yang Anda lakukan. Begitu banyak orang yang menginfakkan harta, namun Anda tidak hanya berinfak materi. Lebih dari itu, Anda telah mewakafkan diri Anda di jalan Allah. Suatu jalan dimana banyak orang tak melihatnya secara kasat. Jalan yang tak terlihat namun Anda mengejewantahkannya dengan segenap yakin. Anda mewujud dimana Anda melihat dengan penglihatan-Nya, dan berbicara dengan bicara-Nya.

Dengan ini pula, Anda membuat para sahabat merasa iri dengan apa yang Anda lakukan. Anda mendapat pahala yang berkali lipat dari kedudukan mereka. Betapa tidak, wahai penyeru agama,…. Sekalipun Anda jauh dari Rasulullah, Anda tetap memegang sunnah beliau seumpama Anda mempertahankan nyawa. Bukan main wahai saudaraku, Rasul pun memuji Anda dalam majelisnya. Beliau SAW bersabda: ”Beruntunglah orang-orang yang melihat aku dan beriman kepadaku (beliau menyebutnya satu kali). Dan beruntunglah orang-orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku (beliau menyebutnya tujuh kali)”


Ya, beginilah galaksi perjuangan para pengemban dakwah yang dicemburui orang-orang terdahulu. Anda rela menjadi terasing diantara jutaan sesak umat manusia di dunia. Anda telah memilih jalan keterasingan yang dirahmati sekalipun harus menggenggam bara api. Keterasingan Anda tak menghalangi jiwa Anda untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Rasulullah bersabda: ” Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing. Siapakah orang-orang yang asing itu? Yakni orang-orang yang melakukan perbaikan pada saat manusia umumnya rusak”


Betapa membanggakannya usaha perniagaan Anda. Berjual beli di hadapan Allah, dimana tak satu pun janji yang Allah ingkari. Anda telah menukar jiwa Anda dengan sesuatu yang belum ada bandingan-Nya yakni illyin dalam genggaman-Nya. Dari jual beli tersebut, dengan segenap pengabdian, Anda menghabiskan sisa umur untuk perbaikan umat manusia. Andalah ’orang besar’ sekalipun terlihat kecil dalam kacamata duniawi.

Anda telah menjadi ’orang yang besar’ justru tatkala Anda memandang dunia ini kecil. Betapa kecilnya. Amat sangat. Hal itu tiada lain karena Anda memiliki sesuatu yang besar dalam jiwa Anda. Anda telah memayungi ubun-ubun Anda dengan kekuatan iman yang tasdiqul jazm kepada Allah. Anda memiliki Allah Yang Maha Besar dalam bait dan spasi kehidupan Anda. Telah Anda dedikasikan kekuatan ruh itu hingga titik penghabisan dan nafas Anda yang terakhir. Bagi Anda, Allah Yang Maha Besar merupakan poros dalam dinamika hidup ini. Sehingga banyak hal rumit kian mengerucut. Seumpama kerumitan itu hanya berupa partikel-partikel yang ber-tawwaf. Kerumitan yang membuat lisan Anda basah dengan dzikir dan semakin membuat diri Anda dekat kepada-Nya.

Teruntuk Anda yang dulunya sempat terseok dalam kebatilan, namun kini telah memilih jalan dakwah ini sebagai muara: Selamat wahai saudaraku!!! Ini menjadi pilihan yang amat genting. Anda memilih sebuah peran penting dan dimuliakan. Sebuah peran yang memiliki banyak tantangan dan reward dalam pangkuan Sang Ilahi Rabbi. Peganglah selalu komitmen Anda dengan segenap kesadaran dan keikhlasan. Tidakkah ini juga mengingatkan kita pada kegagahan Sayyidina Ali ketika bersyahadat di usia yang belia dan istiqomah bersama kutlah Rasulullah. Allahu Akbar ! Semoga Allah mempertemukan kita dengan beliau dan para pejuang sejati yang telah berkorban dengan darah, keringat dan air mata.

Wahai Saudaraku, para pengemban dakwah… bersabarlah, bersabarlah dan bersabarlah. Allah akan mengeluarkan kita dari gelap menuju cahaya. Allah tiada cacat dalam memenuhi janji-Nya. Maka saksikanlah wahai umat manusia… Allah akan menjawab segala apa yang Dia kabarkan.

”Dan katakanlah: kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap”

(TQS. Al Isra’:81)

 

Dari Saudaramu: Dian Hasibuan

                    Kadang kala kita tertimpa rasa bosan dalam membina satu hubungan. Rasanya tak semanis pertama berjumpa, tak deg-deg-seeerrrr sejak pertama berkenalan. (Loh, kisah apaan nih ? sejoli ?). Jawab: Ga menciut jadi kisah sejoli aja, tapi dalam gambaran lebih luas, kisah pertemanan pun demikian. Ketika kali pertama kita mengenal seseorang dan mengadopsinya sebagai ‘teman’, kita boleh jadi tertarik untuk mengetahui lebih dekat. Ingin tau dimana rumahnya, apakah kita memiliki hobbi yang sama, watak yang serupa atau bahkan memiliki sudut pandang sejenis. Orang baru, dunia baru. Namun seiring dengan berjalannya waktu, hubungan itu seolah bertemu dengan rasa ‘basi’.
Saking basinya, “apa kabar?” seolah benar-benar menjadi sebuah ‘template’ yang teracuhkan. Kita pun sering kali lupa menampilkan muka yang berseri-seri ketika berjumpa. Alih-alih menjawab sapaan dan bersedekah dengan senyum, kita cenderung tidak mau menggali apa pun selain masalah di kepala kita yang tampaknya menumpuk. Setidaknya, bagi saya.. dari bertukar kabar, kita bisa mendapat solusi alternatif dan inspirasi dari lusinan masalah kita yang menumpuk. Saya tidak akan memberi CAP STEMPEL LEMAH untuk teman-teman saya yang datang dengan keluhan. Taukah kita, justru disanalah seni dalam pertemanan. Tentu kita tidak akan mengeluh pada sembarang orang bukan ? Tentu kita juga tidak perlu menelan seluruh masalah kita sendirian? Dengan menelan bulat-bulat permasalahan, disanalah kita memperoleh nilai minus dalam membentuk hubungan. Kita mungkin sedikit autis bahkan merasa jadi hebat dengan berhasil hidup sendiri.
Sebuah Deskripsi
Sebuah Deskripsi

           Kemandirian tidak diukur dari sana, itu menurut saya. Kemandirian itu berawal dari mantap pikir dan ahli batin. Maksudnya, kita berpikir dan berbuat dalam meraih suatu tujuan. Caranya dengan giat memacu diri sendiri, namun jangan kesampingkan orang lain. Undanglah orang lain untuk sedikit memasuki wilayah dan masalah kita. Disanalah kita bisa mengasah batin. Kadang dalam sebuah percakapan, bisa saja terjadi salah paham atau adu pemikiran. Benturan itu takkan terelakkan. Maka ingatlah akan tujuan, insyaallah batin kita akan terasah.
Ya, asahlah batin dan pikirmu. Mengasah batinmu dengan terjun ke dalam kehidupan teman-temanmu dengan dirimu berjalan bersamanya. Taukah kamu bahwa pengasahan batin adalah sesuatu yang nyaris tiada batasnya ? Jadikan setiap dinamika yang ada menjadi sekolah bagi kehidupan. Pengalaman temanmu adalah cermin bagimu. Kesahmu adalah bonus untuk mengasah batinnya. Dan riang hatinya merupakan obat dari kegundahan yang mungkin belum terjawab.
Betapa indahnya membina hubungan dengan pola pengasahan batin seperti ini. Maka kita pun tidak akan meremehkan sebuah pertanyaan ‘apa kabar’. Kita juga tidak akan mengesampingkan sebuah kata ‘yes, I am Fine’ yang mungkin dilontarkan.
                Melalui tulisan ini saya sekalian ingin minta maaf kepada orang-orang yang bisa jadi merasa saya ‘desak’ dengan pertanyaan lanjutan. Melalui pertanyaan lanjutan, sebenarnya saya hanya ingin memutus mata rantai ‘individualistik’ dari benak saya selama ini. Bosan juga jadi orang individualis ( hehehe… kalo ini mah wajib bosan yak!). Tapi kalo terganggu, biasanya sih saya adem aja. Maklum, setiap jiwa pada dasarnya memiliki Free Zone dalam dirinya. Itu fitrah. Konon, rahasia membuat manusia (terutama wanita) menjadi benar-benar seorang wanita.
Jika sudah demikian, akankah kita merasa bosan dengan pertemanan atau hubungan yang sudah ada ? Akankah kita kehilangan gairah pada orang yang ada di depan kita, dengan berpikir wujudnya ‘itu-itu saja’. Setiap diri adalah aset yang terus tumbuh dan pemilik kawah yang dalam di palung hatinya. Kisah penggalian watak dan batin ini takkan usai. Dan kita akan merasakan manisnya, ketika ia telah tiada atau ketika telah banyak kenangan yang kita gores bersama. Kita akan rinduuuuuuuuuuuuu sekali. Seperti kerinduan Rasulullah pada Khadijah. Yang tidak habis rasa rindunya bahkan ketika Bunda Khadijah telah tiada. Penggalian Sejati ! Pertemanan Abadi! Subhanallah….
Semoga pertemanan kita seperti beliau. Amin
TERUS MENGGALI !!!

(Footnote: “Wombat! Terus Menggali!”-à Keinget istilahnya Dee-Supernova)
Oleh: Alga Biru
Medan Asik Nian, 04 September 2009

FLYING WITHOUT WINGS
(Episode “Buku Harian”)

Apa yang kamu bayangkan ketika diberi kesempatan untuk membaca buku harian seorang yang telah tiada ? Kalau saya ditanya, maka saya katakan bahwa saya “ketagihan”. Ada rasa merinding memang, ngeri rasanya membayangkan jika ternyata si empunya melihat saya dari dunia lain. Tapi apa yang akan kamu lihat di lembaran buku harian ?

Kejujuran…
Kehancuran…
Tumpah ruah…

Tiap orang berbeda-beda dalam memanjakan buku hariannya. Atau bisa dikatakan,tiap orang berbeda-beda meramu makna dari tiap kata yang ingin ia tuangkan. Ada yang ingin menggambarkannya secara lugas, tangkas dan hilang kendali. Konon, ketika kita telah menuangkan sesuatu,… masalah di pundak seakan hoyong separuhnya. Buku harian, memberikan ruang monopoli bagi pemiliknya untuk menghakimi apa saja dan siapa saja. Disana, dia boleh sedih, gembira, menghujat, sinis, salah paham atau bahkan salah terus-terusan.

Demikianlah buku harian sebagai ruang privacy, dimana nasib menjadi kesendirian masing-masing. Huufff… Terkadang, kita sulit menerima mahluk hidup yakni manusia sebagai ruang untuk berbagi. Terlanjur ada tembok, atau bahkan tembok itu pun seakan bertelinga. Padahal, boleh jadi,.. dengan berbagai sesama manusia, kita justru mendapat pencerahan. Dengan syarat, kita bersedia memanggul konsekuensi akan ada pro-kontra. Dan syarat tambahan, kita juga harus rela beradu pemikiran. Sedikit berbantahan untuk kemudian meraih lebih dari sekedar win-win solution, dengan kata penutup “wassalam”.
Kenyataan lain yang menjadi daya tarik buku harian adalah karena ia bisa dipercaya. Tidak ember kemana-mana. Kecuali ada tangan jahil yang membongkarnya. Beda dengan manusia, yang sering keburu nafsu untuk mengumbar aib saudaranya. Inilah dunia, manusia baik ada. Manusia ember pun tak kalah banyaknya.
Ngomong-ngomong soal buku harian, sudah 3 tahun belakangan ini saya tidak menulisnya lagi. SIGMOID sempat menjadi pelarian saya dan tempat sumpah serapah yang sangat haru. Dari Sigmoid, saya juga mulai berani melangkah untuk mempercayai manusia untuk menjadi telinga atas sejumlah unek-unek saya. Dari Sigmoid, setidaknya saya coba-coba bertanya dengan hati-hati: ” duhai kawan, apakah saya orang aneh? Apa cerita fiksi saya bisa dicerna?”
Dan saya amat bersyukur, saya menemukan pantulan saya.

Pantulan !!

Ya, satu hal tidak bisa didapatkan dari sekedar menulis buku harian, dimana biasa kita sembunyikan rapat-rapat di lemari atau laci. Apresiasi, kritik, ketidaksetujuan, penolakan bergabung menjadi satu adonan dan membidik saya untuk memperkenalkan siapa diri saya sebenarnya.
Sekarang, saya memilih untuk berekspedisi akan telinga siapakah yang kena sial karena mendapat muntahan saya ?? Muntahan pemikiran, perasaan saya. Oh ya,, satu lagi yakni muntahan imajinasi saya. Sebenarnya, ada kekhawatiran andai sewaktu-waktu ‘muntahan’ saya bocor. Tapi biarlah,,,mudah-mudahan deskripsi seputar neraka Jahannam mampu sebagai stop dan rem untuk tidak mencipratkan isi curhat dan muntahan saya tersebut. Kalau toh bocor juga, saya pikir…disanalah kantong pahala kesabaran menggembul.

Buku harian,…

Atau Manusia sebagai pendengar,,,

Sama saja fungsinya. Sama-sama berpotensi sebagai tempat singgah untuk berbagi masalah. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tinggal bagaimana kita memilih dan menjadikannya tepat guna dan sasaran.
Terkhusus panggilan keimanan sebagai solusi atas gejolak dari ghorizah Baqa maupun Ghorizah Nau yang dimiliki manusia, Ghorizah tadayyun pun membimbingnya. Sabar dan Sholat terpilih sebagai jalan dimana segala keluhan didengarkan-Nya. Dia Yang Maha Menyaksikan takkan tinggal Diam. Dia Yang Maha Mendengar, senantiasa mendengar desah dan niat. Hanya, Dia sudah berjanji untuk memberi uji dan coba, agar kita hanya tunduk pada-Nya. Tiada bersandar pada apa pun selain pada-Nya. Tiada keabadian, selain Abadi milik-Nya.
Lantas ketika esok menggapai, ada salam bahagia dan ceria. Disanalah, rasa syukur kita bertambah. Allah tidak membiarkan kita sendirian. Allah masih menemani dan memberi kita teman. Allah telah menciptakan kita berpasang-pasangan. Allah pun mencipta kita berlainan dengan garis tangan yang berbeda-beda.

……….
……….
Bilakah tiba masanya ketika buku harian yang sebenarnya dibacakan ? “Buku harian” yang selama ini dicatat oleh malaikat pencatat di kiri maupun di kanan. Yakni ketika perkumpulan di padang mahsyar. Entah kita mendapat di tangan kanan, atau melalui tangan kiri. Disanalah, ketika mulut tak dapat berhujjah. Semua saksi nyata dihadirkan. Yang diam akhirnya bicara….

ALLAH… ALLAH… ALLAH…
Giring aku menuju kebaikan

Oleh: Dian F Hasibuan —-“flying without wings”

prayer !!

prayer !!

Sering kita gigih dalam usaha namun minim dalam doa. Mungkin karena tak semua doa terjawab dalam singkat, dekat dan nyata pada akhirnya membuat kita lalai bahkan tak jarang mengesampingkannya. Sejatinya, doa bukan saja kebutuhan melainkan fitrah. Artinya, ia tak dapat terpisahkan dari aktivitas. Doa merupakan pengakuan akan kelemahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan. Tiga sifat khas dari tiap-tiap mahluk yang ada di dunia ini.

“Dan Tuhanmu berfirman,’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ (TQS. Ghafir:60)

Anehnya, dalam kelemahan dan kekurangan ini, kita masih saja egois. Keegoisan itu kadang kala tampak dari apa yang kita doakan. Terkategori egoislah kita jika isi kepala ini hanya seputar diri sendiri. Rasul mencela ke-egoisan seperti ini dari bagaimana seorang manusia bangun dipagi harinya.

“Siapa saja yang bangun di pagi hari dan tidak memikirkan urusan kaum Muslimin, maa dua tidak termasuk golongan mereka” (HR. ath-Thabrani)

Doa sering tak putus untuk memohon agar diluluskan di Universitas anu jurusan anu. Lain waktu kita banjir air mata untuk sebuah kekayaan yang kita khawatirkan habisnya. Jodoh yang tak kunjung kedatangannya. Atau lelaki idaman sejagat kampung, yang dengannya kita berharap segenap tenang dan kesenangan. Melulu berdoa tentang dunianya sendiri. “Aku….Aku… dan nasibku….”

Berpikir tentang keselematan diri sangatlah lumrah. Tidak salah memang.  Masih dari Ayat Allah yang Suci, ALLAH SWT berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”  (TQS. An-Naml:62)

Di lain kesempatan…….. ayo kita hitung, sebanyak apa kita mendoakan orang lain hari ini. Seberapa ingatkah kita pada seseorang belum makan sejak pagi atau kegelisahan yang menggelayuti anak-anak Afghanistan yang ayah dan kakak laki-lakinya tak kembali. Pernahkah terlintas di benak kita  nasib anak-anak yang bekerja sebagai kuli lem sepatu di salah satu industry? Mereka anak-anak yang berpotensi untuk mengalami gangguan paru dan pernafasan. Mereka yang seharusnya bermain namun harus  bersikeras mencari nafkah. Bagaimana pula dengan nasib yang menimpa muslimah di Prancis ? Sementara disini kita mubazir dengan aurat, mereka disana meregang gelisah dan penindasan dalam mempertahankan keimanan untuk berhijab. Atau kesulitan yang mendera para pengemban dakwah di negeri secular Turki ? Kita lebih suka lalai dan tak urung tertidur di dalam halqah, sementara sesama pejuang mungkin amat rindu untuk berkumpul ?

Berdoalah untuk keistiqomahan kita, dan jangan lupa doakan keistiqomahan rekan seiman. Bersyukur untuk perut kita yang kenyang dengan tak lepas mendoakan kecukupan orang-orang yang mungkin saja kini sedang kelaparan. Kita saksikan keluarga besar kita beranak-pinak dengan damai, maka doakanlah para ibu yang berniat menggugurkan kandungannya karena alasan ekonomi atau takut aib. Doakan gerak hatinya agar terjauh dari maksiat dan khianat kepada amanah yang Allah berikan.

Kamu punya teman ?

Seberapa sering kamu menyebutnya dalam doa ?

Mulai sekarang,…. Maka sempatkanlah berdoa untuknya.

Oleh : Dian F Hasibuan

imutZ

kucing2


bahagianya dirinya, seimut tampangnya.

tiada beban.

senyum lucuuuuu…

meeeoooowww !!

stop penculikan terhadap kucing!

(hareeee geneee,,,,)

Keluhan yang terobati

Langit Hatiku

Langit Hatiku

Sebelum mengeluh betapa repotnya aktivitas anda

Pikirkan bagaimana orang2 yang tak mampu sekedar berdiri

Yang di bangsal  atau hilang akal

 

Sebelum bermuram durja tentang kekurangan harta

Pikirkan para jutawan yang tak kaya fisik dan jiwanya

 

Sebelum menghela nafas karena sebuah penolakan

Bayangkan Sang Rasul yang dilempari di Thaif

 

Sebelum segalanya dijadikan resah, gelisah yang tak berpangkal

Andai kesemuanya itu tak lagi ada, bisakah kita untuk sekedar berkata-kata ??

Berenang di GAZA

sepuing yang dihempas. berpuing-puing lain berserakan.

sebisu malam yang hanya desing senjata, dan dunia lebih bisu lagi

Gaza hari ini adalah mimpi buruk  dengan sejumlah wewangian darah

Gaza _swimmingpool

Allah…

Inilah kami. Dan kami Yakin Kau Tak Terbelenggu

Kami tak kan kalah…

Karena Kau, kami pun terus ada

Ya Allah….

Jadikan tanganMu menjadi tangan mampu-ku!

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.