Category: Rahim_Fiksi


PEMBAWA KEBAIKAN SAMPAI AKHIRAT


Siluet jingga serupa serbuk ekor meteor
Melukisi angkasa dengan bijaksana
Di hadapan mushaf ini, sore ini…. lafazmu berkejaran
Berarakan bunga-bunga cinta, aku mendengarkan
Di atas pangkuanku sendiri, gelinang air mata berumur panjang
Di atas rangkulanmu malam ini, gelinang air mata bahagia jatuh berulang kali….
Ya ilahi robbi…. jadikanlah lelaki ini pembawa kebaikan hingga usia abadi di akhirat


Oleh: Dian Fadilah Hasibuan
-14 April 2010-

Footnote:
Untuk siapa saja yang saling mencintai dan mengharapkan hidup barokah

Isa “4Arwah” dan Sabil

Pada kesempatan kali ini, saya akan meresensi atau lebih tepatnya mengulas sebuah teluran pikiran anak manusia yang lahir ke dunia. Telur itu akhirnya menetas dengan selamat sentosa, dan menjelma menjadi sesuatu yang disebut karya fiksi, berjudul “Sabil”.
Saya mendapatkan Sabil langsung dari penulisnya. Sabil ditulis secara runut dan sensasional oleh Muhammad Isa alias Sayf Ahmad Isa. Pertama kali ditawari Sabil, saya berasumsi bahwa ini seperti novel anak muda kebanyakan. Yakni tentang Rangga ‘sholeh’ mencari Cinta yang ‘sholehah’. Atau apa pun itu yang berwujud teenlit islami. Sah-sah saja sih. Malah saya termasuk yang minat juga. Tapi kali ini saya keliru. Sabil bukan apa yang saya duga.

Saya bertanya pada Isa: ”Ini novel tentang apa?”
Isa berkata: “Perang Ajteh”.

Saya mengucek mata. Saya tidak salah lihat kan? Hari gini ngomongin perang aceh? Emang ada yang lirik ? Betapa semangat di dada saya memburu. Apa ini semacam jawaban dari doa-doa saya. Apa ini pula semacam pertanda dari tetes air mata saya yang jatuh beberapa kurun waktu ini. Sebelum Isa memberikan Sabil, saya sempat terdiam lama dalam perenungan saya melalui buku yang saya baca. Buku itu berjudul :”Pesan-Pesan Menggugah”. Buku ini sangat menyentuh, dan sungguh merupakan penyembuh bagi jiwa yang futur. Di dalamnya ada kisah orang-orang yang menikmati jihad. Betapa mereka telah mencium aroma surga dari padang pasir yang tandus, padahal istana adalah tempat biasa mereka berteduh. Mereka membaui kasturi dari darah yang tercecer. Kilatan pedang syuhada adalah kunci dari terbukanya surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Subhanallah! Sungguh di luar logika. Tapi saya percaya, gemuruh itu ada. Dan takkan sia-sia. Entah energi seperti apa yang mengaliri mereka. Satu yang pasti: Saya sangat iri! Sangat! Saya ingin mengecapnya. Yakni bau darah yang berubah menjadi kesturi. Padang tandus yang senyaman kasur sutera. Dan adakah obat yang membuat saya terasuki ?? Air mata saya jatuh ke bumi. Jatuh begitu saja….
Maha Kuasa ALLAH atas apa yang DIA rancang. Sabil menghampiri. Maka Sabil adalah apa yang kamu baca berikut ini. Kisah Perang Aceh yang sudah tertelan waktu dan dilupakan. Padahal perang ini meledak luar biasa, dimana disana kita akan merabai para ibu yang melepaskan anaknya pergi berjihad. Suami yang gugur menjadi syuhada. Dan pasangan yang tak pernah dipasangkan di dunia, tapi menunggu di akhirat. Uniknya, meski novel ini bernuansa trailer menegangkan dan ’berat’, kamu jangan takut merasa digurui. Sabil tidak hanya tentang pasukan berkuda dan teriakan-teriakan Jihad, justru melalui Sabil saya mengenal cinta sejati serupa nikmat yang tidak terlupakan seumur hidup. Malam-malam romantis yang membuat dahan-dahan dan rembulan akan cemburu. Subhanallah. Jihad, sejarah perang aceh dan romantisme dibungkus dalam satu paket. Kita pun akan tau bahwa Perang Aceh dekat dengan Kekhilafahan. Ini tak lagi terbantahkan. Betapa ungkapan ’Serambi Mekkah’ bukanlah sebutan yang disematkan begitu saja tanpa goresan tinta emas di masa lalu. Ya, memang sudah saatnya kita mengetahui jati diri, setidaknya kisah di negeri sendiri. Sudah tiba masanya kita tidak lagi sibuk dengan diri sendiri. Jihad menanti, kawan. Persiapkan diri! Insyaallah, Allah akan menuntun. Dan pada akhirnya…… SABIL hadir ke hadapan kamu! Enjoy!

Teuku Nanta duduk tegak di punggung kudanya yang berwarna hitam. Ia ada di Pantai Ceureumen, tepat di tempat di mana ia berada kemarin, dan beberapa hari sebelumnya. Firdaus tegak di sisinya, menunggang kuda pula.
“Bagaimana, Tuanku?” Tanya Firdaus.
Teuku Nanta diam sejenak dan memandang mata Firdaus lekat-lekat lantas tersenyum, “Kita berperang dengan Belanda.”
Firdaus pun tersenyum lebar, “Benarkah?”
“Surat Belanda yang terakhir hari ini tak perlu dibalas. Belanda menuntut Aceh untuk menyerahkan kedaulatannya dengan batas waktu sampai besok jam delapan pagi. Kita cukup mengibarkan bendera putih jika kita menyetujui tuntutan mereka. Tapi tentu saja jawaban kita tidak. Jika sampai besok jam delapan pagi kita tak mengibarkan bendera putih di pantai maka Belanda menyatakan perang secara resmi dengan kita.”
“Sebuah perang resmi rupanya!” Firdaus memandang ke tengah lautan.
“Ulama-ulama dan uleebalang Aceh sungguh ksatria,” lanjut Teuku Nanta, “mereka pun semuanya memilih melawan. Aku bangga melihat mereka. Saat ini mereka sedang mempersiapkan pasukan tempur yang mereka bawa.”
“Aceh berperang pula dengan Belanda ternyata,” Firdaus tersenyum terus. Ia masih tak menyangka.
“Sepertinya kau senang sekali?”
“Kita harus sambut tantangan ini dengan gembira, Tuanku.”
“Tentu saja. Berani mereka menginjakkan kaki di tanah Aceh akan hilanglah nyawa mereka satu-satunya,” Teuku Nanta dan Firdaus tertawa terbahak-bahak.
“Sebenarnya dari semenjak kemarin aku merasa ada sesuatu yang aku lupa,” Teuku Nanta memijit-mijit keningnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, “Tapi aku tak berhasil mengingatnya.”
View full article »

Mencari kau, mencari ku

Punggung bergerak tanpa kaku
Berjalan menjauhi kiblat orang-orang yang ragu
Kau tau dunia tak inginkan aku, disini
Aku tau dunia tak inginkan kau, disitu

Aku ingin mencapai titik renjatan
Sehingga loncatan ide berisik serupa sayap-sayap lalat
Agar ku impikan kisah berbisik serupa kedipan kunang-kunang

Tak perlu keliling dunia
Mencarimu cairkan nyali
Mencairkanmu carikan seribu satu keanehan yang terurai
Kini ku tau, aku memang tak sendiri

Tak perlu keliling angkasa
Mencari tawa yang tersendat lama
Mengembang senyum sepenuh jiwa
Kini kau tau, kau memang tak sendiri

Tak perlu keliling jagat raya
Ketika kau berbalik, aku ada
Ketika ku buka mata, segalanya nyata
Kini kau dan aku tau, kita tak lagi sendiri

Tak perlu kemana-mana
Kita sudah hinggapi dunia, angkasa, jagat raya
Kita berdamai dengan segala
Kita tidak sendiri lagi, kita bersama ada
Aku dan kamu, tau itu…

Sembilan Puluh Menit dan Hujan

Namaku Resti. Amat penting bagiku memiliki rasa setia kawan, penghormatan pada yang lebih tua dan menggembirakan sejawat. Walau begitu, aku enggan nongkrong-nongkrong. Tidur di kamar kost lebih bermanfaat daripada nongkrong. Tidur lebih berarti ketimbang membuang-buang karbondioksida dengan sia-sia di tempat tongkrongan dengan sekumpulan orang yang tidak ingin kehilangan gengsi. Demi menghargai sebuah ajakan mulia, kali ini aku memilih ’nongkrong’. Hemm, tepatnya menjadi seorang pendengar budiman. Tongkrongan dalam ceramah sembilan puluh menit.

Detik-detik ini terasa lama, jam dinding itu seperti kura-kura. Lambat, bagai tetesan air keran macet. ”Menit ke enam puluh lima, bersisa dua puluh lima menit lagi” batinku. Aku masih duduku bersila. Setelah aku memutar posisi dudukku ke kanan, ke kiri dan nyaris setengah menjongkok. Aku menahan diri dengan segala rupa agar pertemuan berdurasi seratus delapan puluh menit ini ditutup dengan salam. Jujur, pertemuan ini cukup spektakuler. Hanya sayang, aku memang tipe yang gampang bosan. Rasa bosan itu mampu kujerjaki di lima puluh menit pertama. Selebihnya adalah perjuangan melawan kantuk dan lalat yang hinggap.

Bagiku, pantang rasa kantuk ini ketahuan. Maka jangan heran, jika perilaku menghitung detik, mengusir lalat, memutar bola mata, dan mengangguk-anggukan kepala disebut sebagai metode pengalihan kantuk. Setidaknya bagiku, gadis yang setia menghitung detik.

”Gimana adik-adik, cukup jelas tidak pemahaman islam barusan?” Di menit ke seratus, sang pementor bertanya. Aku menggeleng, bukan karena kantuk, tapi memang tidak ada pertanyaan sejauh ini. Dua orang lainnya masih diam , belum menggelontorkan semacam pertanyaan maupun sanggahan.

Satu, dua, tiga, empat. Aku menghitung jumlah kepala yang hadir di forum ini termasuk kepalaku. Kami orang-orang yang tak saling kenal yang kemudian dikumpulkan. Agenda ini bersifat mingguan berdurasi sembilan puluh menit. Forum dengan formasi setengah lingkaran ini tidak memiliki banyak menu dan aku telah memenuhi syarat. Seorang pemimpin forum yang disebut pementor, setia hadir membawakan tema yang konon sudah dirancang susah payah semalam suntuk.

Untuk forum seperti ini, aku perlu memasang telinga yang mendengar, kemauan dan rasa menghargai kepada penyaji. Dan itulah pula yang membawaku tetap bertahan untuk menghitung detik dan mengusir lalat di menit-menit sisa. Bagiku, menghargai  orang lain seumpama momen genting si anak penyu yang berjuang keras menggapai pantai. Jika kelewatan dan tidak lekas mencari sela, situasi saling menghargai itu akan luput. Hubungan pertemanan bisa karam, kekeluargaan bisa mengendur, percintaan akan pupus.

Nalar gampangnya, apakah kau suka jika ketika berbicara lantas ada yang menguap. Itulah yang aku jaga. Kalau bisa, aku tak ingin seorang pun tau aku si pembosan. Aku datang ke forum ini dengan niat kedamaian, sebisa mungkin tidak menodai siapa pun. Termasuk si pementor yang membawa kalam suci dan perkataan suci. Ia tidak dibayar, cukup tuhannya yang membayar. Ia datang bukan karena diundang, justru dialah yang mengundang segenap kami. Aku salut padanya. Rasa salut terbukti mampu membawaku kemari. Walau aku tidak yakin berapa lama lagi energi salut itu bisa membuatku bertahan.

********

Hujan gerimis membasahi tanah gersang. Jika hujan ini berlangsung lebih lama lagi, banjir tidak akan terelekkan. Bumi ini merutuk. Serba salah sudah. Jika hujan, airnya tergenang menjadi garang. Jika kemarau, tanah kerontang dedauan memucat cepat. Gerimis menusuk ini kutahankan. Baru ada dua kepala yang hadir di agenda sembilan puluh menit bersama pementor. Baru ada aku dan dirinya, si pementor yang setia. Dia tidak pernah datang terlambat, meski sehari-harinya selalu jalan kaki.

Sosok itu bernama Meli. Dirinya terpaut dua tahun lebih tua dariku. Keteladanan dan interval diantara kami menambah alasan di dalam diriku untuk tak pupus menghargai akad diantara kami. Meskipun gerimis ini ingin ku hangatkan dalam selimut damai dan tidur siang.

Sepuluh menit waktu berlalu dari yang telah ditentukan. Sejujurnya, aku lebih suka pertemuan atau mentoran kali ini batal saja. Aku tidak nyaman dimentor sendirian. Aku tak sudi menghitung lalat sendirian. Aku ingin melihat tampang dua temanku yang lainnya geser kanan kiri yang membosan. Memang, Kak Meli pernah memberi nasihat agar kami banyak berta’awuz. Karena boleh jadi itu semata godaan syaithan di dada kami. Menggoda agar kami beranjak dari majelis.

”Kak Meli, bagaimana kalau mentoran kali ini diundur saja?” Usulku memberanikan diri.

”Hemm… Sayang adik. Kita kan sudah sengaja datang kesini untuk mengkaji. Hujan tidak menghentikan langkah kita. Sekarang tinggal kita mulai saja, mengapa mundur?” Kata-kata keluar dengan lembutnya. Tapi usahaku untuk penggagalan ini belum sampai finis.

”Nggak usah aja ya, Kak! Plisss… Saya teringat jemuran di kost. Apalagi saya sedang jemur sepatu Kak. Wah, kalau diambil orang kan sayang. Ya ya? “ ungkapku dengan nada memelas. Bukan Resti namanya jika tidak pandai cari alasan.

Maka benarlah. Kak Meli tak sanggup melawan dan hatinya tertawan sendirian.

”Hemm, Ya sudah kalau ada halangan. Minggu depan kita kajian lagi ya. Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”

”Ya” Cepat saja kukatakan. Secepat hujan yang jatuh ke bumi, bebas hambatan.

********

Sudah berlalu waktu seminggu, tapi serasa baru kemarin. Lagi-lagi, seminggu ini hujan turun bergantian dengan awan mendung. Dari balik tirai jendela, air dari atap langit membasahi bumi seumpama tembakan air bertubi-tubi. Dalam suasana yang sejuk rupa begini, kakiku berat melangkah keluar. Hujan reda dan deras bergantian, namun aku terlanjur beringsut di balik selimut. Menghangat dan lamat-lamat terpejam. Ahh….. Sudahlah, lupakan mentoring sejenak. Kemungkinan teman-temanku yang lain pun telah bermuara di pulau yang sama, pulau kapuk nan nyaman yang mengundang mimpi untuk datang. Zzzz… Zzzz… Zzzz….

********

Empat pesan singkat masuk ke inbox telepon selular kesayanganku. HP sejak tadi di-silent, tidurku praktis bebas dari gangguan. Tapi entah, aku merasa ada getar gundah yang menggelitik. Karena seseorang di tempat lain, ternyata sedari tadi menunggu kedatanganku. Hingga mungkin tubuhnya jenuh menunggu disitu. Lelah bersama detik-detik yang menertawai kesendiriannya.

Aslm Wr Wb. Dek, kk udah nunggu nih. Adek datang mentoring kan?

(14.07, SMS pertama Kak Meli)

Hemm… kk masih nunggu loh. Kalau mau datang, silakan. Ok

(14.17, SMS kedua Kak Meli)

Dek, kalau masih ada kesempatan utk datang, boleh aja. Lebih baik terlambat drpd tdk sama sekali.

(14.45, SMS ketiga. Masih dari orang yang sama)

Woi… Dikau datang mentoring? Wah, aku ngga datang ni. Males uy. Tapi kasihan tu K’Meli. Kayanya dia nungguin  qta.

(15.05. Kali ini dari orang berbeda. Namanya Dewi, teman sekelompok mentoringku)

Hatiku berkompetisi. Aku merasa telah berbuat kecurangan, disisi lain aku pun mendapat dukungan. Kak Meli, pementorku, sudah bersusah menunggu meski faktanya para pendengarnya belum tergerak untuk ini. Kami mungkin menganggap bahwa mentoring tak berbeda dengan nongkrong. Sah saja bila tidak datang. Selimut hangat teramat menggoda. Sehingga kewajiban dari langit tertunda. Ya, aku berharap ini hanya tunda saja.

********

Hari yang cerah, bunga-bunga bermekaran indah. Tak boleh lagi ada alasan untuk tidak pergi. Ada rindu mendengar wejangan Kak Meli. Ada getir rasa bersalah selama dua minggu ini. Entah perasaan yang merabai, yang pasti aku ingin bertemu dengannya. Memelas maaf. Aku belum seperti Kak Meli yang tidak terhalang hujan untuk menyampaikan risalah. Aku bahkan belum bisa menyumbangkan waktuku sepenuhnya meski hanya untuk mendengar. Tapi kali ini aku janji, aku tak ingin menghitung detik lagi.

Tik… Tik… Tik…

Detik terus melaju. Namun belum ada seorang pun yang datang seperti biasa. Tidak Kak Meli, tidak yang lainnya. Beginikah rasa sesak menunggu sendirian? Hatiku tiba-tiba haru, membayangkan Kak Meli yang kemarin menunggu seorang diri di tengah deru hujan.

Ahh…. Dan kini aku baru sadar bahwa aku bukan hanya si pembosan, tp juga tidak sabaran. Aku mencari-cari di phonebook digit nomor seluler Kak Meli. Ya! Tuuttt… Tuuutt… Nomor sibuk. Nihil. Cepat jemariku memencet nomor lain, digit nomor Dewi rekan sekelompokku, terpampang di layar. Tak sabar, ingin mendengar sahutannya.

”Halo..” terdengar sahutan di seberang

”Halo.. Wi, Aku sendirian nih. Dikau dimana? Ngga mentoring? Jangan malas gitu dong” Kataku bertubi, menggurui.

”Mentoring? Resti.. Hemm… Belum dapat kabar ya?”

”Hemm.. Kabar apaan?”

Ada jeda. Nafas Dewi terdengar menghempas.

”Kak Meli sakit seminggu ini. Dia udah ngga di dunia ini lagi. Jenazahnya dikubur kemarin”

Seketika mulutku terkunci. Langit hidupku tenggelam ke inti bumi. Tak kuasa, air mata jatuh seketika.

”Res.. sorry banget, kemarin aku lupa kasi kabar. Maaf yak” Dewi masih bersuara. Sedangkan aku susah payah untuk membalas ucapannya.

”Tak apa” Aku berharap Dewi mendengar sengau suaraku yang keluar dengan penuh perjuangan. Telepon itu kusudahi. Dengan sekelumit kecamuk yang menggigiti hati ini.

********

Batu nisan itu tak dapat bercakap-cakap. Tanah masih basah dan harum kematian. Bunga tanjung belum mengering sempurna. Aku tidak memperdulikan titik-titik air dari langit yang mulai rintik. Rasa sesal seringkali tiada guna. ”Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”. Kata-kata itu masih melekat di ingatan. Ya, kata-kata itu terbukti nyata. Di luar dugaanku, tanpa pertanda sedikit pun Kak Meli pergi mendahului. Mungkin ketika ia meregang, aku masih sempat bermalas-malas seolah masih lama masa itu tiba.

”Kak Mel…. Aku tidak akan malas-malas lagi. Tidak peduli terik maupun hujan. Meskipun aku harus membosan dalam sembilan puluh menit bahkan sembilan puluh tahun sekalipun. Aku takkan lagi menyiakan kesempatan. Bukan demi siapa-siapa. Demi sisa hidup yang tak boleh sia-sia”

Hujan lebat membasahi. Airnya mengalir di pipi. Bercampur dengan air mataku sendiri

Oleh: AlgaBiru (Pengen jadi superman!)

-27 Desember 2009-

Pesan untuk d’Riser: Ayoooo…. Ngaji !!

Ngaji itu wajib loh. Jangan nyeseelll entar pas udah di liang kubur…J

Segelas kopi pukul lima

 


 

Si cangkir putih bundar, hitam kecoklatan, angin semilir dan pukul lima. Empat syarat lengkap sudah. Ritual ini pun akan segera menemui awal. Judul yang sama setiap sore yakni segelas kopi di pukul lima. Aku membaui aromanya seumpama aku merindukan anak semata wayang. Seruput dari cairan kafein ini memasuki tenggorokan, jangan sampai lupa untuk ditahan dulu sebelum ia hanya tinggal rasa pahit gurih di langit-langit. Bagiku, kopi di tangan pada pukul lima sore merupakan suguhan paling nikmat. Aku tidak peduli tempat, hanya interest dengan empat syarat di atas. Ritual yang sama, dengan menu pikiran yang macam-macam. Tak jarang aku langsung menemukan kisah jenaka selama ritual.

Pernah suatu hari aku memutuskan untuk melakukan ritual ini di taman olahraga. Tak disangka disana aku bertemu reporter acara kuis berhadiah. Kuis yang aku pikir sekedar cari sensasi sebagai bahan acara. Siapa Obama, sang reporter bertanya. Mati saja aku kalau sampai tak tau. Tuh, apa ku bilang. Sensasi yang membagi-bagi rizqi. Walaupun aku sempat heran, karena tak satupun dari pertanyaan sang reporter menyerempet soal olahraga. Barangkali dia memang tidak peduli meski ku sedang berada di taman firdaus sekalipun. Obama lebih penting daripada olahraga. Atau Olahraga kalah popular dengan Obama, sehingga khawatir aku jadi bikin malu saat diwawancara.

Dalam kisah lain yakni suatu sore pukul lima, yang aku lupa tepatnya tanggal berapa. Aku menyengajakan diri menyeruput minuman surgaku di kolam belakang milik almarhum nenek. Entah kenapa, ada yang memanggilku kesana. Pekat hijau kolam teratai yang sudah belasan tahun tak ku singgahi. Kodok bertotol muncul di semak, entah turunan yang keberapa dirinya. Capung dan kupu-kupu tampak berebutan nektar. Ya, Aku pun menyeruput menyerut kenangan yang masih belum pudar. Segalanya masih terasa sama.

Beruntungnya aku ada gundukan batu besar yang meminjamkan hitam pualamnya untuk ku duduki. Batu-batu serupa poligon tak beraturan, bertumpang tindih di sekeliling. Mereka menarik. Yang mengingatkanku pada gadis kecil berumur lima tahun yang hobi melempar batu kecil ke kolam. Gadis kecil berambut ekor kuda. Malas mandi dan sembrono sifatnya. Aku mengambil batu kecil itu satu. Plung! Segerombolan ikan dobi tampak merasa terganggu di air kolam. Tidak sia-sia aku kesini. Minimal menjadi buronan bagi para dobi yang anti dengan kesepian. Aku masih bergerilya pada mereka lalu mengambil sebuah batu kecil, lagi. Lantas tiba-tiba urung. Taukah kau kawan apa yang ku lihat disana. Yakni bulatan kecil yang berkilauan. Kelabat berlarian di pikiranku tentang gadis kecil berumur lima tahun yang sembrono. Benda kecil berkilau itu kini dalam genggamanaku. Cincin putih seukuran ujung jentikku. Seukuran dengan jari manis anak berumur lima tahun yang ada di ingatan. Kelabat itu makin jelas. Ya, gadis kecil itu aku dan kini aku ingat bahwa aku pernah kehilangan cincin ini di tempat yang entah dimana. Gagap gempita, kini aku menemukannya kembali. Disini. Di tempat dimana ia sendiri yang mengundangku. Di cincin itu jelas tertulis namaku : ”Diana”. Seruput kopi pahit menemaniku. Slurrrp!

Dan kali ini, disinilah aku. Dalam interval pukul lima sampai pukul lima lebih. Di sebuah beranda rumah kontrakan, yang ku huni gratis pemberian bos. Rumah hunian yang dihinggapi oleh dua anak yatim piatu, aku dan adik laki-laki yang berumur lima belas tahun. Ya, kontrakan gratis dimana aku merasa berhutang budi sejujurnya. Bos ku seorang janda yang sangat rupawan. Perempuan yang setia dalam kesendirian dan penuh dedikasi. Aku beruntung sebab ia tlah memungutku menjadi karyawan yang sangat ia sayangi. Anak si Bos, Fahmi namanya, mewarisi kemolekan ibunya. Fahmi pria putih bersih berkepala oval yang mengingatkanku pada Choki Sitohang. Satu-satunya lelaki di kantor yang sepertinya tidak pernah lupa mengancing lengan baju. Satu-satunya lelaki bahkan spesies manusia yang ku kenal, yang memiliki tanaman kaktus di jendela ruangan. Kata Si Bos, Fahmi lelaki yang taat beribadah dan gemar bersedekah. Si Bos selalu membangga-banggakan Fahmi di depanku macam lipstik yang dijajakan para <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>sales. Bisik-bisik rekan sekantorku, konon katanya Si Bos ada mau padaku. Si Bos ingin segera menimang cucu, berharap cucunya dieram di rahimku, membentuk apa yang disebut sebagai kehidupan awal. Ku tanya pada mereka yang berbisik-bisik, kenapa harus aku. Sempurna, mereka berkata. Alasan bahwa aku nona sempurna, mereka anggap sebagai modus yang paling masuk akal kenapa Choki ’Fahmi’ Sitohang itu cocok bersanding denganku. Entahlah, aku berharap kesempurnaan berhasil ku capai meskipun status itu terdengar riskan. Kalau pun ada sesuatu yang sempurna dengan lelucon sederhana, maka hal itu adalah ritual secangkir kopi pukul lima sore. Slurrp!

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.