Category: Pesan Agung


Episode 1 “Perang Sabil”

Pernah terjadi suatu masa di bumi ini, di mana semangat kokoh membaja, pengorbanan sampai kepada puncaknya, kemuliaan membalut tubuh manusia, dan sorga membentang di muka dunia. Di sana, di Aceh, pada abad ke-19. Ketika itu Aceh bukan cuma menjadi Serambi Makkah, tapi juga Serambi Sorga. Seluruh rakyatnya berlomba-lomba meraih cinta Ainon Mardliah, dan membeli rumah megah di padang rumput halus sorga dengan nyawa dan darah. Saat itu kaphe (kafir) Belanda menyerbu Aceh demi menuntaskan nafsu penjajahannya, dan rakyat Aceh maju melawan dalam Perang Sabil yang agung. Dan inilah dia, sebuah kisah tentang seorang perempuan mulia yang tegak membela agama dan negerinya. Dia serupa kuntum mawar yang mekar dalam kecamuk medan perang. Yang walaupun kecamuknya membakar retih jiwa manusia, tapi harumnya semerbak di dunia dan akhirat. Nama perempuan itu: Meutia.

1874

Pantai Peureulak mendesir desah. Seakan-akan meracau karena manusia demikian kacau. Penjajah hendak menerkam tanah Aceh di mulut pantainya, dan semua orang harus maju membelanya. Bulan suci kian menjelang dan bayang-bayang perang kian mencekam. Pantai telah ramai dengan pasukan perang yang telah siap dengan senjata, kuda, dan perbekalan, hendak bergerak menuju Banda Aceh, sebab penjajah akan memulai penyerbuannya dari sana.

Tak jauh dari pantai berdirilah sebuah rumah megah. Tiang-tiangnya kokoh dan dindingnya tebal. Rumah itu adalah rumah Teuku Ben Daud, Uleebalang Peureulak.

Ada prahara besar di dada Teuku Daud. Ia berdiri di kamarnya. Menatap istrinya yang duduk bersimpuh di atas ranjang, ditentang seorang anak kecil yang sedang lelap tertidur. Cut Jah, nama istri teuku Daud itu, dan ketika itu matanya basah, jantungnya bergelora. Teuku Daud berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Pelan tangannya terangkat, dan jemarinya mengusir air mata lara di pipi istrinya. Lalu senyum teragung ia persembahkan kepada perempuan yang dicintainya itu.

“Jangan antar kepergian orang yang hendak pergi melawan kezaliman dengan air mata,” bujuk Teuku Daud.

“Bagaimanalah mungkin air mataku tak tumpah,” isak Cut Jah. “Kau belum tentu akan kembali padaku, Cutbang (panggilan utk laki-laki yang lebih tua, abang).”

“Beginilah hidup sudah diciptakan Allah. Boleh jadi aku yang berangkat lebih dahulu, atau boleh jadi pula dirimu. Kita tak bisa melawan semuanya itu. Tapi apapun yang terjadi, berjuang adalah kewajiban, dan kita mesti ikhlas menetapinya. Yang meninggalkan, ikhlas. Yang ditinggalkan pun harus ikhlas. Ikhlaslah, sayang!”

Tangis Cut Jah meledak lagi, ia menghambur ke pelukan hangat suaminya, berusaha menguatkan hatinya saat harus menatap takdir yang membentang di muka. Mereka berpelukan erat, seolah tak ingin melepaskannya selama-lamanya. Hanya ada cinta di sana.

“Sabarlah, sabar,” bisik Teuku Daud. “Ini semua adalah ujian untuk mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan sampaikanlah kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.”

Cut Jah melepaskan pelukannya, ia sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Jemari Teuku Daud menghapuskan lagi air mata istrinya.

“Semua orang pasti mati,” ia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita menjalani hidup kita, dan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang menjemput. Bersabarlah.”

Tiba-tiba terbit senyum di wajah Cut Jah. “Aku mencintaimu, Cutbang! Sungguh-sungguh mencintaimu. Karena itu pergilah kau berperang! Jangan menoleh lagi ke belakang. Belalah negeri kita seteguh-teguhnya. Aku ikhlas. Aku bangga menjadi istri seorang pejuang.”

“Terima kasih, sayang! Istri salihah adalah penghulu bidadari di padang sorga. Dan aku bahagia sebab telah dianugerahi Allah salah satu diantaranya.” Teuku Daud menoleh kepada puterinya yang sedang lelap tertidur. Ia mengecup kening anak itu dan tersenyum. “Jagalah dirimu baik-baik, jaga pula Meutia. Ajari dia Islam, agar dia menjadi perempuan tangguh seperti dirimu.”

“Insya Allah,” sahut Cut Jah.

“Kalau ada umur aku pasti kembali. Tapi bila aku tak kembali, sampaikan kepada Meutia, bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang telah syahid membela agama dan negerinya. Aku ingin dia bangga demi mengetahuinya.”

“Janganlah risau tentang itu, Cutbang! Aku pasti mengatakannya. Akan aku ajari dia kebencian kepada penjajah, dan akan aku jadikan dia perempuan yang mulia.”

“Terima kasih,” Teuku Daud menangkup halus kedua pipi istrinya dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mengecup kening istrinya. Cut Jah mencium tangan Teuku Daud dengan khidmat.

“Jangan pernah mundur, Teuku,” Cut Jah tersenyum.

Teuku Daud mengangguk, “Aku mencintaimu, kita tak akan pernah berpisah. Para pencinta boleh mati, tapi cinta mereka tak akan pernah hilang dari muka bumi. Mereka yang pergi tak benar-benar pergi. Yang mati, tidaklah mati.”

Mereka turun dari ranjang, tegak berhadap-hadapan di tengah-tengah kamar. Teuku Daud membetulkan letak kerudung istrinya. Cut Jah menguatkan ikatan pedang di pinggang suaminya. Pandangan mereka jatuh kepada puteri mereka yang sedang terlelap di ranjang, membalurinya dengan kasih sayang. Mungkin untuk yang terakhir kali.

“Marilah,” ajak Teuku Daud.

Mereka berdua melangkah keluar kamar itu, bergandengan tangan. Melapisi hati dengan kesabaran dan keikhlasan abadi. Itulah senjata terampuh menghadapi segala kenyataan. Di beranda rumah mereka berhenti.

Teuku Daud menatap dalam-dalam bola mata cokelat bening istrinya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” sahut Cut Jah.

Teuku Daud menuruni undakan depan rumah itu, melangkah dengan teguh. Tak pernah menoleh lagi ke belakang. Cut Jah menatap punggung kokoh suaminya yang terus menjauh, ia tersenyum, tak ada lagi air mata. Kokohnya gunung Seulawah tak sanggup menandingi kokohnya hati para pejuang. Ikhlasnya bidadari tak akan kuasa melawan keikhlasan hati istri-istri pejuang.

Cut Jah berjalan kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, ia melihat puterinya telah bangun dan duduk sendirian sambil mempermainkan kain selimutnya. Cut Jah tersenyum dan menghampiri ranjang, ia peluk puterinya itu dan digendongnya. Ia buaikan rindu puterinya dengan mendendangkan syair yang menggetarkan kaum penjajah. “Kau tahu, sayang, ayahmu adalah seorang pejuang!”

“Allah hai dododaidi

Boh gadung bi boh kayee uteun

Rayeuk sinyak hana peu mak bri

Aeb ngeun keuji ureung donyakeun

Allah hai dododaidang

Seulayang blang ka putoh talo

Beurijang rayeuk muda seudang

Tajak bantu prang tabela nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le

Beudoh sare tabela bangsa

Bek tatakot keu darah ile

Adak pih mate po mak ka rela.”

Allah hai dododaidi (semacam ninabobo dalam bahasa Aceh)

Buah gadung buah-buahan dari hutan

Kalau anakku besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

Aib dan keji dikatakan orang-orang.

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

Cepatlah besar Anakku sayang & jadi seorang pemuda

Supaya bisa berperang membela negeri.

Wahai anakku, janganlah duduk & berdiam diri saja

Mari bangkit bersama membela bangsa

Janganlah takut jika darah mengalir

Walaupun engkau mati, Nak, Ibu sudah relakan.

[Sayf Muhammad Isa]

Sudah tua umur ini. Makin bertambah-tambah saja dosa dan banyak hisab selama di dunia. Amat besar pinta harap, upaya yang dikerahkan tak kalah pula kerasnya. Allah ta’ala, tuhan sejagat raya menentukan nasib kita, mempertemukan kita, dan membuat kita merasakan semua.

Pertengahan sya’ban ini, dimana beberapa hari lagi genaplah usia saya yang ke-23 tahun, hisab tak terperi itu membawa kisah tersendiri. Kejadian demi kejadian sudah diikhwalkan ibarat hikayat seorang saya. Tahun ini, di tahun 2010 yang dirahmati Allah, masih banyak daftar hajat yang belum juga kesampaian. Saya punya keinginan untuk wisuda 31 juli, menikah 31 juli, hamil muda di tahun 2010, berdakwah lebih gress lagi, bekerja lebih keras di tahun ini pula. Namun saudara-saudara, sepertinya banyak yang belum terlaksana ya…. Hehe. Begitulah lemahnya kita manusia. Tak kuasa, memang kita hanya bisa berencana dan berusaha. Apapun adanya itu, nikmat senantiasa saya kecap, syukur menyusuri bertubi tubi, subhanallah. Demikianlah Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk diri ini. Telah saya cerap semua ini, sungguh Allah amatlah bijaksana. DIA angkat saya dari lembah kemaksiatan, DIA giring saya pada jalan yang lurus (bukankah itulah doa-doa bahwa kita hendak ditunjukkan pada shirotol mustaqim?!). DIA amat sayang pada saya, maka DIA buat saya ‘kualat’ kalau-kalau saya nyata berbuat dosa, nyatalah insyaf diri ini. Taklah pantas seorang hamba merasa suci, sementara dirinya tak bebas dari dosa.  Terima kasih duhai RABB, KAU hendak menolong dan mengajak saya kembali. KAU buat skenario yang lebih baik lagi, dari skenario yang coba hamba rancang untuk sesuatu yang hamba pikir demi kebaikan. Sesungguhnya KAU yang lebih tahu apa-apa kebaikan itu. Melampaui nalar-nalar manusia yang kerap kali disusupi hawa nafsu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)

Tak boleh tidak, hamba yang baik adalah hamba yang tahu terima kasih kepada sesama. Maka di bulan yang syahdu ini, saya ingin memberi ucapan terima kasih yang terdalam, luar biasa rasaaaa ini. Luar biasa sebab ada orang-orang baik hati yang mencintai dalam kebaikan, mau diajak kepada kebaikan, dan tidak khianat

Terima kasih untuk mamak dan ayah, orang tua yang mengajarkan sholat dan kalimat syahadat dengan segenap kemampuan. Sebenarnya, itulah warisan sebaik-baik warisan. Jika harta yang diwariskan, bisa saja suatu hari adanya ia menjadi fitnah satu sama lain. Semoga mamak dan ayah diberi kemudahan dan berkah di usia tua, selamat dunia dan akhirat. Juga abang-abang keturunan mamak dan ayah (yaiyalah… masa keturunan tetangga, hehe) yaitu Bang Udi, Bang Ade, Bang Ican. Semuanya sudah mencar-mencar, semoga sukses selalu. Beranak pinak dengan banyak, janganlah takut miskin sebab rizqi berasal dari Allah.

Yang pertama, teristimewa untuk kawan yang telah teruji kesetiaannya selama 11 tahun pertemanan: Trissep ‘encep’ fatma alias Mimi Stroberry. Manusia yang makin hari makin GJ, telat puber namun sangat berdedikasi pada nasihat dan nasib baik (haha.. amat baik rupa wahai nasibmu, kawan!)

Terima kasih untuk saudari2ku seperjuangan di kotaku: Rekan-rekan dakwah di Chapter USU beserta almameter FKG USU ( Kak Alfi, Kak Dewi, Chintia, Ayu, Kak Husna, Shinta, Kak Leni ’04, Anggun ‘05, Okta ‘06, Defi ‘07 dan lainnya). Teman yang juga berjuang di kota yang sama: Rindy, Kak Reni, Bang Nain, Hadid ‘Kajo’ yang tlah insyaf (hehe), dan saudara sekalian yang tak dapat disebutkan satu persatu. Semoga istiqomah, duhai saudara!

Barisan akhwat di dunia maya, yang meskipun ‘maya’ serta belum bertemu muka, kehadiran kalian tidaklah semu (maya) bagi saya. Hidup saya takkan lengkap tanpa kalian, begitulah skenario tuhan mempertalikan hikmah bagi kita, subhanallah. Teruntuk; Mia Kurniaty (terima kasih untuk nasihat seputar pernikahan, kisah-kisah luar biasa yang takkan pernah saya lupakan seumur hidup. SMS kamu masih awet di inbox saya, selalu saya menangis jika membacanya. Dunia memang kejam, tapi kita tercipta tuk bisa!). Untuk Mba Farida di Surabaya (kapan yo tele-conference lagi? Hehe. Moga sukses wisudanya tahun ini. Aamiin). Jugar rentetan kawan-kawan yang memiliki memoar tersendiri antara kita: Ann Fauziana, Teh Melissa, Hazna ‘Anggi’Alifah, Mba Cebiana, Mba Fi, Lia ‘Rayap’, Faras, Mba Wiwin SBY, Kanti Rahmilah (sudah lama tak bersua, teh!), Teh Erna Jatinangor-Bogor, Wulan ‘centil’ cakep dot com dan lainnya. Saya paling payah disuruh mengingat, duhhhh! ^_^

Selanjutnya…. Tak boleh jua saya mungkir, secuplik budi baik dari teman-teman ikhwan yang selewat, saya kenal di dunia maya pula. (Hutang emas boleh dibayar, Bang. Hutang budi dibawa mati). Meski selewat, tak boleh ia dipungkiri dengan cara yang keji. Maka dengan itu, dengan segala kerendahan hati saya ingin ucapkan terima kasih teruntuk: Abay abu hamzah (terima kasih untuk posisi the proof reading, jiahh…. Atas karya-karya Abay yang lebih dulu saya baca, lalu seenak udel saya ‘caci maki’. Haha), Luky Rouf (maaf… maaf… dan maaf. Naskahnya masih saya endap. Hehe. Biarlah ia cemburu pada naskah-naskah yang lain ^_^), Riki Yuliana (hatur nuhun, untuk support yang sulit saya balas di masa-masa sulit dan terjal. Thanks juga untuk Indigo, biar sampai kiamat ia tak bertelur namun di mata Allah tetap ia berbuah amal. Aamiin), Asep Firman (terima kasih atas doanya, kang. Doa ustad-ustad handal kan biasanya manjur. Apalagi akang berdoa meski saya tak minta, itu luar biasa). Juga untuk Mas Adi (Kusnady Arrazi), atas masukan mantap untuk karya-karya Alga. Semoga kebaikan Mas dibayar dengan berlipat ganda. Jika ada yang tak tersebutkan namanya, mohonlah saya dimaafkan. Walau pepatah ada berkata:’forgive but not forget it’, cukuplah ia di hati yang terlanjur dan dalam catatan aib-aib. Janganlah ungkit keburukan, sebab mengingat kebaikan adalah lebih utama. Untuk diri sendiri dan kita semua.

Untuk kawan-kawan lama yang sekian waktu tak bersua: Personil ATN R.I.P., adik-adik Laskar Kepompong, Guru spiritualku yang tetap somsek sampai detik ini yakni Bu Reni di kost-kostan Jatinangor (sedang apa engkau, Suhu?). Teruntuk teman lama, yang tetap gresss, Ipank Ureshii:’Cepatlah pulang, Pantai Losari katanya indah. Di peluk ibu siapalah tahan untuk tidak menangis. Semoga dimudahkan segala urusanmu’. Hemm…Untuk akhwat baik rupa, berhati halus, Almarhumah Mazaya, semoga Allah memberimu tempat terbaik di alam baqa. Duhai sahabat, masih terkenang wajah dan lisanmu!

Untuk perusahan kecil yang akan besar, penggapai mimpi yang tinggi, penggenggam teguh ambisi yang suci: rekan-rekan DRISE Company. Terima kasih untuk Pak Adhi, pemimpin yang bijaksana dan (tak segan-segan) memberi potongan harga dan tenggang hutang-piutang. Hehe. Semoga bapak diberi kemudahan rizqi,aamiin. Pimred, Kang Hafidz341, heummm…. Semoga akang bangga memiliki karyawan seperti saya. hehe. Untuk kru lainnya yang saya tak tau, tak kenal dan tak sanggup menyebutkannya satu persatu, syukron sangat atas kerja samanya. Untuk my partner di rubrik Girly, Hikari Inqilabi: manusia unik seperti kamu harus terus eksis di muka bumi. Ayooo….. berkah dalam maisyah, gapai jepang, dan sukseslah pernikahanmu kelak. (lagi-lagi upaya provokasi, haha).

Terakhir…. Teman dengan segala definisi, posisi dengan segala macam kebiasaan untuk berterima kasih, dan sosok yang merangkum hikmah kesengsaraan: Sayf Muhammad Isa. Semoga tuan diberkahi Allah ta’ala. Semoga perusahaan tuan, DRISE yang sama-sama kita banggakan ini diberi kekuatan berjalan, seumpama jalannya para mujahid masuk sorga. Tuan, taukah tuan apakah bahagia itu? Yakni tatkala sabar dan syukur itu sudah bertemu dalam tiap kejadian. (ahh,, mengapalah pula saya ocehkan itu, padahal tuanlah pengukir keduanya). Ingatlah pertemuan ombak dan awan di cakrawala, aamiin.

Sahabatku sekalian….

Kalian juara di hati saya. Ya, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

-syukron –

Medan, 27 Juli 2010

-Alga Biru-

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Sumber : http://ivandrio.wordpress.com/2010/03/07/subhanallah-ada-sungai-dalam-laut/#more-865

… k r i t i k ^_^


”Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761]

Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah, yang orangtuanya dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada usia ini, Bar `ah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan
gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.

Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya … . hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.

Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan
tidak menemukan ibunya di sampingnya … dan inilah ucapan ibu bara’ah kepadanya “Bar`ah aku akan pergi ke surga di depan Anda, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak… “

Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan ,
Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.

Suatu hari fihak rumah sakit memberitahu ayah bar’ah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telfon, sehingga ayah bar’ah menjemput Bar `ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil … sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.

Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu…tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu…!

Tragedi Bar `ah belum selesai sampai di sini… berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya , dan oleh orangtua teman-teman sekolah bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.

Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar `ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan , dan setelah beberapa kali tes di dapati bar’ah juga mengidap kanker … tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker….inilah perkataan bar’ah kala itu: “Alhamdu lillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua saya.”

Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!…..Subhanallah

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurus nya … ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.

Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz – The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran … dan ini adalah suara yang indah yang di lantunkan oleh bar’ah …

Mereka menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia pergi ke Coma(nama kota) dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed …

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya … tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak … dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan

Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.

Renungi sejenak

Maka tidakkah ia merasa malu terhadap Allah Yang Maha Tahu ? Maka suka-kah manusia ditampakkan kesalahannya yang lebih besar dari gunung uhud ?? Naudzubillah….. semoga kita tergolong orang-orang yang malu kepada Allah, dan tidak gemar mencibir orang lain dengan segala bentuknya.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan-ku, tiada sesembahan yang hak kecuali Engkau, Yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ikatan dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan buruk yang kuperbuat. Aku mengakui akan nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui (banyaknya) dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Al-Bukhari no. 6306)

Footnote:
Keangkuhan itu terlarang, merasa benar (dengan tak sadar kesalahannya) itu dilarang. Ketahuilah, selendang Allah adalah kesombongan. Maka jangan berani-berani menyandangnya !!!

…. Pelumas*

.......

Gejolak, bara, beling, fitnah.. saat kebenaran menjauhi logika, semoga kita tetap memandangnya sebagai ujian dan merasakan manisnya iman. Taubat dan Bekerja tuk lebih baik, semacam koin sepasang yang berjalan beriringan. *senyum*

Dakwah adalah suatu kewajiban yang telah Allah pesankan pada seluruh manusia. Tidak terbagi apakah dia laki-laki ataupun perempuan. Dakwah juga tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Dakwah juga tidak dibatasi oleh wasilah yang digunakan untuk menyampaikan seruan Allah. Dakwah adalah kewajiban mulia yang dijalankan oleh para Nabi dan Rasul, lalu dilanjutkan oleh para pewarisnya dari kalangan para ulama dan kaum muslim semuanya.

Dakwah pasti melibatkan wasilah (cara). Fakta masa sekarang menunjukkan, dakwah tidak hanya terjadi lewat wasilahkonvensional dan tradisional saja, melainkan sudah ramai terjadi dalam wasilah yang lebih kontemporer dan modern seperti lewat audio-video dan yang paling ramai adalah internet dan turunannya seperti forum mailing list, forum diskusi, forum jejaring sosial, messenger, chatting, blog dan website dan cara-cara yang lainnya.

Sayangnya, banyak diantara wasilah-wasilah dakwah dan niat-niat dakwah yang baik ini akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mudharat dan tidak bermanfaat. Saya sendiri secara pribadi merasa sedih dan kecewa ketika menyaksikan sebagian ummat muslim yang seharusnya lebih faham daripada sebagian yang lainnya akhirnya terjebak (mungkin tanpa sadar) aktivitas keharaman dalam wasilah modern internet ini. Oleh karena itu saya mencoba untuk menulis sebuah penjelasan tentang panduan-pamduan dakwah khususnya lewat media internet ini agar seorang muslim dapat lebih bijaksana dan syar’i dalam memanfaatkannya.

Berdakwah di dunia maya tidaklah sama dibandingkan dengan dakwah di dunia nyata. Di dunia nyata kita mengetahui siapa objek dakwah kita secara langsung dan melihatnya secara fisik, terjadi kontak mata dan komunikasi dapat berlangsung secara hampir sempurna. Berbeda dengan dunia maya, yang kita tidak mengetahui objek dakwah kita dan kontak yang terjadi biasanya hanya lewat tulisan dan gambar. Karena itu bisa dikatakan dakwah di dunia nyata memiliki keterbatasan dibandingkan dunia nyata.

A. Debat di dunia maya
Dalam dunia maya, acapkali kita melihat diskusi atau debat yang terjadi dalam membahas suatu masalah. Memang betul, debat (jidal) adalah suatu cara untuk berdakwah dan itu diperbolehkan Allah swt, sebagaimana yang disampaikan-Nya dalam al-Qur’an

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS an-Nahl [16]: 125)

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Mujaadilah [58]: 1)

Selain memperbolehkan wasilah debat atau diskusi ini, Allah dan rasul-Nya pun telah menentukan aturan-aturan dalam melakukan debat ini. Secara garis besar anjuran debat dalam Islam ini adalah:

1. Debat dilakukan dalam tataran ide yang sedang diperdebatkan
Debat dilakukan dengan menyerang dan menjatuhkan argumentasi-argumentasi yang batil, lalu memberikan argumentasi-argumentasi yang jitu dan benar, berdasarkan kajian hingga sampai pada suatu kebenaran. Karena itu, seperti telah disebut, debat mengandung dua sifat, yaitu merobohkan dan membangun; menjatuhkan dan menegakkan argumentasi-argumentasi. Di antara teladan cara debat yang diajarkan al-Quran adalah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu;
(QS al-Baqarah [2]: 258)

2. Debat dilakukan dengan cara yang baik (ahsan) sebagaimana yang diperintahkan Allah
Maksudnya dilakukan dengan menggunakan patokan yang sama, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Bukan berpatokan pada “pokok”nya, atau “kata”nya, ataupun dengan akal pikiran. Kalaupun menggunakan akal, maka haruslah dengan menggunakan pemikiran yang rasional, bukan persangkaan ataupun filsafat.

مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلاَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam (HR. Bukhari Muslim)

أما بعد فإن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم
Amma ba’du: sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an (QS az-Zumar [39]: 23)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
Diriwayatkan daripada ‘Ali bin Abi Talib katanya: “Jika agama itu dibangun dengan akal pikiran tentu saja bagian bawah khuf lebih patut disapu daripada bahagian atas. Sesungguhnya saya melihat Rasulullah s.a.w. menyapu di bahagain atas khufnya. (HR. Abu Dawud)

3. Menghindari berkata yang buruk, keji, mencaci atau memaki individu
Ketika berdebat, kita benar-benar harus mengingat bahwa yang kita debat adalah ide yang disampaikan, bukan individu yang menyampaikan, sehingga kita tidak boleh menyerang secara individual dan menggunakan kata-kata yang tidak mencerminkan keimanan kepada Allah.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلاَ اللَّعَّانِ، وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ
Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji (HR. Tirmidzi)

4. Tidak mencari-cari perdebatan atau senang dengan perdebatan
Al-Qur’an telah menjadikan debat sebagai salah satu cara dalam menyampaikan kebenaran Islam, tapi bukan berarti al-Qur’an memerintahkan kita untuk senang dalam berdebat atau mencari-cari perdebatan. Seorang mukmin seharusnya memahami bahwa perdebatan adalah salah satu bagian dari dakwah dan jalan terakhir dalam dakwah, bukan malah mengawali dakwah dengan perdebatan.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS al-Anfaal [8]: 46)

5. Perhatikan siapa yang menjadi partner debat/diskusi
Pertama-tama kali yang harus diperhatikan adalah siapa partner debat atau diskusi kita, karena partner debat/diskusi seharusnya seseorang yang memang menginginkan dan mencari kebenaran, bukan hanya menyenangi debat atau menjadikan debat untuk memperolok-olok agama Islam.

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [QS Az-Zukhruf [43]: 58]” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, tidak semua manusia yang diseru dengan ayat-ayat al-Qur’an akan bertambah keimanannya, Allah memperingatkan bahwa ada juga yang justru bertambah kekafirannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Maka ayat Allah tidak layak dibacakan untuk orang setipe ini.

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (QS at-Taubah [9]: 125)

Dan bila sudah kita pastikan bahwa partner diskusi kita adalah termasuk orang munafik ataupun kafir yang memang bukan mencari kebenaran dalam debat dan diskusi, maka segeralah meninggalkan orang yang semacam ini lalu beristighfar pada Allah karena kita telah melakukan hal yang tidak bermanfaat.

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (QS al-An’am [6]: 68)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا
Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam
(TQS an-Nisaa [4]: 140)

Maksud “duduk bersama/beserta” adalah berada dalam suatu forum, sehingga seolah-olah dengan adanya kita disitu menjadi legitimasi dalam proses memperolok ayat-ayat Allah.

Imam asy-Syafi’i sendiri berkata perihal berdebat dengan orang semacam ini:

مَا نَاظَرْتُ أَهْلَ الْكَلَام إلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu”.

Sedangkan Imam Malik berkata:

“Termasuk merendahkan dan meremehkan ilmu jika seseorang membicarakan ilmu di hadapan orang yang tidak mentaati ilmu itu”.

Dan al-Auza’i juga menyampaikan:

إذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْمٍ شَرًّا فَتَحَ عَلَيْهِمْ الْجِدَالَ، وَمَنَعَهُمْ الْعَمَلَ
“Jika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.”

Daripada melayani orang semacam ini lebih baik kita beramal shalih. Ingat, meghabiskan waktu 30 menit untuk mendebat orang semacam ini berarti kita membuang kesempatan untuk berdakwah selama 30 menit kepada orang yang mau mendengarkan. Lebih baik beramal daripada mendebat orang yang tidak ingin mencari kebenaran.

6. Perhatikan apa yang akan diperdebatkan/didiskusikan
Seorang mukmin tidak akan menceburkan dirinya dalam perkara-perkara yang seharusnya tidak didiskusikan, dalam perkara yang tidak bermanfaat, dan juga dalam perkara-perkara yang tidak akan meningkatkan keimanan ketika mendebat/mendiskusikannya.

Dalam berdiskusi, kita hanya boleh membahas hal-hal yang telah Allah perbolehkan untuk mendiskusikannya, dan menjauhi perkara yang telah dilarang atau dimakruhkan untuk mendiskusikannya. Termasuk perkara ini adalah mendebat Allah dan ayat-ayat-Nya.

وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.(QS ar-Ra’du [13]: 13)

جِدَالٌ فِي اْلقُرْآنِ كُفْرٌ
Berdebat tentang al-Qur’an adalah kufur (HR. Ahmad Syakir)

Selain itu, kita juga diperintahkan untuk jangan terlalu dalam dalam memperdebatkan sesuatu yang ghaib semacam takdir, eksistensi Allah dan yang semacamnya

Diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika diperbincangkan tentang sahabatku maka hentikanlah, jika diperbincangkan tentang ilmu nujum maka hentikanlah, dan jika diperbincangkan tentang takdir, maka hentikanlah,” (Hasan, lihat kitab ash-Shahihah [34]).

7. Tinggalkan perdebatan di forum-forum umum yang tidak terbatas
Seperti yang telah disampaikan di atas, tujuan perdebatan adalah menegakkan yang benar dan menjatuhkan yang salah, atau sederhananya merubah dari yang buruk menjadi yang baik. Apabila perdebatan ini dilakukan di forum-forum umum ataupun wasilah umum yang dapat terlihat oleh publik, maka sesungguhnhya perdebatan semacam ini akan lebih banyak mudharatnya bagi yang lain, dan pasti akan menjadi perdebatan yang tidak berujung.

Saat ini banyak kita liat, di forum-forum diskusi, wall facebook, milis ataupun yang lain, perdebatan yang tidak bermanfaat muncul. Dan dalam forum semacam ini tidak ada moderator yang memoderasi pendapat-pendapat yang muncul disitu. Sehingga semua jenis pendapat mulai dari yang benar dan salah bisa bercampur disitu dan tidak jarang terdapat makian, hasutan, penghinaan, provokasi dan lainnya yang jelas tidak akan membawa kebaikan dan manfaat bagi keimanan. Disitu pula terkadang emosi yang banyak bermain, dan ini dilihat oleh banyak orang dan menimbulkan suatu preseden buruk. Dan jelas hal-hal seperti ini menimbulkan mudharat dan haram hukumnya. Sedangkan kaidah fiqh menyatakan: “wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan ke keharaman maka wasilah itu haram”. Maka berdebat di internet dalam forum-forum umum dan bisa diakses semua orang tanpa moderasi adalah haram.

Jika kita benar-benar ingin menasehati dan berdebat dengan ahsan, undanglah partner debat/diskusi kita untuk off air, kopi darat, lalu diskusikan dan debatlah dengan empat mata atau lebih, ini lebih baik daripada kita berdebat dan berdiskusi di forum umum maya.

Walhasil, saya hanya ingin menyampaikan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk mendebat orang-orang yang memang tidak ingin mencari kebenaran. Dan bila kita menemui komentar-komentar yang menyerang Islam di internet, janganlah terburu-buru untuk mendebatnya, karena itulah yang mereka inginkan. Bila kita menemui komentar apapun di internet, maka ada dua pilihan: 1) bila kita suka kita baca dan amalkan, 2) bila kita tidak suka tutup saja.

Bersambung ke bagian B. Etika Posting dan Bersikap

Akhukum Fillah,
Felix Siauw

…. In My Mind

Mungkin ini seperti retorika. Tapi jika diresapi, ini akan jadi sesuatu yang berharga.

“Walau susah, pasti ada jalan”

“Walau payah, pasti ada muara”

“Walau Lelah, jangan pernah menyerah”

Dedikasi saya untuk sahabat-sahabat: Silvi, Kak Eq, Kak Ute, Mba Dida, Mufrida, Mia, Nidia, dan lainnya, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu baik nama maupun jasanya.

dan untuk…. saya.

atau siapa pun yang kadang mengalami titik jenuh. Jangan menyerah, jangan putus asa. Bersama Allah, bisa….*

**Nasib**

Begitu banyak cerita dan kisah dalam hidup ini. Tebing curam sudah kita lewati, padang yang landai sudah kita jalani. Tak satu pun kejadian yang ada di langit maupun di bumi terjadi tanpa hikmah. Tawa, ceria, tangis, haru, bingung, gelisah, marah dan kesuksesan datang silih berganti bagai siang dengan malam. Senantiasa ada yang menemani, meski kita merasa sendiri. Pikiran kita seolah terkunci oleh realita dimana banyak teman disaat tawa, sedikit dikala lara. Lebih banyak pengunjung pesta dibanding pelayat ke rumah duka. Kita melihat nuansa sedih dan ketercekaman sebagai aib dan pembalasan sikap. Kerap kali, kita mendefinisikan bahagia dengan mendekatkannya pada orang yang tertawa-tawa. Bukankah tidak sedikit orang yang tertawa namun hatinya menangis. Orang yang bergelimang harta padahal harta itu merupakan aib dan fitnah baginya. Berhentilah melihat kebahagiaan dari warna lipstik. Lebih baik hidup sederhana tapi dengan banyak cinta. Ahhhh…. tidak pahamkah kita bahwa nasib adalah ujian ?

Nasib. Ya, nasib. Setiap insan memiliki garis nasib di tapak tangannya, yakni nasib bermuatan ujian. Ujian kehidupan tidak akan dibebankan bagi orang yang tak sanggup menanggung beban. Beban diperuntukkan bagi yang sanggup, bagi yang kuat. Karena jika ujian diberikan pada yang tak sanggup menanggung beban, niscaya ia gugur sejak awalnya. Seperti bayi yang tak dilahirkan, bahkan telur yang tak pernah dierami.

Katakanlah, kelapangan merupakan ujian.
Dan katakanlah pula, kesempitan pun menjadi ujian.
Katakanlah, sehat adalah ujian.
Dan katakanlah, penyakit ini pun ujian

Anda sangat senang ketika bayi pertama lahir ke dunia.
Itu dari Allah.
Anda pun bersedih, ketika orang yang dicintai kini tlah tiada
Maka, itu pun datangnya dari Allah.
Dialah sumber segala-galanya.

”Maka apabila ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam kebajikan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, maka berbaliklah ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat” (TQS al-Hajj: 11)

Maka janganlah kita menjadi orang yang ridho pada ALLAH hanya disaat senang, sedang dikala sedih kita berpaling. Allah mengetahui, sedangkan kita tidak. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, belum tentu buruk. Dan apa yang kita pikir buruk, ternyata hal itu merupakan kebaikan. Kita terlanjur jatuh pada hal-hal yang kasat, enggan untuk memaknai yang tersembunyi.

Renungan:
Sungguh kita telah berbuat kecurangan. Mendekat pada-Nya dimusim durja, lalai dan lupa ketika muram itu sirna. Beratus hasta kita mendekat meminta pertolongan, tapi jengkal demi jengkal kita pongah seolah kita tak pernah memelas di siang dan malam. Mungkin kita lupa ALLAH Maha Melihat, sehingga kita merasa bisa mencuri-curi melakukan hal yang Dia benci.

Oleh: Alga Biru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.