Kebodohan telah mengantarkan saya ke Ma’had Abu Ubaidah. Maksudnya, kebodohan saya berbahasa asing, apalagi bahasa Arab, akhirnya memberikan alasan kuat untuk mendaftarkan diri di institusi tersebut. Saya memang payah dalam segala macam bahasa asing. Bahasa Inggris, Arab termasuk juga bahasa sunda. Suatu kali kawan saya yang asli sunda mengirim saya SMS berbahasa sunda. “Diihhh… tega amat !”. Eii… jangan salah, jelek-jelek gini saya menguasai tiga bahasa loh: bahasa indon, bahasa ibu dan bahasa tubuh. Hehe.
Maka pada hari yang hujan rintik, ahlan wa sahlan fi ma’had. Hari ini ada test, semacam test penempatan kelas. Saya duduk di kursi paling belakang, tenang. Saya ngga begitu semangat-semangat amat dengan test ini, sebab ‘buat apa?’, saya pikir. Ujung-ujungnya kayanya saya masuk tamhidi (kelas dasar), karena saya tau diri dengan kebodohan saya yang amat sangat ini.
Kebodohan saya bermula dari suatu majelis. Waktu itu guru spiritual saya berkunjung ke kampus. Sudah lama kami tidak ketemu. Dia adalah seorang perempuan lajang yang tidak punya latar belakang agama, sama seperti saya. Dia mulai ceritanya tentang rutinitas yang sekarang banyak ia habiskan di Mahad Abu Ubaidah. Dari gaya ngomong, guru saya ini banyak perkembangan kosa kata arabiyah. Lalu dia membacakan kalamullah lengkap dengan keindahan al-Qur’an ditinjau dari bahasa Arab. Begini dan begitu, saya terpesona. 80% isi pembicaraannya tentang bahasa Arab tidak saya mengerti. Akhirnya saya sadar akan satu hal : saya sungguh payah dalam masalah ini. Kenapa saya begini bodohnya? Kenapa tidak dari dulu saya pelajari bahasa Al-Qur’an itu. Dan kenapa saya tidak semudah orang-orang dalam memahami bahasa. Saya kecut, sedih hati, gundah, mengalirlah air mata saya. “Ya Allah, berikan saya kesempatan dan kemantapan niat untuk menyelami ayat cinta-Mu. Menyelami segala kekurangan dan kebodohan saya, menghirupnya sebagai kedigdayaan penghamban pada-Mu”.
Berapa banyak orang bodoh yang tidak mengetahui kebodohannya. Berapa banyak orang yang tidak bodoh yang acuh terhadap kebodohannya yang lain (sebab tidak ada yang Maha Pintar selain Allah saja). Lalu lebih banyak lagi orang yang tidak bodoh dan sombong atas dirinya.
Saya beruntung, kebodohan ini mampir. Saya bersyukur, hari-hari ini saya bercerita dan menertawakan kebodohan saya sendiri. Moga-moga kelak anak-anak saya bangga, bahwa ibunya adalah orang bodoh yang elegan di muka bumi ini. Yang tidak menyerah akibat kebodohan….. J
Hap ! Hamasah!
Footnote: Yihaaaaa…. Di Abu Ubaidah, saya ketemu ustadzah ‘anu’ setelah lama berpisah. Ya, ustadzah tempat saya privat bahasa Arab beberapa tahun lalu. Wuahh…. Ustadzah, saya rindu !!!
<Oleh: Alga Biru>












wow,.
semangatnya,, smg terus terjaga ya..:)
mg d mdhkan, diterima n d berkahi…
selamat datang di hari2 penuh hafalan…
semangat!
weits… nasihatnya lumayan serem
iyah… semoga bisa (walo saya malu). sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.
mg sabar n istiqomah ya…
belajar itu indah n menyenangkan
banyak hal yang mengejutkan ketika kita belajar bahasa arab, mudah-mudahan melalui mahad yang didirikan oleh AMCF ini, umat muslim sedikit lebih bisa mengerti akan pentingan bahasa arab……amiin