![0016 [=Z] AR RAYAH_VI World_Under_One_Flag ''Rumput Hijau''](http://rahimimajinasi.files.wordpress.com/2010/09/0016-z-ar-rayah_vi-world_under_one_flag-rumput-hijau.jpg?w=640)
Bagaimana nasib seorang anak yatim? Kasihan, anak itu tak berayah. Jika ia diganggu orang, tak punya daya mampunya membela diri. Karena siapalah yang dianggarkan dadanya. Jika ia seorang gadis, tak kuasa ibu jika saja tak ditemani oleh seorang wali. Jika ada yang lancang mengolok-oloknya, niscaya akan dikatakan padanya ‘hai kau anak yatim, panggil ayahmu dari alam baka’.
Bagaimana nasib seorang anak piatu? Malang engkau, Nak. Boleh jadi tak terurus, harta benda dan raga diurus sendiri. Dunia ini jadi lebih sentimentil dari kelopak mata seorang piatu. Jika dilihat seorang ibu menggendong, ia rindu digendong. Jika seorang ibu mengandung, menangis hati membayangkan ibunya dulu bersakit-sakitan. Jikalau ia beruntung, ia akan mendapatkan ibu tiri yang baik hati. Dan jika aib dikandung badannya, ibu tiri jahat menorah-noreh sakit hatinya yang sudah susah payah bangun tersebut.
Bagaimana pula jika ia tak berayah, tak jua beribu alias yatim piatu? Jika ia seorang bocah yang berjalan-jalan, oleng ke kiri maka jatuh ia ke kiri. Oleng ke kanan, jatuhlah ia ke kanan. Sebab tak ada ibu bapak yang memegangi jemari, tak ada yang mengawal kemana ia pergi. Tak ada yang bertanya jika ia terlambat pulang. Sungguh ia sebatang kara, hanya sanak saudara dan tuhan saja yang ia punya. Tak ada yang membela selain kehormatannya sendiri.
Sudah sama-sama kita lihat betapa kasihan si anak yatim, anak piatu terlebih lagi anak yatim piatu. Maka siapakah ia si anak yatim piatu itu sebenarnya? Pada hari ini, kita lihat urusan agama tak ubahnya seorang anak yatim piatu. Tak ada yang mengurusnya, tiada yang peduli selain hanya segelintir orang saja.
Jika dikabarkan pada seorang manusia tentang urusan niaga, lekas-lekas ia berangkat. Tidak peduli hujan, hilang rasa malas, sedikit rasa jengah. Jika dikabarkan pada seorang lelaki tentang kemolekan wanita, maka sirna kantuknya, bangkit gairah, berbunga-bunga hatinya. Sebab begitu indah dalam bayangannya urusan tersebut. Jika dinampakkan bagi wanita tentang harta dan perhiasan, seolah penuh perut dan seolah melebar lubang tindik telinga. Karena wanita gemar emas dan berlian, sebab suka sekali wanita itu dibanjiri hias-hiasan. Seolah tak cukup puji-pujian langit bahwa manusia itu setinggi-tinggi mahluk yang mulia. Maka bagaimanakah si polan ketika urusan agama datang? Tiba-tiba sakit giginya kambuh, tiba-tiba sangat sibuk, mengantuk, gatal bokongnya berlama-lama dalam majelis, dan entah kenapa tiap detik adalah kesempitan.
“Hai marilah kita berangkat berdakwah?”, salah seorang mengajak. Lalu si polan berkata, “nanti saja, aku masih muda. Belum kulihat isi dunia”. Ditanyakan lagi pada wanita, “Hai Muslimah, suami macam apa yang akan kau pilih dalam perjuanganmu?”. Ia berkata “Aku akan belabuh pada seorang yang baik hatinya, tutur kata mengasyikkan dan ia memiliki agama”. Namun datang seorang kaya yang tanpa agama dan akhlak, ahhhh si muslimah itu mendadak amnesia. Ia lupa, bahwa hanya seorang yang sholeh, yang sanggup membahagiakan sampai akhirat. Sedangkan yang kaya, yang gagah yang tak menjanjikan agama, sejatinya hanya icip-icip saja.
Kita pikir-pikirlah, apakah kita si polan dan muslimah itu ? Begitulah nasib urusan agama. Jika pun ada yang mengurus agama yang mulia ini, kadang kala ia jatuh di tangan yang jahil. Agama ibarat anak yatim dikawal oleh ibu tiri yang bengis. Agama jadi ajang pilah-pilih kemauan. Jika cocok dirasai hati, urusan agama itu diambil. Jika tak cocok dengan kepentingan, ia pun dibuang. Setidaknya dikantongi saja agama itu, yang jika kapan-kapan diperlukan, boleh ia digadai. Jika sholat mampu mengantarkan pada kesehatan, orang senang sholat banyak-banyak. Jika rajam dinilai susah dan banyak rintangan, disimpan rapat-rapat ayat Allah itu. Disunat disana, disembelih disini. Ihh… merana nian duhai kau, si anak yatim.
Wahai kau anak piatu, begitulah agama ini. Iya senasib dengan anak piatu. Tak miliki bunda selepas di kandungan. Siapakah manusia yang membela al-quran yang dicela? Siapakah pemimpin kaum muslimin yang melepaskan fitnah terhadap aktivis dakwah? Siapakah yang mengembalikan tanah al-Quds? Adakah yang menyahut ketika kaum kafir berkata:”wahai salahuddin, bangunlah kau dari kuburmu!”. Tatkala perang salib baru kembali ditabuhkan. Tak ada yang membela agama, tak sanggup, tak berdaya, dicela, dihina, dipencarkan, disantap nikmat seumpama daging di hadapan anjing-anjing lapar. Tahukah kau seperti apa anak piatu itu? Jika dibuka padanya album kenangan, maka ia berkata “aduh… aku tak mengingat bunda, karena sejak kecil ia telah tiada”.Begitulah pelindung agama kita hari ini. Jika diucapkan pada kita tentang bunda kaum muslimin Khilafah Islamyah, maka mengerutlah dahi, aneh dirasai telinga, sukar diendus pula. Jika dibacakan dalil-dalil, kita sudah BEBAL ! Telinga kita gatal ! tidak suka ia diucapkan. Mengapa? Karena ia disangka musuh yang mengganyang modernitas. Karena sudah biasa bagi kita hidup yang binal, tak usah kembali ke jaman onta (dengan penuh kebodohan, mulut kita berkata-kata tanpa rasa malu). Cih!
Anak yatim, anak piatu….. anak yatim piatu. Dihardik! Saudaraku, suci tetaplah suci. Noda tetap menjadi noda. Jika saja kita tahu bahwa mengurus agama ini adalah perkara suci, sesuci nilai hidup dan mati, saya yakin kita rindu untuk menjadi salah satu pengasuhnya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad:7)
Biarlah meski hanya jadi pembokat mengurusi urusan yang kecil-kecil, jika kita pikir kita belum mampu memanggul masalah besar. Mengapa kita enggan untuk turun tangan mengurusi agama? Takut miskin? Takut goyangnya jabatan? Berat meninggalkan istri, khawatir prestasi menurun, tidak siap menahan getir dalam dakwah? Banyak orang miskin, tapi tidak juga menjalankan agama. Seperti banyak pula orang yang lupa daratan akibat diguyur harta. Lantas mengapa tidak jua berdakwah? Banyak pejabat yang tidak tenteram hidupnya. Istri cantik tapi hanya suka pada harta saja, buat apa? Apakah istri, bos kita ,prestasi, rekan kerja atau harta mampu untuk memberikan syafaat di yaumil akhir? Percuma. Loyalitas kita pada agama yang memberatkan timbangan amal kelak di akhirat. Kesempitan hidup bagi yang jauh dari agama. Celaka hidup orang yang menghardik agama Allah ini. Demi Allah, ia akan celaka!
Anak yatim..
Anak piatu…
Anak yatim piatu, …
Cepatlah engkau besar! Songsonglah congkaknya dunia, perjuangan kami di nadimu!
Oleh: Alga Biru
-Medan, 18 September 2010-