Pada kesempatan kali ini, saya akan meresensi atau lebih tepatnya mengulas sebuah teluran pikiran anak manusia yang lahir ke dunia. Telur itu akhirnya menetas dengan selamat sentosa, dan menjelma menjadi sesuatu yang disebut karya fiksi, berjudul “Sabil”.
Saya mendapatkan Sabil langsung dari penulisnya. Sabil ditulis secara runut dan sensasional oleh Muhammad Isa alias Sayf Ahmad Isa. Pertama kali ditawari Sabil, saya berasumsi bahwa ini seperti novel anak muda kebanyakan. Yakni tentang Rangga ‘sholeh’ mencari Cinta yang ‘sholehah’. Atau apa pun itu yang berwujud teenlit islami. Sah-sah saja sih. Malah saya termasuk yang minat juga. Tapi kali ini saya keliru. Sabil bukan apa yang saya duga.

Saya bertanya pada Isa: ”Ini novel tentang apa?”
Isa berkata: “Perang Ajteh”.

Saya mengucek mata. Saya tidak salah lihat kan? Hari gini ngomongin perang aceh? Emang ada yang lirik ? Betapa semangat di dada saya memburu. Apa ini semacam jawaban dari doa-doa saya. Apa ini pula semacam pertanda dari tetes air mata saya yang jatuh beberapa kurun waktu ini. Sebelum Isa memberikan Sabil, saya sempat terdiam lama dalam perenungan saya melalui buku yang saya baca. Buku itu berjudul :”Pesan-Pesan Menggugah”. Buku ini sangat menyentuh, dan sungguh merupakan penyembuh bagi jiwa yang futur. Di dalamnya ada kisah orang-orang yang menikmati jihad. Betapa mereka telah mencium aroma surga dari padang pasir yang tandus, padahal istana adalah tempat biasa mereka berteduh. Mereka membaui kasturi dari darah yang tercecer. Kilatan pedang syuhada adalah kunci dari terbukanya surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Subhanallah! Sungguh di luar logika. Tapi saya percaya, gemuruh itu ada. Dan takkan sia-sia. Entah energi seperti apa yang mengaliri mereka. Satu yang pasti: Saya sangat iri! Sangat! Saya ingin mengecapnya. Yakni bau darah yang berubah menjadi kesturi. Padang tandus yang senyaman kasur sutera. Dan adakah obat yang membuat saya terasuki ?? Air mata saya jatuh ke bumi. Jatuh begitu saja….
Maha Kuasa ALLAH atas apa yang DIA rancang. Sabil menghampiri. Maka Sabil adalah apa yang kamu baca berikut ini. Kisah Perang Aceh yang sudah tertelan waktu dan dilupakan. Padahal perang ini meledak luar biasa, dimana disana kita akan merabai para ibu yang melepaskan anaknya pergi berjihad. Suami yang gugur menjadi syuhada. Dan pasangan yang tak pernah dipasangkan di dunia, tapi menunggu di akhirat. Uniknya, meski novel ini bernuansa trailer menegangkan dan ’berat’, kamu jangan takut merasa digurui. Sabil tidak hanya tentang pasukan berkuda dan teriakan-teriakan Jihad, justru melalui Sabil saya mengenal cinta sejati serupa nikmat yang tidak terlupakan seumur hidup. Malam-malam romantis yang membuat dahan-dahan dan rembulan akan cemburu. Subhanallah. Jihad, sejarah perang aceh dan romantisme dibungkus dalam satu paket. Kita pun akan tau bahwa Perang Aceh dekat dengan Kekhilafahan. Ini tak lagi terbantahkan. Betapa ungkapan ’Serambi Mekkah’ bukanlah sebutan yang disematkan begitu saja tanpa goresan tinta emas di masa lalu. Ya, memang sudah saatnya kita mengetahui jati diri, setidaknya kisah di negeri sendiri. Sudah tiba masanya kita tidak lagi sibuk dengan diri sendiri. Jihad menanti, kawan. Persiapkan diri! Insyaallah, Allah akan menuntun. Dan pada akhirnya…… SABIL hadir ke hadapan kamu! Enjoy!

Teuku Nanta duduk tegak di punggung kudanya yang berwarna hitam. Ia ada di Pantai Ceureumen, tepat di tempat di mana ia berada kemarin, dan beberapa hari sebelumnya. Firdaus tegak di sisinya, menunggang kuda pula.
“Bagaimana, Tuanku?” Tanya Firdaus.
Teuku Nanta diam sejenak dan memandang mata Firdaus lekat-lekat lantas tersenyum, “Kita berperang dengan Belanda.”
Firdaus pun tersenyum lebar, “Benarkah?”
“Surat Belanda yang terakhir hari ini tak perlu dibalas. Belanda menuntut Aceh untuk menyerahkan kedaulatannya dengan batas waktu sampai besok jam delapan pagi. Kita cukup mengibarkan bendera putih jika kita menyetujui tuntutan mereka. Tapi tentu saja jawaban kita tidak. Jika sampai besok jam delapan pagi kita tak mengibarkan bendera putih di pantai maka Belanda menyatakan perang secara resmi dengan kita.”
“Sebuah perang resmi rupanya!” Firdaus memandang ke tengah lautan.
“Ulama-ulama dan uleebalang Aceh sungguh ksatria,” lanjut Teuku Nanta, “mereka pun semuanya memilih melawan. Aku bangga melihat mereka. Saat ini mereka sedang mempersiapkan pasukan tempur yang mereka bawa.”
“Aceh berperang pula dengan Belanda ternyata,” Firdaus tersenyum terus. Ia masih tak menyangka.
“Sepertinya kau senang sekali?”
“Kita harus sambut tantangan ini dengan gembira, Tuanku.”
“Tentu saja. Berani mereka menginjakkan kaki di tanah Aceh akan hilanglah nyawa mereka satu-satunya,” Teuku Nanta dan Firdaus tertawa terbahak-bahak.
“Sebenarnya dari semenjak kemarin aku merasa ada sesuatu yang aku lupa,” Teuku Nanta memijit-mijit keningnya dengan telunjuk dan ibu jarinya, “Tapi aku tak berhasil mengingatnya.”

“Apa yang lupa, Tuanku?”
Ia terdiam dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Tiba-tiba matanya melotot, mulutnya menganga. Ekspresinya yang biasa ketika ia mengingat sesuatu.
“Hei Sinyak, kau kan hendak menikah? Pernikahanmu besok, tapi kita belum melakukan persiapan apapun.”
“Ah perkara itu janganlah dipikirkan, Tuanku.”
“Bagaimana kau bisa bilang jangan dipikirkan?”
“Aku sendiri telah memutuskan akhirnya, dan aku memohon kepada Tuanku untuk mengantarkanku ke sana,” sahut Firdaus, “Aku ingin menyatakannya di sana.”
“Apa maksudmu? Apa keputusanmu?” Teuku Nanta tak mengerti. “Tapi baiklah, marilah berangkat. Aku akan menemanimu,” Teuku Nanta mengalihkan komando. Ia dan Firdaus menjalankan kudanya perlahan. Mereka berdua meninggalkan pantai. Sampailah mereka di depan gerbang Dalam. Sepanjang perjalanan mereka melihat orang-orang sedang bersiap-siap untuk berperang. Di sana mereka bertemu dengan kereta kuda Teuku Nanta yang baru saja tiba dari Lampadang dengan membawa Mak dan Cut Nyak.
“Hei itu mereka,” ujar Teuku Nanta. Kereta kuda itu berhenti di hadapannya. Cut Nyak dan Mak turun dari sana. Ketika melihat mereka, Teuku Nanta dan Firdaus turun dari kuda. Mereka berbalas salam. Firdaus mencium tangan ibunya.
“Kita akan berperang dengan Belanda,” Teuku Nanta memberi tahu mereka. Tak tahu mengapa ia tersenyum ketika mengatakan hal itu. Cut Nyak mengangguk dan tersenyum pula kepadanya. Ia teguh. Mak memandang dengan sayang kepada puteranya.
“Mak, aku akan ke rumah Haji Zainal. Aku telah memutuskan. Tolong ridhoi aku,” kata Firdaus. Ia mencium tangan ibunya lagi dan memeluknya. Matanya mulai basah. Ia berbisik kepada ibunya. “Ridhoi aku menikah dengan Ainon Mardliah.”
“Ainon Mardliah perempuan baik budi. Menikahlah kau dengannya,” bisik Mak. Pipinya berlinangan air mata. “Mak rela. Pergilah kau bersamanya, sebab tak lama lagi, Mak pun menyusul pula.”
“Terima kasih, Mak,” Firdaus melepaskan pelukannya. “Mari, Tuanku.”
Mereka berdua naik lagi ke punggung kuda dan berlari cepat ke Lampadang. Mereka bergegas menuju rumah Haji Zainal. Putri Haji Zainal, Siti Maryam Jamilah, adalah calon isteri Firdaus.
Akhirnya sampailah mereka berdua di muka halaman rumah Haji Zainal. Mereka melihat rumah itu telah dirias dan dipersiapkan untuk menjalani sebuah perayaan pernikahan. Firdaus memandang segala hal yang ada di hadapannya itu dengan getir. Teuku Nanta pun tak kalah risaunya. Apa yang akan dikatakan Haji Zainal nanti, kata hatinya.
“Tuanku, aku memohon kali ini akulah yang akan bicara dengan Haji Zainal,” kata Firdaus.
“Baiklah.”
Mereka berdua turun dari kuda dan menaiki tangga depan rumah itu serta mengucap salam. Orang-orang sedang sibuk mendekor ruangan. Haji Zainal sedang mengawasi mereka bekerja. Ia menjawab salam dan mempersilakan mereka masuk.
“Aku bahagia sekali mendapatkan kunjungan agung ini,” ujar Haji Zainal. Ia agak terkejut juga melihat Firdaus dan Teuku Nanta tiba-tiba datang. “Mari silakan duduk.”
“Kedatanganku kemari adalah untuk memberitahu sesuatu kepada Teungku Haji dan Siti Maryam,” Firdaus memulai. Kalimatnya datar. Ia memaksakan diri terlihat biasa. Teuku Nanta diam saja. “Hari ini Belanda telah menyatakan perang kepada Aceh.”
Haji Zainal bengong. Matanya melotot. Ia menggeleng. Apa yang diucapkan Firdaus membuatnya terkejut setengah mati, sampai ia tak bisa berkata apa-apa. Ia tersandar lemas di kursi, seakan tulang punggungnya tak mampu menopang tubuhnya lagi.
“Aku memohon maaf sedalam-dalamnya, bukan aku bermaksud menimpakan aib dan cela kepada Teungku Haji sekelurga, aku bermaksud membatalkan pernikahanku dengan Maryam,” Firdaus menunduk. “Demi Allah aku mohon maaf.”
Napas Haji Zainal berubah cepat. Jantungnya berdegup kencang. Ia memandang kosong ke depan, lantas menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Sesal di dadanya menghunjam jauh ke bumi. Melesat cepat menuju langit. Matanya berkaca-kaca, dadanya sempit dan sesak. Apa yang terjadi membuatnya kecewa, namun apa lagi yang hendak dikata?
“Aku mohon untuk bertemu dengan Maryam, Teungku Haji,” pinta Firdaus, “ada yang ingin kubicarakan dengannya.”
Haji Zainal bangkit dengan lesu dan memanggil puterinya dari kamarnya. Keluarlah Siti Maryam dan duduk pula di ruang tamu. Ketika melihat calon isterinya itu, sebenarnya Firdaus tak sanggup bicara lagi. Tapi ia harus. Ia harus mengatakan segala-galanya.
“Sebelumnya Aduen mohon maaf kepadamu, Maryam. Belanda telah menyatakan perang dengan Aceh tadi pagi. Aduen tak bisa menikahimu karena Aduen harus berangkat berperang.”
Mata Siti Maryam mulai basah. Bibirnya gemetar. Tangannya menggenggam dadanya yang penuh. Akhirnya air matanya berlinang.
“Demi Allah Aduen mencintaimu. Aduen ingin sekali menikahimu. Tapi negeri kita lebih membutuhkan Aduen, dan Aduen tak bisa lari darinya. Maafkan Aduen. Maafkan!!” Melihat Siti Maryam menangis sesenggukan serupa itu, Firdaus tak tahan juga. Matanya pun sudah tidak bisa lagi membendung cairan hangat itu dan basahlah sudah wajahnya dibasuh air mata. Ia menutup wajahnya dengan tangannya. Ah, akhirnya ia menangis. Akhirnya ia menangis juga.

Telah sesak bumi oleh tangis. Telah penuh ia oleh air mata. Dengan sabar ia memandang tiap tetesnya berderai. Sebab manusia pasti menangis. Karena manusia harus menangis.
Dua pecinta itu menangis terisak-isak. Mereka menyadari betapa manis dan sucinya cinta mereka, namun mereka tak bisa menyatukannya. Ada hal lain yang lebih besar yang harus mereka cintai lebih dahulu, Aceh. Langit menangis bersama-sama mereka. Alam lara. Bumi mengharap kebesaran jiwa.
Siti Maryam berusaha mengendalikan dirinya. Ia menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, padahal pipinya basah tak terkira.
“Tak apa-apa, Aduen,” ia masih terisak. “Aceh membutuhkanmu lebih dari pada aku. Belalah negeri ini. Lawanlah penjajah. Aku pun mencintaimu!”
Mendengar apa yang dikatakan Siti Maryam, terhunjamlah sudah semangat Firdaus lebih dalam lagi di dasar sanubarinya. “Terima Kasih.”
“Jangan risaukan apapun. Berjuanglah dengan tenang. Aku ikhlas menerima semuanya. Aku rela menerima keputusanmu,” ujar Siti Maryam lagi. “Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.”
“Benarkah?” Firdaus penasaran.
“Dengarkanlah,

Nibak maté di rumoh inong
Bahlé beu keunong seunjata kaphé
Nibak maté di ateuh tilam
Bahlé lam seuh prang syahid meu gulé.

Firdaus tersenyum memandang Siti Maryam. Hatinya mekar berbunga-bunga mendengar apa yang dikatakan calon isteri yang tak akan pernah dinikahinya itu.
“Kau pandai sekali bersyair.”
“Ini bukan syairku. Ini syair Teungku Cik Pante Kulu. Aku mendengarnya dibacakan di meunasah.”
“Sungguh indah,” ujar Firdaus. “Hari ini aku bertemu Teungku Kulu di Banda Aceh. Syair-syair Perang Sabil karyanya dibacakan di tengah-tengah para prajurit. Banyak orang menyalinnya. Kami akan berperang bersama.”
“Tolong sampaikan salamku padanya. Aku salah seorang penggemar syairnya.”
“Insya Allah.” []

Footnote: 1. Isa “4 Arwah” adalah nama panggilan saya untuk Sayf Ahmad Isa. Diambil dari nickname jadulnya Isa : Djenderal 4 Arwah. (Hahh… Si isa mah, arwah-arwahan segala!). Selamat menyelami energi jihad yang coba ditularkan Isa sejak pertama kali kamu menyentuh “sabil”.
2. Isa menerima kritik dan saran dari teman-teman semua (kritik membangun adalah batu-bata bagi seorang penulis. So, ditunggu yaaakkk ^_^)
3. Semoga Allah menguatkan kita dalam jalan perjuangan. aminnnnn<a