Si cangkir putih bundar, hitam kecoklatan, angin semilir dan pukul lima. Empat syarat lengkap sudah. Ritual ini pun akan segera menemui awal. Judul yang sama setiap sore yakni segelas kopi di pukul lima. Aku membaui aromanya seumpama aku merindukan anak semata wayang. Seruput dari cairan kafein ini memasuki tenggorokan, jangan sampai lupa untuk ditahan dulu sebelum ia hanya tinggal rasa pahit gurih di langit-langit. Bagiku, kopi di tangan pada pukul lima sore merupakan suguhan paling nikmat. Aku tidak peduli tempat, hanya interest dengan empat syarat di atas. Ritual yang sama, dengan menu pikiran yang macam-macam. Tak jarang aku langsung menemukan kisah jenaka selama ritual.
Pernah suatu hari aku memutuskan untuk melakukan ritual ini di taman olahraga. Tak disangka disana aku bertemu reporter acara kuis berhadiah. Kuis yang aku pikir sekedar cari sensasi sebagai bahan acara. Siapa Obama, sang reporter bertanya. Mati saja aku kalau sampai tak tau. Tuh, apa ku bilang. Sensasi yang membagi-bagi rizqi. Walaupun aku sempat heran, karena tak satupun dari pertanyaan sang reporter menyerempet soal olahraga. Barangkali dia memang tidak peduli meski ku sedang berada di taman firdaus sekalipun. Obama lebih penting daripada olahraga. Atau Olahraga kalah popular dengan Obama, sehingga khawatir aku jadi bikin malu saat diwawancara.
Dalam kisah lain yakni suatu sore pukul lima, yang aku lupa tepatnya tanggal berapa. Aku menyengajakan diri menyeruput minuman surgaku di kolam belakang milik almarhum nenek. Entah kenapa, ada yang memanggilku kesana. Pekat hijau kolam teratai yang sudah belasan tahun tak ku singgahi. Kodok bertotol muncul di semak, entah turunan yang keberapa dirinya. Capung dan kupu-kupu tampak berebutan nektar. Ya, Aku pun menyeruput menyerut kenangan yang masih belum pudar. Segalanya masih terasa sama.
Beruntungnya aku ada gundukan batu besar yang meminjamkan hitam pualamnya untuk ku duduki. Batu-batu serupa poligon tak beraturan, bertumpang tindih di sekeliling. Mereka menarik. Yang mengingatkanku pada gadis kecil berumur lima tahun yang hobi melempar batu kecil ke kolam. Gadis kecil berambut ekor kuda. Malas mandi dan sembrono sifatnya. Aku mengambil batu kecil itu satu. Plung! Segerombolan ikan dobi tampak merasa terganggu di air kolam. Tidak sia-sia aku kesini. Minimal menjadi buronan bagi para dobi yang anti dengan kesepian. Aku masih bergerilya pada mereka lalu mengambil sebuah batu kecil, lagi. Lantas tiba-tiba urung. Taukah kau kawan apa yang ku lihat disana. Yakni bulatan kecil yang berkilauan. Kelabat berlarian di pikiranku tentang gadis kecil berumur lima tahun yang sembrono. Benda kecil berkilau itu kini dalam genggamanaku. Cincin putih seukuran ujung jentikku. Seukuran dengan jari manis anak berumur lima tahun yang ada di ingatan. Kelabat itu makin jelas. Ya, gadis kecil itu aku dan kini aku ingat bahwa aku pernah kehilangan cincin ini di tempat yang entah dimana. Gagap gempita, kini aku menemukannya kembali. Disini. Di tempat dimana ia sendiri yang mengundangku. Di cincin itu jelas tertulis namaku : ”Diana”. Seruput kopi pahit menemaniku. Slurrrp!
Dan kali ini, disinilah aku. Dalam interval pukul lima sampai pukul lima lebih. Di sebuah beranda rumah kontrakan, yang ku huni gratis
pemberian bos. Rumah hunian yang dihinggapi oleh dua anak yatim piatu, aku dan adik laki-laki yang berumur lima belas tahun. Ya, kontrakan gratis dimana aku merasa berhutang budi sejujurnya. Bos ku seorang janda yang sangat rupawan. Perempuan yang setia dalam kesendirian dan penuh dedikasi. Aku beruntung sebab ia tlah memungutku menjadi karyawan yang sangat ia sayangi. Anak si Bos, Fahmi namanya, mewarisi kemolekan ibunya. Fahmi pria putih bersih berkepala oval yang mengingatkanku pada Choki Sitohang. Satu-satunya lelaki di kantor yang sepertinya tidak pernah lupa mengancing lengan baju. Satu-satunya lelaki bahkan spesies manusia yang ku kenal, yang memiliki tanaman kaktus di jendela ruangan. Kata Si Bos, Fahmi lelaki yang taat beribadah dan gemar bersedekah. Si Bos selalu membangga-banggakan Fahmi di depanku macam lipstik yang dijajakan para <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>sales. Bisik-bisik rekan sekantorku, konon katanya Si Bos ada mau padaku. Si Bos ingin segera menimang cucu, berharap cucunya dieram di rahimku, membentuk apa yang disebut sebagai kehidupan awal. Ku tanya pada mereka yang berbisik-bisik, kenapa harus aku. Sempurna, mereka berkata. Alasan bahwa aku nona sempurna, mereka anggap sebagai modus yang paling masuk akal kenapa Choki ’Fahmi’ Sitohang itu cocok bersanding denganku. Entahlah, aku berharap kesempurnaan berhasil ku capai meskipun status itu terdengar riskan. Kalau pun ada sesuatu yang sempurna dengan lelucon sederhana, maka hal itu adalah ritual secangkir kopi pukul lima sore. Slurrp!












owh, ternyata ini sedang membahas kopi ya? hehehe…
Trus, bagaimana dengan nasib si ‘Choki’ nona Alga… ceritakanlah kepada kami.